Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Analisa sidik jari merupakan salah satu metode, untuk melihat bakat dan sifat genotif seseorang, yang analisanya didasarkan pada aspek genetik (alami/bawaan), berbeda dengan tes IQ yang analisanya didasarkan pada aspek hasil stimulasi dan lingkungan), sampai dengan saat dilakukannya tes IQ tersebut.

Metode analisa sidik jari, dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun dan tidak membuat cemas pesertanya, karena metode ini tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Analisa sidik jari bukan ilmu ramal (palmistry) untuk melihat masa depan, namun justru melihat setiap talenta yang telah Tuhan percayakan sejak lahir. Analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics (“derma” artinya “kulit” dan “glyphs” artinya “ukiran”). Para peneliti telah menemukan korelasi antara sidik jari dengan struktur otak (triune brain), belahan otak (brain hemisphere), serta fungsi otak (cerebral lobes).

.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
"Takut akan kegagalan seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak mencoba sesuatu. Kepemimpinan adalah Anda sendiri dan apa yang Anda lakukan." ~ Frederick Smith

Orangtua Sering Tidak Jujur, Anak Tumbuh Jadi Pembohong!

Anda pasti pernah dengar ungkapan "Ucapan anak-anak adalah ucapan paling jujur." Hmm... kenyataannya tidak selamanya benar, terutama anak-anak zaman sekarang. Sebab, Anda sadari atau tidak, sesekali anak-anak juga pernah berbohong, apalagi jika sedang diliputi rasa takut atau ancaman.

Selain memenuhi segala kebutuhan anak, orangtua juga wajib aktif membentuk mental anak agar selalu berkata dan berlaku jujur, baik di rumah dan lingkungan sosial.

Pendidikan tentang kejujuran disarankan mulai diajarkan pada anak sejak usia pra-sekolah (3-5 tahun). Sebab, usia tersebut adalah usia krusial, mereka sudah mulai memahami mana yang nyata dan fantasi, yang salah dan benar.

Menurut seorang dokter anak dan penulis buku berjudul Mommy calls: Dr Tanya Answers Parents Top 101 Questions About Babies and Toddlers, Tanya Reymer Altmann, mengatakan bahwa umumnya kebiasaan berbohong pada anak, terinspirasi dari orangtua mereka.

Ingat, anak-anak melihat orangtua sebagai panutan. Namun, banyak orangtua yang tidak sadar bahwa kebiasaan mereka yang sering berbohong pada orang lain, diperhatikan oleh anak, untuk kemudian diartikan sebagai sikap yang normal dan tidak salah.

Ironisnya, banyak orangtua saat mengetahui anak mereka berbohong, langsung naik pitam dan memarahi anak. Padahal, kebiasaan negatif anak tersebut sebenarnya hasil meniru orangtua sendiri. "Orangtua lebih sering berkata kalau mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan saat mengetahui anak mereka berbohong," ujar Tanya.

Salah satu contoh soal, saat anak menumpahkan susu di lantai dapur, lalu orangtua bertanya apakah itu ulah mereka dengan nada tinggi. Tentu saja anak memilih berbohong, dibandingkan kena cubitan atau hardikan orangtua. Sekali anak lolos berbohong, dipastikan akan ada kali kedua, ketiga, dan seterusnya.

Para orangtua disarankan agar jangan mudah terpancing emosinya. Ketika menghadapi perilaku anak yang tidak sesuai nilai dan aturan yang seharusnya, sebaiknya tegur dengan nada bijak dan berikan solusi untuk mereka. Pola asuh yang demikian, membuat anak lebih cepat memahami apa yang benar dan salah.

Psikolog Pediatric, Mark Bowers, memiliki trik lain untuk mengajari anak yang gemar membangkang, yakni jangan pernah merasa letih mengingatkan anak mengenai tanggung jawab dan aturan yang berlaku di rumah dan kehidupan.

Mark memberikan gambaran soal bentuk kenalakan anak yang kerap dihadapi orangtua dalam keseharian, misalnyaa anak tak mengaku mencorat-coret dinding (padahal dia melakukannya), maka tegaskan kembali aturan di rumah. "Katakan pada anak kalau seharusnya menggambar itu dilakukan di kertas dan bukan di tembok. Berikan hukuman yang mendidik, bisa dengan meminta mereka untuk membersihkan hasil corat-coret di tembok, terang Mark.

Untuk mengatasi dan mencegah anak menjadi seorang pembohong, paling efektif dilakukan dengan pendekatan halus dan menghibur pada anak. Jangan menakuti anak atau mengancam mereka bila ketahuan berbohong. Pola asuh yang demikian justru akan membuat anak lebih sering tidak jujur dan memilih menutupi kenyataan dari orangtua.
KOMPAS.com

Baca lainnya:

Mendidik dan Berkomunikasi dengan Anak-anak

Orangtua zaman sekarang semakin disibukkan dengan pekerjaan, komunikasi dengan anak-anak merupakan suatu pola pendidikan yang efektif dan praktis. Komunikasi yang baik dapat membantu mengembangkan rasa percaya diri anak-anak, rasa harga diri dan hubungan yang baik dengan orang lain, yang dapat membuat hidup anak-anak-anak menjadi lebih menyenangkan, dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain dalam proses pertumbuhannya kelak di kemudian hari.

Komunikasi antara orang tua dengan anak dapat membantu mengembangkan kemampuan bahasa anak-anak

Perkembangan keterampilan berbahasa merupakan tonggak penting dalam pertumbuhan anak-anak. Keterampilan sosial maupun perkembangan inteligensi anak erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan bahasa. Mandeknya perkembangan bahasa dapat menyebabkan anak-anak menutup diri, kesulitan belajar dan masalah lainnya. Banyak orangtua percaya bahwa anak-anak belajar bahasa adalah proses otomatis, sebenarnya itu tidak benar, sejak bayi itu lahir ke dunia sudah mulai belajar bahasa.

Mendengar orangtua bicara dan berbicara dengan mereka merupakan pola utama anak-anak belajar bahasa. Ketika sebuah huruf, kata, kalimat diucapkan secara berulang kali, maka bahasa reseptif berpola pasif ini perlahan-lahan akan menjadi bahasa aktif anak-anak (kosakata Aktif), yaitu bahasa yang dapat digunakan anak-anak. Studi terkait menyebutkan, bahwa sebelum seorang anak bisa mengucapkan sepatah kata minimal harus mendengar 500 kali kata ini. Ini berarti orangtua harus menciptakan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk mendengar percakapan.

Selain itu, dalam percakapan dengan anak-anak, orangtua juga dapat membantu anak-anak menemukan kosakata dan kalimat yang menyatakan pandangan individu, memperbaiki kesalahan dan memperluas kapasitas kosa kata mereka, menjelaskan kepada mereka terkait kata-kata dan ungkapan yang belum dipahami, hal ini akan sangat meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Komunikasi antara orangtua dengan anak dapat membantu untuk memahami anak, membangun hubungan yang baik antara orang tua - anak

Saat anak-anak masih kecil, dimana jika orangtua dan anak-anak membangun sebuah hubungan yang akrab, dapat membantu anak-anak mencari bantuan Anda ketika menghadapi masalah dan kekecewaan. Sebagai orangtua juga akan menjadi lebih peka terhadap perubahan suasana hati. Hubungan yang terjalin akrab/harmonis antara orangtua dengan anak dapat meminimalkan masalah kesehatan mental dalam proses pertumbuhan anak-anak.

Orangtua sebaiknya sungguh-sungguh mendengarkan perkataan anak-anak, karena itu adalah proses mengekspresikan pikiran, pendapat dan perasaan mereka. Meskipun terkadang tidak begitu jelas dengan apa yang mereka ungkapkan, tapi mengandung banyak informasi. Dan dalam proses ini, memungkinkan orangtua untuk lebih memahami kepribadian, karakter dan proses pertumbuhan anak-anak.

Dialog yang sederajad, harmonis dan penuh dorongan dapat membuat anak-anak lebih percaya diri dengan kemampuan bahasa dan presentasi mereka, membangun rasa percaya diri, dapat membantu Anda memperbaiki perilaku buruk mereka, menghantarkan rasa sayang dan perhatian. Akan lebih dapat menyampaikan informasi yang kuat saat terjadi dialog yang bertentangan, yakni bahwasannya masalah atau pertentangan itu dapat dibicarakan secara terbuka dan dapat diselesaikan dengan baik.

Komunikasi antara orangtua dengan anak bermanfaat dalam membimbing dan membantu anak-anak

Bagi anak-anak yang lemah di dunia ini, banyak hal yang kompleks dan penuh tantangan. Banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh mereka atau bahkan membuat mereka sedikit cemas dan takut. Orangtua dapat belajar memahami sejumlah tanda tanya dan hal yang tidak dipahami anak-anak dalam percakapan mereka, kemudian menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang bisa dipahami mereka.

Terbayang dalam benak saya, mobil suami saya ditabrak orang, sebelah pintu mobil penyok. Setiap melihat mobil itu, sang anak selalu bertanya kepada papanya : "Mobilnya kenapa pa ?" Dan setiap kali itu juga saya menjelaskan saja seadanya, kemudian saya memberitahu anak saya, mobil itu bilang : "terlalu sakit rasanya, lain kali hati-hati ya bawa mobilnya, kalau tidak saya akan celaka." Anak-anak pun mengingatnya dan kerap mengingatkan saya agar hati-hati saat membawa mobil, jangan terlalu cepat, "mobil kan bisa sakit juga" demikian katanya. Kecelakaan yang mengerikan tidak tertanam dalam benak anak-anak, justru sebaliknya mengingatkannya untuk berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu, jika tidak akan ada kerugian yang tidak diharapkan.

Terkadang orangtua tiba-tiba merasa suasana hati anak-anak menjadi buruk, mudah marah, gelisah, menggerutu. Kesampingkan beberapa faktor eksternal, seperti lelah, haus atau lapar dan faktor eksternal lainnya, mungkin pernah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkannya di sekolah atau tempat lain. Jika Anda bisa perlahan-lahan menanyakan kepadanya, mungkin akan ditemukan beberapa penyebabnya.

Menciptakan setiap kesempatan

Anak-anak sibuk, orangtua juga sibuk. Mungkin sulit menemukan kesempatan yang baik untuk duduk bersama dan berbicara sejenak dengan anak-anak. Jadi manfaatkan setiap kesempatan yang ada dalam rutinitas Anda, pembicaraan (tukar pendapat) yang sederhana setiap saat dengan anak adalah suatu cara pendekatan yang lebih praktis. Manfaat seperti akan membuat anak merasa Anda itu orang yang terbuka, selalu meyambut setiap saat dan kapan saja untuk bicara dengan mereka, dan Anda suka bicara dengan mereka.

Misalnya, saat menonton televisi bersama-sama, ambil tema dari program TV sebagai bahan pembicaraan, Anda bisa bahas sejenak alur cerita yang ditonton bersama anak Anda barusan, bimbing anak Snda untuk belajar hal-hal positif dari program TV tersebut. Selain itu, saat makan di dalam mobil, waktu bercerita sebelum tidur atau saat berjalan santai, adalah kesempatan yang baik bagi Anda untuk berbincang-bincang atau sekadar ngobrol dengan anak-anak.

Perhatikan cara bertutur kata

Jika para orangtua dapat menerima segalanya anak-anak, baik itu berupa kekurangan atau kelebihan mereka, dapat membuat komunikasi antar orangtua dengan anak menjadi lebih mudah menyatu. Seorang anak yang diterima orangtuanya akan lebih mudah membuka dirinya. Sebaliknya, cara bicara yang bersifat perintah, sindiran, ejekan, celaan, dan teori panjang lebar justru akan membuat anak semakin menjauhkan diri dari Anda.

Misalnya, Dan berkata kepada ibunya "Ma, aku takut tidur sendirian."

Ibu A mengatakan : "Dasar kamu ini, sudah besar masih saja seperti bayi, tidak ada yang perlu ditakutkan."

Ibu B mengatakan : "Ibu tahu kamu takut, ibu akan menyalakan lampunya, dan membiarkan pintunya terbuka."

Jika Anda seorang anak, manakah yang Anda pilih?

Asal tahu saja, orangtua hendak berkomunikasi dengan anak, bukan pembicaraan orangtua terhadap anak. Komunikasi dengan anak seharusnya adalah percakapan dua arah, yang berarti mendengarkan apa yang mereka katakan. Sementara bicara dengan anak adalah suatu percakapan tunggal, hanya menanamkan pandangan individu kepada mereka. Komunikasi dua arah ini sangat penting terhadap anak yang lebih besar. Satu lagi point penting lainnya, bahasa yang penuh dengan cinta, dorongan semangat dan rasa hormat dapat membantu anak-anak berbuat lebih baik

10 tips untuk komunikasi antar orang tua dengan anak

  1. Dimulai sejak awal.
  2. Berbicara dengan anak terlebih dahulu.
  3. Menciptakan sebuah lingkungan yang terbuka.
  4. Ungkapkan nilai-nilai pandangan Anda sendiri kepada anak-anak.
  5. Dengarkan apa yang mereka bicarakan.
  6. Harus tulus dan jujur.
  7. Sabar.
  8. Manfaatkan setiap kesempatan untuk berkomunikasi.
  9. Sekali, sekali lagi dan lagi.
  10. Ungkapkan dengan bahasa cinta dan rasa hormat.
(Epochtimes/Jhoni/Yant)

7 Cara Memotivasi Anak agar Gemar Belajar

Pemerintah mengatur bahwa anak-anak wajib mengenyam pendidikan formal, baik di sekolah swasta maupun sekolah negeri. Apapun jenis sekolah yang dipilih orangtua sebenarnya tidak selalu menjamin anak akan menikmati waktu belajarnya. Di sinilah tugas Anda untuk menumbuhkan rasa gemar belajar pada sang buah hati.

Rasa bosan dan jenuh belajar pada anak, bisa jadi disebabkan oleh karena proses belajar mengajar yang diterapkan di sekolah terasa kaku dan membebani. Maka dari itu, Anda sebagai orangtua perlu menerapkan kebiasaan dan acara belajar yang lebih santai serta menyenangkan, baik di rumah atau di luar rumah. Tujuannya agar si kecil bisa berkonsentrasi pada mata pelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Seperti dikutip dari Hello Beautiful, berikut tujuh memotivasi keinginan belajar anak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Membantu mempersiapkan kebutuhan sekolah si kecil
Masa awal bersekolah membuat si kecil bersemangat dengan aktivitas baru hariannya tersebut. Tak ayal, membuat mereka lupa untuk membenahi perlengkapan sekolahnya. Sebagai orangtua yang baik, bantulah anak untuk menyiapkan kebutuhan belajarnya di kelas, seperti merapikan buku, mengatur kotak pensil, melengkapi seragam sekolah, dan sepatu. Tujuannya agar pada pagi hari tidak ada keributan dan kerusuhan hanya karena buah hati tidak dapat menemukan topi sekolahnya untuk upacara.

Nah, untuk melatih rasa tanggung jawab dan kemandirian anak, libatkan si kecil saat Anda mempersiapkan kebutuhan sekolahnya. Agar di kemudian hari, mereka bisa melakukannya sendiri.

Jangan pelit memberikan pujian
Orangtua mana yang tidak menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka, tak terkecuali Anda. Namun, jangan menekan dan membebani anak untuk memberikan yang terbaik versi Anda. Saat nilai ujian si kecil di luar ekspektasi Anda, alih-alih memarahinya, berikanlah pujian. Rasa percaya diri pada anak berasal dari penilaian keluarga intinya pada mereka. Melihat reaksi orangtua yang positif akan menumbuhkan keinginan pada dirinya untuk memberikan yang lebih baik untuk Anda.

Memberikan pujian juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang berkesan dan membangkitkan harga diri anak.

Dukung kreativitas anak
Selain pendidikan formal, dukung anak untuk mengembangkan minatnya di bidang lain, seperti bermain musik, menggambar, menari, melatih kemampuan berbahasa internasional, dan sebagainya. Bangun kreativitas anak dan arahkan bakat mereka dengan cara yang layak dan edukatif. Sebab, anak yang kreatif biasanya memiliki jiwa empati dan daya tangkap otak yang lebih baik dibandingkan anak yang pintar hanya berlandaskan teori.

Terapkan demokrasi pada pola asuh anak
Apa yang menjadi minat anak? Biarkanlah mereka membicarakanya pada Anda, dampingi si kecil saat ingin mengeksplorasi talentanya tersebut. Latih anak untuk mengekpresikan keinginannya lewat cara berdiskusi dengan Anda.

Bila Anda merasa masih terlalu dini untuk si kecil beropini, maka Anda telah melakukan kekeliruan. Sebab anak yang terlatih untuk berdiskusi dan mengeluarkan pendapatnya sedari kecil, maka kelak mereka dewasa akan tumbuh sebagai seorang pemimpin yang bijak dan berpikiran terbuka.

Ciptakanlah suasana belajar yang menyenangkan dan santai
Proses belajar tidak harus berada di dalam kelas, bukan? Maka dari itu, tumbuhkanlah rasa ingin tahu yang tinggi dalam diri anak Anda. Biasakan mereka untuk berani bertanya saat tidak mengerti tentang sesuatu, biarkan dia mengeksplorasi dan mencerna jawaban yang Anda berikan sesuai dengan kemampuan berpikir yang mereka miliki.

Tumbuhkan kebiasaan membaca pada anak
Meskipun era teknologi menawarkan penyajian informasi dalam kemasan yang lebih praktis dan instan. Namun, jangan meniadakan kegiatan membaca dalam keluarga Anda. Sebaliknya, aturlah waktu membaca bersama di rumah. Anda dan suami membaca buku pilihan masing-masing, dan anak membaca buku sesuai usianya. Ingat, sebelum anak mengadaptasi kebiasaan dari lingkungan sosial, mereka meniru apa yang dilakukan oleh orangtua terlebih dulu. Maka dari itu, perlihatkan perilaku terpuji dan inspiratif saat bersama si kecil.

Komunikasi yang hangat tanpa beban
Setelah makan malam bersama keluarga, sebelum waktunya belajar, coba biasakan mengajak anak membicarakan soal kegiatannya selama di sekolah dan saat di rumah sewaktu Anda masih berada di kantor. Cara ini dapat membangun rasa percaya anak pada Anda, bahwa lain waktu mereka memiliki masalah, Anda akan menjadi orang pertama yang mereka ajak bicara!

Selamat mencoba!


KOMPAS.com| Penulis: Syafrina Syaaf | Editor: Syafrina Syaaf | Sumber: Hello Beautiful


Artikel lainnya:

Bebaskan Balita Bereksplorasi

Meski kerap membuat rumah kotor dan berantakan, bereksplorasi memberi kesempatan untuk anak belajar banyak banyak hal dan tumbuh lebih optimal.

Orangtua sebaiknya tidak terlalu banyak melarang anak.
"Masa balita adalah masanya anak learn and explore. Semua pengalamannya berasal dari situ. Anak juga sedang tumbuh dan belajar, daya nalarnya juga berkembang pesat," kata psikolog Ratih Ibrahim di sela acara bertajuk Forgiveness is Easy yang digelar oleh Dulux di Jakarta (19/3/14).

Apa yang diterima anak di usia balita, imbuh Ratih, akan terbawa sampai ia dewasa. "Kalau pengalamannya membuat dia kerdil, akan terbawa terus. Begitu pun kalau pengalamannya membuat trauma maka traumanya akan dalam," katanya.

Karena itu, orangtua sebaiknya tidak membatasi lingkup ekslorasi anak. "Ibarat tanaman, anak yang serba dibatasi akan tumbuh seperti bonsai," ujarnya.

Anak yang sering dilarang-larang juga akan mempengaruhi kepercayaan dirinya, keberanian mengambil keputusan, keberanian menghadapi risiko, termasuk ide-ide dan inovasinya.

Meski membebaskan anak, tapi Ratih menyarankan agar orangtua tetap memberikan batasan. "Bagaimana pun anak tetap harus diberi tahu agar dorongan kreativitasnya tidak merusak," ujarnya.

Ia mencontohkan, walau kita membebaskan anak untuk mencorat-coret tembok, tetapi jelaskan pada anak tembok mana yang tidak boleh dicoret atau dikoroti.

"Beri tahu anak mana area mereka dan mana area yang harus bersih. Jelaskan juga bahwa mereka boleh mencoret atau menempel-nempel dinding, tapi hanya di rumah, bukan di rumah orang lain," ujarnya.

Orangtua tetap harus memiliki kontrol terhadap anak. "Jangan kalah pintar sama anak, toh sebagai orangtua kita sudah kenal dengan anak sendiri," katanya.

Tak kalah penting, orangtua juga harus konsisten sampai anak memiliki kebiasaan positif yang diinginkan. "Bebas boleh tapi tetap harus bertanggung jawab," ujarnya.

Kompas.com | Penulis: Lusia Kus Anna | Editor: Lusia Kus Anna


Artikel lainnya:

Efek Senyum Saat Menstimulasi Otak

Sekali saja seseorang tersenyum, banyak efek positif yang ditimbulkannya. Senyum menstimulasi otak dan hormon yang kemudian menimbulkan beragam efek positif bagi seseorang.

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan, saat tersenyum, bagian otak yang mengatur emosi bahagia diaktifkan. Dengan senyum, hormon pemicu stres berkurang, sementara hormon pembangkit mood meningkat. Senyuman juga menstimulasi otak yang bisa membuat pikiran lebih positif. Bahkan, dengan tersenyum, seseorang bisa menurunkan tekanan darahnya.

Penelitian di Inggris juga menunjukkan, sekali senyuman bisa menimbulkan efek stimulasi di otak setara dengan efek yang didapatkan dari makan 2.000 batang cokelat.

Senyum merupakan cara paling ringan yang bisa dilakukan seseorang untuk mendapatkan banyak manfaat positif. Pasalnya, kata Vera, seseorang hanya butuh menggunakan 17 otot di wajah untuk tersenyum. Bandingkan saja dengan mengerenyitkan dahi. Seseorang butuh lebih dari 40 otot di wajah saat mengerenyitkan dahi.

"Banyak orang meremehkan efek senyum. Padahal, senyum lebih ringan dan efektif, selain lebih murah," kata Vera di sela kegiatan perayaan World Oral Health Day 2014 di Jakarta.

Senyum Duchenne
Untuk bisa mendapatkan beragam manfaat senyum tersebut, Vera mengatakan, tak semua jenis senyum memberikan dampak sama. Dari beragam tipe senyum, hanya senyum ala Duchennelah yang memberikan manfaat paling maksimal.

"Duchenne smile yang paling bisa memberi efek stimulasi otak," katanya.

Duchenne smile, ujarnya, hanya terjadi saat seseorang memberikan senyum tulus, yakni ketika otot mata ikut tersenyum. Dengan kata lain, saat tersenyum, mata akan ikut berkerut dan menampakkan gigi. Tipe senyuman ini juga bisa membedakan antara senyum palsu atau sungguhan.

KOMPAS.com | Penulis: Wardah Fajri | Editor: Wardah Fajri



Artikel lainnya:

Jangan Asal Ikuti Kebiasaan Minum Obat

Orang tua kerap seperti "hilang akal" saat anaknya sakit. Akibatnya orang tua akan membeli obat dan menuruti saran apa pun asal anaknya se
mbuh. Termasuk anjuran atau kebiasaan konsumsi obat yang tidak sepenuhnya benar. Padahal beberapa kebiasaan berisiko menyebabkan obat tidak terserap sempurna.

Ada beberapa anjuran yang sebaiknya tidak dituruti meski sudah jadi kebiasaan. Orangtua tidak boleh asal nurut, dan harus menanyakan pada dokter bagaimana cara mengonsumsi obat yang benar, kata dokter spesialis anak, Wiyarni Pambudi, dalam kelas parenting, New Parent Academy, Minggu (23/3/2014).

Setidaknya ada lima saran atau kebiasaan umum yang harus ditanyakan sebelum mengonsumsi obat:

1. Minum obat setelah makan Tidak semua obat bisa diminum setelah makan. Beberapa obat ada yang dikonsumsi sebelum makan, misalnya untuk pencernaan. Hal ini sama seperti konsumsi suplemen vitamin B. Suplemen vitamin B harus dikonsumsi sebelum makan supaya bisa terserap usus dengan sempurna. Jika makan dulu maka penyerapan vitamin B akan terganggu, kata Wiyarni.

2. Minum obat tiga kali sehari Frekuensi minum obat, terang Wiyarni, seharusnya dijelaskan dengan aturan jam bukan kuantitas. Aturan jam memungkinkan obat terserap tubuh dengan baik dan menghindarkan salah pengertian pada pasien. "Kalau aturan tiga kali sehari maka bisa saja pasien minum sesuai dosis pada satu waktu. Cara konsumsi obat seperti itu tentu salah. Karena itu lebih baik dikatakan minum obat 8 jam sekali, kata Wiyarni.

3. Pemberian sediaan sirup dengan sendok teh Anjuran tersebut kerap ditemukan pada kemasan obat yang dijual bebas atau over the counter (OTC). Menurut Wiyarni, pemberian anjuran tersebut tidak tepat karena tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama terkait ukuran sendok teh. Bila dosis yang dikonsumsi tidak tepat, maka pasien akan sulit sembuh dari sakitnya. Pemberian obat sediaan sirup lebih baik diberikan dalam ukuran volume, misal ml atau cc, dengan gelas ukur atau sendok tertentu yang sudah disediakan produsen obat.

4. Konsumsi obat sampai habis Tidak semua obat harus dikonsumsi sampai habis, misalnya antibiotik sediaan sirup untuk bayi dan anak. Sediaan sirup membutuhkan 15-20 hari sebelum habis, padahal sebelum habis biasanya anak sudah sembuh. Sebaiknya tanyakan sampai kapan harus mengonsumsi obat tersebut. Bila tidak juga sembuh sampai hari yang ditentukan maka konsultasikan kembali dengan dokter, kata Wiyarni.

5. Obat diberikan sebagai bentuk pencegahan Obat tidak diberikan untuk pencegahan. Konsumsi obat bertujuan untuk menyembuhkan pasien yang sudah sakit. Paracetamol misalnya, hanya diberikan bila suhu mencapai 38,5 C. Jika belum mencapai suhu itu maka paracetamol tidak memberi manfaat untuk menurunkan panas, kata Wiyarni.

Selain lima kebiasaan tersebut, Wiyarni juga menyarankan orangtua tidak memberi obat dengan asal minum, oles, atau tetes. Tiap pemberian obat harus sesuai sasaran dan dosis pemberian. Wiyarni mencontohkan pemberian obat tetes mata biasanya diberikan di kornea. Padahal pemberian obat tetes seharusnya di bagian kantung mata, untuk menyembuhkan iritasi atau gatal.

Bila obat diberikan dalam jangka panjang, maka orangtua harus tahu indikasi dan manfaat bagi anak. Meski obat tidak menimbulkan ketergantungan, beberapa jenis suplemen ternyata menimbulkan adiksi. Misal penambah daya tahan tubuh atau Immunoglobulator.

KOMPAS.com | Penulis: Rosmha Widiyani | Editor: Wardah Fajri



Artikel lainnya:

Kesehatan Seseorang Dapat Dipengaruhi Sejak Dalam Rahim

MASALAH kesehatan yang dialami ketika seseorang memasuki usia dewasa, seperti obesitas, asma, alergi, dan penyakit jantung ternyata dapat dipengaruhi ketika masih berada di dalam rahim. Benarkah demikian?

Menurut sebuah temuan baru dari British Nutrition Foundation (BNF) Task Force yang baru saja dirilis menemukan bahwa orang dewasa yang mengalami obesitas, asma, alergi, penyakit, jantung, dan lain-lain kemungkinan disebabkan oleh perilaku buruk sang ibu ketika mengandung mereka.

Ketua Satgas BNF, Profesor Tom Sanders menjelaskan, pertumbuhan janin yang buruk dapat berhubungan dengan konsekuensi jangka panjang yang merugikan bagi kesehatan.

“Pertumbuhan janin yang buruk juga dapat memengaruhi perkembangan ginjal, sehingga membuat anak lebih sensitif terhadap tekanan darah. Akibatnya, dapat meningkatkan efek kadar garam dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,” ujar Tom Sanders, seperti dilansir Femalefirst.

Sementara itu, Profesor Graham Devereux dari University of Aberdeen mengatakan bahwa asma saat ini merupakan salah satu penyakit kronis yang paling banyak diderita orang di dunia.

“Kandungan nutrisi yang diperoleh dari diet yang dilakukan oleh ibu selama kehamilan, khususnya vitamin E, vitamin D, seng, selenium dan asam lemak tak jenuh ganda, dapat mempengaruhi perkembangan asma pada anak dan penyakit alergi. Saat ini, sejumlah teori mengusulkan dampak khusus dari nutrisi dan risikonya,” tandas Graham.

Selanjutnya, Satgas juga melaporkan bahwa peningkatan nafsu makan dari beberapa orang di masa dewasa mungkin sebagai akibat dari diet dan berat badan dari ibu mereka sendiri saat hamil. Hampir setengah dari semua wanita usia subur di Inggris mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Hal ini dapat menjadi penyebab dari siklus biologis ibu yang mengalami obesitas mengarah ke masalah kesehatan anak-anak di kemudian hari.

Sementara itu, Science Programme Manager di BNF, Sara Stanner mengatakan, saat ini sudah ada bukti yang tegas untuk menunjukkan hubungan biologis antara obesitas wanita ketika hamil dan masalah kesehatan pada anak-anak.

“Ini adalah pesan penting dalam memerangi obesitas, wanita perlu mengetahui bahwa berat badan dan kesehatan selama kehamilan atau sebelum mereka hamil itu dapat memainkan peranan penting dalam jangka panjang untuk kesehatan anak-anak. Jadi setelah bayi di kandungan, kerangka biologis untuk kesehatan masa depan sudah diatur,” jelas Stanner.

Helmi A.Saputra - Okezone



Artikel lainnya:

Mengenalkan Profesi Orang Tua Kepada Anak

Mengenalkan profesi orang tua kepada anak adalah sesuatu hal yang sangat penting. Selain menambah pengetahuan, ana k juga akan mengerti mengapa orang tua sering meninggalkannya karena disibukkan dengan urusan kerja.

Anak-anak sekarang sudah memiliki wawasan lebih luas mengenai berbagai profesi dibandingkan dengan anak-anak pada jaman dulu yang hanya mengenal profesi dokter atau insinyur saja. Hal ini banyak dipengaruhi oleh teknologi informasi yang diterima anak, utamanya film-film, televisi atau buku-buku komik. Media tersebut banyak mengenalkan anak pada profesi lain, misalnya detektif ataupun polisi.

Mengenalkan profesi orang tua kepada anak sedini mungkin adalah hal yang sangat penting. Mengapa? Karena anak akan mengerti apa pekerjaan orang tua dan konsekuensi akibat pekerjaan itu. Bahwa orang tua sering meninggalkannya untuk beberapa waktu. Selain itu pengetahuan anak juga akan bertambah luas. Ia akan tahu mengapa orang tua harus bekerja, ia juga akan dapat menghargai pekerjaan orang tuanya dan orang lain. Dimasa pertumbuhannya anak juga akan memiliki orientasi masa depan yang ia inginkan sendiri, meski kadang masih berubah-ubah tentunya.

Keuntungan lainnya anak juga akan memiliki persepsi positif terhadap orang tua mereka. Anak tidak akan rewel atau merengek lagi ketika orang tua harus berangkat kerja. Anak-anak yang orang tuanya terutama ibunya bekerja, dan ia telah mengerti akan kondisi tersebut, umunya anak akan menjadi pribadi yang lebih mandiri dan percaya diri.

Pada kasus orang tua yang tidak pernah menjelaskan mengapa orang tua harus bekerja, apa pekerjaan orang tua, waktu bekerja dan apa yang dilakukan orang tua secara detil, akan mempengaruhi psikologis anak, karena anak hanya tahu bahwa orang tuanya pergi bekerja dan seringkali meninggalkannya. Anak akan merasa bahwa orang tuanya tidak memperhatikannya, sehingga anak menjadi seperti kurang perhatian.

Sangat disarankan untuk sekali-kali orang tua terutama ibu mengajak anak ke tempatnya bekerja, jika memang dimungkinkan kondisinya bisa membawa anal-anak. Jika ingin mengajak si kecil ke kantor, tentunya Ibu harus mempunyai persiapan sebelumnya.

Lingkungan kantor adalah hal baru bagi anak. Ibu juga bisa membekalinya dengan sebuah mainan kesukaannya atau bisa juga Ibu membawa makanan kesukaannya. Orang tua juga harus memberikan gambaran tentang situasi di kantor sebelumnya. Mesin-mesin apa saja yang ada di kantor, teman-teman kantor dan lainnya. Pastikan juga toilet trainingnya sudah berjalan baik, sehingga ia akan memberitahu ibunya jika ingin buang air.

Pengenalan profesi ini sebenarnya juga dapat dilakukan oleh para guru di sekolah, utamanya TK atau SD. Pihak sekolah dapat mengundang beragam profesi secara berkala ke sekolah. Kegiatannya dapat dilakukan dengan tanya jawab dan mengenalkan karir dan profesi kepada anak-anak. Cara ini selain dapat memperluas wawasan anak, anakpun akan tahu bagaimana profesi orang tua mereka.

Diharapkan dengan anak mengetahui profesi orang tua anak akan semakin mengerti dan dapat terjalin keakraban yang lebih baik antara orang tua dan anak.

infoduniaanak.com



Artikel lainnya:

Prev