Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Bermain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bermain. Tampilkan semua postingan

Bebaskan Balita Bereksplorasi

Meski kerap membuat rumah kotor dan berantakan, bereksplorasi memberi kesempatan untuk anak belajar banyak banyak hal dan tumbuh lebih optimal.

Orangtua sebaiknya tidak terlalu banyak melarang anak.
"Masa balita adalah masanya anak learn and explore. Semua pengalamannya berasal dari situ. Anak juga sedang tumbuh dan belajar, daya nalarnya juga berkembang pesat," kata psikolog Ratih Ibrahim di sela acara bertajuk Forgiveness is Easy yang digelar oleh Dulux di Jakarta (19/3/14).

Apa yang diterima anak di usia balita, imbuh Ratih, akan terbawa sampai ia dewasa. "Kalau pengalamannya membuat dia kerdil, akan terbawa terus. Begitu pun kalau pengalamannya membuat trauma maka traumanya akan dalam," katanya.

Karena itu, orangtua sebaiknya tidak membatasi lingkup ekslorasi anak. "Ibarat tanaman, anak yang serba dibatasi akan tumbuh seperti bonsai," ujarnya.

Anak yang sering dilarang-larang juga akan mempengaruhi kepercayaan dirinya, keberanian mengambil keputusan, keberanian menghadapi risiko, termasuk ide-ide dan inovasinya.

Meski membebaskan anak, tapi Ratih menyarankan agar orangtua tetap memberikan batasan. "Bagaimana pun anak tetap harus diberi tahu agar dorongan kreativitasnya tidak merusak," ujarnya.

Ia mencontohkan, walau kita membebaskan anak untuk mencorat-coret tembok, tetapi jelaskan pada anak tembok mana yang tidak boleh dicoret atau dikoroti.

"Beri tahu anak mana area mereka dan mana area yang harus bersih. Jelaskan juga bahwa mereka boleh mencoret atau menempel-nempel dinding, tapi hanya di rumah, bukan di rumah orang lain," ujarnya.

Orangtua tetap harus memiliki kontrol terhadap anak. "Jangan kalah pintar sama anak, toh sebagai orangtua kita sudah kenal dengan anak sendiri," katanya.

Tak kalah penting, orangtua juga harus konsisten sampai anak memiliki kebiasaan positif yang diinginkan. "Bebas boleh tapi tetap harus bertanggung jawab," ujarnya.

Kompas.com | Penulis: Lusia Kus Anna | Editor: Lusia Kus Anna


Artikel lainnya:

Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget Pada Anak

Penggunaan gadget bisa membuat anak keranjingan. Kalau anak mulai gelisah bila beberapa jam saja tidak memainkan gadget, ini petandanya. Celakanya lagi, saat memanfaatkan gadget, anak dituntut berkonsentrasi penuh sehingga ia seolah tidak peduli dengan lingkungan terdekat atau sekitarnya.
Menurut hasil pengamatan pihak sekolah, gadget dapat memengaruhi beberapa perkembangan dan prestasi belajar anak, yakni:
  1. Mengalami penurunan konsentrasi. Anak mengalami penurunan konsentrasi saat belajar. Konsentrasinya menjadi lebih pendek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Anak lebih senang berimajinasi seperti dalam tokoh game yang sering ia mainkan menggunakan gadget-nya.
  2. Memengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan. Ketika belajar, anak tidak mau mencari data dan tidak tertantang untuk melakukan analisis. Anak menginginkan sesuatu yang serba cepat dan langsung terlihat hasilnya. Ada pun proses untuk mencapai hasil akhir itu tidak dipedulikan.
  3. Malas menulis dan membaca. Gagdet menjadikan anak malas menulis dan membaca. Dengan perangkat gadget, maka aktivitas menulis menjadi lebih mudah, ini memengaruhi keterampilan menulis anak. Tak hanya itu, perangkat visual pun tampak lebih menarik dan menggoda, karena dapat memperlihatkan sesuai dengan kenyataan. Akibatnya anak-anak menjadi malas membaca. Sebab, membaca menuntut anak untuk mengembangkan imajinasi dari kesimpulan yang dibaca.
  4. Penurunan dalam kemampuan bersosialisasi. Anak menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitar serta tidak memahami etika bersosialisasi. Anak tidak tahu, bila ada banyak orang menginginkan sesuatu yang sama, maka wajib antre agar tertib. Ini terjadi karena anak tidak memahami adanya sebuah proses. Apa yang diinginkan harus segera ada dan terwujud, karena terbiasa mendapat pemahaman melalui games atau tontonan.

Agar gadget tak berdampak buruk pada anak, orangtua perlu menerapkan sejumlah aturan. Berikut pedoman bagi orangtua saat anak menggunakan gadget-nya:
  1. Pahami ragam permainan yang ada di perangkat gadget. Tidak semua permainan atau games baik dan aman untuk anak. Ada banyak unsur negatif seperti kekerasan, perilaku atau kata-kata kasar, dan lainnya. Untuk itu, alangkah baik bila orangtua mencoba dan melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum memberikan izin kepada anak untuk bermain.
  2. Tempatkan gadget di luar kamar tidur. Sebaiknya tempatkan perangkat elektronik di ruang keluarga. Sehingga orang tua atau orang dewasa dapat mengawasi permainan yang dipilih prasekolah serta durasi waktu bermainnya.
  3. Berikan batasan waktu penggunaan gadget. Untuk prasekolah tenggang waktu yang dapat ditoleransi adalah 15-30 menit, karena rentang konsentrasi anak masih pendek. Jangan memberikan kesempatan lebih dari 30 menit. Terapkan dengan konsisten. Bila orangtua mudah mengalah oleh bujuk rayu anak, maka anak akan terus “mengakali” orangtuanya.
  4. Dampingi anak saat menggunakan gadget. Sebisa mungkin, dampingi anak ketika ber-gadget, sehingga orangtua dapat mengawasi dan memberikan penjelasan bila ada hal-hal yang tidak dipahami oleh anak.
  5. Berikan penjelasan penggunaan gadget. Sampaikan bahwa gadget bermanfaat untuk mempermudah kerja dan lebih praktis. Saat sedang bepergian, misalnya, kita bisa membaca berita lewat tablet. Untuk itu, pemanfaatnya pun harus bijaksana. Jangan akhirnya, waktu kita banyak tersita oleh gadget daripada interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar.
  6. Berikan contoh. Jadilah teladan terdepan dalam memanfaatkan gadget secara bijak. Jangan sampai orangtua melarang anak berlama-lama bermain game, tapi orangtua sendiri asyik menggunakan ponsel pintar. Kalau bisa, matikan smartphone saat berada di rumah, jalin interaksi dengan anak dan keluarga di rumah.
(Tabloid Nakita)


Artikel yang Berhubungan:
Gadget Sebagai Jawaban Orang Tua Pada Anak
Dampak Negatif dari Kecanduan Teknologi
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik

Gadget Sebagai Jawaban Orangtua Pada Anak

Setiap orang tua pasti berharap mampu memenuhi segala kebutuhan anak-anaknya. Menurut survei yang dilakukan oleh Oreo dan perusahaan riset pasar Ipsos, sekitar 83 persen orang tua di dunia harus bekerja keras untuk mengupayakan yang terbaik untuk masa depan anak-anak. Sayangnya, banyak dari mereka yang lebih fokus untuk mencukupi kebutuhan materi dibandingkan dengan memenuhi kebutuhan afeksi/perasaan anak-anaknya.
Salah satu jawaban orang tua untuk mengatasi kurangnya waktu untuk berkomunikasi dengan anak adalah melalui teknologi. Teknologi memang memungkinkan orang tua dan anak berkomunikasi setiap saat. Namun hal ini menimbulkan fakta mengejutkan, dimana lebih dari seperempat persentase orang tua di dunia ternyata lebih banyak berkomunikasi melalui teknologi dibandingkan secara langsung.

Secanggih apapun teknologi, sebenarnya tetap tak mampu menggantikan perhatian orang tua secara langsung. Memberikan “kenyamanan” dan perhatian melalui teknologi ternyata bisa berakibat buruk bagi keutuhan keluarga. Sebab, kebiasaan untuk menggunakan teknologi seringkali tetap berlanjut saat berkumpul bersama keluarga. “Misalnya ketika sedang berada di meja makan, masing-masing akan sibuk dengan gadget mereka, dan tidak berinteraksi satu sama lain,” ujar Anna Surti Ariani, SPsi, Msi, dalam diskusi yang digelar Oreo di Graha Inti Fauzi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kesalahan lain yang terjadi kemudian, orang tua cenderung “menyogok” anak dengan gadget agar tidak rewel ketika ditinggal bekerja. Akibatnya anak lebih kenal pada gadget ketimbang perhatian orang tua secara langsung. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, orang tua akan kehilangan anak-anak mereka, sementara anak-anak akan menjadi kecanduan gadget, dan lebih sayang pada gadget daripada orang tuanya.
“Sudah banyak kasus seperti ini di Indonesia, anak-anak kecil lebih memilih gadget, dan tumbuh menjadi anak yang nakal karena tidak dapat perhatian orang tuanya,” tambahnya.
Dalam penelitian secara terpisah, terlihat bahwa gadget memberikan respons langsung terhadap tuntutan perhatian dari anak dalam bentuk suara-suara yang meriah. Anak-anak sangat menyukai suara-suara ini, sehingga ketika sedang tak terhubung dengan gadget mereka akan mencari “suara-suara” tersebut dari sumber lainnya. Orang tua juga akan memberikan respons dalam bentuk suara ketika anak-anak berbuat nakal, dan respons inilah yang diharapkan anak, karena membuat mereka merasa diperhatikan orang tuanya. 

heartline.co.id

Artikel yang Berhubungan:
Dampak Negatif dari Kecanduan Teknologi
Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik

Aktivitas Yang Membuat Buah Hati Menjadi Cerdas

Sekarang ini banyak sekali anak-anak yang senang bermain game online, mereka kerap sering mencari warnet (warung internet) dengan layanan jaringan yang baik. Lantas apa sebagai orang tua kalian mengijinkan anak-anak kalian untuk bermain game online terutama apabila anak kalian masih sangat kecil.

Nah, sebagai orang tua yang bijak pasti menginginkan agar buat hati kita menjadi anak yang cerdas dan pintar. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan untuk membuat anak-anak kita menjadi cerdas.

1. Membaca 20 menit setiap hari
Ajaklah anak kalian untuk membaca. Di usia 12 sampai 18 bulan anak akan banyak sekali menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Jadi akan sangat mungkin bagi anak kalian untuk mendengarkan apa yang kalian baca. Setidaknya ajaklah membaca selama 20 menit sehari. Sambil membacakan buku untuknya, tanyakan juga kepadanya gambar-gambar yang ada di buku tersebut.

2. Dengarkan musik
Bernyanyilah bersama anak kalian. Biaskan untuk mendengarkan musik saat sedang berada dirumah atau dimobil. Pilihlah musik yang tidak membosankan meskipun diputar secara terus menerus. Jika kalian bernyanyi, otomatis anak kalian akan ikut bernyanyi juga. Lama-lama anak kalian akan bernyanyi dengan sendiri meskipun tidak ada musik yang mengiringi.

3. Ajarkanlah tentang angka dan bentuk benda
Ajarkanlah kepada anak kalian tentang bentuk benda, warna dan juga angka seharian penuh.

4. Ajarkan juga nama-nama bagian tubuh
Selain itu ajarkan juga kepada anak kita tentang nama-nama bagian tubuhnya. Sambil mengenalkan bagian tubuhnya, tunjuklah bagian tubuh yang kalian maksud misalnya hidung, mata, kuping, kaki, tangan dan lain-lain.

5. Gunakanlah instruksi
Ketika sedang bermain berikanlah instruksi. Dengan demikian si anak akan mampu mengikuti instruksi dari orang tua dan juga akan merasa senang jika mampu melakukan apa yang di suruh. Salah satu instruksi sederhana adalah memintanya untuk menutup pintu atau mengambilkan bola.

6. Minta memilih mainan kesukaannya
Pergilah ke toko mainan anak-anak. Lalu gunakan buku katalog dan mintalah si anak untuk memilih mainan yang ia sukai di katalog tersebut. Setelah itu, ajak anak kalian untuk mencari mainan tersebut di rak mainan.

Demikianlah beberapa aktivitas yang bisa kalian ajarkan kepada buah hati kalian. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat.

kichuzzz.blogdetik.com


Artikel lainnya:

Perkembangan dan Stimulasi Anak Usia 3 - 6 Bulan

Pada rentang usia 3-6 bulan kebanyakan bayi sudah mulai menunjukkan polah tingkah yang mengundang gemas yang melihatnya, karena pada rentang usia tersebut kondisi fisik sang buah hati sudah mendukung untuk melakukan beragam aktifitas, seperti:
• Berbalik dari telungkup ke telentang
• Mengangkat kepala
• Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
• Menggenggam pensil
• Meraih benda yang ada di dalam jangkauannya
• Memegang tangannya sendiri
• Berusaha memperluas pandangan
• Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
• Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
• Tersenyum ketika melihat mainan / gambar yang menarik saat bermain sendiri.

Perkembangan Aspek Motorik atau Gerak Kasar
Lanjutkan stimulasi berguling-guling dan menahan kepala tetap tegak.

Menyangga berat
Angkat badan bayi melalui bawah ketiaknya ke posisi berdiri. Perlahan-lahan turunkan badan bayi hingga kedua kaki menyentuh meja, tempat tidur atau pangkuan Anda. Coba agar bayi mau mengayunkan badannya dengan gerakan naik turun serta menyangga sebagian berat badannya dengan kedua kaki bayi.

Mengembangkan fungsi kontrol terhadap kepala
Latih bayi agar otot-otot lehernya kuat. Letakkan bayi pada posisi telentang. Pegang kedua pergelangan tangan bayi, tarik bayi perlahan-lahan ke arah Anda, hingga badan bayi terangkat ke posisi setengah duduk. Jika bayi belum dapat mengontrol kepalanya (kepala bayi tidak ikut terangkat), jangan lakukan latihan ini. Tunggu sampai otot-otot leher bayi lebih kuat.

Duduk
Bantu bayi agar bisa duduk sendiri. Mula-mula bayi didudukkan di kursi dengan sandaran agar tidak jatuh ke belakang. Ketika bayi dalam posisi duduk, beri mainan kecil ditangannya. Jika bayi belum bisa duduk tegak, pegang badan bayi. Jika bayi bisa duduk tegak, dudukkan bayi di lantai yang beralaskan selimut, tanpa sandaran atau penyangga.

Perkembangan Motorik atau Gerak Halus
Lanjutkan stimulasi melihat, meraih dan menendang mainan gantung, memperhatikan benda bergerak, melihat benda-benda kecil, serta meraba dan merasakan berbagai bentuk permukaan.

Memegang benda dengan kuat
Letakkan sebuah mainan kecil yang berbunyi atau berwarna cerah di tangan bayi. Setelah bayi menggenggam mainan tersebut, tarik pelan-pelan untuk melatih bayi memegang benda dengan kuat.

Memegang benda dengan kedua tangan
Letakkan sebuah benda atau mainan di tangan bayi dan perhatikan apakah ia memindahkan benda tersebut ke tangan lainnya. Usahakan agar tangan bayi, kiri dan kanan, masing-masing memegang benda pada waktu yang sama. Mula-mula bayi dibantu, letakkan mainan di satu tangan dan kemudian usahakan agar bayi mau mengambil mainan lainnya dengan tangan yang paling sering digunakan.

Makan sendiri
Beri kesempatan kepada bayi untuk makan sendiri, mula-mula berikan biskuitnya sehingga bayi bisa belajar makan biskuit.

Mengambil benda-benda kecil
Letakkan benda kecil seperti remah-remah makanan atau potongan-potongan biskuit di hadapan bayi. Ajari bayi mengambil benda-benda tersebut. Jika bayi telah mampu melakukan hal ini, jauhkan pil, obat dan benda kecil lainnya dari jangkauan bayi.

Perkembangan Aspek Bicara dan Bahasa
Lanjutkan stimulasi berbicara, meniru suara-suara, dan mengenali berbagai suara.

Mencari sumber suara
Ajari bayi agar memalingkan mukanya ke arah sumber suara. Mula-mula muka bayi dipegang dan dipalingkan perlahan-lahan ke arah sumber suara, atau bayi dibawa mendekati sumber suara.

Menirukan kata-kata
Ketika berbicara dengan bayi, ulangi beberapa kata berkali-kali dan usahakan agar bayi menirukannya. Yang paling mudah ditirukan oleh bayi adalah kata papa dan mama, walaupun ia belum mengerti artinya.

Perkembangan Aspek Sosialisasi dan Kemandirian
Lanjutkan stimulasi memberi rasa aman dan kasih sayang, mengajak bayi tersenyum, mengamati, mengayun, dan menina-bobokkan bayi.

Bermain “Ciluk-ba”
Pegang saputangan/kain atau koran untuk menutupi wajah Anda dari pandangan bayi. Singkirkan penutup tersebut dari hadapan bayi dan katakan “ciluk ba” ketika bayi dapat melihat wajah Anda kembali. Lakukan hal ini berulang kali. Yang penting, usahakan bayi tidak dapat melihat wajah Anda untuk beberapa saat dan tiba-tiba wajah Anda muncul kembali dengan gembira dan berseri-seri. Cara lain adalah mengintip bayi dari balik pintu atau tempat tidurnya.

Melihat dirinya di kaca
Pada umur ini, bayi senang melihat dirinya di cermin. Bawalah bayi melihat dirinya di cermin yang tidak mudah pecah.

Berusaha meraih mainan
Letakkan sebuah mainan sedikit diluar jangkauan bayi. Gerak-gerakkan mainan itu di depan bayi sambil bicara kepadanya agar ia berusaha untuk mendapatkan mainan itu. Jangan terlalu lama membiarkan bayi berusaha meraih mainan tersebut, agar ia tidak kecewa.

Oleh : dr. Salma Oktaria

Artikel lainnya:

Tidur Bayi Anda Tidak Nyenyak? Ketahui Sebab dan Solusinya

Tahukah Anda bahwa kurang tidur pada bayi bisa mengakibatkan berbagai masalah? Mulai dari penurunan kekebalan tubuh, gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan juga kurang tidur mempunyai dampak terhadap tumbuh kembang otak bayi, terutama kemampuan berpikirnya ketika ia dewasa.

Sebagian besar kerja hormon pertumbuhan terjadi ketika dalam keadaan tidur, termasuk hormon pertumbuhan otak bayi.

Kurangnya tidur akan mengakibatkan perubahan kadar hormon yang bertugas mengatur rasa lapar. Selain itu, kurangnya tidur juga mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melakukan metabolisme gula, sehingga meningkatnya resiko terhadap diabetes.

Jadi, jelaslah bahwa tidur yang cukup memberi efek yang amat positif bagi perkembangan bayi Anda. Idealnya, anak usia 6 – 23 bulan memerlukan waktu tidur sekitar 13 jam setiap harinya.

Beberapa Hal yang Menyebabkan
Bayi Susah Tidur Serta Solusinya

Sakit Flu atau Batuk
Jika bayi Anda menderita flu atau batuk, maka ia akan sulit tidur nyenyak, karena sebentar-sebentar terbatuk. Hidungnya pun terus menerus mengeluarkan cairan atau tersumbat, sehingga membuatnya susah bernafas.

Solusi: Usahakan agar posisi kepala bayi lebih tinggi dari kaki. Jangan lupa, beri minum agar tenggorokannya lebih nyaman. Jika hidungnya tersumbat, Anda bisa menyedot ingusnya dengan alat penyedot ingus khusus untuk bayi. Oleskan juga balsam khusus untuk anak-anak di dadanya, ini akan membantu melegakan hidungnya.

Kolik
Sekitar 20% bayi sehat pernah mengalami kolik. Kondisi ini biasanya terjadi antara minggu ke-2 dan ke-4 setelah lahir.

Jika Anda sedang menyusui, sebaiknya Anda menghindari produk susu olahan serta makanan yang menimbulkan gas, seperti kubis, bawang, dan bawang putih. Berkonsultasilah dengan ahli kesehatan tentang cara menangani alergi terhadap makanan tertentu.

Untuk mengatasi kolik, bila Anda memberikan susu formula pada bayi Anda, mintalah petunjuk ahli kesehatan apakah sebaiknya menggantinya dengan formula bebas susu atau formula bebas laktosa.

Jika kolik yang dialami merupakan bagian dari fase pertumbuhan, maka hal ini akan hilang seiring dengan waktu.

Haus atau Lapar
Biasanya, bayi Anda akan gelisah tidurnya kalau tidak cukup asupan makanan atau susu.
Solusi: Coba beri makan bayi Anda menjelang tidur bagusnya 1 jam sebelum tidur.

Basah
Rata-rata bayi usia 6 bulan mengompol sekitar 5-7 kali dalam semalam, maka segeralah ganti popoknya apabila basah, dengan begitu si kecil akan lebih nyenyak tidurnya.

Ruam Popok
Ruam popok umumnya dialami oleh bayi berusia 4-15 bulan. Penyebabnya bisa karena sering buang air, kebersihan kulit yang tidak terjaga, atau bisa juga dikarenakan bayi Anda menerima asupan antibiotik dari ASI sang ibu.

Bahkan, jika bakteri yang terdapat dalam urine bayi Anda terurai menjadi amonia, ruam ini bisa bertambah parah. Tentu saja keadaan ini sangat tidak menyenangkan buat si kecil, sehingga bisa mempengaruhi kualitas tidurnya.

Bila ruam popok sudah terlanjur menimpa bayi Anda, agar tidak bertambah parah, berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan:
1. Gantilah popok yang basah sesering mungkin
2. Hindari penggunaan tisu basah karena dapat menambah iritasi
3. Cukup keringkan bagian yang basah dengan cara menepuk kulitnya, jangan digosok
4. Gunakan krim pelindung dengan dioleskan tipis di kulit bayi
5. Hindari menggunakan popok terlalu kencang

Selain itu, pilihlah jenis popok dari bahan kain yang menyerap keringat atau bahan disposibel (sekali pakai).

Terlalu Banyak Bermain
Jika Anda mengajak si kecil bermain terus, maka ia akan semakin enggan untuk tidur. Apalagi, jika Anda mengajaknya bermain menjelang waktu tidurnya.

Nah, untuk menghindari hal ini, maka Anda harus tanggap. Bila bayi Anda sudah mulai mengucek-ucek mata, sering menguap, atau telinganya ditarik-tarik, besar kemungkinan ia sudah mengantuk. Hentikanlah aktivitas Anda bersamanya dan buatlah suasana yang dapat memudahkan bayi Anda tidur dengan tenang.

tipsbayi.com


Artikel lainnya:
Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak

Tips Menangani Anak Agresif

Mereka menyebutkan bahwa perilaku anak dapat dibentuk melalui pengalaman maupun pengamatan. Teori ini mengemukakan tiga proposisi tentang pembentukan perilaku yaitu: (1) Perilaku diperkuat oleh reinforcement, (2) Perilaku yang mendapat reinforcement secara konsisten akan lebih kuat terbentuk, (3) perilaku baru dapat dipelajari melalui modelling. Perilaku terjadi sebagai hasil dari saling peran antara faktor kognitif dan lingkungan, suatu konsep yang dikenal sebagai mekanisme timbal balik (reciprocal determinism).

Orang belajar dengan mengobservasi orang lain, baik secara disengaja maupun tidak disengaja yang dikenal sebagai modelling atau belajar melalui peniruan. Jika model yang dipilih mencerminkan norma dan nilai-nilai yang sehat, seseorang mengembangkan kemanjuran diri (self efficacy), yaitu kemampuan untuk mengadaptasi kehidupan setiap hari yang normal dan situasi yang mengancam.

Ada beberapa rambu-rambu alternatif pemberian tindakan kepada anak yang berperilaku agresif seperti berikut.

A. Memberi Hukuman yang Efektif Kepada Anak
Pertama, Memberi pelajaran kepada anak agar dapat berperilaku baik tidak perlu dengan cara kekerasan, dengan pukulan. Memukul adalah bukan cara yang baik untuk menghentikan perilaku buruk anak. Justru boleh jadi hanya akan membuat anak merasa bingung, kecewa dan terluka bathinnya. Ia tidak akan percaya bahwa orang yang selama ini dianggap sebagai tempatnya berlindung dan mendapatkan kasih sayang ternyata berbuat kasar terhadapnya.

Kedua, Pukulan yang dilakukan orang tua dapat menghentikan perilaku buruk anak. Tetapi boleh jadi hanya untuk sementara, pada saat itu saja. Anak akan taat kepada orang tua karena perasaan takut dipukul, bukan karena ia memahami permasalahan yang sebenarnya terjadi. Sedangkan untuk jangka panjang mungkin saja anak akan mengulangi lagi perbuatan buruknya, bahkan boleh jadi lebih buruk dari sebelumnya. Ia akan melakukan pembalasan terhadap orang tuanya dengan cara melakukan tindakan yang dapat membuat orang tua merasa pusing, jengkel, malu dan terganggu aktivitasnya.

Ketiga, Ada banyak alternatif hukuman fisik yang lebih efektif daripada pukulan. Di antaranya, memperingatkan dengan kata-kata, menyingkirkan mainan kesukaannya, membatasi penggunaan televisi, komputer, sepeda, atau aktivitas menarik lainnya. Selain itu, bawa dia ke tempat ‘menenangkan diri’ yang berbeda dari kamar tidurnya; bisa di pojok ruangan, kursi khusus, atau dengan cara menidurkannya lebih awal (Deborah K. Parker M.Ed, 2005).

B. Menghadapi Anak Yang Suka Agresif Mengamuk Di Depan Umum
Kita pastinya tidak ingin bermasalah dengan orang lain di tempat umum hanya gara-gara anak kita. Ada beberapa cara untuk menghadapi anak yang suka agresif di depan umum.
  1. Perlu adanya pengertian dan kesabaran orang tua.
  2. Tidak perlu dengan cara kekerasan fisik. Tenangkanlah anak dengan pelukan. Tanyakan kepadanya apa yang ia inginkan dan pastikan kepadanya bahwa orang tua akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya.
  3. Apabila orang tua memiliki acara untuk pergi ke luar rumah sebelum berangkat orang tua membuat perjanjian dulu dengannya. Hal ini perlu dilakukan supaya anak mengerti dan dapat menjaga sikap ketika ia sedang berada di depan umum. Bicarakanlah konsekuensinya apabila anak melanggar janji. Namun, jika anak mampu menjaga sikapnya dengan baik di depan umum maka tidak ada salahnya orang tua memberikan pujian, pelukan, ciuman, atau mungkin memberikan hadiah kecil yang ia sukai .
  4. Jika agresifitas itu ke hal yang positif, cara mengatasinya, biarkan saja si anak melakukan apa yang di inginkannya tapi perlu pengarahan, pengawasan dan jangan terlalu banyak melarang kemauannya yang positif, takutnya justru “membunuh” kreatifitas dan daya imajinasinya karena anak seusia ini lagi dalam proses penjajakan lingkungan, penyesuain diri, mungkin bisa di bilang masa “puber” anak balita”, yang bisa kita lakukan hanya meminimalkan efeknya.
  5. Bertingkah agresif yang mengarah ke kreativitas anak boleh saja (tidak terhitung barang – barang di rumah yang rusak oleh anak-anak), tapi memukul, menyakiti orang lain dan bersikap tidak sopan adalah lain soal. Juga, kalau merusaknya karena mereka curious, karena rasa keingintahuannya tidak masalah. Misalnya karena anak ingin mengetahui apa jadinya kalau es lilin dimasukkan ke dalam gelas yang berisi teh? Tapi kalau sengaja membanting gelas karena marah atau karena kemauannya tidak dituruti, itu berarti ada masalah besar dengan si anak.
  6. Larangan bermain bersama. Anak yang sudah terlihat gejala agresif mereka kita kelompokkan tersendiri.
  7. Untuk memperbaiki perilaku agresif bukannya dicampur dengan anak yang kalem, apalagi kalau anak kalem itu lebih introvert, dengan harapan yang agresif akan jadi kalem. 
Mengacu pada tindakan-tindakan di atas, penanganan anak dengan perilaku agresif harus diperhatikan juga penanganan atas anak yang menjadi korban perilaku tersebut. Tidak jarang, ada sekelompok anak yang selalu menjadi korban dari para jagoan, karena ketidakmampuannya untuk mempertahankan atau membela diri dari perilaku agresif teman yang lain.

Penanganan terhadap anak yang berperilaku agresif harus dilaksanakan secara menyeluruh, artinya semua pihak harus terlibat, termasuk orang tua, guru dan lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan uraian pembahasan cara penanganan terhadap anak berperilaku agresif di atas dapat disimpulkan bahwa penanganan terhadap anak yang berperilaku agresif harus dilaksanakan secara menyeluruh, artinya semua pihak harus terlibat, termasuk orang tua, guru dan lingkungan sekitarnya. Beberapa alternatif penanganan terhadap anak berperilaku agresif dengan memberi hukuman yang efektif kepada anak dan perlu adanya pengertian dan kesabaran orangtua.

Arya Utama


Artikel yang berhubungan:
Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak
Tolong Jangan Katakan Hal Ini Pada Anak Anda
Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak
Beberapa Kesalahan yang Kerap Kali Menghancurkan Kepribadian Anak
Awas! Memukul Anak Bisa Bikin Perilakunya Makin Buruk
Menjadikan Anak Taat Kepada Orang Tua Tanpa Menghukum
Tantrum
Memahami Dunia Emosi Anak


Bermain Asah Konsentrasi

Beberapa permainan ini dapat membantu mengasah konsentrasi balita Anda. Anda bisa ikut bermain bersamanya.

1. Puzzle.
Mengasah konsentrasi karena inti dari permainan ini adalah mencari keping demi keping gambar yang cocok untuk disatukan dengan kepingan gambar lainnya. Biasanya anak tertantang untuk menyelesaikan karena ingin melihat gambar puzzle kembali utuh seperti semula.
Caranya: • Pilih puzzle dengan warna dan tema favorit anak. • Biarkan anak mengamati gambar utuhnya, kemudian acak puzzle. • Secara bergantian, tempelkan kepingan puzzle hingga gambar terangkai sempurna.

2. Menempel.
Mengasah konsentrasi karena saat mengelupas stiker anak harus menaruh perhatian penuh, jika tidak stiker tak akan terlepas atau bahkan sobek.
Caranya: • Sediakan stiker dengan gambar menarik dan tidak lengket saat dikelupas. • Ajak si kecil untuk melepaskan stiker aneka bentuk dan ukuran. • Biarkan ia menempelkan stiker yang berhasil dikelupasnya, dimanapun ia mau.

3. Meronce.
Mengasah konsentrasi karena memasukkan benang ke dalam lubang manik-manik bukan hal mudah. Anak harus memastikan benang mengarah ke dalam lubang. Caranya: • Sediakan benang wool dan aneka bentuk dan warna manik-manik. Pilih manik-manik yang berukuran besar agar tak tertelan oleh anak, tidak bersudut tajam, tidak mudah pecah. • Biarkan anak merangkai manik-manik sesuai keinginannya. Awasi saat anak meronce, agar manik-manik tak tertelan dan tali tak melukai tangannya.

4. Menebak urutan benda.
Mengasah konsentrasi karena untuk menebak urutan dan warna benda yang tepat, anak harus benar-benar mengingatnya. Untuk mengingat dengan baik tentu dibutuhkan konsentrasi.
 Caranya: • Siapkan dua hingga tiga benda kesayangan anak yang ukurannya relatif sama dengan warna yang berbeda. • Urutkan bersama anak, setelah itu minta ia berbalik badan dan menyebutkan urutan benda tadi. • Setelah berhasil mengurutkan benda dengan benar, minta ia menyebutkan warna benda-benda tersebut. • Ulangi kembali dengan susunan yang berbeda. Jika sudah mampu maka tambahi jumlah benda yang ditebak.

5. Memindahkan air.
Mengasah konsentrasi karena anak harus memperhatikan banyaknya air yang akan dimasukkan ke dalam gayung. Ia pun harus berkonsentrasi saat berjalan menuju ke ember yang kosong agar air tidak tumpah. Caranya: • Sediakan dua buah ember kecil dan satu buah gayung. • Isi salah satu ember hingga setengah penuh. • Minta anak untuk mengambil air dari dalam ember yang terisi lalu dipindahkan ke dalam ember yang kosong, lakukan hingga seluruhnya berpindah.

ayahbunda.co.id


Artikel lainnya:

Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi

Jangan biasakan anak Anda menonton televisi meskipun masih bayi. Penelitian menyebutkan bayi yang menonton tv cenderung mengalami keterlambatan kognitif dan bahasa di 14 bulan pertama.

Penelitian dari New York University School of Medicine-Bellevue Hospital Center mengatakan bayi yang menonton tv 60 menit setiap hari, memiliki perkembangan tiga kali lebih rendah setelah 14 bulan dibanding yang tidak.

Meskipun perkembangan tersebut masih dalam kisaran normal, perbedaan yang nyata terlihat ketika anak-anak dan orang tua menonton tv bersama. Dalam kondisi ini, mereka kehilangan waktu berbicara, bermain dan berinteraksi untuk pembelajaran dan perkembangan.

Untuk pilihan program acara, penelitian ini juga tidak memberikan nilai plus minus. Meskipun anak menonton program yang berbau pendidikan, orang tua malah menghabiskan waktu sedikit untuk mengajar anak membaca dan sebagainya.

Walaupun anak terbantu belajarnya dengan berbagai macam program pendidikan, pada kenyataannya anak-anak akan lebih mudah memahami sekaligus senang ketika diajarkan langsung oleh orang dewasa. Pengasuh elektronik bukanlah bantuan pendidikan.

"Mengajarkan anak langsung berbicara dan membaca akan membuat anak merasa bergembira saat belajar. Dan penelitian ini sangat memberikan keterbukaan bagi orangtua yang masih enggan mengajar langsung untuk anak-anak mereka," tambah para peneliti.

TRIBUNnews.com




Artikel yang Berhubungan:
Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget Pada Anak
Gadget Sebagai Jawaban Orang Tua Pada Anak
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Dampak Negatif Dari Kecanduan Teknologi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik

Dampak Negatif dari Kecanduan Teknologi

Teknologi saat ini memang sudah sangat maju. Sebagai orang tua yang sudah mengenal teknologi dalam kehidupan sehari-hari, secara tidak langsung akan menularkan anak-anak kita untuk mengenal teknologi masa kini, misalnya internet dan smartphone. Dan memang sudah sewajarnya para orang tua memperkenalkan anak mereka dengan perkembangan teknologi. Hal ini bertujuan agar anak tidak ketinggalan dengan perkembangan jaman yang terjadi disekitarnya. Namun hal tersebut membawa dampak tersendiri terhadap perkembangan anak, baik positif maupun negatif. Selain membuat anak melek perkembangan, teknologi juga dapat menyebabkan kecanduan.
Teknologi yang diciptakan dengan tujuan mempermudah kehidupan manusia sesungguhnya juga membawa serangkaian bahaya yang perlu dihindari. Khususnya pada anak-anak, pengenalan gadget kepada anak-anak sejak usia dini tanpa pengawasan orang tua dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan juga dapat mempengaruhi tumbuh kembang sang anak.

Dampak negatif dari kecanduan teknologi
Dampak-dampak negatif yang timbul akibat kecanduan teknologi: Sulit konsentrasi pada dunia nyata Rasa kecanduan atau adiksi pada gadget akan membuat anak mudah bosan, gelisah dan marah ketika dia dipisahkan dengan gadget kesukaannya. Ketika anak merasa nyaman bermain dengan gadget kesukaannya, dia akan lebih asik dan senang menyendiri memainkan gadget tersebut. Akibatnya, anak akan mengalami kesulitan beriteraksi dengan dunia nyata, berteman dan bermain dengan teman sebaya.

Terganggunya fungsi PFC
Kecanduan teknologi selanjutnya dapat mempengaruhi perkembangan otak anak. PFC atau Pre Frontal Cortex adalah bagian didalam otak yang mengotrol emosi, kontrol diri, tanggung jawab, pengambilan keputusan dan nilai-nilai moral lainnya. Anak yang kecanduan teknologi seperti games online, otaknya akan memproduksi hormon dopamine secara berlebihan yang mengakibatkan fungsi PFC terganggu.

Introvert
Ketergantungan terhadap gadget pada anak-anak membuat mereka menganggap bahwa gadget itu adalah segala-galanya bagi mereka. Mereka akan galau dan gelisah jika dipisahkan dengan gadget tersebut. Sebagian besar waktu mereka habis untuk bermain dengan gadget. Akibatnya, tidak hanya kurangnya kedekatan antara orang tua dan anak, anak juga cenderung menjadi introvert.

Posted by Erin





Artikel yang Berhubungan:
Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget Pada Anak
Gadget Sebagai Jawaban Orang Tua Pada Anak
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik

Barang-barang teknologi yang dapat menyebabkan kecanduan

Selain mengetahui dampak negatif dari kecanduan teknologi di atas, orang tua hendaknya memperhatikan dan membatasi penggunaannya untuk anak, benda-benda yang dapat menimbulkan ketergantungan.
Berikut ini adalah benda-benda yang perlu anda waspadai penggunaannya:

Televisi
Televisi sering dipakai sebagai alat pengalih perhatian oleh orang tua terhadap anaknya. Tujuan mereka adalah agar anak mereka tidak menangis ketika ditinggal menyelesaikan pekerjaan rumah atau sembari mengerjakan hal penting lainnya. Akan tetapi hal itu lama kelamaan dapat menyebabkan ketergantungan. Sebaiknya, berikan mainan kepada anak dan biarkan dia bermain-main sesukanya selama dalam jangkauan pengawasan Anda. Aktifitas menonton TV untuk anak sebaiknya selalu dilakukan bersama, dengan begitu Anda dapat memberikan penjelasan tentang hal-hal yang anak Anda lihat di TV.

Video Games
Kecanduan video games bagi anak-anak khususnya anak laki-laki sering kali membuat mereka melupakan kegiatan lain yang harus mereka lakukan. Ketika anak sudah enjoy pada satu hal, mereka cenderung menghabiskan waktu mereka dengan benda tersebut dan mengakibatkan hal lain terbengkalai.

Internet dan Komputer
Anda dapat menemukan apapun pada internet. Selain menyediakan anda dengan segala kemudahan, konten internet pun dapat membahayakan perkembangan anak anda. Fitur sosial network yang bertujuan menghubungkan dua orang yang jauh malah menjauhkan dua orang yang dekat. Hal itu terjadi ketika semua interaksi hanya dilakukan dalam dunia maya. Maka sebaiknya batasi penggunaan internet dan maksimalkan interaksi dengan anak. Selain itu, dampak negative dari internet untuk anak jika orang tua tidak mengawasi penggunaannya adalah jika anak-anak mulai tumbuh dan ingin tahu tentang dunia pornografi, kekerasan. Mereka dapat saja secara sengaja/tidak sengaja terpapar pada hal-hal yang belum tepat pada usianya.

Handphone dan Smartphone
Handphone dan Smartphone juga harus diawasi penggunaannya untuk anak-anak. Saat ini sangat marak penipuan dalam bentuk sms/telephone yang mengatasnamakan undian berhadiah, dll. Anak-anak jaman sekarang pada umumnya sudah dibekali handphone oleh orang tuanya, untuk memudahkan komunikasi mereka. Sebagai orang tua, hendaknya Anda sering berkomunikasi dan memberitahu perihal harus berhati-hati tentang penipuan tersebut.

Selain itu, smartphone yang menyediakan aplikasi internet, jejaring sosial dan games juga harus diawasi penggunaannya terhadap anak-anak. Selain kecanduan terhadap gadget, internet, televisi yang membentuk kepribadiaan anak dan mempengaruhi otaknya, dampak teknologi yang tidak dibatasi penggunaannya terhadap anak-anak, tentu juga signifikan terhadap kesehatan mata mereka. Nah, semoga Anda sebagai orang tua dapat menjadi orang tua yang lebih bijaksana mulai hari ini dan kemudian hari. Demi masa depan anak-anak kita.

Posted by Erin




Artikel yang Berhubungan:
Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget Pada Anak
Gadget Sebagai Jawaban Orang Tua Pada Anak
Dampak Negatif Dari Kecanduan Teknologi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik
Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonto Televisi

Olah Fisik Yang Tepat Untuk Si Kecil

Tubuh balita yang sedang bertumbuh berkembang dengan pesat membutuhkan berbagai hal untuk memaksimalkan perkembangannya. Selain dengan nutrisi yang lengkap, tubuh balita juga membutuhkan olah fisik yang tepat. Selain menyehatkan, olah fisik pun bisa menjaga berat badannya.

Tentu saja dalam hal olah fisik, kita tidak bisa menyamakan kemampuan si Kecil dengan kemampuan orang dewasa. Di usia dini ini, saraf motorik mereka baru saja mulai berkembang, sehingga tidak semua olah fisik yang bisa kita lakukan mereka bisa lakukan. Di bawah ini adalah beberapa cara untuk mengajak si Kecil berolah fisik yang tepat dan mudah dilakukan olehnya.

Bermain di halaman/taman rumah. Yang paling penting bagi anak di usia balita adalah menjaga mereka tetap aktif, karena dengan mereka bergerak dengan aktif, mereka melatih bukan saja otot tubuh tetapi juga saraf-saraf di otak. Saat sore hari setelah si Kecil bangun dari tidur siang, ajaklah ia bermain di halaman/taman rumah. Anda bisa memberikan ia bola kecil dan bermain lempar bola dengannya, atau bahkan bermain kejar-kejaran atau petak umpet. Ia akan bergembira, dan tetap sehat. Bergoyang bersama. Saat hari hujan, si Kecil memang tidak bisa bermain di luar rumah. Tetapi bukan berarti ia hanya bisa diam-diam saja. Di dalam rumah pun ia bisa tetap berolah fisik. Mainkan CD musik yang bergembira (tidak selalu harus lagu anak-anak, yang penting berirama yang enak untuk bergoyang) dan ajaklah ia bergoyang dan berdansa. Berdansa baik untuk melatih otot dan koordinasi sarafnya, dan tentunya menyenangkan untuk dilakukan. Berolahraga bersama. Anda mempunyai pengaruh yang besar terhadap balita Anda. Di usia ini, ia akan belajar untuk mengikuti semua yang Anda lakukan.

Cara yang paling baik untuk mengajarnya berolah fisik adalah dengan memberikan contoh padanya. Anda bisa memulai dengan hal yang paling mudah, berjalan-jalan sore di sekitar kompleks rumah, atau pun bisa mengajaknya ke sport club untuk berenang bersama, atau beraktivitas di arena bermain anak-anak. Ajak temannya.

Cara paling gampang untuk membuat si Kecil aktif adalah dengan mengajak temannya untuk bergabung dan beraktivitas bersama. Ajaklah mereka bersepeda roda tiga bersama keliling kompleks, atau pergi berenang bersama di suatu hari minggu atau sabtu. Daftarkan les. Bahkan di usia yang dini ini, si Kecil bisa mendapatkan banyak manfaat dari belajar berenang, senam ataupun menari. Tetapi, jangan terlalu menyibukkan dia dengan berbagai macam les, pilihlah satu atau dua kelas saja dalam seminggu. Fokusnya adalah untuk membuat olah fisik menyenangkan baginya bukan untuk membuat dia menjadi atlet.

Banyak cara untuk mengajak balita Anda aktif dan sehat. Tapi tentunya, semua dimulai dari diri Anda sendiri. Semakin rajin Anda beraktivitas menjaga kesehatan Anda, semakin mudah juga Anda mengajarkan si Kecil untuk berolah fisik demi kesehatan dan pertumbuhannya.

ibudanbalita.com


Artikel yang berhubungan:
Tips Menangani Anak Agresif
Melatih Motorik Halus

Bagaimana Mengoptimalkan Kecerdasan Balita pada Masa Golden Years?

Pada masa golden years pembentukan sistem saraf secara mendasar sudah terjadi. Pada masa ini terjadi hubungan antara sel-sel saraf tersebut. Kuantitas dan kualitas sambungan ini menentukan kecerdasan balita.
Pada masa ini perkembangan otak terjadi secara keseluruhan pada keempat bagian otak, termasuk pada masing-masing belahan otak. Belahan otak inilah yang akan menyimpan kemampuan-kemampuan anak yang berbeda, yakni pada belahan otak kanan maupun kiri.

Otak kiri berhubungan dengan tangan, kaki dan tubuh sebelah kanan. Otak kiri terutama mengendalikan aktivitas yang bersifat: teratur, berurutan, rinci, sistematis, misalnya : membaca, menulis, menghitung.

Sedangkan otak kanan berhubungan dengan tangan, kaki dan tubuh sebelah kiri. Otak kanan terutama mengendalikan aktivitas yang bersifat : berfikir divergen (meluas), imajinasi, ide-ide, kreativitas, emosi, musik, spiritual, intuisi, abstrak, bebas, simultan.

Oleh karena itu, jika kita menginginkan anak dengan kecerdasan multiple latihlah kedua tangan, kaki, mata, telinga kanan dan kiri sama seringnya setiap hari, terutama sampai umur 3 tahun, agar otak kanan dan kiri berkembang optimal.

Kalau hanya melatih tangan kanan, maka fungsi otak kanan tidak berkembang optimal, sehingga anak tidak trampil berfikir divergen (meluas), rendah daya imajinasinya, kurang kreatif, kurang mampu kendalikan emosi, kurang berjiwa seni, spiritual, intuisi dan abstrak.

Anak yang kidal, latihlah ia menggunakan kedua tangan dan kakinya sama seringnya. Jangan paksakan ia menggunakan tangan kanan saja, karena otak fungsi otak kanannya akan kurang berkembang.

Adapun tahapan perkembangan kemampuan balita usia 1 hingga 3 tahun diantaranya adalah:
Usia 13-15 bulan balita sudah berminat pada gambar, mengambil mainan sendiri, berjalan sendiri, berceloteh dan mampu meniru kegiatan orang lain. Usia 16-18 bulan balita sudah mengucapkan kata-kata yang lebih banyak, dapat menemukan mainan yang disembunyikan, dan mengerti fungsi benda. Usia 19-24 bulan, balita sudah memehami konsep sederhana bentuk benda seperti segitiga dan persegi, menyebut nama sendiri serta mengucapkan satu kalimat. Usia 2-3 tahun, balita biasanya sudah dapat mencocokkan bentuk, membangun dan menghubungkan balok, berpakaian sendiri dan semakin memahami kata-kata orang lain.

Kemampuan ini harus dioptimalkan dengan cara stimulasi. Stimulasi akan mempengaruhi pertumbuhan sinaps (proses sinaptogenesis), yang membutuhkan banyak sialic acid untuk membentuk gangliosida. Ini penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori.

Kebutuhan stimulasi bermain meliputi berbagai permainan yang merangsang semua indera (pendengaran, penglihatan, sentuhan, membau, mengecap), merangsang gerakan kasar dan halus, berkomunikasi, emosi-sosial, kemandirian, berpikir dan berkreasi. Kebutuhan stimulasi bermain sejak dini akan besar pengaruhnya pada berbagai kecerdasan anak (multipel inteligen).

Selain stimulasi, yang juga penting adalah faktor nutrisi. Dengan nutrisi yang lengkap dan seimbang sejak di dalam kandungan sampai umur 3 tahun, akan semakin banyak jumlah sel-sel otak bayi, semakin bagus kualitas percabangan sel-sel otak, dan semakin bagus fungsi hubungan sinaps antara sel-sel otak bayi dan balita.

Salah satu nutrisi yang penting bagi perkembangan otak adalah asam amino. Asam amino akan membentuk struktur otak dan zat penghantar rangsang (zat neurotransmitter) pada sambungan sel syaraf.

Tyrosine dan Triyptophane merupakan asam amino penting, karena sebagai bahan baku pembuat neurotransmitter katekolamin dan serotonin yang mempengaruhi pengendalian diri, pemusatan perhatian (konsentrasi), emosi dan perilaku anak. Vitamin B6 penting untuk enzim otak. Kekurangan zat besi dan yodium akan menyebabkan rendahnya kecerdasan. Seng dibutuhkan untuk pembelahan dan kemampuan membran sel-sel otak.

ibudanbalita




Artikel lainnya

Melatih Motorik Halus

Kegiatan motorik halus sebaiknya sudah diperkenalkan kepada anak-anak usia prasekolah. Tentu saja hal ini seiring dengan kegiatan motorik kasarnya. Mengapa hal ini perlu dilakukan? Sebab kegiatan motorik halus merupakan langkah awal bagi pematangan dalam hal menulis dan menggambar.

Anak-anak memerlukan persiapan yang matang sebelum mereka bersekolah, sehingga kelak diharapkan mereka mampu menguasai gerakan-gerakan yang akan dilakukan nantinya pada saat bersekolah.

Sudah menjadi ciri khas, hampir semua anak memiliki sifat ingin tahu yang tinggi, memiliki imajinasi yang alami, serta kreatif. Anak-anak akan beradaptasi dan merespon dengan cepat ketika mereka berinteraksi dengan orang-orang atau benda yang ada dilingkungannya. Mereka sangat tertarik dengan berbagai hal, seperti bagaimana sesuatu bekerja atau mengapa sesuatu terjadi sebagaimana sesuatu itu terjadi.

Definisi
Apa sebetulnya yang dimaksud dengan keterampilan motorik halus? Keterampilan motorik halus (fine motor skills) adalah aktivitas-aktivitas yang memerlukan pemakaian otot-otot kecil pada tangan. Aktivitas ini termasuk memegang benda kecil seperti manik-manik, butiran kalung, memegang sendok, memegang pencil dengan benar, menggunting, nelipat kertas, mengikat tali sepatu, mengancing, dan menarik ritsleting. Aktivitas tersebut terlihat mudah namun memerlukan latihan dan bimbingan agar anak dapat melakukannya secara baik dan benar.

Keterampilan Motorik Halus
Keterampilan motorik halus ternyata memang harus melalui proses latihan yang rutin, berkelanjutan dan tepat sasaran. Hal ini bisa dibuktikan karena tidak semua anak pandai menggerakkan tangannya, misalnya ada seorang anak yang kesulitan ketika ia akan memegang sebuah bola pimpong, bola tersebut selalu lepas ketika akan diraihnya, tetapi ada anak lainnya dengan begitu mudah memegangnya.

Mengapa ada anak yang mengalami kesulitan dalam keterampilan motorik halus? Hal ini juga diakibatkan karena pesatnya kemajuan teknologi. Adanya permainan melalui video games atau komputer telah menyebabkan anak-anak kurang menggunakan waktu mereka untuk permainan yang memakai motorik halus. Tentu saja hal ini dapat menyebabkan berkembangnya otot-otot halus pada tangan mereka kurang berkembang. Keterlambatan perkembangan otot-otot ini berdampak pada anak yang mengalami kesulitan menulis ketika mereka mulai masuk sekolah. Beberapa anak menunjukkan keterlambatan dalam kemampuan motorik halus karena keterlambatan tumbuh kembang atau diagnosa medik seperti down syndrome atau cerebral palsy (cacat mental).

Cara Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak
Melatih anak dengan berbagai kegiatan yang positif seperti menggambar dan mewarnai merupakan salah satu cara meningkatkan keterampilan motorik mereka. Beberapa keterampilan tangan yang penting bagi anak untuk dikembangkan adalah :
  1. Mampu melengkungkan telapak tangan membentuk cekungan (palmar arching)
  2. Menggunakan jari telunjuk dan jempol untuk memegang suatu benda, sambil menggunakan jari tengah dan jari manis untuk kesetabilan tangan mereka (hand side separation).
  3. Membuat bentuk lengkung dengan jempol dan telunjuk (open web space)

Aktivitas-aktivitas untuk Mengembangkan Keterampilan Motorik Halus Anak

Vertical Surfaces (permukaan vertikal)
Melalui latihan pada permukaan vertikal akan membantu mengembangkan otot-otot kecil pada tangan dan pergelangan, sekaligus otot-otot yang lebih besar (motorik kasar) pada lengan dan punggung. Otot-otot yang besar diperlukan untuk membantu kestabilan sementara melakukan tugas motorik halus. Menggambar dan mewarnai pada papan tulis atau sepotong kertas yang ditempel di dinding adalah cara yang paling mudah untuk menggunakan permukaan vertikal. Aktivitas lain misalnya menggambar dan bermain dengan odol/krim cukur pada ubin di kamar mandi pada saat mandi, ‘menggambar’ pagar rumah dengan air dan kuas, atau mencopot dan memasang magnet pada kulkas.

Merobek dan Meremas
Melalui latihan merobek dan meremas kertas dapat membantu mengembangkan otot halus pada tangan, yang juga digunakan untuk menulis. Buatlah anak merobek kertas koran atau kertas bekas dengan jari-jarinya dan meremasnya menjadi bola-bola untuk membuat prakarya (misalnya orang-orangan, boneka beruang), atau sekedar melemparnya masuk ke dalam kaleng sampah. Setelah mereka bisa membuatnya, perintahkan mereka untuk meremas kertas hanya dengan satu tangan. Terakhir, buatlah anak meremas kertas tisu menjadi bola kecil hanya dengan menggunakan ujung jari. Tempelkan bola-bola tisu ini pada papan untuk membuat suatu gambar.

Anda bisa juga melakukan dengan permainan yang berbeda, misalnya suruh anak-anak tersebut merobek kertas berwarna atau kertas tisu, lalu minta mereka menempelkan potongan kertas tersebut menggunakan lem pada berbagai material untuk membuat gambar mosaik (gambar yang terbentuk dari potongan-potongan kertas berwarna-warni).

Menggambar dan Mewarnai
Sering kali terjadi anak-anak diminta untuk menggunakan pensil, krayon, dan marker padahal tangan mereka belum siap menggunakan alat-alat tulis tersebut. Tentu saja hal ini bisa menyebabkan pembelajaran memegang pensil dengan cara yang tidak efisien, yang pada akhirnya menjadi masalah.

Agar anak-anak bersemangat belajar memegang alat tersebut dengan benar, berilah mereka alat-alat tulis yang bisa membantu perkembangan keterampilan motorik halus. Misalnya, crayon yang pendek (tidak lebih dari 5 cm panjangnya), akan membuat anak menggunakan keterampilan tangannya dari pada seluruh tangan. Kapur tulis berbentuk bulat telur akan membuat anak menggunakan teknik open web space (lihat di atas). Terakhir, menggambar dan mewarnai pada permukaan vertikal akan menempatkan pergelangan tangan pada sudut yang tepat untuk membentuk palmar arching.

Kecerdasan Kinestetik Kerap Diremehkan

Sabtu merupakan hari yang dinantikan Sheva (7 tahun). Ayah ibu telah menjadwalkan Sabtu sebagai hari olahraga keluarga. Sheva bersama adiknya, Dira (4), diajak lari-lari keliling stadion Senayan. Setelah itu, ayah mengajak Sheva bermain bola. Dira bersama ibu naik sepeda di sekitar lapangan.Kegemaran Sheva berolahraga tampak pula di sekolah. Selain jago basket dan sepak bola, beberapa kali ia meraih juara atletik mewakili sekolahnya. Beberapa bulan lalu, ia ingin masuk les sepak bola anak-anak. Tapi, Diana, ibu Sheva, menggelengkan kepala.

Alasannya, olahraga sekadar hobi, tak perlu pendalaman. Lebih baik Sheva mengikuti les pelajaran, membenahi prestasi akademisnya yang jeblok. ''Saya ingin Sheva kuliah di ekonomi supaya sukses secara finansial, bukan menjadi atlet yang masa masa depannya belum jelas," kata Diana.Benarkah anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik (kinestetik, red) tidak memiliki masa depan yang cerah?

Terkendali dan bertujuan
Menurut Prof Howard Gardner, setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda dengan kadar pengembangan yang berbeda pula. Psikolog dari Harvard University ini mengembangkan model multiple intelligences. Ia membagi kecerdasan menjadi delapan macam kecerdasan, di antaranya kinestetik, yaitu kecerdasan fisik.

Kecerdasan kinestetik sejajar dengan tujuh kecerdasan lain, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logik matematik, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Apa maksud kecerdasan fisik atau kinestetik itu? Kecerdasan fisik (kinestetik.red) yaitu kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, kekuatan, keterampilan dan mengekspresikan dirinya terkait dengan olah tubuh. Anak-anak kinestetik ini menyukai hal-hal berkaitan dengan gerak, seperti berolah raga, seni (pantomim, akting, koreografer), dan keterampilan tangan.

Tipe kinestetik anak, katanya, sudah bisa terlihat sejak usia empat tahun. Anak tersebut senang bergerak. Saat masuk ke bangku sekolah, gelagatnya lebih nyata. Anak kinestetik menyukai olahraga, lebih memilih ekstrakurikuler olahraga dibandingkan sains. Maksud bergerak di sini tentu saja bergerak yang masih terkendali, teratur, bukan gerakan asal-asalan dan tak bertujuan.

Keunggulan anak kinestetik, sangat cepat menghafal berkaitan dengan gerakan dan urutan. Menari, misalnya, membutuhkan gerakan yang berurutan, tidak asal gerak. Begitu pula olahraga. "Anak-anak termasuk kinestetik terlihat ketika menari sangat luwes, terampil, tidak kaku. Olahraga pun begitu, semangat, lincah, menguasai, dan lebih unggul dibandingkan yang lain."

Sayangnya, kelebihan anak kinestetik ini sering kali dibenamkan oleh orang tuanya. Banyak kalangan, termasuk orang tua menganggap, kecerdasan fisik urutan nomor sekian dibandingkan prestasi sekolah (akademik, red). Mahir di bidang olahraga atau seni tidak menjamin kehidupan yang layak. Makanya, banyak orang tua lebih bangga anaknya sukses di bidang sains dan bahasa dibandingkan bidang olahraga atau seni. Akibatnya anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik merasa kurang dihargai.

Selain itu, telanjur ada anggapan anak yang memiliki kecerdasan fisik pasti lemah di bidang akademik. "Anggapan itu tidak bisa dibenarkan." Sebab, kata dia, banyak juga anak yang memiliki kecerdasan fisik, mendapat nilai bagus pula pelajaran lainnya. Ini semua tergantung dari gaya belajar yang ditanamkan orang tua.

Mengaitkan gaya belajar
Kelebihan anak-anak kinestetik lebih cepat menghafal dengan olah tubuh. Karena itu, gaya belajar anak kinestetik harus dikaitkan dengan gerakan atau olah tubuh. Misalkan, bagaimana proses hujan turun, anak kinestetik jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan pasti cepat dicerna. Bisa juga tentang gaya tarik bumi dengan menjatuhkan bola basket dan contoh lainnya. Semua itu membutuhkan kreativitas dari orang tua.

Ada kelemahan dari anak kinestetik, yaitu cenderung tidak bisa diam dalam jangka waktu lama. "Maunya bergerak terus,". Namun, ia menyarankan orang tua agar tidak khawatir karena seiring perkembangan usianya, anak kinestetik bisa lebih tenang. Sebab, kinestetik ini bukan gangguan atau kekurangan dari seseorang melainkan salah satu cara kemampuan mengekpresikan diri.

Yang perlu diketahui, semua orang mempunyai kecerdasan kinestetik dengan level yang berbeda. Ada yang lebih dominan, tapi ada juga yang kecerdasan fisiknya tidak unggul dibandingkan kecerdasan lain.Jika anak Anda termasuk golongan kinestetik, berikan dukungan kepadanya. Orangtua juga dapat melengkapi kelebihan lain dikaitkan dengan kecerdasan fisik.


Info Kecerdasan Kinestetik

Mengidentifikasi kecerdasan kinestetik
Anak suka aktivitas yang melibatkan motorik halus dan kasar.

Kecerdasan kinestetik dan otak
Area kecerdasan kinestetik terletak pada cerebellum dan thalamus,ganglion utama dan bagian otak yang lain. Korteks motor otak mengendalikan gerakan tubuh. Orang-orang dengan kecerdasan ini menunjukkan keterampilan menggunakan jari atau motorik halus.

Perilaku kinestetik
Gemar mengulik, mencari tahu bagaimana cara kerja sesuatu. Tak memerlukan penjelasan orang lain atau membaca manual.

Kreativitas
Kecerdasan ini melahirkan olahragawan, ilmuwan, penulis, artis, musisi, penari, dan tenaga kreatif lain yang memungkinkan otak dan tangan mereka bergerak tanpa mengikuti format baku.

Reaksi masyarakat
Masyarakat kerap menganggap kinestetika sebagai hiperaktivitas ketimbang suatu kecerdasan. Akibatnya, kecerdasan ini jarang dihargai.

Melemahkan
Orang tua dan guru sering membatasi anak. Anak kreatif yang cerdas fisik membutuhkan kebebasan tanpa selalu mengikuti pola yang sudah dirancang. dirjournal.com


7 Cara Kembangkan Potensi Anak Kinestetik
  • Libatkan anak dalam kegiatan menarik, drama, olahraga.
  • Sediakan beragam permainan kreatif -lilin malam, tanah liat, blok-- untuk percobaannya.
  • Berjalan, melompat mendaki, main boling, tenis, atau bersepeda bersama.
  • Nikmati permainan seluncur, ayunan, dan kendara.
  • Berikan tugas seperti menyapu, menata meja makan, mengosongkan tempat sampah, membantu memasak, dan berkebun.
  • Libatkan dalam permainan fisik yang bersifat sosial seperti petak umpet, menebak kata dari gerakan tubuh.
  • Bermain menggunakan tubuh untuk mengekspresikan emosi seperti melompat-lompat bila gembira, mengerutkan kening bila marah.
Berbagai sumber.


Artikel yang berhubungan:
Olah Fisik Yang Tepat Untuk Si Kecil
Pentingnya Olahraga Sebagai Stimulasi Motorik Anak
9 Manfaat Bermain Bagi Anak

Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak

Memilih Mainan untuk Anak

Kalau sudah berada di dekat toko mainan, pasti tangan Moms ‘gatal’ ingin membelikan si buah hati mainan yang menarik. Apalagi kalau dengar ‘bujukan’ si penjual, “Sayang anak, Bu…” sambil menyodorkan mainan yang lucu-lucu. Wuih, maunya sih diborong semua mainannya!

Eits, mainan memang ada banyak jenisnya, ada yang terbuat dari kain, plastik, kertas atau lilin. Tapi, jangan asal pilih! Ada baiknya mainan itu memberikan manfaat yang terbaik untuk proses tumbuh kembang anak. Lantas, mainan apa sih yang tepat untuk anak usia 1-3 tahun alias batita?

Utamakan Kemampuan Bahasa
Sebelum memutuskan mainan apa yang tepat untuknya, Moms musti pertimbangkan kemampuan bahasa dan motorik si kecil. Menurut Dra. Mayke S .Tedjasaputra, M.Psi, psikolog dan playterapist dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, kemampuan bahasa untuk anak usia 1 tahun ke atas adalah yang utama.

“Bila dia memiliki ‘modal’ kosakata yang kaya, tentu akan lebih mudah memahami apa yang dikemukakan oleh orang lain. Dia juga bisa merespon dengan kata-kata, bila dia sudah bisa bicara,” ujar wanita yang akrab disapa Mayke ini.

Nah, bila kemampuan bahasanya berkembang dengan baik, dia akan tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Sedangkan, Moms or Dads hanya mendampingi dan mengarahkan dia saat bermain.

Asah Kreativitas Anak
Mainan apa yang tepat untuk si 1-3 tahun? Mayke menyarankan untuk memilih mainan yang bersifat konstruktif dan merangsang kreativitas anak.

Berikut beberapa contoh mainan yang bersifat konstruktif sekaligus melatih kreativitas anak:
  • Balok-balok susun seperti CITY BLOK atau CAR BLOK, di mana balok-balok ini bisa disusun menjadi macam-macam bentuk bangunan seperti jembatan, gedung atau bentuk lain sesuai keinginan. Selain melatih otak kanan yang bikin anak menjadi lebih kreatif, juga melatih otak kiri karena ia belajar mengenal bentuk dan warna. Anda bisa menanyakan apa yang dibangunnya sehingga ia akan bercerita panjang lebar. Ini juga bisa melatih kemampuan bicaranya, bukan? Selain itu, bila ia menyusun balok dengan temannya, anak pun dilatih untuk bekerjasama.
  • Mainan bongkar pasang semacam lego. Di sini, anak bebas berkreasi menyusun dan merakitnya hingga menjadi bentuk seperti rumah, gedung bertingkat, atau bentuk lainnya seperti yang ada dalam imajinasinya. Untuk anak usia 1-3 tahun, sebaiknya pilih yang berukuran besar. Maklum, anak seusianya rentan menelan atau mencicip segala sesuatu yang baru dia kenal atau menarik perhatiannya.
  • Mainan yang terbuat dari lilin seperti play dough (lilin mainan). Dengan ini, anak bisa mengeksplorasi bentuk dan warna sesuai keinginannya. Moms bisa menyontohkan dari bentuk yang masih sederhana semisal bentuk lingkaran atau bola.
Asah Keterampilan Berkomunikasi
Selain mainan yang mampu mengasah kreativitas anak. Mayke juga menyarankan untuk memberikan pula mainan yang bisa merangsang keterampilan berkomunikasi, berimajinasi dan memecahkan masalah seperti berikut ini:
  • Telepon mainan, boneka hewan, boneka tangan dan buku cerita bergambar. Ini semua bisa merangsang perkembangan bahasa anak, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berfantasi dan berinteraksi dengan orang lain.
  • Drum, piano mainan, crayon, buku gambar bisa menjadi media si kecil untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan imajinasinya.
  • Puzzle sederhana (2-4 keping), angka/alfabet mainan, bead maze (balok/bola susun) dapat mengembangkan kemampuan anak untuk menyelesaikan masalah. Mainan seperti ini juga dapat mengajarkan anak tentang proses kerja suatu benda, mengenalkan angka dan huruf, serta mengasah motorik halusnya.
  • Boneka lengkap dengan rumah dan pakaiannya, peralatan dapur mainan, peralatan perkakas mainan, mobil-mobilan yang dilengkapi setir bisa membantu anak untuk belajar tentang dunia orang dewasa.
  • Sepeda kecil, panjatan (climber) dan papan keseimbangan (see-saw) juga bisa membantu anak mengasah keterampilan motoriknya.
Sulap Kertas dan Benda Bekas Jadi Mainan
Sebenarnya, mainan tak perlu mahal. Dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita, Moms or Dads pun bisa menciptakan suatu mainan edukatif. Ya, anak tidak melulu musti disodori mainan yang ‘sudah jadi’ untuk merangsang kreativitas, keterampilan berimajinasi atau memecahkan masalah. Mau tahu beberapa di antaranya?
  • Kertas Tulis / Gambar
    Benda ini tak hanya bisa digunakan untuk kegiatan corat-coret si kecil, melainkan juga untuk menjiplak tangan atau kakinya – dengan bantuan Moms or Dads tentunya. Dari selembar kertas ini pula, bisa dijadikan sebuah bola dengan cara meremas-remasnya. Nah, bola tersebut bisa digelindingkan, dilempar, ditendang atau diputar. Ajak anak untuk melakukan semua aktivitas itu dengan cara menyenangkan.
  • Kertas Krep
    Ajak anak bermain ‘sulap’ dengan memanfaatkan kertas krep yang berwarna-warni. Sebelumnya sediakan wadah kecil berisi air. Celupkan dua kertas krep yang berbeda ke dalam air tersebut, misalnya warna kuning dan merah dicelupkan ke dalam air. Simsalabim! Muncul warna baru, alias warna oranye. Atau kertas merah dan biru ‘luntur’ menjadi ungu, dan sebagainya. Selain belajar mengenal warna, kegiatan ini pasti mengagumkan untuk si kecil!
  • Botol Plastik
    Barang bekas seperti botol plastik pun bisa dimanfaatkan jadi mainan. Caranya, lubangi bagian bawah botol lalu masukkan air. Lihat apa yang terjadi, air itu mengalir dari atas ke bawah. Sederhana? Iya, tapi bagi si batita luar biasa! Katakan, “Adek…mau lihat air mancur?” Dijamin, pengalaman si kecil di dunia bermain semakin bertambah. 

(Mom& Kiddie//nsa)



Artikel yang berhubungan:

Prev home