Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Gaya belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya belajar. Tampilkan semua postingan

7 Cara Memotivasi Anak agar Gemar Belajar

Pemerintah mengatur bahwa anak-anak wajib mengenyam pendidikan formal, baik di sekolah swasta maupun sekolah negeri. Apapun jenis sekolah yang dipilih orangtua sebenarnya tidak selalu menjamin anak akan menikmati waktu belajarnya. Di sinilah tugas Anda untuk menumbuhkan rasa gemar belajar pada sang buah hati.

Rasa bosan dan jenuh belajar pada anak, bisa jadi disebabkan oleh karena proses belajar mengajar yang diterapkan di sekolah terasa kaku dan membebani. Maka dari itu, Anda sebagai orangtua perlu menerapkan kebiasaan dan acara belajar yang lebih santai serta menyenangkan, baik di rumah atau di luar rumah. Tujuannya agar si kecil bisa berkonsentrasi pada mata pelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Seperti dikutip dari Hello Beautiful, berikut tujuh memotivasi keinginan belajar anak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Membantu mempersiapkan kebutuhan sekolah si kecil
Masa awal bersekolah membuat si kecil bersemangat dengan aktivitas baru hariannya tersebut. Tak ayal, membuat mereka lupa untuk membenahi perlengkapan sekolahnya. Sebagai orangtua yang baik, bantulah anak untuk menyiapkan kebutuhan belajarnya di kelas, seperti merapikan buku, mengatur kotak pensil, melengkapi seragam sekolah, dan sepatu. Tujuannya agar pada pagi hari tidak ada keributan dan kerusuhan hanya karena buah hati tidak dapat menemukan topi sekolahnya untuk upacara.

Nah, untuk melatih rasa tanggung jawab dan kemandirian anak, libatkan si kecil saat Anda mempersiapkan kebutuhan sekolahnya. Agar di kemudian hari, mereka bisa melakukannya sendiri.

Jangan pelit memberikan pujian
Orangtua mana yang tidak menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka, tak terkecuali Anda. Namun, jangan menekan dan membebani anak untuk memberikan yang terbaik versi Anda. Saat nilai ujian si kecil di luar ekspektasi Anda, alih-alih memarahinya, berikanlah pujian. Rasa percaya diri pada anak berasal dari penilaian keluarga intinya pada mereka. Melihat reaksi orangtua yang positif akan menumbuhkan keinginan pada dirinya untuk memberikan yang lebih baik untuk Anda.

Memberikan pujian juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang berkesan dan membangkitkan harga diri anak.

Dukung kreativitas anak
Selain pendidikan formal, dukung anak untuk mengembangkan minatnya di bidang lain, seperti bermain musik, menggambar, menari, melatih kemampuan berbahasa internasional, dan sebagainya. Bangun kreativitas anak dan arahkan bakat mereka dengan cara yang layak dan edukatif. Sebab, anak yang kreatif biasanya memiliki jiwa empati dan daya tangkap otak yang lebih baik dibandingkan anak yang pintar hanya berlandaskan teori.

Terapkan demokrasi pada pola asuh anak
Apa yang menjadi minat anak? Biarkanlah mereka membicarakanya pada Anda, dampingi si kecil saat ingin mengeksplorasi talentanya tersebut. Latih anak untuk mengekpresikan keinginannya lewat cara berdiskusi dengan Anda.

Bila Anda merasa masih terlalu dini untuk si kecil beropini, maka Anda telah melakukan kekeliruan. Sebab anak yang terlatih untuk berdiskusi dan mengeluarkan pendapatnya sedari kecil, maka kelak mereka dewasa akan tumbuh sebagai seorang pemimpin yang bijak dan berpikiran terbuka.

Ciptakanlah suasana belajar yang menyenangkan dan santai
Proses belajar tidak harus berada di dalam kelas, bukan? Maka dari itu, tumbuhkanlah rasa ingin tahu yang tinggi dalam diri anak Anda. Biasakan mereka untuk berani bertanya saat tidak mengerti tentang sesuatu, biarkan dia mengeksplorasi dan mencerna jawaban yang Anda berikan sesuai dengan kemampuan berpikir yang mereka miliki.

Tumbuhkan kebiasaan membaca pada anak
Meskipun era teknologi menawarkan penyajian informasi dalam kemasan yang lebih praktis dan instan. Namun, jangan meniadakan kegiatan membaca dalam keluarga Anda. Sebaliknya, aturlah waktu membaca bersama di rumah. Anda dan suami membaca buku pilihan masing-masing, dan anak membaca buku sesuai usianya. Ingat, sebelum anak mengadaptasi kebiasaan dari lingkungan sosial, mereka meniru apa yang dilakukan oleh orangtua terlebih dulu. Maka dari itu, perlihatkan perilaku terpuji dan inspiratif saat bersama si kecil.

Komunikasi yang hangat tanpa beban
Setelah makan malam bersama keluarga, sebelum waktunya belajar, coba biasakan mengajak anak membicarakan soal kegiatannya selama di sekolah dan saat di rumah sewaktu Anda masih berada di kantor. Cara ini dapat membangun rasa percaya anak pada Anda, bahwa lain waktu mereka memiliki masalah, Anda akan menjadi orang pertama yang mereka ajak bicara!

Selamat mencoba!


KOMPAS.com| Penulis: Syafrina Syaaf | Editor: Syafrina Syaaf | Sumber: Hello Beautiful


Artikel lainnya:

Bebaskan Balita Bereksplorasi

Meski kerap membuat rumah kotor dan berantakan, bereksplorasi memberi kesempatan untuk anak belajar banyak banyak hal dan tumbuh lebih optimal.

Orangtua sebaiknya tidak terlalu banyak melarang anak.
"Masa balita adalah masanya anak learn and explore. Semua pengalamannya berasal dari situ. Anak juga sedang tumbuh dan belajar, daya nalarnya juga berkembang pesat," kata psikolog Ratih Ibrahim di sela acara bertajuk Forgiveness is Easy yang digelar oleh Dulux di Jakarta (19/3/14).

Apa yang diterima anak di usia balita, imbuh Ratih, akan terbawa sampai ia dewasa. "Kalau pengalamannya membuat dia kerdil, akan terbawa terus. Begitu pun kalau pengalamannya membuat trauma maka traumanya akan dalam," katanya.

Karena itu, orangtua sebaiknya tidak membatasi lingkup ekslorasi anak. "Ibarat tanaman, anak yang serba dibatasi akan tumbuh seperti bonsai," ujarnya.

Anak yang sering dilarang-larang juga akan mempengaruhi kepercayaan dirinya, keberanian mengambil keputusan, keberanian menghadapi risiko, termasuk ide-ide dan inovasinya.

Meski membebaskan anak, tapi Ratih menyarankan agar orangtua tetap memberikan batasan. "Bagaimana pun anak tetap harus diberi tahu agar dorongan kreativitasnya tidak merusak," ujarnya.

Ia mencontohkan, walau kita membebaskan anak untuk mencorat-coret tembok, tetapi jelaskan pada anak tembok mana yang tidak boleh dicoret atau dikoroti.

"Beri tahu anak mana area mereka dan mana area yang harus bersih. Jelaskan juga bahwa mereka boleh mencoret atau menempel-nempel dinding, tapi hanya di rumah, bukan di rumah orang lain," ujarnya.

Orangtua tetap harus memiliki kontrol terhadap anak. "Jangan kalah pintar sama anak, toh sebagai orangtua kita sudah kenal dengan anak sendiri," katanya.

Tak kalah penting, orangtua juga harus konsisten sampai anak memiliki kebiasaan positif yang diinginkan. "Bebas boleh tapi tetap harus bertanggung jawab," ujarnya.

Kompas.com | Penulis: Lusia Kus Anna | Editor: Lusia Kus Anna


Artikel lainnya:

Cara Sederhana Stimulasi Anak untuk Bicara

Perkembangan kemampuan berbicara pada diri setiap anak tidaklah sama. Ada anak yang perkembangan berbicaranya cepat, namun ada juga yang lambat dan membutuhkan stimulasi berulang-ulang agar dia mau bicara. Sebagai orang tua, tentunya kita menginginkan yang terbaik untuk anak tercinta. Kita, termasuk dalam perkembangan bicaranya. Dalam berbagai kasus sering ditemui anak yang belum pandai bicara dibanding dengan anak seumurnya, ada juga yang tidak menanggapi ketika diajak berbicara, kasus lain menunjukkan bahwa si anak tidak bicara namun mengerti apa yang dibicarakan orang lain. Kalau sudah begitu orang tua pasti merasa resah dan ingin agar buah hatinya segera mengeluarkan celotehnya. Nah, berikut ini beberapa cara sederhana untuk menstimulasi anak Anda untuk bicara:
  • Pengulangan. Semakin banyak anak Anda mendengar sebuah kata, semakin besar kemungkinan baginya untuk meniru kata tersebut. Jadi, banyak-banyaklah mengulang sebuah kata ketika Anda berbicara dengannya, misalnya ketika Anda ingin mengajaknya bermain bola, katakan kepadanya “Kamu ingin bermain bola?”, sambil Anda menggemgam bolanya dan meletakkannya di hadapan muka dia. Lalu katakan lagi, “Siap-siap ya, ini dia bolanya datang”, sambil Anda menggulirkan bola itu ke arahnya, kemudian katakan lagi “Ayo Sayang, tangkap bolanya!”. Nah, dalam waktu beberapa detik Anda telah mengulang kata “bola” sebanyak tiga kali, bukan? Semakin banyak dia mendengar kata itu, maka akan semakin besar kemungkinan dia untuk meniru dan akhirnya mengatakan kata “bola”. Anda bisa mencoba hal yang lain lagi, intinya di masa awal kehidupannya seorang anak memulai masa belajarnya dengan cara meniru dari orang-orang di sekitarnya, jadi perbanyaklah kesempatannya untuk bisa mendengar kata-kata baru di setiap waktunya.
  • Banyaklah berbicara pada Anak Anda. Katakan setiap hal kepadanya, misalkan di saat pagi, “Hari ini Kita sarapan bubur Ayam ya Sayang”. Di kesempatan lain, misalkan saat Anda dan dia menonton TV, ceritakan apa yang Anda dan dia sedang tonton, kemudian setelah itu ceritakan lagi apa yang baru saja kalian tonton. Kalau bisa, di sepanjang hari yang Anda lalui bersamanya isilah dengan perbincangan mengenai hal apapun yang kalian lalui bersama.
  • Bergantian dalam berbicara. Berbicaralah kepada buah hati Anda, lalu berikan dia waktu untuk gantian berbicara kepada Anda. Jika belum juga berhasil memancingnya berbicara, maka terus ulangi namun dengan situasi yang berbeda-beda, misalkan pada saat kalian bermain atau saat makan tiba.
  • Tatap mata Anak Anda saat berbicara padanya. Saat berbicara pada si buah hati, tataplah matanya sesering mungkin. Dari hal itu, dia akan belajar berbicara dari ekspresi wajah yang Anda tunjukkan. Untuk beberapa anak, hal itu mungkin akan banyak membantu dalam proses belajarnya berbicara.
  • Beri dia pilihan. Misalkan ketika Anda membelikan dia wafer atau keripik, berikan kesempatan kepadanya untuk memilih yang dia inginkan untuk dimakan sambil Anda menyodorkan kedua pilihan tersebut pada anak Anda. Tunjukkan padanya yang mana wafer dan yang mana keripik, terus stimulasi dia untuk bisa menentukan pilihannya.
  • Saat berbicara dengan anak, berikan dia waktu untuk bisa merespon apa yang Anda katakan. Berikan dia kesempatan untuk bisa mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, jika dia mau berusaha, Anda akan melihat usahanya untuk bisa mengatakan sesuatu meskipun yang Anda dengar hanya ocehan, mungkin saja itu sebuah kata darinya. Ingat selalu untuk mengulang-ulang stimulasi yang anda berikan.
  • Bacakan sebuah buku untuk anak Anda dimana ada satu atau dua gambar pada halamannya. Setelah itu, tanyakan kepadanya sebuah pertanyaan yang jawabannya bisa dijawab secara verbal atau dengan menunjuk sebuah gambar. Usahakan untuk tidak terlalu memberikan tekanan padanya untuk bisa menjawab pertanyaan Anda.
  • Berikan anak Anda pujian ketika dia berhasil mengeluarkan sebuah kosa kata dari mulutnya. Hal itu akan membuatnya merasa dihargai meski hanya mengatakan “ba”, dan selanjutnya dia akan lebih berusaha lagi untuk bisa mengeluarkan banyak kosa kata.
  • Cari tahu seberapa jauh orang lain mengerti apa yang anak Anda katakan, dengan begitu Anda bisa mengukur sudah sejauh mana kemajuannya dalam berbicara. Anda juga bisa merencanakan hal-hal apa lagi yang masih perlu dilakukan untuk menstimulasi kemampuannya dalam berbicara.
Tetap tenang dan selalu optimis ya dalam menstimulasi buah hati Anda mengembangkan kemampuan bicaranya. Semoga bermanfaat!

Sumber : informasitips.com


Artikel lainnya:

Anak sulit belajar matematika? Coba tips ini!

Bagi sebagian besar anak kecil, matematika adalah pelajaran yang mengerikan. Alhasil, banyak anak kecil menghindari untuk belajar mata pelajaran tersebut. Nah, tugas orang tua adalah membuat pelajaran matematika jadi topik menarik dan menyenangkan bagi anak-anak. Caranya? Berikut adalah beberapa tips bagi orangtua untuk membuat matematika menarik untuk anak.

1. Membuat matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan
Anak-anak menyukai suasana belajar yang interaktif dan penuh warna. Oleh karena itu, para orang tua bisa mengajarkan matematika dengan membuat permainan untuk anak. Setelah anak mengalami beberapa kemajuan dalam pelajaran, Anda dapat menaikkan tingkat kesulitannya. Ini adalah langkah menuju belajar mandiri dan aktif.

2. Meningkatkan kepercayaan diri anak
Angka dan rumus membuat anak tidak menyukai matematika. Akibatnya, anak menjadi malas belajar dan mendapat nilai yang buruk. Orang tua memiliki peranan besar untuk membangun tingkat kepercayaan diri anak-anak mereka. Orangtua perlu memastikan bahwa mereka dapat mendorong anak untuk menyelesaikan tugas matematika sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Setelah kepercayaan diri anak meningkat, dia akan dapat memecahkan pertanyaan-pertanyaan sulit dalam pelajaran tersebut.

3. Mengembangkan motivasi anak
Metode ini tentu telah dipraktikkan di sekolah. Namun,mengembangkan motivasi anak tidak hanya perlu dilakukan di sekolah, tetapi juga di rumah. Oleh karena itu, cobalah menanamkan metode ini untuk meningkatkan kualitas belajar anak, terutama untuk pelajaran matematika. Orang tua harus memastikan bahwa mereka ikut memotivasi anak dengan memberi dorongan semangat dan membimbing mereka di rumah.

4. Fakta menarik tentang matematika
Anak-anak selalu tertarik untuk mempelajari sesuatu yang baru. Jadi, saat mengajarkan mereka konsep-konsep baru, pastikan Anda berbicara tentang latar belakang konsep atau teori-teori tersebut. Hal ini membuat mereka lebih terlibat dalam pelajaran yang Anda ajarkan. Belilah buku-buku tentang matematika dan beberapa informasi tentang penemu teori tertentu dalam rumusan matematika untuk anak-anak Anda. Ini akan membuat mereka jadi lebih penasaran.

Tips ini akan berguna untuk para orang tua dan memudahkan mereka dalam membimbing anak di rumah. Percayalah, semua anak dilahirkan pintar, hanya bagaimana cara orang tua membentuk kepribadian anak itu sendiri.
[Destriyana]


Artikel lainnya:

Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak

Dalam berbagai kesempatan, saya sering menyampaikan pendapat saya bahwa saya tidak setuju dengan sistem ranking di kelas untuk SD sampai SMU. Makanya anak saya sekolah sekarang di SD yang tidak mengenal sistem ranking. Banyak yang bertanya-tanya dengan sikap atau pandangan saya ini. Entahlah, apakah saya bertentangan dengan mainstream pemikiran yang ada, atau bagaimana, tetapi tentunya saya bersikap demikian bukan tanpa argumen.

Argumennya begini, jika di dalam kelas tersebut ada 4 orang anak, yang satu jago matematika dan fisika sehingga mewakili sekolahnya untuk lomba matematika dan fisika, yang satu jago bikin puisi atau prosa sehingga karyanya banyak dimuat di majalah atau media lainnya, sementara yang satu lagi jago main musik sehingga sudah manggung berkali-kali dalam festival band antar sekolah dan bahkan sudah rekaman walaupun underground, dan yang terakhir jago olah raga, katakanlah bulutangkis, sehingga sudah mewakili sekolah dalam berbagai turnamen dan masuk seleksi atlet berbakat.

Nah, siapakah yang pantas jadi juara kelas dari ke-4 anak di atas ? Bingung 'kan?

Keempat anak di atas pantas jadi juara, di bidang masing-masing. Kita tidak bisa membandingkan mana yang lebih hebat diantara mereka. Mereka tidak bisa dibandingkan, karena bukan apple to apple. Masing-masing mereka memiliki keunggulan kecerdasan.

Jika kita mendalami teori multiple intelligence yang diungkapkan oleh Howard Gardner, maka kita akan memahami bahwa ada beberapa potensi kecerdasan yang terdapat di dalam diri seseorang. yaitu : Bodily-Kinesthetic, Interpersonal, Verbal-Linguistic, Logical-Mathematical, Naturalistic, Intrapersonal, Visual-Spatial, serta Musical. Perkembangan terakhir dari riset Howard Gardner menunjukkan ada kecerdasan lainnya, yaitu : existential, serta moral intelligence.

Pada prinsipnya setiap manusia memiliki kecerdasan yang berkembang, yang pasti tidak sama kadarnya. Bisa jadi ada satu yang sangat dominan, bisa jadi ada beberapa yang dominan, tetapi dalam kadar yang lebih rendah. Jika ternyata kecerdasan yang berkembang dominan pada si anak adalah kecerdasan verbal, dan dia agak kurang di logika-matematika, lalu anda paksakan dia belajar IPA supaya masuk fakultas teknik, padahal si anak ingin masuk fakultas sastra atau ilmu budaya, maka tentu akan terjadi "tabrakan kepentingan" di sini. Anda bisa sewot sama si anak, dan si anak bisa stress. Artinya, pendidikan yang ideal sifatnya harus personal, mengeksploitasi kecerdasan si anak dengan sebaik-baiknya, memfasilitasinya dengan terarah, mengarahkannya, dan tentu saja memberikan dia skill untuk kehidupan.

Jika memang dia lemah dalam belajar matematika, maka bimbinglah dengan perlahan-lahan, jangan sekali-kali membandingkan dia dengan temannya, karena bisa jadi, dia sebenarnya kuat dalam kecerdasan visual, bukan matematika. Bukan berarti kalau dia kuat di kecerdasan visual lalu tidak perlu belajar matematika, bukan begitu. Tetapi kita harus lebih sabar dan telaten dalam membimbingnya dalam matematika, tetapi bisa jadi dia hanya butuh bimbingan yang minimal untuk kecerdasan visual, seperti seni rupa, melukis, atau bahkan desain.

Juga bukan berarti anak yang kuat kecerdasan logika-matematika tidak perlu belajar bahasa. Tetap perlu, tetapi sekali lagi, tentu kita membimbingnya lebih telaten dan sabar dibanding anak yang memang lebih cerdas verbal. Sistem pendidikan yang berlaku saat ini secara umum (tidak berarti semua lho), menempatkan kecerdasan logika-matematika sebagai acuan utama untuk menilai "seseorang itu cerdas".

Dengan demikian, sahabat saya, seorang sutradara film terkenal dan salah satu film-nya mendapatkan pujian luar biasa, tidak termasuk ke dalam kategori "cerdas" di SMA dulu. Sistem yang ada membuat dia tidak termasuk ke dalam kategori "cerdas". Dia memang tidak jago matematika, tetapi dia memiliki kecerdasan tersendiri, yang tidak diakomodasi sebagai suatu kecerdasan oleh sistem yang berlaku saat itu.

Saya yakin, banyak anak-anak yang sebenarnya cerdas (di bidangnya tentunya) tetapi tidak muncul atau tidak terfasilitasi dengan baik, karena sistem yang ada tidak membuat dia masuk kategori cerdas. Bukankah Tuhan itu menciptakan semua manusia itu cerdas ? (kecuali yang memiliki kelainan sejak lahir). Menurut saya, yang paling gawat adalah, karena kita tidak memahami makna kecerdasan ini, maka akhirnya kita tidak mamfasilitasi suatu potensi kecerdasan seorang anak, dan akibatnya hanya tetap tersimpan sebagai potensi, tidak terasah.

Jika kondisi ini terjadi, maka alangkah "berdosanya" kita sebagai guru atau orang tua, karena justru "mematikan" suatu potensi kecerdasan yang dahsyat .... Buat saya, karena anak itu memiliki kecerdasan tersendiri, maka tugas kita sebagai orang tua adalah mengarahkan dan memfasilitasi semampunya, dan jangan sekali-kali memaksakan sesuatu.

Kita harus memahami kelebihan dan kekurangannya, dan menyesuaikan strategi kita dalam membimbingnya ... itulah tugas kita sebagai orang tua .... mulai dari memahami si anak itu sendiri ... :) .

ngerumpi.com



Artikel yang berhubungan:

Melatih Motorik Halus

Kegiatan motorik halus sebaiknya sudah diperkenalkan kepada anak-anak usia prasekolah. Tentu saja hal ini seiring dengan kegiatan motorik kasarnya. Mengapa hal ini perlu dilakukan? Sebab kegiatan motorik halus merupakan langkah awal bagi pematangan dalam hal menulis dan menggambar.

Anak-anak memerlukan persiapan yang matang sebelum mereka bersekolah, sehingga kelak diharapkan mereka mampu menguasai gerakan-gerakan yang akan dilakukan nantinya pada saat bersekolah.

Sudah menjadi ciri khas, hampir semua anak memiliki sifat ingin tahu yang tinggi, memiliki imajinasi yang alami, serta kreatif. Anak-anak akan beradaptasi dan merespon dengan cepat ketika mereka berinteraksi dengan orang-orang atau benda yang ada dilingkungannya. Mereka sangat tertarik dengan berbagai hal, seperti bagaimana sesuatu bekerja atau mengapa sesuatu terjadi sebagaimana sesuatu itu terjadi.

Definisi
Apa sebetulnya yang dimaksud dengan keterampilan motorik halus? Keterampilan motorik halus (fine motor skills) adalah aktivitas-aktivitas yang memerlukan pemakaian otot-otot kecil pada tangan. Aktivitas ini termasuk memegang benda kecil seperti manik-manik, butiran kalung, memegang sendok, memegang pencil dengan benar, menggunting, nelipat kertas, mengikat tali sepatu, mengancing, dan menarik ritsleting. Aktivitas tersebut terlihat mudah namun memerlukan latihan dan bimbingan agar anak dapat melakukannya secara baik dan benar.

Keterampilan Motorik Halus
Keterampilan motorik halus ternyata memang harus melalui proses latihan yang rutin, berkelanjutan dan tepat sasaran. Hal ini bisa dibuktikan karena tidak semua anak pandai menggerakkan tangannya, misalnya ada seorang anak yang kesulitan ketika ia akan memegang sebuah bola pimpong, bola tersebut selalu lepas ketika akan diraihnya, tetapi ada anak lainnya dengan begitu mudah memegangnya.

Mengapa ada anak yang mengalami kesulitan dalam keterampilan motorik halus? Hal ini juga diakibatkan karena pesatnya kemajuan teknologi. Adanya permainan melalui video games atau komputer telah menyebabkan anak-anak kurang menggunakan waktu mereka untuk permainan yang memakai motorik halus. Tentu saja hal ini dapat menyebabkan berkembangnya otot-otot halus pada tangan mereka kurang berkembang. Keterlambatan perkembangan otot-otot ini berdampak pada anak yang mengalami kesulitan menulis ketika mereka mulai masuk sekolah. Beberapa anak menunjukkan keterlambatan dalam kemampuan motorik halus karena keterlambatan tumbuh kembang atau diagnosa medik seperti down syndrome atau cerebral palsy (cacat mental).

Cara Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak
Melatih anak dengan berbagai kegiatan yang positif seperti menggambar dan mewarnai merupakan salah satu cara meningkatkan keterampilan motorik mereka. Beberapa keterampilan tangan yang penting bagi anak untuk dikembangkan adalah :
  1. Mampu melengkungkan telapak tangan membentuk cekungan (palmar arching)
  2. Menggunakan jari telunjuk dan jempol untuk memegang suatu benda, sambil menggunakan jari tengah dan jari manis untuk kesetabilan tangan mereka (hand side separation).
  3. Membuat bentuk lengkung dengan jempol dan telunjuk (open web space)

Aktivitas-aktivitas untuk Mengembangkan Keterampilan Motorik Halus Anak

Vertical Surfaces (permukaan vertikal)
Melalui latihan pada permukaan vertikal akan membantu mengembangkan otot-otot kecil pada tangan dan pergelangan, sekaligus otot-otot yang lebih besar (motorik kasar) pada lengan dan punggung. Otot-otot yang besar diperlukan untuk membantu kestabilan sementara melakukan tugas motorik halus. Menggambar dan mewarnai pada papan tulis atau sepotong kertas yang ditempel di dinding adalah cara yang paling mudah untuk menggunakan permukaan vertikal. Aktivitas lain misalnya menggambar dan bermain dengan odol/krim cukur pada ubin di kamar mandi pada saat mandi, ‘menggambar’ pagar rumah dengan air dan kuas, atau mencopot dan memasang magnet pada kulkas.

Merobek dan Meremas
Melalui latihan merobek dan meremas kertas dapat membantu mengembangkan otot halus pada tangan, yang juga digunakan untuk menulis. Buatlah anak merobek kertas koran atau kertas bekas dengan jari-jarinya dan meremasnya menjadi bola-bola untuk membuat prakarya (misalnya orang-orangan, boneka beruang), atau sekedar melemparnya masuk ke dalam kaleng sampah. Setelah mereka bisa membuatnya, perintahkan mereka untuk meremas kertas hanya dengan satu tangan. Terakhir, buatlah anak meremas kertas tisu menjadi bola kecil hanya dengan menggunakan ujung jari. Tempelkan bola-bola tisu ini pada papan untuk membuat suatu gambar.

Anda bisa juga melakukan dengan permainan yang berbeda, misalnya suruh anak-anak tersebut merobek kertas berwarna atau kertas tisu, lalu minta mereka menempelkan potongan kertas tersebut menggunakan lem pada berbagai material untuk membuat gambar mosaik (gambar yang terbentuk dari potongan-potongan kertas berwarna-warni).

Menggambar dan Mewarnai
Sering kali terjadi anak-anak diminta untuk menggunakan pensil, krayon, dan marker padahal tangan mereka belum siap menggunakan alat-alat tulis tersebut. Tentu saja hal ini bisa menyebabkan pembelajaran memegang pensil dengan cara yang tidak efisien, yang pada akhirnya menjadi masalah.

Agar anak-anak bersemangat belajar memegang alat tersebut dengan benar, berilah mereka alat-alat tulis yang bisa membantu perkembangan keterampilan motorik halus. Misalnya, crayon yang pendek (tidak lebih dari 5 cm panjangnya), akan membuat anak menggunakan keterampilan tangannya dari pada seluruh tangan. Kapur tulis berbentuk bulat telur akan membuat anak menggunakan teknik open web space (lihat di atas). Terakhir, menggambar dan mewarnai pada permukaan vertikal akan menempatkan pergelangan tangan pada sudut yang tepat untuk membentuk palmar arching.

Kecerdasan Kinestetik Kerap Diremehkan

Sabtu merupakan hari yang dinantikan Sheva (7 tahun). Ayah ibu telah menjadwalkan Sabtu sebagai hari olahraga keluarga. Sheva bersama adiknya, Dira (4), diajak lari-lari keliling stadion Senayan. Setelah itu, ayah mengajak Sheva bermain bola. Dira bersama ibu naik sepeda di sekitar lapangan.Kegemaran Sheva berolahraga tampak pula di sekolah. Selain jago basket dan sepak bola, beberapa kali ia meraih juara atletik mewakili sekolahnya. Beberapa bulan lalu, ia ingin masuk les sepak bola anak-anak. Tapi, Diana, ibu Sheva, menggelengkan kepala.

Alasannya, olahraga sekadar hobi, tak perlu pendalaman. Lebih baik Sheva mengikuti les pelajaran, membenahi prestasi akademisnya yang jeblok. ''Saya ingin Sheva kuliah di ekonomi supaya sukses secara finansial, bukan menjadi atlet yang masa masa depannya belum jelas," kata Diana.Benarkah anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik (kinestetik, red) tidak memiliki masa depan yang cerah?

Terkendali dan bertujuan
Menurut Prof Howard Gardner, setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda dengan kadar pengembangan yang berbeda pula. Psikolog dari Harvard University ini mengembangkan model multiple intelligences. Ia membagi kecerdasan menjadi delapan macam kecerdasan, di antaranya kinestetik, yaitu kecerdasan fisik.

Kecerdasan kinestetik sejajar dengan tujuh kecerdasan lain, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logik matematik, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Apa maksud kecerdasan fisik atau kinestetik itu? Kecerdasan fisik (kinestetik.red) yaitu kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, kekuatan, keterampilan dan mengekspresikan dirinya terkait dengan olah tubuh. Anak-anak kinestetik ini menyukai hal-hal berkaitan dengan gerak, seperti berolah raga, seni (pantomim, akting, koreografer), dan keterampilan tangan.

Tipe kinestetik anak, katanya, sudah bisa terlihat sejak usia empat tahun. Anak tersebut senang bergerak. Saat masuk ke bangku sekolah, gelagatnya lebih nyata. Anak kinestetik menyukai olahraga, lebih memilih ekstrakurikuler olahraga dibandingkan sains. Maksud bergerak di sini tentu saja bergerak yang masih terkendali, teratur, bukan gerakan asal-asalan dan tak bertujuan.

Keunggulan anak kinestetik, sangat cepat menghafal berkaitan dengan gerakan dan urutan. Menari, misalnya, membutuhkan gerakan yang berurutan, tidak asal gerak. Begitu pula olahraga. "Anak-anak termasuk kinestetik terlihat ketika menari sangat luwes, terampil, tidak kaku. Olahraga pun begitu, semangat, lincah, menguasai, dan lebih unggul dibandingkan yang lain."

Sayangnya, kelebihan anak kinestetik ini sering kali dibenamkan oleh orang tuanya. Banyak kalangan, termasuk orang tua menganggap, kecerdasan fisik urutan nomor sekian dibandingkan prestasi sekolah (akademik, red). Mahir di bidang olahraga atau seni tidak menjamin kehidupan yang layak. Makanya, banyak orang tua lebih bangga anaknya sukses di bidang sains dan bahasa dibandingkan bidang olahraga atau seni. Akibatnya anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik merasa kurang dihargai.

Selain itu, telanjur ada anggapan anak yang memiliki kecerdasan fisik pasti lemah di bidang akademik. "Anggapan itu tidak bisa dibenarkan." Sebab, kata dia, banyak juga anak yang memiliki kecerdasan fisik, mendapat nilai bagus pula pelajaran lainnya. Ini semua tergantung dari gaya belajar yang ditanamkan orang tua.

Mengaitkan gaya belajar
Kelebihan anak-anak kinestetik lebih cepat menghafal dengan olah tubuh. Karena itu, gaya belajar anak kinestetik harus dikaitkan dengan gerakan atau olah tubuh. Misalkan, bagaimana proses hujan turun, anak kinestetik jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan pasti cepat dicerna. Bisa juga tentang gaya tarik bumi dengan menjatuhkan bola basket dan contoh lainnya. Semua itu membutuhkan kreativitas dari orang tua.

Ada kelemahan dari anak kinestetik, yaitu cenderung tidak bisa diam dalam jangka waktu lama. "Maunya bergerak terus,". Namun, ia menyarankan orang tua agar tidak khawatir karena seiring perkembangan usianya, anak kinestetik bisa lebih tenang. Sebab, kinestetik ini bukan gangguan atau kekurangan dari seseorang melainkan salah satu cara kemampuan mengekpresikan diri.

Yang perlu diketahui, semua orang mempunyai kecerdasan kinestetik dengan level yang berbeda. Ada yang lebih dominan, tapi ada juga yang kecerdasan fisiknya tidak unggul dibandingkan kecerdasan lain.Jika anak Anda termasuk golongan kinestetik, berikan dukungan kepadanya. Orangtua juga dapat melengkapi kelebihan lain dikaitkan dengan kecerdasan fisik.


Info Kecerdasan Kinestetik

Mengidentifikasi kecerdasan kinestetik
Anak suka aktivitas yang melibatkan motorik halus dan kasar.

Kecerdasan kinestetik dan otak
Area kecerdasan kinestetik terletak pada cerebellum dan thalamus,ganglion utama dan bagian otak yang lain. Korteks motor otak mengendalikan gerakan tubuh. Orang-orang dengan kecerdasan ini menunjukkan keterampilan menggunakan jari atau motorik halus.

Perilaku kinestetik
Gemar mengulik, mencari tahu bagaimana cara kerja sesuatu. Tak memerlukan penjelasan orang lain atau membaca manual.

Kreativitas
Kecerdasan ini melahirkan olahragawan, ilmuwan, penulis, artis, musisi, penari, dan tenaga kreatif lain yang memungkinkan otak dan tangan mereka bergerak tanpa mengikuti format baku.

Reaksi masyarakat
Masyarakat kerap menganggap kinestetika sebagai hiperaktivitas ketimbang suatu kecerdasan. Akibatnya, kecerdasan ini jarang dihargai.

Melemahkan
Orang tua dan guru sering membatasi anak. Anak kreatif yang cerdas fisik membutuhkan kebebasan tanpa selalu mengikuti pola yang sudah dirancang. dirjournal.com


7 Cara Kembangkan Potensi Anak Kinestetik
  • Libatkan anak dalam kegiatan menarik, drama, olahraga.
  • Sediakan beragam permainan kreatif -lilin malam, tanah liat, blok-- untuk percobaannya.
  • Berjalan, melompat mendaki, main boling, tenis, atau bersepeda bersama.
  • Nikmati permainan seluncur, ayunan, dan kendara.
  • Berikan tugas seperti menyapu, menata meja makan, mengosongkan tempat sampah, membantu memasak, dan berkebun.
  • Libatkan dalam permainan fisik yang bersifat sosial seperti petak umpet, menebak kata dari gerakan tubuh.
  • Bermain menggunakan tubuh untuk mengekspresikan emosi seperti melompat-lompat bila gembira, mengerutkan kening bila marah.
Berbagai sumber.


Artikel yang berhubungan:
Olah Fisik Yang Tepat Untuk Si Kecil
Pentingnya Olahraga Sebagai Stimulasi Motorik Anak
9 Manfaat Bermain Bagi Anak

Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak

Mind Mapping – Teknik Mencatat Kreatif

Mind mapping, disebut pemetaan pikiran atau peta pikiran, adalah salah satu cara mencatat materi pelajaran yang memudahkan siswa belajar. Mind mapping bisa juga dikategorikan sebagai teknik mencatat kreatif.

Dikategorikan ke dalam teknik kreatif karena pembuatan mind map ini membutuhkan pemanfaatan imajinasi dari si pembuatnya. Dengan semakin seringnya siswa membuat mind mapping, dia akan semakin kreatif.

Sebagai contoh adalah mind mapping seperti tampak di samping yang dibuat oleh seorang siswa kelas VI SD. Mata pelajaran yang dipilih adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Mind mapping tersebut dibuat sebagai persiapan belajar menghadapi ujian sekolah.

Dengan komposisi materi pelajaran yang seperti itu maka sangat tidak menguntungkan apabila siswa dibiarkan belajar tanpa strategi yang tepat, yang salah satu di antaranya dimulai dari teknik membuat catatan yang memudahkan belajar. Untuk menyegarkan ingatan, coba cek sebentar artikel tentang indera belajar siswa dan pengertian mengajar.

Ya, mind mapping ini memang bentuk catatan yang memudahkan belajar. Paling tidak, siswa tidak harus membolak-balik halaman buku ketika belajar melainkan cukup menghadapi sebuah kertas lebar, yang di dalamnya sudah tercakup seluruh materi pelajaran. Lebih menghemat waktu, bukan?

Selanjutnya, cara belajarnya pun lebih mudah. Berawal dari pusat (topik utama), siswa kemudian bergerak (pandangannya!) ke samping (kiri-kanan, atas-bawah) sesuai kebutuhan. Ini memudahkan upaya mengingat, karena sesuai dengan cara kerja otak.

Apalagi jika dalam membuat mind mapping itu siswa menggunakan warna yang berbeda untuk setiap pokok pikiran. Selain mind mapping-nya tampak indah (yang semakin menarik minat untuk membacanya) juga menjadikan belajar semakin menggairahkan. Daya tarik (minat) dan gairah ini bisa memperpanjang daya konsentrasi siswa, sekaligus menggugah kemampuan terbaik siswa untuk belajar. Alhasil, hasil belajar menjadi lebih baik.

www.gurusukses.com

Era Layar Bahayakan Mata & Jiwa Anak

Seiring dengan perkembangan zaman, anak-anak kini tumbuh dan berkembang di era layar. Anak-anak terbiasa di depan layar seperti layar TV, VCD, PS, Intenet dan HP. Para orang tua tidak menyadari dampak era layar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Anak belajar melalui 3 cara, yaitu secara visual, auditorial, dan kinestetik yang kemudian disebut sebagai modalitas. Mata merupakan komponen penting modalitas visual. Mata anak adalah jendela kecerdasan mereka. Mata yang sehat membuat setiap proses belajar anak semakin optimal.

Orang tua memiliki peran cukup besar dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Tuntutan ekonomi di zaman sekarang ini membuat orang tua harus bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Alhasil, waktu bersama anak-anak pun berkurang karena kesibukan bekerja.

Kini, kita memasuki era layar dimana anak semakin terbiasa di hadapan TV, internet, video games bahkan HP. Manfaatnya tentu agar anak tidak ketinggalan zaman dan dapat menggunakan teknologi yang terbaru.

Yayasan Pemerhati Media Anak (YPMA) pada tahun 2002 menemukan bahwa Anak-anak yang ditinggal bekerja atau tidak, memiliki kebiasaan menonton TV rata-rata 5-6 jam sehari atau 1560-1820 jam/tahun, padahal belajar di Sekolah Dasar hanya 1000 jam/tahun.

Ternyata TV bukan satu-satunya layar yang dilihat anak. Hasil penelitian YPMA menunjukkan bahwa anak-anak juga sering bermain Play Station selama rata-rata 10 jam/minggu. Belum lagi, waktu yang dihabiskan anak-anak di depan HP dan layar komputer untuk internet.

Dampak Era Layar Terhadap Anak

Teknologi era layar memiliki dampak terhadap seorang anak dalam mempengaruhi otak, mata, dan jiwa serta perilakunya. Orang tua harus mempertimbangkan dan memperhitungkan manfaat serta pengaruh teknologi era layar terhadap anak.

Salah satu dampak dari gelombang sinar yang dipancarkan oleh layar adalah suatu sifat addict dari si anak dalam menonton, hal ini dikemukaan dalam The Child Obesity Summit 2005 bahwa iklan TV merupakan kontributor utama obesitas pada anak-anak.

Dalam media edukasi yang diselenggarakan di Le Meridien Hotel, 28 November 2007 lalu, Elly Risman Musa, S. Psi, seorang psikolog anak dan Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati menuturkan, “Anak lebih membutuhkan bergerak, membaca, bermain lumpur dan membangun imajinasi anak. TV membuat anak duduk diam sehingga anak menjadi pasif.”

Penelitian yang dilakukan oleh University of Washington menunjukkan bahwa pemaparan TV yang dilakukan anak-anak di usia akan mempengaruhi perhatian anak-anak di kemudian hari.

dr. Hardiono D Pusponegoro, Sp.A (K) dokter spesialis anak konsultan bidang neurologi dari RSCM Jakarta mengutip sebuah penelitian dampak menonton TV pada anak-anak usia di bawah 3 tahun dan anak usia 3-5 tahun.

Dalam penelitian tersebut, anak di bawah 3 tahun melihat layar kaca rata-rata 2 jam sehari dan anak 3-5 tahun rata-rata 3 jam sehari. Setelah anak berusia 6-7 tahun dilakukan penilaian kembali. Penelitian tersebut menunjukkan, pada anak di bawah 3 tahun terjadi penurunan kemampuan membaca, membaca komprehensif dan penurunan memori. Sebaliknya pada anak usia 3-5 tahun, memiliki kemampuan membaca yang lebih baik.

Lebih lanjut, dr. Hardiono yang akrab disapa dr Yoni ini menambahkan,”dengan hanya menonton TV saja, otak kehilangan kesempatan mendapatkan stimulasi dan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif dan memecahkan masalah. Selain itu, TV bersifat satu arah, sehingga membuat anak kurang mengeksplorasikan dunia 3 dimensi dan kehilangan peluang mencapai tahapan perkembangan yang baik.

Ancaman Sinar Biru
Salah satu sinar yang dipancarkan perangkat teknologi layar adalah sinar biru. Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang cahaya 400-500 nm yang dapat berpotensi memicu terbentuknya radikal bebas dan menimbulkan luka fotokimia pada retina anak.

Sumber sinar biru yang paling dekat dengan anak-anak adalah pancaran sinar dari TV. Lensa anak masih peka dan belum dapat menyaring bahaya sinar biru. Karena itulah risiko terbesar kerusakan akibat sinar biru pada usia dini.

Lutein sebagai karotenoid alami dapat membantu melindungi mata anak yang masih peka dari bahaya sinar biru. Lutein dapat membantu melindungi mata dengan cara menyaring sinar biru dan juga berperan sebagai antioksidan dengan caa menetralisir radikal-radikal bebas.

“Tubuh tidak dapat mensintesa lutein, oleh karena itu kebutuhan lutein harus diambil dari sayuran, buah, suplemen dan terutama dalam ASI," ungkap dr. Yoni.

Lutein terdapat dalam sayuran hijau seperti bayam, brokoli dan kacang polong, jagung, kuning telur serta buah-buahan seperti kiwi dan melon.

Tugas Orang Tua
Orang tua harus mewaspadai bahaya sinar biru terhadap kesehatan mata dan kecerdasan anak di era layar ini. Selain dampaknya bagi kesehatan mata anak, juga disadari dampak terhadap petumbuhan fisik dan perkembangan jiwa anak, dimana perkembangan jiwa anak harus disiasati dengan berusaha mengenal anak lebih dekat dan memperbaiki komunikasi.

Orang tua juga harus dapat membatasi intensitas dan frekuensi anak beraktivitas di depan layar monitor (TV). Orang tua perlu untuk merangsang anak melakukan aktivitas lain seperti bermain dengan teman dan lingkungannya, berolahraga dan beraktivitas kreatif lainnya agar stimulasi untuk perkembangan otak anak semakin lengkap.

Untuk pertumbuhan fisik anak yang optimal terutama stimulasi otak dan mata mereka, orang tua dapat menyiasatinya dengan pemberian nutrisi yang cukup. Perlindungan terhadap bahaya sinar biru harus dilakukan sedini mungkin dengan salah satunya asupan lutein yang terdapat dalam susu.

redaksi@medicastore



Artikel yang Berhubungan:
Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget Pada Anak
Gadget Sebagai Jawaban Orang Tua Pada Anak
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Dampak Negatif Dari Kecanduan Teknologi
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik
Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonto Televisi

Belajarlah Dengan Cara Menyenangkan Glenn Doman

Karena balita senang belajar apa saja, ia pun akan senang belajar membaca. Belajar membaca pada bayi menstimulasi perkembangan visualisasinya. Perlu Ibu Bapak pahami bahwa yang diartikan belajar membaca pada bayi adalah menstimulasi indera visualisasinya. Bukankan sampai berusia 12 bulan, buah hati Anda hanya mengeluarkan bunyi-bunyian? Ketika Anda akan mengajari bayi Anda yang baru lahir membaca maka intinya adalah menstimulasi penglihatan atau visual stimulation.

Begitu lahir seorang bayi hanya bisa melihat terang dan gelap. Bayi yang baru lahir belum bisa melihat suatu bentuk. Dalam jam-jam pertama kehidupannya, dia mulai bisa melihat secara samar suatu bentuk dalam periode yang singkat. Pada masa ini orang tua sangat berperan untuk meningkatkan kemampuan penglihatan bayi dengan berbagai stimulasi. Semisal memperlihatkan benda-benda dengan warna-warni yang menyolok.

Untuk menstimulasi penglihatan ini, orang tua bisa memperlihatkan bentuk kata-kata pada bayi dengan huruf-huruf besar. Dengan stimulasi yang terus-menerus bayi Anda akan terstimulasi untuk mengembangkan kemampuan melihat secara detil. Kemampuan ini adalah hasil stimulasi dan kesempatan bukan masalah genetika.

Ketika Anda memperlihatkan karton yang berisikan kata-kata tunggal dengan huruf-huruf besar, Anda sebenarnya sedang menumbuhkan daya penglihatannya. Stimulasi visual memiliki banyak keuntungan, antara lain meningkatkan keingintahuan, konsentrasi, dan kemampuan memperhatikan objek tertentu.

ibudanbalita.com



Artikel lainnya:

Pentingnya Olahraga, Sebagai Stimulasi Motorik Anak

Anak-anak dengan kondisi yang bugar cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi tantangan fisik dan emosi. Biasakan anak untuk melakukan olahraga ketahanan diri, seperti berlari, melompat, bersepeda, dan berenang.

Sejak terkena demam tinggi cukup lama, Arvi sering dilarang orang tuanya bermain di luar rumah. Padahal sebelumnya, anak berumur 5 tahun ini terbilang aktif. Sering bermain sepeda, petak umpet, bulu tangkis atau sekedar bekejar-kejaran. Bahkan ketika anak lain sudah diminta pulang orang tuanya, karena matahari mulai bersinar terik, Arvi malah baru mulai menaikkan layangannya. Menjelang sore, saat teman-temannya masih tidur siang, dia sudah mulai lagi bermain layang-layang.

Lantaran itulah, orang tuanya mengatakan, Arvi mengalami demam tinggi. Dan untuk meredam keinginannya bermain-main di bawah terik sinar matahari, orang tuanya membelikan Playstation. Sejak itu Arvi jarang bermain-main di luar rumah. Bahkan ketika teman-temannya mengajak bermain, ia lebih suka “balapan” sendiri di depan layar televisi. Sudah enam bulan kebiasaannya itu berlangsung, dan bila sekali-kali bermain dengan teman-temannya Arvi sering limbung, bentuk tubuhnya pun semakin membulat.

Olahraga tidak hanya penting untuk orang dewasa, anak-anak pun perlu aktivitas fisik agar pertumbuhannya optimal. Anak yang berolahraga secara teratur dipercaya akan lebih sehat, gembira, juga dipercaya diri sehingga lebih mudah berteman, dan menyesuaikan diri. Melakukan olahraga sejak dini, menurut Dr. Tanya Tatiana M. Rotikan, SpKO, tidak hanya menjadikan anak tumbuh sehat dan kuat, tapi juga bisa mencegah obesitas pada anak. Secara alamiah, anak-anak memang kerap aktif bergerak.

“Bahkan ketika dilahirkan pun, dia sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya secara otomatis,” ujarnya. Oleh sebab itu, dokter spesialis olahraga dari KONI ini menyarankan para orangtua untuk melatih anak-anaknya berolahraga sejak dini. Menurutnya, kebiasaan berolahraga akan membantu si anak untuk mengembangkan kemampuan motoriknya.

Namun tak semua orang tua bisa dengan sukarela membebaskan anaknya melakukan kegiatan olahraga di luar rumah. Faktor keamanan sering menjadi alasan orang tua untuk melarang anak pergi keluar rumah. Sementara di dalam rumah tak ada ruang terbuka untuk anak berolahraga. Padahal, Tanya justru menganjurkan supaya anak-anak berolahraga di luar ruang. Apalagi ketika pagi atau sore hari. ”Saat pagi hari, matahari pagi sangat baik untuk pertumbuhan tulang si anak, karena matahari pagi membantu pembentukan vitamin D.” jelas Tanya.

Tingkatkan fleksibilitas dan kebugaran
Dengan berolahraga secara rutin, anak-anak akan memiliki kondisi tubuh yang bugar dan akan membantu untuk mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik. Anak-anak dengan kondisi yang bugar juga cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengatasi rintangan fisik dan emosi. Selain itu, tubuh bugar memperluas peluang anak untuk melalukan berbagai kegiatan fisik maupun non-fisik. Dengan melakukan olahraga rutin, menurut Tanya, kekuatan fisik juga akan meningkat.

Namun Tanya menegaskan bahwa jenis-jenis olahraga yang ditunjukkan untuk anak-anak sebaiknya tidak diarahkan untuk kekuatan motorik dan fisik. Sangat dianjurkan agar anak tidak melakukan program olahraga yang secara khusus ditunjukkan untuk menghasilkan otot-otot tubuh yang kuat, seperti push-up, pull-up, angkat beban, dan sebagainya. ”Dengan hanya memanjat atau melompat, anak juga akan mendapatkan manfaat yang kurang lebih sama dengan olahraga tersebut,” kata Tanya.

Tanya menyarankan agar olahraga yang dilakukan anak adalah olahraga yang dapat membantu meningkatkan fleksibilitas, dan membuat otot-otot sendi mudah bergerak secara penuh. Dari sekian banyak jenis olahraga, Tanya menganjurkan agar anak-anak dibiasakan untuk melakukan olahraga ketahanan diri, seperti berlari, melompat, bersepeda, hingga berenang. ”Jenis olahraga semacam itu merupakan olahraga wajib yang harus dikuasai oleh anak,” Tanya menegaskan. Menurutnya, jenis-jenis olahrga tersebut memiliki manfaat yang berbeda-beda. Namun intinya, merupakan langkah awal pembentukan fondasi untuk mendapatkan kebugaran fisik dan ketahanan otot-otot anak. ”Sehingga nantinya pertumbuhan fisik anak dan pun akan lebih baik,” jelasnya singkat.

Olahraga yang disukai
Mary L. Gavin, dokter spesialis anak di rumah sakit anak di Alfred l. Dupont, Amerika Serikat, menegaskan bahwa salah satu tugas perkembangan seorang anak adalah dengan bergerak aktif. Kegiatan tersebut akan menyenangkan, terutama jika anak memilih sendiri jenis olahraga yang disukainya. ”Tidak semua anak menyukai jenis olahraga yang umum, seperti sepakbola. Mungkin saja ada anak yang lebih tertarik pada olahraga beladiri. Orang tua sebaiknya membantu anak untuk melakukan olahraga yang disukainya secara teratur,” kata Galvin. ” Jadi orang tua hendaknya mencari cara agar anak-anaknya dapat selalu bergerak secara aktif,” tambahnya.

Tanya menekankan bahwa jenis olahraga dapat disesuaikan dengan kondisi keadaan si anak. Umumnya semua jenis olahraga memiliki manfaat tersendiri bagi anak-anak. Seperti ketika berlari misalnya, anak akan dilatih untuk melemaskan sendi-sendi otot yang digunakan untuk berlari. Terutama otot pada bagian kaki.

Dengan melakukan pergerakan seperti berjalan, melompat, dan berlari, anak akan berlatih menopang badannya, dan ini akan sangat baik untuk melatih keseimbangannya. Secara otomatis otot-ototnya pun akan ikut terbentuk, dan tulang juga akan bertambah padat. ”Selain itu, berlari juga akan berguna untuk paru dan jantungnya,” ujar Tanya.

Sedangkan berenang, memiliki manfaat lain yang juga bermanfaat untuk pertumbuhan anak-anak. ”Umumnya pada olahraga berenang yang dilatih ialah persendian di bagian punggung, dada, dan lengan atas,” jelasnya. Berenang merupakan salah satu olahraga yang paling sering dipilih orang tua dengan harapan dapat memacu tinggi badan anak. Harapan tersebut memang ada benarnya.

Berenang akan melatih semua otot-otot tubuh, sehingga dapat membantu untuk bertambah tinggi. ”Olahraga ini dapat memicu hormon-hormon pertumbuhan untuk bekerja lebih baik agar si kecil terus bertambah tinggi dan berkembang’” ungkap Tanya. Namun, dikatakannya berenang hanyalah salah satu dari sekian banyak aktivitas yang dapat dilakukan si kecil dengan manfaat yang sama. Artinya, olahraga apapun, umumnya akan membuat pertumbuhan anak berlangsung optimal.

Menurut Tanya, melakukan olahraga apapun jenisnya, hanyalah salah satu faktor pendukung dalam menempuh kondisi fisik yang sehat. Olahraga, tanpa dibarengi dengan asupan gizi yang baik, tidak akan banyak berpengaruh bagi seseorang. Terlebih lagi untuk anak-anak yang memang masih membutuhkan asupan gizi yang mendukung aktivitas yang dilakukannya sehari hari termasuk olahraga.

“Jika anak menerima asupan gizi yang baik dengan dibarengi dengan berolahraga yang teratur, itu sangat akan membantu perkembangan fisiknya. Tapi jika asupan gizinya kurang, meskipun ia berolahraga secara teratur, itu sangat akan tidak terlihat hasil dari olahraga itu,”jelasnya.

Olahraga dan Koordinasi
Alzena Masykouri, Mpsi, dari Cikal Sehat menambahkan, bahwa olahraga yang bersifat survival sport dapat membuat kemampuan motorik kasar anak meningkat, sehingga membuatnya lebih gesit dan sigap. Gerakannya menjadi lebih terkoordinasi dan itu membuatnya tampil penuh percaya diri. Dengan modal itu, ia akan mampu bersikap luwes dalam pergaulan.”Koordinasi gerakan yang baik akan membantunya menampilkan sikap perencanaan yang baik. Sehingga, ia makin terampil dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari yang ia hadapi,” jelasnya.

Namun dalam mendampingi anak-anak yang sedang berolahraga, dianjurkan agar orang tua memperhatikan faktor kemungkinan terjadinya dehidrasi pada anak. Tingkat dehidrasi pada anak, menurut Tanya, lebih besar ketimbang orang dewasa. Umumnya orang dewasa mengenali tanda-tanda terjadinya dehidrasi melalui munculnya rasa haus, namun bagi anak-anak, dehidrasi mungkin saja terjadi sebelum rasa haus itu datang.

Yang tak kalah penting menurut Alzena, dalam melakukan olahraga, apapun itu jenisnya, anak-anak perlu diberi pengertian bahwa tujuan utama olahraga bukanlah menang atau kalah. Yang lebih penting adalah bertambah tidaknya tingkat keterampilan. Dengan makin banyak berlatih, anak akan makin terampil melakukan kegiatan olahraganya.”Makanya, orang tua dan anak harus merasa nyaman dalam melakukan aktifitas olahraga sehingga anak dapat merasakan manfaatnya dalam melakukan kegiatan olahraga,”jelasnya.

Orang tua juga perlu menyadari pentingnya melakukan pemanasan dan pendinginan sebelum dan sesudah melakukan olahraga. Pemanasan berguna untuk mempersiapkan otot-otot yang akan digunakan untuk berolahraga, sedangkan pendinginan berfungsi untuk meregangkan otot-otot setelah melakukan olahraga. “Dengan melakukan pemanasan dan pendinginan, diharapkan akan terhindar dari cedera otot selama melakukan atau sesudah melakukan olahraga,”jelas Tanya. Alzena menambahkan, faktor moody juga harus diperhatikan oleh para orang tua. Pada anak-anak, moody memang kerap terjadi, apalagi ketika Ia merasa bosan dengan kegiatan olahraganya. Untuk itu Alzena menyarankan agar orang tua selalu berusaha agar dapat membuat anaknya merasa butuh untuk berolahraga dengan aktivitas yang disukainya.

Misalnya, ketika bersepeda bersama ayah, anak merasa senang karena ayah meluangkan waktu dan mendapat pengalaman yang seru karena menjelajah daerah pemukiman yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. ”Jika anak sedang merasa kesal, bisa jadi olahraga merupakan cara untuk melampiaskan kekesalannya dan kembali merasa nyaman,”ungkapnya.

Alzena pun yakin, olahraga sebenarnya dapat membuat kepercayaan diri anak menjadi lebih baik. Dengan memiliki salah satu keterampilan, seperti olahraga, anak akan memiliki modal untuk berinteraksi dengan teman sebayanya. ”Jika ia dapat menguasai satu atau lebih dari beberapa jenis olahraga, Ia akan semakain pede dalam bergaul,”katanya

Dalam melakukan olahraga, anak-anak perlu diberi pengertian bahwa tujuan utama berolahraga bukanlah menang atau kalah. Yang lebih penting adalah bertambahnya tingkat keterampilan.

Manfaat olahraga bagi anak-anak :
Memaksimalkan kemampuan motorik dasar. Menginjak usia 4-5 tahun, anak-anak sudah mengusai kecakapan motorik dasar, seperti berjalan, berlari, dan melompat, meski belum sempurna. Sehubungan dengan itu, balita butuh berolahraga demi memaksimalkan keterampilan motorik dasar tersebut. Tumbuh kembang yang sehat. Olahraga memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Dengan berolahraga secara teratur, kebugaran jantung dan paru-paru anak akan terjaga, postur dan keseimbangan tubuh menjadi bagus, dan otot maupun tulangnya menjadi kuat. Mencegah obesitas. Bukan hanya makanan yang sarat gula dan lemak, faktor lain seperti panjangnya jam sekolah, kurangnya fasilitas penunjang seperti taman bermainn di area perumahan, asik menonton tv, bermain dengan komputer dan Playstation, bisa memicu kegemukan aktivitas fisik yang rendah. Olahraga rutin bisa mencegah anak mengalami obesitas.

ibudanbalita.com



Artikel yang berhubungan:

Melatih Motorik Anak Sambil Bermain

BERMAIN merupakan seluruh aktivitas anak, termasuk bekerja, penyaluran hobi, dan merupakan cara mereka mengenal dunia. Lewat bermain terjadi stimulasi pertumbuhan otot-ototnya ketika anak melompat, melempar, atau berlari. Selain itu anak bermain dengan menggunakan seluruh emosi, perasaan, dan pikirannya.

Perkembangan Motorik Anak
Perkembangan motorik anak merupakan bagian dari tumbuh kembang anak yang dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yakni genetik dan lingkungan. Faktor genetik adalah faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa. Gangguan pertumbuhan di negara maju sering diakibatkan oleh faktor genetik, sedangkan di negara berkembang (termasuk Indonesia) selain faktor genetik juga faktor lingkungan yang kurang memadai untuk tumbuh kembang yang optimal.

Faktor lingkungan dibagi dua, pra-natal dan post-natal. Pra-natal (bayi masih dalam kandungan): gizi saat ibu hamil, trauma, cairan ketuban yang kering, posisi janin dalam kandungan, toksin/zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi intrauterin yang menyebabkan cacat bawaan yaitu TORCH, dll, stres saat ibu hamil, kelainan rhesus.

Post-natal (setelah dilahirkan): Masa antara usia kandungan 28 minggu hingga anak berusia 7 hari merupakan masa rawan dalam proses tumbuh kembang anak, khususnya tumbuh kembang otak. Trauma akibat persalinan akan berpengaruh besar dan dapat menyebabkan cacat permanen.

Pada bayi dan balita, perkembangan motorik tidak terlepas dari refleks-refleks yang terdapat pada bayi, yang sudah ada ketika bayi lahir dan lama kelamaan menghilang dan digantikan oleh refleks lain sesuai perkembangan susunan sarafnya. Dimulai dengan posisi 'apedal' (spinal level), di mana bayi hanya telentang saja, kemudian berkembang menjadi 'quadripedal' (righting reactions/midbrain level) dan akhirnya menjadi 'bipedal' (equilibrium reactions/cortical level).

Pemantapan dari reaksi keseimbangan ini akan menjadikan seorang individu menjadi manusia stadium 'bipedal' (posisi berdiri dengan kedua kakinya).

Bermain dengan anak haruslah dalam suasana yang menyenangkan. Bagi anak di bawah 5 tahun, Anda dapat melatih motorik sambil bermain. Lewat bermain ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh, antara lain:
  1. Membuang ekstra energi.
  2. Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang-tulang dan organ-organ.
  3. Aktivitas yang dilakukan dapat meningkatkan nafsu makan anak.
  4. Anak belajar mengontrol diri.
  5. Berkembangnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidunya.
  6. Meningkatkan daya kreativitas.
  7. Mendapatkan kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada di sekeliling anak.
  8. Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekhawatiran, iri hati dan kedukaan.
  9. Kesempatan untuk belajar bergaul dan bersosialisasi dengan anak lain.
  10. Kesempatan untuk menjadi pihak yang kalah atau menang di dalam bermain.
  11. Kesempatan untuk belajar mengikuti aturan-aturan.
  12. Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.
Pilih alat permainan yang bersifat edukatif, yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, sesuai dengan usianya dan tingkat perkembangan. Permainan edukatif adalah mainan yang dapat mendorong 4 aspek, antara lain:
  • Pengembangan aspek fisik.
  • Pengembangan bahasa.
  • Pengembangan aspek kognitif, pengenalan suara, ukuran, bentuk dan warna.
  • Pengembangan aspek sosial, dalam hubungannya dengan interaksi dengan ibu dan anak, keluarga serta masyarakat.
Dari berbagai macam alat permainan, berikut ini adalah contoh alat permainan yang dapat digunakan untuk melatih motorik kasar dan motorik halus.

Permainan untuk pertumbuhan fisik/motorik kasar:
• Sepeda roda tiga atau dua.
• Bola berwarna-warni.
• Mainan yang ditarik atau didorong.
• Tali, dll.

Permainan untuk memicu motorik halus:
• Gunting.
• Pensil.
• Bola.
• Balok.Lilin, dll

Nah, tunggu apa lagi. Saatnya mengajak si kecil bermain, Anda tak sabar melihat si kecil tertawa bukan?

anakku.net



Artikel lainnya:

Membuat Anak Suka Belajar

Sebagai orang tua tentu mengharapkan yang terbaik bagi putra putrinya. Berikut ini tips yang sangat menentukan dan efektif agar anak fokus/suka belajar:
  1. Suasana yang menyenangkan adalah syarat mutlak yang diperlukan agar anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.
  2. Membuat anak senang belajar adalah jauh lebih penting daripada menuntut anak mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.
  3. Kenali tipe dominan cara belajar anak, apakah tipe AUDITORY (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), VISUAL (melihat) ataukah KINESTHETIC (fisik). Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak nantinya akan membuat anak tidak mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga anak tidak berkembang dengan maksimal.
  4. Belajar dengan jeda waktu istirahat setiap 20 menit akan jauh lebih efektif daripada belajar langsung 1 jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.
  5. Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi sangat antusias dan semangat untuk belajar jika isi/materi yang dipelajari anak sesuai dengan perkembangan anak. Anak akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya anak akan menjadi stress dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit.

Prev home