Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Kecerdasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecerdasan. Tampilkan semua postingan

7 Cara Memotivasi Anak agar Gemar Belajar

Pemerintah mengatur bahwa anak-anak wajib mengenyam pendidikan formal, baik di sekolah swasta maupun sekolah negeri. Apapun jenis sekolah yang dipilih orangtua sebenarnya tidak selalu menjamin anak akan menikmati waktu belajarnya. Di sinilah tugas Anda untuk menumbuhkan rasa gemar belajar pada sang buah hati.

Rasa bosan dan jenuh belajar pada anak, bisa jadi disebabkan oleh karena proses belajar mengajar yang diterapkan di sekolah terasa kaku dan membebani. Maka dari itu, Anda sebagai orangtua perlu menerapkan kebiasaan dan acara belajar yang lebih santai serta menyenangkan, baik di rumah atau di luar rumah. Tujuannya agar si kecil bisa berkonsentrasi pada mata pelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Seperti dikutip dari Hello Beautiful, berikut tujuh memotivasi keinginan belajar anak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Membantu mempersiapkan kebutuhan sekolah si kecil
Masa awal bersekolah membuat si kecil bersemangat dengan aktivitas baru hariannya tersebut. Tak ayal, membuat mereka lupa untuk membenahi perlengkapan sekolahnya. Sebagai orangtua yang baik, bantulah anak untuk menyiapkan kebutuhan belajarnya di kelas, seperti merapikan buku, mengatur kotak pensil, melengkapi seragam sekolah, dan sepatu. Tujuannya agar pada pagi hari tidak ada keributan dan kerusuhan hanya karena buah hati tidak dapat menemukan topi sekolahnya untuk upacara.

Nah, untuk melatih rasa tanggung jawab dan kemandirian anak, libatkan si kecil saat Anda mempersiapkan kebutuhan sekolahnya. Agar di kemudian hari, mereka bisa melakukannya sendiri.

Jangan pelit memberikan pujian
Orangtua mana yang tidak menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka, tak terkecuali Anda. Namun, jangan menekan dan membebani anak untuk memberikan yang terbaik versi Anda. Saat nilai ujian si kecil di luar ekspektasi Anda, alih-alih memarahinya, berikanlah pujian. Rasa percaya diri pada anak berasal dari penilaian keluarga intinya pada mereka. Melihat reaksi orangtua yang positif akan menumbuhkan keinginan pada dirinya untuk memberikan yang lebih baik untuk Anda.

Memberikan pujian juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang berkesan dan membangkitkan harga diri anak.

Dukung kreativitas anak
Selain pendidikan formal, dukung anak untuk mengembangkan minatnya di bidang lain, seperti bermain musik, menggambar, menari, melatih kemampuan berbahasa internasional, dan sebagainya. Bangun kreativitas anak dan arahkan bakat mereka dengan cara yang layak dan edukatif. Sebab, anak yang kreatif biasanya memiliki jiwa empati dan daya tangkap otak yang lebih baik dibandingkan anak yang pintar hanya berlandaskan teori.

Terapkan demokrasi pada pola asuh anak
Apa yang menjadi minat anak? Biarkanlah mereka membicarakanya pada Anda, dampingi si kecil saat ingin mengeksplorasi talentanya tersebut. Latih anak untuk mengekpresikan keinginannya lewat cara berdiskusi dengan Anda.

Bila Anda merasa masih terlalu dini untuk si kecil beropini, maka Anda telah melakukan kekeliruan. Sebab anak yang terlatih untuk berdiskusi dan mengeluarkan pendapatnya sedari kecil, maka kelak mereka dewasa akan tumbuh sebagai seorang pemimpin yang bijak dan berpikiran terbuka.

Ciptakanlah suasana belajar yang menyenangkan dan santai
Proses belajar tidak harus berada di dalam kelas, bukan? Maka dari itu, tumbuhkanlah rasa ingin tahu yang tinggi dalam diri anak Anda. Biasakan mereka untuk berani bertanya saat tidak mengerti tentang sesuatu, biarkan dia mengeksplorasi dan mencerna jawaban yang Anda berikan sesuai dengan kemampuan berpikir yang mereka miliki.

Tumbuhkan kebiasaan membaca pada anak
Meskipun era teknologi menawarkan penyajian informasi dalam kemasan yang lebih praktis dan instan. Namun, jangan meniadakan kegiatan membaca dalam keluarga Anda. Sebaliknya, aturlah waktu membaca bersama di rumah. Anda dan suami membaca buku pilihan masing-masing, dan anak membaca buku sesuai usianya. Ingat, sebelum anak mengadaptasi kebiasaan dari lingkungan sosial, mereka meniru apa yang dilakukan oleh orangtua terlebih dulu. Maka dari itu, perlihatkan perilaku terpuji dan inspiratif saat bersama si kecil.

Komunikasi yang hangat tanpa beban
Setelah makan malam bersama keluarga, sebelum waktunya belajar, coba biasakan mengajak anak membicarakan soal kegiatannya selama di sekolah dan saat di rumah sewaktu Anda masih berada di kantor. Cara ini dapat membangun rasa percaya anak pada Anda, bahwa lain waktu mereka memiliki masalah, Anda akan menjadi orang pertama yang mereka ajak bicara!

Selamat mencoba!


KOMPAS.com| Penulis: Syafrina Syaaf | Editor: Syafrina Syaaf | Sumber: Hello Beautiful


Artikel lainnya:

Cara Sederhana Stimulasi Anak untuk Bicara

Perkembangan kemampuan berbicara pada diri setiap anak tidaklah sama. Ada anak yang perkembangan berbicaranya cepat, namun ada juga yang lambat dan membutuhkan stimulasi berulang-ulang agar dia mau bicara. Sebagai orang tua, tentunya kita menginginkan yang terbaik untuk anak tercinta. Kita, termasuk dalam perkembangan bicaranya. Dalam berbagai kasus sering ditemui anak yang belum pandai bicara dibanding dengan anak seumurnya, ada juga yang tidak menanggapi ketika diajak berbicara, kasus lain menunjukkan bahwa si anak tidak bicara namun mengerti apa yang dibicarakan orang lain. Kalau sudah begitu orang tua pasti merasa resah dan ingin agar buah hatinya segera mengeluarkan celotehnya. Nah, berikut ini beberapa cara sederhana untuk menstimulasi anak Anda untuk bicara:
  • Pengulangan. Semakin banyak anak Anda mendengar sebuah kata, semakin besar kemungkinan baginya untuk meniru kata tersebut. Jadi, banyak-banyaklah mengulang sebuah kata ketika Anda berbicara dengannya, misalnya ketika Anda ingin mengajaknya bermain bola, katakan kepadanya “Kamu ingin bermain bola?”, sambil Anda menggemgam bolanya dan meletakkannya di hadapan muka dia. Lalu katakan lagi, “Siap-siap ya, ini dia bolanya datang”, sambil Anda menggulirkan bola itu ke arahnya, kemudian katakan lagi “Ayo Sayang, tangkap bolanya!”. Nah, dalam waktu beberapa detik Anda telah mengulang kata “bola” sebanyak tiga kali, bukan? Semakin banyak dia mendengar kata itu, maka akan semakin besar kemungkinan dia untuk meniru dan akhirnya mengatakan kata “bola”. Anda bisa mencoba hal yang lain lagi, intinya di masa awal kehidupannya seorang anak memulai masa belajarnya dengan cara meniru dari orang-orang di sekitarnya, jadi perbanyaklah kesempatannya untuk bisa mendengar kata-kata baru di setiap waktunya.
  • Banyaklah berbicara pada Anak Anda. Katakan setiap hal kepadanya, misalkan di saat pagi, “Hari ini Kita sarapan bubur Ayam ya Sayang”. Di kesempatan lain, misalkan saat Anda dan dia menonton TV, ceritakan apa yang Anda dan dia sedang tonton, kemudian setelah itu ceritakan lagi apa yang baru saja kalian tonton. Kalau bisa, di sepanjang hari yang Anda lalui bersamanya isilah dengan perbincangan mengenai hal apapun yang kalian lalui bersama.
  • Bergantian dalam berbicara. Berbicaralah kepada buah hati Anda, lalu berikan dia waktu untuk gantian berbicara kepada Anda. Jika belum juga berhasil memancingnya berbicara, maka terus ulangi namun dengan situasi yang berbeda-beda, misalkan pada saat kalian bermain atau saat makan tiba.
  • Tatap mata Anak Anda saat berbicara padanya. Saat berbicara pada si buah hati, tataplah matanya sesering mungkin. Dari hal itu, dia akan belajar berbicara dari ekspresi wajah yang Anda tunjukkan. Untuk beberapa anak, hal itu mungkin akan banyak membantu dalam proses belajarnya berbicara.
  • Beri dia pilihan. Misalkan ketika Anda membelikan dia wafer atau keripik, berikan kesempatan kepadanya untuk memilih yang dia inginkan untuk dimakan sambil Anda menyodorkan kedua pilihan tersebut pada anak Anda. Tunjukkan padanya yang mana wafer dan yang mana keripik, terus stimulasi dia untuk bisa menentukan pilihannya.
  • Saat berbicara dengan anak, berikan dia waktu untuk bisa merespon apa yang Anda katakan. Berikan dia kesempatan untuk bisa mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, jika dia mau berusaha, Anda akan melihat usahanya untuk bisa mengatakan sesuatu meskipun yang Anda dengar hanya ocehan, mungkin saja itu sebuah kata darinya. Ingat selalu untuk mengulang-ulang stimulasi yang anda berikan.
  • Bacakan sebuah buku untuk anak Anda dimana ada satu atau dua gambar pada halamannya. Setelah itu, tanyakan kepadanya sebuah pertanyaan yang jawabannya bisa dijawab secara verbal atau dengan menunjuk sebuah gambar. Usahakan untuk tidak terlalu memberikan tekanan padanya untuk bisa menjawab pertanyaan Anda.
  • Berikan anak Anda pujian ketika dia berhasil mengeluarkan sebuah kosa kata dari mulutnya. Hal itu akan membuatnya merasa dihargai meski hanya mengatakan “ba”, dan selanjutnya dia akan lebih berusaha lagi untuk bisa mengeluarkan banyak kosa kata.
  • Cari tahu seberapa jauh orang lain mengerti apa yang anak Anda katakan, dengan begitu Anda bisa mengukur sudah sejauh mana kemajuannya dalam berbicara. Anda juga bisa merencanakan hal-hal apa lagi yang masih perlu dilakukan untuk menstimulasi kemampuannya dalam berbicara.
Tetap tenang dan selalu optimis ya dalam menstimulasi buah hati Anda mengembangkan kemampuan bicaranya. Semoga bermanfaat!

Sumber : informasitips.com


Artikel lainnya:

10 Tips Cara Melatih Anak Cerdas Emosi

1. Ajar anak mengubah tuntutan menjadi pilihan. Katakan padanya tidak ada alasan keinginannya harus selalu dipenuhi dan marah-marah. Beri anak pujian bila ia dapat mengendalikan kemarahannya.
2. Latih anak untuk menyatakan kebutuhan secara asertif (tegas), tetapi tidak ada jaminan ia akan mendapatkannya.
3. Biarkan anak mengungkapkan dan bertanggung jawab atas setiap perasaan yang dialaminya. Dengan begini ia juga bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Hindari menyalahkan anak saat Anda sendiri marah.
4. Dorong anak untuk mengembangkan hobi dan minatnya yang dapat memberinya waktu luang dan kemandirian.
5. Biarkan anak menyelesaikan sendiri pertikaian antara dia dengan saudara atau temannya.
6. Bantu anak bertoleransi terhadap gangguan orang lain. Ajarkan pula bagaimana menghindari gangguan, misalnya diolok-olok. Ajarkan anak membalas olok-olok dengan kata-kata yang baik,"Olok-olok enggak bikin sakit tuh."
7. Bantu anak untuk memperhatikan kekuatannya dengan menekankan hal-hal yang dapat ia lakukan.
8. Dorong anak berperilaku seperti yang ia ingin orang lain lakukan terhadap dirinya.
9. Bantu anak berpikir alternatif serta melihat berbagai kemungkinan ketimbang bergantung pada satu pilihan. Misalnya, anak hanya punya seorang teman. Saat temannya itu tidak ada, ajarkan anak mencari teman lain, jangan hanya merasa ia tak punya teman.

Tertawa Bersama
Doronglah anak dapat mentertawakan dirinya sendiri. Orang yang terlalu serius terhadap dirinya sendiri sulit menikmati hidup. Sense of humor yang baik dan kemampuan melihat sisi terang kehidupan, penting untuk meningkatkan kegembiraan.

Menurut Jhon Gottman, ph ada 5 langkah penting bagi orang tua dalam melatih emosi anak.

1. Menyadari emosi anak : Ketika anak menangis, marah, senang, orang tua perlu menyadari bahwa anak juga memiliki perasaan untuk di sayang, diakui, tidak baik bagi orang tua misalkan memarahi anak pada saat anak menangis, hendaknya orang tua mengetahui apa yang sedang di alami oleh si kecil.
2. Mengakui emosi anak : Terkadang orang tua egois, tidak mau tahu mengenai keinginan anak, orang tua lebih peduli pada apa yang ada di pikirannya, sehingga tidak mengakui kalau anak sedang marah, senang.
3. Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak : Hal yang paling berbahaya bagi orang tua adalah pada saat orang tua tidak mau mendengar atau tidak mau tahu mengenai masalah yang dihadapi oleh anak, orang tua cenderung memarahi tanpa memiliki empati terhadap anak, apalagi memberikan dukungan / support dengan kata-kata yang dapat meneguhkan emosi anak.
4. Membantu anak melabeli emosi : Penting bagi orang tua adalah membantu untuk melabeli emosi, hal ini agar emosi anak dapat di curahkan/ ditempatkan pada tempat yang tepat, anak diajarkan untuk mengatur control emosinya.
5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah : Yang tidak kalah penting sebagai orang tua adalah, membantu anak dalam memecahkan masalahnya, namun bukan berarti semua masalah si anak di selesaikan tanpa melibatkan anak tersebut, karena jika tanpa melibatkan anak, maka hal itu akan memberikan pengaruh pada saat anak dewasa nanti tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya.

Artikel lainnya:

Aktivitas Yang Membuat Buah Hati Menjadi Cerdas

Sekarang ini banyak sekali anak-anak yang senang bermain game online, mereka kerap sering mencari warnet (warung internet) dengan layanan jaringan yang baik. Lantas apa sebagai orang tua kalian mengijinkan anak-anak kalian untuk bermain game online terutama apabila anak kalian masih sangat kecil.

Nah, sebagai orang tua yang bijak pasti menginginkan agar buat hati kita menjadi anak yang cerdas dan pintar. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan untuk membuat anak-anak kita menjadi cerdas.

1. Membaca 20 menit setiap hari
Ajaklah anak kalian untuk membaca. Di usia 12 sampai 18 bulan anak akan banyak sekali menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Jadi akan sangat mungkin bagi anak kalian untuk mendengarkan apa yang kalian baca. Setidaknya ajaklah membaca selama 20 menit sehari. Sambil membacakan buku untuknya, tanyakan juga kepadanya gambar-gambar yang ada di buku tersebut.

2. Dengarkan musik
Bernyanyilah bersama anak kalian. Biaskan untuk mendengarkan musik saat sedang berada dirumah atau dimobil. Pilihlah musik yang tidak membosankan meskipun diputar secara terus menerus. Jika kalian bernyanyi, otomatis anak kalian akan ikut bernyanyi juga. Lama-lama anak kalian akan bernyanyi dengan sendiri meskipun tidak ada musik yang mengiringi.

3. Ajarkanlah tentang angka dan bentuk benda
Ajarkanlah kepada anak kalian tentang bentuk benda, warna dan juga angka seharian penuh.

4. Ajarkan juga nama-nama bagian tubuh
Selain itu ajarkan juga kepada anak kita tentang nama-nama bagian tubuhnya. Sambil mengenalkan bagian tubuhnya, tunjuklah bagian tubuh yang kalian maksud misalnya hidung, mata, kuping, kaki, tangan dan lain-lain.

5. Gunakanlah instruksi
Ketika sedang bermain berikanlah instruksi. Dengan demikian si anak akan mampu mengikuti instruksi dari orang tua dan juga akan merasa senang jika mampu melakukan apa yang di suruh. Salah satu instruksi sederhana adalah memintanya untuk menutup pintu atau mengambilkan bola.

6. Minta memilih mainan kesukaannya
Pergilah ke toko mainan anak-anak. Lalu gunakan buku katalog dan mintalah si anak untuk memilih mainan yang ia sukai di katalog tersebut. Setelah itu, ajak anak kalian untuk mencari mainan tersebut di rak mainan.

Demikianlah beberapa aktivitas yang bisa kalian ajarkan kepada buah hati kalian. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat.

kichuzzz.blogdetik.com


Artikel lainnya:

ASI Bantu Cetak Generasi Penerus Bangsa yang Cerdas

Air Susu Ibu (ASI) telah terbukti mempunyai keunggulan yang tak dapat digantikan oleh susu manapun, karena ASI mengandung zat gizi yang selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat.

Bahkan ketika bayi sakit pun kandungan gizi ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.

ASI adalah makanan yang terbaik di awal kehidupan seorang anak dan merupakan hak anak untuk kelangsungan hidup dan tumbuh kembang secara optimal.

Pemberian ASI memiliki banyak manfaat bukan hanya bagi bayi tapi juga bagi ibu khususnya yang berkaitan dengan pemulihan kesehatan, diantaranya mencegah pendarahan setelah melahirkan sehingga mengurangi kemungkinan anemia, menjarangkan/menunda kehamilan, serta mengurangi risiko terkena kanker rahim dan kanker payudara.

Pemberian ASI juga dapat mempererat jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi serta menimbulkan rasa aman dan kedekatan emosional yang kuat yang akan berdampak positif terhadap perkembangan psikologis dan mental anak kelak serta dapat membentuk perkembangan intelegensia, rohani dan perkembangan emosional yang baik.

Dalam dekapan ibu, bayi akan merasakan kehangatan dan perlindungan, begitu pula sebaliknya ibu menyusui akan merasakan puas dan bahagia karena dapat memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, dan sesungguhnya apabila dihayati bahwa dalam menyusui akan menumbuhkan kebahagiaan yang terwujud dalam bentuk kasih sayang murni.

Sentuhan kulit, detak jantung ibu yang telah lama dikenal bayi, akan meningkatkan cinta dan kasih sayang di antara mereka.

Kemesraan, berpadunya unsur fisik dan psikis antara ibu dan bayi akan semakin memperkuat ikatan.

Agar pemberian ASI seorang ibu dapat berjalan dengan lancar, maka diperlukan dukungan dan kerjasama yang baik dari Bapak/Suami dengan antara lain menjaga suasana batin dan harmonisasi keluarga yang akan berdampak pada produksi ASI.

Perhatian dan komitmen Bapak/Suami untuk mendukung isteri memberikan ASI pada bayinya merupakan bentuk kesetaraan gender di dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Seorang anak yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya akan tumbuh menjadi anak yang berpikiran positif, penuh percaya diri dan mandiri.

sehatnews.com

Artikel yang berhubungan:
Manfaat Asi Untuk Bayi dan Ibu
Tips Memperbanyak Asi
Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan
Tips Memilih Nama Bayi

Perlu Anda Ketahui:
Kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.
Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Gali Potensi Lewat Analisa Sidik Jari

Keinginan orang tua mencetak anak-anaknya menjadi bibit unggul semakin besar. Pertanyaan seputar cara memaksimalkan potensi anak-anak mereka atau tentang bagaimana cara melihat kecerdasan sejati serta bakat anaknya sedini mungkin kerap menghantui pikiran orang tua masa kini.
Kecerdasan sebenarnya merupakan konsep yang sangat rumit. Ada beberapa jenis kecerdasan, misalnya kecerdasan sosial, natural, musikal atau kecerdasan berbahasa yang tidak terukur oleh tes IQ saat ini. 

Beberapa dekade terakhir ini para ahli psikologi terus menyempurnakan tes untuk menganalisa kecerdasan dan kepribadian (psikometri). Contohnya adalah tes bakat minat, tes kepribadian, grafologi, tes gambar, dan sebagainya.

Menurut psikolog Efnie Indrianie, setiap tes tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. "Misalnya saja psikotes yang memakan waktu lama. Untuk anak yang punya masalah konsentrasi hasil tesnya bisa tidak optimal," paparnya dalam acara media edukasi mengenai Analisa Sidik Jari yang diadakan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Saat ini sudah tersedia tes untuk mengukur potensi anak, yang menggunakan metode pencitraan sidik jari untuk menganalisis bakat dan kecerdasan seseorang yang disebut fingerprint analysis.

Pada tahun 1965, para ahli sudah mengetahui bahwa pola sidik jari manusia sudah terbentuk sejak usia 13 minggu dalam kandungan. Pola guratan-guratan kulit pada sidik jari, dikenal sebagai garis epidermal, ternyata memiliki korelasi dengan sistem hormon pertumbuhan sel pada otak.

Teori-teori mengenai struktur otak yang diungkap para ahli beberapa dekade kemudian telah memberikan informasi yang dapat menjadikan interpretasi karakter dan potensi bakat seseorang secara genotif. Sidik jari bersifat permanen, unik, dan tidak akan pernah sama.

Analisa sidik jari bersifat obyektif tanpa dipengaruhi unsur kondisi fisik atau psikologis. "Hasilnya tidak berubah bila saat dites seorang anak sedang senang atau sedih," katanya.

Kendati demikian, analisa sidik jari ini tidak sama dengan psikotes atau alat ukur lainnya, fungsinya adalah sebagai pendukung. Lebih baik bila digunakan secara bersamaan dengan tes lain sehingga akan diperoleh data yang akurat.

Diharapkan dengan mengetahui bakat, karakter, juga gaya belajar anak, orang tua akan lebih mudah memberikan stimulasi dan pengarahan yang tepat untuk mengoptimalkan kecerdasan anak.

untuk janji temu pengambilan data sidik jari



Artikel yang berhubungan:
Uniknya Pola Sidik Jari Manusia
Sejarah Berkembangnya Ilmu Dermatoglyphics

Bahagia, Berkat Cerdas Intrapersonal dan Interpersonal

”Bunda, aku sayang sama Bunda…” kita pasti bahagia kalau si prasekolah menyatakan perasaannya seperti itu. Namun di lain waktu, mungkin dahi kita dibuat mengerut ketika dia bilang, “Papa, aku ingin punya pacar.” Ya ampun. Tapi lihatlah sisi baiknya: si kecil sangat pandai mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Hal ini menunjukkan kemampuannya memahami diri sendiri yang merupakan bentuk dari kecerdasan intrapersonal.

Seorang anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal akan mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya, suasana hatinya, temperamennya, keinginannya, dan motivasinya. Singkatnya, yang dimaksud kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut.

Namun tentu saja, tak baik hanya memikirkan diri sendiri, bukan? Jadi anak pun dituntut memahami orang lain. Kelak ia harus dapat membaca suasana hati, maksud, motivasi, perasaan, dan cara berpikir orang-orang di sekitarnya. Inilah yang dimaksud kecerdasan interpersonal. Kecerdasan ini ditunjukkan oleh kemampuan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain disertai keterampilan berkomunikasi yang juga baik karena anak harus dapat mengungkapkan pendapat, pikiran, dan perasaannya manakala dibutuhkan.


ANAK BERBUDI

Bila kemampuan personal tidak dipelajari, anak tak akan tahu dengan sendirinya mengenai etika, moral atau kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Akibatnya, dalam berinteraksi dengan lingkungan ia akan sering “membentur” sehingga orang mengeluhkan dirinya sebagai anak yang tak tahu aturan, tidak sopan, kurang ajar, dan label negatif lainnya. Bukankah itu sesuatu yang lebih menyakitkan baginya? Lagi pula, semakin sering diberi label, semakin tingkah lakunya itu akan menguat dan diulangnya kembali. Padahal, mungkin saja bukan maksud anak untuk membuat kesal orang lain. Contoh, ia punya suatu keinginan tetapi karena tak bisa menyampaikannya dengan baik, ia hanya bersungut-sungut. Orangtuanya tentu tidak mengerti keinginannya. Malah, mereka kesal dan marah melihat si anak bersungut-sungut. Bila anak membalas dan lantas menarik diri, akhirnya persoalan menjadi semakin kompleks. Nah, itu suatu gambaran dari kejadian kecil di dalam rumah. Bisa dibayangkan bagaimana bila anak berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah nantinya.

Itulah pentingnya kemampuan personal diajarkan dan dikembangkan sejak dini. Diharapkan anak bisa berhubungan atau berinteraksi secara efektif dan harmonis dengan lingkungannya. Sehingga anak bisa diterima lingkungan dengan baik dan membuatnya merasa aman serta menjadi anak yang happy. Selain itu, kemampuan personal akan menumbuhsuburkan nilai-nilai kebaikan universal pada diri anak. Diharapkan ia berkembang menjadi pribadi yang berwatak dan berbudi pekerti luhur; santun, saling hormat-menghormati, dan menghargai sesama. Kemampuan personal yang berkembang baik dapat mengembangkan pula kecerdasan spiritual anak. Ia akan mengerti bahwa dirinya sebagai manusia, hakikatnya adalah pencitraan dari kekuasaan Tuhan sebagai pencipta alam ini.


10 PRAKTIK KESEHARIAN

Dalam mengembangkan kecerdasan personal ada 10 komponen yang harus diberikan kepada anak dan dipraktikkan dalam keseharian.
  1. Komunikasi (Communicating)
    Anak belajar menyampaikan kebutuhan, keinginan, hambatan, harapan, pendapat, dan lainnya baik secara verbal maupun nonverbal. Untuk komunikasi verbal, caranya dengan sering memancing anak mengungkapkan pendapat mengenai berbagai hal. Sementara kemampuan komunikasi nonverbal bisa digali lewat bahasa tubuh dan ekspresi wajah atau lewat gambar. Contoh, orang tua menggambarkan beragam raut wajah yang menunjukkan emosi marah, senang dan sebagainya. Jelaskan hubungan wajah tersebut dengan emosi yang sedang dialami.

    Selain itu, anak juga diajarkan bagaimana bersikap yang baik bila ada tamu dan bagaimana memahami tatapan mata orang tua yang tidak membolehkan anak mengganggu pembicaraan, isyarat tangan orang tua yang menyuruhnya diam, dan sebagainya.

    Kesimpulannya, anak harus belajar mengembangkan kecerdasan personal yang tak lain adalah gabungan dari kecerdasan intrapersonal (self smart/cerdas diri) dan kecerdasan interpersonal (people smart/cerdas sosial). Untuk itu, kepedulian orang tua dan lingkungan sekitar terhadap kecerdasan personal mutlak diperlukan.

    Ketahuilah, konsep diri seorang anak berasal dari pengetahuan yang baik tentang dirinya secara positif. Baik itu mengenai moods, temperamen, motivasi, dan intensinya dalam suatu lingkungan. Tidak cukup sampai di situ, anak juga harus dapat mengutarakan pendapatnya, keinginannya, kebutuhannya, kekecewaannya, kejengkelannya, atau apa pun yang berkecamuk dalam dirinya. Supaya apa? Supaya ia bisa dipahami dan diterima secara baik oleh lingkungan. Penerimaan ini akan membuat dirinya menjadi lebih nyaman.

    Kemampuan personal harus diajarkan dan dikembangkan sejak usia dini, terlebih di usia prasekolah karena di masa ini pula kecerdasan emosinya tengah berkembang. Keduanya akan seiring sejalan karena kemampuan personal merupakan suatu keterampilan sosial yang berkaitan dengan ranah afektif dan emosi seperti masalah etika, motivasi, moral dan hati nurani. Semua “ilmu” mengenai hal tersebut akan digunakan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
  2. Hubungan dengan orang lain (Relating)
    Anak dikenalkan pada etika, nilai, dan kebiasaan yang berlaku pada masyarakatnya. Bahwa di dalamnya ada beragam suku dan beragam bangsa dengan adat kebiasaan dan tata krama berbeda.
  3. Kasih sayang (Loving)
    Anak diajarkan untuk memiliki rasa kasih sayang pada sesama seperti pada orang tua, teman, guru, dan orang lain. Juga terhadap makhluk hidup lainnya seperti tanaman dan binatang peliharaan. Contoh, hewan peliharaan harus diberi makan dan minum serta dibersihkan kandangnya. Kalau sakit tidak dibiarkan saja, tapi diobati atau diperiksakan ke dokter.
  4. Berbagi (Sharing)
    Anak perlu dibiasakan untuk mau berbagi. Ia harus tahu bahwa dalam hidup ia tidak sendirian, masih ada orang lain yang kondisinya bisa saja berbeda dan perlu dibantu. Ajari anak untuk tidak bersikap pelit lewat kerelaan berbagi bekal atau saling bertukar makanan di TK, dan cara lainnya.
  5. Kepemilikan (Belonging)
    Anak dikenalkan pada yang mana miliknya dan mana milik orang lain. Mintalah ia menjaga miliknya dan menghargai milik orang lain. Umpama, “Kamu diberi panca indra oleh Tuhan seperti mata dan telinga. Nah, kedua indra itu harus kamu jaga dengan baik. Maka itu gunakan mata untuk melihat yang baik-baik, gunakan telinga untuk mendengar hal yang baik-baik juga.” Atau misalnya, “Ini buku punya Amri. Kalau kamu pinjam harus dikembalikan dan dijaga baik-baik. Kalau tidak, nanti rusak. Amri akan sedih, lho. Kamu juga tidak mau kan, kalau barang milikmu tidak dikembalikan dan rusak?”
  6. Kepedulian atau perhatian (Caring)
    Di dalam komponen ini terkandung pula masalah empati, rasa sayang, dan lainnya. Anak diajarkan untuk peduli pada sesamanya. Contoh, bila ada temannya yang berulang tahun, ajari anak untuk mengucapkan selamat. Jika ada orang yang kurang mampu, ajari anak untuk membagi sebagian miliknya. Jika si prasekolah memiliki adik, mintalah ia untuk mengajaknya bermain, menjaga, dan menghiburnya bila menangis.
  7. Perasaan (Feeling)
    Anak diajarkan untuk mengenal beragam perasaan seperti sedih, senang, kesal, kecewa, takut dan lainnya. Tujuannya untuk belajar menghayati perasaan yang sama dengan yang dirasakan orang lain.
  8. Pemilihan (Choosing)
    Anak diajarkan untuk dapat memilih sesuatu yang benar-benar disukai secara asertif atau bukan karena tekanan atau ikut-ikutan orang lain. Orang tua pun harus dapat menghargai apa yang jadi pilihan si anak.
  9. Kehidupan (Living)
    Anak diajarkan bahwa kehidupan tak lepas dari tanggung jawab dan komitmen. Ceritakan contoh-contohnya dari masalah sehari-hari; bagaimana orang tua bekerja keras demi memenuhi tanggung jawabnya bagi keluarga. Sambil lalu Anda bisa menyelipkan pesan pada anak, jika dibelikan sesuatu hendaknya harus dijaga jangan sampai rusak. Sekali-kali bila memungkinkan ajak anak ke tempat orang tuanya bekerja. Dengan begitu anak dapat lebih memahami, bahwa uang yang dimiliki orang tua tidak semata-mata keluar dari ATM. Sebelumnya ada proses yang panjang.
  10. Mengatasi Masalah (Coping)
    Anak diajarkan bagaimana mengatasi masalah yang dihadapinya. Jika ia merasa kesal karena tidak dipinjamkan sesuatu oleh teman, orang tua bisa membantunya mengalihkan perhatian dari rasa kesal. Umpama dengan meminta anak untuk minum dulu agar merasa lebih tenang, kemudian menjelaskan bahwa mungkin saja si teman masih membutuhkan barang tersebut. Lalu, ajaklah ia melakukan aktivitas lain untuk mengurangi rasa kesalnya.

3 CARA MERAIHNYA
  1. Lakukan secara bertahap sesuai perkembangan anak dan berikan secara mendalam.
    Umpama, orang tua tak membolehkan anak main ke rumah teman pada siang hari tanpa menjelaskan alasannya. Seharusnya, anak pun diberi tahu mengenai kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat, misal siang hari biasanya untuk anak seusianya ada yang diharuskan istirahat tidur siang sehingga tak boleh diganggu. Contoh lain, anak disuruh bersalaman ketika bertemu dengan teman ibunya atau dengan nenek-kakeknya tanpa diberi tahu penjelasannya. Sebaiknya, anak juga dijelaskan bahwa bersalaman pada orang yang lebih tua merupakan tanda menghormati, misalnya.
  2. Lakukan secara konkret lewat praktik keseharian atau kegiatan yang dilakukan di kelompok bermain/taman kanak-kanak maupun di rumah, dengan cara-cara sederhana.
    Kegiatan yang dipilih harus menunjang pembentukan watak luhur. Misal, di sekolah, guru meminta anak-anak membawa pot bunga, lalu guru bercerita mengenai tanaman dan bertanya pada anak, bagaimana merawat tanaman tersebut, siapa yang selalu menyiramnya di rumah, dan lainnya. Atau mengenai binatang peliharaan, kemudian anak ditanya soal binatang peliharaannya masing-masing, bagaimana merawatnya, siapa yang memberi makannya, dan lain-lain. Dari kegiatan sederhana seperti itu, orang tua dapat mencari masukan dari guru mengenai anaknya. Mengapa si anak tidak sayang pada binatang peliharaan, apakah orang tua belum cukup memperkenalkan, dan sebagainya.
  3. Lakukan dengan memberikan reward.
    Ketika anak bisa menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, orang tua boleh memberinya reward atau hadiah. Jika anak tak menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, orang tua memberinya sanksi. Semakin usianya bertambah, anak sudah bisa berpikir apa yang akan dilakukannya sehingga tidak lagi tergantung pada reward. Anak sudah bisa berpikir, bahwa bersikap sopan adalah memang bagian dari hakikatnya sebagai manusia yang punya martabat. Cara berpikir seperti itu jika dipupuk dari sekarang nanti akan muncul seiring bertambahnya usia dan mencapai puncak di usia 13 tahun.

DR. Reni Akbar-Hawadi, Psi.


Artikel yang berhubungan:
8 Kiat Menanamkan Disiplin Pada Anak
Bagaimana Mengoptimalkan Kecerdasan Balita Pada Masa Golder Years?
9 Manfaat Bermain Bagi Anak
Mendidik Balita Agar Aktif Secara Sosial
Kebersamaan Antara Anak Dengan Orang Tua

Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak

Dalam berbagai kesempatan, saya sering menyampaikan pendapat saya bahwa saya tidak setuju dengan sistem ranking di kelas untuk SD sampai SMU. Makanya anak saya sekolah sekarang di SD yang tidak mengenal sistem ranking. Banyak yang bertanya-tanya dengan sikap atau pandangan saya ini. Entahlah, apakah saya bertentangan dengan mainstream pemikiran yang ada, atau bagaimana, tetapi tentunya saya bersikap demikian bukan tanpa argumen.

Argumennya begini, jika di dalam kelas tersebut ada 4 orang anak, yang satu jago matematika dan fisika sehingga mewakili sekolahnya untuk lomba matematika dan fisika, yang satu jago bikin puisi atau prosa sehingga karyanya banyak dimuat di majalah atau media lainnya, sementara yang satu lagi jago main musik sehingga sudah manggung berkali-kali dalam festival band antar sekolah dan bahkan sudah rekaman walaupun underground, dan yang terakhir jago olah raga, katakanlah bulutangkis, sehingga sudah mewakili sekolah dalam berbagai turnamen dan masuk seleksi atlet berbakat.

Nah, siapakah yang pantas jadi juara kelas dari ke-4 anak di atas ? Bingung 'kan?

Keempat anak di atas pantas jadi juara, di bidang masing-masing. Kita tidak bisa membandingkan mana yang lebih hebat diantara mereka. Mereka tidak bisa dibandingkan, karena bukan apple to apple. Masing-masing mereka memiliki keunggulan kecerdasan.

Jika kita mendalami teori multiple intelligence yang diungkapkan oleh Howard Gardner, maka kita akan memahami bahwa ada beberapa potensi kecerdasan yang terdapat di dalam diri seseorang. yaitu : Bodily-Kinesthetic, Interpersonal, Verbal-Linguistic, Logical-Mathematical, Naturalistic, Intrapersonal, Visual-Spatial, serta Musical. Perkembangan terakhir dari riset Howard Gardner menunjukkan ada kecerdasan lainnya, yaitu : existential, serta moral intelligence.

Pada prinsipnya setiap manusia memiliki kecerdasan yang berkembang, yang pasti tidak sama kadarnya. Bisa jadi ada satu yang sangat dominan, bisa jadi ada beberapa yang dominan, tetapi dalam kadar yang lebih rendah. Jika ternyata kecerdasan yang berkembang dominan pada si anak adalah kecerdasan verbal, dan dia agak kurang di logika-matematika, lalu anda paksakan dia belajar IPA supaya masuk fakultas teknik, padahal si anak ingin masuk fakultas sastra atau ilmu budaya, maka tentu akan terjadi "tabrakan kepentingan" di sini. Anda bisa sewot sama si anak, dan si anak bisa stress. Artinya, pendidikan yang ideal sifatnya harus personal, mengeksploitasi kecerdasan si anak dengan sebaik-baiknya, memfasilitasinya dengan terarah, mengarahkannya, dan tentu saja memberikan dia skill untuk kehidupan.

Jika memang dia lemah dalam belajar matematika, maka bimbinglah dengan perlahan-lahan, jangan sekali-kali membandingkan dia dengan temannya, karena bisa jadi, dia sebenarnya kuat dalam kecerdasan visual, bukan matematika. Bukan berarti kalau dia kuat di kecerdasan visual lalu tidak perlu belajar matematika, bukan begitu. Tetapi kita harus lebih sabar dan telaten dalam membimbingnya dalam matematika, tetapi bisa jadi dia hanya butuh bimbingan yang minimal untuk kecerdasan visual, seperti seni rupa, melukis, atau bahkan desain.

Juga bukan berarti anak yang kuat kecerdasan logika-matematika tidak perlu belajar bahasa. Tetap perlu, tetapi sekali lagi, tentu kita membimbingnya lebih telaten dan sabar dibanding anak yang memang lebih cerdas verbal. Sistem pendidikan yang berlaku saat ini secara umum (tidak berarti semua lho), menempatkan kecerdasan logika-matematika sebagai acuan utama untuk menilai "seseorang itu cerdas".

Dengan demikian, sahabat saya, seorang sutradara film terkenal dan salah satu film-nya mendapatkan pujian luar biasa, tidak termasuk ke dalam kategori "cerdas" di SMA dulu. Sistem yang ada membuat dia tidak termasuk ke dalam kategori "cerdas". Dia memang tidak jago matematika, tetapi dia memiliki kecerdasan tersendiri, yang tidak diakomodasi sebagai suatu kecerdasan oleh sistem yang berlaku saat itu.

Saya yakin, banyak anak-anak yang sebenarnya cerdas (di bidangnya tentunya) tetapi tidak muncul atau tidak terfasilitasi dengan baik, karena sistem yang ada tidak membuat dia masuk kategori cerdas. Bukankah Tuhan itu menciptakan semua manusia itu cerdas ? (kecuali yang memiliki kelainan sejak lahir). Menurut saya, yang paling gawat adalah, karena kita tidak memahami makna kecerdasan ini, maka akhirnya kita tidak mamfasilitasi suatu potensi kecerdasan seorang anak, dan akibatnya hanya tetap tersimpan sebagai potensi, tidak terasah.

Jika kondisi ini terjadi, maka alangkah "berdosanya" kita sebagai guru atau orang tua, karena justru "mematikan" suatu potensi kecerdasan yang dahsyat .... Buat saya, karena anak itu memiliki kecerdasan tersendiri, maka tugas kita sebagai orang tua adalah mengarahkan dan memfasilitasi semampunya, dan jangan sekali-kali memaksakan sesuatu.

Kita harus memahami kelebihan dan kekurangannya, dan menyesuaikan strategi kita dalam membimbingnya ... itulah tugas kita sebagai orang tua .... mulai dari memahami si anak itu sendiri ... :) .

ngerumpi.com



Artikel yang berhubungan:

Bagaimana Mengoptimalkan Kecerdasan Balita pada Masa Golden Years?

Pada masa golden years pembentukan sistem saraf secara mendasar sudah terjadi. Pada masa ini terjadi hubungan antara sel-sel saraf tersebut. Kuantitas dan kualitas sambungan ini menentukan kecerdasan balita.
Pada masa ini perkembangan otak terjadi secara keseluruhan pada keempat bagian otak, termasuk pada masing-masing belahan otak. Belahan otak inilah yang akan menyimpan kemampuan-kemampuan anak yang berbeda, yakni pada belahan otak kanan maupun kiri.

Otak kiri berhubungan dengan tangan, kaki dan tubuh sebelah kanan. Otak kiri terutama mengendalikan aktivitas yang bersifat: teratur, berurutan, rinci, sistematis, misalnya : membaca, menulis, menghitung.

Sedangkan otak kanan berhubungan dengan tangan, kaki dan tubuh sebelah kiri. Otak kanan terutama mengendalikan aktivitas yang bersifat : berfikir divergen (meluas), imajinasi, ide-ide, kreativitas, emosi, musik, spiritual, intuisi, abstrak, bebas, simultan.

Oleh karena itu, jika kita menginginkan anak dengan kecerdasan multiple latihlah kedua tangan, kaki, mata, telinga kanan dan kiri sama seringnya setiap hari, terutama sampai umur 3 tahun, agar otak kanan dan kiri berkembang optimal.

Kalau hanya melatih tangan kanan, maka fungsi otak kanan tidak berkembang optimal, sehingga anak tidak trampil berfikir divergen (meluas), rendah daya imajinasinya, kurang kreatif, kurang mampu kendalikan emosi, kurang berjiwa seni, spiritual, intuisi dan abstrak.

Anak yang kidal, latihlah ia menggunakan kedua tangan dan kakinya sama seringnya. Jangan paksakan ia menggunakan tangan kanan saja, karena otak fungsi otak kanannya akan kurang berkembang.

Adapun tahapan perkembangan kemampuan balita usia 1 hingga 3 tahun diantaranya adalah:
Usia 13-15 bulan balita sudah berminat pada gambar, mengambil mainan sendiri, berjalan sendiri, berceloteh dan mampu meniru kegiatan orang lain. Usia 16-18 bulan balita sudah mengucapkan kata-kata yang lebih banyak, dapat menemukan mainan yang disembunyikan, dan mengerti fungsi benda. Usia 19-24 bulan, balita sudah memehami konsep sederhana bentuk benda seperti segitiga dan persegi, menyebut nama sendiri serta mengucapkan satu kalimat. Usia 2-3 tahun, balita biasanya sudah dapat mencocokkan bentuk, membangun dan menghubungkan balok, berpakaian sendiri dan semakin memahami kata-kata orang lain.

Kemampuan ini harus dioptimalkan dengan cara stimulasi. Stimulasi akan mempengaruhi pertumbuhan sinaps (proses sinaptogenesis), yang membutuhkan banyak sialic acid untuk membentuk gangliosida. Ini penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori.

Kebutuhan stimulasi bermain meliputi berbagai permainan yang merangsang semua indera (pendengaran, penglihatan, sentuhan, membau, mengecap), merangsang gerakan kasar dan halus, berkomunikasi, emosi-sosial, kemandirian, berpikir dan berkreasi. Kebutuhan stimulasi bermain sejak dini akan besar pengaruhnya pada berbagai kecerdasan anak (multipel inteligen).

Selain stimulasi, yang juga penting adalah faktor nutrisi. Dengan nutrisi yang lengkap dan seimbang sejak di dalam kandungan sampai umur 3 tahun, akan semakin banyak jumlah sel-sel otak bayi, semakin bagus kualitas percabangan sel-sel otak, dan semakin bagus fungsi hubungan sinaps antara sel-sel otak bayi dan balita.

Salah satu nutrisi yang penting bagi perkembangan otak adalah asam amino. Asam amino akan membentuk struktur otak dan zat penghantar rangsang (zat neurotransmitter) pada sambungan sel syaraf.

Tyrosine dan Triyptophane merupakan asam amino penting, karena sebagai bahan baku pembuat neurotransmitter katekolamin dan serotonin yang mempengaruhi pengendalian diri, pemusatan perhatian (konsentrasi), emosi dan perilaku anak. Vitamin B6 penting untuk enzim otak. Kekurangan zat besi dan yodium akan menyebabkan rendahnya kecerdasan. Seng dibutuhkan untuk pembelahan dan kemampuan membran sel-sel otak.

ibudanbalita




Artikel lainnya

Kecerdasan Kinestetik Kerap Diremehkan

Sabtu merupakan hari yang dinantikan Sheva (7 tahun). Ayah ibu telah menjadwalkan Sabtu sebagai hari olahraga keluarga. Sheva bersama adiknya, Dira (4), diajak lari-lari keliling stadion Senayan. Setelah itu, ayah mengajak Sheva bermain bola. Dira bersama ibu naik sepeda di sekitar lapangan.Kegemaran Sheva berolahraga tampak pula di sekolah. Selain jago basket dan sepak bola, beberapa kali ia meraih juara atletik mewakili sekolahnya. Beberapa bulan lalu, ia ingin masuk les sepak bola anak-anak. Tapi, Diana, ibu Sheva, menggelengkan kepala.

Alasannya, olahraga sekadar hobi, tak perlu pendalaman. Lebih baik Sheva mengikuti les pelajaran, membenahi prestasi akademisnya yang jeblok. ''Saya ingin Sheva kuliah di ekonomi supaya sukses secara finansial, bukan menjadi atlet yang masa masa depannya belum jelas," kata Diana.Benarkah anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik (kinestetik, red) tidak memiliki masa depan yang cerah?

Terkendali dan bertujuan
Menurut Prof Howard Gardner, setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda dengan kadar pengembangan yang berbeda pula. Psikolog dari Harvard University ini mengembangkan model multiple intelligences. Ia membagi kecerdasan menjadi delapan macam kecerdasan, di antaranya kinestetik, yaitu kecerdasan fisik.

Kecerdasan kinestetik sejajar dengan tujuh kecerdasan lain, yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logik matematik, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Apa maksud kecerdasan fisik atau kinestetik itu? Kecerdasan fisik (kinestetik.red) yaitu kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide, kekuatan, keterampilan dan mengekspresikan dirinya terkait dengan olah tubuh. Anak-anak kinestetik ini menyukai hal-hal berkaitan dengan gerak, seperti berolah raga, seni (pantomim, akting, koreografer), dan keterampilan tangan.

Tipe kinestetik anak, katanya, sudah bisa terlihat sejak usia empat tahun. Anak tersebut senang bergerak. Saat masuk ke bangku sekolah, gelagatnya lebih nyata. Anak kinestetik menyukai olahraga, lebih memilih ekstrakurikuler olahraga dibandingkan sains. Maksud bergerak di sini tentu saja bergerak yang masih terkendali, teratur, bukan gerakan asal-asalan dan tak bertujuan.

Keunggulan anak kinestetik, sangat cepat menghafal berkaitan dengan gerakan dan urutan. Menari, misalnya, membutuhkan gerakan yang berurutan, tidak asal gerak. Begitu pula olahraga. "Anak-anak termasuk kinestetik terlihat ketika menari sangat luwes, terampil, tidak kaku. Olahraga pun begitu, semangat, lincah, menguasai, dan lebih unggul dibandingkan yang lain."

Sayangnya, kelebihan anak kinestetik ini sering kali dibenamkan oleh orang tuanya. Banyak kalangan, termasuk orang tua menganggap, kecerdasan fisik urutan nomor sekian dibandingkan prestasi sekolah (akademik, red). Mahir di bidang olahraga atau seni tidak menjamin kehidupan yang layak. Makanya, banyak orang tua lebih bangga anaknya sukses di bidang sains dan bahasa dibandingkan bidang olahraga atau seni. Akibatnya anak-anak yang memiliki kecerdasan fisik merasa kurang dihargai.

Selain itu, telanjur ada anggapan anak yang memiliki kecerdasan fisik pasti lemah di bidang akademik. "Anggapan itu tidak bisa dibenarkan." Sebab, kata dia, banyak juga anak yang memiliki kecerdasan fisik, mendapat nilai bagus pula pelajaran lainnya. Ini semua tergantung dari gaya belajar yang ditanamkan orang tua.

Mengaitkan gaya belajar
Kelebihan anak-anak kinestetik lebih cepat menghafal dengan olah tubuh. Karena itu, gaya belajar anak kinestetik harus dikaitkan dengan gerakan atau olah tubuh. Misalkan, bagaimana proses hujan turun, anak kinestetik jangan disuruh menghafal kalimat demi kalimat. Tapi, dengan memberi contoh melalui gerakan-gerakan tangan pasti cepat dicerna. Bisa juga tentang gaya tarik bumi dengan menjatuhkan bola basket dan contoh lainnya. Semua itu membutuhkan kreativitas dari orang tua.

Ada kelemahan dari anak kinestetik, yaitu cenderung tidak bisa diam dalam jangka waktu lama. "Maunya bergerak terus,". Namun, ia menyarankan orang tua agar tidak khawatir karena seiring perkembangan usianya, anak kinestetik bisa lebih tenang. Sebab, kinestetik ini bukan gangguan atau kekurangan dari seseorang melainkan salah satu cara kemampuan mengekpresikan diri.

Yang perlu diketahui, semua orang mempunyai kecerdasan kinestetik dengan level yang berbeda. Ada yang lebih dominan, tapi ada juga yang kecerdasan fisiknya tidak unggul dibandingkan kecerdasan lain.Jika anak Anda termasuk golongan kinestetik, berikan dukungan kepadanya. Orangtua juga dapat melengkapi kelebihan lain dikaitkan dengan kecerdasan fisik.


Info Kecerdasan Kinestetik

Mengidentifikasi kecerdasan kinestetik
Anak suka aktivitas yang melibatkan motorik halus dan kasar.

Kecerdasan kinestetik dan otak
Area kecerdasan kinestetik terletak pada cerebellum dan thalamus,ganglion utama dan bagian otak yang lain. Korteks motor otak mengendalikan gerakan tubuh. Orang-orang dengan kecerdasan ini menunjukkan keterampilan menggunakan jari atau motorik halus.

Perilaku kinestetik
Gemar mengulik, mencari tahu bagaimana cara kerja sesuatu. Tak memerlukan penjelasan orang lain atau membaca manual.

Kreativitas
Kecerdasan ini melahirkan olahragawan, ilmuwan, penulis, artis, musisi, penari, dan tenaga kreatif lain yang memungkinkan otak dan tangan mereka bergerak tanpa mengikuti format baku.

Reaksi masyarakat
Masyarakat kerap menganggap kinestetika sebagai hiperaktivitas ketimbang suatu kecerdasan. Akibatnya, kecerdasan ini jarang dihargai.

Melemahkan
Orang tua dan guru sering membatasi anak. Anak kreatif yang cerdas fisik membutuhkan kebebasan tanpa selalu mengikuti pola yang sudah dirancang. dirjournal.com


7 Cara Kembangkan Potensi Anak Kinestetik
  • Libatkan anak dalam kegiatan menarik, drama, olahraga.
  • Sediakan beragam permainan kreatif -lilin malam, tanah liat, blok-- untuk percobaannya.
  • Berjalan, melompat mendaki, main boling, tenis, atau bersepeda bersama.
  • Nikmati permainan seluncur, ayunan, dan kendara.
  • Berikan tugas seperti menyapu, menata meja makan, mengosongkan tempat sampah, membantu memasak, dan berkebun.
  • Libatkan dalam permainan fisik yang bersifat sosial seperti petak umpet, menebak kata dari gerakan tubuh.
  • Bermain menggunakan tubuh untuk mengekspresikan emosi seperti melompat-lompat bila gembira, mengerutkan kening bila marah.
Berbagai sumber.


Artikel yang berhubungan:
Olah Fisik Yang Tepat Untuk Si Kecil
Pentingnya Olahraga Sebagai Stimulasi Motorik Anak
9 Manfaat Bermain Bagi Anak

Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak

Memilih Mainan untuk Anak

Kalau sudah berada di dekat toko mainan, pasti tangan Moms ‘gatal’ ingin membelikan si buah hati mainan yang menarik. Apalagi kalau dengar ‘bujukan’ si penjual, “Sayang anak, Bu…” sambil menyodorkan mainan yang lucu-lucu. Wuih, maunya sih diborong semua mainannya!

Eits, mainan memang ada banyak jenisnya, ada yang terbuat dari kain, plastik, kertas atau lilin. Tapi, jangan asal pilih! Ada baiknya mainan itu memberikan manfaat yang terbaik untuk proses tumbuh kembang anak. Lantas, mainan apa sih yang tepat untuk anak usia 1-3 tahun alias batita?

Utamakan Kemampuan Bahasa
Sebelum memutuskan mainan apa yang tepat untuknya, Moms musti pertimbangkan kemampuan bahasa dan motorik si kecil. Menurut Dra. Mayke S .Tedjasaputra, M.Psi, psikolog dan playterapist dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, kemampuan bahasa untuk anak usia 1 tahun ke atas adalah yang utama.

“Bila dia memiliki ‘modal’ kosakata yang kaya, tentu akan lebih mudah memahami apa yang dikemukakan oleh orang lain. Dia juga bisa merespon dengan kata-kata, bila dia sudah bisa bicara,” ujar wanita yang akrab disapa Mayke ini.

Nah, bila kemampuan bahasanya berkembang dengan baik, dia akan tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Sedangkan, Moms or Dads hanya mendampingi dan mengarahkan dia saat bermain.

Asah Kreativitas Anak
Mainan apa yang tepat untuk si 1-3 tahun? Mayke menyarankan untuk memilih mainan yang bersifat konstruktif dan merangsang kreativitas anak.

Berikut beberapa contoh mainan yang bersifat konstruktif sekaligus melatih kreativitas anak:
  • Balok-balok susun seperti CITY BLOK atau CAR BLOK, di mana balok-balok ini bisa disusun menjadi macam-macam bentuk bangunan seperti jembatan, gedung atau bentuk lain sesuai keinginan. Selain melatih otak kanan yang bikin anak menjadi lebih kreatif, juga melatih otak kiri karena ia belajar mengenal bentuk dan warna. Anda bisa menanyakan apa yang dibangunnya sehingga ia akan bercerita panjang lebar. Ini juga bisa melatih kemampuan bicaranya, bukan? Selain itu, bila ia menyusun balok dengan temannya, anak pun dilatih untuk bekerjasama.
  • Mainan bongkar pasang semacam lego. Di sini, anak bebas berkreasi menyusun dan merakitnya hingga menjadi bentuk seperti rumah, gedung bertingkat, atau bentuk lainnya seperti yang ada dalam imajinasinya. Untuk anak usia 1-3 tahun, sebaiknya pilih yang berukuran besar. Maklum, anak seusianya rentan menelan atau mencicip segala sesuatu yang baru dia kenal atau menarik perhatiannya.
  • Mainan yang terbuat dari lilin seperti play dough (lilin mainan). Dengan ini, anak bisa mengeksplorasi bentuk dan warna sesuai keinginannya. Moms bisa menyontohkan dari bentuk yang masih sederhana semisal bentuk lingkaran atau bola.
Asah Keterampilan Berkomunikasi
Selain mainan yang mampu mengasah kreativitas anak. Mayke juga menyarankan untuk memberikan pula mainan yang bisa merangsang keterampilan berkomunikasi, berimajinasi dan memecahkan masalah seperti berikut ini:
  • Telepon mainan, boneka hewan, boneka tangan dan buku cerita bergambar. Ini semua bisa merangsang perkembangan bahasa anak, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berfantasi dan berinteraksi dengan orang lain.
  • Drum, piano mainan, crayon, buku gambar bisa menjadi media si kecil untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan imajinasinya.
  • Puzzle sederhana (2-4 keping), angka/alfabet mainan, bead maze (balok/bola susun) dapat mengembangkan kemampuan anak untuk menyelesaikan masalah. Mainan seperti ini juga dapat mengajarkan anak tentang proses kerja suatu benda, mengenalkan angka dan huruf, serta mengasah motorik halusnya.
  • Boneka lengkap dengan rumah dan pakaiannya, peralatan dapur mainan, peralatan perkakas mainan, mobil-mobilan yang dilengkapi setir bisa membantu anak untuk belajar tentang dunia orang dewasa.
  • Sepeda kecil, panjatan (climber) dan papan keseimbangan (see-saw) juga bisa membantu anak mengasah keterampilan motoriknya.
Sulap Kertas dan Benda Bekas Jadi Mainan
Sebenarnya, mainan tak perlu mahal. Dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita, Moms or Dads pun bisa menciptakan suatu mainan edukatif. Ya, anak tidak melulu musti disodori mainan yang ‘sudah jadi’ untuk merangsang kreativitas, keterampilan berimajinasi atau memecahkan masalah. Mau tahu beberapa di antaranya?
  • Kertas Tulis / Gambar
    Benda ini tak hanya bisa digunakan untuk kegiatan corat-coret si kecil, melainkan juga untuk menjiplak tangan atau kakinya – dengan bantuan Moms or Dads tentunya. Dari selembar kertas ini pula, bisa dijadikan sebuah bola dengan cara meremas-remasnya. Nah, bola tersebut bisa digelindingkan, dilempar, ditendang atau diputar. Ajak anak untuk melakukan semua aktivitas itu dengan cara menyenangkan.
  • Kertas Krep
    Ajak anak bermain ‘sulap’ dengan memanfaatkan kertas krep yang berwarna-warni. Sebelumnya sediakan wadah kecil berisi air. Celupkan dua kertas krep yang berbeda ke dalam air tersebut, misalnya warna kuning dan merah dicelupkan ke dalam air. Simsalabim! Muncul warna baru, alias warna oranye. Atau kertas merah dan biru ‘luntur’ menjadi ungu, dan sebagainya. Selain belajar mengenal warna, kegiatan ini pasti mengagumkan untuk si kecil!
  • Botol Plastik
    Barang bekas seperti botol plastik pun bisa dimanfaatkan jadi mainan. Caranya, lubangi bagian bawah botol lalu masukkan air. Lihat apa yang terjadi, air itu mengalir dari atas ke bawah. Sederhana? Iya, tapi bagi si batita luar biasa! Katakan, “Adek…mau lihat air mancur?” Dijamin, pengalaman si kecil di dunia bermain semakin bertambah. 

(Mom& Kiddie//nsa)



Artikel yang berhubungan:

9 Manfaat Bermain Bagi Anak

Sebagian orang tua masih menganggap bermain bersama anak merupakan sesuatu tidak berguna. Padahal mengajak si kecil bermain banyak manfaatnya untuk tumbuh kembang fisik dan psikisnya.

Berikut ini 9 manfaat bermain bagi anak menurut buku ‘Games Therapy untuk Kecerdasan Bayi dan Balita’ yang ditulis oleh Psikolog Effiana Yuriastien dan kawan-kawan:

1. Memahami diri sendiri dan mengembangkan harga diri
Ketika bermain, anak akan menentukan pilihan-pilihan. Mereka harus memilih apa yang akan dimainkan. Anak juga memilih di mana dan dengan siapa mereka bermain. Semua pilihan itu akan membantu terbentuknya gambaran tentang diri mereka dan membuatnya merasa mampu mengendalikan diri. Permainan memotong kertas, mengatur letak atau mewarnai misalnya dapat dilakukan dalam beragam bentuk. Tidak ada batasan yang harus diikuti. Identitas dan kepercayaan diri dapat berkembang tanpa rasa ketakutan akan kalah atau gagal. Pada saat anak menjadi semakin dewasa dan identitasnya telah terbentuk dengan lebih baik, mereka akan semakin mampu menghadapi tantangan permainan yang terstruktur, bertujuan dan lebih dibatasi oleh aturan-aturan.

2. Menemukan apa yang dapat mereka lakukan dan mengembangkan kepercayaan diri
Permainan mendorong berkembangnya keterampilan, fisik, sosial dan intelektual. Misalnya perkembangan keterampilan sosial dapat terlihat dari cara anak mendekati dan bersama dengan orang lain, berkompromi serta bernegosiasi. Apabila anak mengalami kegagalan saat melakukan suatu permainan, hal itu akan membantu mereka menghadapi kegagalan dalam arti sebenarnya dan mengelolanya pada saat mereka benar-benar harus bertanggungjawab.

3. Melatih mental anak
Ketika bermain, anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya. Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki sekaligus mendapatkan pengetahuan baru. Orang tua akan dapat semakin mengenal anak dengan mengamati saat bermain. Bahkan, lewat permainan (terutama bermain pura-pura) orang tua juga dapat menemukan kesan-kesan dan harapan anak terhadap orang tua serta keluarganya.

4. Meningkatkan daya kreativitas dan membebaskan anak dari stres
Kreativitas anak akan berkembang melalui permainan. Ide-ide yang orisinil akan keluar dari pikiran mereka, walaupun kadang terasa abstrak untuk orang tua. Bermain juga dapat membantu anak untuk lepas dari stres kehidupan sehari-hari. Stres pada anak biasanya disebabkan oleh rutinitas harian yang membosankan.

5. Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak
Dalam permainan kelompok, anak belajar tentang sosialisasi. Anak mempelajari nilai keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok. Ketika anak memainkan peran ‘baik’ dan ‘jahat’, hal ini membuat mereka kaya akan pengalaman emosi. Anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan dari situasi yang dia hadapi.

6. Melatih motorik dan mengasah daya analisa anak
Melalui permainan, anak dapat belajar banyak hal. Di antaranya melatih kemampuan menyeimbangkan antara motorik halus dan kasar. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Permainan akan memberi kesempatan anak untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus memecahkan masalah. Anak-anak akan berusaha menganalisa dan memahami persoalan yang terdapat dalam setiap permainan.

7. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan anak
Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain, seringkali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin dalam kehidupan nyata, mungkin akan memperoleh pemenuhan keinginan itu dengan menjadi pemimpin tentara saat bermain.

8. Standar moral
Walaupun anak belajar di rumah dan sekolah tentang apa yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral selain dalam kelompok bermain.

9. Mengembangkan otak kanan anak
Bermain memiliki aspek-aspek yang menyenangkan dan membuka kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebaya serta mengembangkan perasaan realistis akan dirinya. Dengan begitu, bermain memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang mungkin kurang terasah baik di sekolah maupun di rumah.

Catatan: Berikanlah pujian kepada anak dengan menggunakan kalimat yang positif dan mampu menjadi penyemangatnya dalam melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi. Contoh, saat anak diminta mengambil spidol warna merah, awali dengan kata ‘tolong’. Jika anak berhasil mengambilnya, berikan pujian dan ucapkan terimakasih.

Demikian juga ketika ia tidak berhasil menemukannya, ucapkanlah kalimat positif yang tidak mematahkan semangatnya. Tetap ucapkan terima kasih atas hasil jerih payahnya. Misalnya saja, “Makasih ya adik sudah mencarikan spidolnya. Spidolnya ada di dekat buku gambar adik.”

walipop




Artikel yang berhubungan:

Kecerdasan Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia.

Macam-macam emosi menurut beberapa tokoh, antara lain:
  1. Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), Hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). 
  2. JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : Fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta).
  3. Daniel Goleman mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu : 
  • Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
  • Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
  • Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
  • Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
  • Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih
  • Terkejut : terkesiap, terkejut
  • Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
  • Malu : malu hati, kesal

    Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan.

    Menurut Mayer orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.

    Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

    Pengertian kecerdasan emosional
    Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.

    Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai :
    “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”.

    Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.

    Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan.

    Sebuah model pelopor lain tentang kecerdasan emosional diajukan oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tututan dan tekanan lingkungan.

    Gardner dalam bukunya yang berjudul Frame Of Mind mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai kecerdasan emosional.

    Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :”kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif.”.

    Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi itu mencakup “kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain.” Dalam kecerdasan antar pribadi yang merupakan kunci menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan “akses menuju perasaan-perasaan diri seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku”.

    Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut, Salovey memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal untuk dijadikan sebagai dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

    Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

    Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

    Faktor Kecerdasan Emosional
    Goleman mengutip Salovey menempatkan menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu :

    a. Mengenali Emosi Diri
    Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai meta mood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.

    b. Mengelola Emosi
    Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

    c. Memotivasi Diri Sendiri
    Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.

    d. Mengenali Emosi Orang Lain
    Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

    Rosenthal dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih mampu menyesuiakan diri secara emosional, lebih populer, lebih mudah beraul, dan lebih peka. Nowicki, ahli psikologi menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi dengan baik akan terus menerus merasa frustasi. Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain.

    e. Membina Hubungan
    Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain.

    Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi. Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan dengan orang lain. Sejauhmana kepribadian siswa berkembang dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya.

    Goleman, Daniel



    Artikel lainnya:

    Prev home