Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Anak. Tampilkan semua postingan

7 Cara Memotivasi Anak agar Gemar Belajar

Pemerintah mengatur bahwa anak-anak wajib mengenyam pendidikan formal, baik di sekolah swasta maupun sekolah negeri. Apapun jenis sekolah yang dipilih orangtua sebenarnya tidak selalu menjamin anak akan menikmati waktu belajarnya. Di sinilah tugas Anda untuk menumbuhkan rasa gemar belajar pada sang buah hati.

Rasa bosan dan jenuh belajar pada anak, bisa jadi disebabkan oleh karena proses belajar mengajar yang diterapkan di sekolah terasa kaku dan membebani. Maka dari itu, Anda sebagai orangtua perlu menerapkan kebiasaan dan acara belajar yang lebih santai serta menyenangkan, baik di rumah atau di luar rumah. Tujuannya agar si kecil bisa berkonsentrasi pada mata pelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Seperti dikutip dari Hello Beautiful, berikut tujuh memotivasi keinginan belajar anak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Membantu mempersiapkan kebutuhan sekolah si kecil
Masa awal bersekolah membuat si kecil bersemangat dengan aktivitas baru hariannya tersebut. Tak ayal, membuat mereka lupa untuk membenahi perlengkapan sekolahnya. Sebagai orangtua yang baik, bantulah anak untuk menyiapkan kebutuhan belajarnya di kelas, seperti merapikan buku, mengatur kotak pensil, melengkapi seragam sekolah, dan sepatu. Tujuannya agar pada pagi hari tidak ada keributan dan kerusuhan hanya karena buah hati tidak dapat menemukan topi sekolahnya untuk upacara.

Nah, untuk melatih rasa tanggung jawab dan kemandirian anak, libatkan si kecil saat Anda mempersiapkan kebutuhan sekolahnya. Agar di kemudian hari, mereka bisa melakukannya sendiri.

Jangan pelit memberikan pujian
Orangtua mana yang tidak menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka, tak terkecuali Anda. Namun, jangan menekan dan membebani anak untuk memberikan yang terbaik versi Anda. Saat nilai ujian si kecil di luar ekspektasi Anda, alih-alih memarahinya, berikanlah pujian. Rasa percaya diri pada anak berasal dari penilaian keluarga intinya pada mereka. Melihat reaksi orangtua yang positif akan menumbuhkan keinginan pada dirinya untuk memberikan yang lebih baik untuk Anda.

Memberikan pujian juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang berkesan dan membangkitkan harga diri anak.

Dukung kreativitas anak
Selain pendidikan formal, dukung anak untuk mengembangkan minatnya di bidang lain, seperti bermain musik, menggambar, menari, melatih kemampuan berbahasa internasional, dan sebagainya. Bangun kreativitas anak dan arahkan bakat mereka dengan cara yang layak dan edukatif. Sebab, anak yang kreatif biasanya memiliki jiwa empati dan daya tangkap otak yang lebih baik dibandingkan anak yang pintar hanya berlandaskan teori.

Terapkan demokrasi pada pola asuh anak
Apa yang menjadi minat anak? Biarkanlah mereka membicarakanya pada Anda, dampingi si kecil saat ingin mengeksplorasi talentanya tersebut. Latih anak untuk mengekpresikan keinginannya lewat cara berdiskusi dengan Anda.

Bila Anda merasa masih terlalu dini untuk si kecil beropini, maka Anda telah melakukan kekeliruan. Sebab anak yang terlatih untuk berdiskusi dan mengeluarkan pendapatnya sedari kecil, maka kelak mereka dewasa akan tumbuh sebagai seorang pemimpin yang bijak dan berpikiran terbuka.

Ciptakanlah suasana belajar yang menyenangkan dan santai
Proses belajar tidak harus berada di dalam kelas, bukan? Maka dari itu, tumbuhkanlah rasa ingin tahu yang tinggi dalam diri anak Anda. Biasakan mereka untuk berani bertanya saat tidak mengerti tentang sesuatu, biarkan dia mengeksplorasi dan mencerna jawaban yang Anda berikan sesuai dengan kemampuan berpikir yang mereka miliki.

Tumbuhkan kebiasaan membaca pada anak
Meskipun era teknologi menawarkan penyajian informasi dalam kemasan yang lebih praktis dan instan. Namun, jangan meniadakan kegiatan membaca dalam keluarga Anda. Sebaliknya, aturlah waktu membaca bersama di rumah. Anda dan suami membaca buku pilihan masing-masing, dan anak membaca buku sesuai usianya. Ingat, sebelum anak mengadaptasi kebiasaan dari lingkungan sosial, mereka meniru apa yang dilakukan oleh orangtua terlebih dulu. Maka dari itu, perlihatkan perilaku terpuji dan inspiratif saat bersama si kecil.

Komunikasi yang hangat tanpa beban
Setelah makan malam bersama keluarga, sebelum waktunya belajar, coba biasakan mengajak anak membicarakan soal kegiatannya selama di sekolah dan saat di rumah sewaktu Anda masih berada di kantor. Cara ini dapat membangun rasa percaya anak pada Anda, bahwa lain waktu mereka memiliki masalah, Anda akan menjadi orang pertama yang mereka ajak bicara!

Selamat mencoba!


KOMPAS.com| Penulis: Syafrina Syaaf | Editor: Syafrina Syaaf | Sumber: Hello Beautiful


Artikel lainnya:

Bebaskan Balita Bereksplorasi

Meski kerap membuat rumah kotor dan berantakan, bereksplorasi memberi kesempatan untuk anak belajar banyak banyak hal dan tumbuh lebih optimal.

Orangtua sebaiknya tidak terlalu banyak melarang anak.
"Masa balita adalah masanya anak learn and explore. Semua pengalamannya berasal dari situ. Anak juga sedang tumbuh dan belajar, daya nalarnya juga berkembang pesat," kata psikolog Ratih Ibrahim di sela acara bertajuk Forgiveness is Easy yang digelar oleh Dulux di Jakarta (19/3/14).

Apa yang diterima anak di usia balita, imbuh Ratih, akan terbawa sampai ia dewasa. "Kalau pengalamannya membuat dia kerdil, akan terbawa terus. Begitu pun kalau pengalamannya membuat trauma maka traumanya akan dalam," katanya.

Karena itu, orangtua sebaiknya tidak membatasi lingkup ekslorasi anak. "Ibarat tanaman, anak yang serba dibatasi akan tumbuh seperti bonsai," ujarnya.

Anak yang sering dilarang-larang juga akan mempengaruhi kepercayaan dirinya, keberanian mengambil keputusan, keberanian menghadapi risiko, termasuk ide-ide dan inovasinya.

Meski membebaskan anak, tapi Ratih menyarankan agar orangtua tetap memberikan batasan. "Bagaimana pun anak tetap harus diberi tahu agar dorongan kreativitasnya tidak merusak," ujarnya.

Ia mencontohkan, walau kita membebaskan anak untuk mencorat-coret tembok, tetapi jelaskan pada anak tembok mana yang tidak boleh dicoret atau dikoroti.

"Beri tahu anak mana area mereka dan mana area yang harus bersih. Jelaskan juga bahwa mereka boleh mencoret atau menempel-nempel dinding, tapi hanya di rumah, bukan di rumah orang lain," ujarnya.

Orangtua tetap harus memiliki kontrol terhadap anak. "Jangan kalah pintar sama anak, toh sebagai orangtua kita sudah kenal dengan anak sendiri," katanya.

Tak kalah penting, orangtua juga harus konsisten sampai anak memiliki kebiasaan positif yang diinginkan. "Bebas boleh tapi tetap harus bertanggung jawab," ujarnya.

Kompas.com | Penulis: Lusia Kus Anna | Editor: Lusia Kus Anna


Artikel lainnya:

Mengenalkan Profesi Orang Tua Kepada Anak

Mengenalkan profesi orang tua kepada anak adalah sesuatu hal yang sangat penting. Selain menambah pengetahuan, ana k juga akan mengerti mengapa orang tua sering meninggalkannya karena disibukkan dengan urusan kerja.

Anak-anak sekarang sudah memiliki wawasan lebih luas mengenai berbagai profesi dibandingkan dengan anak-anak pada jaman dulu yang hanya mengenal profesi dokter atau insinyur saja. Hal ini banyak dipengaruhi oleh teknologi informasi yang diterima anak, utamanya film-film, televisi atau buku-buku komik. Media tersebut banyak mengenalkan anak pada profesi lain, misalnya detektif ataupun polisi.

Mengenalkan profesi orang tua kepada anak sedini mungkin adalah hal yang sangat penting. Mengapa? Karena anak akan mengerti apa pekerjaan orang tua dan konsekuensi akibat pekerjaan itu. Bahwa orang tua sering meninggalkannya untuk beberapa waktu. Selain itu pengetahuan anak juga akan bertambah luas. Ia akan tahu mengapa orang tua harus bekerja, ia juga akan dapat menghargai pekerjaan orang tuanya dan orang lain. Dimasa pertumbuhannya anak juga akan memiliki orientasi masa depan yang ia inginkan sendiri, meski kadang masih berubah-ubah tentunya.

Keuntungan lainnya anak juga akan memiliki persepsi positif terhadap orang tua mereka. Anak tidak akan rewel atau merengek lagi ketika orang tua harus berangkat kerja. Anak-anak yang orang tuanya terutama ibunya bekerja, dan ia telah mengerti akan kondisi tersebut, umunya anak akan menjadi pribadi yang lebih mandiri dan percaya diri.

Pada kasus orang tua yang tidak pernah menjelaskan mengapa orang tua harus bekerja, apa pekerjaan orang tua, waktu bekerja dan apa yang dilakukan orang tua secara detil, akan mempengaruhi psikologis anak, karena anak hanya tahu bahwa orang tuanya pergi bekerja dan seringkali meninggalkannya. Anak akan merasa bahwa orang tuanya tidak memperhatikannya, sehingga anak menjadi seperti kurang perhatian.

Sangat disarankan untuk sekali-kali orang tua terutama ibu mengajak anak ke tempatnya bekerja, jika memang dimungkinkan kondisinya bisa membawa anal-anak. Jika ingin mengajak si kecil ke kantor, tentunya Ibu harus mempunyai persiapan sebelumnya.

Lingkungan kantor adalah hal baru bagi anak. Ibu juga bisa membekalinya dengan sebuah mainan kesukaannya atau bisa juga Ibu membawa makanan kesukaannya. Orang tua juga harus memberikan gambaran tentang situasi di kantor sebelumnya. Mesin-mesin apa saja yang ada di kantor, teman-teman kantor dan lainnya. Pastikan juga toilet trainingnya sudah berjalan baik, sehingga ia akan memberitahu ibunya jika ingin buang air.

Pengenalan profesi ini sebenarnya juga dapat dilakukan oleh para guru di sekolah, utamanya TK atau SD. Pihak sekolah dapat mengundang beragam profesi secara berkala ke sekolah. Kegiatannya dapat dilakukan dengan tanya jawab dan mengenalkan karir dan profesi kepada anak-anak. Cara ini selain dapat memperluas wawasan anak, anakpun akan tahu bagaimana profesi orang tua mereka.

Diharapkan dengan anak mengetahui profesi orang tua anak akan semakin mengerti dan dapat terjalin keakraban yang lebih baik antara orang tua dan anak.

infoduniaanak.com



Artikel lainnya:

Cara Sederhana Stimulasi Anak untuk Bicara

Perkembangan kemampuan berbicara pada diri setiap anak tidaklah sama. Ada anak yang perkembangan berbicaranya cepat, namun ada juga yang lambat dan membutuhkan stimulasi berulang-ulang agar dia mau bicara. Sebagai orang tua, tentunya kita menginginkan yang terbaik untuk anak tercinta. Kita, termasuk dalam perkembangan bicaranya. Dalam berbagai kasus sering ditemui anak yang belum pandai bicara dibanding dengan anak seumurnya, ada juga yang tidak menanggapi ketika diajak berbicara, kasus lain menunjukkan bahwa si anak tidak bicara namun mengerti apa yang dibicarakan orang lain. Kalau sudah begitu orang tua pasti merasa resah dan ingin agar buah hatinya segera mengeluarkan celotehnya. Nah, berikut ini beberapa cara sederhana untuk menstimulasi anak Anda untuk bicara:
  • Pengulangan. Semakin banyak anak Anda mendengar sebuah kata, semakin besar kemungkinan baginya untuk meniru kata tersebut. Jadi, banyak-banyaklah mengulang sebuah kata ketika Anda berbicara dengannya, misalnya ketika Anda ingin mengajaknya bermain bola, katakan kepadanya “Kamu ingin bermain bola?”, sambil Anda menggemgam bolanya dan meletakkannya di hadapan muka dia. Lalu katakan lagi, “Siap-siap ya, ini dia bolanya datang”, sambil Anda menggulirkan bola itu ke arahnya, kemudian katakan lagi “Ayo Sayang, tangkap bolanya!”. Nah, dalam waktu beberapa detik Anda telah mengulang kata “bola” sebanyak tiga kali, bukan? Semakin banyak dia mendengar kata itu, maka akan semakin besar kemungkinan dia untuk meniru dan akhirnya mengatakan kata “bola”. Anda bisa mencoba hal yang lain lagi, intinya di masa awal kehidupannya seorang anak memulai masa belajarnya dengan cara meniru dari orang-orang di sekitarnya, jadi perbanyaklah kesempatannya untuk bisa mendengar kata-kata baru di setiap waktunya.
  • Banyaklah berbicara pada Anak Anda. Katakan setiap hal kepadanya, misalkan di saat pagi, “Hari ini Kita sarapan bubur Ayam ya Sayang”. Di kesempatan lain, misalkan saat Anda dan dia menonton TV, ceritakan apa yang Anda dan dia sedang tonton, kemudian setelah itu ceritakan lagi apa yang baru saja kalian tonton. Kalau bisa, di sepanjang hari yang Anda lalui bersamanya isilah dengan perbincangan mengenai hal apapun yang kalian lalui bersama.
  • Bergantian dalam berbicara. Berbicaralah kepada buah hati Anda, lalu berikan dia waktu untuk gantian berbicara kepada Anda. Jika belum juga berhasil memancingnya berbicara, maka terus ulangi namun dengan situasi yang berbeda-beda, misalkan pada saat kalian bermain atau saat makan tiba.
  • Tatap mata Anak Anda saat berbicara padanya. Saat berbicara pada si buah hati, tataplah matanya sesering mungkin. Dari hal itu, dia akan belajar berbicara dari ekspresi wajah yang Anda tunjukkan. Untuk beberapa anak, hal itu mungkin akan banyak membantu dalam proses belajarnya berbicara.
  • Beri dia pilihan. Misalkan ketika Anda membelikan dia wafer atau keripik, berikan kesempatan kepadanya untuk memilih yang dia inginkan untuk dimakan sambil Anda menyodorkan kedua pilihan tersebut pada anak Anda. Tunjukkan padanya yang mana wafer dan yang mana keripik, terus stimulasi dia untuk bisa menentukan pilihannya.
  • Saat berbicara dengan anak, berikan dia waktu untuk bisa merespon apa yang Anda katakan. Berikan dia kesempatan untuk bisa mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, jika dia mau berusaha, Anda akan melihat usahanya untuk bisa mengatakan sesuatu meskipun yang Anda dengar hanya ocehan, mungkin saja itu sebuah kata darinya. Ingat selalu untuk mengulang-ulang stimulasi yang anda berikan.
  • Bacakan sebuah buku untuk anak Anda dimana ada satu atau dua gambar pada halamannya. Setelah itu, tanyakan kepadanya sebuah pertanyaan yang jawabannya bisa dijawab secara verbal atau dengan menunjuk sebuah gambar. Usahakan untuk tidak terlalu memberikan tekanan padanya untuk bisa menjawab pertanyaan Anda.
  • Berikan anak Anda pujian ketika dia berhasil mengeluarkan sebuah kosa kata dari mulutnya. Hal itu akan membuatnya merasa dihargai meski hanya mengatakan “ba”, dan selanjutnya dia akan lebih berusaha lagi untuk bisa mengeluarkan banyak kosa kata.
  • Cari tahu seberapa jauh orang lain mengerti apa yang anak Anda katakan, dengan begitu Anda bisa mengukur sudah sejauh mana kemajuannya dalam berbicara. Anda juga bisa merencanakan hal-hal apa lagi yang masih perlu dilakukan untuk menstimulasi kemampuannya dalam berbicara.
Tetap tenang dan selalu optimis ya dalam menstimulasi buah hati Anda mengembangkan kemampuan bicaranya. Semoga bermanfaat!

Sumber : informasitips.com


Artikel lainnya:

10 Tips Cara Melatih Anak Cerdas Emosi

1. Ajar anak mengubah tuntutan menjadi pilihan. Katakan padanya tidak ada alasan keinginannya harus selalu dipenuhi dan marah-marah. Beri anak pujian bila ia dapat mengendalikan kemarahannya.
2. Latih anak untuk menyatakan kebutuhan secara asertif (tegas), tetapi tidak ada jaminan ia akan mendapatkannya.
3. Biarkan anak mengungkapkan dan bertanggung jawab atas setiap perasaan yang dialaminya. Dengan begini ia juga bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Hindari menyalahkan anak saat Anda sendiri marah.
4. Dorong anak untuk mengembangkan hobi dan minatnya yang dapat memberinya waktu luang dan kemandirian.
5. Biarkan anak menyelesaikan sendiri pertikaian antara dia dengan saudara atau temannya.
6. Bantu anak bertoleransi terhadap gangguan orang lain. Ajarkan pula bagaimana menghindari gangguan, misalnya diolok-olok. Ajarkan anak membalas olok-olok dengan kata-kata yang baik,"Olok-olok enggak bikin sakit tuh."
7. Bantu anak untuk memperhatikan kekuatannya dengan menekankan hal-hal yang dapat ia lakukan.
8. Dorong anak berperilaku seperti yang ia ingin orang lain lakukan terhadap dirinya.
9. Bantu anak berpikir alternatif serta melihat berbagai kemungkinan ketimbang bergantung pada satu pilihan. Misalnya, anak hanya punya seorang teman. Saat temannya itu tidak ada, ajarkan anak mencari teman lain, jangan hanya merasa ia tak punya teman.

Tertawa Bersama
Doronglah anak dapat mentertawakan dirinya sendiri. Orang yang terlalu serius terhadap dirinya sendiri sulit menikmati hidup. Sense of humor yang baik dan kemampuan melihat sisi terang kehidupan, penting untuk meningkatkan kegembiraan.

Menurut Jhon Gottman, ph ada 5 langkah penting bagi orang tua dalam melatih emosi anak.

1. Menyadari emosi anak : Ketika anak menangis, marah, senang, orang tua perlu menyadari bahwa anak juga memiliki perasaan untuk di sayang, diakui, tidak baik bagi orang tua misalkan memarahi anak pada saat anak menangis, hendaknya orang tua mengetahui apa yang sedang di alami oleh si kecil.
2. Mengakui emosi anak : Terkadang orang tua egois, tidak mau tahu mengenai keinginan anak, orang tua lebih peduli pada apa yang ada di pikirannya, sehingga tidak mengakui kalau anak sedang marah, senang.
3. Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak : Hal yang paling berbahaya bagi orang tua adalah pada saat orang tua tidak mau mendengar atau tidak mau tahu mengenai masalah yang dihadapi oleh anak, orang tua cenderung memarahi tanpa memiliki empati terhadap anak, apalagi memberikan dukungan / support dengan kata-kata yang dapat meneguhkan emosi anak.
4. Membantu anak melabeli emosi : Penting bagi orang tua adalah membantu untuk melabeli emosi, hal ini agar emosi anak dapat di curahkan/ ditempatkan pada tempat yang tepat, anak diajarkan untuk mengatur control emosinya.
5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah : Yang tidak kalah penting sebagai orang tua adalah, membantu anak dalam memecahkan masalahnya, namun bukan berarti semua masalah si anak di selesaikan tanpa melibatkan anak tersebut, karena jika tanpa melibatkan anak, maka hal itu akan memberikan pengaruh pada saat anak dewasa nanti tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya.

Artikel lainnya:

Cermati Perkembangan Psikologi Balita

Setiap anak mengalami perkembangan fisik dan mental, yang sama pentingnya. Anak yang memiliki perkembangan fisik yang sehat, maka akan mempengaruhi kesehatan mental atau psikologisnya. Seperti peribahasa mengatakan, bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Demikian pula sebaliknya, kondisi kesehatan fisik yang buruk pasti akan berdampak kurang baik bagi kesehatan psikologis anak.

Perkembangan psikologi anak berawal sejak mereka baru dilahirkan. Bayi yang baru lahir biasanya belum mengenal rasa takut dan preferensi untuk melakukan kontak dengan orang-orang. Penelitian membuktikan bahwa dalam beberapa bulan pertama kehidupannya, bayi hanya mengalami perasaan bahagia, sedih, dan marah. Sebuah senyum pertama bayi biasanya terjadi saat ia berusia antara 6-10 minggu. Senyum ini, dilihat dari ilmu psikologi anak, biasa disebut dengan senyum sosial karena umumnya terjadi saat interaksi sosial.

Pada usia sekitar 8-12 bulan, mereka mengalami perubahan psikologis yang cukup cepat, yaitu mulai merasakan takut pada segala ancaman, menyenangi keakraban dengan orang-orang, dan menunjukkan kecemasan ketika dipisahkan dari orang-orang terdekat atau didekati oleh orang asing. Tetapi, karena mereka belum sampai pada tahap mampu merasakan apalagi mempertimbangkan kebutuhan, keinginan, dan kepentingan orang lain, maka biasanya mereka memiliki sifat egosentris yang sangat besar.

Kapasitas untuk berempati dan memahami aturan sosial baru dimulai pada periode usia 2-5 tahun dan terus berkembang hingga dewasa. Pada usia 2-5 tahun, anak-anak mulai dapat mengembangkan suatu proses berpikir, walaupun buah dari proses berpikir tersebut seringkali tidak logis bagi orang-orang dewasa. Karakteristik psikologi anak pada tahap ini adalah mereka memiliki keyakinan bahwa segala benda yang ada merupakan makhluk hidup sama seperti dirinya. Contohnya, anak seringkali beranggapan bahwa mobil yang sedang tidak berjalan disebabkan benda tersebut sedang lelah atau sakit. Contoh lainnya, si kecil akan memberi hukuman berupa pukulan kepada sebuah perabot karena menganggapnya nakal sudah membuatnya tersandung.

Anak pada usia ini masih memiliki sifat egosentris, karena mereka hanya dapat mempertimbangkan dan mementingkan segala sesuatu berdasarkan sudut pandang mereka sendiri. Tetapi pada usia ini pula, psikologi anak berkembang pesat. Secara berangsur-angsur, anak mulai mengalami penurunan egosentris apalagi bila didukung pola pengasuhan yang tepat.

Bunda, dalam hal ini, memiliki peran yang sangat besar dalam membantu perkembangan psikologis si kecil. Belajarlah untuk memahami, bersabar, dan selalu memberikan contoh yang baik, merupakan beberapa hal yang penting untuk Bunda ingat. Namun, jangan lupa untuk bisa bersikap tegas dalam menerapkan kedisiplinan agar mereka memiliki pondasi yang cukup kuat dalam proses pembentukan karakternya kelak.

ibudanbalita.com



Artikel lainnya:

Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget Pada Anak

Penggunaan gadget bisa membuat anak keranjingan. Kalau anak mulai gelisah bila beberapa jam saja tidak memainkan gadget, ini petandanya. Celakanya lagi, saat memanfaatkan gadget, anak dituntut berkonsentrasi penuh sehingga ia seolah tidak peduli dengan lingkungan terdekat atau sekitarnya.
Menurut hasil pengamatan pihak sekolah, gadget dapat memengaruhi beberapa perkembangan dan prestasi belajar anak, yakni:
  1. Mengalami penurunan konsentrasi. Anak mengalami penurunan konsentrasi saat belajar. Konsentrasinya menjadi lebih pendek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Anak lebih senang berimajinasi seperti dalam tokoh game yang sering ia mainkan menggunakan gadget-nya.
  2. Memengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan. Ketika belajar, anak tidak mau mencari data dan tidak tertantang untuk melakukan analisis. Anak menginginkan sesuatu yang serba cepat dan langsung terlihat hasilnya. Ada pun proses untuk mencapai hasil akhir itu tidak dipedulikan.
  3. Malas menulis dan membaca. Gagdet menjadikan anak malas menulis dan membaca. Dengan perangkat gadget, maka aktivitas menulis menjadi lebih mudah, ini memengaruhi keterampilan menulis anak. Tak hanya itu, perangkat visual pun tampak lebih menarik dan menggoda, karena dapat memperlihatkan sesuai dengan kenyataan. Akibatnya anak-anak menjadi malas membaca. Sebab, membaca menuntut anak untuk mengembangkan imajinasi dari kesimpulan yang dibaca.
  4. Penurunan dalam kemampuan bersosialisasi. Anak menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitar serta tidak memahami etika bersosialisasi. Anak tidak tahu, bila ada banyak orang menginginkan sesuatu yang sama, maka wajib antre agar tertib. Ini terjadi karena anak tidak memahami adanya sebuah proses. Apa yang diinginkan harus segera ada dan terwujud, karena terbiasa mendapat pemahaman melalui games atau tontonan.

Agar gadget tak berdampak buruk pada anak, orangtua perlu menerapkan sejumlah aturan. Berikut pedoman bagi orangtua saat anak menggunakan gadget-nya:
  1. Pahami ragam permainan yang ada di perangkat gadget. Tidak semua permainan atau games baik dan aman untuk anak. Ada banyak unsur negatif seperti kekerasan, perilaku atau kata-kata kasar, dan lainnya. Untuk itu, alangkah baik bila orangtua mencoba dan melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum memberikan izin kepada anak untuk bermain.
  2. Tempatkan gadget di luar kamar tidur. Sebaiknya tempatkan perangkat elektronik di ruang keluarga. Sehingga orang tua atau orang dewasa dapat mengawasi permainan yang dipilih prasekolah serta durasi waktu bermainnya.
  3. Berikan batasan waktu penggunaan gadget. Untuk prasekolah tenggang waktu yang dapat ditoleransi adalah 15-30 menit, karena rentang konsentrasi anak masih pendek. Jangan memberikan kesempatan lebih dari 30 menit. Terapkan dengan konsisten. Bila orangtua mudah mengalah oleh bujuk rayu anak, maka anak akan terus “mengakali” orangtuanya.
  4. Dampingi anak saat menggunakan gadget. Sebisa mungkin, dampingi anak ketika ber-gadget, sehingga orangtua dapat mengawasi dan memberikan penjelasan bila ada hal-hal yang tidak dipahami oleh anak.
  5. Berikan penjelasan penggunaan gadget. Sampaikan bahwa gadget bermanfaat untuk mempermudah kerja dan lebih praktis. Saat sedang bepergian, misalnya, kita bisa membaca berita lewat tablet. Untuk itu, pemanfaatnya pun harus bijaksana. Jangan akhirnya, waktu kita banyak tersita oleh gadget daripada interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar.
  6. Berikan contoh. Jadilah teladan terdepan dalam memanfaatkan gadget secara bijak. Jangan sampai orangtua melarang anak berlama-lama bermain game, tapi orangtua sendiri asyik menggunakan ponsel pintar. Kalau bisa, matikan smartphone saat berada di rumah, jalin interaksi dengan anak dan keluarga di rumah.
(Tabloid Nakita)


Artikel yang Berhubungan:
Gadget Sebagai Jawaban Orang Tua Pada Anak
Dampak Negatif dari Kecanduan Teknologi
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik

Keluarga Pengaruhi Perilaku Hidup Sehat Seseorang

Psikolog Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Dr Kristina Haryanti menilai lingkungan keluarga memberi pengaruh paling besar terhadap perilaku kesehatan individu.

“Keluarga memberi pengaruh paling besar, kalau keluarga sudah menerapkan pola dan perilaku hidup sehat maka setiap anggota keluarga akan terbiasa melakukannya,” katanya di Semarang, Kamis.

Menurut dia, keluarga merupakan basis penanaman nilai-nilai kepada setiap individu, termasuk nilai kesehatan sehingga keluarga akan menentukan apakah seseorang berperilaku hidup sehat atau tidak.

Ia menjelaskan lingkungan masyarakat juga tidak kalah penting dalam memengaruhi manusia berperilaku hidup sehat, seperti lingkungan rumah sakit (RS) yang selalu terjaga kebersihan dan kerapiannya.

“Kalau berada dalam lingkungan RS yang bersih, tidak ada sampah berserakan, orang akan sungkan untuk membuang sampah sembarangan. Kenapa? Karena merasa tidak tega mengingat tempatnya bersih,” katanya.

Bahkan, ia mengaku saat akan menengok kawannya di sebuah RS swasta di Semarang, pernah melihat seorang keluarga pasien di sebuah RS swasta di Semarang sampai rela mengantongi sampah di saku celana.

“Saya pernah melihat sendiri. Ada seorang keluarga pasien yang kesulitan mencari tempat sampah, sementara RS itu sangat bersih. Sampah bekas makanan itu kemudian dikantonginya ke saku celana,” katanya.

Sebaliknya, kata dia, kalau orang berada di jalanan dengan kondisi yang tidak terawat dan sampah berserakan tentu akan mudah membuang sampah sembarangan karena merasa sudah banyak sampah di tempat itu.

“Contoh lain, orang Indonesia yang tinggal di Belanda pasti menyeberang jalan di ’zebra cross’ karena lingkungannya tertib. Namun, kalau balik ke Indonesia biasanya menyeberang sembarangan lagi,” katanya.

Dekan Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang itu mengatakan bahwa kondisi psikologi semacam itu sangat berkaitan dengan otak manusia yang memengaruhi segala pikiran dan tindakannya.

Berkaitan dengan itu, pihaknya akan mengundang Prof AML Coenen, pakar psikologi Radboud University-Nijmegen Belanda untuk mengisi seminar “Otak, Proses Kognisi dan Perilaku Sehat” pada 18 September mendatang.

“Prof Coenen akan menjelaskan perilaku-perilaku berisiko, seperti merokok, minum minuman beralkohol, dan penyalahgunaan obat terlarang berkaitan dengan otak dan komponen kesehatan lain yang terpengaruh,” kata Kristina.
sehatnews.com


Artikel lainnya:


Anak sulit belajar matematika? Coba tips ini!

Bagi sebagian besar anak kecil, matematika adalah pelajaran yang mengerikan. Alhasil, banyak anak kecil menghindari untuk belajar mata pelajaran tersebut. Nah, tugas orang tua adalah membuat pelajaran matematika jadi topik menarik dan menyenangkan bagi anak-anak. Caranya? Berikut adalah beberapa tips bagi orangtua untuk membuat matematika menarik untuk anak.

1. Membuat matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan
Anak-anak menyukai suasana belajar yang interaktif dan penuh warna. Oleh karena itu, para orang tua bisa mengajarkan matematika dengan membuat permainan untuk anak. Setelah anak mengalami beberapa kemajuan dalam pelajaran, Anda dapat menaikkan tingkat kesulitannya. Ini adalah langkah menuju belajar mandiri dan aktif.

2. Meningkatkan kepercayaan diri anak
Angka dan rumus membuat anak tidak menyukai matematika. Akibatnya, anak menjadi malas belajar dan mendapat nilai yang buruk. Orang tua memiliki peranan besar untuk membangun tingkat kepercayaan diri anak-anak mereka. Orangtua perlu memastikan bahwa mereka dapat mendorong anak untuk menyelesaikan tugas matematika sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Setelah kepercayaan diri anak meningkat, dia akan dapat memecahkan pertanyaan-pertanyaan sulit dalam pelajaran tersebut.

3. Mengembangkan motivasi anak
Metode ini tentu telah dipraktikkan di sekolah. Namun,mengembangkan motivasi anak tidak hanya perlu dilakukan di sekolah, tetapi juga di rumah. Oleh karena itu, cobalah menanamkan metode ini untuk meningkatkan kualitas belajar anak, terutama untuk pelajaran matematika. Orang tua harus memastikan bahwa mereka ikut memotivasi anak dengan memberi dorongan semangat dan membimbing mereka di rumah.

4. Fakta menarik tentang matematika
Anak-anak selalu tertarik untuk mempelajari sesuatu yang baru. Jadi, saat mengajarkan mereka konsep-konsep baru, pastikan Anda berbicara tentang latar belakang konsep atau teori-teori tersebut. Hal ini membuat mereka lebih terlibat dalam pelajaran yang Anda ajarkan. Belilah buku-buku tentang matematika dan beberapa informasi tentang penemu teori tertentu dalam rumusan matematika untuk anak-anak Anda. Ini akan membuat mereka jadi lebih penasaran.

Tips ini akan berguna untuk para orang tua dan memudahkan mereka dalam membimbing anak di rumah. Percayalah, semua anak dilahirkan pintar, hanya bagaimana cara orang tua membentuk kepribadian anak itu sendiri.
[Destriyana]


Artikel lainnya:

Gadget Sebagai Jawaban Orangtua Pada Anak

Setiap orang tua pasti berharap mampu memenuhi segala kebutuhan anak-anaknya. Menurut survei yang dilakukan oleh Oreo dan perusahaan riset pasar Ipsos, sekitar 83 persen orang tua di dunia harus bekerja keras untuk mengupayakan yang terbaik untuk masa depan anak-anak. Sayangnya, banyak dari mereka yang lebih fokus untuk mencukupi kebutuhan materi dibandingkan dengan memenuhi kebutuhan afeksi/perasaan anak-anaknya.
Salah satu jawaban orang tua untuk mengatasi kurangnya waktu untuk berkomunikasi dengan anak adalah melalui teknologi. Teknologi memang memungkinkan orang tua dan anak berkomunikasi setiap saat. Namun hal ini menimbulkan fakta mengejutkan, dimana lebih dari seperempat persentase orang tua di dunia ternyata lebih banyak berkomunikasi melalui teknologi dibandingkan secara langsung.

Secanggih apapun teknologi, sebenarnya tetap tak mampu menggantikan perhatian orang tua secara langsung. Memberikan “kenyamanan” dan perhatian melalui teknologi ternyata bisa berakibat buruk bagi keutuhan keluarga. Sebab, kebiasaan untuk menggunakan teknologi seringkali tetap berlanjut saat berkumpul bersama keluarga. “Misalnya ketika sedang berada di meja makan, masing-masing akan sibuk dengan gadget mereka, dan tidak berinteraksi satu sama lain,” ujar Anna Surti Ariani, SPsi, Msi, dalam diskusi yang digelar Oreo di Graha Inti Fauzi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kesalahan lain yang terjadi kemudian, orang tua cenderung “menyogok” anak dengan gadget agar tidak rewel ketika ditinggal bekerja. Akibatnya anak lebih kenal pada gadget ketimbang perhatian orang tua secara langsung. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, orang tua akan kehilangan anak-anak mereka, sementara anak-anak akan menjadi kecanduan gadget, dan lebih sayang pada gadget daripada orang tuanya.
“Sudah banyak kasus seperti ini di Indonesia, anak-anak kecil lebih memilih gadget, dan tumbuh menjadi anak yang nakal karena tidak dapat perhatian orang tuanya,” tambahnya.
Dalam penelitian secara terpisah, terlihat bahwa gadget memberikan respons langsung terhadap tuntutan perhatian dari anak dalam bentuk suara-suara yang meriah. Anak-anak sangat menyukai suara-suara ini, sehingga ketika sedang tak terhubung dengan gadget mereka akan mencari “suara-suara” tersebut dari sumber lainnya. Orang tua juga akan memberikan respons dalam bentuk suara ketika anak-anak berbuat nakal, dan respons inilah yang diharapkan anak, karena membuat mereka merasa diperhatikan orang tuanya. 

heartline.co.id

Artikel yang Berhubungan:
Dampak Negatif dari Kecanduan Teknologi
Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik

Aktivitas Yang Membuat Buah Hati Menjadi Cerdas

Sekarang ini banyak sekali anak-anak yang senang bermain game online, mereka kerap sering mencari warnet (warung internet) dengan layanan jaringan yang baik. Lantas apa sebagai orang tua kalian mengijinkan anak-anak kalian untuk bermain game online terutama apabila anak kalian masih sangat kecil.

Nah, sebagai orang tua yang bijak pasti menginginkan agar buat hati kita menjadi anak yang cerdas dan pintar. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan untuk membuat anak-anak kita menjadi cerdas.

1. Membaca 20 menit setiap hari
Ajaklah anak kalian untuk membaca. Di usia 12 sampai 18 bulan anak akan banyak sekali menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Jadi akan sangat mungkin bagi anak kalian untuk mendengarkan apa yang kalian baca. Setidaknya ajaklah membaca selama 20 menit sehari. Sambil membacakan buku untuknya, tanyakan juga kepadanya gambar-gambar yang ada di buku tersebut.

2. Dengarkan musik
Bernyanyilah bersama anak kalian. Biaskan untuk mendengarkan musik saat sedang berada dirumah atau dimobil. Pilihlah musik yang tidak membosankan meskipun diputar secara terus menerus. Jika kalian bernyanyi, otomatis anak kalian akan ikut bernyanyi juga. Lama-lama anak kalian akan bernyanyi dengan sendiri meskipun tidak ada musik yang mengiringi.

3. Ajarkanlah tentang angka dan bentuk benda
Ajarkanlah kepada anak kalian tentang bentuk benda, warna dan juga angka seharian penuh.

4. Ajarkan juga nama-nama bagian tubuh
Selain itu ajarkan juga kepada anak kita tentang nama-nama bagian tubuhnya. Sambil mengenalkan bagian tubuhnya, tunjuklah bagian tubuh yang kalian maksud misalnya hidung, mata, kuping, kaki, tangan dan lain-lain.

5. Gunakanlah instruksi
Ketika sedang bermain berikanlah instruksi. Dengan demikian si anak akan mampu mengikuti instruksi dari orang tua dan juga akan merasa senang jika mampu melakukan apa yang di suruh. Salah satu instruksi sederhana adalah memintanya untuk menutup pintu atau mengambilkan bola.

6. Minta memilih mainan kesukaannya
Pergilah ke toko mainan anak-anak. Lalu gunakan buku katalog dan mintalah si anak untuk memilih mainan yang ia sukai di katalog tersebut. Setelah itu, ajak anak kalian untuk mencari mainan tersebut di rak mainan.

Demikianlah beberapa aktivitas yang bisa kalian ajarkan kepada buah hati kalian. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat.

kichuzzz.blogdetik.com


Artikel lainnya:

Manfaat Menggambar Untuk Anak

Tahukah Bunda, kegiatan menggambar si kecil bukan hanya kegiatan mencoret-coret tanpa arti loh. Dengan menggambar banyak manfaat yang akan didapat si kecil, bahkan manfaatnya akan terasa hingga ia dewasa nanti.

Berdasarkan riset yang dilakukan terhadap 200 anak usia 3-4 tahun, ternyata kemampuan menggambar adalah salah satu indikator terhadap berkembangnya kemampuan membaca anak. Riset ini dikutip dari Parents Indonesia.

Nah, jika Bunda saat ini memiliki anak yang sedang bersekolah di Taman Kanak-kanak, ada baiknya Bunda membantunya mengembangkan kemampuan menggambarnya. Jika kemampuan menggambar anak terus dikembangkan selama 2 tahun selama ia bersekolah di TK, maka kemungkinan besar ia sudah akan bisa membaca saat lulus nanti.

Kemampuan menggambar yang bagus pada anak dan bisa menggambar persegi atau lingkaran dengan sempurna maka ia bisa lebih cepat membaca dan punya kemampuan mengidentifikasi bahasa, sandi dan huruf.

Ternyata kemampuan menggambar yang baik tidak hanya merangsang kemampuannya untuk membaca saja, kemampuan menggambar yang baik juga dapat mendongkrak kemampuannya dalam menghitung. Peneliti berkesimpulan menggambar punya kontribusi tinggi terhadap perkembangan pengetahuannya di masa depan.

Peneliti juga berkesimpulan, dengan kemampuan menggambar anak, ternyata mereka juga bisa lebih fokus dalam menerima pelajaran dengan menggunakan kata-kata, dibandingkan dengan pelajaran menggunakan kapur atau spidol. Peneliti juga memperkirakan ada kemampuan kognitif lain yang berkembang jika si anak terus belajar menggambar.

Jadi daripada Bunda menghabiskan banyak waktu untuk mengajarkan anak membaca, lebih baik Bunda menggunakan sebagian waktu untuk mengajak anak menggambar. Menggambar tentu lebih menyenangkan bagi anak. Selain itu bisa mengembangkan kemampuan yang lainnya.

Republika



Artikel lainnya:

Putus Mata Rantai Terorisme Sejak dari Anak-anak

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berpendapat, salah satu langkah yang harus dilakukan dalam memutus mata rantai terorisme di Indonesia adalah dengan mencegah sedini mungkin terjadinya paparan ideologi terorisme, sejak dari anak-anak.

“Ketika ada potensi terjadinya indoktrinasi ideologi radikal pada anak, negara harus hadir untuk mencegahnya. Hal ini bagian dari upaya perlindungan anak yang diamanatkan undang-undang,” kata Wakil Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh di Jakarta, Kamis.

Sebagaimana dijelaskan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai beberapa waktu lalu, Farhan, terduga pelaku terorisme di Solo, adalah “darah biru” teroris, yang merupakan anak kandung Sunarto. Pada saat kejadian upaya tindak pidana terorisme oleh Sunarto, Farhan masih berusia 12 tahun, dan kemudian ia memperoleh pendadaran serta pembinaan dari ayah tirinya, Abu Umar.

“Ini artinya BNPT sudah mengetahui potensi terjadinya transfer ideologi terorisme kepada anak, dan BNPT tidak melakukan langkah-langkah konkret untuk mencegahnya hingga kemudian ia menjadi pelaku. Dalam konteks ini berarti ada pembiaran negara terhadap anak yang terindoktrinasi ideologi kekerasan,” katanya.

Menurut Niam, kasus terorisme yang melibatkan pelaku usia remaja tidak mungkin terjadi tanpa adanya indoktrinasi di saat usia anak-anak, baik di lingkungan keluarga maupun di dalam pergaulannya.

Banyaknya kasus pidana yang dikaitkan dengan terorisme oleh pelaku usia muda, kata Niam, menunjukkan kegagalan negara dalam memutus mata rantai terorisme di Indonesia. Untuk itu, perlu ada pendekatan persuasif, dengan program deradikalisasi berbasis pada keluarga.

“Deradikalisasi yang menjadi program kontraterorisme tidak bisa hanya dilakukan pada orang dewasa. Perlu ada terobosan program yang berbasis keluarga, di mana orang tua disadarkan akan tanggung jawab pada anak”, ujarnya.

Program deradikalisasi hendaknya benar-benar diarahkan untuk memutus mata rantai regenerasi jaringan teroris. Salah satu caranya, dengan mencegah anak-anak dari kemungkinan terpapar penyebaran ideologi radikal oleh jaringan teroris. “Banyak tunas baru teroris itu tumbuh saat usia anak atau remaja belasan tahun. Kita harus memutus mata rantai benih tumbuhnya ideologi kekerasan semacam itu sejak dini,” tambahnya. Niam mengungkapkan, persemaian ideologi kekerasan atau terorisme umumnya tumbuh pada masa anak-anak dan remaja. Untuk itu, diperlukan program untuk menyelamatkan kalangan anak dan remaja dari paparan ideologi kekerasan.

“Tindakan itu dimungkinkan oleh negara dan keluarga sesuai Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” katanya.

Jika ada anak-anak atau remaja yang diketahui potensial menjadi bibit radikalis atau teoris, negara dapat mengambil mereka, menjauhkannya dari jaringan teroris, dan mendidiknya dengan pemahaman keagamaan yang moderat.

“Keluarga, terutama orangtua, harus lebih giat memantau perkembangan perilaku dan pendidikan anak. Jika menemukan tanda-tanda perilaku radikal, orang tua mesti menarik anaknya dari jaringan ideologi kekerasan dan menanamkan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan,” katanya.

Lebih lanjut Niam menjelaskan, jika ternyata paparan ideologi menyimpang itu justru dari orang tua, maka negara harus hadir untuk melindungi anak, meski harus memisahkannya dari orang tua.

sehatnews.com

Perkembangan dan Stimulasi Anak Usia 3 - 6 Bulan

Pada rentang usia 3-6 bulan kebanyakan bayi sudah mulai menunjukkan polah tingkah yang mengundang gemas yang melihatnya, karena pada rentang usia tersebut kondisi fisik sang buah hati sudah mendukung untuk melakukan beragam aktifitas, seperti:
• Berbalik dari telungkup ke telentang
• Mengangkat kepala
• Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
• Menggenggam pensil
• Meraih benda yang ada di dalam jangkauannya
• Memegang tangannya sendiri
• Berusaha memperluas pandangan
• Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
• Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
• Tersenyum ketika melihat mainan / gambar yang menarik saat bermain sendiri.

Perkembangan Aspek Motorik atau Gerak Kasar
Lanjutkan stimulasi berguling-guling dan menahan kepala tetap tegak.

Menyangga berat
Angkat badan bayi melalui bawah ketiaknya ke posisi berdiri. Perlahan-lahan turunkan badan bayi hingga kedua kaki menyentuh meja, tempat tidur atau pangkuan Anda. Coba agar bayi mau mengayunkan badannya dengan gerakan naik turun serta menyangga sebagian berat badannya dengan kedua kaki bayi.

Mengembangkan fungsi kontrol terhadap kepala
Latih bayi agar otot-otot lehernya kuat. Letakkan bayi pada posisi telentang. Pegang kedua pergelangan tangan bayi, tarik bayi perlahan-lahan ke arah Anda, hingga badan bayi terangkat ke posisi setengah duduk. Jika bayi belum dapat mengontrol kepalanya (kepala bayi tidak ikut terangkat), jangan lakukan latihan ini. Tunggu sampai otot-otot leher bayi lebih kuat.

Duduk
Bantu bayi agar bisa duduk sendiri. Mula-mula bayi didudukkan di kursi dengan sandaran agar tidak jatuh ke belakang. Ketika bayi dalam posisi duduk, beri mainan kecil ditangannya. Jika bayi belum bisa duduk tegak, pegang badan bayi. Jika bayi bisa duduk tegak, dudukkan bayi di lantai yang beralaskan selimut, tanpa sandaran atau penyangga.

Perkembangan Motorik atau Gerak Halus
Lanjutkan stimulasi melihat, meraih dan menendang mainan gantung, memperhatikan benda bergerak, melihat benda-benda kecil, serta meraba dan merasakan berbagai bentuk permukaan.

Memegang benda dengan kuat
Letakkan sebuah mainan kecil yang berbunyi atau berwarna cerah di tangan bayi. Setelah bayi menggenggam mainan tersebut, tarik pelan-pelan untuk melatih bayi memegang benda dengan kuat.

Memegang benda dengan kedua tangan
Letakkan sebuah benda atau mainan di tangan bayi dan perhatikan apakah ia memindahkan benda tersebut ke tangan lainnya. Usahakan agar tangan bayi, kiri dan kanan, masing-masing memegang benda pada waktu yang sama. Mula-mula bayi dibantu, letakkan mainan di satu tangan dan kemudian usahakan agar bayi mau mengambil mainan lainnya dengan tangan yang paling sering digunakan.

Makan sendiri
Beri kesempatan kepada bayi untuk makan sendiri, mula-mula berikan biskuitnya sehingga bayi bisa belajar makan biskuit.

Mengambil benda-benda kecil
Letakkan benda kecil seperti remah-remah makanan atau potongan-potongan biskuit di hadapan bayi. Ajari bayi mengambil benda-benda tersebut. Jika bayi telah mampu melakukan hal ini, jauhkan pil, obat dan benda kecil lainnya dari jangkauan bayi.

Perkembangan Aspek Bicara dan Bahasa
Lanjutkan stimulasi berbicara, meniru suara-suara, dan mengenali berbagai suara.

Mencari sumber suara
Ajari bayi agar memalingkan mukanya ke arah sumber suara. Mula-mula muka bayi dipegang dan dipalingkan perlahan-lahan ke arah sumber suara, atau bayi dibawa mendekati sumber suara.

Menirukan kata-kata
Ketika berbicara dengan bayi, ulangi beberapa kata berkali-kali dan usahakan agar bayi menirukannya. Yang paling mudah ditirukan oleh bayi adalah kata papa dan mama, walaupun ia belum mengerti artinya.

Perkembangan Aspek Sosialisasi dan Kemandirian
Lanjutkan stimulasi memberi rasa aman dan kasih sayang, mengajak bayi tersenyum, mengamati, mengayun, dan menina-bobokkan bayi.

Bermain “Ciluk-ba”
Pegang saputangan/kain atau koran untuk menutupi wajah Anda dari pandangan bayi. Singkirkan penutup tersebut dari hadapan bayi dan katakan “ciluk ba” ketika bayi dapat melihat wajah Anda kembali. Lakukan hal ini berulang kali. Yang penting, usahakan bayi tidak dapat melihat wajah Anda untuk beberapa saat dan tiba-tiba wajah Anda muncul kembali dengan gembira dan berseri-seri. Cara lain adalah mengintip bayi dari balik pintu atau tempat tidurnya.

Melihat dirinya di kaca
Pada umur ini, bayi senang melihat dirinya di cermin. Bawalah bayi melihat dirinya di cermin yang tidak mudah pecah.

Berusaha meraih mainan
Letakkan sebuah mainan sedikit diluar jangkauan bayi. Gerak-gerakkan mainan itu di depan bayi sambil bicara kepadanya agar ia berusaha untuk mendapatkan mainan itu. Jangan terlalu lama membiarkan bayi berusaha meraih mainan tersebut, agar ia tidak kecewa.

Oleh : dr. Salma Oktaria

Artikel lainnya:

Si Kecil Sering Corat-coret di Dinding?

Cermati Penyebab dan Sisi Positifnya

Anak-anak umumnya suka menggambar, dan salah satu bidang yang tak pernah luput dari sasaran crayon atau pensil warna mereka adalah dinding rumah. Tak terbilang berapa banyak kertas atau buku gambar yang sudah Anda siapkan untuk anak, namun kelihatannya mereka lebih suka mencoret-coret tembok.

Ketimbang membuat coretan-coretan di buku gambar, anak-anak umur 2-4 tahun tampaknya memang lebih suka membuat karya "masterpiece" di dinding rumah.

"Anak-anak lebih asyik saat menggambar di dinding. Kenapa? Karena saat menggambar di dinding, mereka (merasa) ikut terlibat di dalam kisah yang mereka gambarkan.

Melalui bidang yang lebih luas, mereka lebih bebas menggambar dan masuk ke dalamnya," papar psikolog Tubagus Amin Fa, SPsi, CTL, CH, CHt, Cl, saat bincang santai dengan media di Kidzania, Pacific Place.

Rasa terlibat dalam dunia di dalam gambar itu tidak akan didapat ketika anak menggambar di bidang kertas, demikian menurut psikolog dari Aminfainstitute - Lembaga Riset dan Konsultan Edukasi Berbasis Brain Based and Holistic Learning (Pendidikan Ramah Otak) ini.

Beberapa penelitian menunjukkan alasan lain mengapa anak suka sekali mencoret-coret dinding. Anak-anak yang lebih kecil menjelajahi dinding karena suka mewarnai bidang apa saja.

Hal ini berbeda dengan anak-anak usia 3-4 tahun, di mana perkembangan fisik membuatnya lebih mudah menggambar dengan merentangkan tangan di depannya ketimbang di bawahnya, demikian menurut Becky Bailey, PhD, penulis buku There's Gotta Be a Better Way.

Merasa Lebih Nyaman
Menggambar di dinding memberi posisi yang lebih nyaman, karena memungkinkan kontrol tangan dan mata yang lebih baik. Dengan cara ini, menggambar menjadi jauh lebih menyenangkan bagi si kecil.

Menggambar di meja akan mulai menyenangkan ketika anak baru lepas dari taman kanak-kanak.

Nah, sebelum anak menyelesaikan TK-nya, Anda mungkin memang harus merelakan dinding rumah menjadi ekspresi kebebasan anak. Tentu, Anda bisa mengurangi coretan pada dinding ruang tamu atau ruangan lain dengan berbagai macam cara:
* Anda bisa menyiapkan dinding kamar anak sendiri sebagai tempat untuk menggambar sepuasnya.
* Lapisi dinding dengan kertas yang lebar sebagai media untuk menggambar, sehingga tinggal diganti ketika bidang kertas sudah penuh.
* Siapkan penyangga untuk menaruh kertas-kertas gambarnya (seperti yang digunakan untuk presentasi).
* Atau, biarkan ia menggambar sambil berbaring di lantai, jika ia merasa kurang nyaman jika menggambar di meja.

(Felicitas Hermandini)



Artikel lainnya:

Beban Pelajaran Meningkat, Anak Bisa Sakit Jiwa

Psikiater Prof Dr dr LK Suryani SpKJ berpandangan, dewasa ini terjadi kecenderungan semakin muda usia penderita sakit kejiwaan karena anak-anak tidak siap menerima beban pelajaran di sekolah.

Suryani yang juga pendiri dan Direktur “Suryani Institute for Mental Health” itu di Denpasar, Kamis, mengatakan, berdasarkan hasil penelitiannya dan kunjungan ke tempat praktiknya, sudah ada anak SD yang mengalami gangguan jiwa.

Menurut dia, penyebab terbesarnya karena beban pelajaran sekolah, anak-anak dituntut cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Apalagi ditambah mereka harus belajar di sekolah hingga sore hari.

“Tetapi sayangnya guru tidak mau mendidik, maunya mengajar saja,” ujarnya.

Ia berharap para guru memahami perkembangan mental anak, jangan memaksa belajar, tetapi hendaknya membuat murid TK serta siswa SD dari kelas I sampai III terangsang mempunyai semangat belajar, mau belajar, dan berani berbicara.

“Sekarang terlalu sedikit waktu santai untuk anak-anak, bahkan TK sudah les. Idealnya sampai kelas III tidak ada PR. Bukankah tidak jarang yang mengerjakan PR pembantu dan orang tua agar anaknya tidak malu?” katanya.

Dengan gaya hidup seperti itu, ketika dewasa, mereka umumnya untuk bangun pagi saja harus dibangunkan dan malas ke kantor serta tidak bisa mengurus diri sendiri.

“Di dalam mendidik, seyogyanya guru jangan menganggap anak sudah tahu macam-macam sehingga tidak perlu dididik calistung. Harusnya anak-anak juga diajak menyanyi dan bercerita untuk mengekspresikan emosi,” katanya.

Lewat cerita, lanjut dia, juga untuk memasukkkan nilai baik dan buruk karena para orang tua tidak ada waktu bercerita. Hingga usia 10 tahun adalah masa untuk membuat anak mampu melihat situasi.

“Jika dapat memberikan pendidikan tanpa beban pada anak dan mereka senang, di sanalah akan ada harapan punya masa depan. Kalau orang tua sering ribut apalagi terjadi sejak dalam kandungan, hal itu akan menyulut gangguan jiwa pada anak-anak,” ujarnya.

Di sisi lain, ia melihat kecenderungan para orang tua menuntut agar anaknya paling hebat secara akademis, padahal pandai saja sebenarnya tidak cukup. Justru menjadikan anak mandiri dan kreatif jauh lebih penting. Ia tidak memungkiri, memang jika punya anak kreatif berat, anak akan banyak protes dan nakal.

“Seyogyanya biarkan anak berkembang, belajar apa yang diperlukan anak, dan jangan orang tua justru memaksakan kehendak. Adakan waktu ngobrol saat makan dan sebelum tidur,” kata Suryani.

sehatnews.com


Artikel lainnya:
Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak

Banyak Ortu Akui Jarang Temani Anak Nonton TV

Hingga saat ini banyak orang tua mengakui jarang menemani anaknya menonton televisi sehingga dikhawatirkan tayangannya berdampak negatif bagi mereka.

Salah seorang pedagang makanan di Kebon Kacang, Jakarta, Selasa, Suiyah, mengaku sering tidak menemani putrinya yang berusia 12 tahun menonton televisi karena sibuk menjaga warung hingga malam hari.

“Saya hanya sempat menemani anak menonton televisi pada malam hari tetapi sebenarnya saya juga merasa cemas karena banyak presenter televisi di acara komedi dan musik yang sering mengatakan hal tidak sopan dan kata-kata kasar,” katanya.

Suiyah juga menyadari bahwa anak-anak bisa meniru adegan yang ada dalam tayangan televisi. Tetapi, ia selalu berusaha memantau tayangan apa saja yang ditonton oleh putrinya.

Hal serupa juga diakui oleh seorang pedagang di sebuah pusat perbelanjaan, Rahayu yang jarang menemani putra-putrinya menonton televisi.

Ibu dua anak ini mengatakan, kesibukannya berdagang membuatnya waktunya terbatas untuk menemani anak-anaknya menonton televisi.

“Biasanya anak-anak nonton film kartun, film laga dan berita. Karena saya baru pulang pukul 19.30 WIB, saya baru bisa menemani anak-anak pada malam hari sekaligus berkumpul bersama keluarga,” ujar perempuan asal Indramayu ini.

Sementara itu, berbeda dengan seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta, Noor Qodri, mengatakan, meskipun ia hanya sempat menemani anak-anaknya menonton televisi pagi dan malam hari serta pada akhir pekan, ia berusaha memberikan wawasan mengenai tayangan mana yang baik untuk anaknya.

“Mereka lebih menyukai acara anak-anak seperti kartun dan acara yang menyajikan ilmu pengetahuan. Tetapi mereka juga suka menonton sinetron remaja yang sebenarnya bukan untuk anak-anak,” kata Noor.

Noor mengemukakan, setiap tayangan televisi memiliki dampak positif maupun negatif. Tetapi itu semua bergantung pada isi pesan yang akan disampaikan dan bagaimana acara tersebut dikemas. Stasiun televisi seharusnya membuat dan mengemas tayangannya dengan serius.

Berkembang cepat
Senada dengan pendapat Noor, salah seorang pengunjung pusat perbelanjaan, Lilis, mengatakan, banyak tayangan televisi yang kurang mendidik dan adegan yang seharusnya disensor, seperti pada program sinetron.

“Pola pikir anak-anak menjadi berkembang lebih cepat dan mereka jadi cepat dewasa karena sering menonton sinetron,” kata Lilis.

Lilis berpendapat, pengaruh media massa sangat besar sehingga orang tua juga harus tetap mengawasi dan memperhatikan perkembangan anak-anak mereka, terutama ketika menonton televisi.

Komisioner Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Nina Mutmainnah Armando sebelumnya, mengatakan anak perlu pendampingan orang tua ketika menonton televisi untuk mencegah pengaruh negatif tayangan televisi terhadap anak-anak.

“Anak-anak sangat mudah meniru apa yang mereka tonton di televisi. Orang tua harus bersikap kritis terhadap tayangan televisi agar bisa menentukan tayangan yang tepat untuk anak mereka,” kata Nina.
sehatnews.com


Artikel lainnya:

Prev home