Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan

Mendidik dan Berkomunikasi dengan Anak-anak

Orangtua zaman sekarang semakin disibukkan dengan pekerjaan, komunikasi dengan anak-anak merupakan suatu pola pendidikan yang efektif dan praktis. Komunikasi yang baik dapat membantu mengembangkan rasa percaya diri anak-anak, rasa harga diri dan hubungan yang baik dengan orang lain, yang dapat membuat hidup anak-anak-anak menjadi lebih menyenangkan, dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain dalam proses pertumbuhannya kelak di kemudian hari.

Komunikasi antara orang tua dengan anak dapat membantu mengembangkan kemampuan bahasa anak-anak

Perkembangan keterampilan berbahasa merupakan tonggak penting dalam pertumbuhan anak-anak. Keterampilan sosial maupun perkembangan inteligensi anak erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan bahasa. Mandeknya perkembangan bahasa dapat menyebabkan anak-anak menutup diri, kesulitan belajar dan masalah lainnya. Banyak orangtua percaya bahwa anak-anak belajar bahasa adalah proses otomatis, sebenarnya itu tidak benar, sejak bayi itu lahir ke dunia sudah mulai belajar bahasa.

Mendengar orangtua bicara dan berbicara dengan mereka merupakan pola utama anak-anak belajar bahasa. Ketika sebuah huruf, kata, kalimat diucapkan secara berulang kali, maka bahasa reseptif berpola pasif ini perlahan-lahan akan menjadi bahasa aktif anak-anak (kosakata Aktif), yaitu bahasa yang dapat digunakan anak-anak. Studi terkait menyebutkan, bahwa sebelum seorang anak bisa mengucapkan sepatah kata minimal harus mendengar 500 kali kata ini. Ini berarti orangtua harus menciptakan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk mendengar percakapan.

Selain itu, dalam percakapan dengan anak-anak, orangtua juga dapat membantu anak-anak menemukan kosakata dan kalimat yang menyatakan pandangan individu, memperbaiki kesalahan dan memperluas kapasitas kosa kata mereka, menjelaskan kepada mereka terkait kata-kata dan ungkapan yang belum dipahami, hal ini akan sangat meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Komunikasi antara orangtua dengan anak dapat membantu untuk memahami anak, membangun hubungan yang baik antara orang tua - anak

Saat anak-anak masih kecil, dimana jika orangtua dan anak-anak membangun sebuah hubungan yang akrab, dapat membantu anak-anak mencari bantuan Anda ketika menghadapi masalah dan kekecewaan. Sebagai orangtua juga akan menjadi lebih peka terhadap perubahan suasana hati. Hubungan yang terjalin akrab/harmonis antara orangtua dengan anak dapat meminimalkan masalah kesehatan mental dalam proses pertumbuhan anak-anak.

Orangtua sebaiknya sungguh-sungguh mendengarkan perkataan anak-anak, karena itu adalah proses mengekspresikan pikiran, pendapat dan perasaan mereka. Meskipun terkadang tidak begitu jelas dengan apa yang mereka ungkapkan, tapi mengandung banyak informasi. Dan dalam proses ini, memungkinkan orangtua untuk lebih memahami kepribadian, karakter dan proses pertumbuhan anak-anak.

Dialog yang sederajad, harmonis dan penuh dorongan dapat membuat anak-anak lebih percaya diri dengan kemampuan bahasa dan presentasi mereka, membangun rasa percaya diri, dapat membantu Anda memperbaiki perilaku buruk mereka, menghantarkan rasa sayang dan perhatian. Akan lebih dapat menyampaikan informasi yang kuat saat terjadi dialog yang bertentangan, yakni bahwasannya masalah atau pertentangan itu dapat dibicarakan secara terbuka dan dapat diselesaikan dengan baik.

Komunikasi antara orangtua dengan anak bermanfaat dalam membimbing dan membantu anak-anak

Bagi anak-anak yang lemah di dunia ini, banyak hal yang kompleks dan penuh tantangan. Banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh mereka atau bahkan membuat mereka sedikit cemas dan takut. Orangtua dapat belajar memahami sejumlah tanda tanya dan hal yang tidak dipahami anak-anak dalam percakapan mereka, kemudian menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang bisa dipahami mereka.

Terbayang dalam benak saya, mobil suami saya ditabrak orang, sebelah pintu mobil penyok. Setiap melihat mobil itu, sang anak selalu bertanya kepada papanya : "Mobilnya kenapa pa ?" Dan setiap kali itu juga saya menjelaskan saja seadanya, kemudian saya memberitahu anak saya, mobil itu bilang : "terlalu sakit rasanya, lain kali hati-hati ya bawa mobilnya, kalau tidak saya akan celaka." Anak-anak pun mengingatnya dan kerap mengingatkan saya agar hati-hati saat membawa mobil, jangan terlalu cepat, "mobil kan bisa sakit juga" demikian katanya. Kecelakaan yang mengerikan tidak tertanam dalam benak anak-anak, justru sebaliknya mengingatkannya untuk berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu, jika tidak akan ada kerugian yang tidak diharapkan.

Terkadang orangtua tiba-tiba merasa suasana hati anak-anak menjadi buruk, mudah marah, gelisah, menggerutu. Kesampingkan beberapa faktor eksternal, seperti lelah, haus atau lapar dan faktor eksternal lainnya, mungkin pernah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkannya di sekolah atau tempat lain. Jika Anda bisa perlahan-lahan menanyakan kepadanya, mungkin akan ditemukan beberapa penyebabnya.

Menciptakan setiap kesempatan

Anak-anak sibuk, orangtua juga sibuk. Mungkin sulit menemukan kesempatan yang baik untuk duduk bersama dan berbicara sejenak dengan anak-anak. Jadi manfaatkan setiap kesempatan yang ada dalam rutinitas Anda, pembicaraan (tukar pendapat) yang sederhana setiap saat dengan anak adalah suatu cara pendekatan yang lebih praktis. Manfaat seperti akan membuat anak merasa Anda itu orang yang terbuka, selalu meyambut setiap saat dan kapan saja untuk bicara dengan mereka, dan Anda suka bicara dengan mereka.

Misalnya, saat menonton televisi bersama-sama, ambil tema dari program TV sebagai bahan pembicaraan, Anda bisa bahas sejenak alur cerita yang ditonton bersama anak Anda barusan, bimbing anak Snda untuk belajar hal-hal positif dari program TV tersebut. Selain itu, saat makan di dalam mobil, waktu bercerita sebelum tidur atau saat berjalan santai, adalah kesempatan yang baik bagi Anda untuk berbincang-bincang atau sekadar ngobrol dengan anak-anak.

Perhatikan cara bertutur kata

Jika para orangtua dapat menerima segalanya anak-anak, baik itu berupa kekurangan atau kelebihan mereka, dapat membuat komunikasi antar orangtua dengan anak menjadi lebih mudah menyatu. Seorang anak yang diterima orangtuanya akan lebih mudah membuka dirinya. Sebaliknya, cara bicara yang bersifat perintah, sindiran, ejekan, celaan, dan teori panjang lebar justru akan membuat anak semakin menjauhkan diri dari Anda.

Misalnya, Dan berkata kepada ibunya "Ma, aku takut tidur sendirian."

Ibu A mengatakan : "Dasar kamu ini, sudah besar masih saja seperti bayi, tidak ada yang perlu ditakutkan."

Ibu B mengatakan : "Ibu tahu kamu takut, ibu akan menyalakan lampunya, dan membiarkan pintunya terbuka."

Jika Anda seorang anak, manakah yang Anda pilih?

Asal tahu saja, orangtua hendak berkomunikasi dengan anak, bukan pembicaraan orangtua terhadap anak. Komunikasi dengan anak seharusnya adalah percakapan dua arah, yang berarti mendengarkan apa yang mereka katakan. Sementara bicara dengan anak adalah suatu percakapan tunggal, hanya menanamkan pandangan individu kepada mereka. Komunikasi dua arah ini sangat penting terhadap anak yang lebih besar. Satu lagi point penting lainnya, bahasa yang penuh dengan cinta, dorongan semangat dan rasa hormat dapat membantu anak-anak berbuat lebih baik

10 tips untuk komunikasi antar orang tua dengan anak

  1. Dimulai sejak awal.
  2. Berbicara dengan anak terlebih dahulu.
  3. Menciptakan sebuah lingkungan yang terbuka.
  4. Ungkapkan nilai-nilai pandangan Anda sendiri kepada anak-anak.
  5. Dengarkan apa yang mereka bicarakan.
  6. Harus tulus dan jujur.
  7. Sabar.
  8. Manfaatkan setiap kesempatan untuk berkomunikasi.
  9. Sekali, sekali lagi dan lagi.
  10. Ungkapkan dengan bahasa cinta dan rasa hormat.
(Epochtimes/Jhoni/Yant)

7 Cara Memotivasi Anak agar Gemar Belajar

Pemerintah mengatur bahwa anak-anak wajib mengenyam pendidikan formal, baik di sekolah swasta maupun sekolah negeri. Apapun jenis sekolah yang dipilih orangtua sebenarnya tidak selalu menjamin anak akan menikmati waktu belajarnya. Di sinilah tugas Anda untuk menumbuhkan rasa gemar belajar pada sang buah hati.

Rasa bosan dan jenuh belajar pada anak, bisa jadi disebabkan oleh karena proses belajar mengajar yang diterapkan di sekolah terasa kaku dan membebani. Maka dari itu, Anda sebagai orangtua perlu menerapkan kebiasaan dan acara belajar yang lebih santai serta menyenangkan, baik di rumah atau di luar rumah. Tujuannya agar si kecil bisa berkonsentrasi pada mata pelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Seperti dikutip dari Hello Beautiful, berikut tujuh memotivasi keinginan belajar anak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Membantu mempersiapkan kebutuhan sekolah si kecil
Masa awal bersekolah membuat si kecil bersemangat dengan aktivitas baru hariannya tersebut. Tak ayal, membuat mereka lupa untuk membenahi perlengkapan sekolahnya. Sebagai orangtua yang baik, bantulah anak untuk menyiapkan kebutuhan belajarnya di kelas, seperti merapikan buku, mengatur kotak pensil, melengkapi seragam sekolah, dan sepatu. Tujuannya agar pada pagi hari tidak ada keributan dan kerusuhan hanya karena buah hati tidak dapat menemukan topi sekolahnya untuk upacara.

Nah, untuk melatih rasa tanggung jawab dan kemandirian anak, libatkan si kecil saat Anda mempersiapkan kebutuhan sekolahnya. Agar di kemudian hari, mereka bisa melakukannya sendiri.

Jangan pelit memberikan pujian
Orangtua mana yang tidak menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka, tak terkecuali Anda. Namun, jangan menekan dan membebani anak untuk memberikan yang terbaik versi Anda. Saat nilai ujian si kecil di luar ekspektasi Anda, alih-alih memarahinya, berikanlah pujian. Rasa percaya diri pada anak berasal dari penilaian keluarga intinya pada mereka. Melihat reaksi orangtua yang positif akan menumbuhkan keinginan pada dirinya untuk memberikan yang lebih baik untuk Anda.

Memberikan pujian juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang berkesan dan membangkitkan harga diri anak.

Dukung kreativitas anak
Selain pendidikan formal, dukung anak untuk mengembangkan minatnya di bidang lain, seperti bermain musik, menggambar, menari, melatih kemampuan berbahasa internasional, dan sebagainya. Bangun kreativitas anak dan arahkan bakat mereka dengan cara yang layak dan edukatif. Sebab, anak yang kreatif biasanya memiliki jiwa empati dan daya tangkap otak yang lebih baik dibandingkan anak yang pintar hanya berlandaskan teori.

Terapkan demokrasi pada pola asuh anak
Apa yang menjadi minat anak? Biarkanlah mereka membicarakanya pada Anda, dampingi si kecil saat ingin mengeksplorasi talentanya tersebut. Latih anak untuk mengekpresikan keinginannya lewat cara berdiskusi dengan Anda.

Bila Anda merasa masih terlalu dini untuk si kecil beropini, maka Anda telah melakukan kekeliruan. Sebab anak yang terlatih untuk berdiskusi dan mengeluarkan pendapatnya sedari kecil, maka kelak mereka dewasa akan tumbuh sebagai seorang pemimpin yang bijak dan berpikiran terbuka.

Ciptakanlah suasana belajar yang menyenangkan dan santai
Proses belajar tidak harus berada di dalam kelas, bukan? Maka dari itu, tumbuhkanlah rasa ingin tahu yang tinggi dalam diri anak Anda. Biasakan mereka untuk berani bertanya saat tidak mengerti tentang sesuatu, biarkan dia mengeksplorasi dan mencerna jawaban yang Anda berikan sesuai dengan kemampuan berpikir yang mereka miliki.

Tumbuhkan kebiasaan membaca pada anak
Meskipun era teknologi menawarkan penyajian informasi dalam kemasan yang lebih praktis dan instan. Namun, jangan meniadakan kegiatan membaca dalam keluarga Anda. Sebaliknya, aturlah waktu membaca bersama di rumah. Anda dan suami membaca buku pilihan masing-masing, dan anak membaca buku sesuai usianya. Ingat, sebelum anak mengadaptasi kebiasaan dari lingkungan sosial, mereka meniru apa yang dilakukan oleh orangtua terlebih dulu. Maka dari itu, perlihatkan perilaku terpuji dan inspiratif saat bersama si kecil.

Komunikasi yang hangat tanpa beban
Setelah makan malam bersama keluarga, sebelum waktunya belajar, coba biasakan mengajak anak membicarakan soal kegiatannya selama di sekolah dan saat di rumah sewaktu Anda masih berada di kantor. Cara ini dapat membangun rasa percaya anak pada Anda, bahwa lain waktu mereka memiliki masalah, Anda akan menjadi orang pertama yang mereka ajak bicara!

Selamat mencoba!


KOMPAS.com| Penulis: Syafrina Syaaf | Editor: Syafrina Syaaf | Sumber: Hello Beautiful


Artikel lainnya:

Jangan Asal Ikuti Kebiasaan Minum Obat

Orang tua kerap seperti "hilang akal" saat anaknya sakit. Akibatnya orang tua akan membeli obat dan menuruti saran apa pun asal anaknya se
mbuh. Termasuk anjuran atau kebiasaan konsumsi obat yang tidak sepenuhnya benar. Padahal beberapa kebiasaan berisiko menyebabkan obat tidak terserap sempurna.

Ada beberapa anjuran yang sebaiknya tidak dituruti meski sudah jadi kebiasaan. Orangtua tidak boleh asal nurut, dan harus menanyakan pada dokter bagaimana cara mengonsumsi obat yang benar, kata dokter spesialis anak, Wiyarni Pambudi, dalam kelas parenting, New Parent Academy, Minggu (23/3/2014).

Setidaknya ada lima saran atau kebiasaan umum yang harus ditanyakan sebelum mengonsumsi obat:

1. Minum obat setelah makan Tidak semua obat bisa diminum setelah makan. Beberapa obat ada yang dikonsumsi sebelum makan, misalnya untuk pencernaan. Hal ini sama seperti konsumsi suplemen vitamin B. Suplemen vitamin B harus dikonsumsi sebelum makan supaya bisa terserap usus dengan sempurna. Jika makan dulu maka penyerapan vitamin B akan terganggu, kata Wiyarni.

2. Minum obat tiga kali sehari Frekuensi minum obat, terang Wiyarni, seharusnya dijelaskan dengan aturan jam bukan kuantitas. Aturan jam memungkinkan obat terserap tubuh dengan baik dan menghindarkan salah pengertian pada pasien. "Kalau aturan tiga kali sehari maka bisa saja pasien minum sesuai dosis pada satu waktu. Cara konsumsi obat seperti itu tentu salah. Karena itu lebih baik dikatakan minum obat 8 jam sekali, kata Wiyarni.

3. Pemberian sediaan sirup dengan sendok teh Anjuran tersebut kerap ditemukan pada kemasan obat yang dijual bebas atau over the counter (OTC). Menurut Wiyarni, pemberian anjuran tersebut tidak tepat karena tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama terkait ukuran sendok teh. Bila dosis yang dikonsumsi tidak tepat, maka pasien akan sulit sembuh dari sakitnya. Pemberian obat sediaan sirup lebih baik diberikan dalam ukuran volume, misal ml atau cc, dengan gelas ukur atau sendok tertentu yang sudah disediakan produsen obat.

4. Konsumsi obat sampai habis Tidak semua obat harus dikonsumsi sampai habis, misalnya antibiotik sediaan sirup untuk bayi dan anak. Sediaan sirup membutuhkan 15-20 hari sebelum habis, padahal sebelum habis biasanya anak sudah sembuh. Sebaiknya tanyakan sampai kapan harus mengonsumsi obat tersebut. Bila tidak juga sembuh sampai hari yang ditentukan maka konsultasikan kembali dengan dokter, kata Wiyarni.

5. Obat diberikan sebagai bentuk pencegahan Obat tidak diberikan untuk pencegahan. Konsumsi obat bertujuan untuk menyembuhkan pasien yang sudah sakit. Paracetamol misalnya, hanya diberikan bila suhu mencapai 38,5 C. Jika belum mencapai suhu itu maka paracetamol tidak memberi manfaat untuk menurunkan panas, kata Wiyarni.

Selain lima kebiasaan tersebut, Wiyarni juga menyarankan orangtua tidak memberi obat dengan asal minum, oles, atau tetes. Tiap pemberian obat harus sesuai sasaran dan dosis pemberian. Wiyarni mencontohkan pemberian obat tetes mata biasanya diberikan di kornea. Padahal pemberian obat tetes seharusnya di bagian kantung mata, untuk menyembuhkan iritasi atau gatal.

Bila obat diberikan dalam jangka panjang, maka orangtua harus tahu indikasi dan manfaat bagi anak. Meski obat tidak menimbulkan ketergantungan, beberapa jenis suplemen ternyata menimbulkan adiksi. Misal penambah daya tahan tubuh atau Immunoglobulator.

KOMPAS.com | Penulis: Rosmha Widiyani | Editor: Wardah Fajri



Artikel lainnya:

Cara Sederhana Stimulasi Anak untuk Bicara

Perkembangan kemampuan berbicara pada diri setiap anak tidaklah sama. Ada anak yang perkembangan berbicaranya cepat, namun ada juga yang lambat dan membutuhkan stimulasi berulang-ulang agar dia mau bicara. Sebagai orang tua, tentunya kita menginginkan yang terbaik untuk anak tercinta. Kita, termasuk dalam perkembangan bicaranya. Dalam berbagai kasus sering ditemui anak yang belum pandai bicara dibanding dengan anak seumurnya, ada juga yang tidak menanggapi ketika diajak berbicara, kasus lain menunjukkan bahwa si anak tidak bicara namun mengerti apa yang dibicarakan orang lain. Kalau sudah begitu orang tua pasti merasa resah dan ingin agar buah hatinya segera mengeluarkan celotehnya. Nah, berikut ini beberapa cara sederhana untuk menstimulasi anak Anda untuk bicara:
  • Pengulangan. Semakin banyak anak Anda mendengar sebuah kata, semakin besar kemungkinan baginya untuk meniru kata tersebut. Jadi, banyak-banyaklah mengulang sebuah kata ketika Anda berbicara dengannya, misalnya ketika Anda ingin mengajaknya bermain bola, katakan kepadanya “Kamu ingin bermain bola?”, sambil Anda menggemgam bolanya dan meletakkannya di hadapan muka dia. Lalu katakan lagi, “Siap-siap ya, ini dia bolanya datang”, sambil Anda menggulirkan bola itu ke arahnya, kemudian katakan lagi “Ayo Sayang, tangkap bolanya!”. Nah, dalam waktu beberapa detik Anda telah mengulang kata “bola” sebanyak tiga kali, bukan? Semakin banyak dia mendengar kata itu, maka akan semakin besar kemungkinan dia untuk meniru dan akhirnya mengatakan kata “bola”. Anda bisa mencoba hal yang lain lagi, intinya di masa awal kehidupannya seorang anak memulai masa belajarnya dengan cara meniru dari orang-orang di sekitarnya, jadi perbanyaklah kesempatannya untuk bisa mendengar kata-kata baru di setiap waktunya.
  • Banyaklah berbicara pada Anak Anda. Katakan setiap hal kepadanya, misalkan di saat pagi, “Hari ini Kita sarapan bubur Ayam ya Sayang”. Di kesempatan lain, misalkan saat Anda dan dia menonton TV, ceritakan apa yang Anda dan dia sedang tonton, kemudian setelah itu ceritakan lagi apa yang baru saja kalian tonton. Kalau bisa, di sepanjang hari yang Anda lalui bersamanya isilah dengan perbincangan mengenai hal apapun yang kalian lalui bersama.
  • Bergantian dalam berbicara. Berbicaralah kepada buah hati Anda, lalu berikan dia waktu untuk gantian berbicara kepada Anda. Jika belum juga berhasil memancingnya berbicara, maka terus ulangi namun dengan situasi yang berbeda-beda, misalkan pada saat kalian bermain atau saat makan tiba.
  • Tatap mata Anak Anda saat berbicara padanya. Saat berbicara pada si buah hati, tataplah matanya sesering mungkin. Dari hal itu, dia akan belajar berbicara dari ekspresi wajah yang Anda tunjukkan. Untuk beberapa anak, hal itu mungkin akan banyak membantu dalam proses belajarnya berbicara.
  • Beri dia pilihan. Misalkan ketika Anda membelikan dia wafer atau keripik, berikan kesempatan kepadanya untuk memilih yang dia inginkan untuk dimakan sambil Anda menyodorkan kedua pilihan tersebut pada anak Anda. Tunjukkan padanya yang mana wafer dan yang mana keripik, terus stimulasi dia untuk bisa menentukan pilihannya.
  • Saat berbicara dengan anak, berikan dia waktu untuk bisa merespon apa yang Anda katakan. Berikan dia kesempatan untuk bisa mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, jika dia mau berusaha, Anda akan melihat usahanya untuk bisa mengatakan sesuatu meskipun yang Anda dengar hanya ocehan, mungkin saja itu sebuah kata darinya. Ingat selalu untuk mengulang-ulang stimulasi yang anda berikan.
  • Bacakan sebuah buku untuk anak Anda dimana ada satu atau dua gambar pada halamannya. Setelah itu, tanyakan kepadanya sebuah pertanyaan yang jawabannya bisa dijawab secara verbal atau dengan menunjuk sebuah gambar. Usahakan untuk tidak terlalu memberikan tekanan padanya untuk bisa menjawab pertanyaan Anda.
  • Berikan anak Anda pujian ketika dia berhasil mengeluarkan sebuah kosa kata dari mulutnya. Hal itu akan membuatnya merasa dihargai meski hanya mengatakan “ba”, dan selanjutnya dia akan lebih berusaha lagi untuk bisa mengeluarkan banyak kosa kata.
  • Cari tahu seberapa jauh orang lain mengerti apa yang anak Anda katakan, dengan begitu Anda bisa mengukur sudah sejauh mana kemajuannya dalam berbicara. Anda juga bisa merencanakan hal-hal apa lagi yang masih perlu dilakukan untuk menstimulasi kemampuannya dalam berbicara.
Tetap tenang dan selalu optimis ya dalam menstimulasi buah hati Anda mengembangkan kemampuan bicaranya. Semoga bermanfaat!

Sumber : informasitips.com


Artikel lainnya:

7 Kiat Sukses Jadi 'Anak Baru' di Kantor

Menjadi anak baru di kantor memang bukanlah hal yang mudah. Jangan terjerumus dalam hal-hal kecil yang bisa membuat anda diasingkan. Pelajari 7 tips berikut ini.

Setelah melalui proses rekrutmen yang menantang, kini saatnya Anda memasuki kantor baru. Seperti apa teman kerja, lingkungan, dan apakah mereka akan menyukai Anda tentunya membuat hati berdebar-debar.

Jangan khawatir, selalu ada cara agar Anda mudah diterima. Ingat, jangan hanya fokus ke diri Anda tapi juga perhatikan lingkungan dan teman sekerja.

1. Cara Berpakaian
Anda adalah anak baru di kantor. Jangan berharap teman sekerja langsung bisa mengenali kepribadian Anda. Penampilan luar merupakan salah satu poin kesan pertama Anda. Gunakan pakaian yang pantas dan tidak berlebihan di hari pertama bekerja. Seperti apa gaya berbusana di kantor baru bisa Anda pelajari saat datang wawancara atau ketika proses rekrutmen di kantor tersebut. Jika Anda belum pernah sama sekali mengunjungi kantor Anda, tak ada salahnya memilih pakaian yang lebih rapih ketimbang yang lebih santai. Ini adalah momen untuk menciptakan kesan pertama, pastikan pakaian yang dipilih bisa memberi gambaran seperti apa kepribadian Anda di tempat kerja. Jangan menggunakan aksesori atau makeup berlebihan yang seakan meminta perhatian. Bisa jadi hal tersebut malah membuat Anda menjadi bahan omongan miring di tempat kerja baru.

2. Budaya Kantor
Mempelajari seperti apa budaya kantor baru Anda sangatlah penting. Ada kantor yang santai, formal, atau kombinasi antara keduanya. Pastikan Anda mempelajari dulu seperti apa budaya kantor Anda dari perilaku teman-teman sekerja, hubungan teman sekerja dengan atasan, dan sebaliknya. Ada kantor yang Anda bisa dengan santai menghampiri meja bos untuk berdiskusi, ada juga kantor yang bahkan Anda tak akan punya kesempatan untuk berbicara dengan bos besar Anda. Anda tentunya tak mungkin mengingat banyak hal dalam waktu yang singkat. Gunakan catatan untuk mengingat hal-hal yang penting.

3. Kepribadian yang Positif
Dalam proses bekerja, suatu saat Anda pasti membutuhkan bantuan rekan kerja. Jangan bangun dinding yang tinggi pada hari pertama kerja. Sapa rekan kerja yang Anda temui dengan senyum. Untuk awal, cukup sapa dengan senyum atau hai. Tak perlu terlalu keras berusaha mengobrol seakan Anda sudah mengenal mereka lama. Terlalu 'sok akrab' malah akan membuat Anda dijauhi di tempat kerja. Biarkan hubungan Anda tumbuh secara alami lewat proses interaksi sehari-hari. Pada masa-masa awal kerja, jika ada ajakan untuk hang-out selepas kerja, usahakan untuk ikut serta. Lewat kesempatan yang lebih santai tersebut Anda bisa mengenal rekan kerja lebih jauh dan mengakrabkan diri. Usahakan untuk seimbang dalam mendekati berbagai jenis rekan kerja. Terlalu banyak mendekati rekan kerja laki-laki atau terlalu memilih mendekati atasan akan membuat Anda cepat jadi bisik-bisik kantor.

4. Mengingat Nama & Posisi
Ini merupakan hal yang penting untuk membangun kesan pertama. Usahakan untuk mengingat nama teman sekerja Anda, minimal yang satu bagian atau divisi. Anda juga bisa membuat semacam peta nama agar mudah mengingat. Gambar secara umum posisi duduk dan tulis nama teman Anda untuk memudahkan mengingat. Pilih satu atau dua orang yang Anda ingat betul, lalu minta bantuan mereka untuk mengingat nama-nama teman lainnya. Mengetahui posisi orang tersebut di perusahaan juga penting. Jangan sampai sikut-sikutan di lift dengan rekan sekerja yang ternyata salah satu orang penting di perusahaan Anda. Memang tidak mudah untuk melakukan hal tersebut dalam minggu pertama. Lakukan bertahap dimulai dari orang yang paling sering berinteraksi dengan Anda.

5. Bantu & Inisiatif
Salah satu cara untuk mudah disukai di tempat kerja baru adalah menjadi rekan kerja yang senang membantu dan berinisiatif. Tentunya lagi-lagi jangan berlebihan. Pastikan pekerjaan Anda tetap bisa diselesaikan walau harus membantu tugas rekan kerja. Jika pekerjaan Anda sudah selesai, jangan hanya berdiam diri dan menunggu penugasan selanjutnya. Tanyakan kepada atasan atau rekan kerja apa yang bisa Anda lakukan atau siapa yang bisa Anda bantu.

6. Semangat Bekerja
Pernah saya memiliki rekan baru yang selalu datang telat dan sering pulang cepat. Hal tersebut tentunya bukan hal yang tepat untuk memberi kesan pertama yang baik. Usahakan selalu datang sedikit lebih cepat jika memungkinkan dan pulang setelah waktunya atau sudah ada rekan kerja lain yang pulang. Pelajari dulu bagaimana kebiasaan kantor baru Anda. Ada kantor yang karyawannya tidak pulang sebelum bosnya pulang. Ada juga yang bebas pulang pergi asal pekerjaan selesai. Untuk bulan-bulan awal selama Anda masih masa penilaian, usahakan selalu tepat waktu saat datang dan berkontribusi lebih. Setelah mempelajari kebiasaan perusahaan, pelan-pelan Anda bisa menyesuaikan diri. Salah satu kesan pertama yang harus dihindari adalah malas!

Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah meminimalisir kepentingan pribadi pada jam kerja. Usahakan sesedikit mungkin chatting, membuka situs jejaring sosial, atau izin untuk hal-hal yang tidak terlalu penting.

7. Hindari Bergosip
Godaan terlibat bergosip memang kadang susah ditolak. Untuk masa-masa awal sebaiknya hindari terlibat dalam kegiatan pergosipan. Jangan sampai citra Anda sebagai anak baru menjadi miring karena ikut-ikutan berkomentar dan terlibat dalam tim gosip. Sebagai anak baru, sebaiknya perbanyakan teman daripada lawan.
Puteri Fatia



Artikel lainnya:

10 Tips Cara Melatih Anak Cerdas Emosi

1. Ajar anak mengubah tuntutan menjadi pilihan. Katakan padanya tidak ada alasan keinginannya harus selalu dipenuhi dan marah-marah. Beri anak pujian bila ia dapat mengendalikan kemarahannya.
2. Latih anak untuk menyatakan kebutuhan secara asertif (tegas), tetapi tidak ada jaminan ia akan mendapatkannya.
3. Biarkan anak mengungkapkan dan bertanggung jawab atas setiap perasaan yang dialaminya. Dengan begini ia juga bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Hindari menyalahkan anak saat Anda sendiri marah.
4. Dorong anak untuk mengembangkan hobi dan minatnya yang dapat memberinya waktu luang dan kemandirian.
5. Biarkan anak menyelesaikan sendiri pertikaian antara dia dengan saudara atau temannya.
6. Bantu anak bertoleransi terhadap gangguan orang lain. Ajarkan pula bagaimana menghindari gangguan, misalnya diolok-olok. Ajarkan anak membalas olok-olok dengan kata-kata yang baik,"Olok-olok enggak bikin sakit tuh."
7. Bantu anak untuk memperhatikan kekuatannya dengan menekankan hal-hal yang dapat ia lakukan.
8. Dorong anak berperilaku seperti yang ia ingin orang lain lakukan terhadap dirinya.
9. Bantu anak berpikir alternatif serta melihat berbagai kemungkinan ketimbang bergantung pada satu pilihan. Misalnya, anak hanya punya seorang teman. Saat temannya itu tidak ada, ajarkan anak mencari teman lain, jangan hanya merasa ia tak punya teman.

Tertawa Bersama
Doronglah anak dapat mentertawakan dirinya sendiri. Orang yang terlalu serius terhadap dirinya sendiri sulit menikmati hidup. Sense of humor yang baik dan kemampuan melihat sisi terang kehidupan, penting untuk meningkatkan kegembiraan.

Menurut Jhon Gottman, ph ada 5 langkah penting bagi orang tua dalam melatih emosi anak.

1. Menyadari emosi anak : Ketika anak menangis, marah, senang, orang tua perlu menyadari bahwa anak juga memiliki perasaan untuk di sayang, diakui, tidak baik bagi orang tua misalkan memarahi anak pada saat anak menangis, hendaknya orang tua mengetahui apa yang sedang di alami oleh si kecil.
2. Mengakui emosi anak : Terkadang orang tua egois, tidak mau tahu mengenai keinginan anak, orang tua lebih peduli pada apa yang ada di pikirannya, sehingga tidak mengakui kalau anak sedang marah, senang.
3. Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak : Hal yang paling berbahaya bagi orang tua adalah pada saat orang tua tidak mau mendengar atau tidak mau tahu mengenai masalah yang dihadapi oleh anak, orang tua cenderung memarahi tanpa memiliki empati terhadap anak, apalagi memberikan dukungan / support dengan kata-kata yang dapat meneguhkan emosi anak.
4. Membantu anak melabeli emosi : Penting bagi orang tua adalah membantu untuk melabeli emosi, hal ini agar emosi anak dapat di curahkan/ ditempatkan pada tempat yang tepat, anak diajarkan untuk mengatur control emosinya.
5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah : Yang tidak kalah penting sebagai orang tua adalah, membantu anak dalam memecahkan masalahnya, namun bukan berarti semua masalah si anak di selesaikan tanpa melibatkan anak tersebut, karena jika tanpa melibatkan anak, maka hal itu akan memberikan pengaruh pada saat anak dewasa nanti tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya.

Artikel lainnya:

6 Tips hadapi Rasa Malas

Baru-baru ini, para ilmuwan telah menemukan sebuah gen kemalasan. Menurut para ilmuwan, tidak semua orang memiliki gen ini. Gen tersebut akan diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya. Kedengarannya hal tersebut bisa jadi alasan yang cukup tepat kenapa orang bisa menjadi malas. Namun apakah rasa malas bisa diatasi? Berikut enam tips hadapi rasa malas yang dikutip magforwomen.

1. Rencanakan aktivitas Anda
Satu-satunya obat melawan rasa malas adalah aktivitas. Anda dapat menyegarkan tubuh dan pikiran dengan adanya aktivitas. Oleh karena itu, Anda harus merencanakan aktivitas Anda. Jangan tinggalkan pekerjaan Anda untuk orang lain. Bikin daftar kegiatan dan lakukan semua kegiatan tersebut.

2. Berolahraga
Pastikan Anda memiliki jadwal olahraga yang rutin. Jangan hanya mengandalkan yoga. Temukan olahraga yang menuntut gerak lebih banyak seperti lari, menari, atau bersepeda. Kegiatan ini akan membuat Anda bersemangat dan rasa malas memudar.

3. Jadi proaktif
Jadilah orang yang pro-aktif dan memiliki inisiatif. Jangan menunggu orang untuk menghubungi Anda. Sebaliknya, Anda menelepon mereka dan meminta mereka keluar. Jangan hanya duduk dan mengeluh mengapa Anda memiliki sedikit uang atau mengapa Anda masih belum menikah atau tidak punya pacar. Ambil sikap positif dan proaktif dalam hidup Anda. Anda harus menetapkan tujuan hidup agar sukses.

4. Jangan memanjakan diri
Membiasakan diri untuk melakukan hal yang ringan, tak mau bekerja keras hanya akan menambah rasa malas. Padahal hidup itu keras, jika Anda terlena dengan hal-hal yang memanjakan diri maka kesuksesan tak akan pernah datang. Milikilah mimpi yang besar dan berusahalah dengan keras agar mimpi Anda terwujud.

5. Mengonsumsi makanan yang sehat
Makanan berlemak dan manis bisa membuat Anda malas. Berikan energi Anda dengan asupan vitamin serta makan bergizi. Nutrisi yang seimbang akan menyehatkan tubuh dan meningkatkan gairah hidup.

6. Kreatif
Orang yang kreatif akan membuat hidupnya lebih indah. Orang kreatif tentu akan berpikir hal-hal yang belum pernah dicetuskan orang lain. Hal ini membuat rasa malas akan sirna karena kreatif dapat meningkatkan kualitas dan semangat hidup.

Menghadari rasa malas tidak sesulit yang dibayangkan bukan? Mulai sekarang buang jauh rasa malas dan jadilah orang yang penuh semangat!

merdeka.com [Vizcardine A.]



Artikel lainnya:

Anak sulit belajar matematika? Coba tips ini!

Bagi sebagian besar anak kecil, matematika adalah pelajaran yang mengerikan. Alhasil, banyak anak kecil menghindari untuk belajar mata pelajaran tersebut. Nah, tugas orang tua adalah membuat pelajaran matematika jadi topik menarik dan menyenangkan bagi anak-anak. Caranya? Berikut adalah beberapa tips bagi orangtua untuk membuat matematika menarik untuk anak.

1. Membuat matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan
Anak-anak menyukai suasana belajar yang interaktif dan penuh warna. Oleh karena itu, para orang tua bisa mengajarkan matematika dengan membuat permainan untuk anak. Setelah anak mengalami beberapa kemajuan dalam pelajaran, Anda dapat menaikkan tingkat kesulitannya. Ini adalah langkah menuju belajar mandiri dan aktif.

2. Meningkatkan kepercayaan diri anak
Angka dan rumus membuat anak tidak menyukai matematika. Akibatnya, anak menjadi malas belajar dan mendapat nilai yang buruk. Orang tua memiliki peranan besar untuk membangun tingkat kepercayaan diri anak-anak mereka. Orangtua perlu memastikan bahwa mereka dapat mendorong anak untuk menyelesaikan tugas matematika sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Setelah kepercayaan diri anak meningkat, dia akan dapat memecahkan pertanyaan-pertanyaan sulit dalam pelajaran tersebut.

3. Mengembangkan motivasi anak
Metode ini tentu telah dipraktikkan di sekolah. Namun,mengembangkan motivasi anak tidak hanya perlu dilakukan di sekolah, tetapi juga di rumah. Oleh karena itu, cobalah menanamkan metode ini untuk meningkatkan kualitas belajar anak, terutama untuk pelajaran matematika. Orang tua harus memastikan bahwa mereka ikut memotivasi anak dengan memberi dorongan semangat dan membimbing mereka di rumah.

4. Fakta menarik tentang matematika
Anak-anak selalu tertarik untuk mempelajari sesuatu yang baru. Jadi, saat mengajarkan mereka konsep-konsep baru, pastikan Anda berbicara tentang latar belakang konsep atau teori-teori tersebut. Hal ini membuat mereka lebih terlibat dalam pelajaran yang Anda ajarkan. Belilah buku-buku tentang matematika dan beberapa informasi tentang penemu teori tertentu dalam rumusan matematika untuk anak-anak Anda. Ini akan membuat mereka jadi lebih penasaran.

Tips ini akan berguna untuk para orang tua dan memudahkan mereka dalam membimbing anak di rumah. Percayalah, semua anak dilahirkan pintar, hanya bagaimana cara orang tua membentuk kepribadian anak itu sendiri.
[Destriyana]


Artikel lainnya:

Tips karir untuk ibu yang bekerja

Di zaman modern seperti ini, semakin banyak wanita yang sudah berkeluarga memutuskan untuk tetap bekerja. Namun masalah anak dan urusan rumah tangga sering membuat ibu kesulitan membagi waktu. Namun jangan khawatir, jika Anda juga adalah seorang ibu yang bekerja, simak tips karir seperti yang dilansir dari Boldsky (06/11) berikut ini.

Meminta bantuan
Jangan ragu meminta bantuan suami jika kesulitan mengurus anak. Anda jelas tidak bisa berada di dua tempat di waktu yang sama. Jadi bergantian mengurus anak bersama pasangan adalah salah satu solusi bagi Anda ibu yang bekerja.

Orang tua atau mertua
Ada keuntungan bagi Anda ibu yang bekerja jika tinggal dengan orang tua atau mertua. Sebab mereka bisa mengurus buah hati ketika Anda bekerja. Namun jika tidak memungkinkan, usahakan Anda tinggal di dekat rumah mereka.

Baby sitter
Menggunakan jasa baby sitter juga bisa Anda pertimbangkan demi mengurus anak di rumah. Meskipun tentu saja ada biaya lebih banyak yang harus Anda keluarkan untuk membayar baby sitter tersebut.

Memanjakan diri
Meskipun Anda sibuk, jangan biarkan Anda melupakan diri sendiri untuk bersenang-senang. Anda tetap bisa meluangkan waktu untuk menikmati secangkir teh hangat atau pergi ke salon sekali-kali. Sebab dengan menyegarkan pikiran, Anda akan lebih siap menghadapi kesibukan sebagai ibu yang bekerja keesokan harinya.

Pekerjaan
Peraturan penting sebagai seorang ibu yang bekerja adalah jangan pernah membawa pulang pekerjaan. Bebaskan diri Anda dari tekanan pekerjaan dan lebih baik habiskan waktu berharga Anda bersama buah hati dan suami jika sudah berada di rumah.

Menjadi ibu yang bekerja memang susah-susah gampang. Jadi buktikan bahwa Anda bisa melakukannya dengan baik dan menjaga keseimbangan hidup keluarga dan pekerjaan.
Rizqi Adnamazida


Artikel lainnya:

Aktivitas Yang Membuat Buah Hati Menjadi Cerdas

Sekarang ini banyak sekali anak-anak yang senang bermain game online, mereka kerap sering mencari warnet (warung internet) dengan layanan jaringan yang baik. Lantas apa sebagai orang tua kalian mengijinkan anak-anak kalian untuk bermain game online terutama apabila anak kalian masih sangat kecil.

Nah, sebagai orang tua yang bijak pasti menginginkan agar buat hati kita menjadi anak yang cerdas dan pintar. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan untuk membuat anak-anak kita menjadi cerdas.

1. Membaca 20 menit setiap hari
Ajaklah anak kalian untuk membaca. Di usia 12 sampai 18 bulan anak akan banyak sekali menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Jadi akan sangat mungkin bagi anak kalian untuk mendengarkan apa yang kalian baca. Setidaknya ajaklah membaca selama 20 menit sehari. Sambil membacakan buku untuknya, tanyakan juga kepadanya gambar-gambar yang ada di buku tersebut.

2. Dengarkan musik
Bernyanyilah bersama anak kalian. Biaskan untuk mendengarkan musik saat sedang berada dirumah atau dimobil. Pilihlah musik yang tidak membosankan meskipun diputar secara terus menerus. Jika kalian bernyanyi, otomatis anak kalian akan ikut bernyanyi juga. Lama-lama anak kalian akan bernyanyi dengan sendiri meskipun tidak ada musik yang mengiringi.

3. Ajarkanlah tentang angka dan bentuk benda
Ajarkanlah kepada anak kalian tentang bentuk benda, warna dan juga angka seharian penuh.

4. Ajarkan juga nama-nama bagian tubuh
Selain itu ajarkan juga kepada anak kita tentang nama-nama bagian tubuhnya. Sambil mengenalkan bagian tubuhnya, tunjuklah bagian tubuh yang kalian maksud misalnya hidung, mata, kuping, kaki, tangan dan lain-lain.

5. Gunakanlah instruksi
Ketika sedang bermain berikanlah instruksi. Dengan demikian si anak akan mampu mengikuti instruksi dari orang tua dan juga akan merasa senang jika mampu melakukan apa yang di suruh. Salah satu instruksi sederhana adalah memintanya untuk menutup pintu atau mengambilkan bola.

6. Minta memilih mainan kesukaannya
Pergilah ke toko mainan anak-anak. Lalu gunakan buku katalog dan mintalah si anak untuk memilih mainan yang ia sukai di katalog tersebut. Setelah itu, ajak anak kalian untuk mencari mainan tersebut di rak mainan.

Demikianlah beberapa aktivitas yang bisa kalian ajarkan kepada buah hati kalian. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat.

kichuzzz.blogdetik.com


Artikel lainnya:

Waktu-waktu Terbaik Untuk Otak Kita

Banyak yang menduga hanya energi atau berat badan yang dapat berfluktuasi selama satu hari. Padahal otak manusia juga memiliki irama tersendiri dan ada waktu-waktu terbaiknya. Kapan saja waktu brilian untuk melakukan aktivitas tertentu?

Seperti dikutip dari Health MSN, ada 8 waktu tertentu yang mana seseorang bisa menjadi brilian dalam melakukan tugas-tugasnya, yaitu:

Jam 7-9 pagi:
Saat terbaik untuk meningkatkan semangat dan gairah
“Waktu tersebut merupakan saat yang sempurna untuk meningkatkan ikatan dengan pasangan ketika baru bangun tidur,” ujar Ilia Karatsoreos, PhD, ahli saraf dari Rockefeller University.

Hal ini karena kadar hormon oksitosin (hormon cinta) berada di level tertinggi setelah bangun tidur. Waktu ini merupakan saat yang tepat untuk memperkuat hubungan dengan orang-orang yang paling penting dalam hidup. Peneliti Inggris menuturkan bahwa kadar oksitosin pada laki-laki akan berangsur-angsur menurun seiring berjalannya waktu.

Jam 9 pagi sampai 11 siang:
Saat terbaik untuk kreativitas
Pada waktu tersebut otak memiliki hormon kortisol (hormon stres) yang cukup, sehingga dapat membantu memfokuskan pikiran dan hal ini tidak dipengaruhi oleh usia berapapun.

Saat ini merupakan waktu yang prima untuk belajar serta mengerjakan tugas yang membutuhkan analisa dan konsentrasi. Karena itu saatnya mengembangkan ide baru, membuat presentasi atau melakukan brainstorming.

Jam 11 sampai jam 2 siang:
Saat terbaik untuk melakukan tugas yang sulit
Peneliti Jerman menuturkan saat tersebut hormon melatonin (hormon tidur) telah menurun tajam, sehingga tubuh lebih siap untuk mengerjakan beban proyek atau pekerjaan yang sulit dan keras.

Namun sebaiknya tetap tidak melakukan beberapa tugas secara bersamaan, karena akan membuat seseorang kehilangan konsentrasi. Karena itu saatnya melakukan presentasi atau melakukan tugas yang berat lainnya.

Jam 2-3 siang:
Saat terbaik untuk beristirahat
Untuk mencerna makan siang, maka tubuh akan menarik darah dari otak ke perut, kondisi ini akan membuat asupan darah atau oksigen ke otak sedikit berkurang yang membuat seseorang jadi mengantuk. Untuk itu cobalah beristirahat sebentar dari pekerjaan.

Jika tetap harus bekerja dan melawan kantuk, cobalah berjalan-jalan sebentar, melakukan meditasi atau minum air putih. Hal ini bisa meningkatkan volume vaskuler dan sirkulasi sehingga meningkatkan aliran darah ke otak.

Jam 3 siang sampai 6 sore:
Saat terbaik untuk kolaborasi
“Pada saat sekarang otak akan merasa sangat lelah,” ujar Paul Nussbaum, PhD, seorang neuropsikolog klinis. Karena itu tak ada salahnya untuk melakukan kolaborasi dengan rekan kerja atau melakukan kegiatan yang berbeda. Meskipun otak tidak setajam waktu sebelumnya, tapi seseorang akan merasa lebih santai dan tekanan tubuhnya juga lebih rendah.

Jam 6 sore sampai 8 malam:
Saat terbaik untuk melakukan tugas-tugas pribadi
Diantara jam tersebut, peneliti menemukan bahwa otak sudah masuk dalam tahap ‘pemeliharaan‘, yaitu ketika produksi melatonin masih berada di level rendah.

Tak ada salahnya untuk berjalan-jalan seorang diri atau bersama teman-teman, menyiapkan makan malam atau menikmati waktu yang berkualitas bersama anggota keluarga.

Jam 8-10 malam:
Saat terbaik untuk bersantai
Pada saat ini ada transisi dari kondisi terjaga menjadi mengantuk, karena kadar hormon melatonin akan meningkat cepat. Sementara itu kadar serotonin (neurotransmitter yang berhubungan dengan semangat) akan memudar.

Rubin Naiman, PhD spesialis masalah tidur dari University of Arizona’s Center for Integrative Medicine menuturkan sekitar 80 persen serotonin akan dirangsang dari paparan sinar matahari, sehingga jika matahari tenggelam kadar dalam dalam tubuh juga berkurang.

“Pada malam hari ketika otak sudah lelah, merupakan cara terbaik untuk membuat tubuh menjadi santai seperti menonton film lucu, merajut atau melakukan hal-hal yang bisa membuat tubuh santai atau rileks,” ujar Naiman.

Jam 10 malam ke atas:
Saat terbaik untuk tidur dan menuda segala kegiatan
Saat ini merupakan waktunya istirahat malam dan tidur, pengaturan cahaya akan dapat membantu membiarkan otak beristirahat. Setelah beberapa jam, otak akan siap kembali untuk memulai aktivitas baru.

Usahakan untuk mendapatkan tidur yang cukup sebanyak 7-8 jam, sehingga bisa mendapatkan kesehatan dan energi yang optimal di pagi hari.

by beritaunik



Artikel lainnya:

8 Cara Agar Tidak Keracunan Makanan

Kasus keracunan makanan bisa terjadi pada siapa saja. Supaya tidak keracunan, sejumlah cara harus dilakukan.

Contoh paling mudah menurut DR. Dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB adalah memasak makanan dengan baik agar bakteri bisa mati. Juga diupayakan agar makanan tidak terlalu lama berada pada suhu kamar.

Selain itu, ada beberapa tindakan lainnya yang dapat dilakukan guna mencegah bakteri berbahaya tumbuh pada makanan.

  1. Memasak makanan dengan suhu yang cukup tinggi agar dapat membunuh bakteri berbahaya.
  2. Mencegah kontaminasi silang melalui peralatan dapur. Penggunaan pisau misalnya, harus dipisahkan. Pisau yang dipakai mengiris daging mentah atau makanan laut jangan digunakan bersamaan untuk memotong makanan yang sudah matang.
  3. Selalu menjaga kebersihan tempat yang dipakai saat mempersiapkan makanan.
  4. Cegah makanan yang sudah masak tercemar dengan daging dan makanan laut mentah.
  5. Jaga agar makanan hangat tetap hangat, dan makanan dingin tetap dingin. Makanan hangat sebaiknya dijaga pada suhu di atas 65 derajat Celcius dan panaskan makanan untuk disajikan pada suhu di atas 85 derajat Celcius.
  6. Taruh makanan pada kulkas dengan pengaturan suhu yang tepat. Jika makanan terlalu lama berada pada suhu kamar, ada kemungkinan makanan tersebut sudah tidak aman untuk dimakan
  7. Jangan melelehkan (defrost) makanan pada suhu kamar. Lakukan defrost di lemari pendingin, air keran yang mengalir, atau dengan menggunakan microwave.
  8. Produk makanan dan minuman kemasan hendaknya ditaruh sesuai dengan ketentuan yang ada pada kemasan. Ada yang bisa disimpan pada suhu kamar, di lemari pendingin dengan suhu 2-8 derajat Celcius, atau lemari pembeku (freezer).
sehatnews.com

Artikel lainnya:

Merawat Bayi Pilek

Badannya demam, nafas pun jadi sulit karena hidung tersumbat. Ikuti langkah ini untuk membantu bayi lebih nyaman saat terserang pilek.
  • Biarkan bayi tidur dengan posisi tidur kepala lebih tinggi. Atur posisi tumpukkan bantal di kasur, jangan terlalu pendek maupun terlalu tinggi. Cara lainnya, baringkan bayi di atas car seat atau bouncy seat. Pastikan letaknya di atas lantai yang rata, bukan di atas kasur. Awasi anak selama ia tidur, jika terlihat mulai tidak nyaman, atur kembali posisi tidurnya.
  • Mandilah bersama anak. Saat anak pilek gunakan air hangat lalu berendamlah berdua. Usap dan pijat perlahan tubuh bayi, terutama punggung dan dadanya. Jangan mandi terlalu lama, maksimal 10 menit. Setelah mandi, segera keringkan tubuhnya dengan handuk lalu pakaikan baju.
  • Hindari pakaian yg berlapis-lapis. Saat sedang pilek, suhu tubuh anak biasanya ikut meningkat. Jika badannya dibungkus dengan berlapis-lapis pakaian, maka panas tubuh akan terhambat dan sulit untuk keluar. Pakaikan baju berbahan katun yang menyerap keringat. Jika ingin menyelimuti, gunakan selimut yang ketebalannya sedang. Cek suhu tubuhnya setengah jam sekali, pastikan panas tubuhnya dapat keluar dengan baik tanpa hambatan.
  • Lindungi hidungnya. Ketika virus menyerang saluran pernafasan atas anak, jaringan yang melindungi hidung mengeluarkan mucus untuk mendorong virus keluar dari hidung. Keluarnya mucus secara terus-menerus dapat menyebabkan hidung bayi terluka. Pakaikan petroleum jelly di sekitar lubang hidung bagian luar, atau gunakan salep bayi khusus untuk melindungi kulit kering. Baca aturan pakai dan hati-hati dalam penggunaannya.
  • Gunakan pelembab ruangan untuk anak-anak yang memiliki masalah dengan saluran pernafasan dan kulit kering. Letakkan di setiap pojok ruangan, namun jangan terlampau dekat dengan tempat tidur terlebih mengarahkannya ke tubuh anak karena akan membuatnya tidak nyaman. Pilih pelembab ruangan yang berbahan dasar alami dengan aroma yang menenangkan, hindari aroma yang terlampau kuat. Cara lain, buat sendiri pelembab ruangan dengan meneteskan minyak kayu putih ke dalam air hangat. Uapnya akan melegakan nafas.
  • Kalau tersumbat pakai nasal spray. Jika sumbatan pada hidung mulai terlihat mengganggu, Bunda dapat menyemprotkan nasal spray ke dalam hidung bayi. Dalam sebuah penelitian ditemukan oxymetazoline (komponen yang terkandung dalam nasal decongestant sprays), dapat membunuh virus-virus penyebab flu biasa. Namun, setelah 5 hari, nasal spray justru dapat merusak jaringan hidung dan memicu sumbatan kronis pada hidung. Jadi, hindarilah pemakaian jangka panjang!
  • Perlambat pemberian makan dan minumnya. Saat sedang pilek, bayi mengalami kesulitan untuk bernafas, mengunyah dan menelan secara bersamaan. Jika bayi minum lewat botol, perlambat laju cairan dengan cara memperkecil ukuran dot. Setiap 2-3 menit sekali, tarik botol dari mulutnya agar bayi dapat bernafas dengan baik sekaligus mencerna makanan dan minuman tanpa hambatan.
  • Berikan obat oles. Bunda boleh menggunakan produk yang dipercaya aman untuk bayi. Cara mengoleskannya pun harus diperhatikan. Oleskan hanya pada baju bagian depan, tepat di dadanya. Jangan mengoleskan langsung di kulit bayi untuk menghindari terjadinya iritasi pada kulit. Pilih produk yang berbahan dasar alami dan hangat di kulit, bukan panas!
ayahbunda.co.id




Artikel lainnya:

Bahagia, Berkat Cerdas Intrapersonal dan Interpersonal

”Bunda, aku sayang sama Bunda…” kita pasti bahagia kalau si prasekolah menyatakan perasaannya seperti itu. Namun di lain waktu, mungkin dahi kita dibuat mengerut ketika dia bilang, “Papa, aku ingin punya pacar.” Ya ampun. Tapi lihatlah sisi baiknya: si kecil sangat pandai mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Hal ini menunjukkan kemampuannya memahami diri sendiri yang merupakan bentuk dari kecerdasan intrapersonal.

Seorang anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal akan mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya, suasana hatinya, temperamennya, keinginannya, dan motivasinya. Singkatnya, yang dimaksud kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut.

Namun tentu saja, tak baik hanya memikirkan diri sendiri, bukan? Jadi anak pun dituntut memahami orang lain. Kelak ia harus dapat membaca suasana hati, maksud, motivasi, perasaan, dan cara berpikir orang-orang di sekitarnya. Inilah yang dimaksud kecerdasan interpersonal. Kecerdasan ini ditunjukkan oleh kemampuan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain disertai keterampilan berkomunikasi yang juga baik karena anak harus dapat mengungkapkan pendapat, pikiran, dan perasaannya manakala dibutuhkan.


ANAK BERBUDI

Bila kemampuan personal tidak dipelajari, anak tak akan tahu dengan sendirinya mengenai etika, moral atau kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Akibatnya, dalam berinteraksi dengan lingkungan ia akan sering “membentur” sehingga orang mengeluhkan dirinya sebagai anak yang tak tahu aturan, tidak sopan, kurang ajar, dan label negatif lainnya. Bukankah itu sesuatu yang lebih menyakitkan baginya? Lagi pula, semakin sering diberi label, semakin tingkah lakunya itu akan menguat dan diulangnya kembali. Padahal, mungkin saja bukan maksud anak untuk membuat kesal orang lain. Contoh, ia punya suatu keinginan tetapi karena tak bisa menyampaikannya dengan baik, ia hanya bersungut-sungut. Orangtuanya tentu tidak mengerti keinginannya. Malah, mereka kesal dan marah melihat si anak bersungut-sungut. Bila anak membalas dan lantas menarik diri, akhirnya persoalan menjadi semakin kompleks. Nah, itu suatu gambaran dari kejadian kecil di dalam rumah. Bisa dibayangkan bagaimana bila anak berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah nantinya.

Itulah pentingnya kemampuan personal diajarkan dan dikembangkan sejak dini. Diharapkan anak bisa berhubungan atau berinteraksi secara efektif dan harmonis dengan lingkungannya. Sehingga anak bisa diterima lingkungan dengan baik dan membuatnya merasa aman serta menjadi anak yang happy. Selain itu, kemampuan personal akan menumbuhsuburkan nilai-nilai kebaikan universal pada diri anak. Diharapkan ia berkembang menjadi pribadi yang berwatak dan berbudi pekerti luhur; santun, saling hormat-menghormati, dan menghargai sesama. Kemampuan personal yang berkembang baik dapat mengembangkan pula kecerdasan spiritual anak. Ia akan mengerti bahwa dirinya sebagai manusia, hakikatnya adalah pencitraan dari kekuasaan Tuhan sebagai pencipta alam ini.


10 PRAKTIK KESEHARIAN

Dalam mengembangkan kecerdasan personal ada 10 komponen yang harus diberikan kepada anak dan dipraktikkan dalam keseharian.
  1. Komunikasi (Communicating)
    Anak belajar menyampaikan kebutuhan, keinginan, hambatan, harapan, pendapat, dan lainnya baik secara verbal maupun nonverbal. Untuk komunikasi verbal, caranya dengan sering memancing anak mengungkapkan pendapat mengenai berbagai hal. Sementara kemampuan komunikasi nonverbal bisa digali lewat bahasa tubuh dan ekspresi wajah atau lewat gambar. Contoh, orang tua menggambarkan beragam raut wajah yang menunjukkan emosi marah, senang dan sebagainya. Jelaskan hubungan wajah tersebut dengan emosi yang sedang dialami.

    Selain itu, anak juga diajarkan bagaimana bersikap yang baik bila ada tamu dan bagaimana memahami tatapan mata orang tua yang tidak membolehkan anak mengganggu pembicaraan, isyarat tangan orang tua yang menyuruhnya diam, dan sebagainya.

    Kesimpulannya, anak harus belajar mengembangkan kecerdasan personal yang tak lain adalah gabungan dari kecerdasan intrapersonal (self smart/cerdas diri) dan kecerdasan interpersonal (people smart/cerdas sosial). Untuk itu, kepedulian orang tua dan lingkungan sekitar terhadap kecerdasan personal mutlak diperlukan.

    Ketahuilah, konsep diri seorang anak berasal dari pengetahuan yang baik tentang dirinya secara positif. Baik itu mengenai moods, temperamen, motivasi, dan intensinya dalam suatu lingkungan. Tidak cukup sampai di situ, anak juga harus dapat mengutarakan pendapatnya, keinginannya, kebutuhannya, kekecewaannya, kejengkelannya, atau apa pun yang berkecamuk dalam dirinya. Supaya apa? Supaya ia bisa dipahami dan diterima secara baik oleh lingkungan. Penerimaan ini akan membuat dirinya menjadi lebih nyaman.

    Kemampuan personal harus diajarkan dan dikembangkan sejak usia dini, terlebih di usia prasekolah karena di masa ini pula kecerdasan emosinya tengah berkembang. Keduanya akan seiring sejalan karena kemampuan personal merupakan suatu keterampilan sosial yang berkaitan dengan ranah afektif dan emosi seperti masalah etika, motivasi, moral dan hati nurani. Semua “ilmu” mengenai hal tersebut akan digunakan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
  2. Hubungan dengan orang lain (Relating)
    Anak dikenalkan pada etika, nilai, dan kebiasaan yang berlaku pada masyarakatnya. Bahwa di dalamnya ada beragam suku dan beragam bangsa dengan adat kebiasaan dan tata krama berbeda.
  3. Kasih sayang (Loving)
    Anak diajarkan untuk memiliki rasa kasih sayang pada sesama seperti pada orang tua, teman, guru, dan orang lain. Juga terhadap makhluk hidup lainnya seperti tanaman dan binatang peliharaan. Contoh, hewan peliharaan harus diberi makan dan minum serta dibersihkan kandangnya. Kalau sakit tidak dibiarkan saja, tapi diobati atau diperiksakan ke dokter.
  4. Berbagi (Sharing)
    Anak perlu dibiasakan untuk mau berbagi. Ia harus tahu bahwa dalam hidup ia tidak sendirian, masih ada orang lain yang kondisinya bisa saja berbeda dan perlu dibantu. Ajari anak untuk tidak bersikap pelit lewat kerelaan berbagi bekal atau saling bertukar makanan di TK, dan cara lainnya.
  5. Kepemilikan (Belonging)
    Anak dikenalkan pada yang mana miliknya dan mana milik orang lain. Mintalah ia menjaga miliknya dan menghargai milik orang lain. Umpama, “Kamu diberi panca indra oleh Tuhan seperti mata dan telinga. Nah, kedua indra itu harus kamu jaga dengan baik. Maka itu gunakan mata untuk melihat yang baik-baik, gunakan telinga untuk mendengar hal yang baik-baik juga.” Atau misalnya, “Ini buku punya Amri. Kalau kamu pinjam harus dikembalikan dan dijaga baik-baik. Kalau tidak, nanti rusak. Amri akan sedih, lho. Kamu juga tidak mau kan, kalau barang milikmu tidak dikembalikan dan rusak?”
  6. Kepedulian atau perhatian (Caring)
    Di dalam komponen ini terkandung pula masalah empati, rasa sayang, dan lainnya. Anak diajarkan untuk peduli pada sesamanya. Contoh, bila ada temannya yang berulang tahun, ajari anak untuk mengucapkan selamat. Jika ada orang yang kurang mampu, ajari anak untuk membagi sebagian miliknya. Jika si prasekolah memiliki adik, mintalah ia untuk mengajaknya bermain, menjaga, dan menghiburnya bila menangis.
  7. Perasaan (Feeling)
    Anak diajarkan untuk mengenal beragam perasaan seperti sedih, senang, kesal, kecewa, takut dan lainnya. Tujuannya untuk belajar menghayati perasaan yang sama dengan yang dirasakan orang lain.
  8. Pemilihan (Choosing)
    Anak diajarkan untuk dapat memilih sesuatu yang benar-benar disukai secara asertif atau bukan karena tekanan atau ikut-ikutan orang lain. Orang tua pun harus dapat menghargai apa yang jadi pilihan si anak.
  9. Kehidupan (Living)
    Anak diajarkan bahwa kehidupan tak lepas dari tanggung jawab dan komitmen. Ceritakan contoh-contohnya dari masalah sehari-hari; bagaimana orang tua bekerja keras demi memenuhi tanggung jawabnya bagi keluarga. Sambil lalu Anda bisa menyelipkan pesan pada anak, jika dibelikan sesuatu hendaknya harus dijaga jangan sampai rusak. Sekali-kali bila memungkinkan ajak anak ke tempat orang tuanya bekerja. Dengan begitu anak dapat lebih memahami, bahwa uang yang dimiliki orang tua tidak semata-mata keluar dari ATM. Sebelumnya ada proses yang panjang.
  10. Mengatasi Masalah (Coping)
    Anak diajarkan bagaimana mengatasi masalah yang dihadapinya. Jika ia merasa kesal karena tidak dipinjamkan sesuatu oleh teman, orang tua bisa membantunya mengalihkan perhatian dari rasa kesal. Umpama dengan meminta anak untuk minum dulu agar merasa lebih tenang, kemudian menjelaskan bahwa mungkin saja si teman masih membutuhkan barang tersebut. Lalu, ajaklah ia melakukan aktivitas lain untuk mengurangi rasa kesalnya.

3 CARA MERAIHNYA
  1. Lakukan secara bertahap sesuai perkembangan anak dan berikan secara mendalam.
    Umpama, orang tua tak membolehkan anak main ke rumah teman pada siang hari tanpa menjelaskan alasannya. Seharusnya, anak pun diberi tahu mengenai kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat, misal siang hari biasanya untuk anak seusianya ada yang diharuskan istirahat tidur siang sehingga tak boleh diganggu. Contoh lain, anak disuruh bersalaman ketika bertemu dengan teman ibunya atau dengan nenek-kakeknya tanpa diberi tahu penjelasannya. Sebaiknya, anak juga dijelaskan bahwa bersalaman pada orang yang lebih tua merupakan tanda menghormati, misalnya.
  2. Lakukan secara konkret lewat praktik keseharian atau kegiatan yang dilakukan di kelompok bermain/taman kanak-kanak maupun di rumah, dengan cara-cara sederhana.
    Kegiatan yang dipilih harus menunjang pembentukan watak luhur. Misal, di sekolah, guru meminta anak-anak membawa pot bunga, lalu guru bercerita mengenai tanaman dan bertanya pada anak, bagaimana merawat tanaman tersebut, siapa yang selalu menyiramnya di rumah, dan lainnya. Atau mengenai binatang peliharaan, kemudian anak ditanya soal binatang peliharaannya masing-masing, bagaimana merawatnya, siapa yang memberi makannya, dan lain-lain. Dari kegiatan sederhana seperti itu, orang tua dapat mencari masukan dari guru mengenai anaknya. Mengapa si anak tidak sayang pada binatang peliharaan, apakah orang tua belum cukup memperkenalkan, dan sebagainya.
  3. Lakukan dengan memberikan reward.
    Ketika anak bisa menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, orang tua boleh memberinya reward atau hadiah. Jika anak tak menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, orang tua memberinya sanksi. Semakin usianya bertambah, anak sudah bisa berpikir apa yang akan dilakukannya sehingga tidak lagi tergantung pada reward. Anak sudah bisa berpikir, bahwa bersikap sopan adalah memang bagian dari hakikatnya sebagai manusia yang punya martabat. Cara berpikir seperti itu jika dipupuk dari sekarang nanti akan muncul seiring bertambahnya usia dan mencapai puncak di usia 13 tahun.

DR. Reni Akbar-Hawadi, Psi.


Artikel yang berhubungan:
8 Kiat Menanamkan Disiplin Pada Anak
Bagaimana Mengoptimalkan Kecerdasan Balita Pada Masa Golder Years?
9 Manfaat Bermain Bagi Anak
Mendidik Balita Agar Aktif Secara Sosial
Kebersamaan Antara Anak Dengan Orang Tua

Prev home