Meski kerap membuat rumah kotor dan berantakan, bereksplorasi memberi kesempatan untuk anak belajar banyak banyak hal dan tumbuh lebih optimal.
Orangtua sebaiknya tidak terlalu banyak melarang anak.
"Masa balita adalah masanya anak learn and explore. Semua pengalamannya berasal dari situ. Anak juga sedang tumbuh dan belajar, daya nalarnya juga berkembang pesat," kata psikolog Ratih Ibrahim di sela acara bertajuk Forgiveness is Easy yang digelar oleh Dulux di Jakarta (19/3/14).
Apa yang diterima anak di usia balita, imbuh Ratih, akan terbawa sampai ia dewasa. "Kalau pengalamannya membuat dia kerdil, akan terbawa terus. Begitu pun kalau pengalamannya membuat trauma maka traumanya akan dalam," katanya.
Karena itu, orangtua sebaiknya tidak membatasi lingkup ekslorasi anak. "Ibarat tanaman, anak yang serba dibatasi akan tumbuh seperti bonsai," ujarnya.
Anak yang sering dilarang-larang juga akan mempengaruhi kepercayaan dirinya, keberanian mengambil keputusan, keberanian menghadapi risiko, termasuk ide-ide dan inovasinya.
Meski membebaskan anak, tapi Ratih menyarankan agar orangtua tetap memberikan batasan. "Bagaimana pun anak tetap harus diberi tahu agar dorongan kreativitasnya tidak merusak," ujarnya.
Ia mencontohkan, walau kita membebaskan anak untuk mencorat-coret tembok, tetapi jelaskan pada anak tembok mana yang tidak boleh dicoret atau dikoroti.
"Beri tahu anak mana area mereka dan mana area yang harus bersih. Jelaskan juga bahwa mereka boleh mencoret atau menempel-nempel dinding, tapi hanya di rumah, bukan di rumah orang lain," ujarnya.
Orangtua tetap harus memiliki kontrol terhadap anak. "Jangan kalah pintar sama anak, toh sebagai orangtua kita sudah kenal dengan anak sendiri," katanya.
Tak kalah penting, orangtua juga harus konsisten sampai anak memiliki kebiasaan positif yang diinginkan. "Bebas boleh tapi tetap harus bertanggung jawab," ujarnya.
Kompas.com | Penulis: Lusia Kus Anna | Editor: Lusia Kus Anna
Tahukah Bunda, kegiatan menggambar si kecil bukan hanya kegiatan mencoret-coret tanpa arti loh. Dengan menggambar banyak manfaat yang akan didapat si kecil, bahkan manfaatnya akan terasa hingga ia dewasa nanti.
Berdasarkan riset yang dilakukan terhadap 200 anak usia 3-4 tahun, ternyata kemampuan menggambar adalah salah satu indikator terhadap berkembangnya kemampuan membaca anak. Riset ini dikutip dari Parents Indonesia.
Nah, jika Bunda saat ini memiliki anak yang sedang bersekolah di Taman Kanak-kanak, ada baiknya Bunda membantunya mengembangkan kemampuan menggambarnya. Jika kemampuan menggambar anak terus dikembangkan selama 2 tahun selama ia bersekolah di TK, maka kemungkinan besar ia sudah akan bisa membaca saat lulus nanti.
Kemampuan menggambar yang bagus pada anak dan bisa menggambar persegi atau lingkaran dengan sempurna maka ia bisa lebih cepat membaca dan punya kemampuan mengidentifikasi bahasa, sandi dan huruf.
Ternyata kemampuan menggambar yang baik tidak hanya merangsang kemampuannya untuk membaca saja, kemampuan menggambar yang baik juga dapat mendongkrak kemampuannya dalam menghitung. Peneliti berkesimpulan menggambar punya kontribusi tinggi terhadap perkembangan pengetahuannya di masa depan.
Peneliti juga berkesimpulan, dengan kemampuan menggambar anak, ternyata mereka juga bisa lebih fokus dalam menerima pelajaran dengan menggunakan kata-kata, dibandingkan dengan pelajaran menggunakan kapur atau spidol. Peneliti juga memperkirakan ada kemampuan kognitif lain yang berkembang jika si anak terus belajar menggambar.
Jadi daripada Bunda menghabiskan banyak waktu untuk mengajarkan anak membaca, lebih baik Bunda menggunakan sebagian waktu untuk mengajak anak menggambar. Menggambar tentu lebih menyenangkan bagi anak. Selain itu bisa mengembangkan kemampuan yang lainnya.
Anak-anak umumnya suka menggambar, dan salah satu bidang yang tak pernah luput dari sasaran crayon atau pensil warna mereka adalah dinding rumah. Tak terbilang berapa banyak kertas atau buku gambar yang sudah Anda siapkan untuk anak, namun kelihatannya mereka lebih suka mencoret-coret tembok.
Ketimbang membuat coretan-coretan di buku gambar, anak-anak umur 2-4 tahun tampaknya memang lebih suka membuat karya "masterpiece" di dinding rumah.
"Anak-anak lebih asyik saat menggambar di dinding. Kenapa? Karena saat menggambar di dinding, mereka (merasa) ikut terlibat di dalam kisah yang mereka gambarkan.
Melalui bidang yang lebih luas, mereka lebih bebas menggambar dan masuk ke dalamnya," papar psikolog Tubagus Amin Fa, SPsi, CTL, CH, CHt, Cl, saat bincang santai dengan media di Kidzania, Pacific Place.
Rasa terlibat dalam dunia di dalam gambar itu tidak akan didapat ketika anak menggambar di bidang kertas, demikian menurut psikolog dari Aminfainstitute - Lembaga Riset dan Konsultan Edukasi Berbasis Brain Based and Holistic Learning (Pendidikan Ramah Otak) ini.
Beberapa penelitian menunjukkan alasan lain mengapa anak suka sekali mencoret-coret dinding. Anak-anak yang lebih kecil menjelajahi dinding karena suka mewarnai bidang apa saja.
Hal ini berbeda dengan anak-anak usia 3-4 tahun, di mana perkembangan fisik membuatnya lebih mudah menggambar dengan merentangkan tangan di depannya ketimbang di bawahnya, demikian menurut Becky Bailey, PhD, penulis buku There's Gotta Be a Better Way.
Merasa Lebih Nyaman
Menggambar di dinding memberi posisi yang lebih nyaman, karena memungkinkan kontrol tangan dan mata yang lebih baik. Dengan cara ini, menggambar menjadi jauh lebih menyenangkan bagi si kecil.
Menggambar di meja akan mulai menyenangkan ketika anak baru lepas dari taman kanak-kanak.
Nah, sebelum anak menyelesaikan TK-nya, Anda mungkin memang harus merelakan dinding rumah menjadi ekspresi kebebasan anak. Tentu, Anda bisa mengurangi coretan pada dinding ruang tamu atau ruangan lain dengan berbagai macam cara:
* Anda bisa menyiapkan dinding kamar anak sendiri sebagai tempat untuk menggambar sepuasnya.
* Lapisi dinding dengan kertas yang lebar sebagai media untuk menggambar, sehingga tinggal diganti ketika bidang kertas sudah penuh.
* Siapkan penyangga untuk menaruh kertas-kertas gambarnya (seperti yang digunakan untuk presentasi).
* Atau, biarkan ia menggambar sambil berbaring di lantai, jika ia merasa kurang nyaman jika menggambar di meja.
Dalam berbagai kesempatan, saya sering menyampaikan pendapat saya bahwa saya tidak setuju dengan sistem ranking di kelas untuk SD sampai SMU. Makanya anak saya sekolah sekarang di SD yang tidak mengenal sistem ranking. Banyak yang bertanya-tanya dengan sikap atau pandangan saya ini. Entahlah, apakah saya bertentangan dengan mainstream pemikiran yang ada, atau bagaimana, tetapi tentunya saya bersikap demikian bukan tanpa argumen.
Argumennya begini, jika di dalam kelas tersebut ada 4 orang anak, yang satu jago matematika dan fisika sehingga mewakili sekolahnya untuk lomba matematika dan fisika, yang satu jago bikin puisi atau prosa sehingga karyanya banyak dimuat di majalah atau media lainnya, sementara yang satu lagi jago main musik sehingga sudah manggung berkali-kali dalam festival band antar sekolah dan bahkan sudah rekaman walaupun underground, dan yang terakhir jago olah raga, katakanlah bulutangkis, sehingga sudah mewakili sekolah dalam berbagai turnamen dan masuk seleksi atlet berbakat.
Nah, siapakah yang pantas jadi juara kelas dari ke-4 anak di atas ? Bingung 'kan?
Keempat anak di atas pantas jadi juara, di bidang masing-masing. Kita tidak bisa membandingkan mana yang lebih hebat diantara mereka. Mereka tidak bisa dibandingkan, karena bukan apple to apple. Masing-masing mereka memiliki keunggulan kecerdasan.
Jika kita mendalami teori multiple intelligence yang diungkapkan oleh Howard Gardner, maka kita akan memahami bahwa ada beberapa potensi kecerdasan yang terdapat di dalam diri seseorang. yaitu : Bodily-Kinesthetic, Interpersonal, Verbal-Linguistic, Logical-Mathematical, Naturalistic, Intrapersonal, Visual-Spatial, serta Musical. Perkembangan terakhir dari riset Howard Gardner menunjukkan ada kecerdasan lainnya, yaitu : existential, serta moral intelligence.
Pada prinsipnya setiap manusia memiliki kecerdasan yang berkembang, yang pasti tidak sama kadarnya. Bisa jadi ada satu yang sangat dominan, bisa jadi ada beberapa yang dominan, tetapi dalam kadar yang lebih rendah. Jika ternyata kecerdasan yang berkembang dominan pada si anak adalah kecerdasan verbal, dan dia agak kurang di logika-matematika, lalu anda paksakan dia belajar IPA supaya masuk fakultas teknik, padahal si anak ingin masuk fakultas sastra atau ilmu budaya, maka tentu akan terjadi "tabrakan kepentingan" di sini. Anda bisa sewot sama si anak, dan si anak bisa stress. Artinya, pendidikan yang ideal sifatnya harus personal, mengeksploitasi kecerdasan si anak dengan sebaik-baiknya, memfasilitasinya dengan terarah, mengarahkannya, dan tentu saja memberikan dia skill untuk kehidupan.
Jika memang dia lemah dalam belajar matematika, maka bimbinglah dengan perlahan-lahan, jangan sekali-kali membandingkan dia dengan temannya, karena bisa jadi, dia sebenarnya kuat dalam kecerdasan visual, bukan matematika. Bukan berarti kalau dia kuat di kecerdasan visual lalu tidak perlu belajar matematika, bukan begitu. Tetapi kita harus lebih sabar dan telaten dalam membimbingnya dalam matematika, tetapi bisa jadi dia hanya butuh bimbingan yang minimal untuk kecerdasan visual, seperti seni rupa, melukis, atau bahkan desain.
Juga bukan berarti anak yang kuat kecerdasan logika-matematika tidak perlu belajar bahasa. Tetap perlu, tetapi sekali lagi, tentu kita membimbingnya lebih telaten dan sabar dibanding anak yang memang lebih cerdas verbal. Sistem pendidikan yang berlaku saat ini secara umum (tidak berarti semua lho), menempatkan kecerdasan logika-matematika sebagai acuan utama untuk menilai "seseorang itu cerdas".
Dengan demikian, sahabat saya, seorang sutradara film terkenal dan salah satu film-nya mendapatkan pujian luar biasa, tidak termasuk ke dalam kategori "cerdas" di SMA dulu. Sistem yang ada membuat dia tidak termasuk ke dalam kategori "cerdas". Dia memang tidak jago matematika, tetapi dia memiliki kecerdasan tersendiri, yang tidak diakomodasi sebagai suatu kecerdasan oleh sistem yang berlaku saat itu.
Saya yakin, banyak anak-anak yang sebenarnya cerdas (di bidangnya tentunya) tetapi tidak muncul atau tidak terfasilitasi dengan baik, karena sistem yang ada tidak membuat dia masuk kategori cerdas. Bukankah Tuhan itu menciptakan semua manusia itu cerdas ? (kecuali yang memiliki kelainan sejak lahir). Menurut saya, yang paling gawat adalah, karena kita tidak memahami makna kecerdasan ini, maka akhirnya kita tidak mamfasilitasi suatu potensi kecerdasan seorang anak, dan akibatnya hanya tetap tersimpan sebagai potensi, tidak terasah.
Jika kondisi ini terjadi, maka alangkah "berdosanya" kita sebagai guru atau orang tua, karena justru "mematikan" suatu potensi kecerdasan yang dahsyat .... Buat saya, karena anak itu memiliki kecerdasan tersendiri, maka tugas kita sebagai orang tua adalah mengarahkan dan memfasilitasi semampunya, dan jangan sekali-kali memaksakan sesuatu.
Kita harus memahami kelebihan dan kekurangannya, dan menyesuaikan strategi kita dalam membimbingnya ... itulah tugas kita sebagai orang tua .... mulai dari memahami si anak itu sendiri ... :) .
Pada masa golden years pembentukan sistem saraf secara mendasar sudah terjadi. Pada masa ini terjadi hubungan antara sel-sel saraf tersebut. Kuantitas dan kualitas sambungan ini menentukan kecerdasan balita.
Pada masa ini perkembangan otak terjadi secara keseluruhan pada keempat bagian otak, termasuk pada masing-masing belahan otak. Belahan otak inilah yang akan menyimpan kemampuan-kemampuan anak yang berbeda, yakni pada belahan otak kanan maupun kiri.
Otak kiri berhubungan dengan tangan, kaki dan tubuh sebelah kanan. Otak kiri terutama mengendalikan aktivitas yang bersifat: teratur, berurutan, rinci, sistematis, misalnya : membaca, menulis, menghitung.
Sedangkan otak kanan berhubungan dengan tangan, kaki dan tubuh sebelah kiri. Otak kanan terutama mengendalikan aktivitas yang bersifat : berfikir divergen (meluas), imajinasi, ide-ide, kreativitas, emosi, musik, spiritual, intuisi, abstrak, bebas, simultan.
Oleh karena itu, jika kita menginginkan anak dengan kecerdasan multiple latihlah kedua tangan, kaki, mata, telinga kanan dan kiri sama seringnya setiap hari, terutama sampai umur 3 tahun, agar otak kanan dan kiri berkembang optimal.
Kalau hanya melatih tangan kanan, maka fungsi otak kanan tidak berkembang optimal, sehingga anak tidak trampil berfikir divergen (meluas), rendah daya imajinasinya, kurang kreatif, kurang mampu kendalikan emosi, kurang berjiwa seni, spiritual, intuisi dan abstrak.
Anak yang kidal, latihlah ia menggunakan kedua tangan dan kakinya sama seringnya. Jangan paksakan ia menggunakan tangan kanan saja, karena otak fungsi otak kanannya akan kurang berkembang.
Adapun tahapan perkembangan kemampuan balita usia 1 hingga 3 tahun diantaranya adalah:
Usia 13-15 bulan balita sudah berminat pada gambar, mengambil mainan sendiri, berjalan sendiri, berceloteh dan mampu meniru kegiatan orang lain. Usia 16-18 bulan balita sudah mengucapkan kata-kata yang lebih banyak, dapat menemukan mainan yang disembunyikan, dan mengerti fungsi benda. Usia 19-24 bulan, balita sudah memehami konsep sederhana bentuk benda seperti segitiga dan persegi, menyebut nama sendiri serta mengucapkan satu kalimat. Usia 2-3 tahun, balita biasanya sudah dapat mencocokkan bentuk, membangun dan menghubungkan balok, berpakaian sendiri dan semakin memahami kata-kata orang lain.
Kemampuan ini harus dioptimalkan dengan cara stimulasi. Stimulasi akan mempengaruhi pertumbuhan sinaps (proses sinaptogenesis), yang membutuhkan banyak sialic acid untuk membentuk gangliosida. Ini penting untuk kecepatan proses pembelajaran dan memori.
Kebutuhan stimulasi bermain meliputi berbagai permainan yang merangsang semua indera (pendengaran, penglihatan, sentuhan, membau, mengecap), merangsang gerakan kasar dan halus, berkomunikasi, emosi-sosial, kemandirian, berpikir dan berkreasi. Kebutuhan stimulasi bermain sejak dini akan besar pengaruhnya pada berbagai kecerdasan anak (multipel inteligen).
Selain stimulasi, yang juga penting adalah faktor nutrisi. Dengan nutrisi yang lengkap dan seimbang sejak di dalam kandungan sampai umur 3 tahun, akan semakin banyak jumlah sel-sel otak bayi, semakin bagus kualitas percabangan sel-sel otak, dan semakin bagus fungsi hubungan sinaps antara sel-sel otak bayi dan balita.
Salah satu nutrisi yang penting bagi perkembangan otak adalah asam amino. Asam amino akan membentuk struktur otak dan zat penghantar rangsang (zat neurotransmitter) pada sambungan sel syaraf.
Tyrosine dan Triyptophane merupakan asam amino penting, karena sebagai bahan baku pembuat neurotransmitter katekolamin dan serotonin yang mempengaruhi pengendalian diri, pemusatan perhatian (konsentrasi), emosi dan perilaku anak. Vitamin B6 penting untuk enzim otak. Kekurangan zat besi dan yodium akan menyebabkan rendahnya kecerdasan. Seng dibutuhkan untuk pembelahan dan kemampuan membran sel-sel otak.
Kegiatan motorik halus sebaiknya sudah diperkenalkan kepada anak-anak usia prasekolah. Tentu saja hal ini seiring dengan kegiatan motorik kasarnya. Mengapa hal ini perlu dilakukan? Sebab kegiatan motorik halus merupakan langkah awal bagi pematangan dalam hal menulis dan menggambar.
Anak-anak memerlukan persiapan yang matang sebelum mereka bersekolah, sehingga kelak diharapkan mereka mampu menguasai gerakan-gerakan yang akan dilakukan nantinya pada saat bersekolah.
Sudah menjadi ciri khas, hampir semua anak memiliki sifat ingin tahu yang tinggi, memiliki imajinasi yang alami, serta kreatif. Anak-anak akan beradaptasi dan merespon dengan cepat ketika mereka berinteraksi dengan orang-orang atau benda yang ada dilingkungannya. Mereka sangat tertarik dengan berbagai hal, seperti bagaimana sesuatu bekerja atau mengapa sesuatu terjadi sebagaimana sesuatu itu terjadi.
Definisi
Apa sebetulnya yang dimaksud dengan keterampilan motorik halus? Keterampilan motorik halus (fine motor skills) adalah aktivitas-aktivitas yang memerlukan pemakaian otot-otot kecil pada tangan. Aktivitas ini termasuk memegang benda kecil seperti manik-manik, butiran kalung, memegang sendok, memegang pencil dengan benar, menggunting, nelipat kertas, mengikat tali sepatu, mengancing, dan menarik ritsleting. Aktivitas tersebut terlihat mudah namun memerlukan latihan dan bimbingan agar anak dapat melakukannya secara baik dan benar.
Keterampilan Motorik Halus
Keterampilan motorik halus ternyata memang harus melalui proses latihan yang rutin, berkelanjutan dan tepat sasaran. Hal ini bisa dibuktikan karena tidak semua anak pandai menggerakkan tangannya, misalnya ada seorang anak yang kesulitan ketika ia akan memegang sebuah bola pimpong, bola tersebut selalu lepas ketika akan diraihnya, tetapi ada anak lainnya dengan begitu mudah memegangnya.
Mengapa ada anak yang mengalami kesulitan dalam keterampilan motorik halus? Hal ini juga diakibatkan karena pesatnya kemajuan teknologi. Adanya permainan melalui video games atau komputer telah menyebabkan anak-anak kurang menggunakan waktu mereka untuk permainan yang memakai motorik halus. Tentu saja hal ini dapat menyebabkan berkembangnya otot-otot halus pada tangan mereka kurang berkembang. Keterlambatan perkembangan otot-otot ini berdampak pada anak yang mengalami kesulitan menulis ketika mereka mulai masuk sekolah. Beberapa anak menunjukkan keterlambatan dalam kemampuan motorik halus karena keterlambatan tumbuh kembang atau diagnosa medik seperti down syndrome atau cerebral palsy (cacat mental).
Cara Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak
Melatih anak dengan berbagai kegiatan yang positif seperti menggambar dan mewarnai merupakan salah satu cara meningkatkan keterampilan motorik mereka. Beberapa keterampilan tangan yang penting bagi anak untuk dikembangkan adalah :
Mampu melengkungkan telapak tangan membentuk cekungan (palmar arching)
Menggunakan jari telunjuk dan jempol untuk memegang suatu benda, sambil menggunakan jari tengah dan jari manis untuk kesetabilan tangan mereka (hand side separation).
Membuat bentuk lengkung dengan jempol dan telunjuk (open web space)
Aktivitas-aktivitas untuk Mengembangkan Keterampilan Motorik Halus Anak
Vertical Surfaces (permukaan vertikal)
Melalui latihan pada permukaan vertikal akan membantu mengembangkan otot-otot kecil pada tangan dan pergelangan, sekaligus otot-otot yang lebih besar (motorik kasar) pada lengan dan punggung. Otot-otot yang besar diperlukan untuk membantu kestabilan sementara melakukan tugas motorik halus. Menggambar dan mewarnai pada papan tulis atau sepotong kertas yang ditempel di dinding adalah cara yang paling mudah untuk menggunakan permukaan vertikal. Aktivitas lain misalnya menggambar dan bermain dengan odol/krim cukur pada ubin di kamar mandi pada saat mandi, ‘menggambar’ pagar rumah dengan air dan kuas, atau mencopot dan memasang magnet pada kulkas.
Merobek dan Meremas
Melalui latihan merobek dan meremas kertas dapat membantu mengembangkan otot halus pada tangan, yang juga digunakan untuk menulis. Buatlah anak merobek kertas koran atau kertas bekas dengan jari-jarinya dan meremasnya menjadi bola-bola untuk membuat prakarya (misalnya orang-orangan, boneka beruang), atau sekedar melemparnya masuk ke dalam kaleng sampah. Setelah mereka bisa membuatnya, perintahkan mereka untuk meremas kertas hanya dengan satu tangan. Terakhir, buatlah anak meremas kertas tisu menjadi bola kecil hanya dengan menggunakan ujung jari. Tempelkan bola-bola tisu ini pada papan untuk membuat suatu gambar.
Anda bisa juga melakukan dengan permainan yang berbeda, misalnya suruh anak-anak tersebut merobek kertas berwarna atau kertas tisu, lalu minta mereka menempelkan potongan kertas tersebut menggunakan lem pada berbagai material untuk membuat gambar mosaik (gambar yang terbentuk dari potongan-potongan kertas berwarna-warni).
Menggambar dan Mewarnai
Sering kali terjadi anak-anak diminta untuk menggunakan pensil, krayon, dan marker padahal tangan mereka belum siap menggunakan alat-alat tulis tersebut. Tentu saja hal ini bisa menyebabkan pembelajaran memegang pensil dengan cara yang tidak efisien, yang pada akhirnya menjadi masalah.
Agar anak-anak bersemangat belajar memegang alat tersebut dengan benar, berilah mereka alat-alat tulis yang bisa membantu perkembangan keterampilan motorik halus. Misalnya, crayon yang pendek (tidak lebih dari 5 cm panjangnya), akan membuat anak menggunakan keterampilan tangannya dari pada seluruh tangan. Kapur tulis berbentuk bulat telur akan membuat anak menggunakan teknik open web space (lihat di atas). Terakhir, menggambar dan mewarnai pada permukaan vertikal akan menempatkan pergelangan tangan pada sudut yang tepat untuk membentuk palmar arching.
Mind mapping, disebut pemetaan pikiran atau peta pikiran, adalah salah satu cara mencatat materi pelajaran yang memudahkan siswa belajar. Mind mapping bisa juga dikategorikan sebagai teknik mencatat kreatif.
Dikategorikan ke dalam teknik kreatif karena pembuatan mind map ini membutuhkan pemanfaatan imajinasi dari si pembuatnya. Dengan semakin seringnya siswa membuat mind mapping, dia akan semakin kreatif.
Sebagai contoh adalah mind mapping seperti tampak di samping yang dibuat oleh seorang siswa kelas VI SD. Mata pelajaran yang dipilih adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Mind mapping tersebut dibuat sebagai persiapan belajar menghadapi ujian sekolah.
Dengan komposisi materi pelajaran yang seperti itu maka sangat tidak menguntungkan apabila siswa dibiarkan belajar tanpa strategi yang tepat, yang salah satu di antaranya dimulai dari teknik membuat catatan yang memudahkan belajar. Untuk menyegarkan ingatan, coba cek sebentar artikel tentang indera belajar siswa dan pengertian mengajar.
Ya, mind mapping ini memang bentuk catatan yang memudahkan belajar. Paling tidak, siswa tidak harus membolak-balik halaman buku ketika belajar melainkan cukup menghadapi sebuah kertas lebar, yang di dalamnya sudah tercakup seluruh materi pelajaran. Lebih menghemat waktu, bukan?
Selanjutnya, cara belajarnya pun lebih mudah. Berawal dari pusat (topik utama), siswa kemudian bergerak (pandangannya!) ke samping (kiri-kanan, atas-bawah) sesuai kebutuhan. Ini memudahkan upaya mengingat, karena sesuai dengan cara kerja otak.
Apalagi jika dalam membuat mind mapping itu siswa menggunakan warna yang berbeda untuk setiap pokok pikiran. Selain mind mapping-nya tampak indah (yang semakin menarik minat untuk membacanya) juga menjadikan belajar semakin menggairahkan. Daya tarik (minat) dan gairah ini bisa memperpanjang daya konsentrasi siswa, sekaligus menggugah kemampuan terbaik siswa untuk belajar. Alhasil, hasil belajar menjadi lebih baik.
Kalau sudah berada di dekat toko mainan, pasti tangan Moms ‘gatal’ ingin membelikan si buah hati mainan yang menarik. Apalagi kalau dengar ‘bujukan’ si penjual, “Sayang anak, Bu…” sambil menyodorkan mainan yang lucu-lucu. Wuih, maunya sih diborong semua mainannya!
Eits, mainan memang ada banyak jenisnya, ada yang terbuat dari kain, plastik, kertas atau lilin. Tapi, jangan asal pilih! Ada baiknya mainan itu memberikan manfaat yang terbaik untuk proses tumbuh kembang anak. Lantas, mainan apa sih yang tepat untuk anak usia 1-3 tahun alias batita?
Utamakan Kemampuan Bahasa
Sebelum memutuskan mainan apa yang tepat untuknya, Moms musti pertimbangkan kemampuan bahasa dan motorik si kecil. Menurut Dra. Mayke S .Tedjasaputra, M.Psi, psikolog dan playterapist dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, kemampuan bahasa untuk anak usia 1 tahun ke atas adalah yang utama.
“Bila dia memiliki ‘modal’ kosakata yang kaya, tentu akan lebih mudah memahami apa yang dikemukakan oleh orang lain. Dia juga bisa merespon dengan kata-kata, bila dia sudah bisa bicara,” ujar wanita yang akrab disapa Mayke ini.
Nah, bila kemampuan bahasanya berkembang dengan baik, dia akan tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Sedangkan, Moms or Dads hanya mendampingi dan mengarahkan dia saat bermain.
Asah Kreativitas Anak
Mainan apa yang tepat untuk si 1-3 tahun? Mayke menyarankan untuk memilih mainan yang bersifat konstruktif dan merangsang kreativitas anak.
Berikut beberapa contoh mainan yang bersifat konstruktif sekaligus melatih kreativitas anak:
Balok-balok susun seperti CITY BLOK atau CAR BLOK, di mana balok-balok ini bisa disusun menjadi macam-macam bentuk bangunan seperti jembatan, gedung atau bentuk lain sesuai keinginan. Selain melatih otak kanan yang bikin anak menjadi lebih kreatif, juga melatih otak kiri karena ia belajar mengenal bentuk dan warna. Anda bisa menanyakan apa yang dibangunnya sehingga ia akan bercerita panjang lebar. Ini juga bisa melatih kemampuan bicaranya, bukan? Selain itu, bila ia menyusun balok dengan temannya, anak pun dilatih untuk bekerjasama.
Mainan bongkar pasang semacam lego. Di sini, anak bebas berkreasi menyusun dan merakitnya hingga menjadi bentuk seperti rumah, gedung bertingkat, atau bentuk lainnya seperti yang ada dalam imajinasinya. Untuk anak usia 1-3 tahun, sebaiknya pilih yang berukuran besar. Maklum, anak seusianya rentan menelan atau mencicip segala sesuatu yang baru dia kenal atau menarik perhatiannya.
Mainan yang terbuat dari lilin seperti play dough (lilin mainan). Dengan ini, anak bisa mengeksplorasi bentuk dan warna sesuai keinginannya. Moms bisa menyontohkan dari bentuk yang masih sederhana semisal bentuk lingkaran atau bola.
Asah Keterampilan Berkomunikasi
Selain mainan yang mampu mengasah kreativitas anak. Mayke juga menyarankan untuk memberikan pula mainan yang bisa merangsang keterampilan berkomunikasi, berimajinasi dan memecahkan masalah seperti berikut ini:
Telepon mainan, boneka hewan, boneka tangan dan buku cerita bergambar. Ini semua bisa merangsang perkembangan bahasa anak, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berfantasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Drum, piano mainan, crayon, buku gambar bisa menjadi media si kecil untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan imajinasinya.
Puzzle sederhana (2-4 keping), angka/alfabet mainan, bead maze (balok/bola susun) dapat mengembangkan kemampuan anak untuk menyelesaikan masalah. Mainan seperti ini juga dapat mengajarkan anak tentang proses kerja suatu benda, mengenalkan angka dan huruf, serta mengasah motorik halusnya.
Boneka lengkap dengan rumah dan pakaiannya, peralatan dapur mainan, peralatan perkakas mainan, mobil-mobilan yang dilengkapi setir bisa membantu anak untuk belajar tentang dunia orang dewasa.
Sepeda kecil, panjatan (climber) dan papan keseimbangan (see-saw) juga bisa membantu anak mengasah keterampilan motoriknya.
Sulap Kertas dan Benda Bekas Jadi Mainan
Sebenarnya, mainan tak perlu mahal. Dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita, Moms or Dads pun bisa menciptakan suatu mainan edukatif. Ya, anak tidak melulu musti disodori mainan yang ‘sudah jadi’ untuk merangsang kreativitas, keterampilan berimajinasi atau memecahkan masalah. Mau tahu beberapa di antaranya?
Kertas Tulis / Gambar
Benda ini tak hanya bisa digunakan untuk kegiatan corat-coret si kecil, melainkan juga untuk menjiplak tangan atau kakinya – dengan bantuan Moms or Dads tentunya. Dari selembar kertas ini pula, bisa dijadikan sebuah bola dengan cara meremas-remasnya. Nah, bola tersebut bisa digelindingkan, dilempar, ditendang atau diputar. Ajak anak untuk melakukan semua aktivitas itu dengan cara menyenangkan.
Kertas Krep
Ajak anak bermain ‘sulap’ dengan memanfaatkan kertas krep yang berwarna-warni. Sebelumnya sediakan wadah kecil berisi air. Celupkan dua kertas krep yang berbeda ke dalam air tersebut, misalnya warna kuning dan merah dicelupkan ke dalam air. Simsalabim! Muncul warna baru, alias warna oranye. Atau kertas merah dan biru ‘luntur’ menjadi ungu, dan sebagainya. Selain belajar mengenal warna, kegiatan ini pasti mengagumkan untuk si kecil!
Botol Plastik
Barang bekas seperti botol plastik pun bisa dimanfaatkan jadi mainan. Caranya, lubangi bagian bawah botol lalu masukkan air. Lihat apa yang terjadi, air itu mengalir dari atas ke bawah. Sederhana? Iya, tapi bagi si batita luar biasa! Katakan, “Adek…mau lihat air mancur?” Dijamin, pengalaman si kecil di dunia bermain semakin bertambah.
Seiring dengan perkembangan zaman, anak-anak kini tumbuh dan berkembang di era layar. Anak-anak terbiasa di depan layar seperti layar TV, VCD, PS, Intenet dan HP. Para orang tua tidak menyadari dampak era layar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Anak belajar melalui 3 cara, yaitu secara visual, auditorial, dan kinestetik yang kemudian disebut sebagai modalitas. Mata merupakan komponen penting modalitas visual. Mata anak adalah jendela kecerdasan mereka. Mata yang sehat membuat setiap proses belajar anak semakin optimal.
Orang tua memiliki peran cukup besar dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Tuntutan ekonomi di zaman sekarang ini membuat orang tua harus bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Alhasil, waktu bersama anak-anak pun berkurang karena kesibukan bekerja.
Kini, kita memasuki era layar dimana anak semakin terbiasa di hadapan TV, internet, video games bahkan HP. Manfaatnya tentu agar anak tidak ketinggalan zaman dan dapat menggunakan teknologi yang terbaru.
Yayasan Pemerhati Media Anak (YPMA) pada tahun 2002 menemukan bahwa Anak-anak yang ditinggal bekerja atau tidak, memiliki kebiasaan menonton TV rata-rata 5-6 jam sehari atau 1560-1820 jam/tahun, padahal belajar di Sekolah Dasar hanya 1000 jam/tahun.
Ternyata TV bukan satu-satunya layar yang dilihat anak. Hasil penelitian YPMA menunjukkan bahwa anak-anak juga sering bermain Play Station selama rata-rata 10 jam/minggu. Belum lagi, waktu yang dihabiskan anak-anak di depan HP dan layar komputer untuk internet.
Dampak Era Layar Terhadap Anak
Teknologi era layar memiliki dampak terhadap seorang anak dalam mempengaruhi otak, mata, dan jiwa serta perilakunya. Orang tua harus mempertimbangkan dan memperhitungkan manfaat serta pengaruh teknologi era layar terhadap anak.
Salah satu dampak dari gelombang sinar yang dipancarkan oleh layar adalah suatu sifat addict dari si anak dalam menonton, hal ini dikemukaan dalam The Child Obesity Summit 2005 bahwa iklan TV merupakan kontributor utama obesitas pada anak-anak.
Dalam media edukasi yang diselenggarakan di Le Meridien Hotel, 28 November 2007 lalu, Elly Risman Musa, S. Psi, seorang psikolog anak dan Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati menuturkan, “Anak lebih membutuhkan bergerak, membaca, bermain lumpur dan membangun imajinasi anak. TV membuat anak duduk diam sehingga anak menjadi pasif.”
Penelitian yang dilakukan oleh University of Washington menunjukkan bahwa pemaparan TV yang dilakukan anak-anak di usia akan mempengaruhi perhatian anak-anak di kemudian hari.
dr. Hardiono D Pusponegoro, Sp.A (K) dokter spesialis anak konsultan bidang neurologi dari RSCM Jakarta mengutip sebuah penelitian dampak menonton TV pada anak-anak usia di bawah 3 tahun dan anak usia 3-5 tahun.
Dalam penelitian tersebut, anak di bawah 3 tahun melihat layar kaca rata-rata 2 jam sehari dan anak 3-5 tahun rata-rata 3 jam sehari. Setelah anak berusia 6-7 tahun dilakukan penilaian kembali. Penelitian tersebut menunjukkan, pada anak di bawah 3 tahun terjadi penurunan kemampuan membaca, membaca komprehensif dan penurunan memori. Sebaliknya pada anak usia 3-5 tahun, memiliki kemampuan membaca yang lebih baik.
Lebih lanjut, dr. Hardiono yang akrab disapa dr Yoni ini menambahkan,”dengan hanya menonton TV saja, otak kehilangan kesempatan mendapatkan stimulasi dan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif dan memecahkan masalah. Selain itu, TV bersifat satu arah, sehingga membuat anak kurang mengeksplorasikan dunia 3 dimensi dan kehilangan peluang mencapai tahapan perkembangan yang baik.
Ancaman Sinar Biru
Salah satu sinar yang dipancarkan perangkat teknologi layar adalah sinar biru. Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang cahaya 400-500 nm yang dapat berpotensi memicu terbentuknya radikal bebas dan menimbulkan luka fotokimia pada retina anak.
Sumber sinar biru yang paling dekat dengan anak-anak adalah pancaran sinar dari TV. Lensa anak masih peka dan belum dapat menyaring bahaya sinar biru. Karena itulah risiko terbesar kerusakan akibat sinar biru pada usia dini.
Lutein sebagai karotenoid alami dapat membantu melindungi mata anak yang masih peka dari bahaya sinar biru. Lutein dapat membantu melindungi mata dengan cara menyaring sinar biru dan juga berperan sebagai antioksidan dengan caa menetralisir radikal-radikal bebas.
“Tubuh tidak dapat mensintesa lutein, oleh karena itu kebutuhan lutein harus diambil dari sayuran, buah, suplemen dan terutama dalam ASI," ungkap dr. Yoni.
Lutein terdapat dalam sayuran hijau seperti bayam, brokoli dan kacang polong, jagung, kuning telur serta buah-buahan seperti kiwi dan melon.
Tugas Orang Tua
Orang tua harus mewaspadai bahaya sinar biru terhadap kesehatan mata dan kecerdasan anak di era layar ini. Selain dampaknya bagi kesehatan mata anak, juga disadari dampak terhadap petumbuhan fisik dan perkembangan jiwa anak, dimana perkembangan jiwa anak harus disiasati dengan berusaha mengenal anak lebih dekat dan memperbaiki komunikasi.
Orang tua juga harus dapat membatasi intensitas dan frekuensi anak beraktivitas di depan layar monitor (TV). Orang tua perlu untuk merangsang anak melakukan aktivitas lain seperti bermain dengan teman dan lingkungannya, berolahraga dan beraktivitas kreatif lainnya agar stimulasi untuk perkembangan otak anak semakin lengkap.
Untuk pertumbuhan fisik anak yang optimal terutama stimulasi otak dan mata mereka, orang tua dapat menyiasatinya dengan pemberian nutrisi yang cukup. Perlindungan terhadap bahaya sinar biru harus dilakukan sedini mungkin dengan salah satunya asupan lutein yang terdapat dalam susu.
Sebagian orang tua masih menganggap bermain bersama anak merupakan sesuatu tidak berguna. Padahal mengajak si kecil bermain banyak manfaatnya untuk tumbuh kembang fisik dan psikisnya.
Berikut ini 9 manfaat bermain bagi anak menurut buku ‘Games Therapy untuk Kecerdasan Bayi dan Balita’ yang ditulis oleh Psikolog Effiana Yuriastien dan kawan-kawan:
1. Memahami diri sendiri dan mengembangkan harga diri
Ketika bermain, anak akan menentukan pilihan-pilihan. Mereka harus memilih apa yang akan dimainkan. Anak juga memilih di mana dan dengan siapa mereka bermain. Semua pilihan itu akan membantu terbentuknya gambaran tentang diri mereka dan membuatnya merasa mampu mengendalikan diri. Permainan memotong kertas, mengatur letak atau mewarnai misalnya dapat dilakukan dalam beragam bentuk. Tidak ada batasan yang harus diikuti. Identitas dan kepercayaan diri dapat berkembang tanpa rasa ketakutan akan kalah atau gagal. Pada saat anak menjadi semakin dewasa dan identitasnya telah terbentuk dengan lebih baik, mereka akan semakin mampu menghadapi tantangan permainan yang terstruktur, bertujuan dan lebih dibatasi oleh aturan-aturan.
2. Menemukan apa yang dapat mereka lakukan dan mengembangkan kepercayaan diri
Permainan mendorong berkembangnya keterampilan, fisik, sosial dan intelektual. Misalnya perkembangan keterampilan sosial dapat terlihat dari cara anak mendekati dan bersama dengan orang lain, berkompromi serta bernegosiasi. Apabila anak mengalami kegagalan saat melakukan suatu permainan, hal itu akan membantu mereka menghadapi kegagalan dalam arti sebenarnya dan mengelolanya pada saat mereka benar-benar harus bertanggungjawab.
3. Melatih mental anak
Ketika bermain, anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya. Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki sekaligus mendapatkan pengetahuan baru. Orang tua akan dapat semakin mengenal anak dengan mengamati saat bermain. Bahkan, lewat permainan (terutama bermain pura-pura) orang tua juga dapat menemukan kesan-kesan dan harapan anak terhadap orang tua serta keluarganya.
4. Meningkatkan daya kreativitas dan membebaskan anak dari stres
Kreativitas anak akan berkembang melalui permainan. Ide-ide yang orisinil akan keluar dari pikiran mereka, walaupun kadang terasa abstrak untuk orang tua. Bermain juga dapat membantu anak untuk lepas dari stres kehidupan sehari-hari. Stres pada anak biasanya disebabkan oleh rutinitas harian yang membosankan.
5. Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak
Dalam permainan kelompok, anak belajar tentang sosialisasi. Anak mempelajari nilai keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok. Ketika anak memainkan peran ‘baik’ dan ‘jahat’, hal ini membuat mereka kaya akan pengalaman emosi. Anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan dari situasi yang dia hadapi.
6. Melatih motorik dan mengasah daya analisa anak
Melalui permainan, anak dapat belajar banyak hal. Di antaranya melatih kemampuan menyeimbangkan antara motorik halus dan kasar. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Permainan akan memberi kesempatan anak untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus memecahkan masalah. Anak-anak akan berusaha menganalisa dan memahami persoalan yang terdapat dalam setiap permainan.
7. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan anak
Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain, seringkali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin dalam kehidupan nyata, mungkin akan memperoleh pemenuhan keinginan itu dengan menjadi pemimpin tentara saat bermain.
8. Standar moral
Walaupun anak belajar di rumah dan sekolah tentang apa yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral selain dalam kelompok bermain.
9. Mengembangkan otak kanan anak
Bermain memiliki aspek-aspek yang menyenangkan dan membuka kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebaya serta mengembangkan perasaan realistis akan dirinya. Dengan begitu, bermain memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang mungkin kurang terasah baik di sekolah maupun di rumah.
Catatan: Berikanlah pujian kepada anak dengan menggunakan kalimat yang positif dan mampu menjadi penyemangatnya dalam melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi. Contoh, saat anak diminta mengambil spidol warna merah, awali dengan kata ‘tolong’. Jika anak berhasil mengambilnya, berikan pujian dan ucapkan terimakasih.
Demikian juga ketika ia tidak berhasil menemukannya, ucapkanlah kalimat positif yang tidak mematahkan semangatnya. Tetap ucapkan terima kasih atas hasil jerih payahnya. Misalnya saja, “Makasih ya adik sudah mencarikan spidolnya. Spidolnya ada di dekat buku gambar adik.”
BERMAIN merupakan seluruh aktivitas anak, termasuk bekerja, penyaluran hobi, dan merupakan cara mereka mengenal dunia. Lewat bermain terjadi stimulasi pertumbuhan otot-ototnya ketika anak melompat, melempar, atau berlari. Selain itu anak bermain dengan menggunakan seluruh emosi, perasaan, dan pikirannya.
Perkembangan Motorik Anak
Perkembangan motorik anak merupakan bagian dari tumbuh kembang anak yang dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yakni genetik dan lingkungan. Faktor genetik adalah faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, suku bangsa atau bangsa. Gangguan pertumbuhan di negara maju sering diakibatkan oleh faktor genetik, sedangkan di negara berkembang (termasuk Indonesia) selain faktor genetik juga faktor lingkungan yang kurang memadai untuk tumbuh kembang yang optimal.
Faktor lingkungan dibagi dua, pra-natal dan post-natal. Pra-natal (bayi masih dalam kandungan): gizi saat ibu hamil, trauma, cairan ketuban yang kering, posisi janin dalam kandungan, toksin/zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi intrauterin yang menyebabkan cacat bawaan yaitu TORCH, dll, stres saat ibu hamil, kelainan rhesus.
Post-natal (setelah dilahirkan): Masa antara usia kandungan 28 minggu hingga anak berusia 7 hari merupakan masa rawan dalam proses tumbuh kembang anak, khususnya tumbuh kembang otak. Trauma akibat persalinan akan berpengaruh besar dan dapat menyebabkan cacat permanen.
Pada bayi dan balita, perkembangan motorik tidak terlepas dari refleks-refleks yang terdapat pada bayi, yang sudah ada ketika bayi lahir dan lama kelamaan menghilang dan digantikan oleh refleks lain sesuai perkembangan susunan sarafnya. Dimulai dengan posisi 'apedal' (spinal level), di mana bayi hanya telentang saja, kemudian berkembang menjadi 'quadripedal' (righting reactions/midbrain level) dan akhirnya menjadi 'bipedal' (equilibrium reactions/cortical level).
Pemantapan dari reaksi keseimbangan ini akan menjadikan seorang individu menjadi manusia stadium 'bipedal' (posisi berdiri dengan kedua kakinya).
Bermain dengan anak haruslah dalam suasana yang menyenangkan. Bagi anak di bawah 5 tahun, Anda dapat melatih motorik sambil bermain. Lewat bermain ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh, antara lain:
Membuang ekstra energi.
Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang-tulang dan organ-organ.
Aktivitas yang dilakukan dapat meningkatkan nafsu makan anak.
Anak belajar mengontrol diri.
Berkembangnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidunya.
Meningkatkan daya kreativitas.
Mendapatkan kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada di sekeliling anak.
Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekhawatiran, iri hati dan kedukaan.
Kesempatan untuk belajar bergaul dan bersosialisasi dengan anak lain.
Kesempatan untuk menjadi pihak yang kalah atau menang di dalam bermain.
Kesempatan untuk belajar mengikuti aturan-aturan.
Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.
Pilih alat permainan yang bersifat edukatif, yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, sesuai dengan usianya dan tingkat perkembangan. Permainan edukatif adalah mainan yang dapat mendorong 4 aspek, antara lain:
Pengembangan aspek fisik.
Pengembangan bahasa.
Pengembangan aspek kognitif, pengenalan suara, ukuran, bentuk dan warna.
Pengembangan aspek sosial, dalam hubungannya dengan interaksi dengan ibu dan anak, keluarga serta masyarakat.
Dari berbagai macam alat permainan, berikut ini adalah contoh alat permainan yang dapat digunakan untuk melatih motorik kasar dan motorik halus.
Permainan untuk pertumbuhan fisik/motorik kasar:
• Sepeda roda tiga atau dua.
• Bola berwarna-warni.
• Mainan yang ditarik atau didorong.
• Tali, dll.
Permainan untuk memicu motorik halus:
• Gunting.
• Pensil.
• Bola.
• Balok.Lilin, dll
Nah, tunggu apa lagi. Saatnya mengajak si kecil bermain, Anda tak sabar melihat si kecil tertawa bukan?
Berikut hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk mendorong perkembangan otak bayi pada setiap tingkat pertumbuhan.
Usia lahir sampai umur 4 bulan
Membaca, membuat wajah-wajah lucu atau aneh, menggelitik badan bayi, menggerakkan benda-benda di depan mata bayi misalnya bola warna cerah, menyanyikan lagu sederhana dengan ungkapan yang diulang-ulang, menceritakan apa saja yang akan Anda dan bayi Anda lakukan.”Bobo yaa, mama buatin susu.”
Umur 4 bulan sampai 6 bulan
Bantu bayi anda memeluk boneka hewan, menumpuk sesuatu (misalnya balok plastik), dan biarkan bayi anda merobohkannya, main musik dengan irama yang berbeda, tunjukkan buku dengan warna-warna yang cerah, biarkan bayi anda meraba benda dengan tekstur yang beda.
Umur 6 bulan sampai 18 bulan
Bicara dan interaksi tata muka untuk meningkatkan hubungan antara bunyi dan kata, tunjuk orang-orang dan benda-benda yang diakrabi dan ulangi nama, menyanyikan lagu dengan ungkapan repetitif dan gerakan tangan, bermain petak umpet.
Umur 18 bulan sampai 24 bulan
Bermain pengenalan sederhana. Misalnya tunjuk mobil warna kuning atau bunga warna merah. Atau letakkan 3 benda di depan anak anda dan katakan kepadanya “Ambilkan saya…” bicara langsung kepada bayi anda sebanyak mungkin; perkenalkan alat tulis kepada anak anda, misalnya krayon, kertas. Tanyakan ‘dimana’ dan ‘apa’ ketika membaca untuk anak. Dorong permainan mandiri dengan mainan favorit.
Umur 24 bulan sampai 36 bulan
Beri pujian dan dorongan jika anak anda melakukan keterampilan motor secara baik. Dorong imjinasi anak dengan mengusulkan cara-cara baru dengan menggunakan mainan, bantu anak memasukkan aktivitas-aktivitas hidup nyata kedalam permainan. Misalnya pura-pura bicara di telepon, menyetir mobil. Jika membaca libatkan anak anda ke dalam cerita dengan mengajukan pertanyaan, menunjuk kata sambil membacakan kepada anak anda. Dorong anak untuk mengenali kata-kata pada halaman buku atau bunyinya.
Umur 3 tahun sampai 5 tahun
Ajarkan berbagi dengan contoh, main permainan papan sederhana untuk menanamkan aturan pembelajaran dan keterampilan, batasi nonton tv / video antara 1 sampai 2 jam sehari. Nonton dengan anak untuk membuatnya interaktif. Sesudah umur anak bertambah, tawarkan pilihan-pilihan sederhana. misal membaca buku atau main puzzle. Batasi menggunakan kata tidak dan dorong eksplorasi dan rasa ingin tahu alamiah. Beri respek dan perhatian pada anak anda dan tunjukkan kesabaran ketika anak anda mencoba menjelaskan pengalaman-pengalaman barunya. Luangkan waktu setiap hari untuk duduk dengan anak Anda dan diskusi apa yang dia kerjakan hari ini. Dorong anak Anda untuk menjelaskan dan menjelajahi pengalaman baru.
Siapa saja bisa mendongeng, tidak ada yang tidak bisa. Mulai dari presiden sampai pengemis. Bahkan, maaf, orang cacat pun terkadang lebih bisa mendongeng dari pada kita yang normal, tinggal bagaimana caranya masing-masing yang sesuai dengan kemampuannya. Tetapi untuk bisa mendongeng dengan baik dan menarik tentunya tidak mudah.
Agar kita bisa mendongeng dengan baik dan menarik, kiat-kiatnya antara lain adalah :
1. Berdoa
Sepintar apa pun kita mendongeng, tetap saja kita tidak boleh mengabaikan hal yang satu ini, dengan berdoa terlebih dahulu yakinlah bahwa kita akan berhasil mendongeng dan menyampaikan pesan-pesan positif dengan baik.
2. Mempersiapkan Cerita Dongeng
Siapkan cerita yang akan kita sampaikan, bisa kita karang sendiri atau kita gunakan cerita karya orang lain. Dongeng/cerita disarankan antara lain :
• Mudah kita kuasai
• Dapat menghibur dan memikat perhatian anak-anak
• Dapat mengembangkan imajinasi anak-anak
• Edukatif/mendidik
3. Memiliki Rasa Malu Terhadap Diri Sendiri & Anak-anak
Idealnya dalam mendongeng, kita tentunya selalu menyampaikan nasehat-nasehat yang ada dalam cerita kepada anak-anak. Oleh karena itu, sebaiknya kita juga harus punya rasa malu kepada diri sendiri dan anak bila diri kita sendiri tidak seperti apa yang kita nasehatkan kepada anak-anak.
4. Menyukai dan Menyayangi Anak-anak
Pastikan bahwa kita menyukai dan menyayangi anak-anak, tanpa hal ini mustahil kita akan bisa mendongeng dengan baik. Sebab kalau kita sendiri kurang menyukai dan menyayangi anak, apa mungkin kita bisa sabar dan santun dalam menyampaikan cerita kepada anak-anak?
5. Mendalami dan Menghayati Cerita/Dongeng
Sebelum kita sampaikan ke anak-anak, kita harus terlebih dahulu dapat mendalami dan menghayati cerita. Dengan mendalami dan menghayati cerita, kita akan dapat lebih hidup dalam menyampaikan alur-alur cerita dan lebih ekspresif dalam bertutur kata.
6. Gunakan Kata-kata Yang Mudah Dipahami Anak
Rasanya kita tidak mungkin dalam mendongeng menggunakan kata-kata yang tidak mudah dipahami oleh anak. Misalnya saja kita menggunakan kata 'biografi', 'profesi', 'kompensasi', dan lain sebagainya. Lebih sangat tidak mungkin lagi kita mendongeng di depan anak-anak berkebangsaan lain dengan menggunakan bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya.
7. Gunakan Karakter Suara Yang Sesuai Dengan Tokoh-tokoh Cerita
Karakter suara pada setiap tokoh tentunya harus berbeda-beda dan sesuai dengan karakter tokoh masing-masing, sebab kalau tidak, kita tidak akan berhasil menyampaikan dongeng dengan baik. Contohnya, untuk memperagakan tokoh Nenek Sihir yang jahat tidak mungkin kita menggunakan karakter suara yang halus dan lemah lembut bak seorang peri yang baik hati.
8. Gunakan Alat Peraga
Anak-anak biasanya akan tertarik sekali kalau kita mendongeng menggunakan alat peraga/properti. Alat peraga bisa saja berupa sebuah boneka atau benda-benda lainnya. Tetapi kalau kita tidak punya alat peraga, kita tetap dapat membuat anak-anak tertarik dengan dongeng dengan cara membuat gerakan-gerakan ekspresif, enerjik, dan jenaka.
9. Gunakan Ilustrasi Musik dan Efek-efek Suara
Dongeng yang kita sampaikan akan menjadi lebih hidup bila diiringi dengan musik ilustrasi dan efek suara. Hal ini juga akan semakin mempermudah anak-anak berimajinasi dan terbawa emosinya.
Musik membuat hidup ini serasa indah. Musik juga dapat mengoptimalkan kecerdasan. Pada abad 19 seorang penulis di Inggris pernah berkata “Musik itu adalah nyanyian para malaikat”. Tidak bisa dipungkiri, musik memang memiliki kekuatan luar biasa yang juga berdampak besar bagi kejiwaan. Hal ini berlaku juga bagi bayi dan anak.
Musik dan Matematika Banyak penelitian membuktikan, janin menunjukkan reaksi tertentu jika diperdengarkan musik. Ibu yang sedang hamil merasakan gerakan janin yang semakin cepat atau justru lebih santai. Sementara itu, banyak juga yang berpendapat musik klasik yang diperdengarkan ibu hamil, dan juga janinnya, dapat membuat kecerdasan pada anak lebih tinggi.
Psikolog Fran Rauscher dan Gordon Shaw dari University of California-Irvine, Amerika Serikat pada tahun 1994 melakukan penelitian yang membuktikan bahwa erat kaitan antara kemahiran bermusik dengan penguasaan level matematika yang tinggi, dan keterampilan-keterampilan sains. Setelah delapan bulan, penelitian kedua pakar ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan program pendidikan musik, meningkat inteligensi spasialnya (kecerdasan ruang) sebesar 46% dibandingkan dengan anak-anak yang tidak diekspos oleh musik.
Musik dan Bermain
Ahli saraf dari Harvard University, Mark Tramo, M.D. mengatakan, “Dalam otak kita, jutaan neuron dari sirkuit secara unik menjadi aktif ketika kita mendengar musik. Neuron-neuron ini menyebar ke berbagai daerah di otak, termasuk pusat auditori di belahan kiri dan belahan kanan”. Rupanya mulai dari sinilah kaitan antara musik dan kecerdasan terjadi. Tapi, ini bukan berarti anda harus memiliki grand piano di rumah. Anda juga tidak wajib mendominasi rumah dengan berlebihan. Yang penting, biasakanlah musik menghiasi ruang di sekitar anak-anak. Putarkan lagu di radio. Bernyanyilah bersama. Kalu perlu, ekspresikan bakat penyanyi terkenal bersama si kecil.
Melalui kegiatan bermain, anak memperoleh manfaat dari musik. Dr. Dee Joy Coulter, seorang pendidik Neuroscience dan penulis buku Early Childhood Connections : The Journal of Music and Moment-Based Learning, mengklasifikasikan lagu-lagu, gerakan dan permainan anak sebagai latihan untuk otak yang brilian. Mengenalkan anak pada pola bicara, keterampilan-keterampilan sensory motor, dan strategi gerakan yang penting. Melalui permainan yang mengandung musik, tak hanya perkembangan bahasa dan kosa kata saja yang meningkat, tapi juga berita dan keterampilan beriramanya. Logika membuat anak nantinya mampu mengorganisasi ide dan mampu memecahkan masalah. Pendidikan prasekolah pun menggunakan musik sebagai bagian dari proses pendidikan, dikarenakan berbagai manfaat yang didapat dari musik.
Manfaat Musik Bagi si Kecil diantaranya adalah: • Mengoptimalkan perkembangan otak. • Meningkatkan multiple intelligence. • Memfasilitasi emotional bonding (ikatan emosional) orang tua dan anak. • Membangun keterampilan sosial dan emosional anak. • Meningkatkan perhatian terhadap tugas-tugas dan kemampuan bicara. • Mengembangkan kontrol impulsif dan perkembangan motorik. • Menjembatani kreativitas dan kesenangan.
Apresiasi Musik Sesuai Usia Anak
Usia 0-1 tahun
Pada usia sembilan bulan, bayi biasanya mulai bergerak maju-mundur merespons alunan musik yang didengarnya, melambai-lambaikan tangan mengikuti irama. Di usia 1 tahun, anak yang intensif diperdengarkan lagu semakin terampil merespons rangkaian bunyi irama.
Usia 2 tahun
Biasanya anak dapat mengikuti lagu dengan senandung yang nadanya belum pas benar. Gerak tubuh lebih terarah dan kesukaannya bergoyang semakin meningkat.
Usia 3 tahun
Si kecil yang mulai suka menentang berbagai aturan mulai menyukai kegiatan eksperimental dalam apresiasi musik. Selain mengikuti musik dengan gerak tubuh, ia juga suka mengetuk-ngetuk, memukul-mukul, atau menggesekan benda mengikuti irama. Bila dibiasakan mendengarkan musik, anak bahkan bisa lebih kreatif dengan menciptakan lagu-lagu yang kata-katanya dibuat oleh mereka sendiri.
Sebagian besar orang menemukan bahwa diri mereka adalah seorang pembelajar visual. Diperkirakan 60% dari seluruh populasi dunia merupakan pembelajar visual. Pembelajar visual pada umumnya menggunakan bantuan-bantuan visual seperti grafik dan diagram untuk memudahkan mereka memahami dan mengingat informasi lebih baik dibandingkan jika mereka mendengarnya.
Pembelajar Visual harus melihat materi yang disampaikan supaya bisa mengerti dengan baik. Pembelajar tipe ini umumnya bermasalah dengan arahan yang disampaikan dengan lisan, kesulitan dalam mengikuti pelajaran secara lisan dan terkadang salah menafsirkan kata-kata yang disampaikan dengan lisan. Individu yang merupakan pembelajar visual harus memproses informasi dengan mata mereka. Mereka belajar dengan membaca, mengamati, dan sebagai hasilnya mereka baik dalam melihat gambar.
Pembelajar visual bisa melihat bentuk sebuah huruf dibandingkan dengan susunan huruf itu sendiri ataupun bunyinya. Pembelajar visual baik dalam menggunakan grafik dan peta, mereka harus membawa bacaan ketika sedang bepergian/berlibur. Mereka suka melakukan riset yang mendalam sebelum memasuki perubahan penting dalam kehidupan mereka.
Pembelajar visual cenderung menunjukkan karakteristik seperti ini:
• Menyukai majalah, buku dan materi-materi bacaan
• Memproses dengan baik informasi-informasi yang tertulis seperti grafik, peta, diagram, tabel, dll.
• Frustrasi apabila tidak bisa mencatat
• Memiliki ingatan fotografis yang sangat baik
• Bisa mengingat dengan tepat di mana informasi terdapat dalam suatu halaman
• Cenderung belajar di tempat yang sepi
• Mendapatkan manfaat dari catatan yang dibuatnya sendiri, bahkan dari informasi yang dicetak
• Mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran/kuliah yang berdurasi panjang
• Cenderung baik dalam pengejaan
• Cenderung detail dalam segala hal
• Rapi dan teratur
• Seringkali meminta arahan verbal untuk diulang-ulang
• Harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi instruktur/pengajar
Tips untuk pembelajar visual
Untuk memaksimalkan gaya belajar secara visual, gunakan tips-tips di bawah ini:
• Meminta arahan secara tertulis
• Gunakan diagram dan flow chart untuk mencatat
• Catatan yang penting dihighlight/stabile
• Visualisasikan ejaan kata-kata ataupun fakta yang harus diingat
• Tulis kata-kata kunci
• Mencatat apa yang ada di papan tulis
• Duduk di barisan depan kelas
• Menonton video/film
• Gunakan kertas grafik untuk membuat diagram dan tabel untuk mencatat kata-kata kunci
• Gunakan ilustrasi untuk mengingat materi-materi penting
• Gunakan metafora visual untuk mengasosiasikan materi-materi relevan
• Tulis penjelasan untuk poin-poin yang dirasakan sulit untuk dimengerti
Pembelajar visual lebih menyukai ujian berupa essay, map dan diagram.
Pembelajar Auditory
Pembelajar auditori (pendengaran) merupakan orang yang lebih menyukai mendengarkan pelajaran, dibandingkan membacanya. Diperkirakan 30% dari seluruh populasi dunia merupakan pembelajar tipe auditori. Pembelajar auditori paling baik dalam mengingat informasi yang disampaikan secara lisan dibandingkan membacanya.
Pembelajar auditory cenderung menunjukkan karakteristik seperti ini:
[1] Suka berbicara dalam kelas
[2] Belajar dengan baik melalui audio, kuliah lisan, presentasi dan instruksi verbal
[3] Lebih menyukai laporan lisan daripada laporan tertulis
[4] Menikmati debat dan diskusi
[5] Mendapatkan manfaat dari membaca dengan suara keras
[6] Lebih mudah mengikutiarahan secara verbal/lisan daripada arahan tertulis
[7] Cenderung menghafal dengan baik
[8] Menghafal nama orang lain dengan baik
[9] Menyukai mendengarkan berita
[10] Tidak bisa mengerti peta, diagram dan tabel dengan cepat
[11] Menikmati pembicaraan dengan orang lain
[12] Menikmati musik
[13] Suka menyanyi
[14] Pada umumnya cepat mempelajari bahasa asing
[15] Mendapatkan manfaat dari belajar bersama
[16] Pelan dalam membaca materi
[17] Cenderung fasih dalam berbicara
[18] Tidak bisa diam (tidak berbicara) dalam waktu yang lama
Tips untuk pembelajar auditory
Untuk memaksimalkan gaya belajar secara auditori, gunakan tips-tips di bawah ini:
[1] Menggunakan audiotape (atau media rekaman lainnya) untuk belajar
[2] Membaca dengan keras informasi yang sedang dibaca
[3] Sering-sering bertanya
[4] Menonton video
[5] Menggunakan teknik asosiaso kata untuk mengingat fakta
[6] Berpartisipasi dalam diskusi kelas
[7] Menghindari gangguan-gangguan yang bersifat suara
[8] Mendengarkan lagu ketika belajar
[9] Menulis langkah-langkah dalam kalimat, kemudian dibaca dengan keras
Pembelajar auditory lebih menyukai ujian dan kuliah bersifat lisan
Pembelajar Kinestetik
Diperkirakan 10% dari populasi dunia saja yang merupakan pembelajar kinestetik. Gaya belajar kinestetik berhubungan erat dengan kemampuan untuk menyerap informasi dengan pengalaman, menyentuh, melakukan, bergerak dan aktif dalam suatu kegiatan. Orang-orang dengan kategori pembelajar kinstetik lebih memilih situasi di mana mereka bisa ikut terlibat dalam kegiatan fisik.
Pembelajar kinestetik cenderung menjadi orang yang menyentuh dan merasakan sesuatu. Mereka memproses informasi melalui indera perasa, seperti meraba bentuk dan teksturnya. Walaupun ada kemungkinan orang-orang seperti ini untuk mencatat, ketika mereka sudah terlibat dalam suatu kegiatan, mereka cenderung tidak mencatatnya lagi, karena sudah memiliki pengalamannya.
Pembelajar kinestetik cenderung melakukan sentuhan terhadap sesamanya. Ketika mereka berbicara dengan sesamanya, mereka cenderung menyentuh temannya di pundak atau tangannya. Aktivitas fisik menjadi metode terbaik untuk pembelajr kinestetik seperti: pekerjaan laboratorium, role play, pembuatan model, dll. Pembelajar kinstetik perlu sering-sering melakukan istirahat ketika belajar untuk menghindari kebosanan. Komputer merupakan media yang sangat berguna untuk pembelajar kinstetik, khususnya untuk menambah informasi melalui indera perasa mereka.
Pembelajar kinestetik cenderung menunjukkan karakteristik seperti ini:
[1] Menikmati aksi, pengalaman dan petualangan
[2] Mengingat dengan baik ketika menggunakan alat dan beraktivitas
[3] Menikmati konsep demonstrasi
[4] Menguasai keahlian melalui latihan dan meniru
[5] Belajar dengan baik melalui kegiatan lapangan
[6] Cenderung mengkoleksi barang
[7] Tulisan tangannya biasanya kurang bagus
[8] Lemah dalam pengejaan
[9] Menggunakan tangan untuk berkomunikasi dan berbicara dengan cepat
[10] Mendapatkan manfaat dari role play
[11] Baik dalam olahraga
[12] Menikmati backgound music yang dipasang ketika bekerja ataupun belajar
[13] Mengambil waktu istirahat berkali-kali ketika belajar
[14] Biasanya baik dalam memainkan alat musik
[15] Biasanya baik dalam dansa dan bela diri
[16] Menikmati seni, kerajinan dan eksperimen ilmiah
[17] Gelisah dalam sebuah kuliah yang lama
[18] Seringkali menyentuh sesama dalam bahasa tubuh persahabatan
Tips untuk pembelajar kinestetik:
Untuk memaksimalkan gaya belajar secara kinestetik, gunakan tips-tips di bawah ini:
[1] Mempraktekkan teknik
[2] Mendemonstrasikan prinsip
[3] Membuat suatu tiruan/model
[4] Terlibat dalam aktivitas fisik
[5] Belajar dalam keadaan dan posisi yang nyaman
[6] Lakukan aktivitas lapangan
[7] Melakukan latihan untuk daya ingatan ketika sedang berjalan atau bergerak
[8] Daripada menaruh buku di meja ketika sedang membacanya, peganglah buku tersebut di tangan
[9] Ketika sedang menjelaskan, berdirilah
[10] Duduklah di bagian depan kelas untuk menghindari gangguan ketika pelajaran berlangsung
[11] Dengarkan rekaman audio pelajaran/kuliah ketika sedang berjalan atau bergerak, untuk hasil maksimal.
Pembelajar kinestetik lebih menyukai ujian mengisi dan pilihan berganda. Ketahui gaya belajar Anda lewat analisa sidik jari.