Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Efek Senyum Saat Menstimulasi Otak

Sekali saja seseorang tersenyum, banyak efek positif yang ditimbulkannya. Senyum menstimulasi otak dan hormon yang kemudian menimbulkan beragam efek positif bagi seseorang.

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan, saat tersenyum, bagian otak yang mengatur emosi bahagia diaktifkan. Dengan senyum, hormon pemicu stres berkurang, sementara hormon pembangkit mood meningkat. Senyuman juga menstimulasi otak yang bisa membuat pikiran lebih positif. Bahkan, dengan tersenyum, seseorang bisa menurunkan tekanan darahnya.

Penelitian di Inggris juga menunjukkan, sekali senyuman bisa menimbulkan efek stimulasi di otak setara dengan efek yang didapatkan dari makan 2.000 batang cokelat.

Senyum merupakan cara paling ringan yang bisa dilakukan seseorang untuk mendapatkan banyak manfaat positif. Pasalnya, kata Vera, seseorang hanya butuh menggunakan 17 otot di wajah untuk tersenyum. Bandingkan saja dengan mengerenyitkan dahi. Seseorang butuh lebih dari 40 otot di wajah saat mengerenyitkan dahi.

"Banyak orang meremehkan efek senyum. Padahal, senyum lebih ringan dan efektif, selain lebih murah," kata Vera di sela kegiatan perayaan World Oral Health Day 2014 di Jakarta.

Senyum Duchenne
Untuk bisa mendapatkan beragam manfaat senyum tersebut, Vera mengatakan, tak semua jenis senyum memberikan dampak sama. Dari beragam tipe senyum, hanya senyum ala Duchennelah yang memberikan manfaat paling maksimal.

"Duchenne smile yang paling bisa memberi efek stimulasi otak," katanya.

Duchenne smile, ujarnya, hanya terjadi saat seseorang memberikan senyum tulus, yakni ketika otot mata ikut tersenyum. Dengan kata lain, saat tersenyum, mata akan ikut berkerut dan menampakkan gigi. Tipe senyuman ini juga bisa membedakan antara senyum palsu atau sungguhan.

KOMPAS.com | Penulis: Wardah Fajri | Editor: Wardah Fajri



Artikel lainnya:

Jangan Asal Ikuti Kebiasaan Minum Obat

Orang tua kerap seperti "hilang akal" saat anaknya sakit. Akibatnya orang tua akan membeli obat dan menuruti saran apa pun asal anaknya se
mbuh. Termasuk anjuran atau kebiasaan konsumsi obat yang tidak sepenuhnya benar. Padahal beberapa kebiasaan berisiko menyebabkan obat tidak terserap sempurna.

Ada beberapa anjuran yang sebaiknya tidak dituruti meski sudah jadi kebiasaan. Orangtua tidak boleh asal nurut, dan harus menanyakan pada dokter bagaimana cara mengonsumsi obat yang benar, kata dokter spesialis anak, Wiyarni Pambudi, dalam kelas parenting, New Parent Academy, Minggu (23/3/2014).

Setidaknya ada lima saran atau kebiasaan umum yang harus ditanyakan sebelum mengonsumsi obat:

1. Minum obat setelah makan Tidak semua obat bisa diminum setelah makan. Beberapa obat ada yang dikonsumsi sebelum makan, misalnya untuk pencernaan. Hal ini sama seperti konsumsi suplemen vitamin B. Suplemen vitamin B harus dikonsumsi sebelum makan supaya bisa terserap usus dengan sempurna. Jika makan dulu maka penyerapan vitamin B akan terganggu, kata Wiyarni.

2. Minum obat tiga kali sehari Frekuensi minum obat, terang Wiyarni, seharusnya dijelaskan dengan aturan jam bukan kuantitas. Aturan jam memungkinkan obat terserap tubuh dengan baik dan menghindarkan salah pengertian pada pasien. "Kalau aturan tiga kali sehari maka bisa saja pasien minum sesuai dosis pada satu waktu. Cara konsumsi obat seperti itu tentu salah. Karena itu lebih baik dikatakan minum obat 8 jam sekali, kata Wiyarni.

3. Pemberian sediaan sirup dengan sendok teh Anjuran tersebut kerap ditemukan pada kemasan obat yang dijual bebas atau over the counter (OTC). Menurut Wiyarni, pemberian anjuran tersebut tidak tepat karena tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama terkait ukuran sendok teh. Bila dosis yang dikonsumsi tidak tepat, maka pasien akan sulit sembuh dari sakitnya. Pemberian obat sediaan sirup lebih baik diberikan dalam ukuran volume, misal ml atau cc, dengan gelas ukur atau sendok tertentu yang sudah disediakan produsen obat.

4. Konsumsi obat sampai habis Tidak semua obat harus dikonsumsi sampai habis, misalnya antibiotik sediaan sirup untuk bayi dan anak. Sediaan sirup membutuhkan 15-20 hari sebelum habis, padahal sebelum habis biasanya anak sudah sembuh. Sebaiknya tanyakan sampai kapan harus mengonsumsi obat tersebut. Bila tidak juga sembuh sampai hari yang ditentukan maka konsultasikan kembali dengan dokter, kata Wiyarni.

5. Obat diberikan sebagai bentuk pencegahan Obat tidak diberikan untuk pencegahan. Konsumsi obat bertujuan untuk menyembuhkan pasien yang sudah sakit. Paracetamol misalnya, hanya diberikan bila suhu mencapai 38,5 C. Jika belum mencapai suhu itu maka paracetamol tidak memberi manfaat untuk menurunkan panas, kata Wiyarni.

Selain lima kebiasaan tersebut, Wiyarni juga menyarankan orangtua tidak memberi obat dengan asal minum, oles, atau tetes. Tiap pemberian obat harus sesuai sasaran dan dosis pemberian. Wiyarni mencontohkan pemberian obat tetes mata biasanya diberikan di kornea. Padahal pemberian obat tetes seharusnya di bagian kantung mata, untuk menyembuhkan iritasi atau gatal.

Bila obat diberikan dalam jangka panjang, maka orangtua harus tahu indikasi dan manfaat bagi anak. Meski obat tidak menimbulkan ketergantungan, beberapa jenis suplemen ternyata menimbulkan adiksi. Misal penambah daya tahan tubuh atau Immunoglobulator.

KOMPAS.com | Penulis: Rosmha Widiyani | Editor: Wardah Fajri



Artikel lainnya:

Kesehatan Seseorang Dapat Dipengaruhi Sejak Dalam Rahim

MASALAH kesehatan yang dialami ketika seseorang memasuki usia dewasa, seperti obesitas, asma, alergi, dan penyakit jantung ternyata dapat dipengaruhi ketika masih berada di dalam rahim. Benarkah demikian?

Menurut sebuah temuan baru dari British Nutrition Foundation (BNF) Task Force yang baru saja dirilis menemukan bahwa orang dewasa yang mengalami obesitas, asma, alergi, penyakit, jantung, dan lain-lain kemungkinan disebabkan oleh perilaku buruk sang ibu ketika mengandung mereka.

Ketua Satgas BNF, Profesor Tom Sanders menjelaskan, pertumbuhan janin yang buruk dapat berhubungan dengan konsekuensi jangka panjang yang merugikan bagi kesehatan.

“Pertumbuhan janin yang buruk juga dapat memengaruhi perkembangan ginjal, sehingga membuat anak lebih sensitif terhadap tekanan darah. Akibatnya, dapat meningkatkan efek kadar garam dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,” ujar Tom Sanders, seperti dilansir Femalefirst.

Sementara itu, Profesor Graham Devereux dari University of Aberdeen mengatakan bahwa asma saat ini merupakan salah satu penyakit kronis yang paling banyak diderita orang di dunia.

“Kandungan nutrisi yang diperoleh dari diet yang dilakukan oleh ibu selama kehamilan, khususnya vitamin E, vitamin D, seng, selenium dan asam lemak tak jenuh ganda, dapat mempengaruhi perkembangan asma pada anak dan penyakit alergi. Saat ini, sejumlah teori mengusulkan dampak khusus dari nutrisi dan risikonya,” tandas Graham.

Selanjutnya, Satgas juga melaporkan bahwa peningkatan nafsu makan dari beberapa orang di masa dewasa mungkin sebagai akibat dari diet dan berat badan dari ibu mereka sendiri saat hamil. Hampir setengah dari semua wanita usia subur di Inggris mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Hal ini dapat menjadi penyebab dari siklus biologis ibu yang mengalami obesitas mengarah ke masalah kesehatan anak-anak di kemudian hari.

Sementara itu, Science Programme Manager di BNF, Sara Stanner mengatakan, saat ini sudah ada bukti yang tegas untuk menunjukkan hubungan biologis antara obesitas wanita ketika hamil dan masalah kesehatan pada anak-anak.

“Ini adalah pesan penting dalam memerangi obesitas, wanita perlu mengetahui bahwa berat badan dan kesehatan selama kehamilan atau sebelum mereka hamil itu dapat memainkan peranan penting dalam jangka panjang untuk kesehatan anak-anak. Jadi setelah bayi di kandungan, kerangka biologis untuk kesehatan masa depan sudah diatur,” jelas Stanner.

Helmi A.Saputra - Okezone



Artikel lainnya:

6 Tips hadapi Rasa Malas

Baru-baru ini, para ilmuwan telah menemukan sebuah gen kemalasan. Menurut para ilmuwan, tidak semua orang memiliki gen ini. Gen tersebut akan diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya. Kedengarannya hal tersebut bisa jadi alasan yang cukup tepat kenapa orang bisa menjadi malas. Namun apakah rasa malas bisa diatasi? Berikut enam tips hadapi rasa malas yang dikutip magforwomen.

1. Rencanakan aktivitas Anda
Satu-satunya obat melawan rasa malas adalah aktivitas. Anda dapat menyegarkan tubuh dan pikiran dengan adanya aktivitas. Oleh karena itu, Anda harus merencanakan aktivitas Anda. Jangan tinggalkan pekerjaan Anda untuk orang lain. Bikin daftar kegiatan dan lakukan semua kegiatan tersebut.

2. Berolahraga
Pastikan Anda memiliki jadwal olahraga yang rutin. Jangan hanya mengandalkan yoga. Temukan olahraga yang menuntut gerak lebih banyak seperti lari, menari, atau bersepeda. Kegiatan ini akan membuat Anda bersemangat dan rasa malas memudar.

3. Jadi proaktif
Jadilah orang yang pro-aktif dan memiliki inisiatif. Jangan menunggu orang untuk menghubungi Anda. Sebaliknya, Anda menelepon mereka dan meminta mereka keluar. Jangan hanya duduk dan mengeluh mengapa Anda memiliki sedikit uang atau mengapa Anda masih belum menikah atau tidak punya pacar. Ambil sikap positif dan proaktif dalam hidup Anda. Anda harus menetapkan tujuan hidup agar sukses.

4. Jangan memanjakan diri
Membiasakan diri untuk melakukan hal yang ringan, tak mau bekerja keras hanya akan menambah rasa malas. Padahal hidup itu keras, jika Anda terlena dengan hal-hal yang memanjakan diri maka kesuksesan tak akan pernah datang. Milikilah mimpi yang besar dan berusahalah dengan keras agar mimpi Anda terwujud.

5. Mengonsumsi makanan yang sehat
Makanan berlemak dan manis bisa membuat Anda malas. Berikan energi Anda dengan asupan vitamin serta makan bergizi. Nutrisi yang seimbang akan menyehatkan tubuh dan meningkatkan gairah hidup.

6. Kreatif
Orang yang kreatif akan membuat hidupnya lebih indah. Orang kreatif tentu akan berpikir hal-hal yang belum pernah dicetuskan orang lain. Hal ini membuat rasa malas akan sirna karena kreatif dapat meningkatkan kualitas dan semangat hidup.

Menghadari rasa malas tidak sesulit yang dibayangkan bukan? Mulai sekarang buang jauh rasa malas dan jadilah orang yang penuh semangat!

merdeka.com [Vizcardine A.]



Artikel lainnya:

Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita

Ketua Peneliti Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan pneumonia menjadi penyebab utama kematian pada balita. “Di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian terbaru sekitar 33 persen dari 1.200 anak sehat yang dilakukan pengambilan apusan, mengandung kuman s pneumonia di nasofaringnya,” kata Sri Rezeki Hadinegoro di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan, sekitar 156 juta kasus pneumonia baru per tahun terjadi di seluruh dunia dan telah merenggut nyawa 1,5 juta anak usia di bawah lima tahun.

Sayangnya, penyebab kematian utama pada balita ini termasuk dalam kelompok pembunuh yang terlupakan karena kurangnya edukasi dan tingkat kesadaran yang rendah dari masyarakat.

Dia menambahkan pihaknya telah melakukan penelitian bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, NTB, yang dilakukan di 5 puskesmas di Kabupaten Lombok Tengah, yaitu Puskesmas Praya, Pringgerata, Ubung, Puyung dan Mantang.

Penelitian mengambil sasaran anak sehat yang berusia 2 bulan sampai 5 tahun, dengan jumlah responden 1200 orang. Dalam penelitian itu 33 persen isolat di antaranya positif mengandung kuman s pneumonia.

“Setelah dilakukan pemeriksaan dengan PCR didapatkan pneumokokus dengan 25 serotipe. Tiga persen dari serotipe terbanyak adalah 6A/B, 19F, dan 23F. Hal ini berbeda dengan penelitian pada tahun 1997, dimana dari 221 isolat yang positif biakan pneumokokusnya, ditemukan pneumokokus dengan 17 serogrup atau serotipe, dan yang terbanyak secara berturut-turut adalah Serogrup 6, 23, dan 15,” katanya.

Berdasarkan hasil uji kepekaan pneumokokus terhadap antibiotik, sebagian besar masih sensitif terhadap antibiotik yang biasa digunakan di puskesmas dengan tingkat resistensi di bawah dua persen, yaitu untuk antibiotik cefadroxil, cefuroxime, amoxicilin, ampicilin, clindamicin, dan penicilin.

Uji kepekaan yang paling rendah adalah terhadap antibiotik Kotrimoksazol, yang sensitivitasnya hanya 36 persen dan resistensinya 48,6 persen.

Ironisnya, meski menjadi pembunuh balita nomor satu, pneumonia masih belum banyak diperhatikan dimana masyarakat di pedesaan maupun perkotaan banyak yang belum menyadari ancaman serius akibat penyakit ini.

Masyarakat lebih memperhatikan penyakit balita seperti diare, campak, polio bahkan HIV/ AIDS.

“Padahal, perlu kesadaran pentingnya vaksinasi atau imunisasi sebagai upaya preventif mengantisipasi pneumonia,” katanya.

sehatnews.com


Baca ini juga:
Memahami Pneumokokus Pada Bayi
Kenali 7 Imunisasi Tambahan

Bahaya Penyakit Pneumonia


Perlu Anda Ketahui:
Kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.
Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

ASI Eksklusif Tekan Kematian Balita Akibat Diare dan Pneumonia

Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Angela Kearney mengatakan, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif dapat menekan angka kematian balita yang disebabkan diare dan pneumonia.

“Pemberian ASI eksklusif dapat mencegah penyakit seperti diare dan pneumonia yang 40 persen menjadi penyebab kematian balita di Indonesia,” kata Kearney dalam memperingati 20 tahun Pekan ASI sedunia, Rabu.

Menurut dia, kebijakan nasional yang kuat untuk mendorong para ibu menyusui dan meningkatkan gizi keluarga, dapat mencegah kematian sekitar 20.000 anak balita di Indonesia setiap tahun.

Namun fenomena di lapangan, tingkat pemberian ASI eksklusif dalam enam bulan pertama seorang bayi, berangsur-angsur menurun di Indonesia dari 40 persen pada 2002 dan 32 persen pada 2007.

Berkaitan dengan hal tersebut, upaya pemerintah Indonesia meningkatkan angka ibu menyusui, termasuk peraturan kesehatan baru yang melarang promosi pengganti ASI dan telah diformalkannya hak perempuan untuk menyusui dinilai sebagai langkah maju dan progresif.

“Pemerintah Indonesia juga memainkan peran utama dalam inisiatif “Global Scaling Up Nutrition” atau peningkatan gizi global,” katanya.

Dalam hal ini, lanjut dia, pemerintah telah berfokus pada peningkatan alokasi keuangan, kebijakan yang lebih terkoordinasi dan memperkuat keahlian teknis untuk meningkatkan gizi anak bersama dengan mitra internasional di antaranya Uni Eropa dan Bank Dunia.

Menurut dia, peran serta semua pihak dalam menyosialisasikan dan mendorong setiap ibu yang telah melahirkan untuk menyusui secara eksklusif, sangatlah penting.

“Karena itu, semua profesional kesehatan, pekerja komunitas dan pemimpin harus mempromosikan, mendukung dan melindungi pemberian ASI eksklusif dan gizi yang baik dalam komunitas mereka,” katanya.
ABD


Artikel lainnya:
Kenali 7 Imunisasi Tambahan

Perlu Anda Ketahui:
Kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.
Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Memahami Pneumokokus Pada Bayi

Pneumokokus, penyebab utama kematian anak. Dapat dicegah dengan vaksin dan peningkatan kekebalan tubuh.

TANTY masih pedih mengenang peristiwa itu. Pukul satu dini hari beberapa tahun lalu, Farel Nauval Isya, anaknya, tibatiba mengerang. Wajah bayi yang belum genap setahun itu mendadak pucat. Tanty segera memboyongnya ke rumah sakit. Setiba di ruang dokter, putranya tak bisa bernapas sehingga diberi pernapasan buatan. Farel menggelepar, hingga akhirnya maut menjemput.

Baru belakangan Tanty paham, putra tercintanya terinfeksi bakteri pneumokokus yang menyerang saluran pernapasan. Kasus ini diangkat dalam advokasi Asian Strategic Alliance for Pneumococcal Disease Prevention (ASAP) Indonesia yang dihadiri sekitar 250 dokter dan tenaga medis di Denpasar, 25 Maret lalu.

Aliansi strategis pencegahan infeksi pneumokokus ini adalah kelompok independen di Asia yang beranggotakan 20 negara, termasuk Indonesia.

Di negeri kita, pneumokokus menyebabkan sekitar dua juta kematian setiap tahun. Hampir separuhnya adalah anak di bawah lima tahun. Dari beraneka penyakit pneumokokus, yang paling tinggi menyebabkan maut adalah pneumonia (radang paru).

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), 98 orang bayi meninggal setiap jam akibat pneumonia di Asia Pasifik. Satu dari lima kematian anak di dunia disebabkan penyakit ini. Maka WHO pun menyebut pneumonia sebagai ”penyakit terlupakan pembunuh anak-anak”. Badan Perserikatan BangsaBangsa juga menempatkan Indonesia di urutan keenam setelah India, Cina, Nigeria, Pakistan, Bangladesh terbanyak penderita pneumonia.

Profesor Sri Rezeki Hadinegoro, spesialis anak konsultan penyakit tropis dan infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, yang juga wakil Indonesia di ASAP, menjelaskan penyakit pneumokokus adalah sekumpulan penyakit yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri pneumokokus ada lebih dari 90 tipe. Sebelas di antaranya ganas dan mematikan.

Pneumokokus dapat menyebabkan invasive pneumococcal disease atau IPD, antara lain, pneumonia (radang paru), bakteremial (infeksi bakteri dalam darah), sepsis (darah yang teracuni), meningitis (radang selaput otak).

Ada pula pneumokokus yang bersifat noninvasif, yaitu yang menyebabkan penyakit di telinga, hidung, atau tenggorokan (THT), seperti media otitis (radang telinga tengah) dan sinusitis (infeksi pada sinus). Jika tidak ditangkal atau ditangani dengan tepat, penyakit pneumokokus dapat menyebabkan hilangnya pendengaran, kemunduran inteligensi, kesulitan berbicara, kelumpuhan, hingga kematian.

Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, mengungkapkan bakteri pneumokokus ini dapat ditemukan pada tenggorokan dan rongga hidung orang dewasa serta bayi dan anak-anak. Yang patut diwaspadai, penyakit ini bisa dengan mudah menjangkiti anak sehat yang datang dari lingkungan sehat. Ia menyebar dengan sangat mudah hanya melalui udara, yaitu ketika penderita atau pembawa penyakit (carrier) batuk, bersin, dan memercikkan ludah.

Memang, berdasarkan data WHO, tak semua kasus pneumonia disebabkan pneumokokus. Hanya setengah dari jumlah total penderita pneumonia yang terjangkit pneumokokus. Sedangkan 30 persen akibat terinfeksi bakteri Haemophilus influenza tipe B (HiB). Sisanya disebabkan virus dan bakteri lain. Dua bakteri itu pneumokokus dan HiB juga menjadi penyebab meningitis pada anak.

Dari berbagai macam penyakit yang disebabkan pneumokokus, dua yang utama adalah pneumonia dan meningitis. Pneumonia adalah radang paru atau dalam bahasa awam paruparu basah. Kantong udara di paru dipenuhi cairan. Artinya, organ pernapasan itu tak bisa mengantar oksigen secara efektif ke pembuluh darah. Selain karena pneumokokus, pneumonia juga bisa disebabkan virus dan bakteri lain, serta parasit dan jamur.

Sedangkan meningitis adalah penyakit yang menyerang selaput otak atau pembuluh yang melindungi otak dan susunan saraf pusat. Penyebabnya infeksi bakteri atau virus meningitis. Kasus ini paling sering menimpa anak di bawah lima tahun, 1725 tahun, dan di atas 55 tahun. Yang paling rentan adalah mereka yang sistem kekebalan tubuhnya lemah. Efek meningitis sangat beragam, mulai dari kehilangan tungkai atau lengan, gangguan pendengaran, gangguan mental, hingga kematian.

Bakteri pneumokokus secara normal berada di dalam rongga hidung dan tenggorokan anak-anak dan dewasa yang sehat, dengan empat serotipe berbeda yang terkandung secara bersamaan. Artinya, tidak semua individu akan menderita penyakit ini ketika terkena bakteri ini. Namun tetap saja patut waspada. Sebab, ketika sudah terjadi kolonisasi bakteri dalam tubuh, orang tersebut akan menjadi pembawa sekaligus penyebar penyakit melalui partikel udara: lewat bersin, batuk, percikan ludah, serta kontak tubuh.

Karena tak ada keluhan atau gejala apa pun, si carrier sering tak menyadari kondisinya. Ironisnya, seperti dikemukakan Soetjiningsih, yang paling banyak menularkan bakteri ini justru orang rumah. Ia mengemukakan sebuah penelitian di Bandung terhadap bayi baru lahir hingga usia dua bulan pada 2006. Ternyata, dari semua responden yang mengidap pneumokokus, lebih dari setengahnya tertular pneumokokus dari kakaknya dan 11,9 dari ibunya. Sisanya tertular dari orang lain di luar keluarga.

Soetjiningsih menyebutkan, kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.

Karena ada berbagai jenis penyakit yang disebabkan pneumokokus, gejalanya juga beragam. Gejala meningitis antara lain demam dan sakit kepala, mual, muntah, kaku pada leher dan fotofobia (sakit karena melihat cahaya) pada anak yang lebih besar. Pada bayi biasanya ditandai demam dan tandatanda penyakit tidak spesifik lainnya. Sedangkan gejala pneumonia adalah gemetar tibatiba, kedinginan, batuk, demam, dan sesak. Media otitis akut (radang telinga tengah) ditandai demam, sakit pada telinga, dan pendengaran terganggu.

Salah satu pencegahan pneumokokus adalah dengan imunisasi Pneumococcal Saccharine Conjugated Vaccine (PCV7). Vaksin ini membantu mencegah penyakit pneumokokus invasif (IPD) pada anak di bawah dua tahun, dan melin¬dungi anak hingga sembilan tahun.

Masalahnya, di Indonesia harga vaksin ini termasuk mahal: Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta sekali suntik. Padahal vaksin ini mesti diberikan satu seri, yakni tiga kali. Selain itu, baru ada satu perusahaan obat yang memproduksi vaksin ini, sehingga dikhawatirkan bisa terjadi ”monopoli”.

Lantas, bagaimana sebaiknya sikap orang tua menghadapi kondisi ini? Dokter Purnamawati, spesialis anak yang juga salah satu pendiri Yayasan Orang Tua Peduli, menyatakan penyebab pneumonia dan meningitis banyak sekali. Virus dan kumannya macammacam, tak selalu Streptococcus pneumoniae, tapi bisa saja kuman HiB, tuberkulosis, dan lainnya. Belum ada data tentang virus atau bakteri apa yang paling banyak menyebabkan pneumonia dan meningitis di sini.

Memang, vaksin IPD yang masuk ke Indonesia bagus, karena mengandung tujuh jenis kuman Streptococcus pneumoniae. Tidak soal jika orang tua memberikan vaksin ini pada anak. Masalahnya, apakah bakteri Streptococcus yang ada di sini termasuk tujuh jenis bakteri di dalam vaksin itu. Jangan sampai, seperti terjadi di beberapa negara Asia dan Afrika, vaksin ini ternyata tidak mencakup bakteri Streptococcus yang ada di sini.

Jadi yang terpenting adalah membentuk kekebalan tubuh anak sejak dini. Yang paling sakti adalah air susu ibu. Dokter Sri Rezeki mengingatkan salah satu risiko tertinggi terkena pneumokokus adalah tidak atau hanya sebentar mendapat ASI. ”Menyusui terbukti menurunkan angka terkena penyakit infeksi pada bayi dan anak,” katanya. Andari Karina Anom

majalah.tempointeraktif.com


Baca ini juga:
Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita
Bahaya Penyakit Pneumonia
Kenali 7 Imunisasi Tambahan
Manfaat Asi Untuk Bayi dan Ibu
Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita
Antibiotik, Siapa Takut?
ASI Bantu Cetak Generasi Penerus Bangsa yang Cerdas



Perlu Anda Ketahui:
Kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.
Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

CEGAH PNEUMONIA PADA BAYI

Meningkatkan ASI guna dapat memberikan ASI ekslusif pada bayi sangat bermanfaat untuk kesehatan bayi dan ibu. Terutama pada bayi, salah satunya adalah untuk mencegah Pneumonia. Pneumonia, menurut WHO, merupakan penyebab kematian tunggal pada anak, terbesar di seluruh dunia. Hingga saat ini, pneumonia membunuh hampir dua juta balita, atau sekitar 20% dari seluruh kematian balita di seluruh dunia dan menurut UNICEF Ada sekitar 155 juta kasus pneumonia anak setiap tahun di dunia.

Pneumonia adalah merupakan proses radang akut pada jaringan paru (alveoli) akibat infeksi kuman yang menyebabkan gangguan pernapasan. Penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada anak akibat paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh.

Pneumonia disebabkan oleh kuman, bisa berupa bakteri atau virus, yang mencapai paru-paru melalui beberapa rute. Pertama, kuman di udara kotor terhirup melalui hidung dan tenggorokan sampai ke paru dan terjadi infeksi. Kedua, menyebar melalui darah. Bayi baru lahir merupakan kelompok paling rawan yang rentan tertular pneumonia dari ibunya melalui jalan lahirnya saat proses persalinan.

Selain bayi, anak-anak dengan sistem imunitas yang rendah juga termasuk kelompok yang rawan terkena pneumonia. Gejala pneumonia seperti flu, yaitu batuk lebih dari dua hari,demam, dan napasnya tersengal-sengal.

Pneumonia dapat dicegah dengan beberapa cara, seperti:
  1. Meningkatkan ASI guna dapat Memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama Hal tersebut merupakan langkah penting untuk memastikan bayi Anda mendapatkan gizi yang cukup serta membangun kekebalan alami terhadap bakteri maupun virus
  2. Memberikan vaksin yang disarankan oleh dokter dalam satu tahun pertama kelahiran
  3. Menjaga kebersihan lingkungan
  4. Membiasakan anak untuk hidup sehat seperti tidak jajan sembarangan dan mencuci tangan sebelum makan

Utamakan ASI esklusif untuk balita Anda.

(infoguna -Mew)



Artikel lainnya:

Waktu-waktu Terbaik Untuk Otak Kita

Banyak yang menduga hanya energi atau berat badan yang dapat berfluktuasi selama satu hari. Padahal otak manusia juga memiliki irama tersendiri dan ada waktu-waktu terbaiknya. Kapan saja waktu brilian untuk melakukan aktivitas tertentu?

Seperti dikutip dari Health MSN, ada 8 waktu tertentu yang mana seseorang bisa menjadi brilian dalam melakukan tugas-tugasnya, yaitu:

Jam 7-9 pagi:
Saat terbaik untuk meningkatkan semangat dan gairah
“Waktu tersebut merupakan saat yang sempurna untuk meningkatkan ikatan dengan pasangan ketika baru bangun tidur,” ujar Ilia Karatsoreos, PhD, ahli saraf dari Rockefeller University.

Hal ini karena kadar hormon oksitosin (hormon cinta) berada di level tertinggi setelah bangun tidur. Waktu ini merupakan saat yang tepat untuk memperkuat hubungan dengan orang-orang yang paling penting dalam hidup. Peneliti Inggris menuturkan bahwa kadar oksitosin pada laki-laki akan berangsur-angsur menurun seiring berjalannya waktu.

Jam 9 pagi sampai 11 siang:
Saat terbaik untuk kreativitas
Pada waktu tersebut otak memiliki hormon kortisol (hormon stres) yang cukup, sehingga dapat membantu memfokuskan pikiran dan hal ini tidak dipengaruhi oleh usia berapapun.

Saat ini merupakan waktu yang prima untuk belajar serta mengerjakan tugas yang membutuhkan analisa dan konsentrasi. Karena itu saatnya mengembangkan ide baru, membuat presentasi atau melakukan brainstorming.

Jam 11 sampai jam 2 siang:
Saat terbaik untuk melakukan tugas yang sulit
Peneliti Jerman menuturkan saat tersebut hormon melatonin (hormon tidur) telah menurun tajam, sehingga tubuh lebih siap untuk mengerjakan beban proyek atau pekerjaan yang sulit dan keras.

Namun sebaiknya tetap tidak melakukan beberapa tugas secara bersamaan, karena akan membuat seseorang kehilangan konsentrasi. Karena itu saatnya melakukan presentasi atau melakukan tugas yang berat lainnya.

Jam 2-3 siang:
Saat terbaik untuk beristirahat
Untuk mencerna makan siang, maka tubuh akan menarik darah dari otak ke perut, kondisi ini akan membuat asupan darah atau oksigen ke otak sedikit berkurang yang membuat seseorang jadi mengantuk. Untuk itu cobalah beristirahat sebentar dari pekerjaan.

Jika tetap harus bekerja dan melawan kantuk, cobalah berjalan-jalan sebentar, melakukan meditasi atau minum air putih. Hal ini bisa meningkatkan volume vaskuler dan sirkulasi sehingga meningkatkan aliran darah ke otak.

Jam 3 siang sampai 6 sore:
Saat terbaik untuk kolaborasi
“Pada saat sekarang otak akan merasa sangat lelah,” ujar Paul Nussbaum, PhD, seorang neuropsikolog klinis. Karena itu tak ada salahnya untuk melakukan kolaborasi dengan rekan kerja atau melakukan kegiatan yang berbeda. Meskipun otak tidak setajam waktu sebelumnya, tapi seseorang akan merasa lebih santai dan tekanan tubuhnya juga lebih rendah.

Jam 6 sore sampai 8 malam:
Saat terbaik untuk melakukan tugas-tugas pribadi
Diantara jam tersebut, peneliti menemukan bahwa otak sudah masuk dalam tahap ‘pemeliharaan‘, yaitu ketika produksi melatonin masih berada di level rendah.

Tak ada salahnya untuk berjalan-jalan seorang diri atau bersama teman-teman, menyiapkan makan malam atau menikmati waktu yang berkualitas bersama anggota keluarga.

Jam 8-10 malam:
Saat terbaik untuk bersantai
Pada saat ini ada transisi dari kondisi terjaga menjadi mengantuk, karena kadar hormon melatonin akan meningkat cepat. Sementara itu kadar serotonin (neurotransmitter yang berhubungan dengan semangat) akan memudar.

Rubin Naiman, PhD spesialis masalah tidur dari University of Arizona’s Center for Integrative Medicine menuturkan sekitar 80 persen serotonin akan dirangsang dari paparan sinar matahari, sehingga jika matahari tenggelam kadar dalam dalam tubuh juga berkurang.

“Pada malam hari ketika otak sudah lelah, merupakan cara terbaik untuk membuat tubuh menjadi santai seperti menonton film lucu, merajut atau melakukan hal-hal yang bisa membuat tubuh santai atau rileks,” ujar Naiman.

Jam 10 malam ke atas:
Saat terbaik untuk tidur dan menuda segala kegiatan
Saat ini merupakan waktunya istirahat malam dan tidur, pengaturan cahaya akan dapat membantu membiarkan otak beristirahat. Setelah beberapa jam, otak akan siap kembali untuk memulai aktivitas baru.

Usahakan untuk mendapatkan tidur yang cukup sebanyak 7-8 jam, sehingga bisa mendapatkan kesehatan dan energi yang optimal di pagi hari.

by beritaunik



Artikel lainnya:

ASI Bantu Cetak Generasi Penerus Bangsa yang Cerdas

Air Susu Ibu (ASI) telah terbukti mempunyai keunggulan yang tak dapat digantikan oleh susu manapun, karena ASI mengandung zat gizi yang selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat.

Bahkan ketika bayi sakit pun kandungan gizi ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.

ASI adalah makanan yang terbaik di awal kehidupan seorang anak dan merupakan hak anak untuk kelangsungan hidup dan tumbuh kembang secara optimal.

Pemberian ASI memiliki banyak manfaat bukan hanya bagi bayi tapi juga bagi ibu khususnya yang berkaitan dengan pemulihan kesehatan, diantaranya mencegah pendarahan setelah melahirkan sehingga mengurangi kemungkinan anemia, menjarangkan/menunda kehamilan, serta mengurangi risiko terkena kanker rahim dan kanker payudara.

Pemberian ASI juga dapat mempererat jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi serta menimbulkan rasa aman dan kedekatan emosional yang kuat yang akan berdampak positif terhadap perkembangan psikologis dan mental anak kelak serta dapat membentuk perkembangan intelegensia, rohani dan perkembangan emosional yang baik.

Dalam dekapan ibu, bayi akan merasakan kehangatan dan perlindungan, begitu pula sebaliknya ibu menyusui akan merasakan puas dan bahagia karena dapat memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, dan sesungguhnya apabila dihayati bahwa dalam menyusui akan menumbuhkan kebahagiaan yang terwujud dalam bentuk kasih sayang murni.

Sentuhan kulit, detak jantung ibu yang telah lama dikenal bayi, akan meningkatkan cinta dan kasih sayang di antara mereka.

Kemesraan, berpadunya unsur fisik dan psikis antara ibu dan bayi akan semakin memperkuat ikatan.

Agar pemberian ASI seorang ibu dapat berjalan dengan lancar, maka diperlukan dukungan dan kerjasama yang baik dari Bapak/Suami dengan antara lain menjaga suasana batin dan harmonisasi keluarga yang akan berdampak pada produksi ASI.

Perhatian dan komitmen Bapak/Suami untuk mendukung isteri memberikan ASI pada bayinya merupakan bentuk kesetaraan gender di dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Seorang anak yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya akan tumbuh menjadi anak yang berpikiran positif, penuh percaya diri dan mandiri.

sehatnews.com

Artikel yang berhubungan:
Manfaat Asi Untuk Bayi dan Ibu
Tips Memperbanyak Asi
Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan
Tips Memilih Nama Bayi

Perlu Anda Ketahui:
Kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.
Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Imunisasi Tetap yang Terbaik untuk Cegah Penyakit

Meski ada kemungkinan anak tetap terkena penyakit walau sudah imunisasi bukan berarti anak tidak diimunisasi. Kemungkinannya sekitar 5-15 persen.

“Meski begitu, risikonya bisa ditekan dan jauh lebih ringan,” imbuh Dr. Soedjatmiko, Sp.A(K)., MSi.

Karena itu, bayi dan balita tetap harus diimunisasi lengkap. Sebab, bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap, tidak akan memiliki kekebalan spesifik yang optimal terhadap penyakit menular berbahaya.

Anak-anak tersebut mudah tertular penyakit tersebut dan menderita sakit berat. Tidak hanya itu saja, mereka juga bisa menularkan ke anak-anak lain yang bila menyebar secara luas akan terjadi wabah. Dan menyebabkan banyak kematian maupun kecacatan.

“Melalui imunisasi pula, anak akan terhindar dari penyakit infeksi berbahaya. Sehingga mereka memiliki kesempatan untuk bermain maupun belajar tanpa terganggu dengan masalah kesehatan,” ujar Prof. DR. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K).

Jadi, pencegahan penyakit melalui imunisasi menjadi cara perlindungan terhadap infeksi. Tindakan ini jauh lebih murah dan paling efektif dibandingkan mengobati seseorang bila telah terkena sakit dan kemudian dirawat di rumah sakit.

Diana Y. Sari

Artikel lainnya:
Kenali 7 Imunisasi Tambahan
Bagaimana Mengoptimalkan Kecerdasan Balita Pada Masa Golder Years?
Mendorong Perkembangan Otak Anak
Bayi Tidak Boleh Tidur dengan Perokok
Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita
ASI Bantu Cetak Generasi Penerus Bangsa yang Cerdas

Bahaya Penyakit Pneumonia

Anak saya umur 3 tahun batuk-batuk, demam, dan agak sesak. Cuping hidungnya bergerak jika bernapas. Dokter anak menganjurkan agar anak saya dirawat karena menderita pneumonia.

Dokter melakukan berbagai pemeriksaan laboratorium dan radiologi. Untunglah anak saya dapat disembuhkan dan pulang dari rumah sakit setelah seminggu dirawat. Di rumah saya mempunyai mertua, umurnya di atas 65 tahun. Anak saya juga punya adik berumur setahun. Dokter menganjurkan agar anak saya yang kecil dan mertua saya menjalani imunisasi pneumokok. Imunisasi diharapkan dapat mencegah penularan penyakit pneumonia yang disebabkan oleh kuman yang disebarkan melalui udara.

Apakah pneumonia merupakan penyakit yang sering dijumpai di Indonesia? Kenapa imunisasi pneumonia belum populer di masyarakat. Memang dulu dokter anak kami pernah menganjurkan agar anak saya menjalani imunisasi pneumonia, tetapi belum kami laksanakan karena kami beranggapan vaksin tersebut bukanlah vaksin yang wajib untuk anak. Apakah di rumah tangga dapat terjadi penularan pneumonia, bagaimana mencegahnya selain dengan imunisasi? Terima kasih atas penjelasan dokter.

Pneumonia merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat, termasuk di Indonesia. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai kuman, tetapi salah satu kuman yang sering menimbulkan pneumonia adalah kuman Streptococcus pneumoniae. Kuman ini dapat menimbulkan infeksi pada telinga tengah (otitis media), sinus paranasal, dan cabang tracheobronkial.

Penularan kuman ini dapat terjadi melalui batuk, bersin, dan udara yang mengandung bakteri. Sebagian orang mengandung kuman ini di tenggoroknya, tetapi dia tidak sakit. Jika tenggoroknya diperiksa dapat ditemukan kuman ini. Keadaan ini yang disebut sebagai kolonisasi kuman, dapat terjadi pada 5 persen sampai 70 persen orang sehat. Kolonisasi kuman ini lebih sering dijumpai pada anak sehingga anak yang mengandung kuman ini dapat menularkan pada orang sekitarnya. Dalam rumah tangga, yang sering terjadi adalah anak menularkan kuman ini kepada kakek atau neneknya.

Untuk mencegah penularan, perlu diusahakan agar orang yang batuk menutup mulut dan hidungnya sehingga kuman tidak bertebaran ke sekelilingnya. Sering mencuci tangan dan jika perlu memakai masker. Selain itu, mencegah penularan penyakit ini kita perlu menjaga kekebalan tubuh dengan nutrisi yang baik, olahraga dan keadaan emosi yang terkendali. Lingkungan udara juga harus baik, usahakan agar ventilasi udara di rumah berjalan dengan baik.

Imunisasi Pneumokok
Imunisasi pneumokok dianjurkan kepada anak-anak, orang berusia lanjut, serta orang dewasa yang mempunyai penyakit kronik, seperti penyakit paru obstruktif menahun, diabetes melitus, gagal ginjal kronik, sirosis hati, dan kanker sistem darah. Juga bagi mereka yang pernah mengalami operasi limpa dianjurkan untuk menjalani imunisasi pneumokok. Pada anak, imunisasi ini perlu diberikan beberapa kali tergantung dari umur anak. Namun, pada orang dewasa cukup diberikan satu kali.

Dewasa ini di Indonesia terdapat dua macam vaksin pneumokok, yaitu vaksin polisakarida dan konjugat. Vaksin polisakarida dapat diberikan kepada anak yang berumur dua tahun, sedangkan konjugat dapat diberikan kepada anak yang usianya lebih muda. Manfaat vaksin ini adalah menurunkan risiko penularan kuman Streptococcus pneumoniae. Kuman ini selain menimbulkan penyakit yang relatif ringan, yaitu otitis media dan sinusitis, dapat juga menimbulkan penyakit yang berat, seperti pneumonia, meningitis (radang otak), dan bakteriemia (kuman ditemukan dalam darah).

Penyakit meningitis dan bakteriemia disebut sebagai penyakit pneumonia invasif. Meski pneumonia tidak tergolong penyakit invasif, angka kematiannya tinggi, terutama pada anak dan orang berusia lanjut. Sekitar 52 persen orang yang berusia lanjut yang dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menderita pneumonia. Karena itulah di negara yang mempunyai dana cukup, imunisasi pneumonia pada orang berusia lanjut sudah merupakan program yang didanai oleh pemerintah atau asuransi.

Di Malaysia, jemaah haji selain diwajibkan untuk menjalani imunisasi meningokok diwajibkan oleh Pemerintah Arab Saudi) juga amat dianjurkan untuk menjalani imunisasi influenza dan pneumokok. Kalangan kesehatan di Malaysia beranggapan kegiatan haji dapat sekaligus dimanfaatkan untuk menurunkan risiko penularan pneumonia pada sejumlah besar orang. Di negeri kita, jemaah haji dan umrah wajib menjalani imunisasi meningokok dan dianjurkan untuk imunisasi influenza dan pneumokok. Namun, imunisasi pneumokok belum populer di masyarakat sehingga banyak jemaah yang belum merasa perlu untuk diimunisasi.

Imunisasi meningokok perlu diulang setiap dua tahun, sementara influenza tiap tahun. Pneumokok untuk vaksin yang lama setiap lima tahun, sedangkan vaksin baru kemungkinan tidak perlu diulang. Cukup sekali seumur hidup bagi orang yang kekebalannya cukup.

Memang benar vaksin pneumokok masih mahal. Namun, kita harus mulai menyadari bahwa sebenarnya kita cukup banyak mengeluarkan uang untuk barang-barang seperti telepon seluler, tetapi masih amat hemat untuk memelihara kesehatan. Padahal, imunisasi, termasuk imunisasi pneumokok, merupakan investasi. Sebenarnya semua imunisasi diperlukan oleh anak. Namun, karena keterbatasan dana pemerintah, belum semua imunisasi dapat dibiayai pemerintah, sebagian imunisasi masih menjadi tanggung jawab orang tua.

Imunisasi pneumokok, rotavirus, dan imunisasi lainnya memang belum dibiayai oleh pemerintah. Sambil menunggu kemampuan pemerintah meningkat, sebaiknya orang tua membiayai imunisasi itu agar kesehatan anak mereka dapat terpelihara.

Wartakotalive.com


Artikel lainnya:

Tak Semua Batuk Perlu Obat

Batuk telah menyebabkan ribuan orang berobat ke dokter setiap tahunnya dibandingkan dengan gejala yang lebih spesifik lainnya. Obat batuk yang dijual bebas pun termasuk obat yang paling laris.

Sudah jelas masyarakat sangat peduli pada batuk yang dideritanya dan sangat percaya pada obat batuk. Padahal, beberapa penelitian tidak menemukan kaitan antara obat yang dikonsumsi dengan kesembuhan batuk.

Badan pengawasan obat sudah melinsensi obat batuk lebih dari 50 tahun lalu, tetapi sampai saat ini belum ada bukti ilmiah kuat yang membuktikan obat tersebut memang efektif mengatasi batuk.

Berikut adalah beberapa penelitan seputar obat batuk.

  • Studi analisa yang dilakukan tahun 2010 tidak menemukan bukti yang mendukung pentingnya penggunaan obat batuk yang dijual bebas. Ini termasuk obat jenis supresan seperti dextromethrophan, atau ekspektoran yang dimasuksudkan untuk mengeluarkan lendir di saluran napas.
  • Pada tahun 2006, The American College of Chest Physicians melakukan survei mengeni sejumlah obat batuk yang diteliti dalam beberapa dekade. Tidak ditemukan bukti bahwa obat itu bisa menyembuhkan batuk yang disebabkan oleh virus.

Penting untuk memahami bahwa riset-riset tersebut tidak membuktikan bahwa obat batuk tidak bekerja. Melainkan, mereka tidak menemukan bukti-bukti. Terbuka kemungkinan penelitian di masa depan yang bisa membuktikan obat batuk memang membantu.

Karena ketiadaan bukti tersebut, pada tahun 2008 Badan Pengawas Obat dan Makanan AS menyatakan bayi dan balita tidak memerlukan obat batuk dan flu. Perusahaan farmasi juga diminta mengubah label dalam obat yang dijual bebas dan menyebutkan bahwa obat flu dan batuk hanya untuk anak di atas usia empat tahun.

Para dokter anak di AS juga menyarankan agar orangtua tidak memberikan obat flu dan batuk pada anak berusia di bawah 6 tahun. Sayangnya menurut surveri terbaru lebih dari 60 persen orangtua di AS memberikan obat batuk dan flu pada anak mereka yang berusia kurang dari dua tahun.

Lantas, jika obat batuk memang tidak efektif mengapa obat ini tetap laris dan populer? Menurut John E.Heffner, ahli paru dan mantan presiden American Thoraric Society, bagi kebanyakan orang obat batuk memberikan rasa tenang.

Saat kita menderita batuk parah, apalagi pada anak, kita merasa perlu melakukan sesuatu untuk menghilangkannya. "Jika ada obat yang dijual bebas yang bisa kita pakai, kita akan merasa lebih punya kontrol," katanya.

Kebanyakan orang juga merasa lebih baik beberapa hari setelah minum obat batuk sehingga mereka berasumsi obatnya bekerja. "Faktanya, batuk itu memang sembuh sendiri. Obat hanya membantu sedikit," imbuhnya.

Walau obat batuk tak banyak membantu, tetapi efek samping obat ini kecil, termasuk untuk anak berusia di atas 6 tahun. Tetapi orang yang batuknya tidak sembuh dalam lima hari sebaiknya memeriksakan diri ke dokter.

Berhati-hatilah dalam menggunakan obat batuk dan flu. Kemungkinan kelebihan dosis sangat besar karena seseorang mungkin mengonsumsi lebih dari satu produk obat tanpa menyadari keduanya mengandung zat yang sama.

Yang juga banyak terjadi seseorang minum melebihi dosis yang dianjurkan karena merasa batuknya tak juga reda. "Jika dosis yang dianjurkan tidak membantu, menambah dosis apalagi," katanya.

Pada batuk yang sudah kronik, Heffner menyarankan untuk mencoba obat supresan. Pada beberapa pasien hal ini bisa membantu.

Pengobatan tradisional seperti menambahkan sedikit madu pada teh hangat sebenarnya cukup efektif meredakan batuk, terutama pada anak-anak.

Batuk sebenarnya bukan penyakit tetapi cara tubuh untuk mengeluarkan kelebihan lendir atau iritan lainnya. Tetapi tetap saja kita merasa lebih nyaman jika meminum sesendok obat batuk, entah obat itu bekerja atau tidak.

WebMD

Artikel lainnya:



































Kenali 7 Imunisasi Tambahan

Selain imunisasi wajib (vaksin BCG, polio tetes minum (polio oral), DPT, hepatitis B dan campak) yang direkomendasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Anda juga perlu tahu imunisasi yang dianjurkan.

Imunisasi yang dianjurkan ini diteliti bisa mencegah berbagai penyakit, antara lain: radang paru-paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), campak Jerman, Hepatitis A, dan kanker mulut rahim.

Vaksin tersebut belum masuk dalam daftar imunisasi PPI dan tidak disubsidi pemerintah –sehingga disebut tidak wajib atau ‘hanya’ dianjurkan saja. Jadi perbedaannya bukan masalah perlu atau tidak perlu, lho, Ma.

Jadi? Imunisasi wajib adalah vaksin minimal yang harus didapat anak dengan fasilitas disediakan pemerintah. Sedang tambahannya, bila mampu, baik sekali jika juga diberikan pada anak. Apa saja imunisasi yang dianjurkan?

Hib
Manfaat: Melindungi tubuh dari virus Haemophilus influenza type B, yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan epiglotitis (infeksi pada katup pita suara dan tabung suara).
Waktu pemberian: Umur 2, 4, 6, dan 15 bulan.
Catatan khusus: Bisa diberikan secara terpisah atau kombinasi.

Pneumokokus (PCV)
Manfaat: Melindungi tubuh dari bakteri pnemukokus yang bisa menyebabkan meningitis, pneumonia, dan infeksi telinga.
Waktu pemberian: Umur 2, 4, 6 bulan, serta antara 12 - 15 bulan.
Catatan khusus: Kalau mama belum memberikannya hingga usia anak di atas 1 tahun, PCV hanya diberikan dua kali dengan interval 2 bulan. Jika usia anak sudah 2 - 5 tahun, PCV hanya diberikan 1 kali.

Influenza
Manfaat: Melindungi tubuh dari beberapa jenis virus influenza.
Waktu pemberian: Setahun sekali sejak usia 6 bulan. Bisa terus diberikan hingga dewasa.
Catatan khusus: Untuk usia di atas 2 tahun, vaksin bisa diberikan dalam bentuk semprotan pada saluran pernapasan.

MMR (Measles, Mumps, Rubella)
Manfaat: Melindungi tubuh dari virus campak, gondok, dan rubella (campak Jerman).
Waktu pemberian: Usia 15 bulan, dan diulang saat anak berusia 6 tahun.
Catatan khusus: Bisa diberikan pada umur 12 bulan, jika belum mendapat campak di usia 9 bulan.

Tifoid
Manfaat: Melindungi tubuh dari bakteri Salmonella typhi yang menyebabkan demam tifoid (tifus).
Waktu pemberian: Pada umur di atas 2 tahun, dan diulang setiap 3 tahun.
Catatan khusus: Terdapat dua jenis, yaitu oral dan suntik. Tifoid oral diberikan pada anak di atas 6 tahun.

Hepatitis A
Manfaat: Melindungi tubuh dari virus Hepatitis A, yang menyebabkan penyakit hati.
Waktu pemberian: Pada umur di atas 2 tahun, dua kali dengan interval 6 - 12 bulan.

Varisela
Manfaat: Melindungi tubuh dari cacar air
Waktu pemberian: Pada umur di atas 5 tahun.

HPV (Humanpapilloma Virus)
Manfaat: Melindungi tubuh dari Humanpapilloma Virus yang menyebabkan kanker mulut rahim.
Waktu pemberian: Pada anak umur di atas 10 tahun, diberikan 3 kali dengan jadwal 0, 1-2 bulan kemudian, serta 6 bulan kemudian.


















parenting.co.id

Baca ini juga:
Manfaat Asi Untuk Bayi dan Ibu
Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita
Antibiotik, Siapa Takut?

8 Cara Agar Tidak Keracunan Makanan

Kasus keracunan makanan bisa terjadi pada siapa saja. Supaya tidak keracunan, sejumlah cara harus dilakukan.

Contoh paling mudah menurut DR. Dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB adalah memasak makanan dengan baik agar bakteri bisa mati. Juga diupayakan agar makanan tidak terlalu lama berada pada suhu kamar.

Selain itu, ada beberapa tindakan lainnya yang dapat dilakukan guna mencegah bakteri berbahaya tumbuh pada makanan.

  1. Memasak makanan dengan suhu yang cukup tinggi agar dapat membunuh bakteri berbahaya.
  2. Mencegah kontaminasi silang melalui peralatan dapur. Penggunaan pisau misalnya, harus dipisahkan. Pisau yang dipakai mengiris daging mentah atau makanan laut jangan digunakan bersamaan untuk memotong makanan yang sudah matang.
  3. Selalu menjaga kebersihan tempat yang dipakai saat mempersiapkan makanan.
  4. Cegah makanan yang sudah masak tercemar dengan daging dan makanan laut mentah.
  5. Jaga agar makanan hangat tetap hangat, dan makanan dingin tetap dingin. Makanan hangat sebaiknya dijaga pada suhu di atas 65 derajat Celcius dan panaskan makanan untuk disajikan pada suhu di atas 85 derajat Celcius.
  6. Taruh makanan pada kulkas dengan pengaturan suhu yang tepat. Jika makanan terlalu lama berada pada suhu kamar, ada kemungkinan makanan tersebut sudah tidak aman untuk dimakan
  7. Jangan melelehkan (defrost) makanan pada suhu kamar. Lakukan defrost di lemari pendingin, air keran yang mengalir, atau dengan menggunakan microwave.
  8. Produk makanan dan minuman kemasan hendaknya ditaruh sesuai dengan ketentuan yang ada pada kemasan. Ada yang bisa disimpan pada suhu kamar, di lemari pendingin dengan suhu 2-8 derajat Celcius, atau lemari pembeku (freezer).
sehatnews.com

Artikel lainnya:

Bayi dan Anak Jadi Perokok Pasif

11,9 Juta Bayi Terpapar Rokok di Rumahnya Sendiri
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menuturkan 78 persen anak usia antara 8-15 tahun terpapar asap rokok di luar rumah. Kemudian sebanyak 11,9 juta balita terpapar asap rokok di rumah sendiri.

“Ya oleh orang tua, apakah bapaknya, ibunya, saudaranya, yang merokok di rumah,” kata Menteri Nafsiah.

Terpapar asap rokok sejak kecil, selain memperbesar peluang anak itu menjadi perokok juga, juga membuat risiko terkena penyakit-penyakit akibat merokok semakin besar. “Tidak mengherankan kita kesulitan mendapatkan atlet yang mumpuni fisiknya, yang paru-parunya bagus dan berkembang sempurnya,” kata Menteri Nafsiah.

11,4 Juta Anak Usia 0-4 Jadi Perokok Pasif Karena Orang Tuanya
Ada 11,4 juta anak usia 0-4 tahun yang menjadi perokok pasif akibat orang tuanya atau orang disekelilingnya.

Demikian disampaikan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dalam jumpa pers dengan wartawan di Jakarta, Jumat.

Sebatang rokok telah diketahui mengandung lebih dari 4.000 zat racun dimana 60 diantaranya bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

Menkes juga memaparkan biaya yang dikeluarkan untuk penanganan rokok tersebut jauh lebih besar daripada pemasukan melalui cukai rokok, yaitu Rp231,27 triliun dikeluarkan untuk pembelian rokok maupun biaya medis akibat sakit dibandingkan penerimaan cukai yang hanya Rp55 triliun.

“Pada tahun 2010, total pengeluaran untuk rawat inap dan jalan terkait dengan dampak rokok ini mencapai Rp2,11 triliun,” ujar Menkes.

Tiap Tahun Indonesia Habiskan 231 Triliun Rupiah untuk Rokok
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menyebutkan setiap tahun orang Indonesia menghabiskan biaya Rp231 triliun untuk dan karena rokok.

“Sejumlah Rp138 triliun untuk membeli rokok, kemudian ada lagi Rp2,11 triliun untuk biaya pengobatan sakit karena merokok itu,” kata Menteri Nafsiah di Balikpapan, Rabu.

Penyakit akibat merokok tersebut adalah sakit jantung, kanker paru-paru, kanker tenggorokan, kanker mulut, tekanan darah tinggi, hingga gagal ginjal.

Padahal, katanya, pendapatan negara dari cukai rokok hanya Rp. 55 triliun.

sehatnews.com


Artikel yang berhubungan:
Bayi Tidak Boleh Tidur dengan Perokok
Rokok Berdampak Pada Pendidikan Anak
Cara Efektif untuk Berhenti Merokok
Ayah Perokok Harus Hati-hati Kalau Gendong Anak
Rokok Sumber Penyebab Dari Berbagai Penyakit
Sayang Anak? Berhentilah Merokok!

Beban Pelajaran Meningkat, Anak Bisa Sakit Jiwa

Psikiater Prof Dr dr LK Suryani SpKJ berpandangan, dewasa ini terjadi kecenderungan semakin muda usia penderita sakit kejiwaan karena anak-anak tidak siap menerima beban pelajaran di sekolah.

Suryani yang juga pendiri dan Direktur “Suryani Institute for Mental Health” itu di Denpasar, Kamis, mengatakan, berdasarkan hasil penelitiannya dan kunjungan ke tempat praktiknya, sudah ada anak SD yang mengalami gangguan jiwa.

Menurut dia, penyebab terbesarnya karena beban pelajaran sekolah, anak-anak dituntut cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Apalagi ditambah mereka harus belajar di sekolah hingga sore hari.

“Tetapi sayangnya guru tidak mau mendidik, maunya mengajar saja,” ujarnya.

Ia berharap para guru memahami perkembangan mental anak, jangan memaksa belajar, tetapi hendaknya membuat murid TK serta siswa SD dari kelas I sampai III terangsang mempunyai semangat belajar, mau belajar, dan berani berbicara.

“Sekarang terlalu sedikit waktu santai untuk anak-anak, bahkan TK sudah les. Idealnya sampai kelas III tidak ada PR. Bukankah tidak jarang yang mengerjakan PR pembantu dan orang tua agar anaknya tidak malu?” katanya.

Dengan gaya hidup seperti itu, ketika dewasa, mereka umumnya untuk bangun pagi saja harus dibangunkan dan malas ke kantor serta tidak bisa mengurus diri sendiri.

“Di dalam mendidik, seyogyanya guru jangan menganggap anak sudah tahu macam-macam sehingga tidak perlu dididik calistung. Harusnya anak-anak juga diajak menyanyi dan bercerita untuk mengekspresikan emosi,” katanya.

Lewat cerita, lanjut dia, juga untuk memasukkkan nilai baik dan buruk karena para orang tua tidak ada waktu bercerita. Hingga usia 10 tahun adalah masa untuk membuat anak mampu melihat situasi.

“Jika dapat memberikan pendidikan tanpa beban pada anak dan mereka senang, di sanalah akan ada harapan punya masa depan. Kalau orang tua sering ribut apalagi terjadi sejak dalam kandungan, hal itu akan menyulut gangguan jiwa pada anak-anak,” ujarnya.

Di sisi lain, ia melihat kecenderungan para orang tua menuntut agar anaknya paling hebat secara akademis, padahal pandai saja sebenarnya tidak cukup. Justru menjadikan anak mandiri dan kreatif jauh lebih penting. Ia tidak memungkiri, memang jika punya anak kreatif berat, anak akan banyak protes dan nakal.

“Seyogyanya biarkan anak berkembang, belajar apa yang diperlukan anak, dan jangan orang tua justru memaksakan kehendak. Adakan waktu ngobrol saat makan dan sebelum tidur,” kata Suryani.

sehatnews.com


Artikel lainnya:
Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak

IMUNISASI dan Jadwal Imunisasi Terbaru 2011-2012

Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia

Imunisasi adalah suatu proses untuk membuat sistem pertahanan tubuh kebal terhadap infasi mekroorganisme (bakteri dan virus). Yang dapat menyebabkan infeksi sebelum mikroorganisme tersebut memiliki kesempatan untuk menyerang tubuh kita. Dengan imunisasi tubuh kita akan terlindungi dari infeksi begitu pula orang lain. Karena tidak tertular dari kita.

Tujuan Imunisasi
Tujuan dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderitaan suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat di hindari dengan imunisasi yaitu:
1. Hepatitis
2. Campak
3. Polio
4. Difteri
5. Tetanus
6. Batuk Rejan
7. Gondongan
8. Cacar air
9. TBC

Macam-Macam Imunisasi
Imunisasi Aktif
Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seorang karena tubuh yang secara aktif membentuk zat antibodi, contohnya: imunisasi polio atau campak. Imunisasi aktif juga dapat di bagi 2 macam:
1. Imunisasi aktif alamiah adalah kekebalan tubuh yang secara ototmatis di peroleh sembuh dari suatu penyakit.
2. Imunisasi aktif buatan adalah kekebalan tubuh yang di dapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan perlindungan dari sutu penyakit.

Imunisasi Pasif
Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seseorang yang zat kekebalan tubuhnya didapat dari luar. Contohnya Penyuntikan ATC (Anti TetanusSerum). Pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contah lain adalah: terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan. Misalnya antibodi terhadap campak. Imunisasi pasif ini dibagi yaitu:
1. Imunisai pasif alamiah adalah antibodi yang di dapat seorang karena di turunkan oleh ibu yang merupakan orang tua kandung langsung ketika berada dalam kandungan.
2. Imunisasi pasif buatan. adalah kekebalan tubuh yang di peroleh karena suntikan serumuntuk mencegah penyakit tertentu

jurnalbidandiah.blogspot.com


Baca ini juga:
Kenali 7 Imunisasi Tambahan

Apa Itu Autisme?

Autisme atau biasa disebut ASD (Autistic Spectrum Disorder) merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang komplex dan sangat bervariasi (spektrum). Biasanya gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, berinteraksi sosial dan kemampuan berimajinasi.
Dari data para ahli diketahui penyandang ASD anak lelaki empat kali lebih banyak dibanding penyandang ASD anak perempuan.

Ciri Autisme
Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Diagnosa yang paling tepat adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Dikarenakan banyaknya perilaku autisme juga disebabkan oleh adanya kelainan-kelainan lain (bukan autis) sehingga tes klinis dapat pula dilakukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.

Karena karakteristik dari penyandang autisme ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme. Dokter ahli / praktisi profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan / training mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam mendiagnosa autisme. Kadang-kadang dokter ahli / praktisi profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.

Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut di atas dapat timbul secara bersamaan. 

Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autisme dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat.

Seperti apakah anak yang terkena Autisme?
Sejak lahir sampai dengan umur 24 - 30 bulan anak anak yang terkena autisme umumnya terlihat normal. Setelah itu orang tua mulai melihat perubahan seperti keterlambatan berbicara, bermain dan berteman (bersosialisasi). Autisme adalah kombinasi dari beberapa kelainan perkembangan otak. Kemampuan dan perilaku di bawah ini adalah beberapa kelainan yang disebabkan oleh autisme.

Komunikasi
Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata-kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.

Bersosialisasi (berteman)
Lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman. Tidak bereaksi terhadap isyarat-isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum.

Kelainan penginderaan
Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.

Bermain
Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura.

Perilaku
Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari.

Jenis Autisme
Referensi baku yang dipakai untuk menjelaskan jenis autisme adalah standar Amerika DSM revisi keempat (Diagnostic and Statistical Manual) yang memuat kriteria yang harus dipenuhi dalam melakukan diagnosa autisme. Diagnosa ini hanya dapat dilakukan oleh tim dokter / praktisi ahli bersadarkan pengamatan seksama terhadap perilaku anak autisme dan disertai konsultasi dengan orang tua anak.

Pada kenyataannya, sangat sulit untuk membagi kategory / jenis autisme mengingat tidak ada / jarang ditemukan antara satu dan lain penyandang autisme yang mempunyai gejala yang sama. Setiap penyandang autisme mempunyai ke-'khas'-annya sendiri sendiri. Dengan kata lain ada 1001 jenis atau mungkin satu juta satu jenis autisme di dunia ini yang tidak dapat diperinci satu persatu. Istilah yang lazim dipakai saat ini oleh para ahli adalah 'kelainan spektrum autisme' atau ASD (Autism Spectrum Disorder).

Anak yang telah didiagnosa dan masuk dalam kategori PDD mempunyai persamaan dalam hal kekurang mampuan bersosialisasi dan berkomunikasi akan tetapi tingkat kelainan-nya (spektrum-nya) berbeda satu dengan lainnya.

Seperti dikatakan oleh Ibu Dra Dyah Puspita (psikolog) quote - karena begitu banyaknya jenis / ciri penyandang autisme, sehingga lebih berupa rangkaian dari kelabu muda sekali hingga kelabu tua sekali... (banyak nuansa-nya) . Penggunaan istilah autisme berat/parah dan autisme ringan dapat menyesatkan karena jika dikatakan berat/parah orang tua dapat merasa frustasi dan berhenti berusaha karena merasa tidak ada gunanya lagi. Sebaliknya jika dikatakan ringan/tidak parah maka orang tua merasa senang dan juga dapat berhenti berusaha karena merasa anaknya akan sembuh sendiri. Pada kenyataannya, baik ringan ataupun berat, tanpa penanganan terpadu dan intensif, penyandang autisme sulit mandiri - unquote.

Agar dapat membantu melihat beberapa kelompok besar spektrum autisme yang ada, dapat dilihat dari kategori utama dibawah ini:

Kelainan Autis
Ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. Sampai dengan umur 3 tahun mempunyai daya imajinasi yang tinggi dalam bermain dan mempunyai perilaku, minat dan aktifitas yang unik (aneh). Dikategorikan sebagai ketidak mampuan dalam bersosialisasi dan mempunyai minat dan aktifitas yang terbatas tanpa adanya keterlambatan dalam kemampuan berbicara. Kecerdasannya berada pada tingkat normal atau diatas normal.

PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specified)
Atau biasa disebut Autis yang tidak umum dimana diagnosis PDD-NOS dapat dilakukan jika anak tidak memenuhi kriteria diagnosis yang ada (DSM-IV) akan tetapi terdapat ketidakmampuan pada beberapa perilakunya.

Kelainan Rett
Ketidakmampuan yang semakin hari semakin parah (progresif). Sampai saat ini diketahui hanya menimpa anak perempuan. Pertumbuhan normal lalu diikuti dengan kehilangan keahlian yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik- khususnya kehilangan kemampuan menggunakan tangan yang kemudian berganti menjadi pergerakan tangan yang berulang ulang dimulai pada umur 1 hingga 4 tahun.

Kelainan Disintegrasi Masa Kanak-kanak
Pertumbuhan yang normal pada usia 1 sampai 2 tahun kemudian kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik.

Kutipan dari tulisan Dr. Hardiono D. Pusponegoro SpA(K):
"Klasifikasi autisme ditentukan berdasarkan kesepakatan para dokter dan dituangkan dalam Diagnostic and Statistical Manual IV (DSM-IV) atau International Classification of Diseases 9 dan 10 (ICD-9 dan ICD-10). Dalam klasifikasi tersebut, diagnosis autisme harus memenuhi syarat tertentu. Bila tidak memenuhi semua kriteria diagnosis, digolongkan dalam PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorders not otherwise specified). Akhir-akhir ini, banyak ditemukan kasus-kasus yang masih sangat kecil dengan gejala yang tidak khas. Khusus untuk kasus-kasus ini, kriteria DSM-IV atau ICD-9-10 sulit diterapkan. Beberapa peneliti mencoba membuat klasifikasi khusus untuk anak yang masih kecil dengan fokus pada tahapan perkembangan anak, disebut sebagai Diagnostic Classification: 0-3 (DC 0-3). Walaupun klasifikasi ini belum diterima secara menyeluruh, ada baiknya kita mempelajarinya. Dalam DC 0-3, ada beberapa klasifikasi untuk anak-anak yang menunjukkan gejala mirip sekali dengan autisme misalnya Regulatory Disorder dan Disorders of Relating and Communicating dengan MSDD (Multisystem Developmental Disorder) sebagai salah satu contoh. Sebagian anak ini akan berkembang menjadi autisme, namun banyak di antaranya yang sangat responsif terhadap terapi dan berkembang menjadi anak yang normal. "

puterakembara.org


Artikel yang berkaitan:
Mitos Mengenai Autisme
Diagnosa dan Penyebab Autisme

Prev home