Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Psikologis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologis. Tampilkan semua postingan

Orangtua Sering Tidak Jujur, Anak Tumbuh Jadi Pembohong!

Anda pasti pernah dengar ungkapan "Ucapan anak-anak adalah ucapan paling jujur." Hmm... kenyataannya tidak selamanya benar, terutama anak-anak zaman sekarang. Sebab, Anda sadari atau tidak, sesekali anak-anak juga pernah berbohong, apalagi jika sedang diliputi rasa takut atau ancaman.

Selain memenuhi segala kebutuhan anak, orangtua juga wajib aktif membentuk mental anak agar selalu berkata dan berlaku jujur, baik di rumah dan lingkungan sosial.

Pendidikan tentang kejujuran disarankan mulai diajarkan pada anak sejak usia pra-sekolah (3-5 tahun). Sebab, usia tersebut adalah usia krusial, mereka sudah mulai memahami mana yang nyata dan fantasi, yang salah dan benar.

Menurut seorang dokter anak dan penulis buku berjudul Mommy calls: Dr Tanya Answers Parents Top 101 Questions About Babies and Toddlers, Tanya Reymer Altmann, mengatakan bahwa umumnya kebiasaan berbohong pada anak, terinspirasi dari orangtua mereka.

Ingat, anak-anak melihat orangtua sebagai panutan. Namun, banyak orangtua yang tidak sadar bahwa kebiasaan mereka yang sering berbohong pada orang lain, diperhatikan oleh anak, untuk kemudian diartikan sebagai sikap yang normal dan tidak salah.

Ironisnya, banyak orangtua saat mengetahui anak mereka berbohong, langsung naik pitam dan memarahi anak. Padahal, kebiasaan negatif anak tersebut sebenarnya hasil meniru orangtua sendiri. "Orangtua lebih sering berkata kalau mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan saat mengetahui anak mereka berbohong," ujar Tanya.

Salah satu contoh soal, saat anak menumpahkan susu di lantai dapur, lalu orangtua bertanya apakah itu ulah mereka dengan nada tinggi. Tentu saja anak memilih berbohong, dibandingkan kena cubitan atau hardikan orangtua. Sekali anak lolos berbohong, dipastikan akan ada kali kedua, ketiga, dan seterusnya.

Para orangtua disarankan agar jangan mudah terpancing emosinya. Ketika menghadapi perilaku anak yang tidak sesuai nilai dan aturan yang seharusnya, sebaiknya tegur dengan nada bijak dan berikan solusi untuk mereka. Pola asuh yang demikian, membuat anak lebih cepat memahami apa yang benar dan salah.

Psikolog Pediatric, Mark Bowers, memiliki trik lain untuk mengajari anak yang gemar membangkang, yakni jangan pernah merasa letih mengingatkan anak mengenai tanggung jawab dan aturan yang berlaku di rumah dan kehidupan.

Mark memberikan gambaran soal bentuk kenalakan anak yang kerap dihadapi orangtua dalam keseharian, misalnyaa anak tak mengaku mencorat-coret dinding (padahal dia melakukannya), maka tegaskan kembali aturan di rumah. "Katakan pada anak kalau seharusnya menggambar itu dilakukan di kertas dan bukan di tembok. Berikan hukuman yang mendidik, bisa dengan meminta mereka untuk membersihkan hasil corat-coret di tembok, terang Mark.

Untuk mengatasi dan mencegah anak menjadi seorang pembohong, paling efektif dilakukan dengan pendekatan halus dan menghibur pada anak. Jangan menakuti anak atau mengancam mereka bila ketahuan berbohong. Pola asuh yang demikian justru akan membuat anak lebih sering tidak jujur dan memilih menutupi kenyataan dari orangtua.
KOMPAS.com

Baca lainnya:

Mendidik dan Berkomunikasi dengan Anak-anak

Orangtua zaman sekarang semakin disibukkan dengan pekerjaan, komunikasi dengan anak-anak merupakan suatu pola pendidikan yang efektif dan praktis. Komunikasi yang baik dapat membantu mengembangkan rasa percaya diri anak-anak, rasa harga diri dan hubungan yang baik dengan orang lain, yang dapat membuat hidup anak-anak-anak menjadi lebih menyenangkan, dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain dalam proses pertumbuhannya kelak di kemudian hari.

Komunikasi antara orang tua dengan anak dapat membantu mengembangkan kemampuan bahasa anak-anak

Perkembangan keterampilan berbahasa merupakan tonggak penting dalam pertumbuhan anak-anak. Keterampilan sosial maupun perkembangan inteligensi anak erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan bahasa. Mandeknya perkembangan bahasa dapat menyebabkan anak-anak menutup diri, kesulitan belajar dan masalah lainnya. Banyak orangtua percaya bahwa anak-anak belajar bahasa adalah proses otomatis, sebenarnya itu tidak benar, sejak bayi itu lahir ke dunia sudah mulai belajar bahasa.

Mendengar orangtua bicara dan berbicara dengan mereka merupakan pola utama anak-anak belajar bahasa. Ketika sebuah huruf, kata, kalimat diucapkan secara berulang kali, maka bahasa reseptif berpola pasif ini perlahan-lahan akan menjadi bahasa aktif anak-anak (kosakata Aktif), yaitu bahasa yang dapat digunakan anak-anak. Studi terkait menyebutkan, bahwa sebelum seorang anak bisa mengucapkan sepatah kata minimal harus mendengar 500 kali kata ini. Ini berarti orangtua harus menciptakan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk mendengar percakapan.

Selain itu, dalam percakapan dengan anak-anak, orangtua juga dapat membantu anak-anak menemukan kosakata dan kalimat yang menyatakan pandangan individu, memperbaiki kesalahan dan memperluas kapasitas kosa kata mereka, menjelaskan kepada mereka terkait kata-kata dan ungkapan yang belum dipahami, hal ini akan sangat meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Komunikasi antara orangtua dengan anak dapat membantu untuk memahami anak, membangun hubungan yang baik antara orang tua - anak

Saat anak-anak masih kecil, dimana jika orangtua dan anak-anak membangun sebuah hubungan yang akrab, dapat membantu anak-anak mencari bantuan Anda ketika menghadapi masalah dan kekecewaan. Sebagai orangtua juga akan menjadi lebih peka terhadap perubahan suasana hati. Hubungan yang terjalin akrab/harmonis antara orangtua dengan anak dapat meminimalkan masalah kesehatan mental dalam proses pertumbuhan anak-anak.

Orangtua sebaiknya sungguh-sungguh mendengarkan perkataan anak-anak, karena itu adalah proses mengekspresikan pikiran, pendapat dan perasaan mereka. Meskipun terkadang tidak begitu jelas dengan apa yang mereka ungkapkan, tapi mengandung banyak informasi. Dan dalam proses ini, memungkinkan orangtua untuk lebih memahami kepribadian, karakter dan proses pertumbuhan anak-anak.

Dialog yang sederajad, harmonis dan penuh dorongan dapat membuat anak-anak lebih percaya diri dengan kemampuan bahasa dan presentasi mereka, membangun rasa percaya diri, dapat membantu Anda memperbaiki perilaku buruk mereka, menghantarkan rasa sayang dan perhatian. Akan lebih dapat menyampaikan informasi yang kuat saat terjadi dialog yang bertentangan, yakni bahwasannya masalah atau pertentangan itu dapat dibicarakan secara terbuka dan dapat diselesaikan dengan baik.

Komunikasi antara orangtua dengan anak bermanfaat dalam membimbing dan membantu anak-anak

Bagi anak-anak yang lemah di dunia ini, banyak hal yang kompleks dan penuh tantangan. Banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh mereka atau bahkan membuat mereka sedikit cemas dan takut. Orangtua dapat belajar memahami sejumlah tanda tanya dan hal yang tidak dipahami anak-anak dalam percakapan mereka, kemudian menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang bisa dipahami mereka.

Terbayang dalam benak saya, mobil suami saya ditabrak orang, sebelah pintu mobil penyok. Setiap melihat mobil itu, sang anak selalu bertanya kepada papanya : "Mobilnya kenapa pa ?" Dan setiap kali itu juga saya menjelaskan saja seadanya, kemudian saya memberitahu anak saya, mobil itu bilang : "terlalu sakit rasanya, lain kali hati-hati ya bawa mobilnya, kalau tidak saya akan celaka." Anak-anak pun mengingatnya dan kerap mengingatkan saya agar hati-hati saat membawa mobil, jangan terlalu cepat, "mobil kan bisa sakit juga" demikian katanya. Kecelakaan yang mengerikan tidak tertanam dalam benak anak-anak, justru sebaliknya mengingatkannya untuk berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu, jika tidak akan ada kerugian yang tidak diharapkan.

Terkadang orangtua tiba-tiba merasa suasana hati anak-anak menjadi buruk, mudah marah, gelisah, menggerutu. Kesampingkan beberapa faktor eksternal, seperti lelah, haus atau lapar dan faktor eksternal lainnya, mungkin pernah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkannya di sekolah atau tempat lain. Jika Anda bisa perlahan-lahan menanyakan kepadanya, mungkin akan ditemukan beberapa penyebabnya.

Menciptakan setiap kesempatan

Anak-anak sibuk, orangtua juga sibuk. Mungkin sulit menemukan kesempatan yang baik untuk duduk bersama dan berbicara sejenak dengan anak-anak. Jadi manfaatkan setiap kesempatan yang ada dalam rutinitas Anda, pembicaraan (tukar pendapat) yang sederhana setiap saat dengan anak adalah suatu cara pendekatan yang lebih praktis. Manfaat seperti akan membuat anak merasa Anda itu orang yang terbuka, selalu meyambut setiap saat dan kapan saja untuk bicara dengan mereka, dan Anda suka bicara dengan mereka.

Misalnya, saat menonton televisi bersama-sama, ambil tema dari program TV sebagai bahan pembicaraan, Anda bisa bahas sejenak alur cerita yang ditonton bersama anak Anda barusan, bimbing anak Snda untuk belajar hal-hal positif dari program TV tersebut. Selain itu, saat makan di dalam mobil, waktu bercerita sebelum tidur atau saat berjalan santai, adalah kesempatan yang baik bagi Anda untuk berbincang-bincang atau sekadar ngobrol dengan anak-anak.

Perhatikan cara bertutur kata

Jika para orangtua dapat menerima segalanya anak-anak, baik itu berupa kekurangan atau kelebihan mereka, dapat membuat komunikasi antar orangtua dengan anak menjadi lebih mudah menyatu. Seorang anak yang diterima orangtuanya akan lebih mudah membuka dirinya. Sebaliknya, cara bicara yang bersifat perintah, sindiran, ejekan, celaan, dan teori panjang lebar justru akan membuat anak semakin menjauhkan diri dari Anda.

Misalnya, Dan berkata kepada ibunya "Ma, aku takut tidur sendirian."

Ibu A mengatakan : "Dasar kamu ini, sudah besar masih saja seperti bayi, tidak ada yang perlu ditakutkan."

Ibu B mengatakan : "Ibu tahu kamu takut, ibu akan menyalakan lampunya, dan membiarkan pintunya terbuka."

Jika Anda seorang anak, manakah yang Anda pilih?

Asal tahu saja, orangtua hendak berkomunikasi dengan anak, bukan pembicaraan orangtua terhadap anak. Komunikasi dengan anak seharusnya adalah percakapan dua arah, yang berarti mendengarkan apa yang mereka katakan. Sementara bicara dengan anak adalah suatu percakapan tunggal, hanya menanamkan pandangan individu kepada mereka. Komunikasi dua arah ini sangat penting terhadap anak yang lebih besar. Satu lagi point penting lainnya, bahasa yang penuh dengan cinta, dorongan semangat dan rasa hormat dapat membantu anak-anak berbuat lebih baik

10 tips untuk komunikasi antar orang tua dengan anak

  1. Dimulai sejak awal.
  2. Berbicara dengan anak terlebih dahulu.
  3. Menciptakan sebuah lingkungan yang terbuka.
  4. Ungkapkan nilai-nilai pandangan Anda sendiri kepada anak-anak.
  5. Dengarkan apa yang mereka bicarakan.
  6. Harus tulus dan jujur.
  7. Sabar.
  8. Manfaatkan setiap kesempatan untuk berkomunikasi.
  9. Sekali, sekali lagi dan lagi.
  10. Ungkapkan dengan bahasa cinta dan rasa hormat.
(Epochtimes/Jhoni/Yant)

7 Cara Memotivasi Anak agar Gemar Belajar

Pemerintah mengatur bahwa anak-anak wajib mengenyam pendidikan formal, baik di sekolah swasta maupun sekolah negeri. Apapun jenis sekolah yang dipilih orangtua sebenarnya tidak selalu menjamin anak akan menikmati waktu belajarnya. Di sinilah tugas Anda untuk menumbuhkan rasa gemar belajar pada sang buah hati.

Rasa bosan dan jenuh belajar pada anak, bisa jadi disebabkan oleh karena proses belajar mengajar yang diterapkan di sekolah terasa kaku dan membebani. Maka dari itu, Anda sebagai orangtua perlu menerapkan kebiasaan dan acara belajar yang lebih santai serta menyenangkan, baik di rumah atau di luar rumah. Tujuannya agar si kecil bisa berkonsentrasi pada mata pelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Seperti dikutip dari Hello Beautiful, berikut tujuh memotivasi keinginan belajar anak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Membantu mempersiapkan kebutuhan sekolah si kecil
Masa awal bersekolah membuat si kecil bersemangat dengan aktivitas baru hariannya tersebut. Tak ayal, membuat mereka lupa untuk membenahi perlengkapan sekolahnya. Sebagai orangtua yang baik, bantulah anak untuk menyiapkan kebutuhan belajarnya di kelas, seperti merapikan buku, mengatur kotak pensil, melengkapi seragam sekolah, dan sepatu. Tujuannya agar pada pagi hari tidak ada keributan dan kerusuhan hanya karena buah hati tidak dapat menemukan topi sekolahnya untuk upacara.

Nah, untuk melatih rasa tanggung jawab dan kemandirian anak, libatkan si kecil saat Anda mempersiapkan kebutuhan sekolahnya. Agar di kemudian hari, mereka bisa melakukannya sendiri.

Jangan pelit memberikan pujian
Orangtua mana yang tidak menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka, tak terkecuali Anda. Namun, jangan menekan dan membebani anak untuk memberikan yang terbaik versi Anda. Saat nilai ujian si kecil di luar ekspektasi Anda, alih-alih memarahinya, berikanlah pujian. Rasa percaya diri pada anak berasal dari penilaian keluarga intinya pada mereka. Melihat reaksi orangtua yang positif akan menumbuhkan keinginan pada dirinya untuk memberikan yang lebih baik untuk Anda.

Memberikan pujian juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang berkesan dan membangkitkan harga diri anak.

Dukung kreativitas anak
Selain pendidikan formal, dukung anak untuk mengembangkan minatnya di bidang lain, seperti bermain musik, menggambar, menari, melatih kemampuan berbahasa internasional, dan sebagainya. Bangun kreativitas anak dan arahkan bakat mereka dengan cara yang layak dan edukatif. Sebab, anak yang kreatif biasanya memiliki jiwa empati dan daya tangkap otak yang lebih baik dibandingkan anak yang pintar hanya berlandaskan teori.

Terapkan demokrasi pada pola asuh anak
Apa yang menjadi minat anak? Biarkanlah mereka membicarakanya pada Anda, dampingi si kecil saat ingin mengeksplorasi talentanya tersebut. Latih anak untuk mengekpresikan keinginannya lewat cara berdiskusi dengan Anda.

Bila Anda merasa masih terlalu dini untuk si kecil beropini, maka Anda telah melakukan kekeliruan. Sebab anak yang terlatih untuk berdiskusi dan mengeluarkan pendapatnya sedari kecil, maka kelak mereka dewasa akan tumbuh sebagai seorang pemimpin yang bijak dan berpikiran terbuka.

Ciptakanlah suasana belajar yang menyenangkan dan santai
Proses belajar tidak harus berada di dalam kelas, bukan? Maka dari itu, tumbuhkanlah rasa ingin tahu yang tinggi dalam diri anak Anda. Biasakan mereka untuk berani bertanya saat tidak mengerti tentang sesuatu, biarkan dia mengeksplorasi dan mencerna jawaban yang Anda berikan sesuai dengan kemampuan berpikir yang mereka miliki.

Tumbuhkan kebiasaan membaca pada anak
Meskipun era teknologi menawarkan penyajian informasi dalam kemasan yang lebih praktis dan instan. Namun, jangan meniadakan kegiatan membaca dalam keluarga Anda. Sebaliknya, aturlah waktu membaca bersama di rumah. Anda dan suami membaca buku pilihan masing-masing, dan anak membaca buku sesuai usianya. Ingat, sebelum anak mengadaptasi kebiasaan dari lingkungan sosial, mereka meniru apa yang dilakukan oleh orangtua terlebih dulu. Maka dari itu, perlihatkan perilaku terpuji dan inspiratif saat bersama si kecil.

Komunikasi yang hangat tanpa beban
Setelah makan malam bersama keluarga, sebelum waktunya belajar, coba biasakan mengajak anak membicarakan soal kegiatannya selama di sekolah dan saat di rumah sewaktu Anda masih berada di kantor. Cara ini dapat membangun rasa percaya anak pada Anda, bahwa lain waktu mereka memiliki masalah, Anda akan menjadi orang pertama yang mereka ajak bicara!

Selamat mencoba!


KOMPAS.com| Penulis: Syafrina Syaaf | Editor: Syafrina Syaaf | Sumber: Hello Beautiful


Artikel lainnya:

Bebaskan Balita Bereksplorasi

Meski kerap membuat rumah kotor dan berantakan, bereksplorasi memberi kesempatan untuk anak belajar banyak banyak hal dan tumbuh lebih optimal.

Orangtua sebaiknya tidak terlalu banyak melarang anak.
"Masa balita adalah masanya anak learn and explore. Semua pengalamannya berasal dari situ. Anak juga sedang tumbuh dan belajar, daya nalarnya juga berkembang pesat," kata psikolog Ratih Ibrahim di sela acara bertajuk Forgiveness is Easy yang digelar oleh Dulux di Jakarta (19/3/14).

Apa yang diterima anak di usia balita, imbuh Ratih, akan terbawa sampai ia dewasa. "Kalau pengalamannya membuat dia kerdil, akan terbawa terus. Begitu pun kalau pengalamannya membuat trauma maka traumanya akan dalam," katanya.

Karena itu, orangtua sebaiknya tidak membatasi lingkup ekslorasi anak. "Ibarat tanaman, anak yang serba dibatasi akan tumbuh seperti bonsai," ujarnya.

Anak yang sering dilarang-larang juga akan mempengaruhi kepercayaan dirinya, keberanian mengambil keputusan, keberanian menghadapi risiko, termasuk ide-ide dan inovasinya.

Meski membebaskan anak, tapi Ratih menyarankan agar orangtua tetap memberikan batasan. "Bagaimana pun anak tetap harus diberi tahu agar dorongan kreativitasnya tidak merusak," ujarnya.

Ia mencontohkan, walau kita membebaskan anak untuk mencorat-coret tembok, tetapi jelaskan pada anak tembok mana yang tidak boleh dicoret atau dikoroti.

"Beri tahu anak mana area mereka dan mana area yang harus bersih. Jelaskan juga bahwa mereka boleh mencoret atau menempel-nempel dinding, tapi hanya di rumah, bukan di rumah orang lain," ujarnya.

Orangtua tetap harus memiliki kontrol terhadap anak. "Jangan kalah pintar sama anak, toh sebagai orangtua kita sudah kenal dengan anak sendiri," katanya.

Tak kalah penting, orangtua juga harus konsisten sampai anak memiliki kebiasaan positif yang diinginkan. "Bebas boleh tapi tetap harus bertanggung jawab," ujarnya.

Kompas.com | Penulis: Lusia Kus Anna | Editor: Lusia Kus Anna


Artikel lainnya:

Efek Senyum Saat Menstimulasi Otak

Sekali saja seseorang tersenyum, banyak efek positif yang ditimbulkannya. Senyum menstimulasi otak dan hormon yang kemudian menimbulkan beragam efek positif bagi seseorang.

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan, saat tersenyum, bagian otak yang mengatur emosi bahagia diaktifkan. Dengan senyum, hormon pemicu stres berkurang, sementara hormon pembangkit mood meningkat. Senyuman juga menstimulasi otak yang bisa membuat pikiran lebih positif. Bahkan, dengan tersenyum, seseorang bisa menurunkan tekanan darahnya.

Penelitian di Inggris juga menunjukkan, sekali senyuman bisa menimbulkan efek stimulasi di otak setara dengan efek yang didapatkan dari makan 2.000 batang cokelat.

Senyum merupakan cara paling ringan yang bisa dilakukan seseorang untuk mendapatkan banyak manfaat positif. Pasalnya, kata Vera, seseorang hanya butuh menggunakan 17 otot di wajah untuk tersenyum. Bandingkan saja dengan mengerenyitkan dahi. Seseorang butuh lebih dari 40 otot di wajah saat mengerenyitkan dahi.

"Banyak orang meremehkan efek senyum. Padahal, senyum lebih ringan dan efektif, selain lebih murah," kata Vera di sela kegiatan perayaan World Oral Health Day 2014 di Jakarta.

Senyum Duchenne
Untuk bisa mendapatkan beragam manfaat senyum tersebut, Vera mengatakan, tak semua jenis senyum memberikan dampak sama. Dari beragam tipe senyum, hanya senyum ala Duchennelah yang memberikan manfaat paling maksimal.

"Duchenne smile yang paling bisa memberi efek stimulasi otak," katanya.

Duchenne smile, ujarnya, hanya terjadi saat seseorang memberikan senyum tulus, yakni ketika otot mata ikut tersenyum. Dengan kata lain, saat tersenyum, mata akan ikut berkerut dan menampakkan gigi. Tipe senyuman ini juga bisa membedakan antara senyum palsu atau sungguhan.

KOMPAS.com | Penulis: Wardah Fajri | Editor: Wardah Fajri



Artikel lainnya:

10 Tips Cara Melatih Anak Cerdas Emosi

1. Ajar anak mengubah tuntutan menjadi pilihan. Katakan padanya tidak ada alasan keinginannya harus selalu dipenuhi dan marah-marah. Beri anak pujian bila ia dapat mengendalikan kemarahannya.
2. Latih anak untuk menyatakan kebutuhan secara asertif (tegas), tetapi tidak ada jaminan ia akan mendapatkannya.
3. Biarkan anak mengungkapkan dan bertanggung jawab atas setiap perasaan yang dialaminya. Dengan begini ia juga bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Hindari menyalahkan anak saat Anda sendiri marah.
4. Dorong anak untuk mengembangkan hobi dan minatnya yang dapat memberinya waktu luang dan kemandirian.
5. Biarkan anak menyelesaikan sendiri pertikaian antara dia dengan saudara atau temannya.
6. Bantu anak bertoleransi terhadap gangguan orang lain. Ajarkan pula bagaimana menghindari gangguan, misalnya diolok-olok. Ajarkan anak membalas olok-olok dengan kata-kata yang baik,"Olok-olok enggak bikin sakit tuh."
7. Bantu anak untuk memperhatikan kekuatannya dengan menekankan hal-hal yang dapat ia lakukan.
8. Dorong anak berperilaku seperti yang ia ingin orang lain lakukan terhadap dirinya.
9. Bantu anak berpikir alternatif serta melihat berbagai kemungkinan ketimbang bergantung pada satu pilihan. Misalnya, anak hanya punya seorang teman. Saat temannya itu tidak ada, ajarkan anak mencari teman lain, jangan hanya merasa ia tak punya teman.

Tertawa Bersama
Doronglah anak dapat mentertawakan dirinya sendiri. Orang yang terlalu serius terhadap dirinya sendiri sulit menikmati hidup. Sense of humor yang baik dan kemampuan melihat sisi terang kehidupan, penting untuk meningkatkan kegembiraan.

Menurut Jhon Gottman, ph ada 5 langkah penting bagi orang tua dalam melatih emosi anak.

1. Menyadari emosi anak : Ketika anak menangis, marah, senang, orang tua perlu menyadari bahwa anak juga memiliki perasaan untuk di sayang, diakui, tidak baik bagi orang tua misalkan memarahi anak pada saat anak menangis, hendaknya orang tua mengetahui apa yang sedang di alami oleh si kecil.
2. Mengakui emosi anak : Terkadang orang tua egois, tidak mau tahu mengenai keinginan anak, orang tua lebih peduli pada apa yang ada di pikirannya, sehingga tidak mengakui kalau anak sedang marah, senang.
3. Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak : Hal yang paling berbahaya bagi orang tua adalah pada saat orang tua tidak mau mendengar atau tidak mau tahu mengenai masalah yang dihadapi oleh anak, orang tua cenderung memarahi tanpa memiliki empati terhadap anak, apalagi memberikan dukungan / support dengan kata-kata yang dapat meneguhkan emosi anak.
4. Membantu anak melabeli emosi : Penting bagi orang tua adalah membantu untuk melabeli emosi, hal ini agar emosi anak dapat di curahkan/ ditempatkan pada tempat yang tepat, anak diajarkan untuk mengatur control emosinya.
5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah : Yang tidak kalah penting sebagai orang tua adalah, membantu anak dalam memecahkan masalahnya, namun bukan berarti semua masalah si anak di selesaikan tanpa melibatkan anak tersebut, karena jika tanpa melibatkan anak, maka hal itu akan memberikan pengaruh pada saat anak dewasa nanti tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya.

Artikel lainnya:

Cermati Perkembangan Psikologi Balita

Setiap anak mengalami perkembangan fisik dan mental, yang sama pentingnya. Anak yang memiliki perkembangan fisik yang sehat, maka akan mempengaruhi kesehatan mental atau psikologisnya. Seperti peribahasa mengatakan, bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Demikian pula sebaliknya, kondisi kesehatan fisik yang buruk pasti akan berdampak kurang baik bagi kesehatan psikologis anak.

Perkembangan psikologi anak berawal sejak mereka baru dilahirkan. Bayi yang baru lahir biasanya belum mengenal rasa takut dan preferensi untuk melakukan kontak dengan orang-orang. Penelitian membuktikan bahwa dalam beberapa bulan pertama kehidupannya, bayi hanya mengalami perasaan bahagia, sedih, dan marah. Sebuah senyum pertama bayi biasanya terjadi saat ia berusia antara 6-10 minggu. Senyum ini, dilihat dari ilmu psikologi anak, biasa disebut dengan senyum sosial karena umumnya terjadi saat interaksi sosial.

Pada usia sekitar 8-12 bulan, mereka mengalami perubahan psikologis yang cukup cepat, yaitu mulai merasakan takut pada segala ancaman, menyenangi keakraban dengan orang-orang, dan menunjukkan kecemasan ketika dipisahkan dari orang-orang terdekat atau didekati oleh orang asing. Tetapi, karena mereka belum sampai pada tahap mampu merasakan apalagi mempertimbangkan kebutuhan, keinginan, dan kepentingan orang lain, maka biasanya mereka memiliki sifat egosentris yang sangat besar.

Kapasitas untuk berempati dan memahami aturan sosial baru dimulai pada periode usia 2-5 tahun dan terus berkembang hingga dewasa. Pada usia 2-5 tahun, anak-anak mulai dapat mengembangkan suatu proses berpikir, walaupun buah dari proses berpikir tersebut seringkali tidak logis bagi orang-orang dewasa. Karakteristik psikologi anak pada tahap ini adalah mereka memiliki keyakinan bahwa segala benda yang ada merupakan makhluk hidup sama seperti dirinya. Contohnya, anak seringkali beranggapan bahwa mobil yang sedang tidak berjalan disebabkan benda tersebut sedang lelah atau sakit. Contoh lainnya, si kecil akan memberi hukuman berupa pukulan kepada sebuah perabot karena menganggapnya nakal sudah membuatnya tersandung.

Anak pada usia ini masih memiliki sifat egosentris, karena mereka hanya dapat mempertimbangkan dan mementingkan segala sesuatu berdasarkan sudut pandang mereka sendiri. Tetapi pada usia ini pula, psikologi anak berkembang pesat. Secara berangsur-angsur, anak mulai mengalami penurunan egosentris apalagi bila didukung pola pengasuhan yang tepat.

Bunda, dalam hal ini, memiliki peran yang sangat besar dalam membantu perkembangan psikologis si kecil. Belajarlah untuk memahami, bersabar, dan selalu memberikan contoh yang baik, merupakan beberapa hal yang penting untuk Bunda ingat. Namun, jangan lupa untuk bisa bersikap tegas dalam menerapkan kedisiplinan agar mereka memiliki pondasi yang cukup kuat dalam proses pembentukan karakternya kelak.

ibudanbalita.com



Artikel lainnya:

Perceraian, Rusak Kejiwaan Anak

Keluarga adalah sebuah lingkungan yang terjalin dari beberapa individu yang memiliki hubungan darah. Sebuah hubungan yang harmonis dalam keluarga adalah dambaan setiap orang. Namun dalam realitanya sebuah kehidupan tidak selamanya menyenangkan, akan ada saatnya harus berjuang mengatasi sebuah permasalahan. Permasalahan dilingkup kepala keluarga dalam arti ayah dan ibu salah satu contoh permasalahan dalam keluarga yang dijadikan asalan kurang harmonisnya sebuah keluarga. Ketidakcocokan antara ayah dan ibu dijadikan alasan untuk melakukan perceraian. Selain ketidakcocokan yang dirasakan oleh ayah dan ibu, alasan paling sering ditemui dalam hubungan adalah perselingkuhan.

Pertengkaran, perpisahan, dan keributan hak asuh anak adalah runtutan dari kehancuran dalam rumah tangga. Namun kehancuran rumah tangga bukanlah akhir dari rentetan perceraian melainkan awal dari kehancuran berentetan bagi seluruh anggota keluarga. Bagi beberapa orang tua yang tidak mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga akan menjadi monster yang paling mengerikan bagi anak-anak mereka.

Masalah yang akan ditimbulkan dari beberapa cekcok rumah tangga begitu rumit, terutama masalah psikologis anak. Tahukan anda, begitu besar perubahan yang akan terjadi pada seorang anak yang menjadi korban perceraian. Ya anak adalah salah satu korban dari terjadinya perceraian, trauma akan lebih berbahaya bagi anak pada usia sebelum 7 tahun. Dalam masa-masa ini adalah asal muasal 85% masalah seseorang tercipta (Mental Block).

Mental block adalah hambatan secara psikologis yang menyelubungi pikiran seseorang. Anak membutuhkan stimulasi dasar dari keluarga terutama orang tua. Bayangkan anak dalam masa tersebut bagaikan anak harimau yang semasa bayi berada dalam asuhan dan tiba-tiba dilepas di hutan, apa yang terjadi? Harimau itu akan berusaha beradaptasi sendiri dengan alamnya yang baru, menjadi liar dan tak terarah sebagai hasil pembelajaran dari lingkungannya. Itulah yang akan terjadi pada anak dalam masa perkembangannya, karena ia butuh dua contoh yaitu ayah dan ibu. Karena dimasa ini seorang anak membutuhkan dasar pembelajaran sebagai dasar emosi (kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan mengontrol, kebutuhan untuk diterima) yang harus terpenuhi, dan peran ayah dan ibu berbeda dalam menghasilkan sebuah pemahaman seorang anak.

Seberapa besar bahaya dari Mental Block sendiri, terkait dengan trauma perceraian kedua orang tua mereka. Pengaruh yang terjadi hingga usia beranjak dewasa, diusai 20-an mental block telah menghambat segala tujuan seseorang. Karena pada masa pembangunan dasar emosi seorang anak sudah tidak terpenuhi akibat perceraian kedua orang tuanya, maka fatallah akibatnya karena kunci dalam pendidikan karakter pada anak tidak diberikan secara maksimal.

Dalam perjalanan hidupnya anak akan lebih sulit diatur dan diajak kerja sama baik oleh orang tua maupun lingkungannya. Anak akan mengontrol dirinya, mengatur segala hal yang dia mau, dan bergegas menjadi seorang pemberontak. Ia juga tak akan lebih nyaman berada dirumah, mulai tidak terbuka pada orang tuanya dan akan menyimpan segala yang ia kerjakan dan ia keketahui. Dari beberapa kelakuan anak tersebut, akan semakin sulit bagi orang tua memberikan nasihat dan nilai-nilai positif kepada anak. Dia akan mencari tempat dimana ia merasa lebih nyaman dan menyenangkan, disinilah rawannya, anak akan membuang jauh batas-batas baik dan buruk, dia tidak akan mampu membedakan mana yang positif dan negatif dan akhirnya dapat terjerumus dalam kehidupan negative diluar rumah. Cita-cita, masa depan cerah bukan lagi menjadi harapannya, yang dia inginkan hanya kebahagiaan yang bisa didapatkan pada saat itu juga, dan bukan tidak mungkin hal itu akan terjadi hingga ia besar nanti, bahkan bisa jadi ia tidak mau membangun sebuah hubungan serius dan berkeluarga karena efek perceraian kedua orang tuanya.

Sebegitu mengerikannya bukan efek traumatik pada anak, maka itu bagi anda orang tua, ayah dan ibu, berikan yang terbaik bagi anak-anak terutama dari usia dini mereka. Ajarkan hal-hal baik, kasih sayang, dan tanamkan pengetahuan agama sebagai pegangan hidup. Anak adalah anugerah, dan jadikanlah mereka alasan untuk segala pencapaian kebahagian. Jauhkan anak dari kekerasan dan hal-hal negatif baik itu berasal dari keluarga.

kesehatan.kompasiana.com


Artikel yang berhubungan: 

Keluarga Pengaruhi Perilaku Hidup Sehat Seseorang

Psikolog Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Dr Kristina Haryanti menilai lingkungan keluarga memberi pengaruh paling besar terhadap perilaku kesehatan individu.

“Keluarga memberi pengaruh paling besar, kalau keluarga sudah menerapkan pola dan perilaku hidup sehat maka setiap anggota keluarga akan terbiasa melakukannya,” katanya di Semarang, Kamis.

Menurut dia, keluarga merupakan basis penanaman nilai-nilai kepada setiap individu, termasuk nilai kesehatan sehingga keluarga akan menentukan apakah seseorang berperilaku hidup sehat atau tidak.

Ia menjelaskan lingkungan masyarakat juga tidak kalah penting dalam memengaruhi manusia berperilaku hidup sehat, seperti lingkungan rumah sakit (RS) yang selalu terjaga kebersihan dan kerapiannya.

“Kalau berada dalam lingkungan RS yang bersih, tidak ada sampah berserakan, orang akan sungkan untuk membuang sampah sembarangan. Kenapa? Karena merasa tidak tega mengingat tempatnya bersih,” katanya.

Bahkan, ia mengaku saat akan menengok kawannya di sebuah RS swasta di Semarang, pernah melihat seorang keluarga pasien di sebuah RS swasta di Semarang sampai rela mengantongi sampah di saku celana.

“Saya pernah melihat sendiri. Ada seorang keluarga pasien yang kesulitan mencari tempat sampah, sementara RS itu sangat bersih. Sampah bekas makanan itu kemudian dikantonginya ke saku celana,” katanya.

Sebaliknya, kata dia, kalau orang berada di jalanan dengan kondisi yang tidak terawat dan sampah berserakan tentu akan mudah membuang sampah sembarangan karena merasa sudah banyak sampah di tempat itu.

“Contoh lain, orang Indonesia yang tinggal di Belanda pasti menyeberang jalan di ’zebra cross’ karena lingkungannya tertib. Namun, kalau balik ke Indonesia biasanya menyeberang sembarangan lagi,” katanya.

Dekan Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang itu mengatakan bahwa kondisi psikologi semacam itu sangat berkaitan dengan otak manusia yang memengaruhi segala pikiran dan tindakannya.

Berkaitan dengan itu, pihaknya akan mengundang Prof AML Coenen, pakar psikologi Radboud University-Nijmegen Belanda untuk mengisi seminar “Otak, Proses Kognisi dan Perilaku Sehat” pada 18 September mendatang.

“Prof Coenen akan menjelaskan perilaku-perilaku berisiko, seperti merokok, minum minuman beralkohol, dan penyalahgunaan obat terlarang berkaitan dengan otak dan komponen kesehatan lain yang terpengaruh,” kata Kristina.
sehatnews.com


Artikel lainnya:


Gadget Sebagai Jawaban Orangtua Pada Anak

Setiap orang tua pasti berharap mampu memenuhi segala kebutuhan anak-anaknya. Menurut survei yang dilakukan oleh Oreo dan perusahaan riset pasar Ipsos, sekitar 83 persen orang tua di dunia harus bekerja keras untuk mengupayakan yang terbaik untuk masa depan anak-anak. Sayangnya, banyak dari mereka yang lebih fokus untuk mencukupi kebutuhan materi dibandingkan dengan memenuhi kebutuhan afeksi/perasaan anak-anaknya.
Salah satu jawaban orang tua untuk mengatasi kurangnya waktu untuk berkomunikasi dengan anak adalah melalui teknologi. Teknologi memang memungkinkan orang tua dan anak berkomunikasi setiap saat. Namun hal ini menimbulkan fakta mengejutkan, dimana lebih dari seperempat persentase orang tua di dunia ternyata lebih banyak berkomunikasi melalui teknologi dibandingkan secara langsung.

Secanggih apapun teknologi, sebenarnya tetap tak mampu menggantikan perhatian orang tua secara langsung. Memberikan “kenyamanan” dan perhatian melalui teknologi ternyata bisa berakibat buruk bagi keutuhan keluarga. Sebab, kebiasaan untuk menggunakan teknologi seringkali tetap berlanjut saat berkumpul bersama keluarga. “Misalnya ketika sedang berada di meja makan, masing-masing akan sibuk dengan gadget mereka, dan tidak berinteraksi satu sama lain,” ujar Anna Surti Ariani, SPsi, Msi, dalam diskusi yang digelar Oreo di Graha Inti Fauzi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kesalahan lain yang terjadi kemudian, orang tua cenderung “menyogok” anak dengan gadget agar tidak rewel ketika ditinggal bekerja. Akibatnya anak lebih kenal pada gadget ketimbang perhatian orang tua secara langsung. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, orang tua akan kehilangan anak-anak mereka, sementara anak-anak akan menjadi kecanduan gadget, dan lebih sayang pada gadget daripada orang tuanya.
“Sudah banyak kasus seperti ini di Indonesia, anak-anak kecil lebih memilih gadget, dan tumbuh menjadi anak yang nakal karena tidak dapat perhatian orang tuanya,” tambahnya.
Dalam penelitian secara terpisah, terlihat bahwa gadget memberikan respons langsung terhadap tuntutan perhatian dari anak dalam bentuk suara-suara yang meriah. Anak-anak sangat menyukai suara-suara ini, sehingga ketika sedang tak terhubung dengan gadget mereka akan mencari “suara-suara” tersebut dari sumber lainnya. Orang tua juga akan memberikan respons dalam bentuk suara ketika anak-anak berbuat nakal, dan respons inilah yang diharapkan anak, karena membuat mereka merasa diperhatikan orang tuanya. 

heartline.co.id

Artikel yang Berhubungan:
Dampak Negatif dari Kecanduan Teknologi
Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik

Prihatin, Kekerasan Anak Meningkat

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar mengaku prihatin kasus kekerasan terhadap anak masih sering terjadi secara fisik di rumah tangga maupun sebagai pekerja dengan jenis pekerjaan berbahaya.

“Kekerasan terhadap anak (usia 18 tahu ke bawah) menjadi keprihatinan kita semua, bisa berupa kekerasan fisik di rumah tangga dan sebagai pekerja dengan pekerjaan yang berbahaya,” katanya seusai memberikan pemaparan pada Rapast Kerja Nasional Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Mataram, Selasa.

Selain itu, katanya, dengan kemajuan teknologi informasi banyak terjadi pelecehan seksual melalui internet, website dan melalui berbagai media sosial. Ini harus menjadi perhatian utama bagi pemerintah dalam membentuk anak sebagai generasi yang disiapkan ke depan.

Ia mengatakan, regulasi yang mengatur tentang perlindungan anak cukup banyak, seperti Undang-undang perlindungan anak, namun hingga kini masih belum tersosialisasi dengan baik, sehingga masyarakat belum memahami dengan baik mengenai hak dan kewajiban anak. Ini harus dimulai dari keluarga.

“Saat ini kami sedang melakukan langkah-langkah melalui kabupaten/kota menuju layak anak. Dengan program ini insya Allah anak-anak yang lahir akan tumbuh dan berkembang dengan baik,” katanya.

Menurut dia, bentuknya adalah suatu komitmen bersama antara eksekutif, legislatif dan masyarakat untuk membangun kota yang ramah anak. Ini harus dimulai dari kaluarga. “Ini sudah kita lakukan dan hingga kini sudah 104 kbupaten/kota yang menuju layak anak, namun ini baru pencanangan menujukota layak anak. Khusus NTB akan dilaksanakan pada 2013,” katanya.

Menurut Linda, indikator kota layak anak ini, antara lain dari sisi peraturan, pemenuhan hak anak dari sisi pendidikan, kesehatan dan tempat bermain dan dari sisi perlindungan hukum.

“Kita mengharapkan dengan terlaksananya program kabupaten/kota layak anak, maka para anak-anak bisa tumbuh dengan baik dan sehat. Ini penting dalam rangka melahirkan anak-anak Indonesia yang berkualitas,” kata Lilda.

Menurut data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) selama 2011 terjadinya 2.386 kasus kekserasan terhadap anak. Artinya setiap bulan lembaga perlindungan anak ini menerima laporan 200 kasus.

Angka tersebut meningkat 98 persen dari tahun lalu dengan jumlah 1.234 pengaduan. Kemudian perceraian orangtua juga mengakibatkan ratusan ribu anak di Indonesia terpaksa harus menjadi korban terpisah dari salah satu orangtuanya.

sehatnews.com


Artikel lainnya:
Anak Korban Kekerasan Mudah Alami Sakit Mental
Siap Menjadi Orang Tua Secara Psikologis dan Mental
Awas! Memukul Anak Bisa Bikin Perilakunya Makin Buruk
Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak
Tolong Jangan Katakan Hal Ini Pada Anak Anda
Mendidik Anak Tanpa Kekerasan
Kebersamaan Antara Anak dan Orang Tua 
Membantu Mengatasi Ketakutan Anak

Putus Mata Rantai Terorisme Sejak dari Anak-anak

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berpendapat, salah satu langkah yang harus dilakukan dalam memutus mata rantai terorisme di Indonesia adalah dengan mencegah sedini mungkin terjadinya paparan ideologi terorisme, sejak dari anak-anak.

“Ketika ada potensi terjadinya indoktrinasi ideologi radikal pada anak, negara harus hadir untuk mencegahnya. Hal ini bagian dari upaya perlindungan anak yang diamanatkan undang-undang,” kata Wakil Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh di Jakarta, Kamis.

Sebagaimana dijelaskan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai beberapa waktu lalu, Farhan, terduga pelaku terorisme di Solo, adalah “darah biru” teroris, yang merupakan anak kandung Sunarto. Pada saat kejadian upaya tindak pidana terorisme oleh Sunarto, Farhan masih berusia 12 tahun, dan kemudian ia memperoleh pendadaran serta pembinaan dari ayah tirinya, Abu Umar.

“Ini artinya BNPT sudah mengetahui potensi terjadinya transfer ideologi terorisme kepada anak, dan BNPT tidak melakukan langkah-langkah konkret untuk mencegahnya hingga kemudian ia menjadi pelaku. Dalam konteks ini berarti ada pembiaran negara terhadap anak yang terindoktrinasi ideologi kekerasan,” katanya.

Menurut Niam, kasus terorisme yang melibatkan pelaku usia remaja tidak mungkin terjadi tanpa adanya indoktrinasi di saat usia anak-anak, baik di lingkungan keluarga maupun di dalam pergaulannya.

Banyaknya kasus pidana yang dikaitkan dengan terorisme oleh pelaku usia muda, kata Niam, menunjukkan kegagalan negara dalam memutus mata rantai terorisme di Indonesia. Untuk itu, perlu ada pendekatan persuasif, dengan program deradikalisasi berbasis pada keluarga.

“Deradikalisasi yang menjadi program kontraterorisme tidak bisa hanya dilakukan pada orang dewasa. Perlu ada terobosan program yang berbasis keluarga, di mana orang tua disadarkan akan tanggung jawab pada anak”, ujarnya.

Program deradikalisasi hendaknya benar-benar diarahkan untuk memutus mata rantai regenerasi jaringan teroris. Salah satu caranya, dengan mencegah anak-anak dari kemungkinan terpapar penyebaran ideologi radikal oleh jaringan teroris. “Banyak tunas baru teroris itu tumbuh saat usia anak atau remaja belasan tahun. Kita harus memutus mata rantai benih tumbuhnya ideologi kekerasan semacam itu sejak dini,” tambahnya. Niam mengungkapkan, persemaian ideologi kekerasan atau terorisme umumnya tumbuh pada masa anak-anak dan remaja. Untuk itu, diperlukan program untuk menyelamatkan kalangan anak dan remaja dari paparan ideologi kekerasan.

“Tindakan itu dimungkinkan oleh negara dan keluarga sesuai Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” katanya.

Jika ada anak-anak atau remaja yang diketahui potensial menjadi bibit radikalis atau teoris, negara dapat mengambil mereka, menjauhkannya dari jaringan teroris, dan mendidiknya dengan pemahaman keagamaan yang moderat.

“Keluarga, terutama orangtua, harus lebih giat memantau perkembangan perilaku dan pendidikan anak. Jika menemukan tanda-tanda perilaku radikal, orang tua mesti menarik anaknya dari jaringan ideologi kekerasan dan menanamkan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan,” katanya.

Lebih lanjut Niam menjelaskan, jika ternyata paparan ideologi menyimpang itu justru dari orang tua, maka negara harus hadir untuk melindungi anak, meski harus memisahkannya dari orang tua.

sehatnews.com

Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak

Apa yang terjadi pada kita saat ini, lebih banyak ditentukan oleh perlakuan orang tua kita di masa lalu, dan perlakuan kita saat ini kepada anak-anak kita, akan mempengaruhi masa depan kehidupan mereka.

Perlakuan orang tua: Sering mendapat kritikan secara terus menerus, tidak dihargai, tidak dicintai dan tertolak dari orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga dan selalu merasa tertolak di tengah orang lain.

Perlakuan orang tua: Suka dicemoohnya, dianggap bodoh, dianggap tidak mampu, tidak terampil, malas oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung memiliki rasa percaya diri yang rendah, merasa tidak mampu, selalu salah, korban keadaan,tidak punya bakat, tidak mampu belajar. Baginya semua yang dilakukan merupakan kumpulan kegagalan, bahkan terkadang ia justru melakukan upaya untuk suatu kegagalan.

Perlakuan orang tua: Suka ditekan dan dicemooh saat ia mendahulukan kepentingan pribadinya oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung berkeyakinan bahwa memikirkan diri sendiri adalah jahat dan buruk, ia patuh dan berusaha menyenangkan orang lain, ia merasa bahwa orang lain lebih penting, lebih benar, lebih tahu. Ia cenderung mencari pasangan yang suka mengontrol atau otoriter.

Perlakuan orang tua: Suka ditekan untuk menjadi yang terbaik dan selalu menjadi nomor satu dengan mengorbankan kebahagiaan dan kesenangan oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menekan dirinya secara berlebihan demi karier, uang, nama baik, kecantikan dan keteraturan dengan mengorbankan kesehatan, kebahagiaan, kesenangan dan hubungan baik dengan orang disekitarnya.

Perlakuan orang tua: Terlalu diperlakukan manja oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menginginkan sesuatu dengan cepat tanpa peduli situasi dan kondisi di sekitarnya. Ia merasa berhak atas segala yang dia mau, merasa special, minta orang lain patuh dan tunduk kepadanya.

Perlakuan orang tua: Merasa kehilangan, atau merasa ditinggalkan, atau merasa dibuang oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung berusaha baik pada orang yang dikasihi walaupun dia telah meninggalkan dan menyakitinya berulang kali.

Perlakuan orang tua: Terlalu sering dibohongin atau dilecehkan oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung berasumsi bahwa orang lain tidak bisa dipercaya, selalu ingin menyakiti, menipu dan mengambil keuntungan darinya.

Perlakuan orang tua: Sikap over protektif dan otoriter oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung ragu-ragu, bingung dan panik saat membuat keputusan, dia selalu minta pertimbangan atau bahkan hanya mengikuti yang orang lain putuskan.

Perlakuan orang tua: Sikap over protektif oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung ragu-ragu dan takut untuk keluar dari zona nyamannya, dia merasa segala situasi dan kondisi bisa menjadi masalah dan ancaman yang besar baginya.

Perlakuan orang tua: Suasana dingin dan miskin cinta dari orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menganggap dirinya tidak penting, tidak layak dicintai dan tidak berharga, sehingga ia juga tidak peduli dengan orang lain, dingin, cuek dan berpetualang mencari cinta dan kehangatan.

Perlakuan orang tua: Penilaian buruk atau perlakuan buruk yang menyakitkan dari orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung mengasingkan diri, tertutup dan tidak mau membangun hubungan dengan orang lain. Dia merasa tidak bisa diterima di lingkungan karena perasaan buruk, aneh, tidak selevel atau berbeda.

Terkadang perlakuan buruk yang telah kita terima dari orang tua dimasa lalu, tanpa sadar akan terulang saat kita memperlakukan anak kita. WASPADALAH..!!! Belajar dan berusahalah menjadi orang tua yang baik dan bijaksana buat anak-anak kita.

Lukas Y. Wirawan




Artikel yang Berhubungan:
Kebersamaan Antara Anak dan Orang Tua
Tolong Jangan Katakan Hal Ini Pada Anak Anda
Kiat Menanamkan Disiplin Pada Anak
Mendidik Anak Tanpa Kekerasan
Beberapa Kesalahan yang Kerap Kali Menghancurkan Kepribadian Anak
Awas! Memukul Anak Bisa Bikin Perilakunya Makin Buruk
Menjadikan Anak Taat Kepada Orang Tua Tanpa Menghukum
Memahami Dunia Emosi Anak

Si Kecil Sering Corat-coret di Dinding?

Cermati Penyebab dan Sisi Positifnya

Anak-anak umumnya suka menggambar, dan salah satu bidang yang tak pernah luput dari sasaran crayon atau pensil warna mereka adalah dinding rumah. Tak terbilang berapa banyak kertas atau buku gambar yang sudah Anda siapkan untuk anak, namun kelihatannya mereka lebih suka mencoret-coret tembok.

Ketimbang membuat coretan-coretan di buku gambar, anak-anak umur 2-4 tahun tampaknya memang lebih suka membuat karya "masterpiece" di dinding rumah.

"Anak-anak lebih asyik saat menggambar di dinding. Kenapa? Karena saat menggambar di dinding, mereka (merasa) ikut terlibat di dalam kisah yang mereka gambarkan.

Melalui bidang yang lebih luas, mereka lebih bebas menggambar dan masuk ke dalamnya," papar psikolog Tubagus Amin Fa, SPsi, CTL, CH, CHt, Cl, saat bincang santai dengan media di Kidzania, Pacific Place.

Rasa terlibat dalam dunia di dalam gambar itu tidak akan didapat ketika anak menggambar di bidang kertas, demikian menurut psikolog dari Aminfainstitute - Lembaga Riset dan Konsultan Edukasi Berbasis Brain Based and Holistic Learning (Pendidikan Ramah Otak) ini.

Beberapa penelitian menunjukkan alasan lain mengapa anak suka sekali mencoret-coret dinding. Anak-anak yang lebih kecil menjelajahi dinding karena suka mewarnai bidang apa saja.

Hal ini berbeda dengan anak-anak usia 3-4 tahun, di mana perkembangan fisik membuatnya lebih mudah menggambar dengan merentangkan tangan di depannya ketimbang di bawahnya, demikian menurut Becky Bailey, PhD, penulis buku There's Gotta Be a Better Way.

Merasa Lebih Nyaman
Menggambar di dinding memberi posisi yang lebih nyaman, karena memungkinkan kontrol tangan dan mata yang lebih baik. Dengan cara ini, menggambar menjadi jauh lebih menyenangkan bagi si kecil.

Menggambar di meja akan mulai menyenangkan ketika anak baru lepas dari taman kanak-kanak.

Nah, sebelum anak menyelesaikan TK-nya, Anda mungkin memang harus merelakan dinding rumah menjadi ekspresi kebebasan anak. Tentu, Anda bisa mengurangi coretan pada dinding ruang tamu atau ruangan lain dengan berbagai macam cara:
* Anda bisa menyiapkan dinding kamar anak sendiri sebagai tempat untuk menggambar sepuasnya.
* Lapisi dinding dengan kertas yang lebar sebagai media untuk menggambar, sehingga tinggal diganti ketika bidang kertas sudah penuh.
* Siapkan penyangga untuk menaruh kertas-kertas gambarnya (seperti yang digunakan untuk presentasi).
* Atau, biarkan ia menggambar sambil berbaring di lantai, jika ia merasa kurang nyaman jika menggambar di meja.

(Felicitas Hermandini)



Artikel lainnya:

Personality

Tiap saat kita bisa dihadapkan dengan bermacam-macam situasi. Terutama saat kita berhubungan dengan orang lain. Kadang kita sering dibuat bingung oleh sifat seseorang, ada orang yang berbicara spontan tanpa memikirkan akibatnya terhadap orang lain dan sering memonopoli suatu percakapan. Tapi sebaliknya ada seseorang yang sangat berhati-hati dalam berkata, setiap kata yang diucapkan selalu dipikirkan terlebih dahulu dan lebih banyak diam dalam suatu percakapan. Ada pula orang yang tidak mau kalah dalam berpendapat, sebaliknya ada orang yang memilih untuk mengikuti kemauan orang lain daripada menimbulkan masalah.

Ternyata watak dan kepribadian seseoranglah yang lebih banyak berperan besar dalam menentukan hal tersebut. Florence Littauer dalam bukunya Personality Plus, meneyebutkan bahwa pengelompokan kepribadian atau watak manusia pertama kali ditetapkan oleh Hippocrates 2400 tahun yang lalu. Kita akan bersenang-senang dengan orang Sanguinis yang Populer, yang mengeluarkan antusiame. Kita akan serius dengan orang Melankolis yang Sempurna, yang berusaha mengejar kesempurnaan dalam segala hal. Kita akan maju ke depan bersama orang Koleris yang Kuat, yang dilahirkan dengan bakat pemimpin. Dan kita akan rileks dengan orang Phlegmatis yang Damai, yang bahagia dengan siapa diri kita. Dengan mengetahui kepribadian dan watak diri sendiri maka kita dapat memaksimumkan kemampuan dan meminimumkan kelemahan yang ada. Selain itu, mengetahui watak dan kepribadian orang lain akan membuat kita semakin memahami orang tersebut.

Florence Littauer penulis Personality Plus, menguraikan watak dan kepribadian manusia menjadi empat kelompok, yaitu Sanguinis Populer, Melankolis Sempurna, Koleris Kuat, dan Phlegmatis Damai.

Sanguinis yang populer cenderung ekstrovert dan spontan. Ia akan senang jika berada diantara orang banyak dan cenderung mendominasi suatu pembiacaraan, namun ia akan membuat suasana menjadi lebih hidup. Dalam kesehariannya, seorang sanguinis cenderung tidak teratur, sehingga tidak heran jika ia susah dalam menepati janji. Jika diberikan tanggung jawab, seorang sanguinis akan dengan segera mengiyakan, namun beberapa hari kemudian ia tidak akan melakukan apapun. Dalam pertemanan, seorang sanguinis akan mudah mendapatkan teman-teman baru, tampak menyenangkan, selalu menjadi pusat perhatian, dan dapat menghidupkan suasana.

Melankolis yang sempurna cenderung introvert dan pemikir. Berkebalikan dengan sanguinis, seorang melankolis cenderung serba teratur dan terencana sehingga segala sesuatu dipikirkan secara mendalam. Jika dalam sebuah pertemuan, seorang sanguinis cenderung mendominasi pembicaraan, maka seorang melankolis akan menganalisa dan mempertimbangkan sehingga apa yang ia katakan adalah hasil yang telah dipikirkan secara mendalam. Seorang melankolis selalu berusaha sempurna, jadi jangan coba-coba untuk mengganggu apapun milik seorang melankolis karena ia akan mengetahuinya. Dalam pertemanan, seorang melankolis cenderung hati-hati dalam berteman, sering menjadi tempat curhat, dan dapat memecahkan masalah orang lain.

Kolerik yang kuat cenderung ektrovert dan berjiwa petualang. Seorang kolerik memiliki bakat pemimpin sehingga ia suka mengatur orang lain. Sikapnya yang sedikit bossy dan tidak mau kalah membuatnya kurang disenangi. Seorang kolerik menyukai tantangan dan kebebasan. Ia juga tidak mudah putus asa dan baginya tidak ada istilah tidak mungkin sehingga apa yang akan ia lakukan pasti akan tercapai seperti apa yang dikatakan. Dalam pertemanan, seorang kolerik cenderung tidak memerlukan teman akibat kemandirian yang dimilikinya.

Plegmatis yang damai cenderung introvert dan sabar. Ia tidak menyukai konflik dan cenderung cinta damai, sehingga disuruh apa saja akan ia lakukan, sekalipun ia sendiri tidak menyukainya. Jika terjadi konflik, seorang plegmatis akan mencari solusi tanpa menimbulkan pertengkaran, bahkan ia rela berkorban supaya masalah yang terjadi tidak berkepanjangan. Dalam pertemanan, seorang plegmatis biasa menjadi pendengar yang baik, namun sulit dalam mengambil keputusan.. Tanpa seorang sanguinis, dunia akan terasa sepi. Tanpa seorang melankolis, tidak ada kemajuan di bidang riset, keilmuan, dan budaya. Tanpa seorang kolerik, dunia akan berantakan tanpa arah dan tujuan. Tanpa seorang plegmatis, tidak ada orang bijak yang mampu mendamaikan dunia.

Pada dasarnya setiap manusia memiliki ke 4 kepribadian tersebut, namun masing-masing orang memiliki kadar dominasi kombinasi yang berbeda. G.W All port mengemukakan bahwa, “personality is the dynamic organization within the individual those psychological system that determine his unique adjustment to his environtment. ” (Kepribadian adalah organisasi dinamis yang ada pada seseorang di dalam suatu sistem kejiwaan yang menentukan keunikan penyesuaian dengan lingkungannya). Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar untuk memahami sifat manusia yang beragam tersebut.

FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK KEPRIBADIAN
  1. Keturunan (genetik), ditentukan sejak lahir, berupa sifat-sifat bawaan baik fisik maupun mental yang mempengaruhi perbuatan, perasaan, dan pikiran.
  2. Lingkungan, berupa budaya, norma, nilai dimana seseorang dibesarkan dalam lingkungan keluarga, teman, kelompok sosial, masyarakat.
  3. Situasi, kepribadian orang bisa berubah-ubah akibat perubahan situasi/kontek tertentu.
(dari berbagai sumber)

Beban Pelajaran Meningkat, Anak Bisa Sakit Jiwa

Psikiater Prof Dr dr LK Suryani SpKJ berpandangan, dewasa ini terjadi kecenderungan semakin muda usia penderita sakit kejiwaan karena anak-anak tidak siap menerima beban pelajaran di sekolah.

Suryani yang juga pendiri dan Direktur “Suryani Institute for Mental Health” itu di Denpasar, Kamis, mengatakan, berdasarkan hasil penelitiannya dan kunjungan ke tempat praktiknya, sudah ada anak SD yang mengalami gangguan jiwa.

Menurut dia, penyebab terbesarnya karena beban pelajaran sekolah, anak-anak dituntut cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Apalagi ditambah mereka harus belajar di sekolah hingga sore hari.

“Tetapi sayangnya guru tidak mau mendidik, maunya mengajar saja,” ujarnya.

Ia berharap para guru memahami perkembangan mental anak, jangan memaksa belajar, tetapi hendaknya membuat murid TK serta siswa SD dari kelas I sampai III terangsang mempunyai semangat belajar, mau belajar, dan berani berbicara.

“Sekarang terlalu sedikit waktu santai untuk anak-anak, bahkan TK sudah les. Idealnya sampai kelas III tidak ada PR. Bukankah tidak jarang yang mengerjakan PR pembantu dan orang tua agar anaknya tidak malu?” katanya.

Dengan gaya hidup seperti itu, ketika dewasa, mereka umumnya untuk bangun pagi saja harus dibangunkan dan malas ke kantor serta tidak bisa mengurus diri sendiri.

“Di dalam mendidik, seyogyanya guru jangan menganggap anak sudah tahu macam-macam sehingga tidak perlu dididik calistung. Harusnya anak-anak juga diajak menyanyi dan bercerita untuk mengekspresikan emosi,” katanya.

Lewat cerita, lanjut dia, juga untuk memasukkkan nilai baik dan buruk karena para orang tua tidak ada waktu bercerita. Hingga usia 10 tahun adalah masa untuk membuat anak mampu melihat situasi.

“Jika dapat memberikan pendidikan tanpa beban pada anak dan mereka senang, di sanalah akan ada harapan punya masa depan. Kalau orang tua sering ribut apalagi terjadi sejak dalam kandungan, hal itu akan menyulut gangguan jiwa pada anak-anak,” ujarnya.

Di sisi lain, ia melihat kecenderungan para orang tua menuntut agar anaknya paling hebat secara akademis, padahal pandai saja sebenarnya tidak cukup. Justru menjadikan anak mandiri dan kreatif jauh lebih penting. Ia tidak memungkiri, memang jika punya anak kreatif berat, anak akan banyak protes dan nakal.

“Seyogyanya biarkan anak berkembang, belajar apa yang diperlukan anak, dan jangan orang tua justru memaksakan kehendak. Adakan waktu ngobrol saat makan dan sebelum tidur,” kata Suryani.

sehatnews.com


Artikel lainnya:
Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak

Banyak Ortu Akui Jarang Temani Anak Nonton TV

Hingga saat ini banyak orang tua mengakui jarang menemani anaknya menonton televisi sehingga dikhawatirkan tayangannya berdampak negatif bagi mereka.

Salah seorang pedagang makanan di Kebon Kacang, Jakarta, Selasa, Suiyah, mengaku sering tidak menemani putrinya yang berusia 12 tahun menonton televisi karena sibuk menjaga warung hingga malam hari.

“Saya hanya sempat menemani anak menonton televisi pada malam hari tetapi sebenarnya saya juga merasa cemas karena banyak presenter televisi di acara komedi dan musik yang sering mengatakan hal tidak sopan dan kata-kata kasar,” katanya.

Suiyah juga menyadari bahwa anak-anak bisa meniru adegan yang ada dalam tayangan televisi. Tetapi, ia selalu berusaha memantau tayangan apa saja yang ditonton oleh putrinya.

Hal serupa juga diakui oleh seorang pedagang di sebuah pusat perbelanjaan, Rahayu yang jarang menemani putra-putrinya menonton televisi.

Ibu dua anak ini mengatakan, kesibukannya berdagang membuatnya waktunya terbatas untuk menemani anak-anaknya menonton televisi.

“Biasanya anak-anak nonton film kartun, film laga dan berita. Karena saya baru pulang pukul 19.30 WIB, saya baru bisa menemani anak-anak pada malam hari sekaligus berkumpul bersama keluarga,” ujar perempuan asal Indramayu ini.

Sementara itu, berbeda dengan seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta, Noor Qodri, mengatakan, meskipun ia hanya sempat menemani anak-anaknya menonton televisi pagi dan malam hari serta pada akhir pekan, ia berusaha memberikan wawasan mengenai tayangan mana yang baik untuk anaknya.

“Mereka lebih menyukai acara anak-anak seperti kartun dan acara yang menyajikan ilmu pengetahuan. Tetapi mereka juga suka menonton sinetron remaja yang sebenarnya bukan untuk anak-anak,” kata Noor.

Noor mengemukakan, setiap tayangan televisi memiliki dampak positif maupun negatif. Tetapi itu semua bergantung pada isi pesan yang akan disampaikan dan bagaimana acara tersebut dikemas. Stasiun televisi seharusnya membuat dan mengemas tayangannya dengan serius.

Berkembang cepat
Senada dengan pendapat Noor, salah seorang pengunjung pusat perbelanjaan, Lilis, mengatakan, banyak tayangan televisi yang kurang mendidik dan adegan yang seharusnya disensor, seperti pada program sinetron.

“Pola pikir anak-anak menjadi berkembang lebih cepat dan mereka jadi cepat dewasa karena sering menonton sinetron,” kata Lilis.

Lilis berpendapat, pengaruh media massa sangat besar sehingga orang tua juga harus tetap mengawasi dan memperhatikan perkembangan anak-anak mereka, terutama ketika menonton televisi.

Komisioner Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Nina Mutmainnah Armando sebelumnya, mengatakan anak perlu pendampingan orang tua ketika menonton televisi untuk mencegah pengaruh negatif tayangan televisi terhadap anak-anak.

“Anak-anak sangat mudah meniru apa yang mereka tonton di televisi. Orang tua harus bersikap kritis terhadap tayangan televisi agar bisa menentukan tayangan yang tepat untuk anak mereka,” kata Nina.
sehatnews.com


Artikel lainnya:

Prev home