Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Kepribadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepribadian. Tampilkan semua postingan

Orangtua Sering Tidak Jujur, Anak Tumbuh Jadi Pembohong!

Anda pasti pernah dengar ungkapan "Ucapan anak-anak adalah ucapan paling jujur." Hmm... kenyataannya tidak selamanya benar, terutama anak-anak zaman sekarang. Sebab, Anda sadari atau tidak, sesekali anak-anak juga pernah berbohong, apalagi jika sedang diliputi rasa takut atau ancaman.

Selain memenuhi segala kebutuhan anak, orangtua juga wajib aktif membentuk mental anak agar selalu berkata dan berlaku jujur, baik di rumah dan lingkungan sosial.

Pendidikan tentang kejujuran disarankan mulai diajarkan pada anak sejak usia pra-sekolah (3-5 tahun). Sebab, usia tersebut adalah usia krusial, mereka sudah mulai memahami mana yang nyata dan fantasi, yang salah dan benar.

Menurut seorang dokter anak dan penulis buku berjudul Mommy calls: Dr Tanya Answers Parents Top 101 Questions About Babies and Toddlers, Tanya Reymer Altmann, mengatakan bahwa umumnya kebiasaan berbohong pada anak, terinspirasi dari orangtua mereka.

Ingat, anak-anak melihat orangtua sebagai panutan. Namun, banyak orangtua yang tidak sadar bahwa kebiasaan mereka yang sering berbohong pada orang lain, diperhatikan oleh anak, untuk kemudian diartikan sebagai sikap yang normal dan tidak salah.

Ironisnya, banyak orangtua saat mengetahui anak mereka berbohong, langsung naik pitam dan memarahi anak. Padahal, kebiasaan negatif anak tersebut sebenarnya hasil meniru orangtua sendiri. "Orangtua lebih sering berkata kalau mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan saat mengetahui anak mereka berbohong," ujar Tanya.

Salah satu contoh soal, saat anak menumpahkan susu di lantai dapur, lalu orangtua bertanya apakah itu ulah mereka dengan nada tinggi. Tentu saja anak memilih berbohong, dibandingkan kena cubitan atau hardikan orangtua. Sekali anak lolos berbohong, dipastikan akan ada kali kedua, ketiga, dan seterusnya.

Para orangtua disarankan agar jangan mudah terpancing emosinya. Ketika menghadapi perilaku anak yang tidak sesuai nilai dan aturan yang seharusnya, sebaiknya tegur dengan nada bijak dan berikan solusi untuk mereka. Pola asuh yang demikian, membuat anak lebih cepat memahami apa yang benar dan salah.

Psikolog Pediatric, Mark Bowers, memiliki trik lain untuk mengajari anak yang gemar membangkang, yakni jangan pernah merasa letih mengingatkan anak mengenai tanggung jawab dan aturan yang berlaku di rumah dan kehidupan.

Mark memberikan gambaran soal bentuk kenalakan anak yang kerap dihadapi orangtua dalam keseharian, misalnyaa anak tak mengaku mencorat-coret dinding (padahal dia melakukannya), maka tegaskan kembali aturan di rumah. "Katakan pada anak kalau seharusnya menggambar itu dilakukan di kertas dan bukan di tembok. Berikan hukuman yang mendidik, bisa dengan meminta mereka untuk membersihkan hasil corat-coret di tembok, terang Mark.

Untuk mengatasi dan mencegah anak menjadi seorang pembohong, paling efektif dilakukan dengan pendekatan halus dan menghibur pada anak. Jangan menakuti anak atau mengancam mereka bila ketahuan berbohong. Pola asuh yang demikian justru akan membuat anak lebih sering tidak jujur dan memilih menutupi kenyataan dari orangtua.
KOMPAS.com

Baca lainnya:

Mendidik dan Berkomunikasi dengan Anak-anak

Orangtua zaman sekarang semakin disibukkan dengan pekerjaan, komunikasi dengan anak-anak merupakan suatu pola pendidikan yang efektif dan praktis. Komunikasi yang baik dapat membantu mengembangkan rasa percaya diri anak-anak, rasa harga diri dan hubungan yang baik dengan orang lain, yang dapat membuat hidup anak-anak-anak menjadi lebih menyenangkan, dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain dalam proses pertumbuhannya kelak di kemudian hari.

Komunikasi antara orang tua dengan anak dapat membantu mengembangkan kemampuan bahasa anak-anak

Perkembangan keterampilan berbahasa merupakan tonggak penting dalam pertumbuhan anak-anak. Keterampilan sosial maupun perkembangan inteligensi anak erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan bahasa. Mandeknya perkembangan bahasa dapat menyebabkan anak-anak menutup diri, kesulitan belajar dan masalah lainnya. Banyak orangtua percaya bahwa anak-anak belajar bahasa adalah proses otomatis, sebenarnya itu tidak benar, sejak bayi itu lahir ke dunia sudah mulai belajar bahasa.

Mendengar orangtua bicara dan berbicara dengan mereka merupakan pola utama anak-anak belajar bahasa. Ketika sebuah huruf, kata, kalimat diucapkan secara berulang kali, maka bahasa reseptif berpola pasif ini perlahan-lahan akan menjadi bahasa aktif anak-anak (kosakata Aktif), yaitu bahasa yang dapat digunakan anak-anak. Studi terkait menyebutkan, bahwa sebelum seorang anak bisa mengucapkan sepatah kata minimal harus mendengar 500 kali kata ini. Ini berarti orangtua harus menciptakan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk mendengar percakapan.

Selain itu, dalam percakapan dengan anak-anak, orangtua juga dapat membantu anak-anak menemukan kosakata dan kalimat yang menyatakan pandangan individu, memperbaiki kesalahan dan memperluas kapasitas kosa kata mereka, menjelaskan kepada mereka terkait kata-kata dan ungkapan yang belum dipahami, hal ini akan sangat meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Komunikasi antara orangtua dengan anak dapat membantu untuk memahami anak, membangun hubungan yang baik antara orang tua - anak

Saat anak-anak masih kecil, dimana jika orangtua dan anak-anak membangun sebuah hubungan yang akrab, dapat membantu anak-anak mencari bantuan Anda ketika menghadapi masalah dan kekecewaan. Sebagai orangtua juga akan menjadi lebih peka terhadap perubahan suasana hati. Hubungan yang terjalin akrab/harmonis antara orangtua dengan anak dapat meminimalkan masalah kesehatan mental dalam proses pertumbuhan anak-anak.

Orangtua sebaiknya sungguh-sungguh mendengarkan perkataan anak-anak, karena itu adalah proses mengekspresikan pikiran, pendapat dan perasaan mereka. Meskipun terkadang tidak begitu jelas dengan apa yang mereka ungkapkan, tapi mengandung banyak informasi. Dan dalam proses ini, memungkinkan orangtua untuk lebih memahami kepribadian, karakter dan proses pertumbuhan anak-anak.

Dialog yang sederajad, harmonis dan penuh dorongan dapat membuat anak-anak lebih percaya diri dengan kemampuan bahasa dan presentasi mereka, membangun rasa percaya diri, dapat membantu Anda memperbaiki perilaku buruk mereka, menghantarkan rasa sayang dan perhatian. Akan lebih dapat menyampaikan informasi yang kuat saat terjadi dialog yang bertentangan, yakni bahwasannya masalah atau pertentangan itu dapat dibicarakan secara terbuka dan dapat diselesaikan dengan baik.

Komunikasi antara orangtua dengan anak bermanfaat dalam membimbing dan membantu anak-anak

Bagi anak-anak yang lemah di dunia ini, banyak hal yang kompleks dan penuh tantangan. Banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh mereka atau bahkan membuat mereka sedikit cemas dan takut. Orangtua dapat belajar memahami sejumlah tanda tanya dan hal yang tidak dipahami anak-anak dalam percakapan mereka, kemudian menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang bisa dipahami mereka.

Terbayang dalam benak saya, mobil suami saya ditabrak orang, sebelah pintu mobil penyok. Setiap melihat mobil itu, sang anak selalu bertanya kepada papanya : "Mobilnya kenapa pa ?" Dan setiap kali itu juga saya menjelaskan saja seadanya, kemudian saya memberitahu anak saya, mobil itu bilang : "terlalu sakit rasanya, lain kali hati-hati ya bawa mobilnya, kalau tidak saya akan celaka." Anak-anak pun mengingatnya dan kerap mengingatkan saya agar hati-hati saat membawa mobil, jangan terlalu cepat, "mobil kan bisa sakit juga" demikian katanya. Kecelakaan yang mengerikan tidak tertanam dalam benak anak-anak, justru sebaliknya mengingatkannya untuk berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu, jika tidak akan ada kerugian yang tidak diharapkan.

Terkadang orangtua tiba-tiba merasa suasana hati anak-anak menjadi buruk, mudah marah, gelisah, menggerutu. Kesampingkan beberapa faktor eksternal, seperti lelah, haus atau lapar dan faktor eksternal lainnya, mungkin pernah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkannya di sekolah atau tempat lain. Jika Anda bisa perlahan-lahan menanyakan kepadanya, mungkin akan ditemukan beberapa penyebabnya.

Menciptakan setiap kesempatan

Anak-anak sibuk, orangtua juga sibuk. Mungkin sulit menemukan kesempatan yang baik untuk duduk bersama dan berbicara sejenak dengan anak-anak. Jadi manfaatkan setiap kesempatan yang ada dalam rutinitas Anda, pembicaraan (tukar pendapat) yang sederhana setiap saat dengan anak adalah suatu cara pendekatan yang lebih praktis. Manfaat seperti akan membuat anak merasa Anda itu orang yang terbuka, selalu meyambut setiap saat dan kapan saja untuk bicara dengan mereka, dan Anda suka bicara dengan mereka.

Misalnya, saat menonton televisi bersama-sama, ambil tema dari program TV sebagai bahan pembicaraan, Anda bisa bahas sejenak alur cerita yang ditonton bersama anak Anda barusan, bimbing anak Snda untuk belajar hal-hal positif dari program TV tersebut. Selain itu, saat makan di dalam mobil, waktu bercerita sebelum tidur atau saat berjalan santai, adalah kesempatan yang baik bagi Anda untuk berbincang-bincang atau sekadar ngobrol dengan anak-anak.

Perhatikan cara bertutur kata

Jika para orangtua dapat menerima segalanya anak-anak, baik itu berupa kekurangan atau kelebihan mereka, dapat membuat komunikasi antar orangtua dengan anak menjadi lebih mudah menyatu. Seorang anak yang diterima orangtuanya akan lebih mudah membuka dirinya. Sebaliknya, cara bicara yang bersifat perintah, sindiran, ejekan, celaan, dan teori panjang lebar justru akan membuat anak semakin menjauhkan diri dari Anda.

Misalnya, Dan berkata kepada ibunya "Ma, aku takut tidur sendirian."

Ibu A mengatakan : "Dasar kamu ini, sudah besar masih saja seperti bayi, tidak ada yang perlu ditakutkan."

Ibu B mengatakan : "Ibu tahu kamu takut, ibu akan menyalakan lampunya, dan membiarkan pintunya terbuka."

Jika Anda seorang anak, manakah yang Anda pilih?

Asal tahu saja, orangtua hendak berkomunikasi dengan anak, bukan pembicaraan orangtua terhadap anak. Komunikasi dengan anak seharusnya adalah percakapan dua arah, yang berarti mendengarkan apa yang mereka katakan. Sementara bicara dengan anak adalah suatu percakapan tunggal, hanya menanamkan pandangan individu kepada mereka. Komunikasi dua arah ini sangat penting terhadap anak yang lebih besar. Satu lagi point penting lainnya, bahasa yang penuh dengan cinta, dorongan semangat dan rasa hormat dapat membantu anak-anak berbuat lebih baik

10 tips untuk komunikasi antar orang tua dengan anak

  1. Dimulai sejak awal.
  2. Berbicara dengan anak terlebih dahulu.
  3. Menciptakan sebuah lingkungan yang terbuka.
  4. Ungkapkan nilai-nilai pandangan Anda sendiri kepada anak-anak.
  5. Dengarkan apa yang mereka bicarakan.
  6. Harus tulus dan jujur.
  7. Sabar.
  8. Manfaatkan setiap kesempatan untuk berkomunikasi.
  9. Sekali, sekali lagi dan lagi.
  10. Ungkapkan dengan bahasa cinta dan rasa hormat.
(Epochtimes/Jhoni/Yant)

10 Tips Cara Melatih Anak Cerdas Emosi

1. Ajar anak mengubah tuntutan menjadi pilihan. Katakan padanya tidak ada alasan keinginannya harus selalu dipenuhi dan marah-marah. Beri anak pujian bila ia dapat mengendalikan kemarahannya.
2. Latih anak untuk menyatakan kebutuhan secara asertif (tegas), tetapi tidak ada jaminan ia akan mendapatkannya.
3. Biarkan anak mengungkapkan dan bertanggung jawab atas setiap perasaan yang dialaminya. Dengan begini ia juga bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Hindari menyalahkan anak saat Anda sendiri marah.
4. Dorong anak untuk mengembangkan hobi dan minatnya yang dapat memberinya waktu luang dan kemandirian.
5. Biarkan anak menyelesaikan sendiri pertikaian antara dia dengan saudara atau temannya.
6. Bantu anak bertoleransi terhadap gangguan orang lain. Ajarkan pula bagaimana menghindari gangguan, misalnya diolok-olok. Ajarkan anak membalas olok-olok dengan kata-kata yang baik,"Olok-olok enggak bikin sakit tuh."
7. Bantu anak untuk memperhatikan kekuatannya dengan menekankan hal-hal yang dapat ia lakukan.
8. Dorong anak berperilaku seperti yang ia ingin orang lain lakukan terhadap dirinya.
9. Bantu anak berpikir alternatif serta melihat berbagai kemungkinan ketimbang bergantung pada satu pilihan. Misalnya, anak hanya punya seorang teman. Saat temannya itu tidak ada, ajarkan anak mencari teman lain, jangan hanya merasa ia tak punya teman.

Tertawa Bersama
Doronglah anak dapat mentertawakan dirinya sendiri. Orang yang terlalu serius terhadap dirinya sendiri sulit menikmati hidup. Sense of humor yang baik dan kemampuan melihat sisi terang kehidupan, penting untuk meningkatkan kegembiraan.

Menurut Jhon Gottman, ph ada 5 langkah penting bagi orang tua dalam melatih emosi anak.

1. Menyadari emosi anak : Ketika anak menangis, marah, senang, orang tua perlu menyadari bahwa anak juga memiliki perasaan untuk di sayang, diakui, tidak baik bagi orang tua misalkan memarahi anak pada saat anak menangis, hendaknya orang tua mengetahui apa yang sedang di alami oleh si kecil.
2. Mengakui emosi anak : Terkadang orang tua egois, tidak mau tahu mengenai keinginan anak, orang tua lebih peduli pada apa yang ada di pikirannya, sehingga tidak mengakui kalau anak sedang marah, senang.
3. Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak : Hal yang paling berbahaya bagi orang tua adalah pada saat orang tua tidak mau mendengar atau tidak mau tahu mengenai masalah yang dihadapi oleh anak, orang tua cenderung memarahi tanpa memiliki empati terhadap anak, apalagi memberikan dukungan / support dengan kata-kata yang dapat meneguhkan emosi anak.
4. Membantu anak melabeli emosi : Penting bagi orang tua adalah membantu untuk melabeli emosi, hal ini agar emosi anak dapat di curahkan/ ditempatkan pada tempat yang tepat, anak diajarkan untuk mengatur control emosinya.
5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah : Yang tidak kalah penting sebagai orang tua adalah, membantu anak dalam memecahkan masalahnya, namun bukan berarti semua masalah si anak di selesaikan tanpa melibatkan anak tersebut, karena jika tanpa melibatkan anak, maka hal itu akan memberikan pengaruh pada saat anak dewasa nanti tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya.

Artikel lainnya:

Keluarga Pengaruhi Perilaku Hidup Sehat Seseorang

Psikolog Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Dr Kristina Haryanti menilai lingkungan keluarga memberi pengaruh paling besar terhadap perilaku kesehatan individu.

“Keluarga memberi pengaruh paling besar, kalau keluarga sudah menerapkan pola dan perilaku hidup sehat maka setiap anggota keluarga akan terbiasa melakukannya,” katanya di Semarang, Kamis.

Menurut dia, keluarga merupakan basis penanaman nilai-nilai kepada setiap individu, termasuk nilai kesehatan sehingga keluarga akan menentukan apakah seseorang berperilaku hidup sehat atau tidak.

Ia menjelaskan lingkungan masyarakat juga tidak kalah penting dalam memengaruhi manusia berperilaku hidup sehat, seperti lingkungan rumah sakit (RS) yang selalu terjaga kebersihan dan kerapiannya.

“Kalau berada dalam lingkungan RS yang bersih, tidak ada sampah berserakan, orang akan sungkan untuk membuang sampah sembarangan. Kenapa? Karena merasa tidak tega mengingat tempatnya bersih,” katanya.

Bahkan, ia mengaku saat akan menengok kawannya di sebuah RS swasta di Semarang, pernah melihat seorang keluarga pasien di sebuah RS swasta di Semarang sampai rela mengantongi sampah di saku celana.

“Saya pernah melihat sendiri. Ada seorang keluarga pasien yang kesulitan mencari tempat sampah, sementara RS itu sangat bersih. Sampah bekas makanan itu kemudian dikantonginya ke saku celana,” katanya.

Sebaliknya, kata dia, kalau orang berada di jalanan dengan kondisi yang tidak terawat dan sampah berserakan tentu akan mudah membuang sampah sembarangan karena merasa sudah banyak sampah di tempat itu.

“Contoh lain, orang Indonesia yang tinggal di Belanda pasti menyeberang jalan di ’zebra cross’ karena lingkungannya tertib. Namun, kalau balik ke Indonesia biasanya menyeberang sembarangan lagi,” katanya.

Dekan Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang itu mengatakan bahwa kondisi psikologi semacam itu sangat berkaitan dengan otak manusia yang memengaruhi segala pikiran dan tindakannya.

Berkaitan dengan itu, pihaknya akan mengundang Prof AML Coenen, pakar psikologi Radboud University-Nijmegen Belanda untuk mengisi seminar “Otak, Proses Kognisi dan Perilaku Sehat” pada 18 September mendatang.

“Prof Coenen akan menjelaskan perilaku-perilaku berisiko, seperti merokok, minum minuman beralkohol, dan penyalahgunaan obat terlarang berkaitan dengan otak dan komponen kesehatan lain yang terpengaruh,” kata Kristina.
sehatnews.com


Artikel lainnya:


Putus Mata Rantai Terorisme Sejak dari Anak-anak

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berpendapat, salah satu langkah yang harus dilakukan dalam memutus mata rantai terorisme di Indonesia adalah dengan mencegah sedini mungkin terjadinya paparan ideologi terorisme, sejak dari anak-anak.

“Ketika ada potensi terjadinya indoktrinasi ideologi radikal pada anak, negara harus hadir untuk mencegahnya. Hal ini bagian dari upaya perlindungan anak yang diamanatkan undang-undang,” kata Wakil Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh di Jakarta, Kamis.

Sebagaimana dijelaskan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai beberapa waktu lalu, Farhan, terduga pelaku terorisme di Solo, adalah “darah biru” teroris, yang merupakan anak kandung Sunarto. Pada saat kejadian upaya tindak pidana terorisme oleh Sunarto, Farhan masih berusia 12 tahun, dan kemudian ia memperoleh pendadaran serta pembinaan dari ayah tirinya, Abu Umar.

“Ini artinya BNPT sudah mengetahui potensi terjadinya transfer ideologi terorisme kepada anak, dan BNPT tidak melakukan langkah-langkah konkret untuk mencegahnya hingga kemudian ia menjadi pelaku. Dalam konteks ini berarti ada pembiaran negara terhadap anak yang terindoktrinasi ideologi kekerasan,” katanya.

Menurut Niam, kasus terorisme yang melibatkan pelaku usia remaja tidak mungkin terjadi tanpa adanya indoktrinasi di saat usia anak-anak, baik di lingkungan keluarga maupun di dalam pergaulannya.

Banyaknya kasus pidana yang dikaitkan dengan terorisme oleh pelaku usia muda, kata Niam, menunjukkan kegagalan negara dalam memutus mata rantai terorisme di Indonesia. Untuk itu, perlu ada pendekatan persuasif, dengan program deradikalisasi berbasis pada keluarga.

“Deradikalisasi yang menjadi program kontraterorisme tidak bisa hanya dilakukan pada orang dewasa. Perlu ada terobosan program yang berbasis keluarga, di mana orang tua disadarkan akan tanggung jawab pada anak”, ujarnya.

Program deradikalisasi hendaknya benar-benar diarahkan untuk memutus mata rantai regenerasi jaringan teroris. Salah satu caranya, dengan mencegah anak-anak dari kemungkinan terpapar penyebaran ideologi radikal oleh jaringan teroris. “Banyak tunas baru teroris itu tumbuh saat usia anak atau remaja belasan tahun. Kita harus memutus mata rantai benih tumbuhnya ideologi kekerasan semacam itu sejak dini,” tambahnya. Niam mengungkapkan, persemaian ideologi kekerasan atau terorisme umumnya tumbuh pada masa anak-anak dan remaja. Untuk itu, diperlukan program untuk menyelamatkan kalangan anak dan remaja dari paparan ideologi kekerasan.

“Tindakan itu dimungkinkan oleh negara dan keluarga sesuai Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” katanya.

Jika ada anak-anak atau remaja yang diketahui potensial menjadi bibit radikalis atau teoris, negara dapat mengambil mereka, menjauhkannya dari jaringan teroris, dan mendidiknya dengan pemahaman keagamaan yang moderat.

“Keluarga, terutama orangtua, harus lebih giat memantau perkembangan perilaku dan pendidikan anak. Jika menemukan tanda-tanda perilaku radikal, orang tua mesti menarik anaknya dari jaringan ideologi kekerasan dan menanamkan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan,” katanya.

Lebih lanjut Niam menjelaskan, jika ternyata paparan ideologi menyimpang itu justru dari orang tua, maka negara harus hadir untuk melindungi anak, meski harus memisahkannya dari orang tua.

sehatnews.com

Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak

Apa yang terjadi pada kita saat ini, lebih banyak ditentukan oleh perlakuan orang tua kita di masa lalu, dan perlakuan kita saat ini kepada anak-anak kita, akan mempengaruhi masa depan kehidupan mereka.

Perlakuan orang tua: Sering mendapat kritikan secara terus menerus, tidak dihargai, tidak dicintai dan tertolak dari orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga dan selalu merasa tertolak di tengah orang lain.

Perlakuan orang tua: Suka dicemoohnya, dianggap bodoh, dianggap tidak mampu, tidak terampil, malas oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung memiliki rasa percaya diri yang rendah, merasa tidak mampu, selalu salah, korban keadaan,tidak punya bakat, tidak mampu belajar. Baginya semua yang dilakukan merupakan kumpulan kegagalan, bahkan terkadang ia justru melakukan upaya untuk suatu kegagalan.

Perlakuan orang tua: Suka ditekan dan dicemooh saat ia mendahulukan kepentingan pribadinya oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung berkeyakinan bahwa memikirkan diri sendiri adalah jahat dan buruk, ia patuh dan berusaha menyenangkan orang lain, ia merasa bahwa orang lain lebih penting, lebih benar, lebih tahu. Ia cenderung mencari pasangan yang suka mengontrol atau otoriter.

Perlakuan orang tua: Suka ditekan untuk menjadi yang terbaik dan selalu menjadi nomor satu dengan mengorbankan kebahagiaan dan kesenangan oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menekan dirinya secara berlebihan demi karier, uang, nama baik, kecantikan dan keteraturan dengan mengorbankan kesehatan, kebahagiaan, kesenangan dan hubungan baik dengan orang disekitarnya.

Perlakuan orang tua: Terlalu diperlakukan manja oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menginginkan sesuatu dengan cepat tanpa peduli situasi dan kondisi di sekitarnya. Ia merasa berhak atas segala yang dia mau, merasa special, minta orang lain patuh dan tunduk kepadanya.

Perlakuan orang tua: Merasa kehilangan, atau merasa ditinggalkan, atau merasa dibuang oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung berusaha baik pada orang yang dikasihi walaupun dia telah meninggalkan dan menyakitinya berulang kali.

Perlakuan orang tua: Terlalu sering dibohongin atau dilecehkan oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung berasumsi bahwa orang lain tidak bisa dipercaya, selalu ingin menyakiti, menipu dan mengambil keuntungan darinya.

Perlakuan orang tua: Sikap over protektif dan otoriter oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung ragu-ragu, bingung dan panik saat membuat keputusan, dia selalu minta pertimbangan atau bahkan hanya mengikuti yang orang lain putuskan.

Perlakuan orang tua: Sikap over protektif oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung ragu-ragu dan takut untuk keluar dari zona nyamannya, dia merasa segala situasi dan kondisi bisa menjadi masalah dan ancaman yang besar baginya.

Perlakuan orang tua: Suasana dingin dan miskin cinta dari orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menganggap dirinya tidak penting, tidak layak dicintai dan tidak berharga, sehingga ia juga tidak peduli dengan orang lain, dingin, cuek dan berpetualang mencari cinta dan kehangatan.

Perlakuan orang tua: Penilaian buruk atau perlakuan buruk yang menyakitkan dari orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung mengasingkan diri, tertutup dan tidak mau membangun hubungan dengan orang lain. Dia merasa tidak bisa diterima di lingkungan karena perasaan buruk, aneh, tidak selevel atau berbeda.

Terkadang perlakuan buruk yang telah kita terima dari orang tua dimasa lalu, tanpa sadar akan terulang saat kita memperlakukan anak kita. WASPADALAH..!!! Belajar dan berusahalah menjadi orang tua yang baik dan bijaksana buat anak-anak kita.

Lukas Y. Wirawan




Artikel yang Berhubungan:
Kebersamaan Antara Anak dan Orang Tua
Tolong Jangan Katakan Hal Ini Pada Anak Anda
Kiat Menanamkan Disiplin Pada Anak
Mendidik Anak Tanpa Kekerasan
Beberapa Kesalahan yang Kerap Kali Menghancurkan Kepribadian Anak
Awas! Memukul Anak Bisa Bikin Perilakunya Makin Buruk
Menjadikan Anak Taat Kepada Orang Tua Tanpa Menghukum
Memahami Dunia Emosi Anak

Analisis Sidik Jari Bukan Ramalan

Analisis sidik jari bukanlah sebuah ramalan karena didasari oleh penelitian dan metode alamiah. Analisa ini juga bukan alat vonis, alat ukur kecerdasan, maupun alat pembanding.

Para ahli di bidang ilmu dermatoglyphics (ilmu yang mempelajari pola sidik jari) dan kalangan neuro-anatomi (kedokteran anatomi tubuh) telah menemukan fakta bahwa pola sidik jari bersifat genetis dan telah muncul ketika janin dalam kandungan.

Pola guratan-guratan kulit pada sidik jari, yang dikenal sebagai garis epidermal, ternyata memiliki korelasi dengan sistem hormon pertumbuhan pada sel otak yang sama dengan faktor garis epidermal.

Pada dasarnya metode analisis sidik jari hanya menginterpretasikan potensi dalam diri seorang anak, sedangkan pencapaian hasil kemampuan kecerdasan anak lebih dipengaruhi oleh usaha yang dilakukan oleh anak dengan dukungan dari orangtua, guru, dan lingkungannya.

Dengan memahami potensi bakat anak, orang tua dapat mengetahui cara terbaik yang dapat dilakukan anak dalam belajar. Selain itu, bakat anak yang menonjol juga dapat dikembangkan dengan tenaga dan biaya, serta dalam waktu yang lebih efisien.

Artikel lainnya:

Bahagia, Berkat Cerdas Intrapersonal dan Interpersonal

”Bunda, aku sayang sama Bunda…” kita pasti bahagia kalau si prasekolah menyatakan perasaannya seperti itu. Namun di lain waktu, mungkin dahi kita dibuat mengerut ketika dia bilang, “Papa, aku ingin punya pacar.” Ya ampun. Tapi lihatlah sisi baiknya: si kecil sangat pandai mengungkapkan perasaan dan keinginannya. Hal ini menunjukkan kemampuannya memahami diri sendiri yang merupakan bentuk dari kecerdasan intrapersonal.

Seorang anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal akan mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya, suasana hatinya, temperamennya, keinginannya, dan motivasinya. Singkatnya, yang dimaksud kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut.

Namun tentu saja, tak baik hanya memikirkan diri sendiri, bukan? Jadi anak pun dituntut memahami orang lain. Kelak ia harus dapat membaca suasana hati, maksud, motivasi, perasaan, dan cara berpikir orang-orang di sekitarnya. Inilah yang dimaksud kecerdasan interpersonal. Kecerdasan ini ditunjukkan oleh kemampuan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain disertai keterampilan berkomunikasi yang juga baik karena anak harus dapat mengungkapkan pendapat, pikiran, dan perasaannya manakala dibutuhkan.


ANAK BERBUDI

Bila kemampuan personal tidak dipelajari, anak tak akan tahu dengan sendirinya mengenai etika, moral atau kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Akibatnya, dalam berinteraksi dengan lingkungan ia akan sering “membentur” sehingga orang mengeluhkan dirinya sebagai anak yang tak tahu aturan, tidak sopan, kurang ajar, dan label negatif lainnya. Bukankah itu sesuatu yang lebih menyakitkan baginya? Lagi pula, semakin sering diberi label, semakin tingkah lakunya itu akan menguat dan diulangnya kembali. Padahal, mungkin saja bukan maksud anak untuk membuat kesal orang lain. Contoh, ia punya suatu keinginan tetapi karena tak bisa menyampaikannya dengan baik, ia hanya bersungut-sungut. Orangtuanya tentu tidak mengerti keinginannya. Malah, mereka kesal dan marah melihat si anak bersungut-sungut. Bila anak membalas dan lantas menarik diri, akhirnya persoalan menjadi semakin kompleks. Nah, itu suatu gambaran dari kejadian kecil di dalam rumah. Bisa dibayangkan bagaimana bila anak berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah nantinya.

Itulah pentingnya kemampuan personal diajarkan dan dikembangkan sejak dini. Diharapkan anak bisa berhubungan atau berinteraksi secara efektif dan harmonis dengan lingkungannya. Sehingga anak bisa diterima lingkungan dengan baik dan membuatnya merasa aman serta menjadi anak yang happy. Selain itu, kemampuan personal akan menumbuhsuburkan nilai-nilai kebaikan universal pada diri anak. Diharapkan ia berkembang menjadi pribadi yang berwatak dan berbudi pekerti luhur; santun, saling hormat-menghormati, dan menghargai sesama. Kemampuan personal yang berkembang baik dapat mengembangkan pula kecerdasan spiritual anak. Ia akan mengerti bahwa dirinya sebagai manusia, hakikatnya adalah pencitraan dari kekuasaan Tuhan sebagai pencipta alam ini.


10 PRAKTIK KESEHARIAN

Dalam mengembangkan kecerdasan personal ada 10 komponen yang harus diberikan kepada anak dan dipraktikkan dalam keseharian.
  1. Komunikasi (Communicating)
    Anak belajar menyampaikan kebutuhan, keinginan, hambatan, harapan, pendapat, dan lainnya baik secara verbal maupun nonverbal. Untuk komunikasi verbal, caranya dengan sering memancing anak mengungkapkan pendapat mengenai berbagai hal. Sementara kemampuan komunikasi nonverbal bisa digali lewat bahasa tubuh dan ekspresi wajah atau lewat gambar. Contoh, orang tua menggambarkan beragam raut wajah yang menunjukkan emosi marah, senang dan sebagainya. Jelaskan hubungan wajah tersebut dengan emosi yang sedang dialami.

    Selain itu, anak juga diajarkan bagaimana bersikap yang baik bila ada tamu dan bagaimana memahami tatapan mata orang tua yang tidak membolehkan anak mengganggu pembicaraan, isyarat tangan orang tua yang menyuruhnya diam, dan sebagainya.

    Kesimpulannya, anak harus belajar mengembangkan kecerdasan personal yang tak lain adalah gabungan dari kecerdasan intrapersonal (self smart/cerdas diri) dan kecerdasan interpersonal (people smart/cerdas sosial). Untuk itu, kepedulian orang tua dan lingkungan sekitar terhadap kecerdasan personal mutlak diperlukan.

    Ketahuilah, konsep diri seorang anak berasal dari pengetahuan yang baik tentang dirinya secara positif. Baik itu mengenai moods, temperamen, motivasi, dan intensinya dalam suatu lingkungan. Tidak cukup sampai di situ, anak juga harus dapat mengutarakan pendapatnya, keinginannya, kebutuhannya, kekecewaannya, kejengkelannya, atau apa pun yang berkecamuk dalam dirinya. Supaya apa? Supaya ia bisa dipahami dan diterima secara baik oleh lingkungan. Penerimaan ini akan membuat dirinya menjadi lebih nyaman.

    Kemampuan personal harus diajarkan dan dikembangkan sejak usia dini, terlebih di usia prasekolah karena di masa ini pula kecerdasan emosinya tengah berkembang. Keduanya akan seiring sejalan karena kemampuan personal merupakan suatu keterampilan sosial yang berkaitan dengan ranah afektif dan emosi seperti masalah etika, motivasi, moral dan hati nurani. Semua “ilmu” mengenai hal tersebut akan digunakan anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
  2. Hubungan dengan orang lain (Relating)
    Anak dikenalkan pada etika, nilai, dan kebiasaan yang berlaku pada masyarakatnya. Bahwa di dalamnya ada beragam suku dan beragam bangsa dengan adat kebiasaan dan tata krama berbeda.
  3. Kasih sayang (Loving)
    Anak diajarkan untuk memiliki rasa kasih sayang pada sesama seperti pada orang tua, teman, guru, dan orang lain. Juga terhadap makhluk hidup lainnya seperti tanaman dan binatang peliharaan. Contoh, hewan peliharaan harus diberi makan dan minum serta dibersihkan kandangnya. Kalau sakit tidak dibiarkan saja, tapi diobati atau diperiksakan ke dokter.
  4. Berbagi (Sharing)
    Anak perlu dibiasakan untuk mau berbagi. Ia harus tahu bahwa dalam hidup ia tidak sendirian, masih ada orang lain yang kondisinya bisa saja berbeda dan perlu dibantu. Ajari anak untuk tidak bersikap pelit lewat kerelaan berbagi bekal atau saling bertukar makanan di TK, dan cara lainnya.
  5. Kepemilikan (Belonging)
    Anak dikenalkan pada yang mana miliknya dan mana milik orang lain. Mintalah ia menjaga miliknya dan menghargai milik orang lain. Umpama, “Kamu diberi panca indra oleh Tuhan seperti mata dan telinga. Nah, kedua indra itu harus kamu jaga dengan baik. Maka itu gunakan mata untuk melihat yang baik-baik, gunakan telinga untuk mendengar hal yang baik-baik juga.” Atau misalnya, “Ini buku punya Amri. Kalau kamu pinjam harus dikembalikan dan dijaga baik-baik. Kalau tidak, nanti rusak. Amri akan sedih, lho. Kamu juga tidak mau kan, kalau barang milikmu tidak dikembalikan dan rusak?”
  6. Kepedulian atau perhatian (Caring)
    Di dalam komponen ini terkandung pula masalah empati, rasa sayang, dan lainnya. Anak diajarkan untuk peduli pada sesamanya. Contoh, bila ada temannya yang berulang tahun, ajari anak untuk mengucapkan selamat. Jika ada orang yang kurang mampu, ajari anak untuk membagi sebagian miliknya. Jika si prasekolah memiliki adik, mintalah ia untuk mengajaknya bermain, menjaga, dan menghiburnya bila menangis.
  7. Perasaan (Feeling)
    Anak diajarkan untuk mengenal beragam perasaan seperti sedih, senang, kesal, kecewa, takut dan lainnya. Tujuannya untuk belajar menghayati perasaan yang sama dengan yang dirasakan orang lain.
  8. Pemilihan (Choosing)
    Anak diajarkan untuk dapat memilih sesuatu yang benar-benar disukai secara asertif atau bukan karena tekanan atau ikut-ikutan orang lain. Orang tua pun harus dapat menghargai apa yang jadi pilihan si anak.
  9. Kehidupan (Living)
    Anak diajarkan bahwa kehidupan tak lepas dari tanggung jawab dan komitmen. Ceritakan contoh-contohnya dari masalah sehari-hari; bagaimana orang tua bekerja keras demi memenuhi tanggung jawabnya bagi keluarga. Sambil lalu Anda bisa menyelipkan pesan pada anak, jika dibelikan sesuatu hendaknya harus dijaga jangan sampai rusak. Sekali-kali bila memungkinkan ajak anak ke tempat orang tuanya bekerja. Dengan begitu anak dapat lebih memahami, bahwa uang yang dimiliki orang tua tidak semata-mata keluar dari ATM. Sebelumnya ada proses yang panjang.
  10. Mengatasi Masalah (Coping)
    Anak diajarkan bagaimana mengatasi masalah yang dihadapinya. Jika ia merasa kesal karena tidak dipinjamkan sesuatu oleh teman, orang tua bisa membantunya mengalihkan perhatian dari rasa kesal. Umpama dengan meminta anak untuk minum dulu agar merasa lebih tenang, kemudian menjelaskan bahwa mungkin saja si teman masih membutuhkan barang tersebut. Lalu, ajaklah ia melakukan aktivitas lain untuk mengurangi rasa kesalnya.

3 CARA MERAIHNYA
  1. Lakukan secara bertahap sesuai perkembangan anak dan berikan secara mendalam.
    Umpama, orang tua tak membolehkan anak main ke rumah teman pada siang hari tanpa menjelaskan alasannya. Seharusnya, anak pun diberi tahu mengenai kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat, misal siang hari biasanya untuk anak seusianya ada yang diharuskan istirahat tidur siang sehingga tak boleh diganggu. Contoh lain, anak disuruh bersalaman ketika bertemu dengan teman ibunya atau dengan nenek-kakeknya tanpa diberi tahu penjelasannya. Sebaiknya, anak juga dijelaskan bahwa bersalaman pada orang yang lebih tua merupakan tanda menghormati, misalnya.
  2. Lakukan secara konkret lewat praktik keseharian atau kegiatan yang dilakukan di kelompok bermain/taman kanak-kanak maupun di rumah, dengan cara-cara sederhana.
    Kegiatan yang dipilih harus menunjang pembentukan watak luhur. Misal, di sekolah, guru meminta anak-anak membawa pot bunga, lalu guru bercerita mengenai tanaman dan bertanya pada anak, bagaimana merawat tanaman tersebut, siapa yang selalu menyiramnya di rumah, dan lainnya. Atau mengenai binatang peliharaan, kemudian anak ditanya soal binatang peliharaannya masing-masing, bagaimana merawatnya, siapa yang memberi makannya, dan lain-lain. Dari kegiatan sederhana seperti itu, orang tua dapat mencari masukan dari guru mengenai anaknya. Mengapa si anak tidak sayang pada binatang peliharaan, apakah orang tua belum cukup memperkenalkan, dan sebagainya.
  3. Lakukan dengan memberikan reward.
    Ketika anak bisa menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, orang tua boleh memberinya reward atau hadiah. Jika anak tak menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, orang tua memberinya sanksi. Semakin usianya bertambah, anak sudah bisa berpikir apa yang akan dilakukannya sehingga tidak lagi tergantung pada reward. Anak sudah bisa berpikir, bahwa bersikap sopan adalah memang bagian dari hakikatnya sebagai manusia yang punya martabat. Cara berpikir seperti itu jika dipupuk dari sekarang nanti akan muncul seiring bertambahnya usia dan mencapai puncak di usia 13 tahun.

DR. Reni Akbar-Hawadi, Psi.


Artikel yang berhubungan:
8 Kiat Menanamkan Disiplin Pada Anak
Bagaimana Mengoptimalkan Kecerdasan Balita Pada Masa Golder Years?
9 Manfaat Bermain Bagi Anak
Mendidik Balita Agar Aktif Secara Sosial
Kebersamaan Antara Anak Dengan Orang Tua

Anakku Suka Mengumpat

Ada anak yang suka mengumpat, kata-katanya kasar kalau sedang marah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Seru sekali ya, menjadi orang tua. Kita sebagai orang tua dihadapkan pada banyak dan berbagai masalah yang muncul diseputar anak-anak kita. Susah? Bikin Stress? Ya kalau mudah, tidak ada tantangannya bukan? Terus, kenapa harus dibuat stress? Dinikmati, karena masa mereka kecil 'kan hanya sekali, bukan tidak mungkin lho suatu saat kita merindukan saat-saat seperti ini.

Mengapa hal seperti ini (umpatan, kata-kata kasar/kotor) bisa terjadi? Jawabannya sederhana. Ini disebabkan karena memang selayaknya seorang anak kecil menyerap apapun yang ada di sekitarnya, serta menirunya. Ini adalah sebuah anugrah yang diberikan oleh Tuhan, tetapi semua hal di dunia ini bersifat seimbang, selalu ada dua sisi yang terkait, positif dan negatif (seperti halnya ada hitam, ada putih, ada gelap, ada terang, dll). Kemampuan seorang anak untuk menyerap informasi dan nilai-nilai dari sekelilingnya dengan cepat, dapat berakibat positif maupun negatif, baik bagi dirinya maupun mempengaruhi lingkungannya. Nah, tugas kita sebagai orang tua, adalah mengarahkan informasi yang bisa diterima oleh anak kita, sekaligus mengarahkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan pada anak kita. Kedua hal ini (informasi dan nilai) dapat kita atur dan kendalikan, tetapi seringkali, justru banyak terjadi secara tidak kita sadari.

Misalnya? Ketika seorang anak berkata-kata kasar, mengumpat, dan menghardik, bisa dipastikan bahwa ia mempelajarinya dari lingkungan di sekitar tempat dia paling sering bermain, atau dari tayangan televisi yang paling sering ia lihat (seperti sinetron yang banyak menampilkan adegan-adegan yang kurang baik bagi anak kecil). Kemudian tahap selanjutnya, setelah anak “merekam” adegan-adegan atau kalimat-kalimat yang kasar itu di dalam pikiran bawah sadarnya, maka tahap berikutnya adalah ketika ia mengalami hal yang sama (seperti di kejadian yang direkamnya, baik ketika marah, sedih, dll), maka pikiran bawah sadarnya secara langsung akan mengeluarkan isi rekaman tersebut.

Apakah si anak mengetahui arti dan nilai (kekasaran) dari kata-kata yang diucapkannya? Bisa jadi, tetapi lebih sering tidak. Mengapa? Karena semua itu terjadi secara refleks, dengan proses: Rekam (kata-kata), Situasi sama? Keluarkan Rekaman. Itu yang sebenarnya terjadi di dalam pikiran si anak kecil. Mengapa dia secara refleks mengeluarkan kata-kata seperti itu? Karena anak kecil (apalagi usia 3,5 tahun) masih dalam tahap eksplorasi, untuk menambah perbendaharaan (database) tentang dunia ini di pikirannya (yang kemudian digunakan untuk membentuk persepsi tentang dunia). Nah, mekanisme pikiran bawah sadar anak tersebut, ketika sebuah informasi atau nilai sudah masuk, maka yang terjadi adalah ketika ada kondisi/ keadaan yang sama ketika rekaman itu masuk (misalnya adegan kemarahan, dll), maka rekaman itulah yang akan diakses (secara refleks tentu saja) oleh pikiran si anak (walaupun misalnya ia belum tahu arti dari kata-kata tersebut).

Nah, tugas kitalah sebagai orang tua untuk memberikan nilai dan pengertian dari kata-kata tersebut. Susah? Belum tentu, tidak mudah? Iya, prinsipnya tetap: kalau cara yang sudah kita lakukan belum berhasil, coba cara yang lain/berbeda. Kita tidak bisa mengharapkan cara yang sama menghasilkan hasil yang berbeda bukan?

Apa yang harus saya lakukan? (apakah saya harus marah, mendiamkan, atau pura-pura tidak tahu)
Tentu saja sebagai orang tua, kita berhak merasa bingung, marah, sedih, apapun.. lha wong kata-kata yang menurut kita kasar itu diucapkan oleh seorang anak kecil, yang (mungkin) tidak tahu arti dan efek dari kata-kata itu. Ya, itu kuncinya, anak kita MUNGKIN bahkan tidak tahu arti dan efek dari kata-kata umpatan yang diucapkannya.

Jadi, kitalah sebagai orang tua, yang punya kewajiban untuk mengarahkan nilai kata-kata yang anak kita ucapkan. Coba sebelum kita lanjutkan, kita bayangkan bahwa kita berada dalam posisi anak kita (pernah mengalami masa kecil kan?). Apa yang kita rasakan kalau kita mengucapkan/ melakukan sesuatu yang kita belum tahu itu benar atau salah (dilakukan karena proses mencari tahu), kemudian kita dimarahi atau bahkan dihukum untuk itu? Bagaimana rasanya? Apakah menurut kita itu adil?

Akan muncul berbagai macam perasaan seperti itu di dalam pikiran anak kita. Harap diingat, hindarkan untuk mengucapkan kata-kata “dulu waktu saya kecil saya tidak seperti itu”, atau misalnya “dulu kalau saya yang berkata seperti itu, pasti saya sudah dihukum berat”. Mohon dimengerti, memang ada nilai-nilai yang sifatnya kekal (berbuat baik, berkata-kata lembut, dll), tetapi zaman juga sudah berbeda, kemampuan dan daya tangkap anak berubah, sumber informasi juga bertambah (sangat) banyak.

Saya jadi ingat, waktu jaman saya kecil, hanya ada satu channel TV, TVRI, setiap hari… sekarang? Waduh, belum kalau ditambah TV Cable, radio, majalah, dan internet.. kita dibanjiri jutaan informasi tiap harinya. Coba bayangkan, apakah kita masih akan menggunakan cara-cara “tempo doeloe” di dunia yang makin modern? Belum tentu semua cara yang sama, akan berakibat yang sama pula.

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan? Begini, daripada anak kita merasa semakin mengulangi kata-katanya (karena merasa mendapat perhatian ketika mengucapkan umpatan dll tersebut), kita bisa hilangkan nilai perhatian yang diperolehnya. Mohon diingat, yang dihilangkan adalah nilai PERHATIANNYA, bukan didiamkan. Salah satu caranya? Ketika dia mulai melakukan hal yang sama (mengumpat, mencela, dll), berikan respon yang berbeda (dari yang diharapkan atau direkam di dalam pikiran bawah sadarnya), misalnya, kita justru tertawa tiap kali ia mengumpat. Selagi kita menertawai umpatannya, kita bisa bertindak (seolah-olah) kata-kata tersebut tidak berefek apapun pada kita.

Mau tahu yang terjadi di pikiran sang anak? Hang. Mengapa? Karena pola di kepalanya adalah ketika ia mengucapkan kata-kata itu, maka respons yang didapat adalah perhatian (entah dalam bentuk kemarahan, dll). Jadi, ketika respon nya berbeda, yang terjadi, pikirannya akan memprogram ulang dirinya sendiri, dan mulai meninggalkan penggunaan umpatan-umpatan tersebut.

Lho, tidak dikasih tahu bahwa kata-kata itu salah dan kasar? Coba saja kita letakkan kembali diri kita di pada posisi anak kita. Apakah (kira-kira) kita saat seusia 3,5 tahun, mampu menyerap secara lengkap penjelasan mengenai baik dan buruk, sedangkan setiap hari, kita di bombardir dengan informasi (TV, Radio, lingkungan) yang seperti itu terus? Yang terjadi kemungkinan adalah pertentangan yang terus menerus di pikirannya, atau justru makin terlihat menentang kita.

Jadi, ajari perlahan-lahan mengenai baik dan buruk, dengan contoh dan pengalaman langsung, seiring dengan makin bertambahnya usia anak kita, kita mampu beritahukan (secara) mana yang baik dan benar lewat kata-kata. Jadikan waktu kita dengan anak kita adalah eksplorasi bersama-sama dengan mereka, hadapi dengan fun.. selamat bereksperimen

Milist sekolahrumah



Artikel yang berhubungan:
Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak
Tolong Jangan Katakan Hal Ini Pada Anak Anda
Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak
Beberapa Kesalahan yang Kerap Kali Menghancurkan Kepribadian Anak
Awas! Memukul Anak Bisa Bikin Perilakunya Makin Buruk
Menjadikan Anak Taat Kepada Orang Tua Tanpa Menghukum
Tantrum
Memahami Dunia Emosi Anak
Tips Menangani Anak Agresif

9 Manfaat Bermain Bagi Anak

Sebagian orang tua masih menganggap bermain bersama anak merupakan sesuatu tidak berguna. Padahal mengajak si kecil bermain banyak manfaatnya untuk tumbuh kembang fisik dan psikisnya.

Berikut ini 9 manfaat bermain bagi anak menurut buku ‘Games Therapy untuk Kecerdasan Bayi dan Balita’ yang ditulis oleh Psikolog Effiana Yuriastien dan kawan-kawan:

1. Memahami diri sendiri dan mengembangkan harga diri
Ketika bermain, anak akan menentukan pilihan-pilihan. Mereka harus memilih apa yang akan dimainkan. Anak juga memilih di mana dan dengan siapa mereka bermain. Semua pilihan itu akan membantu terbentuknya gambaran tentang diri mereka dan membuatnya merasa mampu mengendalikan diri. Permainan memotong kertas, mengatur letak atau mewarnai misalnya dapat dilakukan dalam beragam bentuk. Tidak ada batasan yang harus diikuti. Identitas dan kepercayaan diri dapat berkembang tanpa rasa ketakutan akan kalah atau gagal. Pada saat anak menjadi semakin dewasa dan identitasnya telah terbentuk dengan lebih baik, mereka akan semakin mampu menghadapi tantangan permainan yang terstruktur, bertujuan dan lebih dibatasi oleh aturan-aturan.

2. Menemukan apa yang dapat mereka lakukan dan mengembangkan kepercayaan diri
Permainan mendorong berkembangnya keterampilan, fisik, sosial dan intelektual. Misalnya perkembangan keterampilan sosial dapat terlihat dari cara anak mendekati dan bersama dengan orang lain, berkompromi serta bernegosiasi. Apabila anak mengalami kegagalan saat melakukan suatu permainan, hal itu akan membantu mereka menghadapi kegagalan dalam arti sebenarnya dan mengelolanya pada saat mereka benar-benar harus bertanggungjawab.

3. Melatih mental anak
Ketika bermain, anak berimajinasi dan mengeluarkan ide-ide yang tersimpan di dalam dirinya. Anak mengekspresikan pengetahuan yang dia miliki sekaligus mendapatkan pengetahuan baru. Orang tua akan dapat semakin mengenal anak dengan mengamati saat bermain. Bahkan, lewat permainan (terutama bermain pura-pura) orang tua juga dapat menemukan kesan-kesan dan harapan anak terhadap orang tua serta keluarganya.

4. Meningkatkan daya kreativitas dan membebaskan anak dari stres
Kreativitas anak akan berkembang melalui permainan. Ide-ide yang orisinil akan keluar dari pikiran mereka, walaupun kadang terasa abstrak untuk orang tua. Bermain juga dapat membantu anak untuk lepas dari stres kehidupan sehari-hari. Stres pada anak biasanya disebabkan oleh rutinitas harian yang membosankan.

5. Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak
Dalam permainan kelompok, anak belajar tentang sosialisasi. Anak mempelajari nilai keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok. Ketika anak memainkan peran ‘baik’ dan ‘jahat’, hal ini membuat mereka kaya akan pengalaman emosi. Anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan dari situasi yang dia hadapi.

6. Melatih motorik dan mengasah daya analisa anak
Melalui permainan, anak dapat belajar banyak hal. Di antaranya melatih kemampuan menyeimbangkan antara motorik halus dan kasar. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Permainan akan memberi kesempatan anak untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus memecahkan masalah. Anak-anak akan berusaha menganalisa dan memahami persoalan yang terdapat dalam setiap permainan.

7. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan anak
Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain, seringkali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin dalam kehidupan nyata, mungkin akan memperoleh pemenuhan keinginan itu dengan menjadi pemimpin tentara saat bermain.

8. Standar moral
Walaupun anak belajar di rumah dan sekolah tentang apa yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral selain dalam kelompok bermain.

9. Mengembangkan otak kanan anak
Bermain memiliki aspek-aspek yang menyenangkan dan membuka kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebaya serta mengembangkan perasaan realistis akan dirinya. Dengan begitu, bermain memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang mungkin kurang terasah baik di sekolah maupun di rumah.

Catatan: Berikanlah pujian kepada anak dengan menggunakan kalimat yang positif dan mampu menjadi penyemangatnya dalam melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi. Contoh, saat anak diminta mengambil spidol warna merah, awali dengan kata ‘tolong’. Jika anak berhasil mengambilnya, berikan pujian dan ucapkan terimakasih.

Demikian juga ketika ia tidak berhasil menemukannya, ucapkanlah kalimat positif yang tidak mematahkan semangatnya. Tetap ucapkan terima kasih atas hasil jerih payahnya. Misalnya saja, “Makasih ya adik sudah mencarikan spidolnya. Spidolnya ada di dekat buku gambar adik.”

walipop




Artikel yang berhubungan:

Kepribadian Anda

Kita barangkali akan dapat merajut jalinan interaksi yang lebih harmonis dan produktif, jika kita mampu mengenali kepribadian rekan kerja kita dengan lebih baik. Sebab, kita tahu, setiap orang memiliki tipe karakter yang unik.

Dalam konteks ini, terdapat empat model kepribadian yang lazim dikenal sebagai DISC – atau singkatan dari : dominance, influence, steadiness, and conscientiousness. Mengenal lebih dalam keempat model ini barangkali akan membantu kita lebih efektif ketika membangun relasi dengan orang lain.

Dominance Style
Orang-orang yang masuk dalam model ini adalah mereka yang suka mengendalikan lingkungan mereka, serta senang menggerakkan orang-orang di sekitar mereka. Mereka adalah jenis pribadi yang suka to-the-point, tidak bertele-tele. Mereka juga senang mengambil peran penting, pembuat keputusan, problem solver, dan melaksanakan berbagai hal. Mereka cenderung menyukai posisi sebagai leader. Meskipun demikian, ketika menjadi leader, mereka cenderung akan menjadi pemimpin yang otoriter, demanding, dan kurang memiliki kesabaran serta empati pada bawahan.

Ketika orang-orang dari model ini termotivasi secara negative, mereka dapat menjadi seorang pembangkang (rebels). Mereka juga tipe orang yang cepat menjadi bosan dengan suatu rutinitas. Mereka juga kurang suka dengan detil, karena pada dasarnya mereka cenderung tipe yang suka dengam big-view picture dan visioner. Orang dengan tipe D ini juga adalah orang yang menyukai tantangan dan berani mengambil resiko.

Untuk menciptakan lingkungan motivasi yang benar pada model kepribadian seperti ini, kita perlu memperhatikan hal berikut:
  • Pesan harus jelas, dan langsung pada pokok pembahasan ketika kita berinteraksi dengan model kepribadian seperti ini.
  • Hindari hal-hal yg terlalu pribadi atau berbicara terlalu banyak yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
  • Biarkan mereka tahu apa yang anda harapkan dari mereka. Jika anda harus mengarahkan mereka, berikan mereka kesempatan untuk mengambil keputusan dan berada dalam kendali.
  • Terimalah kebutuhan mereka untuk variasi dan perubahan. Jika mungkin, berikan tantangan-tantangan baru, juga kesempatan untuk mengarahkan yang lain.
Influence Style
Orang-orang dengan model ini adalah mereka yang suka bergaul dengan orang lain, ekstrovert, dan senang berada pada lingkaran pertemanan yang luas. Mereka benar-benar menikmati berada bersama teman-temannya. Mereka tidak suka menyelesaikan sesuatu atau bekerja sendirian (single fighter). Sebaliknya, mereka lebih suka berhubungan dan bekerja dengan orang-orang daripada sendirian.

Orang-orang dengan model ini juga memiliki empati yang tinggi terhadap orang lain, dan mudah melibatkan perasaan ketika menjalankan aktivitasnya. Mereka pada dasarnya orang yang penuh optimisme, antusias, dan cenderung memiliki sifat dasar yang riang. Meskipun demikian, mereka bukan orang tepat ketika harus mengerjakan tugas-tugas yang menuntut ketelitian tinggi seperti akuntansi dan keuangan. Pada sisi lain, mereka dapat menjadi best promotor untuk gagasan-gagasan baru.

Untuk memberikan motivasi bagi mereka, kita bisa melakukan hal-hal berikut:
  • Berikan waktu anda untuk berinteraksi dan mendengarkan aspirasi mereka.
  • Sediakan tugas dimana mereka memiliki kesempatan untuk membangun relasi dan berhubungan dengan orang lain dari beragam latar belakang
  • Berikan bimbingan dan arahan yang jelas – termasuk deadline, sebab tanpa panduan ini mereka sering akan “ngelantur” dan tidak mampu menyelesaikan perkerjaan dengan tepat waktu.
Steadiness Style
Orang-orang dalam model ini cenderung introvert, reserve, dan quiet. Mereka adalah orang-orang yang lebih suka melakukan sesuatu secara sistematis, teratur dan bertahap. Mereka juga cendrung menyukai sesuatu yang berjalan dengan konsisten, dapat diprediksi dan lingkungan kerja yang stabil dan harmonis. Orang-orang dalam model ini juga tergolong pribadi yang sabar, dapat diandalkan dan cenderung memiliki loyalitas yang tinggi.

Pada sisi lain, mereka termasuk golongan yang kurang menyukai perubahan yang radikal dan bersifat mendadak. Juga cenderung terpaku pada sistem yang sudah berjalan; dan karena itu kurang terdorong untuk melakukan inovasi yang bersifat radikal. Ketika mereka mengalami demotivasi, mereka cenderung akan menjadi orang yang kaku, resisten dan kemudian melakukan perlawanan secara pasif.

Untuk menciptakan iklim yang positif kepada orang-orang dengan model steadiness, kita bisa melakukan hal berikut:
  • Berikan mereka kesempatan untuk bekerja sama dalam tim untuk mencapai hasil yang diinginkan.
  • Berikan arahan-arahan yang spesifik dan sistematis
  • Ketika melakukan perubahan, pastikan dengan prosedur yang sistematis, langkah-demi-langkah dan yakinkan bahwa kekhawatiran dan kecemasan mereka tidak akan terjadi. Mereka butuh rasa aman.
  • Yakinkan mereka bahwa anda telah telah berpikir matang sebelum memutusakan perubahan. Berikan mereka kesempatan atau ruang untuk menyelesaikan masalah jika terjadi secara bertahap.
Conscientiousness Style
Orang-orang dalam kategori ini termasuk pribadi yang menekankan akurasi dan ketelitian. Mereka cenderung menyukai sesuatu yang direncanakan dengan matang dan bersifat menyeluruh. Mereka juga cenderung suka dengan pekerjaan yang mengacu pada prosedur dan standar operasi yang baku. Orang-orang dalam kategori ini adalah pemikir yang kritis dan suka melakukan analisa untuk memastikan akurasi.

Pada sisi lain, karena cenderung terfokus pada keteraturan, pribadi dalam model ini cenderung skeptis terhadap gagasan-gagasan baru yang radikal. Mereka juga agak enggan menerima proses perubahan yang mendadak. Ketika mereka termotivasi secara negative, mereka akan menjadi sinis atau sangat kritis.

Perlakuan yang optimal untuk orang-orang dalam model ini adalah sebagai berikut:
  • Memberikan tugas dimana terdapat kesempatan bagi mereka untuk mendemonstrasikan keahlian mereka
  • Memberikan tugas yang menuntut akurasi dan ketelitian
  • Memberikan tugas yang membutuhkan perencanaan yang matang dan bersifat komprehensif
  • Ketika memberikan instruksi, harus disertai dengan data dan argumen yang rasional dan disajikan secara sistematis.
Demikianlah peta empat model kepribadian yang dapat kita eksplorasi. Dengan mengenali tipe kepribadian mitra/rekan kerja Anda, diharapkan Anda bisa membangun hubungan interpersonal yang lebih produktif nan lestari.

Yodhia Antariksa



Artikel lainnya:

Kecerdasan Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia.

Macam-macam emosi menurut beberapa tokoh, antara lain:
  1. Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), Hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). 
  2. JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : Fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta).
  3. Daniel Goleman mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu : 
  • Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
  • Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
  • Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
  • Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
  • Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih
  • Terkejut : terkesiap, terkejut
  • Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
  • Malu : malu hati, kesal

    Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan.

    Menurut Mayer orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.

    Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

    Pengertian kecerdasan emosional
    Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.

    Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai :
    “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.”.

    Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.

    Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan.

    Sebuah model pelopor lain tentang kecerdasan emosional diajukan oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tututan dan tekanan lingkungan.

    Gardner dalam bukunya yang berjudul Frame Of Mind mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai kecerdasan emosional.

    Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :”kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif.”.

    Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi itu mencakup “kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain.” Dalam kecerdasan antar pribadi yang merupakan kunci menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan “akses menuju perasaan-perasaan diri seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku”.

    Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut, Salovey memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal untuk dijadikan sebagai dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

    Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.

    Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

    Faktor Kecerdasan Emosional
    Goleman mengutip Salovey menempatkan menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu :

    a. Mengenali Emosi Diri
    Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai meta mood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.

    b. Mengelola Emosi
    Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

    c. Memotivasi Diri Sendiri
    Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.

    d. Mengenali Emosi Orang Lain
    Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

    Rosenthal dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih mampu menyesuiakan diri secara emosional, lebih populer, lebih mudah beraul, dan lebih peka. Nowicki, ahli psikologi menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi dengan baik akan terus menerus merasa frustasi. Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain.

    e. Membina Hubungan
    Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain.

    Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi. Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan dengan orang lain. Sejauhmana kepribadian siswa berkembang dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya.

    Goleman, Daniel



    Artikel lainnya:

    Tipe Karakteristik Pekerjaan

    Tipe Executive
    Adalah orang yang bekerja kepada suatu sistem bisnis atau kepada organisasi milik orang lain dengan jenjang karier yang berkesinambungan. Executive digaji berdasarkan waktu dan kemampuan yang dia berikan. Dia menerima gaji rutin bulanan atau periodik dengan jumlah tertentu dari orang lain, perusahaan, organisasi, atau bahkan dari negara. Contoh: salesman, supervisor, manager, presiden direktur perusahaan, PNS.

    Inilah jalan keluar sebagian Executive:

    1. Berusaha mendapatkan yang memberikan gaji lebih baik
    2. Berusaha mencari kerja sampingan seperti pemasaran jaringan atau berwirausaha.
    3. Berusaha ikut asuransi yang memiliki manfaat tabungan.

    Tipe Self Employed
    Termasuk dalam self employed adalah orang-orang yang bekerja mandiri atau lepas. Biasanya mereka adalah seorang profesional yang memiliki keahlian tertentu. Ciri khas dari self employed adalah dia jalankan usahanya sendiri dan pemasukan dia terima sendiri. Tetapi mereka tidak akan mendapatkan penghasilan apabila tidak bekerja.

    Contoh : dokter yang praktek di klinik sendiri, pengacara yang membuka biro sendiri, tukang pangkas rambut pinggir jalan, penulis lepas.

    Inilah jalan keluar Self-Employee

    1. Berusaha mendapatkan orderan yang memberikan penghasilan lebih baik
    2. Berusaha mencari kerja sampingan atau berprestasi semakin baik,seperti program bisnis pemasaran jaringan
    3. Berusaha ikut asuransi yang memiliki manfaat tabungan.

    Tipe Business Owner
    Bisnis owner memperoleh pendapatan dari sistem yang dia buat. Toko dibuat dengan suatu sistem sehingga bisa berjalan sendiri, ada kasir, ada bagian logistik, ada supervisor, ada cleaning sercive, dan sebagainya yang diatur dan dibuat sistem. Ciri khas dari bisnis owner adalah bekerja tidak terikat waktu, dan penghasilan tidak berbanding lurus dengan waktu kerja yang di pergunakan.

    Contoh : pemilik warnet, kalau sudah berjalan baik maka warnet itu tetap memberikan pemasukan buat si bisnis owner, pemilik toko,pemilik pabrik,pemilik perusahaan,dan sebagainya.
     
    Inilah jalan keluar sebagian Business Owner

    1. Berusahan mendapatkan bisnis yang benar-benar potensial dan berprospek cerah di masa akan datang
    2. Berusaha mencari karyawan yang kompeten
    3. Berusaha mengasuransikan bisnisnya
    Tipe Investor
    Investor adalah orang yang memperolah pendapatan dari dananya yang diputar. Seorang investor bisa tidak bekerja sama sekali, dan uangnya yang bekerja untuk dia. Besar kecil pemasukan seorang investor ditentukan oleh pengetahuan dan keahlian dia dalam mengelola dan mendayagunakan dana yang dimilikinya.

    Contoh : investasi property untuk disewakan, membeli saham dengan return yang tinggi untuk dia, investasi membuka warung bakso yang dikelola oleh teman, membeli franchise, membeli mobil untuk direntalkan. 

     
    Inilah jalan keluar sebagian Investor

    1. Berusaha mempelajari tawaran investasi yang ada agar tidak dibohongi
    2. Berusaha menetapkan teori portofolio sebaik-baiknya
    3. Menginvestasikan lebih banyak


    Bisa saja satu orang berdiri di dua atau lebih quadrant. Contohnya seorang pegawai bank (executive), invest uang disaham (investor), dan dia membuka toko handphone di suatu mall (bisnis owner dan investor). Itu lebih baik.

    Prev home