Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Aktivitas Yang Membuat Buah Hati Menjadi Cerdas

Sekarang ini banyak sekali anak-anak yang senang bermain game online, mereka kerap sering mencari warnet (warung internet) dengan layanan jaringan yang baik. Lantas apa sebagai orang tua kalian mengijinkan anak-anak kalian untuk bermain game online terutama apabila anak kalian masih sangat kecil.

Nah, sebagai orang tua yang bijak pasti menginginkan agar buat hati kita menjadi anak yang cerdas dan pintar. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan untuk membuat anak-anak kita menjadi cerdas.

1. Membaca 20 menit setiap hari
Ajaklah anak kalian untuk membaca. Di usia 12 sampai 18 bulan anak akan banyak sekali menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya. Jadi akan sangat mungkin bagi anak kalian untuk mendengarkan apa yang kalian baca. Setidaknya ajaklah membaca selama 20 menit sehari. Sambil membacakan buku untuknya, tanyakan juga kepadanya gambar-gambar yang ada di buku tersebut.

2. Dengarkan musik
Bernyanyilah bersama anak kalian. Biaskan untuk mendengarkan musik saat sedang berada dirumah atau dimobil. Pilihlah musik yang tidak membosankan meskipun diputar secara terus menerus. Jika kalian bernyanyi, otomatis anak kalian akan ikut bernyanyi juga. Lama-lama anak kalian akan bernyanyi dengan sendiri meskipun tidak ada musik yang mengiringi.

3. Ajarkanlah tentang angka dan bentuk benda
Ajarkanlah kepada anak kalian tentang bentuk benda, warna dan juga angka seharian penuh.

4. Ajarkan juga nama-nama bagian tubuh
Selain itu ajarkan juga kepada anak kita tentang nama-nama bagian tubuhnya. Sambil mengenalkan bagian tubuhnya, tunjuklah bagian tubuh yang kalian maksud misalnya hidung, mata, kuping, kaki, tangan dan lain-lain.

5. Gunakanlah instruksi
Ketika sedang bermain berikanlah instruksi. Dengan demikian si anak akan mampu mengikuti instruksi dari orang tua dan juga akan merasa senang jika mampu melakukan apa yang di suruh. Salah satu instruksi sederhana adalah memintanya untuk menutup pintu atau mengambilkan bola.

6. Minta memilih mainan kesukaannya
Pergilah ke toko mainan anak-anak. Lalu gunakan buku katalog dan mintalah si anak untuk memilih mainan yang ia sukai di katalog tersebut. Setelah itu, ajak anak kalian untuk mencari mainan tersebut di rak mainan.

Demikianlah beberapa aktivitas yang bisa kalian ajarkan kepada buah hati kalian. Semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat.

kichuzzz.blogdetik.com


Artikel lainnya:

Bakat dan Minat

Belajar ataupun bekerja pada bidang-bidang yang diminati terlebih lagi didukung dengan bakat serta talenta yang sesuai, akan memberi semangat dalam mempelajari atau menjalaninya. Tapi seringkali remaja memilih suatu jurusan atau bidang studi karena terbawa dan ikut teman-temannya, atau memilih bidang yang sedang popular, tanpa sempat mencerna terlebih dahulu dan memahami bidang yang akan dipelajari, menjadi apa setelah selesai sekolah ataupun lebih jauh lagi mengenali bidang pekerjaan seperti apa yang akan digelutinya sesuai dengan latar belakang pendidikannya tersebut.

Mengembangkan bakat dan minat bertujuan agar seseorang belajar atau dikemudian hari bisa bekerja di bidang yang diminatinya dan sesuai dengan kemampuan serta bakat dan minat yang dimilikinya sehingga mereka bisa mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja secara optimal dengan penuh antusias.

Pengertian Bakat
Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus. Sehubungan dengan cara berfungsinya, ada 2 jenis bakat, yaitu:
  1. Kemampuan pada bidang khusus. Misalnya bakat musik, melukis, dll.
  2. Bakat khusus yang dibutuhkan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan khusus, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) dibutuhkan untuk merealisasi kemampuan di bidang teknik arsitek.
Bakat bukanlah merupakan sifat tunggal, melainkan merupakam sekelompok sifat yang secara bertingkat membentuk bakat. Bakat baru muncul bila ada kesempatan untuk berkembang atau dikembangkan. Sehingga mungkin saja seseorang tidak mengetahui dan mengembangkan bakatnya sehingga tetap merupakan kemampuan yang latent.

Minat
Menurut John Holland, minat adalah aktivitas atau tugas-tugas yang membangkitkan perasaan ingin tahu, perhatian, dan memberi kesenangan atau kenikmatan. Minat dapat menjadi indikator dari kekuatan seseorang di area tertentu di mana dia akan termotivasi untuk mempelajarinya dan menunjukkan kinerja yang tinggi. Bakat akan sulit berkembang dengan baik apabila tidak diawali dengan adanya minat pada bidang yang akan ditekuni.

Bakat
Metode analisa sidik jari dari UNIQUE bertujuan membantu memberikan gambaran mengenai bakat/pontensi genotif seseorang untuk kemudian merencanakan dan membuat keputusan mengenai pilihan pendidikan atau pekerjaan. Hasil analisa seidik jari tidak untuk memvonis atau menentukan secara mutlak jurusan sekolah atau pekerjaan yang harus dijalani. Namun dari hasil analisa sidik jari, kita hanya sebatas memperoleh saran untuk memilih jurusan dan pekerjaan, karena 2 hal tersebut memerlukan observasi secara langsung dengan memperhatikan faktor minat juga.

Setiap orang mempunyai potensi tertentu, masing-masing dalam bidang dan derajat yang berbeda-beda. Guru, orang tua, pembimbing perlu mengenal potensi anak-anaknya sehingga dapat memberikan pendidikan dan menyediakan pengalaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Mengembangkan Bakat dan Minat Remaja
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa. Pada periode ini anak mencapai kematangan fisik dan diharapkan pula disertai dengan kematangan emosi dan perkembangan sosialnya. Karena masa peralihan maka remaja pada umumnya masih ragu-ragu akan perannya dan menimbulkan krisis identitas. Dalam usaha menemukan jati dirinya dalam arti mengetahui kebutuhan-kebutuhan pribadi serta tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya, maka pengembangan bakat dan minat remaja sangat penting. Dan dalam mengembangkan kompetensinya remaja tetap membutuhkan bimbingan dari orang tua dan lingkungan rumah maupun sekolah.

Yang perlu dilakukan orangtua, guru atau lingkungan untuk mengembangkan bakat dan minat anak:
  1. Sejak usia dini cermati berbagai kelebihan, ketrampilan dan kemampuan yang tampak menonjol pada anak.
  2. Bantu anak dalam meyakini dan fokus pada kelebihan dirinya.
  3. Kembangkan konsep diri positif pada anak.
  4. Perkaya anak dengan berbagai wawasan, pengetahuan, serta pengalaman di berbagai bidang.
  5. Usahakan berbagai cara untuk meningkatkan minat anak untuk belajar dan menekuni bidang-bidang yang menjadi kelebihannya.
  6. Tingkatkan motivasi anak untuk mengembangkan dan melatih kemampuannya.
  7. Stimulasi anak untuk meluaskan kemampuannya dari satu bakat ke bakat yang lain.
  8. Berikan penghargaan dan pujian untuk setiap usaha yang dilakukan anak.
  9. Sediakan fasilitas atau sarana untuk mengembangkan bakat anak.
  10. Dukung anak untuk mengatasi berbagai kesulitan dan hambatan dalam mengembangkan bakatnya.
  11. Jalin hubungan baik antara orang tua, guru, dengan anak atau remaja.

Hal-hal yang perlu dicermati dalam mengembangkan bakat dan minat remaja, yaitu:

a. Mengikuti minat teman.
Usia remaja adalah masa perkembangan yang ditandai dengan solidaritas tinggi terhadap teman-teman sebayanya. Remaja kurang memahami siapa dirinya, memiliki kebutuhan yang besar untuk berada dan diakui dalam kelompoknya. Hal ini seringkali membuat remaja mengikuti minat temannya, memilih bidang yang sebenarnya kurang sesuai dengan bakat dan minatnya. Untuk memilih bidang-bidang yang akan dikembangkannya, remaja perlu berdiskusi, mencari masukan dan bertukar pikiran dengan orang tuanya.

b. Penelusuran bakat dan minat secara dangkal.
Memperhatikan bakat dan minat anak membutuhkan usaha yang serius dan berkesinambungan. Tes bakat pada umumnya memadukan kemampuan intelektual ataupun ketrampilan dengan bakat dan minat yang dimiliki seseorang. Kemampuan tinggi tanpa didukung oleh minat akan membuat anak bisa berhasil dalam pendidikannya akan tetapi antusiasme untuk mempelajarinya kurang tinggi minat dan bakat yang tinggi di suatu bidang tanpa didukung kemampuan akan membuat seseorang membutuhkan tenaga dan usaha ekstra keras untuk mencapainya. Selain hal tersebut tentunya di manapun seseorang belajar dan bekerja dibutuhkan motivasi belajar, daya juang dan ketekunan.

Banyak orang tidak selalu mudah menemukan bakat dan minat yang tepat, karena beberapa hal:
  1. Siswa belum secara sengaja menjajagi kemampuan, bakat serta minatnya.
  2. Kurangnya wawasan bidang studi atau lapangan pekerjaan yang ada.
  3. Tidak ada masukan dari lingkungan mengenai kelebihan dalam kemampuan atau bakatnya.
  4. Siswa belajar tanpa tahu kegunaan dan tujuan dari bidang studi yang dipelajarinya.
  5. Bidang yang diminati dan bakat yang dimiliki bervariasi.
  6. Bakat yang ada belum terasah atau kurang mendapat kesempatan untuk dikembangkan sehingga tidak nampak.
  7. Perasaan tidak mampu atau tidak berbakat dari pribadi yang bersangkutan ataupun dari lingkungannya.

Seseorang bisa mengenal bidang studi atau pekerjaan tertentu karena:

a. Memperoleh informasi mengenai berbagai bidang studi atau pekerjaan.
Membuka wawasan anak dengan mencari atau memberi informasi, misalnya membawa anak dalam lingkungan orang tua membuat anak tahu dan kenal bidang yang digeluti orang tua. Terlebih lagi ketika orang tua menceritakan berbagai hal positif mengenai lingkup kerjanya, manfaatnya untuk orang lain ataupun lingkungan, akan membawa anak untuk menjadi ahli kimia.

b. Berkaitan dengan pelajaran di sekolah.
Misalnya seorang anak tertarik di bidang kimia karena gurunya mengajar kimia sedemikian menariknya sehingga dia memutuskan untuk menjadi ahli kimia. Seorang siswa SMA berniat masuk Fakultas Kedokteran akan tetapi pada saat dia akan mendaftar dia bahwa Bioteknologi masa kini sedang populer dan menarik, dan setelah mencoba menjajagi dia kemudian memilih bioteknologi dan berhasil berprestasi dengan baik karena suka.

c. Secara kebetulan atau tidak sengaja mendapat informasi.
Jadi manusia memiliki banyak kemampuan dan bakat yang masih merupakan potensi namun hanya sedikit sekali dari kemampuan tersebut teraktualisasi.

Anda dapat mengetahui lebih lagi mengenai Bakat/Talenta, Potensi dan Keunikan Anda lewat analisa sidik jari. 
    


Artikel yang berhubungan:

Musik Bagi si Kecil

Musik membuat hidup ini serasa indah. Musik juga dapat mengoptimalkan kecerdasan. Pada abad 19 seorang penulis di Inggris pernah berkata “Musik itu adalah nyanyian para malaikat”. Tidak bisa dipungkiri, musik memang memiliki kekuatan luar biasa yang juga berdampak besar bagi kejiwaan. Hal ini berlaku juga bagi bayi dan anak.

Musik dan Matematika
Banyak penelitian membuktikan, janin menunjukkan reaksi tertentu jika diperdengarkan musik. Ibu yang sedang hamil merasakan gerakan janin yang semakin cepat atau justru lebih santai. Sementara itu, banyak juga yang berpendapat musik klasik yang diperdengarkan ibu hamil, dan juga janinnya, dapat membuat kecerdasan pada anak lebih tinggi.

Psikolog Fran Rauscher dan Gordon Shaw dari University of California-Irvine, Amerika Serikat pada tahun 1994 melakukan penelitian yang membuktikan bahwa erat kaitan antara kemahiran bermusik dengan penguasaan level matematika yang tinggi, dan keterampilan-keterampilan sains. Setelah delapan bulan, penelitian kedua pakar ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan program pendidikan musik, meningkat inteligensi spasialnya (kecerdasan ruang) sebesar 46% dibandingkan dengan anak-anak yang tidak diekspos oleh musik.

Musik dan Bermain
Ahli saraf dari Harvard University, Mark Tramo, M.D. mengatakan, “Dalam otak kita, jutaan neuron dari sirkuit secara unik menjadi aktif ketika kita mendengar musik. Neuron-neuron ini menyebar ke berbagai daerah di otak, termasuk pusat auditori di belahan kiri dan belahan kanan”. Rupanya mulai dari sinilah kaitan antara musik dan kecerdasan terjadi. Tapi, ini bukan berarti anda harus memiliki grand piano di rumah. Anda juga tidak wajib mendominasi rumah dengan berlebihan. Yang penting, biasakanlah musik menghiasi ruang di sekitar anak-anak. Putarkan lagu di radio. Bernyanyilah bersama. Kalu perlu, ekspresikan bakat penyanyi terkenal bersama si kecil.

Melalui kegiatan bermain, anak memperoleh manfaat dari musik. Dr. Dee Joy Coulter, seorang pendidik Neuroscience dan penulis buku Early Childhood Connections : The Journal of Music and Moment-Based Learning, mengklasifikasikan lagu-lagu, gerakan dan permainan anak sebagai latihan untuk otak yang brilian. Mengenalkan anak pada pola bicara, keterampilan-keterampilan sensory motor, dan strategi gerakan yang penting. Melalui permainan yang mengandung musik, tak hanya perkembangan bahasa dan kosa kata saja yang meningkat, tapi juga berita dan keterampilan beriramanya. Logika membuat anak nantinya mampu mengorganisasi ide dan mampu memecahkan masalah. Pendidikan prasekolah pun menggunakan musik sebagai bagian dari proses pendidikan, dikarenakan berbagai manfaat yang didapat dari musik.

Manfaat Musik Bagi si Kecil diantaranya adalah:
• Mengoptimalkan perkembangan otak.
• Meningkatkan multiple intelligence.
• Memfasilitasi emotional bonding (ikatan emosional) orang tua dan anak.
• Membangun keterampilan sosial dan emosional anak.
• Meningkatkan perhatian terhadap tugas-tugas dan kemampuan bicara.
• Mengembangkan kontrol impulsif dan perkembangan motorik.
• Menjembatani kreativitas dan kesenangan. 

Apresiasi Musik Sesuai Usia Anak

Usia 0-1 tahun
Pada usia sembilan bulan, bayi biasanya mulai bergerak maju-mundur merespons alunan musik yang didengarnya, melambai-lambaikan tangan mengikuti irama. Di usia 1 tahun, anak yang intensif diperdengarkan lagu semakin terampil merespons rangkaian bunyi irama.

Usia 2 tahun
Biasanya anak dapat mengikuti lagu dengan senandung yang nadanya belum pas benar. Gerak tubuh lebih terarah dan kesukaannya bergoyang semakin meningkat.

Usia 3 tahun
Si kecil yang mulai suka menentang berbagai aturan mulai menyukai kegiatan eksperimental dalam apresiasi musik. Selain mengikuti musik dengan gerak tubuh, ia juga suka mengetuk-ngetuk, memukul-mukul, atau menggesekan benda mengikuti irama. Bila dibiasakan mendengarkan musik, anak bahkan bisa lebih kreatif dengan menciptakan lagu-lagu yang kata-katanya dibuat oleh mereka sendiri.

Usia 4-5 tahun
Sejalan dengan perkembangan emosi yang lebih matang, tempo dan suara yang dihasilkan dalam bernyanyi, atau mengetuk-ngetuk alat musik sudah lebih pas. Ketertarikan untuk menguasai sebuah alat musik semakin besar dan serius. Rentang perhatian yang semakin panjang, memungkinkannya memainkan sebuah lagu hingga tuntas.


Baca ini juga:
Menumbuhkan Minat Seni Anak
Mind Mapping - Teknik Mencatat Kreatif
Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak
Melatih Motorik Anak Sambil Bermain

Gaya Belajar Seseorang

Pembelajar Visual
Sebagian besar orang menemukan bahwa diri mereka adalah seorang pembelajar visual. Diperkirakan 60% dari seluruh populasi dunia merupakan pembelajar visual. Pembelajar visual pada umumnya menggunakan bantuan-bantuan visual seperti grafik dan diagram untuk memudahkan mereka memahami dan mengingat informasi lebih baik dibandingkan jika mereka mendengarnya.

Pembelajar Visual harus melihat materi yang disampaikan supaya bisa mengerti dengan baik. Pembelajar tipe ini umumnya bermasalah dengan arahan yang disampaikan dengan lisan, kesulitan dalam mengikuti pelajaran secara lisan dan terkadang salah menafsirkan kata-kata yang disampaikan dengan lisan. Individu yang merupakan pembelajar visual harus memproses informasi dengan mata mereka. Mereka belajar dengan membaca, mengamati, dan sebagai hasilnya mereka baik dalam melihat gambar.

Pembelajar visual bisa melihat bentuk sebuah huruf dibandingkan dengan susunan huruf itu sendiri ataupun bunyinya. Pembelajar visual baik dalam menggunakan grafik dan peta, mereka harus membawa bacaan ketika sedang bepergian/berlibur. Mereka suka melakukan riset yang mendalam sebelum memasuki perubahan penting dalam kehidupan mereka.

Pembelajar visual cenderung menunjukkan karakteristik seperti ini:
• Menyukai majalah, buku dan materi-materi bacaan
• Memproses dengan baik informasi-informasi yang tertulis seperti grafik, peta, diagram, tabel, dll.
• Frustrasi apabila tidak bisa mencatat
• Memiliki ingatan fotografis yang sangat baik
• Bisa mengingat dengan tepat di mana informasi terdapat dalam suatu halaman
• Cenderung belajar di tempat yang sepi
• Mendapatkan manfaat dari catatan yang dibuatnya sendiri, bahkan dari informasi yang dicetak
• Mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran/kuliah yang berdurasi panjang
• Cenderung baik dalam pengejaan
• Cenderung detail dalam segala hal
• Rapi dan teratur
• Seringkali meminta arahan verbal untuk diulang-ulang
• Harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi instruktur/pengajar

Tips untuk pembelajar visual
Untuk memaksimalkan gaya belajar secara visual, gunakan tips-tips di bawah ini:
• Meminta arahan secara tertulis
• Gunakan diagram dan flow chart untuk mencatat
• Catatan yang penting dihighlight/stabile
• Visualisasikan ejaan kata-kata ataupun fakta yang harus diingat
• Tulis kata-kata kunci
• Mencatat apa yang ada di papan tulis
• Duduk di barisan depan kelas
• Menonton video/film
• Gunakan kertas grafik untuk membuat diagram dan tabel untuk mencatat kata-kata kunci
• Gunakan ilustrasi untuk mengingat materi-materi penting
• Gunakan metafora visual untuk mengasosiasikan materi-materi relevan
• Tulis penjelasan untuk poin-poin yang dirasakan sulit untuk dimengerti

Pembelajar visual lebih menyukai ujian berupa essay, map dan diagram.

Pembelajar Auditory
Pembelajar auditori (pendengaran) merupakan orang yang lebih menyukai mendengarkan pelajaran, dibandingkan membacanya. Diperkirakan 30% dari seluruh populasi dunia merupakan pembelajar tipe auditori. Pembelajar auditori paling baik dalam mengingat informasi yang disampaikan secara lisan dibandingkan membacanya.

Pembelajar auditory cenderung menunjukkan karakteristik seperti ini:
[1] Suka berbicara dalam kelas
[2] Belajar dengan baik melalui audio, kuliah lisan, presentasi dan instruksi verbal
[3] Lebih menyukai laporan lisan daripada laporan tertulis
[4] Menikmati debat dan diskusi
[5] Mendapatkan manfaat dari membaca dengan suara keras
[6] Lebih mudah mengikutiarahan secara verbal/lisan daripada arahan tertulis
[7] Cenderung menghafal dengan baik
[8] Menghafal nama orang lain dengan baik
[9] Menyukai mendengarkan berita
[10] Tidak bisa mengerti peta, diagram dan tabel dengan cepat
[11] Menikmati pembicaraan dengan orang lain
[12] Menikmati musik
[13] Suka menyanyi
[14] Pada umumnya cepat mempelajari bahasa asing
[15] Mendapatkan manfaat dari belajar bersama
[16] Pelan dalam membaca materi
[17] Cenderung fasih dalam berbicara
[18] Tidak bisa diam (tidak berbicara) dalam waktu yang lama

Tips untuk pembelajar auditory
Untuk memaksimalkan gaya belajar secara auditori, gunakan tips-tips di bawah ini:
[1] Menggunakan audiotape (atau media rekaman lainnya) untuk belajar
[2] Membaca dengan keras informasi yang sedang dibaca
[3] Sering-sering bertanya
[4] Menonton video
[5] Menggunakan teknik asosiaso kata untuk mengingat fakta
[6] Berpartisipasi dalam diskusi kelas
[7] Menghindari gangguan-gangguan yang bersifat suara
[8] Mendengarkan lagu ketika belajar
[9] Menulis langkah-langkah dalam kalimat, kemudian dibaca dengan keras

Pembelajar auditory lebih menyukai ujian dan kuliah bersifat lisan

Pembelajar Kinestetik
Diperkirakan 10% dari populasi dunia saja yang merupakan pembelajar kinestetik. Gaya belajar kinestetik berhubungan erat dengan kemampuan untuk menyerap informasi dengan pengalaman, menyentuh, melakukan, bergerak dan aktif dalam suatu kegiatan. Orang-orang dengan kategori pembelajar kinstetik lebih memilih situasi di mana mereka bisa ikut terlibat dalam kegiatan fisik.

Pembelajar kinestetik cenderung menjadi orang yang menyentuh dan merasakan sesuatu. Mereka memproses informasi melalui indera perasa, seperti meraba bentuk dan teksturnya. Walaupun ada kemungkinan orang-orang seperti ini untuk mencatat, ketika mereka sudah terlibat dalam suatu kegiatan, mereka cenderung tidak mencatatnya lagi, karena sudah memiliki pengalamannya.

Pembelajar kinestetik cenderung melakukan sentuhan terhadap sesamanya. Ketika mereka berbicara dengan sesamanya, mereka cenderung menyentuh temannya di pundak atau tangannya. Aktivitas fisik menjadi metode terbaik untuk pembelajr kinestetik seperti: pekerjaan laboratorium, role play, pembuatan model, dll. Pembelajar kinstetik perlu sering-sering melakukan istirahat ketika belajar untuk menghindari kebosanan. Komputer merupakan media yang sangat berguna untuk pembelajar kinstetik, khususnya untuk menambah informasi melalui indera perasa mereka.

Pembelajar kinestetik cenderung menunjukkan karakteristik seperti ini:
[1] Menikmati aksi, pengalaman dan petualangan
[2] Mengingat dengan baik ketika menggunakan alat dan beraktivitas
[3] Menikmati konsep demonstrasi
[4] Menguasai keahlian melalui latihan dan meniru
[5] Belajar dengan baik melalui kegiatan lapangan
[6] Cenderung mengkoleksi barang
[7] Tulisan tangannya biasanya kurang bagus
[8] Lemah dalam pengejaan
[9] Menggunakan tangan untuk berkomunikasi dan berbicara dengan cepat
[10] Mendapatkan manfaat dari role play
[11] Baik dalam olahraga
[12] Menikmati backgound music yang dipasang ketika bekerja ataupun belajar
[13] Mengambil waktu istirahat berkali-kali ketika belajar
[14] Biasanya baik dalam memainkan alat musik
[15] Biasanya baik dalam dansa dan bela diri
[16] Menikmati seni, kerajinan dan eksperimen ilmiah
[17] Gelisah dalam sebuah kuliah yang lama
[18] Seringkali menyentuh sesama dalam bahasa tubuh persahabatan

Tips untuk pembelajar kinestetik:
Untuk memaksimalkan gaya belajar secara kinestetik, gunakan tips-tips di bawah ini:
[1] Mempraktekkan teknik
[2] Mendemonstrasikan prinsip
[3] Membuat suatu tiruan/model
[4] Terlibat dalam aktivitas fisik
[5] Belajar dalam keadaan dan posisi yang nyaman
[6] Lakukan aktivitas lapangan
[7] Melakukan latihan untuk daya ingatan ketika sedang berjalan atau bergerak
[8] Daripada menaruh buku di meja ketika sedang membacanya, peganglah buku tersebut di tangan
[9] Ketika sedang menjelaskan, berdirilah
[10] Duduklah di bagian depan kelas untuk menghindari gangguan ketika pelajaran berlangsung
[11] Dengarkan rekaman audio pelajaran/kuliah ketika sedang berjalan atau bergerak, untuk hasil maksimal.

Pembelajar kinestetik lebih menyukai ujian mengisi dan pilihan berganda.


Ketahui gaya belajar Anda lewat analisa sidik jari.
    



Artikel yang berhubungan:

Menumbuhkan Minat Seni Anak

Berkesenian adalah cara terbaik untuk mengembangkan kreativitas, karena seseorang dapat mengekspresikan emosinya secara nonverbal. Seni juga ampuh untuk mengembangkan aspek kognitif, sosial dan emosionalnya.

Seni dalam pendidikan di Indonesia bagaikan anak tiri. Lihat saja, berapa besar porsi pendidikan seni bagi anak yang disediakan di sekolah setiap minggunya? Kemudian, bandingkanlah dengan mata pelajaran lain seperti matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan lain sebagainya. Bidang-bidang apa sajakah yang mendapat porsi dan penekanan yang lebih besar? Jawabannya, pasti bukan seni!

Setidaknya hal itulah yang dilihat oleh Dinastuti, MSi, Psi, pengajar Psikologi Seni di Unika Atma Jaya. “Pendidikan seni yang bisa memajukan kreativitas, ekstra kurikuler yang bisa membuat anak berpikir berbeda, kritis, dan unik, sama sekali tidak ditekankan,” katanya menilai. Hal itu menurutnya bisa dilihat dari kurikulum sekolah yang sedari dulu penekanannya adalah pada mata pelajaran eksakta, bahasa dan lainnya yang dianggap lebih penting.

Penekanan pada mata pelajaran tertentu di sekolah juga mempengaruhi kegiatan anak di luar sekolah. Les anak yang notabene lepas dengan kegiatan sekolah, sebagian besar pun berupa pelajaran tambahan yang sifatnya mendukung pelajaran di sekolah, seperti les matematika dan Bahasa Inggris. ”Itu semua bagus, tetapi tidak diimbangi dengan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi hal-hal yang bersifat seni,” katanya.

Namun Dinastuti tidak memungkiri, ada juga orangtua yang sudah berpikiran untuk mengarahkan anaknya kursus di bidang seni, misalnya kursus melukis, menari, memainkan alat musik dan lain sebagainya. Tapi sayangnya, minat untuk menyalurkan anak untuk berkesenian itu kerap berbenturan dengan biaya, mengingat harga yang dibanderol tempat kursus biasanya relatif mahal. Belum lagi peralatannya yang umumnya harus disediakan sendiri. “Seberapa banyak sih yang punya uang atau bisa memberikan fasilitas itu pada anaknya?“ kata Dinastuti mempertanyakan. Padahal, seni memberikan manfaat yang tidak sedikit bagi anak, tak hanya dari bagi kreativitas juga sisi kognitif, emosi dan sosial.

Makanan otak
Pakar kreativitas dari pusat pengembangan kreativitas, Qurius, Kayee Man memaparkan, seni sangat bermanfaat untuk mengaktifkan otak kanan anak. Mengutip pendapat Edwards, Kayee menjelaskan bahwa otak kiri manusia tidak menyukai aktivitas yang tidak bisa diekspresikan dengan kata-kata, karena membutuhkan lebih banyak waktu untuk diproses. Atau dengan kata lain, otak kiri membenci aktivitas yang ada hubungannya dengan seni.

Berbeda dengan otak kanan yang bekerja kebalikannya. Seperti diindikasikan oleh Hausner dan Scholsberg, Kayee mengutip, banyak ilmuwan yang setuju bahwa seni adalah cara terbaik untuk mengembangkan kreativitas karena melaluinya seseorang dapat mengekspresikan emosinya secara nonverbal. Kreativitas menurut Kayee adalah bagaimana menemukan ide baru yang efektif dan etis.

Untuk menjadi kreatif seseorang harus berpikiran terbuka, mau berimajinasi dan mengambil risiko terhadap hal-hal baru. “Akan lebih mudah bagi seseorang untuk kreatif jika dia berada dalam lingkungan yang mendukungnya untuk menjadi kreatif yaitu lingkungan yang mendukungnya untuk berimajinasi, terbuka terhadap hal baru, dan ide-ide yang tidak biasa tanpa takut melakukan kesalahan,” urai Kayee.

Dengan membuat karya seni, tambahnya, anak dapat mengembangkan imajinasi, mencoba berbagai cara baru, dan menentukan ide-ide apa yang harus digunakan dan tidak perlu digunakan. “Seni membuka berbagai kemungkinan untuk munculnya kreativitas,” tambahnya. Kemampuan untuk berpikir dan berimajinasi inilah yang kemudian akan menyebar ke area lain dalam otak/pikiran anak sehingga anak akan mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah, memahami bacaan, dan berpikir analitis.

Selain itu dari segi kognitif, Kayee berpendapat aktivitas seni baik untuk mengembangkan aspek kognitif anak karena sifatnya yang multidisiplin. Kayee mencontohkan, melalui aktivitas seni membuat bentuk menggunakan tanah liat, anak dapat belajar bahwa beberapa objek dapat mengapung atau tenggelam di dalam air. Mereka dapat bereksperimen bagaimana bentuk dan berat suatu objek dapat mempengaruhi hal tersebut. Dengan demikian, “Seni dapat digunakan untuk mengeksplorasi disiplin ilmu lain, memperoleh suatu pengetahuan baru ataupun memperdalam suatu hal yang sudah diketahui,” terang peraih gelar master studi kreativitas dari International Center of Creative Studies di Buffalo State University , New York ini.

Menurut Kayee, seni juga dapat menjadi media yang sangat baik untuk anak belajar mengasosiasikan sesuatu secara bebas dan tidak biasa. Misalnya, dalam aktivitas seni dengan tema “Metamorfosis”, anak tak hanya bisa belajar pengetahuan dasar tentang proses metamorfosis, tetapi juga ditantang untuk menciptakan karya seni yang ada kaitannya dengan proses tersebut. Anak bisa saja membuat pensil ‘berubah’ menjadi dompet yang tak hanya hasil dari sebuah karya seni tetapi juga mendorong mereka untuk memiliki pemahaman yang berbeda tentang konsep metamorfosis. “ Di sinilah seni mampu menyatukan berbagai disiplin ilmu menjadi sebuah media yang efektif untuk melatih anak membuat asosiasi yang tidak biasa, yang sebenarnya merupakan elemen kunci dari berpikir kreatif,” jelas Kayee lagi.

Kemampuan observasi anak pun bisa dikembangkan melalui seni. Sebagai contoh, tambah Kayee, dalam sebuah aktivitas seni yang menggunakan daun, anak dapat diminta untuk mengekplorasi bentuk, bau, tekstur, dan struktur dari berbagai macam daun. Kemudian anak dapat diminta untuk mengelompokkan daun-daun tersebut berdasarkan kategori tertentu dan membuat sebuah kreasi seni yang berkaitan dengan hal tersebut. Hasilnya, anak mungkin dapat mengasosiasiasikan bau daun dan membentuknya menjadi bunga. Atau, mengasosiasikan bentuk daun untuk membuat karya seni berbentuk kucing.

Makanan jiwa
Dinastuti menambahkan, ketika seseorang berkesenian, berarti dia sedang mengekspresikan dirinya. Ia tak hanya mengekpresikan dirinya tetapi juga bagian-bagian dari dirinya, apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan. “Ketika mengekspresikan dirinya, anak harus tahu dulu apa sebenarnya yang dia rasakan, apa yang dia pikirkan. Anak pun jadi belajar untuk mengenal dirinya sendiri,” katanya. Anak yang bisa mengenal dirinya sendiri, menurut Dinastuti tahu siapa dirinya, tahu apa yang disukainya, dan apa yang tidak disukainya.

Sependapat dengan Dinastuti, Kayee mengatakan, seni dapat menjadi suatu medium yang baik bagi anak-anak untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Bahkan untuk anak yang belum bisa menggambar dengan bagus pun bisa menceritakan apa yang coba disampaikannya melalui gambar dengan memancingnya melalui pertanyaan. Kayee mencontohkan anak 5 tahun yang menggambar gadis kecil dengan plester di bagian dagu karena ingin menceritakan bahwa dia baru saja jatuh. “Anak dapat menunjukkan hal penting yang terjadi pada dirinya melalui sebuah karya seni,” imbuh Kayee.

Menurut Dinastuti, ketika anak belajar seni, sebenarnya ia tengah mengasah sisi sensitivitasnya. Anak jadi lebih peka terhadap pemikirannya sendiri, perasaannya sendiri. Hal itulah yang menurut Dinastuti dapat membantu anak untuk juga memahami perasaan dan pemikiran orang lain. “Orang-orang yang belajar seni biasanya lebih peka, lebih sensitif, lebih bisa merasakan perasaan dan ekspresi orang lain,” kata Dinastuti lagi.

Dari sisi sosial, menurut Kayee, seni juga dapat menjadi medium yang sangat baik bagi anak untuk berkolaborasi dan bekerja sama dengan orang lain, mulai dari merencanakan suatu proyek, membagi tugas dan tanggung jawab dan menjadi bagian dari tim untuk menyelesaikan keseluruhan proyek dengan baik. Misalnya, sekelompok anak yang mendapat tugas untuk membuat drama singkat tentang dongeng Putri Salju. Anak belajar untuk merencanakan penampilan, berbagi tugas dan tanggung jawab serta menjalankan setiap perannya sebaik-baiknya.

Selain itu, buat anak-anak, menciptakan suatu hasil karya seni yang orisinil dapat memproduksi kepuasan bagi jiwanya, yang tentunya sangat baik untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.



1001 Cara Menumbuhkan
Minat Anak terhadap Seni
Ajak anak menonton pertunjukan, atau pameran hasil karya seni sambil mendiskusikan apa yang dilihat dan menanyakan padanya hal apa yang menurutnya menarik dan membuatnya tertarik. Anda pun dituntut untuk juga menjadi seorang penggemar seni, agar si kecil tertarik dengan seni. Salah satu cara untuk menunjukkannya pada anak adalah dengan menjadikan seni sebagai bahan obrolan atau topik pembicaraan sehari-hari. Anda bisa menceritakan lukisan yang digantung di rumah dan alasan mengapa Anda menyukainya, film yang Anda tonton, karya seni yang dibuat si kecil, alunan musik yang didengar dalam perjalanan di mobil dan lain sebagainya.

Stimulasi si kecil dengan seni yang bagus dan bermutu tinggi, apapun itu. Cobalah untuk memajang lukisan bagus, patung-patung artistik atau memperdengarkan musik-musik indah. Selain dapat menjadi elemen dekoratif yang indah, karya-karya tersebut juga dapat menjadi rangsangan yang baik bagi si kecil. Sediakan sarana dan peralatan seni yang sederhana yang mudah didapat dan tanpa perlu menguras kantong.

Untuk anak batita misalnya, Anda dapat menyediakan peralatan dasar yang seperti finger paint, lilin mainan dan krayon. Untuk anak pra sekolah, Anda bisa menambahkannya dengan lem, selotip, gunting dan kuas.

Makin besar anak dan makin eksploratif dia, Anda mungkin dapat menambahkannya dengan berbagai peralatan lain. Biarkan si kecil berekspresi dengan bebas. Jangan batasi kebebasan anak dengan mendikte bagaimana seharusnya suatu objek dibentuk dan diberi warna. Jika si kecil membuat suatu hal yang tidak biasa menurut Anda, cobalah untuk merangsangnya mengungkapkan cerita di balik hasil karyanya. Daripada melarang anak mencorat-coret tembok, lebih baik lapisi dinding rumah Anda dengan kertas atau memberinya pojok khusus untuk berekspresi dengan seni tanpa harus dimarahi. Memarahi anak yang tengah berekspresi, menurut Dinastuti dapat membuat anak berhenti berekspresi, karena menganggap apa yang dilakukannya dinilai salah oleh orang lain. Buatlah karya seni bersama si kecil. “Anda tak harus menjadi seorang seniman untuk bisa menggambar ,” kata Kayee. Ambil saja pensil, gambarlah sesuatu dan berceritalah tentangnya. Si kecil pasti akan terpancing untuk juga melakukannya.

Doronglah si kecil untuk berekspresi dengan media yang berbeda-beda. Jika selama ini media yang digunakan adalah media yang konvensional, ajaklah si kecil untuk mencoba menemukan cara baru dalam menggunakan suatu media. Dorong si kecil untuk kreatif. Hal ini dapat Anda lakukan salah satunya dengan membacakan sebuah awal cerita, kemudian mintalah si kecil untuk membuat gambar yang menceritakan bagaimana akhir dari cerita tersebut nantinya. Atau, dengan membuat sedikit coretan di kertas, mintalah si kecil mengembangkannya menjadi bentuk yang ia inginkan.

Jangan takut kotor. Dengan bermain kotor si kecil bebas berekspresi tanpa harus dibatasi oleh larangan dan omelan dari orangtuanya yang tak ingin baju, tangan dan wajah si kecil kotor. Yang penting, si kecil membersihkan tubuh sesudahnya dan pastikan kotoran tersebut tidak masuk ke dalam mulutnya.

Jangan hanya memasukkan si kecil ke tempat kursus tanpa mendukungnya dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk si kecil berekspresi juga di rumah. Misalnya, jika si kecil mengambil kursus piano, sediakanlah juga CD musik yang bagus untuk diperdengarkan atau coba dimainkan. Pajang dan dokumentasikanlah hasil karya seninya agar si kecil bertambah rasa pencaya dirinya dan makin terpacu untuk lebih ekspresif dan eksploratif lagi dengan seni.

ibudanbalita.com



Artikel lainnya:




Prev home