Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

7 Cara Memotivasi Anak agar Gemar Belajar

Pemerintah mengatur bahwa anak-anak wajib mengenyam pendidikan formal, baik di sekolah swasta maupun sekolah negeri. Apapun jenis sekolah yang dipilih orangtua sebenarnya tidak selalu menjamin anak akan menikmati waktu belajarnya. Di sinilah tugas Anda untuk menumbuhkan rasa gemar belajar pada sang buah hati.

Rasa bosan dan jenuh belajar pada anak, bisa jadi disebabkan oleh karena proses belajar mengajar yang diterapkan di sekolah terasa kaku dan membebani. Maka dari itu, Anda sebagai orangtua perlu menerapkan kebiasaan dan acara belajar yang lebih santai serta menyenangkan, baik di rumah atau di luar rumah. Tujuannya agar si kecil bisa berkonsentrasi pada mata pelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Seperti dikutip dari Hello Beautiful, berikut tujuh memotivasi keinginan belajar anak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Membantu mempersiapkan kebutuhan sekolah si kecil
Masa awal bersekolah membuat si kecil bersemangat dengan aktivitas baru hariannya tersebut. Tak ayal, membuat mereka lupa untuk membenahi perlengkapan sekolahnya. Sebagai orangtua yang baik, bantulah anak untuk menyiapkan kebutuhan belajarnya di kelas, seperti merapikan buku, mengatur kotak pensil, melengkapi seragam sekolah, dan sepatu. Tujuannya agar pada pagi hari tidak ada keributan dan kerusuhan hanya karena buah hati tidak dapat menemukan topi sekolahnya untuk upacara.

Nah, untuk melatih rasa tanggung jawab dan kemandirian anak, libatkan si kecil saat Anda mempersiapkan kebutuhan sekolahnya. Agar di kemudian hari, mereka bisa melakukannya sendiri.

Jangan pelit memberikan pujian
Orangtua mana yang tidak menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka, tak terkecuali Anda. Namun, jangan menekan dan membebani anak untuk memberikan yang terbaik versi Anda. Saat nilai ujian si kecil di luar ekspektasi Anda, alih-alih memarahinya, berikanlah pujian. Rasa percaya diri pada anak berasal dari penilaian keluarga intinya pada mereka. Melihat reaksi orangtua yang positif akan menumbuhkan keinginan pada dirinya untuk memberikan yang lebih baik untuk Anda.

Memberikan pujian juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang berkesan dan membangkitkan harga diri anak.

Dukung kreativitas anak
Selain pendidikan formal, dukung anak untuk mengembangkan minatnya di bidang lain, seperti bermain musik, menggambar, menari, melatih kemampuan berbahasa internasional, dan sebagainya. Bangun kreativitas anak dan arahkan bakat mereka dengan cara yang layak dan edukatif. Sebab, anak yang kreatif biasanya memiliki jiwa empati dan daya tangkap otak yang lebih baik dibandingkan anak yang pintar hanya berlandaskan teori.

Terapkan demokrasi pada pola asuh anak
Apa yang menjadi minat anak? Biarkanlah mereka membicarakanya pada Anda, dampingi si kecil saat ingin mengeksplorasi talentanya tersebut. Latih anak untuk mengekpresikan keinginannya lewat cara berdiskusi dengan Anda.

Bila Anda merasa masih terlalu dini untuk si kecil beropini, maka Anda telah melakukan kekeliruan. Sebab anak yang terlatih untuk berdiskusi dan mengeluarkan pendapatnya sedari kecil, maka kelak mereka dewasa akan tumbuh sebagai seorang pemimpin yang bijak dan berpikiran terbuka.

Ciptakanlah suasana belajar yang menyenangkan dan santai
Proses belajar tidak harus berada di dalam kelas, bukan? Maka dari itu, tumbuhkanlah rasa ingin tahu yang tinggi dalam diri anak Anda. Biasakan mereka untuk berani bertanya saat tidak mengerti tentang sesuatu, biarkan dia mengeksplorasi dan mencerna jawaban yang Anda berikan sesuai dengan kemampuan berpikir yang mereka miliki.

Tumbuhkan kebiasaan membaca pada anak
Meskipun era teknologi menawarkan penyajian informasi dalam kemasan yang lebih praktis dan instan. Namun, jangan meniadakan kegiatan membaca dalam keluarga Anda. Sebaliknya, aturlah waktu membaca bersama di rumah. Anda dan suami membaca buku pilihan masing-masing, dan anak membaca buku sesuai usianya. Ingat, sebelum anak mengadaptasi kebiasaan dari lingkungan sosial, mereka meniru apa yang dilakukan oleh orangtua terlebih dulu. Maka dari itu, perlihatkan perilaku terpuji dan inspiratif saat bersama si kecil.

Komunikasi yang hangat tanpa beban
Setelah makan malam bersama keluarga, sebelum waktunya belajar, coba biasakan mengajak anak membicarakan soal kegiatannya selama di sekolah dan saat di rumah sewaktu Anda masih berada di kantor. Cara ini dapat membangun rasa percaya anak pada Anda, bahwa lain waktu mereka memiliki masalah, Anda akan menjadi orang pertama yang mereka ajak bicara!

Selamat mencoba!


KOMPAS.com| Penulis: Syafrina Syaaf | Editor: Syafrina Syaaf | Sumber: Hello Beautiful


Artikel lainnya:

Mengenalkan Profesi Orang Tua Kepada Anak

Mengenalkan profesi orang tua kepada anak adalah sesuatu hal yang sangat penting. Selain menambah pengetahuan, ana k juga akan mengerti mengapa orang tua sering meninggalkannya karena disibukkan dengan urusan kerja.

Anak-anak sekarang sudah memiliki wawasan lebih luas mengenai berbagai profesi dibandingkan dengan anak-anak pada jaman dulu yang hanya mengenal profesi dokter atau insinyur saja. Hal ini banyak dipengaruhi oleh teknologi informasi yang diterima anak, utamanya film-film, televisi atau buku-buku komik. Media tersebut banyak mengenalkan anak pada profesi lain, misalnya detektif ataupun polisi.

Mengenalkan profesi orang tua kepada anak sedini mungkin adalah hal yang sangat penting. Mengapa? Karena anak akan mengerti apa pekerjaan orang tua dan konsekuensi akibat pekerjaan itu. Bahwa orang tua sering meninggalkannya untuk beberapa waktu. Selain itu pengetahuan anak juga akan bertambah luas. Ia akan tahu mengapa orang tua harus bekerja, ia juga akan dapat menghargai pekerjaan orang tuanya dan orang lain. Dimasa pertumbuhannya anak juga akan memiliki orientasi masa depan yang ia inginkan sendiri, meski kadang masih berubah-ubah tentunya.

Keuntungan lainnya anak juga akan memiliki persepsi positif terhadap orang tua mereka. Anak tidak akan rewel atau merengek lagi ketika orang tua harus berangkat kerja. Anak-anak yang orang tuanya terutama ibunya bekerja, dan ia telah mengerti akan kondisi tersebut, umunya anak akan menjadi pribadi yang lebih mandiri dan percaya diri.

Pada kasus orang tua yang tidak pernah menjelaskan mengapa orang tua harus bekerja, apa pekerjaan orang tua, waktu bekerja dan apa yang dilakukan orang tua secara detil, akan mempengaruhi psikologis anak, karena anak hanya tahu bahwa orang tuanya pergi bekerja dan seringkali meninggalkannya. Anak akan merasa bahwa orang tuanya tidak memperhatikannya, sehingga anak menjadi seperti kurang perhatian.

Sangat disarankan untuk sekali-kali orang tua terutama ibu mengajak anak ke tempatnya bekerja, jika memang dimungkinkan kondisinya bisa membawa anal-anak. Jika ingin mengajak si kecil ke kantor, tentunya Ibu harus mempunyai persiapan sebelumnya.

Lingkungan kantor adalah hal baru bagi anak. Ibu juga bisa membekalinya dengan sebuah mainan kesukaannya atau bisa juga Ibu membawa makanan kesukaannya. Orang tua juga harus memberikan gambaran tentang situasi di kantor sebelumnya. Mesin-mesin apa saja yang ada di kantor, teman-teman kantor dan lainnya. Pastikan juga toilet trainingnya sudah berjalan baik, sehingga ia akan memberitahu ibunya jika ingin buang air.

Pengenalan profesi ini sebenarnya juga dapat dilakukan oleh para guru di sekolah, utamanya TK atau SD. Pihak sekolah dapat mengundang beragam profesi secara berkala ke sekolah. Kegiatannya dapat dilakukan dengan tanya jawab dan mengenalkan karir dan profesi kepada anak-anak. Cara ini selain dapat memperluas wawasan anak, anakpun akan tahu bagaimana profesi orang tua mereka.

Diharapkan dengan anak mengetahui profesi orang tua anak akan semakin mengerti dan dapat terjalin keakraban yang lebih baik antara orang tua dan anak.

infoduniaanak.com



Artikel lainnya:

Cara Sederhana Stimulasi Anak untuk Bicara

Perkembangan kemampuan berbicara pada diri setiap anak tidaklah sama. Ada anak yang perkembangan berbicaranya cepat, namun ada juga yang lambat dan membutuhkan stimulasi berulang-ulang agar dia mau bicara. Sebagai orang tua, tentunya kita menginginkan yang terbaik untuk anak tercinta. Kita, termasuk dalam perkembangan bicaranya. Dalam berbagai kasus sering ditemui anak yang belum pandai bicara dibanding dengan anak seumurnya, ada juga yang tidak menanggapi ketika diajak berbicara, kasus lain menunjukkan bahwa si anak tidak bicara namun mengerti apa yang dibicarakan orang lain. Kalau sudah begitu orang tua pasti merasa resah dan ingin agar buah hatinya segera mengeluarkan celotehnya. Nah, berikut ini beberapa cara sederhana untuk menstimulasi anak Anda untuk bicara:
  • Pengulangan. Semakin banyak anak Anda mendengar sebuah kata, semakin besar kemungkinan baginya untuk meniru kata tersebut. Jadi, banyak-banyaklah mengulang sebuah kata ketika Anda berbicara dengannya, misalnya ketika Anda ingin mengajaknya bermain bola, katakan kepadanya “Kamu ingin bermain bola?”, sambil Anda menggemgam bolanya dan meletakkannya di hadapan muka dia. Lalu katakan lagi, “Siap-siap ya, ini dia bolanya datang”, sambil Anda menggulirkan bola itu ke arahnya, kemudian katakan lagi “Ayo Sayang, tangkap bolanya!”. Nah, dalam waktu beberapa detik Anda telah mengulang kata “bola” sebanyak tiga kali, bukan? Semakin banyak dia mendengar kata itu, maka akan semakin besar kemungkinan dia untuk meniru dan akhirnya mengatakan kata “bola”. Anda bisa mencoba hal yang lain lagi, intinya di masa awal kehidupannya seorang anak memulai masa belajarnya dengan cara meniru dari orang-orang di sekitarnya, jadi perbanyaklah kesempatannya untuk bisa mendengar kata-kata baru di setiap waktunya.
  • Banyaklah berbicara pada Anak Anda. Katakan setiap hal kepadanya, misalkan di saat pagi, “Hari ini Kita sarapan bubur Ayam ya Sayang”. Di kesempatan lain, misalkan saat Anda dan dia menonton TV, ceritakan apa yang Anda dan dia sedang tonton, kemudian setelah itu ceritakan lagi apa yang baru saja kalian tonton. Kalau bisa, di sepanjang hari yang Anda lalui bersamanya isilah dengan perbincangan mengenai hal apapun yang kalian lalui bersama.
  • Bergantian dalam berbicara. Berbicaralah kepada buah hati Anda, lalu berikan dia waktu untuk gantian berbicara kepada Anda. Jika belum juga berhasil memancingnya berbicara, maka terus ulangi namun dengan situasi yang berbeda-beda, misalkan pada saat kalian bermain atau saat makan tiba.
  • Tatap mata Anak Anda saat berbicara padanya. Saat berbicara pada si buah hati, tataplah matanya sesering mungkin. Dari hal itu, dia akan belajar berbicara dari ekspresi wajah yang Anda tunjukkan. Untuk beberapa anak, hal itu mungkin akan banyak membantu dalam proses belajarnya berbicara.
  • Beri dia pilihan. Misalkan ketika Anda membelikan dia wafer atau keripik, berikan kesempatan kepadanya untuk memilih yang dia inginkan untuk dimakan sambil Anda menyodorkan kedua pilihan tersebut pada anak Anda. Tunjukkan padanya yang mana wafer dan yang mana keripik, terus stimulasi dia untuk bisa menentukan pilihannya.
  • Saat berbicara dengan anak, berikan dia waktu untuk bisa merespon apa yang Anda katakan. Berikan dia kesempatan untuk bisa mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, jika dia mau berusaha, Anda akan melihat usahanya untuk bisa mengatakan sesuatu meskipun yang Anda dengar hanya ocehan, mungkin saja itu sebuah kata darinya. Ingat selalu untuk mengulang-ulang stimulasi yang anda berikan.
  • Bacakan sebuah buku untuk anak Anda dimana ada satu atau dua gambar pada halamannya. Setelah itu, tanyakan kepadanya sebuah pertanyaan yang jawabannya bisa dijawab secara verbal atau dengan menunjuk sebuah gambar. Usahakan untuk tidak terlalu memberikan tekanan padanya untuk bisa menjawab pertanyaan Anda.
  • Berikan anak Anda pujian ketika dia berhasil mengeluarkan sebuah kosa kata dari mulutnya. Hal itu akan membuatnya merasa dihargai meski hanya mengatakan “ba”, dan selanjutnya dia akan lebih berusaha lagi untuk bisa mengeluarkan banyak kosa kata.
  • Cari tahu seberapa jauh orang lain mengerti apa yang anak Anda katakan, dengan begitu Anda bisa mengukur sudah sejauh mana kemajuannya dalam berbicara. Anda juga bisa merencanakan hal-hal apa lagi yang masih perlu dilakukan untuk menstimulasi kemampuannya dalam berbicara.
Tetap tenang dan selalu optimis ya dalam menstimulasi buah hati Anda mengembangkan kemampuan bicaranya. Semoga bermanfaat!

Sumber : informasitips.com


Artikel lainnya:

Putus Mata Rantai Terorisme Sejak dari Anak-anak

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berpendapat, salah satu langkah yang harus dilakukan dalam memutus mata rantai terorisme di Indonesia adalah dengan mencegah sedini mungkin terjadinya paparan ideologi terorisme, sejak dari anak-anak.

“Ketika ada potensi terjadinya indoktrinasi ideologi radikal pada anak, negara harus hadir untuk mencegahnya. Hal ini bagian dari upaya perlindungan anak yang diamanatkan undang-undang,” kata Wakil Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh di Jakarta, Kamis.

Sebagaimana dijelaskan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai beberapa waktu lalu, Farhan, terduga pelaku terorisme di Solo, adalah “darah biru” teroris, yang merupakan anak kandung Sunarto. Pada saat kejadian upaya tindak pidana terorisme oleh Sunarto, Farhan masih berusia 12 tahun, dan kemudian ia memperoleh pendadaran serta pembinaan dari ayah tirinya, Abu Umar.

“Ini artinya BNPT sudah mengetahui potensi terjadinya transfer ideologi terorisme kepada anak, dan BNPT tidak melakukan langkah-langkah konkret untuk mencegahnya hingga kemudian ia menjadi pelaku. Dalam konteks ini berarti ada pembiaran negara terhadap anak yang terindoktrinasi ideologi kekerasan,” katanya.

Menurut Niam, kasus terorisme yang melibatkan pelaku usia remaja tidak mungkin terjadi tanpa adanya indoktrinasi di saat usia anak-anak, baik di lingkungan keluarga maupun di dalam pergaulannya.

Banyaknya kasus pidana yang dikaitkan dengan terorisme oleh pelaku usia muda, kata Niam, menunjukkan kegagalan negara dalam memutus mata rantai terorisme di Indonesia. Untuk itu, perlu ada pendekatan persuasif, dengan program deradikalisasi berbasis pada keluarga.

“Deradikalisasi yang menjadi program kontraterorisme tidak bisa hanya dilakukan pada orang dewasa. Perlu ada terobosan program yang berbasis keluarga, di mana orang tua disadarkan akan tanggung jawab pada anak”, ujarnya.

Program deradikalisasi hendaknya benar-benar diarahkan untuk memutus mata rantai regenerasi jaringan teroris. Salah satu caranya, dengan mencegah anak-anak dari kemungkinan terpapar penyebaran ideologi radikal oleh jaringan teroris. “Banyak tunas baru teroris itu tumbuh saat usia anak atau remaja belasan tahun. Kita harus memutus mata rantai benih tumbuhnya ideologi kekerasan semacam itu sejak dini,” tambahnya. Niam mengungkapkan, persemaian ideologi kekerasan atau terorisme umumnya tumbuh pada masa anak-anak dan remaja. Untuk itu, diperlukan program untuk menyelamatkan kalangan anak dan remaja dari paparan ideologi kekerasan.

“Tindakan itu dimungkinkan oleh negara dan keluarga sesuai Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” katanya.

Jika ada anak-anak atau remaja yang diketahui potensial menjadi bibit radikalis atau teoris, negara dapat mengambil mereka, menjauhkannya dari jaringan teroris, dan mendidiknya dengan pemahaman keagamaan yang moderat.

“Keluarga, terutama orangtua, harus lebih giat memantau perkembangan perilaku dan pendidikan anak. Jika menemukan tanda-tanda perilaku radikal, orang tua mesti menarik anaknya dari jaringan ideologi kekerasan dan menanamkan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan,” katanya.

Lebih lanjut Niam menjelaskan, jika ternyata paparan ideologi menyimpang itu justru dari orang tua, maka negara harus hadir untuk melindungi anak, meski harus memisahkannya dari orang tua.

sehatnews.com

Beban Pelajaran Meningkat, Anak Bisa Sakit Jiwa

Psikiater Prof Dr dr LK Suryani SpKJ berpandangan, dewasa ini terjadi kecenderungan semakin muda usia penderita sakit kejiwaan karena anak-anak tidak siap menerima beban pelajaran di sekolah.

Suryani yang juga pendiri dan Direktur “Suryani Institute for Mental Health” itu di Denpasar, Kamis, mengatakan, berdasarkan hasil penelitiannya dan kunjungan ke tempat praktiknya, sudah ada anak SD yang mengalami gangguan jiwa.

Menurut dia, penyebab terbesarnya karena beban pelajaran sekolah, anak-anak dituntut cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Apalagi ditambah mereka harus belajar di sekolah hingga sore hari.

“Tetapi sayangnya guru tidak mau mendidik, maunya mengajar saja,” ujarnya.

Ia berharap para guru memahami perkembangan mental anak, jangan memaksa belajar, tetapi hendaknya membuat murid TK serta siswa SD dari kelas I sampai III terangsang mempunyai semangat belajar, mau belajar, dan berani berbicara.

“Sekarang terlalu sedikit waktu santai untuk anak-anak, bahkan TK sudah les. Idealnya sampai kelas III tidak ada PR. Bukankah tidak jarang yang mengerjakan PR pembantu dan orang tua agar anaknya tidak malu?” katanya.

Dengan gaya hidup seperti itu, ketika dewasa, mereka umumnya untuk bangun pagi saja harus dibangunkan dan malas ke kantor serta tidak bisa mengurus diri sendiri.

“Di dalam mendidik, seyogyanya guru jangan menganggap anak sudah tahu macam-macam sehingga tidak perlu dididik calistung. Harusnya anak-anak juga diajak menyanyi dan bercerita untuk mengekspresikan emosi,” katanya.

Lewat cerita, lanjut dia, juga untuk memasukkkan nilai baik dan buruk karena para orang tua tidak ada waktu bercerita. Hingga usia 10 tahun adalah masa untuk membuat anak mampu melihat situasi.

“Jika dapat memberikan pendidikan tanpa beban pada anak dan mereka senang, di sanalah akan ada harapan punya masa depan. Kalau orang tua sering ribut apalagi terjadi sejak dalam kandungan, hal itu akan menyulut gangguan jiwa pada anak-anak,” ujarnya.

Di sisi lain, ia melihat kecenderungan para orang tua menuntut agar anaknya paling hebat secara akademis, padahal pandai saja sebenarnya tidak cukup. Justru menjadikan anak mandiri dan kreatif jauh lebih penting. Ia tidak memungkiri, memang jika punya anak kreatif berat, anak akan banyak protes dan nakal.

“Seyogyanya biarkan anak berkembang, belajar apa yang diperlukan anak, dan jangan orang tua justru memaksakan kehendak. Adakan waktu ngobrol saat makan dan sebelum tidur,” kata Suryani.

sehatnews.com


Artikel lainnya:
Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak

Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi

Jangan biasakan anak Anda menonton televisi meskipun masih bayi. Penelitian menyebutkan bayi yang menonton tv cenderung mengalami keterlambatan kognitif dan bahasa di 14 bulan pertama.

Penelitian dari New York University School of Medicine-Bellevue Hospital Center mengatakan bayi yang menonton tv 60 menit setiap hari, memiliki perkembangan tiga kali lebih rendah setelah 14 bulan dibanding yang tidak.

Meskipun perkembangan tersebut masih dalam kisaran normal, perbedaan yang nyata terlihat ketika anak-anak dan orang tua menonton tv bersama. Dalam kondisi ini, mereka kehilangan waktu berbicara, bermain dan berinteraksi untuk pembelajaran dan perkembangan.

Untuk pilihan program acara, penelitian ini juga tidak memberikan nilai plus minus. Meskipun anak menonton program yang berbau pendidikan, orang tua malah menghabiskan waktu sedikit untuk mengajar anak membaca dan sebagainya.

Walaupun anak terbantu belajarnya dengan berbagai macam program pendidikan, pada kenyataannya anak-anak akan lebih mudah memahami sekaligus senang ketika diajarkan langsung oleh orang dewasa. Pengasuh elektronik bukanlah bantuan pendidikan.

"Mengajarkan anak langsung berbicara dan membaca akan membuat anak merasa bergembira saat belajar. Dan penelitian ini sangat memberikan keterbukaan bagi orangtua yang masih enggan mengajar langsung untuk anak-anak mereka," tambah para peneliti.

TRIBUNnews.com




Artikel yang Berhubungan:
Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget Pada Anak
Gadget Sebagai Jawaban Orang Tua Pada Anak
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Dampak Negatif Dari Kecanduan Teknologi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik

Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak

Dalam berbagai kesempatan, saya sering menyampaikan pendapat saya bahwa saya tidak setuju dengan sistem ranking di kelas untuk SD sampai SMU. Makanya anak saya sekolah sekarang di SD yang tidak mengenal sistem ranking. Banyak yang bertanya-tanya dengan sikap atau pandangan saya ini. Entahlah, apakah saya bertentangan dengan mainstream pemikiran yang ada, atau bagaimana, tetapi tentunya saya bersikap demikian bukan tanpa argumen.

Argumennya begini, jika di dalam kelas tersebut ada 4 orang anak, yang satu jago matematika dan fisika sehingga mewakili sekolahnya untuk lomba matematika dan fisika, yang satu jago bikin puisi atau prosa sehingga karyanya banyak dimuat di majalah atau media lainnya, sementara yang satu lagi jago main musik sehingga sudah manggung berkali-kali dalam festival band antar sekolah dan bahkan sudah rekaman walaupun underground, dan yang terakhir jago olah raga, katakanlah bulutangkis, sehingga sudah mewakili sekolah dalam berbagai turnamen dan masuk seleksi atlet berbakat.

Nah, siapakah yang pantas jadi juara kelas dari ke-4 anak di atas ? Bingung 'kan?

Keempat anak di atas pantas jadi juara, di bidang masing-masing. Kita tidak bisa membandingkan mana yang lebih hebat diantara mereka. Mereka tidak bisa dibandingkan, karena bukan apple to apple. Masing-masing mereka memiliki keunggulan kecerdasan.

Jika kita mendalami teori multiple intelligence yang diungkapkan oleh Howard Gardner, maka kita akan memahami bahwa ada beberapa potensi kecerdasan yang terdapat di dalam diri seseorang. yaitu : Bodily-Kinesthetic, Interpersonal, Verbal-Linguistic, Logical-Mathematical, Naturalistic, Intrapersonal, Visual-Spatial, serta Musical. Perkembangan terakhir dari riset Howard Gardner menunjukkan ada kecerdasan lainnya, yaitu : existential, serta moral intelligence.

Pada prinsipnya setiap manusia memiliki kecerdasan yang berkembang, yang pasti tidak sama kadarnya. Bisa jadi ada satu yang sangat dominan, bisa jadi ada beberapa yang dominan, tetapi dalam kadar yang lebih rendah. Jika ternyata kecerdasan yang berkembang dominan pada si anak adalah kecerdasan verbal, dan dia agak kurang di logika-matematika, lalu anda paksakan dia belajar IPA supaya masuk fakultas teknik, padahal si anak ingin masuk fakultas sastra atau ilmu budaya, maka tentu akan terjadi "tabrakan kepentingan" di sini. Anda bisa sewot sama si anak, dan si anak bisa stress. Artinya, pendidikan yang ideal sifatnya harus personal, mengeksploitasi kecerdasan si anak dengan sebaik-baiknya, memfasilitasinya dengan terarah, mengarahkannya, dan tentu saja memberikan dia skill untuk kehidupan.

Jika memang dia lemah dalam belajar matematika, maka bimbinglah dengan perlahan-lahan, jangan sekali-kali membandingkan dia dengan temannya, karena bisa jadi, dia sebenarnya kuat dalam kecerdasan visual, bukan matematika. Bukan berarti kalau dia kuat di kecerdasan visual lalu tidak perlu belajar matematika, bukan begitu. Tetapi kita harus lebih sabar dan telaten dalam membimbingnya dalam matematika, tetapi bisa jadi dia hanya butuh bimbingan yang minimal untuk kecerdasan visual, seperti seni rupa, melukis, atau bahkan desain.

Juga bukan berarti anak yang kuat kecerdasan logika-matematika tidak perlu belajar bahasa. Tetap perlu, tetapi sekali lagi, tentu kita membimbingnya lebih telaten dan sabar dibanding anak yang memang lebih cerdas verbal. Sistem pendidikan yang berlaku saat ini secara umum (tidak berarti semua lho), menempatkan kecerdasan logika-matematika sebagai acuan utama untuk menilai "seseorang itu cerdas".

Dengan demikian, sahabat saya, seorang sutradara film terkenal dan salah satu film-nya mendapatkan pujian luar biasa, tidak termasuk ke dalam kategori "cerdas" di SMA dulu. Sistem yang ada membuat dia tidak termasuk ke dalam kategori "cerdas". Dia memang tidak jago matematika, tetapi dia memiliki kecerdasan tersendiri, yang tidak diakomodasi sebagai suatu kecerdasan oleh sistem yang berlaku saat itu.

Saya yakin, banyak anak-anak yang sebenarnya cerdas (di bidangnya tentunya) tetapi tidak muncul atau tidak terfasilitasi dengan baik, karena sistem yang ada tidak membuat dia masuk kategori cerdas. Bukankah Tuhan itu menciptakan semua manusia itu cerdas ? (kecuali yang memiliki kelainan sejak lahir). Menurut saya, yang paling gawat adalah, karena kita tidak memahami makna kecerdasan ini, maka akhirnya kita tidak mamfasilitasi suatu potensi kecerdasan seorang anak, dan akibatnya hanya tetap tersimpan sebagai potensi, tidak terasah.

Jika kondisi ini terjadi, maka alangkah "berdosanya" kita sebagai guru atau orang tua, karena justru "mematikan" suatu potensi kecerdasan yang dahsyat .... Buat saya, karena anak itu memiliki kecerdasan tersendiri, maka tugas kita sebagai orang tua adalah mengarahkan dan memfasilitasi semampunya, dan jangan sekali-kali memaksakan sesuatu.

Kita harus memahami kelebihan dan kekurangannya, dan menyesuaikan strategi kita dalam membimbingnya ... itulah tugas kita sebagai orang tua .... mulai dari memahami si anak itu sendiri ... :) .

ngerumpi.com



Artikel yang berhubungan:

Melatih Motorik Halus

Kegiatan motorik halus sebaiknya sudah diperkenalkan kepada anak-anak usia prasekolah. Tentu saja hal ini seiring dengan kegiatan motorik kasarnya. Mengapa hal ini perlu dilakukan? Sebab kegiatan motorik halus merupakan langkah awal bagi pematangan dalam hal menulis dan menggambar.

Anak-anak memerlukan persiapan yang matang sebelum mereka bersekolah, sehingga kelak diharapkan mereka mampu menguasai gerakan-gerakan yang akan dilakukan nantinya pada saat bersekolah.

Sudah menjadi ciri khas, hampir semua anak memiliki sifat ingin tahu yang tinggi, memiliki imajinasi yang alami, serta kreatif. Anak-anak akan beradaptasi dan merespon dengan cepat ketika mereka berinteraksi dengan orang-orang atau benda yang ada dilingkungannya. Mereka sangat tertarik dengan berbagai hal, seperti bagaimana sesuatu bekerja atau mengapa sesuatu terjadi sebagaimana sesuatu itu terjadi.

Definisi
Apa sebetulnya yang dimaksud dengan keterampilan motorik halus? Keterampilan motorik halus (fine motor skills) adalah aktivitas-aktivitas yang memerlukan pemakaian otot-otot kecil pada tangan. Aktivitas ini termasuk memegang benda kecil seperti manik-manik, butiran kalung, memegang sendok, memegang pencil dengan benar, menggunting, nelipat kertas, mengikat tali sepatu, mengancing, dan menarik ritsleting. Aktivitas tersebut terlihat mudah namun memerlukan latihan dan bimbingan agar anak dapat melakukannya secara baik dan benar.

Keterampilan Motorik Halus
Keterampilan motorik halus ternyata memang harus melalui proses latihan yang rutin, berkelanjutan dan tepat sasaran. Hal ini bisa dibuktikan karena tidak semua anak pandai menggerakkan tangannya, misalnya ada seorang anak yang kesulitan ketika ia akan memegang sebuah bola pimpong, bola tersebut selalu lepas ketika akan diraihnya, tetapi ada anak lainnya dengan begitu mudah memegangnya.

Mengapa ada anak yang mengalami kesulitan dalam keterampilan motorik halus? Hal ini juga diakibatkan karena pesatnya kemajuan teknologi. Adanya permainan melalui video games atau komputer telah menyebabkan anak-anak kurang menggunakan waktu mereka untuk permainan yang memakai motorik halus. Tentu saja hal ini dapat menyebabkan berkembangnya otot-otot halus pada tangan mereka kurang berkembang. Keterlambatan perkembangan otot-otot ini berdampak pada anak yang mengalami kesulitan menulis ketika mereka mulai masuk sekolah. Beberapa anak menunjukkan keterlambatan dalam kemampuan motorik halus karena keterlambatan tumbuh kembang atau diagnosa medik seperti down syndrome atau cerebral palsy (cacat mental).

Cara Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak
Melatih anak dengan berbagai kegiatan yang positif seperti menggambar dan mewarnai merupakan salah satu cara meningkatkan keterampilan motorik mereka. Beberapa keterampilan tangan yang penting bagi anak untuk dikembangkan adalah :
  1. Mampu melengkungkan telapak tangan membentuk cekungan (palmar arching)
  2. Menggunakan jari telunjuk dan jempol untuk memegang suatu benda, sambil menggunakan jari tengah dan jari manis untuk kesetabilan tangan mereka (hand side separation).
  3. Membuat bentuk lengkung dengan jempol dan telunjuk (open web space)

Aktivitas-aktivitas untuk Mengembangkan Keterampilan Motorik Halus Anak

Vertical Surfaces (permukaan vertikal)
Melalui latihan pada permukaan vertikal akan membantu mengembangkan otot-otot kecil pada tangan dan pergelangan, sekaligus otot-otot yang lebih besar (motorik kasar) pada lengan dan punggung. Otot-otot yang besar diperlukan untuk membantu kestabilan sementara melakukan tugas motorik halus. Menggambar dan mewarnai pada papan tulis atau sepotong kertas yang ditempel di dinding adalah cara yang paling mudah untuk menggunakan permukaan vertikal. Aktivitas lain misalnya menggambar dan bermain dengan odol/krim cukur pada ubin di kamar mandi pada saat mandi, ‘menggambar’ pagar rumah dengan air dan kuas, atau mencopot dan memasang magnet pada kulkas.

Merobek dan Meremas
Melalui latihan merobek dan meremas kertas dapat membantu mengembangkan otot halus pada tangan, yang juga digunakan untuk menulis. Buatlah anak merobek kertas koran atau kertas bekas dengan jari-jarinya dan meremasnya menjadi bola-bola untuk membuat prakarya (misalnya orang-orangan, boneka beruang), atau sekedar melemparnya masuk ke dalam kaleng sampah. Setelah mereka bisa membuatnya, perintahkan mereka untuk meremas kertas hanya dengan satu tangan. Terakhir, buatlah anak meremas kertas tisu menjadi bola kecil hanya dengan menggunakan ujung jari. Tempelkan bola-bola tisu ini pada papan untuk membuat suatu gambar.

Anda bisa juga melakukan dengan permainan yang berbeda, misalnya suruh anak-anak tersebut merobek kertas berwarna atau kertas tisu, lalu minta mereka menempelkan potongan kertas tersebut menggunakan lem pada berbagai material untuk membuat gambar mosaik (gambar yang terbentuk dari potongan-potongan kertas berwarna-warni).

Menggambar dan Mewarnai
Sering kali terjadi anak-anak diminta untuk menggunakan pensil, krayon, dan marker padahal tangan mereka belum siap menggunakan alat-alat tulis tersebut. Tentu saja hal ini bisa menyebabkan pembelajaran memegang pensil dengan cara yang tidak efisien, yang pada akhirnya menjadi masalah.

Agar anak-anak bersemangat belajar memegang alat tersebut dengan benar, berilah mereka alat-alat tulis yang bisa membantu perkembangan keterampilan motorik halus. Misalnya, crayon yang pendek (tidak lebih dari 5 cm panjangnya), akan membuat anak menggunakan keterampilan tangannya dari pada seluruh tangan. Kapur tulis berbentuk bulat telur akan membuat anak menggunakan teknik open web space (lihat di atas). Terakhir, menggambar dan mewarnai pada permukaan vertikal akan menempatkan pergelangan tangan pada sudut yang tepat untuk membentuk palmar arching.

Beberapa Kesalahan yang Kerap Kali Menghancurkan Kepribadian Anak Anda

Sering kali sebagai orang tua kita tidak sadar telah melakukan berbagai hal yang menurut kita akan bisa mendidik anak dengan sebaik-baiknya, akan tetapi pada hakikatnya bisa menyebabkan kerugian pada anak di masa dewasanya. Oleh sebab itu, sebagai seorang ibu hendaklah kita berusaha dengan baik untuk tidak melakukan hal-hal yang sebenarnya merupakan cara pendidikan yang salah pada anak.

Di antara kesalahan mendidik itu di antaranya adalah:
1. Kekakuan dan kekerasan dalam mendidik anak
Para ahli pendidikan memasukkannya dalam hal-hal yang membahayakan bagi anak jika hal ini sering dilakukan. Maka sikap bersabar dituntut dalam mendidik anak anda. Seringkali kekerasan dan perlakuan kaku dari orang tua tidak menambah kecuali problem-problem baru. Masalah yang muncul akan semakin besar apabila perlakuan kekerasan itu tidak hanya berupa ucapan tetapi meningkat menjadi pukulan! Kadang sikap keras ini tidak membuahkan pada diri anak kecuali hilangnya perasaan aman dan rasa percaya diri. Yang bertambah justru ketakutan terhadap orang tua yang harusnya tidak harus ( baca:tidak perlu) ada pada diri anak.

2. Perhatian dan toleransi yang berlebihan
Metode ini tidak kalah bahayanya dari sikap keras dan kaku dalam mendidik anak. Sikap ini akan menjadikan anak (merasa) tidak mampu untuk melakukan kegiatan-kegiatan bersama teman-temannya, dan apabila sikap ini berlanjut hingga usia remaja dikhawatirkan anak tidak akan sanggup mengemban tanggung jawab dalam kehidupannya. Hal ini dikarenakan dia belum pernah merasakan pendidikan yang mencukupi untuk menjadi bekal di perjalanan hidupnya. Akan tetapi hal ini tidak berarti orang tua harus menghilangkan sikap perhatian terhadap anak. Yang dituntut adalah sikap pertengahan dalam segala hal. Seperti juga sikap keras juga kadang harus diterapkan, jadi semuanya tergantung kebutuhan, kondisi dan orang tua perlu juga menyelami karakteristik anak.

3. Tidak adanya konsisten dalam melaksanakan peraturan
Anak-anak perlu dikenalkan dengan kedisiplinan dalam menegakkan peraturan yang telah ditetapkan dalam berbagai lingkup, yang diawali dengan peraturan dalam keluarga. Hal mendasar yang harus dilakukan oleh orang tua adalah konsistennya orang tua dalam melaksanakan peraturan yang telah ditetapkannya. Mengapa? Karena anak-anak tidak akan menaati peraturan dalam rumah apabila orang tuanya sendiri tidak menaatinya. Maka ketika terkadang orang tua mengeluhkan anak-anaknya yang tidak patuh kepada mereka atau peraturan dalam rumah, mereka hendaknya mengevaluasi diri mereka dulu. Bisa jadi orang tua secara tidak sadar melanggar peraturan rumah dan anak-anak melihatnya, maka mereka pun merasa berat untuk menaati. Dalam hal ini maka sikap hati-hati orang tua dalam menetapkan peraturan rumah sangatlah penting. Juga diperlukan saling membantu mengingatkan antara suami dan istri jika salah satunya secara tidak sadar melanggar aturan dalam rumah agar tidak terus-menerus dan berdampak buruk bagi anak.

4. Pilih kasih antar saudara
Terkadang orang tua melakukan hal ini dalam keseharian, mereka melebihkan anak yang satu di atas anak yang lain, entah karena kepandaiannya, fisiknya yang baik atau karena dia laki-laki. Tidak adanya rasa adil antar saudara akan menyebabkan perasaan benci anak kepada saudaranya. Memang tidak bisa dipungkiri dalam hati ada perasaan lebih kepada salah satu anak. Akan tetapi hal ini harusnya tidak boleh ditampakkan dalam keseharian terlebih ketika anggota keluarga sedang berkumpul. Maka sikap yang baik adalah berusaha menampakkan sikap adil terhadap semua anak.

Sebenarnya masih banyak lagi kesalahan-kesalahan dalam pendidikan anak yang sebagian kita tidak mengetahuinya. Memang benar kata orang bahwa belajar menjadi guru (patut diingat bahwa orang tua adalah guru pertama bagi anak) adalah merupakan siklus yang tidak berujung. Selamat menjadi guru sukses!

pondokibu.com



Artikel yang Berhubungan:
Kebersamaan Antara Anak dan Orang Tua
Kiat Menanamkan Disiplin Pada Anak
Mendidik Anak Tanpa Kekerasan
Awas! Memukul Anak Bisa Bikin Perilakunya Makin Buruk
Menjadikan Anak Taat Kepada Orang Tua Tanpa Menghukum
Memahami Dunia Emosi Anak
Dampak Perilaku Orang Tua Kepada Anak
Tolong Jangan Katakan Hal Ini Pada Anak Anda

Belajarlah Dengan Cara Menyenangkan Glenn Doman

Karena balita senang belajar apa saja, ia pun akan senang belajar membaca. Belajar membaca pada bayi menstimulasi perkembangan visualisasinya. Perlu Ibu Bapak pahami bahwa yang diartikan belajar membaca pada bayi adalah menstimulasi indera visualisasinya. Bukankan sampai berusia 12 bulan, buah hati Anda hanya mengeluarkan bunyi-bunyian? Ketika Anda akan mengajari bayi Anda yang baru lahir membaca maka intinya adalah menstimulasi penglihatan atau visual stimulation.

Begitu lahir seorang bayi hanya bisa melihat terang dan gelap. Bayi yang baru lahir belum bisa melihat suatu bentuk. Dalam jam-jam pertama kehidupannya, dia mulai bisa melihat secara samar suatu bentuk dalam periode yang singkat. Pada masa ini orang tua sangat berperan untuk meningkatkan kemampuan penglihatan bayi dengan berbagai stimulasi. Semisal memperlihatkan benda-benda dengan warna-warni yang menyolok.

Untuk menstimulasi penglihatan ini, orang tua bisa memperlihatkan bentuk kata-kata pada bayi dengan huruf-huruf besar. Dengan stimulasi yang terus-menerus bayi Anda akan terstimulasi untuk mengembangkan kemampuan melihat secara detil. Kemampuan ini adalah hasil stimulasi dan kesempatan bukan masalah genetika.

Ketika Anda memperlihatkan karton yang berisikan kata-kata tunggal dengan huruf-huruf besar, Anda sebenarnya sedang menumbuhkan daya penglihatannya. Stimulasi visual memiliki banyak keuntungan, antara lain meningkatkan keingintahuan, konsentrasi, dan kemampuan memperhatikan objek tertentu.

ibudanbalita.com



Artikel lainnya:

Mendidik Balita Agar Aktif Secara Sosial

Sebentar lagi balita Anda akan memasuki pre-school dan merasakan pengalaman bersekolah untuk pertama kalinya. Dia akan memulai untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya, bukan hanya dengan anggota keluarganya. Karena itu Anda perlu mengetahui cara mendidiknya agar ia pun aktif secara sosial.
Seorang anak balita tidak mampu bersosialisasi seperti kita yang sudah dewasa. Di usia yang sangat dini ini, sebagian besar anak belum mempunyai empati yang cukup untuknya bermain secara harmonis di dalam grup. Bagi kebanyakan balita, satu hal yang paling penting baginya adalah dirinya sendiri. Ditambah lagi, balita masih belum mengerti dengan jelas mengenai hal yang benar dan salah, belum bisa bersopan-santun dan pada dasarnya belum bisa mengendalikan diri.

Tetapi, untuk beberapa tahun ke depan, ia dapat belajar untuk berbagi dan bekerjasama, belajar peka akan perasaan orang lain, menyelesaikan pertengkaran dengan kata-kata dan bukan dengan perilaku yang agresif, pendeknya, mereka akan mampu untuk berteman.

Anda bisa membantu mereka mencapai titik ini dengan melakukan hal-hal berikut ini:

Mengajarkan rasa percaya diri.
Anak-anak harus menyukai dirinya sendiri sebelum mereka dapat membuka diri kepada orang lain.

Berteman dengan balita Anda.
Kesempatan pertama balita Anda untuk berteman adalah dengan orang tuanya. Di setiap saat Anda bersamanya, ingatlah untuk mencontohkan perilaku sosial yang benar. Ajarkan ia untuk berbagi, ajarkan ia untuk berkata, “Boleh tidak?” bila ia hendak melakukan atau mengambil sesuatu, ajarkan ia untuk berterima kasih, Mengobrollah dengan dia dan siapkan ia untuk beradaptasi dengan situasi sosial yang akan ia hadapi di kemudian hari.

Bermain dengan anak lain.
Lebih mudah bagi kebanyakan balita untuk bersosialisasi dengan hanya satu orang anak lain. Anda bisa mengatur agar si Kecil bisa bermain dengan anak teman Anda, atau sepupunya, terutama bila anak Anda mempunyai kesulitan bergaul dengan grup yang besar. Tetapi, jangan memaksanya untuk bergaul bila ia belum siap; selain tidak adil untuknya, hal ini juga bisa menyebabkan ia untuk berotak.

Ajarkan permainan secara grup.
Ada beberapa aktivitas yang mendukung kebersamaan dibanding individualisistis, seperti permainan petak umpet, membangun balok, permainan bola, dan permainan lain yang mengharuskan anak-anak untuk bergiliran dan memberikan pengalaman yang mereka butuhkan untuk memupuk persahabatan.

Bersikap netral dan awasi dia dari dekat.
Karena balita masih seringkali tidak bisa ditebak dan emosional, saat ia mulai bergaul, Anda perlu mengawasinya. Anda tidak perlu terlibat dalam pergaulannya tetapi Anda harus menjaga bila tiba-tiba terjadi konflik. Anda juga harus bisa bersikap netral dan tidak selalu memihak anak Anda. Terima gaya bergaul anak Anda. Setiap balita, seperti juga orang dewasa, mempunyai pendekatan yang tersendiri dalam bergaul. Ada yang lebih senang bermain dengan grup besar, ada yang lebih senang bergaul dengan satu-dua teman saja. Tetapi ada juga yang cuma lebih senang mengamati dari jauh dan tidak mencoba bergaul dekat. Semuanya tidak apa-apa.

Berikan banyak kesempatan untuk berlatih.
Anak-anak yang memulai pergaulan pada umur yang lebih awal (berasal dari keluarga besar, biasa bermain dengan anak tetangga, dsb) akan lebih mudah untuk bersosialisasi. Bila anak Anda belum mempunyai pengalaman ini, Anda bisa mengaturkan grup bermain baginya, atau Anda juga bisa membiasakan dia bermain dengan sepupu-sepupunya terlebih dahulu.

Jangan memaksa.
Bila Anda memaksanya untuk bersosialisasi, Anda tidak membantunya untuk berteman, sebaliknya ini bisa membuat ia menjadi anti sosial. Seiring dengan waktu, anak Anda akan mengerti sendiri bahwa bermain dengan teman sebayanya adalah sangat menyenangkan.

ibudanbalita.com



Artikel lainnya:

Rokok Berdampak Pada Pendidikan Anak

Studi baru menunjukkan bahwa anak-anak yang orangtuanya perokok cenderung lebih sering bolos sekolah ketimbang teman mereka yang orangtuanya bukan perokok. Ini disebabkan tingkat infeksi saluran pernafasan terhadap anak-anak dengan orang tua perokok.

Berdasarkan survei nasional, para peneliti menemukan hampir 3.100 keluarga yang perokok menyebabkan anak mereka melewatkan setengah semester tidak sekolah. Karena itu, Dr Douglas E. Levy dan rekan-rekannya dari Rumah Sakit Umum Massachusetts menyarankan para orangtua untuk berhenti merokok.

Para ahli kesehatan sudah merekomendasikan bahwa anak-anak harus terlindung dari asap rokok, yang dapat meningkatkan risiko infeksi pernapasan seperti bronkitis dan pneumonia, asma parah dan sindrom kematian bayi mendadak.

"Dampak kesehatan bagi yang hidup dengan perokok mungkin lebih besar, karena paparan asap yang disebabkan rokok," kata Levy, sebagaimana dilansir dari reuters.

Para peneliti juga memperkirakan absensi sekolah terkait dengan kemampuan orang tua perokok dalam membiayai sekolah anak mereka. "Karena hampir separuh dari rumah tangga perokok dalam penelitian kami memiliki pendapatan rendah," kata Levy.

Secara keseluruhan, para peneliti menulis, hasil ini menggambarkan sejauh mana dampak tembakau pada anak dan kesejahteraan keluarga, menyoroti kelemahan akademik dan beban keuangan dalam keluarga di mana orang tua merokok.
(Ghiboo)



Artikel yang Berhubungan:
Rokok, Racun yang Digemari
Ayah Perokok Harus Hati-hati Kalau Gendong Anak
Rokok Sumber Penyebab Dari Berbagai Penyakit
Sayang Anak? Berhentilah Merokok!
Cara Efektif untuk Berhenti Merokok
Bayi Tidak Boleh Tidur dengan Perokok

Membuat Anak Suka Belajar

Sebagai orang tua tentu mengharapkan yang terbaik bagi putra putrinya. Berikut ini tips yang sangat menentukan dan efektif agar anak fokus/suka belajar:
  1. Suasana yang menyenangkan adalah syarat mutlak yang diperlukan agar anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.
  2. Membuat anak senang belajar adalah jauh lebih penting daripada menuntut anak mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.
  3. Kenali tipe dominan cara belajar anak, apakah tipe AUDITORY (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), VISUAL (melihat) ataukah KINESTHETIC (fisik). Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak nantinya akan membuat anak tidak mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga anak tidak berkembang dengan maksimal.
  4. Belajar dengan jeda waktu istirahat setiap 20 menit akan jauh lebih efektif daripada belajar langsung 1 jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.
  5. Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi sangat antusias dan semangat untuk belajar jika isi/materi yang dipelajari anak sesuai dengan perkembangan anak. Anak akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya anak akan menjadi stress dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit.

Bakat dan Minat

Belajar ataupun bekerja pada bidang-bidang yang diminati terlebih lagi didukung dengan bakat serta talenta yang sesuai, akan memberi semangat dalam mempelajari atau menjalaninya. Tapi seringkali remaja memilih suatu jurusan atau bidang studi karena terbawa dan ikut teman-temannya, atau memilih bidang yang sedang popular, tanpa sempat mencerna terlebih dahulu dan memahami bidang yang akan dipelajari, menjadi apa setelah selesai sekolah ataupun lebih jauh lagi mengenali bidang pekerjaan seperti apa yang akan digelutinya sesuai dengan latar belakang pendidikannya tersebut.

Mengembangkan bakat dan minat bertujuan agar seseorang belajar atau dikemudian hari bisa bekerja di bidang yang diminatinya dan sesuai dengan kemampuan serta bakat dan minat yang dimilikinya sehingga mereka bisa mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja secara optimal dengan penuh antusias.

Pengertian Bakat
Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus. Sehubungan dengan cara berfungsinya, ada 2 jenis bakat, yaitu:
  1. Kemampuan pada bidang khusus. Misalnya bakat musik, melukis, dll.
  2. Bakat khusus yang dibutuhkan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan khusus, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) dibutuhkan untuk merealisasi kemampuan di bidang teknik arsitek.
Bakat bukanlah merupakan sifat tunggal, melainkan merupakam sekelompok sifat yang secara bertingkat membentuk bakat. Bakat baru muncul bila ada kesempatan untuk berkembang atau dikembangkan. Sehingga mungkin saja seseorang tidak mengetahui dan mengembangkan bakatnya sehingga tetap merupakan kemampuan yang latent.

Minat
Menurut John Holland, minat adalah aktivitas atau tugas-tugas yang membangkitkan perasaan ingin tahu, perhatian, dan memberi kesenangan atau kenikmatan. Minat dapat menjadi indikator dari kekuatan seseorang di area tertentu di mana dia akan termotivasi untuk mempelajarinya dan menunjukkan kinerja yang tinggi. Bakat akan sulit berkembang dengan baik apabila tidak diawali dengan adanya minat pada bidang yang akan ditekuni.

Bakat
Metode analisa sidik jari dari UNIQUE bertujuan membantu memberikan gambaran mengenai bakat/pontensi genotif seseorang untuk kemudian merencanakan dan membuat keputusan mengenai pilihan pendidikan atau pekerjaan. Hasil analisa seidik jari tidak untuk memvonis atau menentukan secara mutlak jurusan sekolah atau pekerjaan yang harus dijalani. Namun dari hasil analisa sidik jari, kita hanya sebatas memperoleh saran untuk memilih jurusan dan pekerjaan, karena 2 hal tersebut memerlukan observasi secara langsung dengan memperhatikan faktor minat juga.

Setiap orang mempunyai potensi tertentu, masing-masing dalam bidang dan derajat yang berbeda-beda. Guru, orang tua, pembimbing perlu mengenal potensi anak-anaknya sehingga dapat memberikan pendidikan dan menyediakan pengalaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Mengembangkan Bakat dan Minat Remaja
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa. Pada periode ini anak mencapai kematangan fisik dan diharapkan pula disertai dengan kematangan emosi dan perkembangan sosialnya. Karena masa peralihan maka remaja pada umumnya masih ragu-ragu akan perannya dan menimbulkan krisis identitas. Dalam usaha menemukan jati dirinya dalam arti mengetahui kebutuhan-kebutuhan pribadi serta tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya, maka pengembangan bakat dan minat remaja sangat penting. Dan dalam mengembangkan kompetensinya remaja tetap membutuhkan bimbingan dari orang tua dan lingkungan rumah maupun sekolah.

Yang perlu dilakukan orangtua, guru atau lingkungan untuk mengembangkan bakat dan minat anak:
  1. Sejak usia dini cermati berbagai kelebihan, ketrampilan dan kemampuan yang tampak menonjol pada anak.
  2. Bantu anak dalam meyakini dan fokus pada kelebihan dirinya.
  3. Kembangkan konsep diri positif pada anak.
  4. Perkaya anak dengan berbagai wawasan, pengetahuan, serta pengalaman di berbagai bidang.
  5. Usahakan berbagai cara untuk meningkatkan minat anak untuk belajar dan menekuni bidang-bidang yang menjadi kelebihannya.
  6. Tingkatkan motivasi anak untuk mengembangkan dan melatih kemampuannya.
  7. Stimulasi anak untuk meluaskan kemampuannya dari satu bakat ke bakat yang lain.
  8. Berikan penghargaan dan pujian untuk setiap usaha yang dilakukan anak.
  9. Sediakan fasilitas atau sarana untuk mengembangkan bakat anak.
  10. Dukung anak untuk mengatasi berbagai kesulitan dan hambatan dalam mengembangkan bakatnya.
  11. Jalin hubungan baik antara orang tua, guru, dengan anak atau remaja.

Hal-hal yang perlu dicermati dalam mengembangkan bakat dan minat remaja, yaitu:

a. Mengikuti minat teman.
Usia remaja adalah masa perkembangan yang ditandai dengan solidaritas tinggi terhadap teman-teman sebayanya. Remaja kurang memahami siapa dirinya, memiliki kebutuhan yang besar untuk berada dan diakui dalam kelompoknya. Hal ini seringkali membuat remaja mengikuti minat temannya, memilih bidang yang sebenarnya kurang sesuai dengan bakat dan minatnya. Untuk memilih bidang-bidang yang akan dikembangkannya, remaja perlu berdiskusi, mencari masukan dan bertukar pikiran dengan orang tuanya.

b. Penelusuran bakat dan minat secara dangkal.
Memperhatikan bakat dan minat anak membutuhkan usaha yang serius dan berkesinambungan. Tes bakat pada umumnya memadukan kemampuan intelektual ataupun ketrampilan dengan bakat dan minat yang dimiliki seseorang. Kemampuan tinggi tanpa didukung oleh minat akan membuat anak bisa berhasil dalam pendidikannya akan tetapi antusiasme untuk mempelajarinya kurang tinggi minat dan bakat yang tinggi di suatu bidang tanpa didukung kemampuan akan membuat seseorang membutuhkan tenaga dan usaha ekstra keras untuk mencapainya. Selain hal tersebut tentunya di manapun seseorang belajar dan bekerja dibutuhkan motivasi belajar, daya juang dan ketekunan.

Banyak orang tidak selalu mudah menemukan bakat dan minat yang tepat, karena beberapa hal:
  1. Siswa belum secara sengaja menjajagi kemampuan, bakat serta minatnya.
  2. Kurangnya wawasan bidang studi atau lapangan pekerjaan yang ada.
  3. Tidak ada masukan dari lingkungan mengenai kelebihan dalam kemampuan atau bakatnya.
  4. Siswa belajar tanpa tahu kegunaan dan tujuan dari bidang studi yang dipelajarinya.
  5. Bidang yang diminati dan bakat yang dimiliki bervariasi.
  6. Bakat yang ada belum terasah atau kurang mendapat kesempatan untuk dikembangkan sehingga tidak nampak.
  7. Perasaan tidak mampu atau tidak berbakat dari pribadi yang bersangkutan ataupun dari lingkungannya.

Seseorang bisa mengenal bidang studi atau pekerjaan tertentu karena:

a. Memperoleh informasi mengenai berbagai bidang studi atau pekerjaan.
Membuka wawasan anak dengan mencari atau memberi informasi, misalnya membawa anak dalam lingkungan orang tua membuat anak tahu dan kenal bidang yang digeluti orang tua. Terlebih lagi ketika orang tua menceritakan berbagai hal positif mengenai lingkup kerjanya, manfaatnya untuk orang lain ataupun lingkungan, akan membawa anak untuk menjadi ahli kimia.

b. Berkaitan dengan pelajaran di sekolah.
Misalnya seorang anak tertarik di bidang kimia karena gurunya mengajar kimia sedemikian menariknya sehingga dia memutuskan untuk menjadi ahli kimia. Seorang siswa SMA berniat masuk Fakultas Kedokteran akan tetapi pada saat dia akan mendaftar dia bahwa Bioteknologi masa kini sedang populer dan menarik, dan setelah mencoba menjajagi dia kemudian memilih bioteknologi dan berhasil berprestasi dengan baik karena suka.

c. Secara kebetulan atau tidak sengaja mendapat informasi.
Jadi manusia memiliki banyak kemampuan dan bakat yang masih merupakan potensi namun hanya sedikit sekali dari kemampuan tersebut teraktualisasi.

Anda dapat mengetahui lebih lagi mengenai Bakat/Talenta, Potensi dan Keunikan Anda lewat analisa sidik jari. 
    


Artikel yang berhubungan:

Memilih Sekolah Untuk Anak

Memang untuk mengenalkan bahasa kedua sebaiknya anak-anak sudah menguasai bahasa ibunya dulu dengan baik supaya tidak terjadi kebingungan bahasa. Biasanya memang anak-anak yang belajar membaca dengan dua bahasa secara bersamaan mengalami kebingungan pada awalnya. Tetapi biasanya bisa dikejar jika mengajarkan membaca dengan satu bahasa dulu secara konsisten. Begitu dia bisa, kemampuan membaca bahasa keduanya akan segera menyusul.

Anak yang belum bisa berbicara bukan berarti dia tidak mengerti apa yang orang dewasa sampaikan, mungkin ia hanya belum bisa mengekspresikan kebutuhan, perasaan, atau pikirannya melalui bahasa. Jadi ia bisa saja mengikuti kegiatan kelas dengan baik walaupun belum bisa berespon melalui bahasa. Karena sekolah dapat membantu orang tua untuk menstimulasi kemampuan berbahasa anak, maka orang tua akan mendapatkan manfaatnya dengan menyekolahkan anak. Tentu saja dengan syarat orang tua memilih sekolah yang memperhatikan tahapan perkembangan anak.

Untuk mengetahui kualitas sekolah yang baik orang tua harus melihat apakah sekolah:

1. Memperhatikan kebutuhan psikologis mendasar anak secara umum.
Contohnya, kebutuhan anak untuk merasa mampu, misalnya:
Apakah sekolah tersebut memberikan kesempatan bagi anak untuk menampilkan kebisaan si anak.
Apakah sekolah memberi kesempatan kepada anak untuk mengikuti kompetisi meskipun ia tidak berprestasi.

2. Dapat memenuhi kebutuhan individual anak.
Sekolah yang seperti ini biasanya melakukan pembedaan cara pengajaran, misalnya:
Memberikan tugas yang lebih sulit untuk anak yang sudah lebih advanced.
Menerangkan dengan menggunakan alat bantu gambar untuk anak yang memiliki gaya belajar visual.

3. Sekolah yang dapat membantu pencapaian tujuan jangka panjang orang tua untuk anaknya.
Artinya sekolah harus memiliki nilai-nilai yang sama dengan orang tua, misalnya:
Jika orang tua menginginkan anak memiliki kemandirian apakah sekolah tersebut melakukan hal-hal yang bisa membuat anak mandiri atau selalu membantu anak dalam melakukan segala sesuatu sehingga tidak melatih kemandirian anak.
Apabila orang tua menganggap agama sangat penting bagi anak, maka sekolah tersebut harus mengajarkan nilai-nilai agama dengan benar.

4. Sekolah yang memiliki tujuan pendidikan yang sama dengan orangtua
Kembali lagi lihat visi dan misi sekolah, seperti:
Apakah sekolah tersebut bertujuan menciptakan anak-anak dengan nilai tes yang bagus.
Membentuk anak-anak yang memiliki kemampuan belajar (seperti kemampuan analisa, riset, penyelesaian masalah) sehingga dapat menjadi pembelajar mandiri.

Berikut yang perlu diperhatikan ketika melihat situasi sekolah:
  1. Pengaturan meja dan kursi. Yang baik adalah apabila ada ruang yang cukup untuk anak bergerak, ruang untuk berkumpul dan bisa terjadi interaksi dengan baik antara guru-murid
  2. Dinding. Perhatikan apakah lebih banyak poster-poster atau gambar-gambar yang ada di "pasaran" atau hasil karya siswa. Sekolah yang memperhatikan perbedaan individual biasanya tercermin dari hasil karya siswanya yang beragam. Sekolah yang melatih kemandirian akan membiarkan anak-anaknya melakukan tugasnya sendiri jadi hasil karyanya juga tidak terlalu "sempurna", tapi memang benar-benar dilakukan oleh anak-anak
  3. Siswa. Perhatikan wajah siswa, apakah merea bersemangat dan sibuk mengerjakan tugas atau melakukan kegiatan.
  4. Guru. Hubungan guru-anak seharusnya hangat dan tulus, tidak bersifat mengendalikan dan memerintah.
  5. Sekitar sekolah. Suasana sekolah yang menyenangkan dan membuat orang "betah" untuk menghabiskan waktu, memiliki perpustakaan sekolah yang cukup lengkap, staf dan guru yang ramah terhadap semua pengunjung dan siswa.

Ini semua bisa dilihat dari pada saat kunjungan ibu ke sekolah. Selain berbicara dengan kepala sekolah, sempatkan untuk berbicara dengan guru, murid, atau mungkin orang tua lain yang ada di sekolah.

Sekolah ideal adalah sekolah yang memperhatikan perkembangan anak dan perbedaan individual. Sehingga kebutuhan anak kita bisa terpenuhi. Rasio guru murid yang ideal untuk anak usia 4-5 tahun berkisar 1:7 sampai 1:12. Jadi yang paling ideal adalah 2 guru untuk 20 murid.

Untuk jam belajar sebenarnya yang perlu diperhatikan adalah sesi-sesi yang ada di dalam kelas dan durasi setiap sesi. Dalam satu sesi guru juga tidak bisa terlalu lama karena kemampuan konsentrasi anak juga masih terbatas. Untuk usia 4-5 tahun anak bisa berkonsentrasi sekitar 12-15 menit. Di dalam satu hari anak perlu mendapat waktu istirahat dan bermain diluar yang cukup, karena pada usia ini mereka membutuhkan kegiatan yang banyak bergerak.

Mengenai pemilihan sekolah, orang tua harus memperhatikan kenyamanan anak, karena anak yang akan bersekolah bukan orang tuanya. Biasanya anak yang nyaman dengan sekolahnya akan pulang ke rumah dengan hati senang dan gembira. Artinya ia menikmati sekolah dan memiliki pengalaman yang menyenangkan di sekolah.



Artikel yang berhubungan:

Mengajarkan Membaca Pada Si Kecil

Bapak-Ibu, usia balita kerap disebut golden years period atau usia emas. Periode ini adalah tahun-tahun pembentukan kecerdasan yang amat menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada periode ini juga sebaiknya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada balita untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya. Tugas orang tua sendiri adalah menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman serta menyediakan sarana dan prasarana yang tepat bagi tumbuh kembangnya. 

Pada periode itu, balita bukan cuma memerlukan asupan gizi yang baik untuk perkembangan fisiknya, tapi juga asupan informasi, emosi dan spiritual untuk tumbuh kembang dirinya secara utuh.

Menurut metode Glenn Doman, orang tua bisa memulai mengajarkan anaknya belajar membaca sejak bayi. Bahkan, sejak ia lahir karena Bapak-Ibu sudah berbicara padanya sejak ia lahir bahkan sejak ia masih dalam kandungan. Pembelajaran sejak dini akan melatih indera penglihatannya.

Ada beberapa hal yang harus Bapak-Ibu pahami tentang anak balita:
  1. Anak di bawah usia 5 tahun bisa dengan mudah menyerap banyak informasi.
  2. Anak di bawah usia 5 tahun bisa menangkap informasi dengan kecepatan luar biasa.
  3. Semakin banyak informasi yang diserap makin banyak pula yang diingatnya.
  4. Anak usia di bawah 5 tahun mempunyai energi yang sangat besar.
  5. Anak di bawah usia 5 tahun mempunyai keinginan belajar yang sangat besar.
  6. Anak di bawah usia 5 tahun dapat belajar membaca dan ingin belajar membaca.

Dari uraian di atas terurai fakta bahwa semakin dini mengajarkan buah hati Anda membaca akan semakin baik. Langkah-langkah pada setiap tahapan membaca tidak berubah atau berbeda karena faktor usia. Artinya, urutan langkah-langkah yang telah dipaparkan di bab sebelumnya tetap sama pada setiap usia. Hanya saja memang Anda harus ingat bahwa seorang bayi yang baru lahir tidak sama dengan anak usia 2 tahun. Bayi berusia 3 bulan tentu tidak sama dengan anak berusia 36 bulan. Terpenting pada bagian mana dari tahapan-tahapan membaca yang perlu ditekankan ketika Anda memulai program mengajarkan membaca pada si kecil.



Artikel yang berhubungan:

Prev home