Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Orangtua Sering Tidak Jujur, Anak Tumbuh Jadi Pembohong!

Anda pasti pernah dengar ungkapan "Ucapan anak-anak adalah ucapan paling jujur." Hmm... kenyataannya tidak selamanya benar, terutama anak-anak zaman sekarang. Sebab, Anda sadari atau tidak, sesekali anak-anak juga pernah berbohong, apalagi jika sedang diliputi rasa takut atau ancaman.

Selain memenuhi segala kebutuhan anak, orangtua juga wajib aktif membentuk mental anak agar selalu berkata dan berlaku jujur, baik di rumah dan lingkungan sosial.

Pendidikan tentang kejujuran disarankan mulai diajarkan pada anak sejak usia pra-sekolah (3-5 tahun). Sebab, usia tersebut adalah usia krusial, mereka sudah mulai memahami mana yang nyata dan fantasi, yang salah dan benar.

Menurut seorang dokter anak dan penulis buku berjudul Mommy calls: Dr Tanya Answers Parents Top 101 Questions About Babies and Toddlers, Tanya Reymer Altmann, mengatakan bahwa umumnya kebiasaan berbohong pada anak, terinspirasi dari orangtua mereka.

Ingat, anak-anak melihat orangtua sebagai panutan. Namun, banyak orangtua yang tidak sadar bahwa kebiasaan mereka yang sering berbohong pada orang lain, diperhatikan oleh anak, untuk kemudian diartikan sebagai sikap yang normal dan tidak salah.

Ironisnya, banyak orangtua saat mengetahui anak mereka berbohong, langsung naik pitam dan memarahi anak. Padahal, kebiasaan negatif anak tersebut sebenarnya hasil meniru orangtua sendiri. "Orangtua lebih sering berkata kalau mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan saat mengetahui anak mereka berbohong," ujar Tanya.

Salah satu contoh soal, saat anak menumpahkan susu di lantai dapur, lalu orangtua bertanya apakah itu ulah mereka dengan nada tinggi. Tentu saja anak memilih berbohong, dibandingkan kena cubitan atau hardikan orangtua. Sekali anak lolos berbohong, dipastikan akan ada kali kedua, ketiga, dan seterusnya.

Para orangtua disarankan agar jangan mudah terpancing emosinya. Ketika menghadapi perilaku anak yang tidak sesuai nilai dan aturan yang seharusnya, sebaiknya tegur dengan nada bijak dan berikan solusi untuk mereka. Pola asuh yang demikian, membuat anak lebih cepat memahami apa yang benar dan salah.

Psikolog Pediatric, Mark Bowers, memiliki trik lain untuk mengajari anak yang gemar membangkang, yakni jangan pernah merasa letih mengingatkan anak mengenai tanggung jawab dan aturan yang berlaku di rumah dan kehidupan.

Mark memberikan gambaran soal bentuk kenalakan anak yang kerap dihadapi orangtua dalam keseharian, misalnyaa anak tak mengaku mencorat-coret dinding (padahal dia melakukannya), maka tegaskan kembali aturan di rumah. "Katakan pada anak kalau seharusnya menggambar itu dilakukan di kertas dan bukan di tembok. Berikan hukuman yang mendidik, bisa dengan meminta mereka untuk membersihkan hasil corat-coret di tembok, terang Mark.

Untuk mengatasi dan mencegah anak menjadi seorang pembohong, paling efektif dilakukan dengan pendekatan halus dan menghibur pada anak. Jangan menakuti anak atau mengancam mereka bila ketahuan berbohong. Pola asuh yang demikian justru akan membuat anak lebih sering tidak jujur dan memilih menutupi kenyataan dari orangtua.
KOMPAS.com

Baca lainnya:

Mendidik dan Berkomunikasi dengan Anak-anak

Orangtua zaman sekarang semakin disibukkan dengan pekerjaan, komunikasi dengan anak-anak merupakan suatu pola pendidikan yang efektif dan praktis. Komunikasi yang baik dapat membantu mengembangkan rasa percaya diri anak-anak, rasa harga diri dan hubungan yang baik dengan orang lain, yang dapat membuat hidup anak-anak-anak menjadi lebih menyenangkan, dan menjaga hubungan yang baik dengan orang lain dalam proses pertumbuhannya kelak di kemudian hari.

Komunikasi antara orang tua dengan anak dapat membantu mengembangkan kemampuan bahasa anak-anak

Perkembangan keterampilan berbahasa merupakan tonggak penting dalam pertumbuhan anak-anak. Keterampilan sosial maupun perkembangan inteligensi anak erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan bahasa. Mandeknya perkembangan bahasa dapat menyebabkan anak-anak menutup diri, kesulitan belajar dan masalah lainnya. Banyak orangtua percaya bahwa anak-anak belajar bahasa adalah proses otomatis, sebenarnya itu tidak benar, sejak bayi itu lahir ke dunia sudah mulai belajar bahasa.

Mendengar orangtua bicara dan berbicara dengan mereka merupakan pola utama anak-anak belajar bahasa. Ketika sebuah huruf, kata, kalimat diucapkan secara berulang kali, maka bahasa reseptif berpola pasif ini perlahan-lahan akan menjadi bahasa aktif anak-anak (kosakata Aktif), yaitu bahasa yang dapat digunakan anak-anak. Studi terkait menyebutkan, bahwa sebelum seorang anak bisa mengucapkan sepatah kata minimal harus mendengar 500 kali kata ini. Ini berarti orangtua harus menciptakan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk mendengar percakapan.

Selain itu, dalam percakapan dengan anak-anak, orangtua juga dapat membantu anak-anak menemukan kosakata dan kalimat yang menyatakan pandangan individu, memperbaiki kesalahan dan memperluas kapasitas kosa kata mereka, menjelaskan kepada mereka terkait kata-kata dan ungkapan yang belum dipahami, hal ini akan sangat meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Komunikasi antara orangtua dengan anak dapat membantu untuk memahami anak, membangun hubungan yang baik antara orang tua - anak

Saat anak-anak masih kecil, dimana jika orangtua dan anak-anak membangun sebuah hubungan yang akrab, dapat membantu anak-anak mencari bantuan Anda ketika menghadapi masalah dan kekecewaan. Sebagai orangtua juga akan menjadi lebih peka terhadap perubahan suasana hati. Hubungan yang terjalin akrab/harmonis antara orangtua dengan anak dapat meminimalkan masalah kesehatan mental dalam proses pertumbuhan anak-anak.

Orangtua sebaiknya sungguh-sungguh mendengarkan perkataan anak-anak, karena itu adalah proses mengekspresikan pikiran, pendapat dan perasaan mereka. Meskipun terkadang tidak begitu jelas dengan apa yang mereka ungkapkan, tapi mengandung banyak informasi. Dan dalam proses ini, memungkinkan orangtua untuk lebih memahami kepribadian, karakter dan proses pertumbuhan anak-anak.

Dialog yang sederajad, harmonis dan penuh dorongan dapat membuat anak-anak lebih percaya diri dengan kemampuan bahasa dan presentasi mereka, membangun rasa percaya diri, dapat membantu Anda memperbaiki perilaku buruk mereka, menghantarkan rasa sayang dan perhatian. Akan lebih dapat menyampaikan informasi yang kuat saat terjadi dialog yang bertentangan, yakni bahwasannya masalah atau pertentangan itu dapat dibicarakan secara terbuka dan dapat diselesaikan dengan baik.

Komunikasi antara orangtua dengan anak bermanfaat dalam membimbing dan membantu anak-anak

Bagi anak-anak yang lemah di dunia ini, banyak hal yang kompleks dan penuh tantangan. Banyak hal yang tidak bisa dimengerti oleh mereka atau bahkan membuat mereka sedikit cemas dan takut. Orangtua dapat belajar memahami sejumlah tanda tanya dan hal yang tidak dipahami anak-anak dalam percakapan mereka, kemudian menjelaskan kepada mereka dengan bahasa yang bisa dipahami mereka.

Terbayang dalam benak saya, mobil suami saya ditabrak orang, sebelah pintu mobil penyok. Setiap melihat mobil itu, sang anak selalu bertanya kepada papanya : "Mobilnya kenapa pa ?" Dan setiap kali itu juga saya menjelaskan saja seadanya, kemudian saya memberitahu anak saya, mobil itu bilang : "terlalu sakit rasanya, lain kali hati-hati ya bawa mobilnya, kalau tidak saya akan celaka." Anak-anak pun mengingatnya dan kerap mengingatkan saya agar hati-hati saat membawa mobil, jangan terlalu cepat, "mobil kan bisa sakit juga" demikian katanya. Kecelakaan yang mengerikan tidak tertanam dalam benak anak-anak, justru sebaliknya mengingatkannya untuk berhati-hati dalam mengerjakan sesuatu, jika tidak akan ada kerugian yang tidak diharapkan.

Terkadang orangtua tiba-tiba merasa suasana hati anak-anak menjadi buruk, mudah marah, gelisah, menggerutu. Kesampingkan beberapa faktor eksternal, seperti lelah, haus atau lapar dan faktor eksternal lainnya, mungkin pernah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkannya di sekolah atau tempat lain. Jika Anda bisa perlahan-lahan menanyakan kepadanya, mungkin akan ditemukan beberapa penyebabnya.

Menciptakan setiap kesempatan

Anak-anak sibuk, orangtua juga sibuk. Mungkin sulit menemukan kesempatan yang baik untuk duduk bersama dan berbicara sejenak dengan anak-anak. Jadi manfaatkan setiap kesempatan yang ada dalam rutinitas Anda, pembicaraan (tukar pendapat) yang sederhana setiap saat dengan anak adalah suatu cara pendekatan yang lebih praktis. Manfaat seperti akan membuat anak merasa Anda itu orang yang terbuka, selalu meyambut setiap saat dan kapan saja untuk bicara dengan mereka, dan Anda suka bicara dengan mereka.

Misalnya, saat menonton televisi bersama-sama, ambil tema dari program TV sebagai bahan pembicaraan, Anda bisa bahas sejenak alur cerita yang ditonton bersama anak Anda barusan, bimbing anak Snda untuk belajar hal-hal positif dari program TV tersebut. Selain itu, saat makan di dalam mobil, waktu bercerita sebelum tidur atau saat berjalan santai, adalah kesempatan yang baik bagi Anda untuk berbincang-bincang atau sekadar ngobrol dengan anak-anak.

Perhatikan cara bertutur kata

Jika para orangtua dapat menerima segalanya anak-anak, baik itu berupa kekurangan atau kelebihan mereka, dapat membuat komunikasi antar orangtua dengan anak menjadi lebih mudah menyatu. Seorang anak yang diterima orangtuanya akan lebih mudah membuka dirinya. Sebaliknya, cara bicara yang bersifat perintah, sindiran, ejekan, celaan, dan teori panjang lebar justru akan membuat anak semakin menjauhkan diri dari Anda.

Misalnya, Dan berkata kepada ibunya "Ma, aku takut tidur sendirian."

Ibu A mengatakan : "Dasar kamu ini, sudah besar masih saja seperti bayi, tidak ada yang perlu ditakutkan."

Ibu B mengatakan : "Ibu tahu kamu takut, ibu akan menyalakan lampunya, dan membiarkan pintunya terbuka."

Jika Anda seorang anak, manakah yang Anda pilih?

Asal tahu saja, orangtua hendak berkomunikasi dengan anak, bukan pembicaraan orangtua terhadap anak. Komunikasi dengan anak seharusnya adalah percakapan dua arah, yang berarti mendengarkan apa yang mereka katakan. Sementara bicara dengan anak adalah suatu percakapan tunggal, hanya menanamkan pandangan individu kepada mereka. Komunikasi dua arah ini sangat penting terhadap anak yang lebih besar. Satu lagi point penting lainnya, bahasa yang penuh dengan cinta, dorongan semangat dan rasa hormat dapat membantu anak-anak berbuat lebih baik

10 tips untuk komunikasi antar orang tua dengan anak

  1. Dimulai sejak awal.
  2. Berbicara dengan anak terlebih dahulu.
  3. Menciptakan sebuah lingkungan yang terbuka.
  4. Ungkapkan nilai-nilai pandangan Anda sendiri kepada anak-anak.
  5. Dengarkan apa yang mereka bicarakan.
  6. Harus tulus dan jujur.
  7. Sabar.
  8. Manfaatkan setiap kesempatan untuk berkomunikasi.
  9. Sekali, sekali lagi dan lagi.
  10. Ungkapkan dengan bahasa cinta dan rasa hormat.
(Epochtimes/Jhoni/Yant)

7 Cara Memotivasi Anak agar Gemar Belajar

Pemerintah mengatur bahwa anak-anak wajib mengenyam pendidikan formal, baik di sekolah swasta maupun sekolah negeri. Apapun jenis sekolah yang dipilih orangtua sebenarnya tidak selalu menjamin anak akan menikmati waktu belajarnya. Di sinilah tugas Anda untuk menumbuhkan rasa gemar belajar pada sang buah hati.

Rasa bosan dan jenuh belajar pada anak, bisa jadi disebabkan oleh karena proses belajar mengajar yang diterapkan di sekolah terasa kaku dan membebani. Maka dari itu, Anda sebagai orangtua perlu menerapkan kebiasaan dan acara belajar yang lebih santai serta menyenangkan, baik di rumah atau di luar rumah. Tujuannya agar si kecil bisa berkonsentrasi pada mata pelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Seperti dikutip dari Hello Beautiful, berikut tujuh memotivasi keinginan belajar anak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Membantu mempersiapkan kebutuhan sekolah si kecil
Masa awal bersekolah membuat si kecil bersemangat dengan aktivitas baru hariannya tersebut. Tak ayal, membuat mereka lupa untuk membenahi perlengkapan sekolahnya. Sebagai orangtua yang baik, bantulah anak untuk menyiapkan kebutuhan belajarnya di kelas, seperti merapikan buku, mengatur kotak pensil, melengkapi seragam sekolah, dan sepatu. Tujuannya agar pada pagi hari tidak ada keributan dan kerusuhan hanya karena buah hati tidak dapat menemukan topi sekolahnya untuk upacara.

Nah, untuk melatih rasa tanggung jawab dan kemandirian anak, libatkan si kecil saat Anda mempersiapkan kebutuhan sekolahnya. Agar di kemudian hari, mereka bisa melakukannya sendiri.

Jangan pelit memberikan pujian
Orangtua mana yang tidak menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka, tak terkecuali Anda. Namun, jangan menekan dan membebani anak untuk memberikan yang terbaik versi Anda. Saat nilai ujian si kecil di luar ekspektasi Anda, alih-alih memarahinya, berikanlah pujian. Rasa percaya diri pada anak berasal dari penilaian keluarga intinya pada mereka. Melihat reaksi orangtua yang positif akan menumbuhkan keinginan pada dirinya untuk memberikan yang lebih baik untuk Anda.

Memberikan pujian juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang berkesan dan membangkitkan harga diri anak.

Dukung kreativitas anak
Selain pendidikan formal, dukung anak untuk mengembangkan minatnya di bidang lain, seperti bermain musik, menggambar, menari, melatih kemampuan berbahasa internasional, dan sebagainya. Bangun kreativitas anak dan arahkan bakat mereka dengan cara yang layak dan edukatif. Sebab, anak yang kreatif biasanya memiliki jiwa empati dan daya tangkap otak yang lebih baik dibandingkan anak yang pintar hanya berlandaskan teori.

Terapkan demokrasi pada pola asuh anak
Apa yang menjadi minat anak? Biarkanlah mereka membicarakanya pada Anda, dampingi si kecil saat ingin mengeksplorasi talentanya tersebut. Latih anak untuk mengekpresikan keinginannya lewat cara berdiskusi dengan Anda.

Bila Anda merasa masih terlalu dini untuk si kecil beropini, maka Anda telah melakukan kekeliruan. Sebab anak yang terlatih untuk berdiskusi dan mengeluarkan pendapatnya sedari kecil, maka kelak mereka dewasa akan tumbuh sebagai seorang pemimpin yang bijak dan berpikiran terbuka.

Ciptakanlah suasana belajar yang menyenangkan dan santai
Proses belajar tidak harus berada di dalam kelas, bukan? Maka dari itu, tumbuhkanlah rasa ingin tahu yang tinggi dalam diri anak Anda. Biasakan mereka untuk berani bertanya saat tidak mengerti tentang sesuatu, biarkan dia mengeksplorasi dan mencerna jawaban yang Anda berikan sesuai dengan kemampuan berpikir yang mereka miliki.

Tumbuhkan kebiasaan membaca pada anak
Meskipun era teknologi menawarkan penyajian informasi dalam kemasan yang lebih praktis dan instan. Namun, jangan meniadakan kegiatan membaca dalam keluarga Anda. Sebaliknya, aturlah waktu membaca bersama di rumah. Anda dan suami membaca buku pilihan masing-masing, dan anak membaca buku sesuai usianya. Ingat, sebelum anak mengadaptasi kebiasaan dari lingkungan sosial, mereka meniru apa yang dilakukan oleh orangtua terlebih dulu. Maka dari itu, perlihatkan perilaku terpuji dan inspiratif saat bersama si kecil.

Komunikasi yang hangat tanpa beban
Setelah makan malam bersama keluarga, sebelum waktunya belajar, coba biasakan mengajak anak membicarakan soal kegiatannya selama di sekolah dan saat di rumah sewaktu Anda masih berada di kantor. Cara ini dapat membangun rasa percaya anak pada Anda, bahwa lain waktu mereka memiliki masalah, Anda akan menjadi orang pertama yang mereka ajak bicara!

Selamat mencoba!


KOMPAS.com| Penulis: Syafrina Syaaf | Editor: Syafrina Syaaf | Sumber: Hello Beautiful


Artikel lainnya:

Bebaskan Balita Bereksplorasi

Meski kerap membuat rumah kotor dan berantakan, bereksplorasi memberi kesempatan untuk anak belajar banyak banyak hal dan tumbuh lebih optimal.

Orangtua sebaiknya tidak terlalu banyak melarang anak.
"Masa balita adalah masanya anak learn and explore. Semua pengalamannya berasal dari situ. Anak juga sedang tumbuh dan belajar, daya nalarnya juga berkembang pesat," kata psikolog Ratih Ibrahim di sela acara bertajuk Forgiveness is Easy yang digelar oleh Dulux di Jakarta (19/3/14).

Apa yang diterima anak di usia balita, imbuh Ratih, akan terbawa sampai ia dewasa. "Kalau pengalamannya membuat dia kerdil, akan terbawa terus. Begitu pun kalau pengalamannya membuat trauma maka traumanya akan dalam," katanya.

Karena itu, orangtua sebaiknya tidak membatasi lingkup ekslorasi anak. "Ibarat tanaman, anak yang serba dibatasi akan tumbuh seperti bonsai," ujarnya.

Anak yang sering dilarang-larang juga akan mempengaruhi kepercayaan dirinya, keberanian mengambil keputusan, keberanian menghadapi risiko, termasuk ide-ide dan inovasinya.

Meski membebaskan anak, tapi Ratih menyarankan agar orangtua tetap memberikan batasan. "Bagaimana pun anak tetap harus diberi tahu agar dorongan kreativitasnya tidak merusak," ujarnya.

Ia mencontohkan, walau kita membebaskan anak untuk mencorat-coret tembok, tetapi jelaskan pada anak tembok mana yang tidak boleh dicoret atau dikoroti.

"Beri tahu anak mana area mereka dan mana area yang harus bersih. Jelaskan juga bahwa mereka boleh mencoret atau menempel-nempel dinding, tapi hanya di rumah, bukan di rumah orang lain," ujarnya.

Orangtua tetap harus memiliki kontrol terhadap anak. "Jangan kalah pintar sama anak, toh sebagai orangtua kita sudah kenal dengan anak sendiri," katanya.

Tak kalah penting, orangtua juga harus konsisten sampai anak memiliki kebiasaan positif yang diinginkan. "Bebas boleh tapi tetap harus bertanggung jawab," ujarnya.

Kompas.com | Penulis: Lusia Kus Anna | Editor: Lusia Kus Anna


Artikel lainnya:

Efek Senyum Saat Menstimulasi Otak

Sekali saja seseorang tersenyum, banyak efek positif yang ditimbulkannya. Senyum menstimulasi otak dan hormon yang kemudian menimbulkan beragam efek positif bagi seseorang.

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan, saat tersenyum, bagian otak yang mengatur emosi bahagia diaktifkan. Dengan senyum, hormon pemicu stres berkurang, sementara hormon pembangkit mood meningkat. Senyuman juga menstimulasi otak yang bisa membuat pikiran lebih positif. Bahkan, dengan tersenyum, seseorang bisa menurunkan tekanan darahnya.

Penelitian di Inggris juga menunjukkan, sekali senyuman bisa menimbulkan efek stimulasi di otak setara dengan efek yang didapatkan dari makan 2.000 batang cokelat.

Senyum merupakan cara paling ringan yang bisa dilakukan seseorang untuk mendapatkan banyak manfaat positif. Pasalnya, kata Vera, seseorang hanya butuh menggunakan 17 otot di wajah untuk tersenyum. Bandingkan saja dengan mengerenyitkan dahi. Seseorang butuh lebih dari 40 otot di wajah saat mengerenyitkan dahi.

"Banyak orang meremehkan efek senyum. Padahal, senyum lebih ringan dan efektif, selain lebih murah," kata Vera di sela kegiatan perayaan World Oral Health Day 2014 di Jakarta.

Senyum Duchenne
Untuk bisa mendapatkan beragam manfaat senyum tersebut, Vera mengatakan, tak semua jenis senyum memberikan dampak sama. Dari beragam tipe senyum, hanya senyum ala Duchennelah yang memberikan manfaat paling maksimal.

"Duchenne smile yang paling bisa memberi efek stimulasi otak," katanya.

Duchenne smile, ujarnya, hanya terjadi saat seseorang memberikan senyum tulus, yakni ketika otot mata ikut tersenyum. Dengan kata lain, saat tersenyum, mata akan ikut berkerut dan menampakkan gigi. Tipe senyuman ini juga bisa membedakan antara senyum palsu atau sungguhan.

KOMPAS.com | Penulis: Wardah Fajri | Editor: Wardah Fajri



Artikel lainnya:

Jangan Asal Ikuti Kebiasaan Minum Obat

Orang tua kerap seperti "hilang akal" saat anaknya sakit. Akibatnya orang tua akan membeli obat dan menuruti saran apa pun asal anaknya se
mbuh. Termasuk anjuran atau kebiasaan konsumsi obat yang tidak sepenuhnya benar. Padahal beberapa kebiasaan berisiko menyebabkan obat tidak terserap sempurna.

Ada beberapa anjuran yang sebaiknya tidak dituruti meski sudah jadi kebiasaan. Orangtua tidak boleh asal nurut, dan harus menanyakan pada dokter bagaimana cara mengonsumsi obat yang benar, kata dokter spesialis anak, Wiyarni Pambudi, dalam kelas parenting, New Parent Academy, Minggu (23/3/2014).

Setidaknya ada lima saran atau kebiasaan umum yang harus ditanyakan sebelum mengonsumsi obat:

1. Minum obat setelah makan Tidak semua obat bisa diminum setelah makan. Beberapa obat ada yang dikonsumsi sebelum makan, misalnya untuk pencernaan. Hal ini sama seperti konsumsi suplemen vitamin B. Suplemen vitamin B harus dikonsumsi sebelum makan supaya bisa terserap usus dengan sempurna. Jika makan dulu maka penyerapan vitamin B akan terganggu, kata Wiyarni.

2. Minum obat tiga kali sehari Frekuensi minum obat, terang Wiyarni, seharusnya dijelaskan dengan aturan jam bukan kuantitas. Aturan jam memungkinkan obat terserap tubuh dengan baik dan menghindarkan salah pengertian pada pasien. "Kalau aturan tiga kali sehari maka bisa saja pasien minum sesuai dosis pada satu waktu. Cara konsumsi obat seperti itu tentu salah. Karena itu lebih baik dikatakan minum obat 8 jam sekali, kata Wiyarni.

3. Pemberian sediaan sirup dengan sendok teh Anjuran tersebut kerap ditemukan pada kemasan obat yang dijual bebas atau over the counter (OTC). Menurut Wiyarni, pemberian anjuran tersebut tidak tepat karena tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama terkait ukuran sendok teh. Bila dosis yang dikonsumsi tidak tepat, maka pasien akan sulit sembuh dari sakitnya. Pemberian obat sediaan sirup lebih baik diberikan dalam ukuran volume, misal ml atau cc, dengan gelas ukur atau sendok tertentu yang sudah disediakan produsen obat.

4. Konsumsi obat sampai habis Tidak semua obat harus dikonsumsi sampai habis, misalnya antibiotik sediaan sirup untuk bayi dan anak. Sediaan sirup membutuhkan 15-20 hari sebelum habis, padahal sebelum habis biasanya anak sudah sembuh. Sebaiknya tanyakan sampai kapan harus mengonsumsi obat tersebut. Bila tidak juga sembuh sampai hari yang ditentukan maka konsultasikan kembali dengan dokter, kata Wiyarni.

5. Obat diberikan sebagai bentuk pencegahan Obat tidak diberikan untuk pencegahan. Konsumsi obat bertujuan untuk menyembuhkan pasien yang sudah sakit. Paracetamol misalnya, hanya diberikan bila suhu mencapai 38,5 C. Jika belum mencapai suhu itu maka paracetamol tidak memberi manfaat untuk menurunkan panas, kata Wiyarni.

Selain lima kebiasaan tersebut, Wiyarni juga menyarankan orangtua tidak memberi obat dengan asal minum, oles, atau tetes. Tiap pemberian obat harus sesuai sasaran dan dosis pemberian. Wiyarni mencontohkan pemberian obat tetes mata biasanya diberikan di kornea. Padahal pemberian obat tetes seharusnya di bagian kantung mata, untuk menyembuhkan iritasi atau gatal.

Bila obat diberikan dalam jangka panjang, maka orangtua harus tahu indikasi dan manfaat bagi anak. Meski obat tidak menimbulkan ketergantungan, beberapa jenis suplemen ternyata menimbulkan adiksi. Misal penambah daya tahan tubuh atau Immunoglobulator.

KOMPAS.com | Penulis: Rosmha Widiyani | Editor: Wardah Fajri



Artikel lainnya:

Kesehatan Seseorang Dapat Dipengaruhi Sejak Dalam Rahim

MASALAH kesehatan yang dialami ketika seseorang memasuki usia dewasa, seperti obesitas, asma, alergi, dan penyakit jantung ternyata dapat dipengaruhi ketika masih berada di dalam rahim. Benarkah demikian?

Menurut sebuah temuan baru dari British Nutrition Foundation (BNF) Task Force yang baru saja dirilis menemukan bahwa orang dewasa yang mengalami obesitas, asma, alergi, penyakit, jantung, dan lain-lain kemungkinan disebabkan oleh perilaku buruk sang ibu ketika mengandung mereka.

Ketua Satgas BNF, Profesor Tom Sanders menjelaskan, pertumbuhan janin yang buruk dapat berhubungan dengan konsekuensi jangka panjang yang merugikan bagi kesehatan.

“Pertumbuhan janin yang buruk juga dapat memengaruhi perkembangan ginjal, sehingga membuat anak lebih sensitif terhadap tekanan darah. Akibatnya, dapat meningkatkan efek kadar garam dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,” ujar Tom Sanders, seperti dilansir Femalefirst.

Sementara itu, Profesor Graham Devereux dari University of Aberdeen mengatakan bahwa asma saat ini merupakan salah satu penyakit kronis yang paling banyak diderita orang di dunia.

“Kandungan nutrisi yang diperoleh dari diet yang dilakukan oleh ibu selama kehamilan, khususnya vitamin E, vitamin D, seng, selenium dan asam lemak tak jenuh ganda, dapat mempengaruhi perkembangan asma pada anak dan penyakit alergi. Saat ini, sejumlah teori mengusulkan dampak khusus dari nutrisi dan risikonya,” tandas Graham.

Selanjutnya, Satgas juga melaporkan bahwa peningkatan nafsu makan dari beberapa orang di masa dewasa mungkin sebagai akibat dari diet dan berat badan dari ibu mereka sendiri saat hamil. Hampir setengah dari semua wanita usia subur di Inggris mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Hal ini dapat menjadi penyebab dari siklus biologis ibu yang mengalami obesitas mengarah ke masalah kesehatan anak-anak di kemudian hari.

Sementara itu, Science Programme Manager di BNF, Sara Stanner mengatakan, saat ini sudah ada bukti yang tegas untuk menunjukkan hubungan biologis antara obesitas wanita ketika hamil dan masalah kesehatan pada anak-anak.

“Ini adalah pesan penting dalam memerangi obesitas, wanita perlu mengetahui bahwa berat badan dan kesehatan selama kehamilan atau sebelum mereka hamil itu dapat memainkan peranan penting dalam jangka panjang untuk kesehatan anak-anak. Jadi setelah bayi di kandungan, kerangka biologis untuk kesehatan masa depan sudah diatur,” jelas Stanner.

Helmi A.Saputra - Okezone



Artikel lainnya:

Mengenalkan Profesi Orang Tua Kepada Anak

Mengenalkan profesi orang tua kepada anak adalah sesuatu hal yang sangat penting. Selain menambah pengetahuan, ana k juga akan mengerti mengapa orang tua sering meninggalkannya karena disibukkan dengan urusan kerja.

Anak-anak sekarang sudah memiliki wawasan lebih luas mengenai berbagai profesi dibandingkan dengan anak-anak pada jaman dulu yang hanya mengenal profesi dokter atau insinyur saja. Hal ini banyak dipengaruhi oleh teknologi informasi yang diterima anak, utamanya film-film, televisi atau buku-buku komik. Media tersebut banyak mengenalkan anak pada profesi lain, misalnya detektif ataupun polisi.

Mengenalkan profesi orang tua kepada anak sedini mungkin adalah hal yang sangat penting. Mengapa? Karena anak akan mengerti apa pekerjaan orang tua dan konsekuensi akibat pekerjaan itu. Bahwa orang tua sering meninggalkannya untuk beberapa waktu. Selain itu pengetahuan anak juga akan bertambah luas. Ia akan tahu mengapa orang tua harus bekerja, ia juga akan dapat menghargai pekerjaan orang tuanya dan orang lain. Dimasa pertumbuhannya anak juga akan memiliki orientasi masa depan yang ia inginkan sendiri, meski kadang masih berubah-ubah tentunya.

Keuntungan lainnya anak juga akan memiliki persepsi positif terhadap orang tua mereka. Anak tidak akan rewel atau merengek lagi ketika orang tua harus berangkat kerja. Anak-anak yang orang tuanya terutama ibunya bekerja, dan ia telah mengerti akan kondisi tersebut, umunya anak akan menjadi pribadi yang lebih mandiri dan percaya diri.

Pada kasus orang tua yang tidak pernah menjelaskan mengapa orang tua harus bekerja, apa pekerjaan orang tua, waktu bekerja dan apa yang dilakukan orang tua secara detil, akan mempengaruhi psikologis anak, karena anak hanya tahu bahwa orang tuanya pergi bekerja dan seringkali meninggalkannya. Anak akan merasa bahwa orang tuanya tidak memperhatikannya, sehingga anak menjadi seperti kurang perhatian.

Sangat disarankan untuk sekali-kali orang tua terutama ibu mengajak anak ke tempatnya bekerja, jika memang dimungkinkan kondisinya bisa membawa anal-anak. Jika ingin mengajak si kecil ke kantor, tentunya Ibu harus mempunyai persiapan sebelumnya.

Lingkungan kantor adalah hal baru bagi anak. Ibu juga bisa membekalinya dengan sebuah mainan kesukaannya atau bisa juga Ibu membawa makanan kesukaannya. Orang tua juga harus memberikan gambaran tentang situasi di kantor sebelumnya. Mesin-mesin apa saja yang ada di kantor, teman-teman kantor dan lainnya. Pastikan juga toilet trainingnya sudah berjalan baik, sehingga ia akan memberitahu ibunya jika ingin buang air.

Pengenalan profesi ini sebenarnya juga dapat dilakukan oleh para guru di sekolah, utamanya TK atau SD. Pihak sekolah dapat mengundang beragam profesi secara berkala ke sekolah. Kegiatannya dapat dilakukan dengan tanya jawab dan mengenalkan karir dan profesi kepada anak-anak. Cara ini selain dapat memperluas wawasan anak, anakpun akan tahu bagaimana profesi orang tua mereka.

Diharapkan dengan anak mengetahui profesi orang tua anak akan semakin mengerti dan dapat terjalin keakraban yang lebih baik antara orang tua dan anak.

infoduniaanak.com



Artikel lainnya:

Cara Sederhana Stimulasi Anak untuk Bicara

Perkembangan kemampuan berbicara pada diri setiap anak tidaklah sama. Ada anak yang perkembangan berbicaranya cepat, namun ada juga yang lambat dan membutuhkan stimulasi berulang-ulang agar dia mau bicara. Sebagai orang tua, tentunya kita menginginkan yang terbaik untuk anak tercinta. Kita, termasuk dalam perkembangan bicaranya. Dalam berbagai kasus sering ditemui anak yang belum pandai bicara dibanding dengan anak seumurnya, ada juga yang tidak menanggapi ketika diajak berbicara, kasus lain menunjukkan bahwa si anak tidak bicara namun mengerti apa yang dibicarakan orang lain. Kalau sudah begitu orang tua pasti merasa resah dan ingin agar buah hatinya segera mengeluarkan celotehnya. Nah, berikut ini beberapa cara sederhana untuk menstimulasi anak Anda untuk bicara:
  • Pengulangan. Semakin banyak anak Anda mendengar sebuah kata, semakin besar kemungkinan baginya untuk meniru kata tersebut. Jadi, banyak-banyaklah mengulang sebuah kata ketika Anda berbicara dengannya, misalnya ketika Anda ingin mengajaknya bermain bola, katakan kepadanya “Kamu ingin bermain bola?”, sambil Anda menggemgam bolanya dan meletakkannya di hadapan muka dia. Lalu katakan lagi, “Siap-siap ya, ini dia bolanya datang”, sambil Anda menggulirkan bola itu ke arahnya, kemudian katakan lagi “Ayo Sayang, tangkap bolanya!”. Nah, dalam waktu beberapa detik Anda telah mengulang kata “bola” sebanyak tiga kali, bukan? Semakin banyak dia mendengar kata itu, maka akan semakin besar kemungkinan dia untuk meniru dan akhirnya mengatakan kata “bola”. Anda bisa mencoba hal yang lain lagi, intinya di masa awal kehidupannya seorang anak memulai masa belajarnya dengan cara meniru dari orang-orang di sekitarnya, jadi perbanyaklah kesempatannya untuk bisa mendengar kata-kata baru di setiap waktunya.
  • Banyaklah berbicara pada Anak Anda. Katakan setiap hal kepadanya, misalkan di saat pagi, “Hari ini Kita sarapan bubur Ayam ya Sayang”. Di kesempatan lain, misalkan saat Anda dan dia menonton TV, ceritakan apa yang Anda dan dia sedang tonton, kemudian setelah itu ceritakan lagi apa yang baru saja kalian tonton. Kalau bisa, di sepanjang hari yang Anda lalui bersamanya isilah dengan perbincangan mengenai hal apapun yang kalian lalui bersama.
  • Bergantian dalam berbicara. Berbicaralah kepada buah hati Anda, lalu berikan dia waktu untuk gantian berbicara kepada Anda. Jika belum juga berhasil memancingnya berbicara, maka terus ulangi namun dengan situasi yang berbeda-beda, misalkan pada saat kalian bermain atau saat makan tiba.
  • Tatap mata Anak Anda saat berbicara padanya. Saat berbicara pada si buah hati, tataplah matanya sesering mungkin. Dari hal itu, dia akan belajar berbicara dari ekspresi wajah yang Anda tunjukkan. Untuk beberapa anak, hal itu mungkin akan banyak membantu dalam proses belajarnya berbicara.
  • Beri dia pilihan. Misalkan ketika Anda membelikan dia wafer atau keripik, berikan kesempatan kepadanya untuk memilih yang dia inginkan untuk dimakan sambil Anda menyodorkan kedua pilihan tersebut pada anak Anda. Tunjukkan padanya yang mana wafer dan yang mana keripik, terus stimulasi dia untuk bisa menentukan pilihannya.
  • Saat berbicara dengan anak, berikan dia waktu untuk bisa merespon apa yang Anda katakan. Berikan dia kesempatan untuk bisa mengungkapkan apa yang ingin dia katakan, jika dia mau berusaha, Anda akan melihat usahanya untuk bisa mengatakan sesuatu meskipun yang Anda dengar hanya ocehan, mungkin saja itu sebuah kata darinya. Ingat selalu untuk mengulang-ulang stimulasi yang anda berikan.
  • Bacakan sebuah buku untuk anak Anda dimana ada satu atau dua gambar pada halamannya. Setelah itu, tanyakan kepadanya sebuah pertanyaan yang jawabannya bisa dijawab secara verbal atau dengan menunjuk sebuah gambar. Usahakan untuk tidak terlalu memberikan tekanan padanya untuk bisa menjawab pertanyaan Anda.
  • Berikan anak Anda pujian ketika dia berhasil mengeluarkan sebuah kosa kata dari mulutnya. Hal itu akan membuatnya merasa dihargai meski hanya mengatakan “ba”, dan selanjutnya dia akan lebih berusaha lagi untuk bisa mengeluarkan banyak kosa kata.
  • Cari tahu seberapa jauh orang lain mengerti apa yang anak Anda katakan, dengan begitu Anda bisa mengukur sudah sejauh mana kemajuannya dalam berbicara. Anda juga bisa merencanakan hal-hal apa lagi yang masih perlu dilakukan untuk menstimulasi kemampuannya dalam berbicara.
Tetap tenang dan selalu optimis ya dalam menstimulasi buah hati Anda mengembangkan kemampuan bicaranya. Semoga bermanfaat!

Sumber : informasitips.com


Artikel lainnya:

7 Kiat Sukses Jadi 'Anak Baru' di Kantor

Menjadi anak baru di kantor memang bukanlah hal yang mudah. Jangan terjerumus dalam hal-hal kecil yang bisa membuat anda diasingkan. Pelajari 7 tips berikut ini.

Setelah melalui proses rekrutmen yang menantang, kini saatnya Anda memasuki kantor baru. Seperti apa teman kerja, lingkungan, dan apakah mereka akan menyukai Anda tentunya membuat hati berdebar-debar.

Jangan khawatir, selalu ada cara agar Anda mudah diterima. Ingat, jangan hanya fokus ke diri Anda tapi juga perhatikan lingkungan dan teman sekerja.

1. Cara Berpakaian
Anda adalah anak baru di kantor. Jangan berharap teman sekerja langsung bisa mengenali kepribadian Anda. Penampilan luar merupakan salah satu poin kesan pertama Anda. Gunakan pakaian yang pantas dan tidak berlebihan di hari pertama bekerja. Seperti apa gaya berbusana di kantor baru bisa Anda pelajari saat datang wawancara atau ketika proses rekrutmen di kantor tersebut. Jika Anda belum pernah sama sekali mengunjungi kantor Anda, tak ada salahnya memilih pakaian yang lebih rapih ketimbang yang lebih santai. Ini adalah momen untuk menciptakan kesan pertama, pastikan pakaian yang dipilih bisa memberi gambaran seperti apa kepribadian Anda di tempat kerja. Jangan menggunakan aksesori atau makeup berlebihan yang seakan meminta perhatian. Bisa jadi hal tersebut malah membuat Anda menjadi bahan omongan miring di tempat kerja baru.

2. Budaya Kantor
Mempelajari seperti apa budaya kantor baru Anda sangatlah penting. Ada kantor yang santai, formal, atau kombinasi antara keduanya. Pastikan Anda mempelajari dulu seperti apa budaya kantor Anda dari perilaku teman-teman sekerja, hubungan teman sekerja dengan atasan, dan sebaliknya. Ada kantor yang Anda bisa dengan santai menghampiri meja bos untuk berdiskusi, ada juga kantor yang bahkan Anda tak akan punya kesempatan untuk berbicara dengan bos besar Anda. Anda tentunya tak mungkin mengingat banyak hal dalam waktu yang singkat. Gunakan catatan untuk mengingat hal-hal yang penting.

3. Kepribadian yang Positif
Dalam proses bekerja, suatu saat Anda pasti membutuhkan bantuan rekan kerja. Jangan bangun dinding yang tinggi pada hari pertama kerja. Sapa rekan kerja yang Anda temui dengan senyum. Untuk awal, cukup sapa dengan senyum atau hai. Tak perlu terlalu keras berusaha mengobrol seakan Anda sudah mengenal mereka lama. Terlalu 'sok akrab' malah akan membuat Anda dijauhi di tempat kerja. Biarkan hubungan Anda tumbuh secara alami lewat proses interaksi sehari-hari. Pada masa-masa awal kerja, jika ada ajakan untuk hang-out selepas kerja, usahakan untuk ikut serta. Lewat kesempatan yang lebih santai tersebut Anda bisa mengenal rekan kerja lebih jauh dan mengakrabkan diri. Usahakan untuk seimbang dalam mendekati berbagai jenis rekan kerja. Terlalu banyak mendekati rekan kerja laki-laki atau terlalu memilih mendekati atasan akan membuat Anda cepat jadi bisik-bisik kantor.

4. Mengingat Nama & Posisi
Ini merupakan hal yang penting untuk membangun kesan pertama. Usahakan untuk mengingat nama teman sekerja Anda, minimal yang satu bagian atau divisi. Anda juga bisa membuat semacam peta nama agar mudah mengingat. Gambar secara umum posisi duduk dan tulis nama teman Anda untuk memudahkan mengingat. Pilih satu atau dua orang yang Anda ingat betul, lalu minta bantuan mereka untuk mengingat nama-nama teman lainnya. Mengetahui posisi orang tersebut di perusahaan juga penting. Jangan sampai sikut-sikutan di lift dengan rekan sekerja yang ternyata salah satu orang penting di perusahaan Anda. Memang tidak mudah untuk melakukan hal tersebut dalam minggu pertama. Lakukan bertahap dimulai dari orang yang paling sering berinteraksi dengan Anda.

5. Bantu & Inisiatif
Salah satu cara untuk mudah disukai di tempat kerja baru adalah menjadi rekan kerja yang senang membantu dan berinisiatif. Tentunya lagi-lagi jangan berlebihan. Pastikan pekerjaan Anda tetap bisa diselesaikan walau harus membantu tugas rekan kerja. Jika pekerjaan Anda sudah selesai, jangan hanya berdiam diri dan menunggu penugasan selanjutnya. Tanyakan kepada atasan atau rekan kerja apa yang bisa Anda lakukan atau siapa yang bisa Anda bantu.

6. Semangat Bekerja
Pernah saya memiliki rekan baru yang selalu datang telat dan sering pulang cepat. Hal tersebut tentunya bukan hal yang tepat untuk memberi kesan pertama yang baik. Usahakan selalu datang sedikit lebih cepat jika memungkinkan dan pulang setelah waktunya atau sudah ada rekan kerja lain yang pulang. Pelajari dulu bagaimana kebiasaan kantor baru Anda. Ada kantor yang karyawannya tidak pulang sebelum bosnya pulang. Ada juga yang bebas pulang pergi asal pekerjaan selesai. Untuk bulan-bulan awal selama Anda masih masa penilaian, usahakan selalu tepat waktu saat datang dan berkontribusi lebih. Setelah mempelajari kebiasaan perusahaan, pelan-pelan Anda bisa menyesuaikan diri. Salah satu kesan pertama yang harus dihindari adalah malas!

Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah meminimalisir kepentingan pribadi pada jam kerja. Usahakan sesedikit mungkin chatting, membuka situs jejaring sosial, atau izin untuk hal-hal yang tidak terlalu penting.

7. Hindari Bergosip
Godaan terlibat bergosip memang kadang susah ditolak. Untuk masa-masa awal sebaiknya hindari terlibat dalam kegiatan pergosipan. Jangan sampai citra Anda sebagai anak baru menjadi miring karena ikut-ikutan berkomentar dan terlibat dalam tim gosip. Sebagai anak baru, sebaiknya perbanyakan teman daripada lawan.
Puteri Fatia



Artikel lainnya:

10 Tips Cara Melatih Anak Cerdas Emosi

1. Ajar anak mengubah tuntutan menjadi pilihan. Katakan padanya tidak ada alasan keinginannya harus selalu dipenuhi dan marah-marah. Beri anak pujian bila ia dapat mengendalikan kemarahannya.
2. Latih anak untuk menyatakan kebutuhan secara asertif (tegas), tetapi tidak ada jaminan ia akan mendapatkannya.
3. Biarkan anak mengungkapkan dan bertanggung jawab atas setiap perasaan yang dialaminya. Dengan begini ia juga bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Hindari menyalahkan anak saat Anda sendiri marah.
4. Dorong anak untuk mengembangkan hobi dan minatnya yang dapat memberinya waktu luang dan kemandirian.
5. Biarkan anak menyelesaikan sendiri pertikaian antara dia dengan saudara atau temannya.
6. Bantu anak bertoleransi terhadap gangguan orang lain. Ajarkan pula bagaimana menghindari gangguan, misalnya diolok-olok. Ajarkan anak membalas olok-olok dengan kata-kata yang baik,"Olok-olok enggak bikin sakit tuh."
7. Bantu anak untuk memperhatikan kekuatannya dengan menekankan hal-hal yang dapat ia lakukan.
8. Dorong anak berperilaku seperti yang ia ingin orang lain lakukan terhadap dirinya.
9. Bantu anak berpikir alternatif serta melihat berbagai kemungkinan ketimbang bergantung pada satu pilihan. Misalnya, anak hanya punya seorang teman. Saat temannya itu tidak ada, ajarkan anak mencari teman lain, jangan hanya merasa ia tak punya teman.

Tertawa Bersama
Doronglah anak dapat mentertawakan dirinya sendiri. Orang yang terlalu serius terhadap dirinya sendiri sulit menikmati hidup. Sense of humor yang baik dan kemampuan melihat sisi terang kehidupan, penting untuk meningkatkan kegembiraan.

Menurut Jhon Gottman, ph ada 5 langkah penting bagi orang tua dalam melatih emosi anak.

1. Menyadari emosi anak : Ketika anak menangis, marah, senang, orang tua perlu menyadari bahwa anak juga memiliki perasaan untuk di sayang, diakui, tidak baik bagi orang tua misalkan memarahi anak pada saat anak menangis, hendaknya orang tua mengetahui apa yang sedang di alami oleh si kecil.
2. Mengakui emosi anak : Terkadang orang tua egois, tidak mau tahu mengenai keinginan anak, orang tua lebih peduli pada apa yang ada di pikirannya, sehingga tidak mengakui kalau anak sedang marah, senang.
3. Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak : Hal yang paling berbahaya bagi orang tua adalah pada saat orang tua tidak mau mendengar atau tidak mau tahu mengenai masalah yang dihadapi oleh anak, orang tua cenderung memarahi tanpa memiliki empati terhadap anak, apalagi memberikan dukungan / support dengan kata-kata yang dapat meneguhkan emosi anak.
4. Membantu anak melabeli emosi : Penting bagi orang tua adalah membantu untuk melabeli emosi, hal ini agar emosi anak dapat di curahkan/ ditempatkan pada tempat yang tepat, anak diajarkan untuk mengatur control emosinya.
5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah : Yang tidak kalah penting sebagai orang tua adalah, membantu anak dalam memecahkan masalahnya, namun bukan berarti semua masalah si anak di selesaikan tanpa melibatkan anak tersebut, karena jika tanpa melibatkan anak, maka hal itu akan memberikan pengaruh pada saat anak dewasa nanti tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya.

Artikel lainnya:

Cermati Perkembangan Psikologi Balita

Setiap anak mengalami perkembangan fisik dan mental, yang sama pentingnya. Anak yang memiliki perkembangan fisik yang sehat, maka akan mempengaruhi kesehatan mental atau psikologisnya. Seperti peribahasa mengatakan, bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Demikian pula sebaliknya, kondisi kesehatan fisik yang buruk pasti akan berdampak kurang baik bagi kesehatan psikologis anak.

Perkembangan psikologi anak berawal sejak mereka baru dilahirkan. Bayi yang baru lahir biasanya belum mengenal rasa takut dan preferensi untuk melakukan kontak dengan orang-orang. Penelitian membuktikan bahwa dalam beberapa bulan pertama kehidupannya, bayi hanya mengalami perasaan bahagia, sedih, dan marah. Sebuah senyum pertama bayi biasanya terjadi saat ia berusia antara 6-10 minggu. Senyum ini, dilihat dari ilmu psikologi anak, biasa disebut dengan senyum sosial karena umumnya terjadi saat interaksi sosial.

Pada usia sekitar 8-12 bulan, mereka mengalami perubahan psikologis yang cukup cepat, yaitu mulai merasakan takut pada segala ancaman, menyenangi keakraban dengan orang-orang, dan menunjukkan kecemasan ketika dipisahkan dari orang-orang terdekat atau didekati oleh orang asing. Tetapi, karena mereka belum sampai pada tahap mampu merasakan apalagi mempertimbangkan kebutuhan, keinginan, dan kepentingan orang lain, maka biasanya mereka memiliki sifat egosentris yang sangat besar.

Kapasitas untuk berempati dan memahami aturan sosial baru dimulai pada periode usia 2-5 tahun dan terus berkembang hingga dewasa. Pada usia 2-5 tahun, anak-anak mulai dapat mengembangkan suatu proses berpikir, walaupun buah dari proses berpikir tersebut seringkali tidak logis bagi orang-orang dewasa. Karakteristik psikologi anak pada tahap ini adalah mereka memiliki keyakinan bahwa segala benda yang ada merupakan makhluk hidup sama seperti dirinya. Contohnya, anak seringkali beranggapan bahwa mobil yang sedang tidak berjalan disebabkan benda tersebut sedang lelah atau sakit. Contoh lainnya, si kecil akan memberi hukuman berupa pukulan kepada sebuah perabot karena menganggapnya nakal sudah membuatnya tersandung.

Anak pada usia ini masih memiliki sifat egosentris, karena mereka hanya dapat mempertimbangkan dan mementingkan segala sesuatu berdasarkan sudut pandang mereka sendiri. Tetapi pada usia ini pula, psikologi anak berkembang pesat. Secara berangsur-angsur, anak mulai mengalami penurunan egosentris apalagi bila didukung pola pengasuhan yang tepat.

Bunda, dalam hal ini, memiliki peran yang sangat besar dalam membantu perkembangan psikologis si kecil. Belajarlah untuk memahami, bersabar, dan selalu memberikan contoh yang baik, merupakan beberapa hal yang penting untuk Bunda ingat. Namun, jangan lupa untuk bisa bersikap tegas dalam menerapkan kedisiplinan agar mereka memiliki pondasi yang cukup kuat dalam proses pembentukan karakternya kelak.

ibudanbalita.com



Artikel lainnya:

6 Tips hadapi Rasa Malas

Baru-baru ini, para ilmuwan telah menemukan sebuah gen kemalasan. Menurut para ilmuwan, tidak semua orang memiliki gen ini. Gen tersebut akan diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya. Kedengarannya hal tersebut bisa jadi alasan yang cukup tepat kenapa orang bisa menjadi malas. Namun apakah rasa malas bisa diatasi? Berikut enam tips hadapi rasa malas yang dikutip magforwomen.

1. Rencanakan aktivitas Anda
Satu-satunya obat melawan rasa malas adalah aktivitas. Anda dapat menyegarkan tubuh dan pikiran dengan adanya aktivitas. Oleh karena itu, Anda harus merencanakan aktivitas Anda. Jangan tinggalkan pekerjaan Anda untuk orang lain. Bikin daftar kegiatan dan lakukan semua kegiatan tersebut.

2. Berolahraga
Pastikan Anda memiliki jadwal olahraga yang rutin. Jangan hanya mengandalkan yoga. Temukan olahraga yang menuntut gerak lebih banyak seperti lari, menari, atau bersepeda. Kegiatan ini akan membuat Anda bersemangat dan rasa malas memudar.

3. Jadi proaktif
Jadilah orang yang pro-aktif dan memiliki inisiatif. Jangan menunggu orang untuk menghubungi Anda. Sebaliknya, Anda menelepon mereka dan meminta mereka keluar. Jangan hanya duduk dan mengeluh mengapa Anda memiliki sedikit uang atau mengapa Anda masih belum menikah atau tidak punya pacar. Ambil sikap positif dan proaktif dalam hidup Anda. Anda harus menetapkan tujuan hidup agar sukses.

4. Jangan memanjakan diri
Membiasakan diri untuk melakukan hal yang ringan, tak mau bekerja keras hanya akan menambah rasa malas. Padahal hidup itu keras, jika Anda terlena dengan hal-hal yang memanjakan diri maka kesuksesan tak akan pernah datang. Milikilah mimpi yang besar dan berusahalah dengan keras agar mimpi Anda terwujud.

5. Mengonsumsi makanan yang sehat
Makanan berlemak dan manis bisa membuat Anda malas. Berikan energi Anda dengan asupan vitamin serta makan bergizi. Nutrisi yang seimbang akan menyehatkan tubuh dan meningkatkan gairah hidup.

6. Kreatif
Orang yang kreatif akan membuat hidupnya lebih indah. Orang kreatif tentu akan berpikir hal-hal yang belum pernah dicetuskan orang lain. Hal ini membuat rasa malas akan sirna karena kreatif dapat meningkatkan kualitas dan semangat hidup.

Menghadari rasa malas tidak sesulit yang dibayangkan bukan? Mulai sekarang buang jauh rasa malas dan jadilah orang yang penuh semangat!

merdeka.com [Vizcardine A.]



Artikel lainnya:

Perceraian, Rusak Kejiwaan Anak

Keluarga adalah sebuah lingkungan yang terjalin dari beberapa individu yang memiliki hubungan darah. Sebuah hubungan yang harmonis dalam keluarga adalah dambaan setiap orang. Namun dalam realitanya sebuah kehidupan tidak selamanya menyenangkan, akan ada saatnya harus berjuang mengatasi sebuah permasalahan. Permasalahan dilingkup kepala keluarga dalam arti ayah dan ibu salah satu contoh permasalahan dalam keluarga yang dijadikan asalan kurang harmonisnya sebuah keluarga. Ketidakcocokan antara ayah dan ibu dijadikan alasan untuk melakukan perceraian. Selain ketidakcocokan yang dirasakan oleh ayah dan ibu, alasan paling sering ditemui dalam hubungan adalah perselingkuhan.

Pertengkaran, perpisahan, dan keributan hak asuh anak adalah runtutan dari kehancuran dalam rumah tangga. Namun kehancuran rumah tangga bukanlah akhir dari rentetan perceraian melainkan awal dari kehancuran berentetan bagi seluruh anggota keluarga. Bagi beberapa orang tua yang tidak mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga akan menjadi monster yang paling mengerikan bagi anak-anak mereka.

Masalah yang akan ditimbulkan dari beberapa cekcok rumah tangga begitu rumit, terutama masalah psikologis anak. Tahukan anda, begitu besar perubahan yang akan terjadi pada seorang anak yang menjadi korban perceraian. Ya anak adalah salah satu korban dari terjadinya perceraian, trauma akan lebih berbahaya bagi anak pada usia sebelum 7 tahun. Dalam masa-masa ini adalah asal muasal 85% masalah seseorang tercipta (Mental Block).

Mental block adalah hambatan secara psikologis yang menyelubungi pikiran seseorang. Anak membutuhkan stimulasi dasar dari keluarga terutama orang tua. Bayangkan anak dalam masa tersebut bagaikan anak harimau yang semasa bayi berada dalam asuhan dan tiba-tiba dilepas di hutan, apa yang terjadi? Harimau itu akan berusaha beradaptasi sendiri dengan alamnya yang baru, menjadi liar dan tak terarah sebagai hasil pembelajaran dari lingkungannya. Itulah yang akan terjadi pada anak dalam masa perkembangannya, karena ia butuh dua contoh yaitu ayah dan ibu. Karena dimasa ini seorang anak membutuhkan dasar pembelajaran sebagai dasar emosi (kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan mengontrol, kebutuhan untuk diterima) yang harus terpenuhi, dan peran ayah dan ibu berbeda dalam menghasilkan sebuah pemahaman seorang anak.

Seberapa besar bahaya dari Mental Block sendiri, terkait dengan trauma perceraian kedua orang tua mereka. Pengaruh yang terjadi hingga usia beranjak dewasa, diusai 20-an mental block telah menghambat segala tujuan seseorang. Karena pada masa pembangunan dasar emosi seorang anak sudah tidak terpenuhi akibat perceraian kedua orang tuanya, maka fatallah akibatnya karena kunci dalam pendidikan karakter pada anak tidak diberikan secara maksimal.

Dalam perjalanan hidupnya anak akan lebih sulit diatur dan diajak kerja sama baik oleh orang tua maupun lingkungannya. Anak akan mengontrol dirinya, mengatur segala hal yang dia mau, dan bergegas menjadi seorang pemberontak. Ia juga tak akan lebih nyaman berada dirumah, mulai tidak terbuka pada orang tuanya dan akan menyimpan segala yang ia kerjakan dan ia keketahui. Dari beberapa kelakuan anak tersebut, akan semakin sulit bagi orang tua memberikan nasihat dan nilai-nilai positif kepada anak. Dia akan mencari tempat dimana ia merasa lebih nyaman dan menyenangkan, disinilah rawannya, anak akan membuang jauh batas-batas baik dan buruk, dia tidak akan mampu membedakan mana yang positif dan negatif dan akhirnya dapat terjerumus dalam kehidupan negative diluar rumah. Cita-cita, masa depan cerah bukan lagi menjadi harapannya, yang dia inginkan hanya kebahagiaan yang bisa didapatkan pada saat itu juga, dan bukan tidak mungkin hal itu akan terjadi hingga ia besar nanti, bahkan bisa jadi ia tidak mau membangun sebuah hubungan serius dan berkeluarga karena efek perceraian kedua orang tuanya.

Sebegitu mengerikannya bukan efek traumatik pada anak, maka itu bagi anda orang tua, ayah dan ibu, berikan yang terbaik bagi anak-anak terutama dari usia dini mereka. Ajarkan hal-hal baik, kasih sayang, dan tanamkan pengetahuan agama sebagai pegangan hidup. Anak adalah anugerah, dan jadikanlah mereka alasan untuk segala pencapaian kebahagian. Jauhkan anak dari kekerasan dan hal-hal negatif baik itu berasal dari keluarga.

kesehatan.kompasiana.com


Artikel yang berhubungan: 

Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita

Ketua Peneliti Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan pneumonia menjadi penyebab utama kematian pada balita. “Di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian terbaru sekitar 33 persen dari 1.200 anak sehat yang dilakukan pengambilan apusan, mengandung kuman s pneumonia di nasofaringnya,” kata Sri Rezeki Hadinegoro di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan, sekitar 156 juta kasus pneumonia baru per tahun terjadi di seluruh dunia dan telah merenggut nyawa 1,5 juta anak usia di bawah lima tahun.

Sayangnya, penyebab kematian utama pada balita ini termasuk dalam kelompok pembunuh yang terlupakan karena kurangnya edukasi dan tingkat kesadaran yang rendah dari masyarakat.

Dia menambahkan pihaknya telah melakukan penelitian bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, NTB, yang dilakukan di 5 puskesmas di Kabupaten Lombok Tengah, yaitu Puskesmas Praya, Pringgerata, Ubung, Puyung dan Mantang.

Penelitian mengambil sasaran anak sehat yang berusia 2 bulan sampai 5 tahun, dengan jumlah responden 1200 orang. Dalam penelitian itu 33 persen isolat di antaranya positif mengandung kuman s pneumonia.

“Setelah dilakukan pemeriksaan dengan PCR didapatkan pneumokokus dengan 25 serotipe. Tiga persen dari serotipe terbanyak adalah 6A/B, 19F, dan 23F. Hal ini berbeda dengan penelitian pada tahun 1997, dimana dari 221 isolat yang positif biakan pneumokokusnya, ditemukan pneumokokus dengan 17 serogrup atau serotipe, dan yang terbanyak secara berturut-turut adalah Serogrup 6, 23, dan 15,” katanya.

Berdasarkan hasil uji kepekaan pneumokokus terhadap antibiotik, sebagian besar masih sensitif terhadap antibiotik yang biasa digunakan di puskesmas dengan tingkat resistensi di bawah dua persen, yaitu untuk antibiotik cefadroxil, cefuroxime, amoxicilin, ampicilin, clindamicin, dan penicilin.

Uji kepekaan yang paling rendah adalah terhadap antibiotik Kotrimoksazol, yang sensitivitasnya hanya 36 persen dan resistensinya 48,6 persen.

Ironisnya, meski menjadi pembunuh balita nomor satu, pneumonia masih belum banyak diperhatikan dimana masyarakat di pedesaan maupun perkotaan banyak yang belum menyadari ancaman serius akibat penyakit ini.

Masyarakat lebih memperhatikan penyakit balita seperti diare, campak, polio bahkan HIV/ AIDS.

“Padahal, perlu kesadaran pentingnya vaksinasi atau imunisasi sebagai upaya preventif mengantisipasi pneumonia,” katanya.

sehatnews.com


Baca ini juga:
Memahami Pneumokokus Pada Bayi
Kenali 7 Imunisasi Tambahan

Bahaya Penyakit Pneumonia


Perlu Anda Ketahui:
Kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.
Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget Pada Anak

Penggunaan gadget bisa membuat anak keranjingan. Kalau anak mulai gelisah bila beberapa jam saja tidak memainkan gadget, ini petandanya. Celakanya lagi, saat memanfaatkan gadget, anak dituntut berkonsentrasi penuh sehingga ia seolah tidak peduli dengan lingkungan terdekat atau sekitarnya.
Menurut hasil pengamatan pihak sekolah, gadget dapat memengaruhi beberapa perkembangan dan prestasi belajar anak, yakni:
  1. Mengalami penurunan konsentrasi. Anak mengalami penurunan konsentrasi saat belajar. Konsentrasinya menjadi lebih pendek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Anak lebih senang berimajinasi seperti dalam tokoh game yang sering ia mainkan menggunakan gadget-nya.
  2. Memengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan. Ketika belajar, anak tidak mau mencari data dan tidak tertantang untuk melakukan analisis. Anak menginginkan sesuatu yang serba cepat dan langsung terlihat hasilnya. Ada pun proses untuk mencapai hasil akhir itu tidak dipedulikan.
  3. Malas menulis dan membaca. Gagdet menjadikan anak malas menulis dan membaca. Dengan perangkat gadget, maka aktivitas menulis menjadi lebih mudah, ini memengaruhi keterampilan menulis anak. Tak hanya itu, perangkat visual pun tampak lebih menarik dan menggoda, karena dapat memperlihatkan sesuai dengan kenyataan. Akibatnya anak-anak menjadi malas membaca. Sebab, membaca menuntut anak untuk mengembangkan imajinasi dari kesimpulan yang dibaca.
  4. Penurunan dalam kemampuan bersosialisasi. Anak menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitar serta tidak memahami etika bersosialisasi. Anak tidak tahu, bila ada banyak orang menginginkan sesuatu yang sama, maka wajib antre agar tertib. Ini terjadi karena anak tidak memahami adanya sebuah proses. Apa yang diinginkan harus segera ada dan terwujud, karena terbiasa mendapat pemahaman melalui games atau tontonan.

Agar gadget tak berdampak buruk pada anak, orangtua perlu menerapkan sejumlah aturan. Berikut pedoman bagi orangtua saat anak menggunakan gadget-nya:
  1. Pahami ragam permainan yang ada di perangkat gadget. Tidak semua permainan atau games baik dan aman untuk anak. Ada banyak unsur negatif seperti kekerasan, perilaku atau kata-kata kasar, dan lainnya. Untuk itu, alangkah baik bila orangtua mencoba dan melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum memberikan izin kepada anak untuk bermain.
  2. Tempatkan gadget di luar kamar tidur. Sebaiknya tempatkan perangkat elektronik di ruang keluarga. Sehingga orang tua atau orang dewasa dapat mengawasi permainan yang dipilih prasekolah serta durasi waktu bermainnya.
  3. Berikan batasan waktu penggunaan gadget. Untuk prasekolah tenggang waktu yang dapat ditoleransi adalah 15-30 menit, karena rentang konsentrasi anak masih pendek. Jangan memberikan kesempatan lebih dari 30 menit. Terapkan dengan konsisten. Bila orangtua mudah mengalah oleh bujuk rayu anak, maka anak akan terus “mengakali” orangtuanya.
  4. Dampingi anak saat menggunakan gadget. Sebisa mungkin, dampingi anak ketika ber-gadget, sehingga orangtua dapat mengawasi dan memberikan penjelasan bila ada hal-hal yang tidak dipahami oleh anak.
  5. Berikan penjelasan penggunaan gadget. Sampaikan bahwa gadget bermanfaat untuk mempermudah kerja dan lebih praktis. Saat sedang bepergian, misalnya, kita bisa membaca berita lewat tablet. Untuk itu, pemanfaatnya pun harus bijaksana. Jangan akhirnya, waktu kita banyak tersita oleh gadget daripada interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar.
  6. Berikan contoh. Jadilah teladan terdepan dalam memanfaatkan gadget secara bijak. Jangan sampai orangtua melarang anak berlama-lama bermain game, tapi orangtua sendiri asyik menggunakan ponsel pintar. Kalau bisa, matikan smartphone saat berada di rumah, jalin interaksi dengan anak dan keluarga di rumah.
(Tabloid Nakita)


Artikel yang Berhubungan:
Gadget Sebagai Jawaban Orang Tua Pada Anak
Dampak Negatif dari Kecanduan Teknologi
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik

Next Prev home