Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

6 Tips hadapi Rasa Malas

Baru-baru ini, para ilmuwan telah menemukan sebuah gen kemalasan. Menurut para ilmuwan, tidak semua orang memiliki gen ini. Gen tersebut akan diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya. Kedengarannya hal tersebut bisa jadi alasan yang cukup tepat kenapa orang bisa menjadi malas. Namun apakah rasa malas bisa diatasi? Berikut enam tips hadapi rasa malas yang dikutip magforwomen.

1. Rencanakan aktivitas Anda
Satu-satunya obat melawan rasa malas adalah aktivitas. Anda dapat menyegarkan tubuh dan pikiran dengan adanya aktivitas. Oleh karena itu, Anda harus merencanakan aktivitas Anda. Jangan tinggalkan pekerjaan Anda untuk orang lain. Bikin daftar kegiatan dan lakukan semua kegiatan tersebut.

2. Berolahraga
Pastikan Anda memiliki jadwal olahraga yang rutin. Jangan hanya mengandalkan yoga. Temukan olahraga yang menuntut gerak lebih banyak seperti lari, menari, atau bersepeda. Kegiatan ini akan membuat Anda bersemangat dan rasa malas memudar.

3. Jadi proaktif
Jadilah orang yang pro-aktif dan memiliki inisiatif. Jangan menunggu orang untuk menghubungi Anda. Sebaliknya, Anda menelepon mereka dan meminta mereka keluar. Jangan hanya duduk dan mengeluh mengapa Anda memiliki sedikit uang atau mengapa Anda masih belum menikah atau tidak punya pacar. Ambil sikap positif dan proaktif dalam hidup Anda. Anda harus menetapkan tujuan hidup agar sukses.

4. Jangan memanjakan diri
Membiasakan diri untuk melakukan hal yang ringan, tak mau bekerja keras hanya akan menambah rasa malas. Padahal hidup itu keras, jika Anda terlena dengan hal-hal yang memanjakan diri maka kesuksesan tak akan pernah datang. Milikilah mimpi yang besar dan berusahalah dengan keras agar mimpi Anda terwujud.

5. Mengonsumsi makanan yang sehat
Makanan berlemak dan manis bisa membuat Anda malas. Berikan energi Anda dengan asupan vitamin serta makan bergizi. Nutrisi yang seimbang akan menyehatkan tubuh dan meningkatkan gairah hidup.

6. Kreatif
Orang yang kreatif akan membuat hidupnya lebih indah. Orang kreatif tentu akan berpikir hal-hal yang belum pernah dicetuskan orang lain. Hal ini membuat rasa malas akan sirna karena kreatif dapat meningkatkan kualitas dan semangat hidup.

Menghadari rasa malas tidak sesulit yang dibayangkan bukan? Mulai sekarang buang jauh rasa malas dan jadilah orang yang penuh semangat!

merdeka.com [Vizcardine A.]



Artikel lainnya:

Perceraian, Rusak Kejiwaan Anak

Keluarga adalah sebuah lingkungan yang terjalin dari beberapa individu yang memiliki hubungan darah. Sebuah hubungan yang harmonis dalam keluarga adalah dambaan setiap orang. Namun dalam realitanya sebuah kehidupan tidak selamanya menyenangkan, akan ada saatnya harus berjuang mengatasi sebuah permasalahan. Permasalahan dilingkup kepala keluarga dalam arti ayah dan ibu salah satu contoh permasalahan dalam keluarga yang dijadikan asalan kurang harmonisnya sebuah keluarga. Ketidakcocokan antara ayah dan ibu dijadikan alasan untuk melakukan perceraian. Selain ketidakcocokan yang dirasakan oleh ayah dan ibu, alasan paling sering ditemui dalam hubungan adalah perselingkuhan.

Pertengkaran, perpisahan, dan keributan hak asuh anak adalah runtutan dari kehancuran dalam rumah tangga. Namun kehancuran rumah tangga bukanlah akhir dari rentetan perceraian melainkan awal dari kehancuran berentetan bagi seluruh anggota keluarga. Bagi beberapa orang tua yang tidak mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga akan menjadi monster yang paling mengerikan bagi anak-anak mereka.

Masalah yang akan ditimbulkan dari beberapa cekcok rumah tangga begitu rumit, terutama masalah psikologis anak. Tahukan anda, begitu besar perubahan yang akan terjadi pada seorang anak yang menjadi korban perceraian. Ya anak adalah salah satu korban dari terjadinya perceraian, trauma akan lebih berbahaya bagi anak pada usia sebelum 7 tahun. Dalam masa-masa ini adalah asal muasal 85% masalah seseorang tercipta (Mental Block).

Mental block adalah hambatan secara psikologis yang menyelubungi pikiran seseorang. Anak membutuhkan stimulasi dasar dari keluarga terutama orang tua. Bayangkan anak dalam masa tersebut bagaikan anak harimau yang semasa bayi berada dalam asuhan dan tiba-tiba dilepas di hutan, apa yang terjadi? Harimau itu akan berusaha beradaptasi sendiri dengan alamnya yang baru, menjadi liar dan tak terarah sebagai hasil pembelajaran dari lingkungannya. Itulah yang akan terjadi pada anak dalam masa perkembangannya, karena ia butuh dua contoh yaitu ayah dan ibu. Karena dimasa ini seorang anak membutuhkan dasar pembelajaran sebagai dasar emosi (kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan mengontrol, kebutuhan untuk diterima) yang harus terpenuhi, dan peran ayah dan ibu berbeda dalam menghasilkan sebuah pemahaman seorang anak.

Seberapa besar bahaya dari Mental Block sendiri, terkait dengan trauma perceraian kedua orang tua mereka. Pengaruh yang terjadi hingga usia beranjak dewasa, diusai 20-an mental block telah menghambat segala tujuan seseorang. Karena pada masa pembangunan dasar emosi seorang anak sudah tidak terpenuhi akibat perceraian kedua orang tuanya, maka fatallah akibatnya karena kunci dalam pendidikan karakter pada anak tidak diberikan secara maksimal.

Dalam perjalanan hidupnya anak akan lebih sulit diatur dan diajak kerja sama baik oleh orang tua maupun lingkungannya. Anak akan mengontrol dirinya, mengatur segala hal yang dia mau, dan bergegas menjadi seorang pemberontak. Ia juga tak akan lebih nyaman berada dirumah, mulai tidak terbuka pada orang tuanya dan akan menyimpan segala yang ia kerjakan dan ia keketahui. Dari beberapa kelakuan anak tersebut, akan semakin sulit bagi orang tua memberikan nasihat dan nilai-nilai positif kepada anak. Dia akan mencari tempat dimana ia merasa lebih nyaman dan menyenangkan, disinilah rawannya, anak akan membuang jauh batas-batas baik dan buruk, dia tidak akan mampu membedakan mana yang positif dan negatif dan akhirnya dapat terjerumus dalam kehidupan negative diluar rumah. Cita-cita, masa depan cerah bukan lagi menjadi harapannya, yang dia inginkan hanya kebahagiaan yang bisa didapatkan pada saat itu juga, dan bukan tidak mungkin hal itu akan terjadi hingga ia besar nanti, bahkan bisa jadi ia tidak mau membangun sebuah hubungan serius dan berkeluarga karena efek perceraian kedua orang tuanya.

Sebegitu mengerikannya bukan efek traumatik pada anak, maka itu bagi anda orang tua, ayah dan ibu, berikan yang terbaik bagi anak-anak terutama dari usia dini mereka. Ajarkan hal-hal baik, kasih sayang, dan tanamkan pengetahuan agama sebagai pegangan hidup. Anak adalah anugerah, dan jadikanlah mereka alasan untuk segala pencapaian kebahagian. Jauhkan anak dari kekerasan dan hal-hal negatif baik itu berasal dari keluarga.

kesehatan.kompasiana.com


Artikel yang berhubungan: 

Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita

Ketua Peneliti Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI Sri Rezeki Hadinegoro mengatakan pneumonia menjadi penyebab utama kematian pada balita. “Di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian terbaru sekitar 33 persen dari 1.200 anak sehat yang dilakukan pengambilan apusan, mengandung kuman s pneumonia di nasofaringnya,” kata Sri Rezeki Hadinegoro di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan, sekitar 156 juta kasus pneumonia baru per tahun terjadi di seluruh dunia dan telah merenggut nyawa 1,5 juta anak usia di bawah lima tahun.

Sayangnya, penyebab kematian utama pada balita ini termasuk dalam kelompok pembunuh yang terlupakan karena kurangnya edukasi dan tingkat kesadaran yang rendah dari masyarakat.

Dia menambahkan pihaknya telah melakukan penelitian bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, NTB, yang dilakukan di 5 puskesmas di Kabupaten Lombok Tengah, yaitu Puskesmas Praya, Pringgerata, Ubung, Puyung dan Mantang.

Penelitian mengambil sasaran anak sehat yang berusia 2 bulan sampai 5 tahun, dengan jumlah responden 1200 orang. Dalam penelitian itu 33 persen isolat di antaranya positif mengandung kuman s pneumonia.

“Setelah dilakukan pemeriksaan dengan PCR didapatkan pneumokokus dengan 25 serotipe. Tiga persen dari serotipe terbanyak adalah 6A/B, 19F, dan 23F. Hal ini berbeda dengan penelitian pada tahun 1997, dimana dari 221 isolat yang positif biakan pneumokokusnya, ditemukan pneumokokus dengan 17 serogrup atau serotipe, dan yang terbanyak secara berturut-turut adalah Serogrup 6, 23, dan 15,” katanya.

Berdasarkan hasil uji kepekaan pneumokokus terhadap antibiotik, sebagian besar masih sensitif terhadap antibiotik yang biasa digunakan di puskesmas dengan tingkat resistensi di bawah dua persen, yaitu untuk antibiotik cefadroxil, cefuroxime, amoxicilin, ampicilin, clindamicin, dan penicilin.

Uji kepekaan yang paling rendah adalah terhadap antibiotik Kotrimoksazol, yang sensitivitasnya hanya 36 persen dan resistensinya 48,6 persen.

Ironisnya, meski menjadi pembunuh balita nomor satu, pneumonia masih belum banyak diperhatikan dimana masyarakat di pedesaan maupun perkotaan banyak yang belum menyadari ancaman serius akibat penyakit ini.

Masyarakat lebih memperhatikan penyakit balita seperti diare, campak, polio bahkan HIV/ AIDS.

“Padahal, perlu kesadaran pentingnya vaksinasi atau imunisasi sebagai upaya preventif mengantisipasi pneumonia,” katanya.

sehatnews.com


Baca ini juga:
Memahami Pneumokokus Pada Bayi
Kenali 7 Imunisasi Tambahan

Bahaya Penyakit Pneumonia


Perlu Anda Ketahui:
Kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.
Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Pengaruh Negatif dan Aturan Penggunaan Gadget Pada Anak

Penggunaan gadget bisa membuat anak keranjingan. Kalau anak mulai gelisah bila beberapa jam saja tidak memainkan gadget, ini petandanya. Celakanya lagi, saat memanfaatkan gadget, anak dituntut berkonsentrasi penuh sehingga ia seolah tidak peduli dengan lingkungan terdekat atau sekitarnya.
Menurut hasil pengamatan pihak sekolah, gadget dapat memengaruhi beberapa perkembangan dan prestasi belajar anak, yakni:
  1. Mengalami penurunan konsentrasi. Anak mengalami penurunan konsentrasi saat belajar. Konsentrasinya menjadi lebih pendek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Anak lebih senang berimajinasi seperti dalam tokoh game yang sering ia mainkan menggunakan gadget-nya.
  2. Memengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan. Ketika belajar, anak tidak mau mencari data dan tidak tertantang untuk melakukan analisis. Anak menginginkan sesuatu yang serba cepat dan langsung terlihat hasilnya. Ada pun proses untuk mencapai hasil akhir itu tidak dipedulikan.
  3. Malas menulis dan membaca. Gagdet menjadikan anak malas menulis dan membaca. Dengan perangkat gadget, maka aktivitas menulis menjadi lebih mudah, ini memengaruhi keterampilan menulis anak. Tak hanya itu, perangkat visual pun tampak lebih menarik dan menggoda, karena dapat memperlihatkan sesuai dengan kenyataan. Akibatnya anak-anak menjadi malas membaca. Sebab, membaca menuntut anak untuk mengembangkan imajinasi dari kesimpulan yang dibaca.
  4. Penurunan dalam kemampuan bersosialisasi. Anak menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitar serta tidak memahami etika bersosialisasi. Anak tidak tahu, bila ada banyak orang menginginkan sesuatu yang sama, maka wajib antre agar tertib. Ini terjadi karena anak tidak memahami adanya sebuah proses. Apa yang diinginkan harus segera ada dan terwujud, karena terbiasa mendapat pemahaman melalui games atau tontonan.

Agar gadget tak berdampak buruk pada anak, orangtua perlu menerapkan sejumlah aturan. Berikut pedoman bagi orangtua saat anak menggunakan gadget-nya:
  1. Pahami ragam permainan yang ada di perangkat gadget. Tidak semua permainan atau games baik dan aman untuk anak. Ada banyak unsur negatif seperti kekerasan, perilaku atau kata-kata kasar, dan lainnya. Untuk itu, alangkah baik bila orangtua mencoba dan melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum memberikan izin kepada anak untuk bermain.
  2. Tempatkan gadget di luar kamar tidur. Sebaiknya tempatkan perangkat elektronik di ruang keluarga. Sehingga orang tua atau orang dewasa dapat mengawasi permainan yang dipilih prasekolah serta durasi waktu bermainnya.
  3. Berikan batasan waktu penggunaan gadget. Untuk prasekolah tenggang waktu yang dapat ditoleransi adalah 15-30 menit, karena rentang konsentrasi anak masih pendek. Jangan memberikan kesempatan lebih dari 30 menit. Terapkan dengan konsisten. Bila orangtua mudah mengalah oleh bujuk rayu anak, maka anak akan terus “mengakali” orangtuanya.
  4. Dampingi anak saat menggunakan gadget. Sebisa mungkin, dampingi anak ketika ber-gadget, sehingga orangtua dapat mengawasi dan memberikan penjelasan bila ada hal-hal yang tidak dipahami oleh anak.
  5. Berikan penjelasan penggunaan gadget. Sampaikan bahwa gadget bermanfaat untuk mempermudah kerja dan lebih praktis. Saat sedang bepergian, misalnya, kita bisa membaca berita lewat tablet. Untuk itu, pemanfaatnya pun harus bijaksana. Jangan akhirnya, waktu kita banyak tersita oleh gadget daripada interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar.
  6. Berikan contoh. Jadilah teladan terdepan dalam memanfaatkan gadget secara bijak. Jangan sampai orangtua melarang anak berlama-lama bermain game, tapi orangtua sendiri asyik menggunakan ponsel pintar. Kalau bisa, matikan smartphone saat berada di rumah, jalin interaksi dengan anak dan keluarga di rumah.
(Tabloid Nakita)


Artikel yang Berhubungan:
Gadget Sebagai Jawaban Orang Tua Pada Anak
Dampak Negatif dari Kecanduan Teknologi
Barang-barang Teknologi yang Dapat Menyebabkan Kecanduan
Ingin Anak Cerdas? Hentikan Membiasakannya Nonton Televisi
Era Layar Bahayakan Mata dan Jiwa Anak
Stop Tayangan Televisi yang Tidak Mendidik

Keluarga Pengaruhi Perilaku Hidup Sehat Seseorang

Psikolog Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Dr Kristina Haryanti menilai lingkungan keluarga memberi pengaruh paling besar terhadap perilaku kesehatan individu.

“Keluarga memberi pengaruh paling besar, kalau keluarga sudah menerapkan pola dan perilaku hidup sehat maka setiap anggota keluarga akan terbiasa melakukannya,” katanya di Semarang, Kamis.

Menurut dia, keluarga merupakan basis penanaman nilai-nilai kepada setiap individu, termasuk nilai kesehatan sehingga keluarga akan menentukan apakah seseorang berperilaku hidup sehat atau tidak.

Ia menjelaskan lingkungan masyarakat juga tidak kalah penting dalam memengaruhi manusia berperilaku hidup sehat, seperti lingkungan rumah sakit (RS) yang selalu terjaga kebersihan dan kerapiannya.

“Kalau berada dalam lingkungan RS yang bersih, tidak ada sampah berserakan, orang akan sungkan untuk membuang sampah sembarangan. Kenapa? Karena merasa tidak tega mengingat tempatnya bersih,” katanya.

Bahkan, ia mengaku saat akan menengok kawannya di sebuah RS swasta di Semarang, pernah melihat seorang keluarga pasien di sebuah RS swasta di Semarang sampai rela mengantongi sampah di saku celana.

“Saya pernah melihat sendiri. Ada seorang keluarga pasien yang kesulitan mencari tempat sampah, sementara RS itu sangat bersih. Sampah bekas makanan itu kemudian dikantonginya ke saku celana,” katanya.

Sebaliknya, kata dia, kalau orang berada di jalanan dengan kondisi yang tidak terawat dan sampah berserakan tentu akan mudah membuang sampah sembarangan karena merasa sudah banyak sampah di tempat itu.

“Contoh lain, orang Indonesia yang tinggal di Belanda pasti menyeberang jalan di ’zebra cross’ karena lingkungannya tertib. Namun, kalau balik ke Indonesia biasanya menyeberang sembarangan lagi,” katanya.

Dekan Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang itu mengatakan bahwa kondisi psikologi semacam itu sangat berkaitan dengan otak manusia yang memengaruhi segala pikiran dan tindakannya.

Berkaitan dengan itu, pihaknya akan mengundang Prof AML Coenen, pakar psikologi Radboud University-Nijmegen Belanda untuk mengisi seminar “Otak, Proses Kognisi dan Perilaku Sehat” pada 18 September mendatang.

“Prof Coenen akan menjelaskan perilaku-perilaku berisiko, seperti merokok, minum minuman beralkohol, dan penyalahgunaan obat terlarang berkaitan dengan otak dan komponen kesehatan lain yang terpengaruh,” kata Kristina.
sehatnews.com


Artikel lainnya:


Anak sulit belajar matematika? Coba tips ini!

Bagi sebagian besar anak kecil, matematika adalah pelajaran yang mengerikan. Alhasil, banyak anak kecil menghindari untuk belajar mata pelajaran tersebut. Nah, tugas orang tua adalah membuat pelajaran matematika jadi topik menarik dan menyenangkan bagi anak-anak. Caranya? Berikut adalah beberapa tips bagi orangtua untuk membuat matematika menarik untuk anak.

1. Membuat matematika menjadi pelajaran yang menyenangkan
Anak-anak menyukai suasana belajar yang interaktif dan penuh warna. Oleh karena itu, para orang tua bisa mengajarkan matematika dengan membuat permainan untuk anak. Setelah anak mengalami beberapa kemajuan dalam pelajaran, Anda dapat menaikkan tingkat kesulitannya. Ini adalah langkah menuju belajar mandiri dan aktif.

2. Meningkatkan kepercayaan diri anak
Angka dan rumus membuat anak tidak menyukai matematika. Akibatnya, anak menjadi malas belajar dan mendapat nilai yang buruk. Orang tua memiliki peranan besar untuk membangun tingkat kepercayaan diri anak-anak mereka. Orangtua perlu memastikan bahwa mereka dapat mendorong anak untuk menyelesaikan tugas matematika sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Setelah kepercayaan diri anak meningkat, dia akan dapat memecahkan pertanyaan-pertanyaan sulit dalam pelajaran tersebut.

3. Mengembangkan motivasi anak
Metode ini tentu telah dipraktikkan di sekolah. Namun,mengembangkan motivasi anak tidak hanya perlu dilakukan di sekolah, tetapi juga di rumah. Oleh karena itu, cobalah menanamkan metode ini untuk meningkatkan kualitas belajar anak, terutama untuk pelajaran matematika. Orang tua harus memastikan bahwa mereka ikut memotivasi anak dengan memberi dorongan semangat dan membimbing mereka di rumah.

4. Fakta menarik tentang matematika
Anak-anak selalu tertarik untuk mempelajari sesuatu yang baru. Jadi, saat mengajarkan mereka konsep-konsep baru, pastikan Anda berbicara tentang latar belakang konsep atau teori-teori tersebut. Hal ini membuat mereka lebih terlibat dalam pelajaran yang Anda ajarkan. Belilah buku-buku tentang matematika dan beberapa informasi tentang penemu teori tertentu dalam rumusan matematika untuk anak-anak Anda. Ini akan membuat mereka jadi lebih penasaran.

Tips ini akan berguna untuk para orang tua dan memudahkan mereka dalam membimbing anak di rumah. Percayalah, semua anak dilahirkan pintar, hanya bagaimana cara orang tua membentuk kepribadian anak itu sendiri.
[Destriyana]


Artikel lainnya:

Next Prev home