Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Prihatin, Kekerasan Anak Meningkat

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar mengaku prihatin kasus kekerasan terhadap anak masih sering terjadi secara fisik di rumah tangga maupun sebagai pekerja dengan jenis pekerjaan berbahaya.

“Kekerasan terhadap anak (usia 18 tahu ke bawah) menjadi keprihatinan kita semua, bisa berupa kekerasan fisik di rumah tangga dan sebagai pekerja dengan pekerjaan yang berbahaya,” katanya seusai memberikan pemaparan pada Rapast Kerja Nasional Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Mataram, Selasa.

Selain itu, katanya, dengan kemajuan teknologi informasi banyak terjadi pelecehan seksual melalui internet, website dan melalui berbagai media sosial. Ini harus menjadi perhatian utama bagi pemerintah dalam membentuk anak sebagai generasi yang disiapkan ke depan.

Ia mengatakan, regulasi yang mengatur tentang perlindungan anak cukup banyak, seperti Undang-undang perlindungan anak, namun hingga kini masih belum tersosialisasi dengan baik, sehingga masyarakat belum memahami dengan baik mengenai hak dan kewajiban anak. Ini harus dimulai dari keluarga.

“Saat ini kami sedang melakukan langkah-langkah melalui kabupaten/kota menuju layak anak. Dengan program ini insya Allah anak-anak yang lahir akan tumbuh dan berkembang dengan baik,” katanya.

Menurut dia, bentuknya adalah suatu komitmen bersama antara eksekutif, legislatif dan masyarakat untuk membangun kota yang ramah anak. Ini harus dimulai dari kaluarga. “Ini sudah kita lakukan dan hingga kini sudah 104 kbupaten/kota yang menuju layak anak, namun ini baru pencanangan menujukota layak anak. Khusus NTB akan dilaksanakan pada 2013,” katanya.

Menurut Linda, indikator kota layak anak ini, antara lain dari sisi peraturan, pemenuhan hak anak dari sisi pendidikan, kesehatan dan tempat bermain dan dari sisi perlindungan hukum.

“Kita mengharapkan dengan terlaksananya program kabupaten/kota layak anak, maka para anak-anak bisa tumbuh dengan baik dan sehat. Ini penting dalam rangka melahirkan anak-anak Indonesia yang berkualitas,” kata Lilda.

Menurut data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) selama 2011 terjadinya 2.386 kasus kekserasan terhadap anak. Artinya setiap bulan lembaga perlindungan anak ini menerima laporan 200 kasus.

Angka tersebut meningkat 98 persen dari tahun lalu dengan jumlah 1.234 pengaduan. Kemudian perceraian orangtua juga mengakibatkan ratusan ribu anak di Indonesia terpaksa harus menjadi korban terpisah dari salah satu orangtuanya.

sehatnews.com


Artikel lainnya:
Anak Korban Kekerasan Mudah Alami Sakit Mental
Siap Menjadi Orang Tua Secara Psikologis dan Mental
Awas! Memukul Anak Bisa Bikin Perilakunya Makin Buruk
Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak
Tolong Jangan Katakan Hal Ini Pada Anak Anda
Mendidik Anak Tanpa Kekerasan
Kebersamaan Antara Anak dan Orang Tua 
Membantu Mengatasi Ketakutan Anak

Memahami Pneumokokus Pada Bayi

Pneumokokus, penyebab utama kematian anak. Dapat dicegah dengan vaksin dan peningkatan kekebalan tubuh.

TANTY masih pedih mengenang peristiwa itu. Pukul satu dini hari beberapa tahun lalu, Farel Nauval Isya, anaknya, tibatiba mengerang. Wajah bayi yang belum genap setahun itu mendadak pucat. Tanty segera memboyongnya ke rumah sakit. Setiba di ruang dokter, putranya tak bisa bernapas sehingga diberi pernapasan buatan. Farel menggelepar, hingga akhirnya maut menjemput.

Baru belakangan Tanty paham, putra tercintanya terinfeksi bakteri pneumokokus yang menyerang saluran pernapasan. Kasus ini diangkat dalam advokasi Asian Strategic Alliance for Pneumococcal Disease Prevention (ASAP) Indonesia yang dihadiri sekitar 250 dokter dan tenaga medis di Denpasar, 25 Maret lalu.

Aliansi strategis pencegahan infeksi pneumokokus ini adalah kelompok independen di Asia yang beranggotakan 20 negara, termasuk Indonesia.

Di negeri kita, pneumokokus menyebabkan sekitar dua juta kematian setiap tahun. Hampir separuhnya adalah anak di bawah lima tahun. Dari beraneka penyakit pneumokokus, yang paling tinggi menyebabkan maut adalah pneumonia (radang paru).

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), 98 orang bayi meninggal setiap jam akibat pneumonia di Asia Pasifik. Satu dari lima kematian anak di dunia disebabkan penyakit ini. Maka WHO pun menyebut pneumonia sebagai ”penyakit terlupakan pembunuh anak-anak”. Badan Perserikatan BangsaBangsa juga menempatkan Indonesia di urutan keenam setelah India, Cina, Nigeria, Pakistan, Bangladesh terbanyak penderita pneumonia.

Profesor Sri Rezeki Hadinegoro, spesialis anak konsultan penyakit tropis dan infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, yang juga wakil Indonesia di ASAP, menjelaskan penyakit pneumokokus adalah sekumpulan penyakit yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae. Bakteri pneumokokus ada lebih dari 90 tipe. Sebelas di antaranya ganas dan mematikan.

Pneumokokus dapat menyebabkan invasive pneumococcal disease atau IPD, antara lain, pneumonia (radang paru), bakteremial (infeksi bakteri dalam darah), sepsis (darah yang teracuni), meningitis (radang selaput otak).

Ada pula pneumokokus yang bersifat noninvasif, yaitu yang menyebabkan penyakit di telinga, hidung, atau tenggorokan (THT), seperti media otitis (radang telinga tengah) dan sinusitis (infeksi pada sinus). Jika tidak ditangkal atau ditangani dengan tepat, penyakit pneumokokus dapat menyebabkan hilangnya pendengaran, kemunduran inteligensi, kesulitan berbicara, kelumpuhan, hingga kematian.

Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, mengungkapkan bakteri pneumokokus ini dapat ditemukan pada tenggorokan dan rongga hidung orang dewasa serta bayi dan anak-anak. Yang patut diwaspadai, penyakit ini bisa dengan mudah menjangkiti anak sehat yang datang dari lingkungan sehat. Ia menyebar dengan sangat mudah hanya melalui udara, yaitu ketika penderita atau pembawa penyakit (carrier) batuk, bersin, dan memercikkan ludah.

Memang, berdasarkan data WHO, tak semua kasus pneumonia disebabkan pneumokokus. Hanya setengah dari jumlah total penderita pneumonia yang terjangkit pneumokokus. Sedangkan 30 persen akibat terinfeksi bakteri Haemophilus influenza tipe B (HiB). Sisanya disebabkan virus dan bakteri lain. Dua bakteri itu pneumokokus dan HiB juga menjadi penyebab meningitis pada anak.

Dari berbagai macam penyakit yang disebabkan pneumokokus, dua yang utama adalah pneumonia dan meningitis. Pneumonia adalah radang paru atau dalam bahasa awam paruparu basah. Kantong udara di paru dipenuhi cairan. Artinya, organ pernapasan itu tak bisa mengantar oksigen secara efektif ke pembuluh darah. Selain karena pneumokokus, pneumonia juga bisa disebabkan virus dan bakteri lain, serta parasit dan jamur.

Sedangkan meningitis adalah penyakit yang menyerang selaput otak atau pembuluh yang melindungi otak dan susunan saraf pusat. Penyebabnya infeksi bakteri atau virus meningitis. Kasus ini paling sering menimpa anak di bawah lima tahun, 1725 tahun, dan di atas 55 tahun. Yang paling rentan adalah mereka yang sistem kekebalan tubuhnya lemah. Efek meningitis sangat beragam, mulai dari kehilangan tungkai atau lengan, gangguan pendengaran, gangguan mental, hingga kematian.

Bakteri pneumokokus secara normal berada di dalam rongga hidung dan tenggorokan anak-anak dan dewasa yang sehat, dengan empat serotipe berbeda yang terkandung secara bersamaan. Artinya, tidak semua individu akan menderita penyakit ini ketika terkena bakteri ini. Namun tetap saja patut waspada. Sebab, ketika sudah terjadi kolonisasi bakteri dalam tubuh, orang tersebut akan menjadi pembawa sekaligus penyebar penyakit melalui partikel udara: lewat bersin, batuk, percikan ludah, serta kontak tubuh.

Karena tak ada keluhan atau gejala apa pun, si carrier sering tak menyadari kondisinya. Ironisnya, seperti dikemukakan Soetjiningsih, yang paling banyak menularkan bakteri ini justru orang rumah. Ia mengemukakan sebuah penelitian di Bandung terhadap bayi baru lahir hingga usia dua bulan pada 2006. Ternyata, dari semua responden yang mengidap pneumokokus, lebih dari setengahnya tertular pneumokokus dari kakaknya dan 11,9 dari ibunya. Sisanya tertular dari orang lain di luar keluarga.

Soetjiningsih menyebutkan, kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.

Karena ada berbagai jenis penyakit yang disebabkan pneumokokus, gejalanya juga beragam. Gejala meningitis antara lain demam dan sakit kepala, mual, muntah, kaku pada leher dan fotofobia (sakit karena melihat cahaya) pada anak yang lebih besar. Pada bayi biasanya ditandai demam dan tandatanda penyakit tidak spesifik lainnya. Sedangkan gejala pneumonia adalah gemetar tibatiba, kedinginan, batuk, demam, dan sesak. Media otitis akut (radang telinga tengah) ditandai demam, sakit pada telinga, dan pendengaran terganggu.

Salah satu pencegahan pneumokokus adalah dengan imunisasi Pneumococcal Saccharine Conjugated Vaccine (PCV7). Vaksin ini membantu mencegah penyakit pneumokokus invasif (IPD) pada anak di bawah dua tahun, dan melin¬dungi anak hingga sembilan tahun.

Masalahnya, di Indonesia harga vaksin ini termasuk mahal: Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta sekali suntik. Padahal vaksin ini mesti diberikan satu seri, yakni tiga kali. Selain itu, baru ada satu perusahaan obat yang memproduksi vaksin ini, sehingga dikhawatirkan bisa terjadi ”monopoli”.

Lantas, bagaimana sebaiknya sikap orang tua menghadapi kondisi ini? Dokter Purnamawati, spesialis anak yang juga salah satu pendiri Yayasan Orang Tua Peduli, menyatakan penyebab pneumonia dan meningitis banyak sekali. Virus dan kumannya macammacam, tak selalu Streptococcus pneumoniae, tapi bisa saja kuman HiB, tuberkulosis, dan lainnya. Belum ada data tentang virus atau bakteri apa yang paling banyak menyebabkan pneumonia dan meningitis di sini.

Memang, vaksin IPD yang masuk ke Indonesia bagus, karena mengandung tujuh jenis kuman Streptococcus pneumoniae. Tidak soal jika orang tua memberikan vaksin ini pada anak. Masalahnya, apakah bakteri Streptococcus yang ada di sini termasuk tujuh jenis bakteri di dalam vaksin itu. Jangan sampai, seperti terjadi di beberapa negara Asia dan Afrika, vaksin ini ternyata tidak mencakup bakteri Streptococcus yang ada di sini.

Jadi yang terpenting adalah membentuk kekebalan tubuh anak sejak dini. Yang paling sakti adalah air susu ibu. Dokter Sri Rezeki mengingatkan salah satu risiko tertinggi terkena pneumokokus adalah tidak atau hanya sebentar mendapat ASI. ”Menyusui terbukti menurunkan angka terkena penyakit infeksi pada bayi dan anak,” katanya. Andari Karina Anom

majalah.tempointeraktif.com


Baca ini juga:
Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita
Bahaya Penyakit Pneumonia
Kenali 7 Imunisasi Tambahan
Manfaat Asi Untuk Bayi dan Ibu
Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita
Antibiotik, Siapa Takut?
ASI Bantu Cetak Generasi Penerus Bangsa yang Cerdas



Perlu Anda Ketahui:
Kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.
Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Manfaat Menggambar Untuk Anak

Tahukah Bunda, kegiatan menggambar si kecil bukan hanya kegiatan mencoret-coret tanpa arti loh. Dengan menggambar banyak manfaat yang akan didapat si kecil, bahkan manfaatnya akan terasa hingga ia dewasa nanti.

Berdasarkan riset yang dilakukan terhadap 200 anak usia 3-4 tahun, ternyata kemampuan menggambar adalah salah satu indikator terhadap berkembangnya kemampuan membaca anak. Riset ini dikutip dari Parents Indonesia.

Nah, jika Bunda saat ini memiliki anak yang sedang bersekolah di Taman Kanak-kanak, ada baiknya Bunda membantunya mengembangkan kemampuan menggambarnya. Jika kemampuan menggambar anak terus dikembangkan selama 2 tahun selama ia bersekolah di TK, maka kemungkinan besar ia sudah akan bisa membaca saat lulus nanti.

Kemampuan menggambar yang bagus pada anak dan bisa menggambar persegi atau lingkaran dengan sempurna maka ia bisa lebih cepat membaca dan punya kemampuan mengidentifikasi bahasa, sandi dan huruf.

Ternyata kemampuan menggambar yang baik tidak hanya merangsang kemampuannya untuk membaca saja, kemampuan menggambar yang baik juga dapat mendongkrak kemampuannya dalam menghitung. Peneliti berkesimpulan menggambar punya kontribusi tinggi terhadap perkembangan pengetahuannya di masa depan.

Peneliti juga berkesimpulan, dengan kemampuan menggambar anak, ternyata mereka juga bisa lebih fokus dalam menerima pelajaran dengan menggunakan kata-kata, dibandingkan dengan pelajaran menggunakan kapur atau spidol. Peneliti juga memperkirakan ada kemampuan kognitif lain yang berkembang jika si anak terus belajar menggambar.

Jadi daripada Bunda menghabiskan banyak waktu untuk mengajarkan anak membaca, lebih baik Bunda menggunakan sebagian waktu untuk mengajak anak menggambar. Menggambar tentu lebih menyenangkan bagi anak. Selain itu bisa mengembangkan kemampuan yang lainnya.

Republika



Artikel lainnya:

CEGAH PNEUMONIA PADA BAYI

Meningkatkan ASI guna dapat memberikan ASI ekslusif pada bayi sangat bermanfaat untuk kesehatan bayi dan ibu. Terutama pada bayi, salah satunya adalah untuk mencegah Pneumonia. Pneumonia, menurut WHO, merupakan penyebab kematian tunggal pada anak, terbesar di seluruh dunia. Hingga saat ini, pneumonia membunuh hampir dua juta balita, atau sekitar 20% dari seluruh kematian balita di seluruh dunia dan menurut UNICEF Ada sekitar 155 juta kasus pneumonia anak setiap tahun di dunia.

Pneumonia adalah merupakan proses radang akut pada jaringan paru (alveoli) akibat infeksi kuman yang menyebabkan gangguan pernapasan. Penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada anak akibat paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh.

Pneumonia disebabkan oleh kuman, bisa berupa bakteri atau virus, yang mencapai paru-paru melalui beberapa rute. Pertama, kuman di udara kotor terhirup melalui hidung dan tenggorokan sampai ke paru dan terjadi infeksi. Kedua, menyebar melalui darah. Bayi baru lahir merupakan kelompok paling rawan yang rentan tertular pneumonia dari ibunya melalui jalan lahirnya saat proses persalinan.

Selain bayi, anak-anak dengan sistem imunitas yang rendah juga termasuk kelompok yang rawan terkena pneumonia. Gejala pneumonia seperti flu, yaitu batuk lebih dari dua hari,demam, dan napasnya tersengal-sengal.

Pneumonia dapat dicegah dengan beberapa cara, seperti:
  1. Meningkatkan ASI guna dapat Memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama Hal tersebut merupakan langkah penting untuk memastikan bayi Anda mendapatkan gizi yang cukup serta membangun kekebalan alami terhadap bakteri maupun virus
  2. Memberikan vaksin yang disarankan oleh dokter dalam satu tahun pertama kelahiran
  3. Menjaga kebersihan lingkungan
  4. Membiasakan anak untuk hidup sehat seperti tidak jajan sembarangan dan mencuci tangan sebelum makan

Utamakan ASI esklusif untuk balita Anda.

(infoguna -Mew)



Artikel lainnya:

Waktu-waktu Terbaik Untuk Otak Kita

Banyak yang menduga hanya energi atau berat badan yang dapat berfluktuasi selama satu hari. Padahal otak manusia juga memiliki irama tersendiri dan ada waktu-waktu terbaiknya. Kapan saja waktu brilian untuk melakukan aktivitas tertentu?

Seperti dikutip dari Health MSN, ada 8 waktu tertentu yang mana seseorang bisa menjadi brilian dalam melakukan tugas-tugasnya, yaitu:

Jam 7-9 pagi:
Saat terbaik untuk meningkatkan semangat dan gairah
“Waktu tersebut merupakan saat yang sempurna untuk meningkatkan ikatan dengan pasangan ketika baru bangun tidur,” ujar Ilia Karatsoreos, PhD, ahli saraf dari Rockefeller University.

Hal ini karena kadar hormon oksitosin (hormon cinta) berada di level tertinggi setelah bangun tidur. Waktu ini merupakan saat yang tepat untuk memperkuat hubungan dengan orang-orang yang paling penting dalam hidup. Peneliti Inggris menuturkan bahwa kadar oksitosin pada laki-laki akan berangsur-angsur menurun seiring berjalannya waktu.

Jam 9 pagi sampai 11 siang:
Saat terbaik untuk kreativitas
Pada waktu tersebut otak memiliki hormon kortisol (hormon stres) yang cukup, sehingga dapat membantu memfokuskan pikiran dan hal ini tidak dipengaruhi oleh usia berapapun.

Saat ini merupakan waktu yang prima untuk belajar serta mengerjakan tugas yang membutuhkan analisa dan konsentrasi. Karena itu saatnya mengembangkan ide baru, membuat presentasi atau melakukan brainstorming.

Jam 11 sampai jam 2 siang:
Saat terbaik untuk melakukan tugas yang sulit
Peneliti Jerman menuturkan saat tersebut hormon melatonin (hormon tidur) telah menurun tajam, sehingga tubuh lebih siap untuk mengerjakan beban proyek atau pekerjaan yang sulit dan keras.

Namun sebaiknya tetap tidak melakukan beberapa tugas secara bersamaan, karena akan membuat seseorang kehilangan konsentrasi. Karena itu saatnya melakukan presentasi atau melakukan tugas yang berat lainnya.

Jam 2-3 siang:
Saat terbaik untuk beristirahat
Untuk mencerna makan siang, maka tubuh akan menarik darah dari otak ke perut, kondisi ini akan membuat asupan darah atau oksigen ke otak sedikit berkurang yang membuat seseorang jadi mengantuk. Untuk itu cobalah beristirahat sebentar dari pekerjaan.

Jika tetap harus bekerja dan melawan kantuk, cobalah berjalan-jalan sebentar, melakukan meditasi atau minum air putih. Hal ini bisa meningkatkan volume vaskuler dan sirkulasi sehingga meningkatkan aliran darah ke otak.

Jam 3 siang sampai 6 sore:
Saat terbaik untuk kolaborasi
“Pada saat sekarang otak akan merasa sangat lelah,” ujar Paul Nussbaum, PhD, seorang neuropsikolog klinis. Karena itu tak ada salahnya untuk melakukan kolaborasi dengan rekan kerja atau melakukan kegiatan yang berbeda. Meskipun otak tidak setajam waktu sebelumnya, tapi seseorang akan merasa lebih santai dan tekanan tubuhnya juga lebih rendah.

Jam 6 sore sampai 8 malam:
Saat terbaik untuk melakukan tugas-tugas pribadi
Diantara jam tersebut, peneliti menemukan bahwa otak sudah masuk dalam tahap ‘pemeliharaan‘, yaitu ketika produksi melatonin masih berada di level rendah.

Tak ada salahnya untuk berjalan-jalan seorang diri atau bersama teman-teman, menyiapkan makan malam atau menikmati waktu yang berkualitas bersama anggota keluarga.

Jam 8-10 malam:
Saat terbaik untuk bersantai
Pada saat ini ada transisi dari kondisi terjaga menjadi mengantuk, karena kadar hormon melatonin akan meningkat cepat. Sementara itu kadar serotonin (neurotransmitter yang berhubungan dengan semangat) akan memudar.

Rubin Naiman, PhD spesialis masalah tidur dari University of Arizona’s Center for Integrative Medicine menuturkan sekitar 80 persen serotonin akan dirangsang dari paparan sinar matahari, sehingga jika matahari tenggelam kadar dalam dalam tubuh juga berkurang.

“Pada malam hari ketika otak sudah lelah, merupakan cara terbaik untuk membuat tubuh menjadi santai seperti menonton film lucu, merajut atau melakukan hal-hal yang bisa membuat tubuh santai atau rileks,” ujar Naiman.

Jam 10 malam ke atas:
Saat terbaik untuk tidur dan menuda segala kegiatan
Saat ini merupakan waktunya istirahat malam dan tidur, pengaturan cahaya akan dapat membantu membiarkan otak beristirahat. Setelah beberapa jam, otak akan siap kembali untuk memulai aktivitas baru.

Usahakan untuk mendapatkan tidur yang cukup sebanyak 7-8 jam, sehingga bisa mendapatkan kesehatan dan energi yang optimal di pagi hari.

by beritaunik



Artikel lainnya:

ASI Bantu Cetak Generasi Penerus Bangsa yang Cerdas

Air Susu Ibu (ASI) telah terbukti mempunyai keunggulan yang tak dapat digantikan oleh susu manapun, karena ASI mengandung zat gizi yang selalu menyesuaikan dengan kebutuhan bayi setiap saat.

Bahkan ketika bayi sakit pun kandungan gizi ASI akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi.

ASI adalah makanan yang terbaik di awal kehidupan seorang anak dan merupakan hak anak untuk kelangsungan hidup dan tumbuh kembang secara optimal.

Pemberian ASI memiliki banyak manfaat bukan hanya bagi bayi tapi juga bagi ibu khususnya yang berkaitan dengan pemulihan kesehatan, diantaranya mencegah pendarahan setelah melahirkan sehingga mengurangi kemungkinan anemia, menjarangkan/menunda kehamilan, serta mengurangi risiko terkena kanker rahim dan kanker payudara.

Pemberian ASI juga dapat mempererat jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi serta menimbulkan rasa aman dan kedekatan emosional yang kuat yang akan berdampak positif terhadap perkembangan psikologis dan mental anak kelak serta dapat membentuk perkembangan intelegensia, rohani dan perkembangan emosional yang baik.

Dalam dekapan ibu, bayi akan merasakan kehangatan dan perlindungan, begitu pula sebaliknya ibu menyusui akan merasakan puas dan bahagia karena dapat memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, dan sesungguhnya apabila dihayati bahwa dalam menyusui akan menumbuhkan kebahagiaan yang terwujud dalam bentuk kasih sayang murni.

Sentuhan kulit, detak jantung ibu yang telah lama dikenal bayi, akan meningkatkan cinta dan kasih sayang di antara mereka.

Kemesraan, berpadunya unsur fisik dan psikis antara ibu dan bayi akan semakin memperkuat ikatan.

Agar pemberian ASI seorang ibu dapat berjalan dengan lancar, maka diperlukan dukungan dan kerjasama yang baik dari Bapak/Suami dengan antara lain menjaga suasana batin dan harmonisasi keluarga yang akan berdampak pada produksi ASI.

Perhatian dan komitmen Bapak/Suami untuk mendukung isteri memberikan ASI pada bayinya merupakan bentuk kesetaraan gender di dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Seorang anak yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya akan tumbuh menjadi anak yang berpikiran positif, penuh percaya diri dan mandiri.

sehatnews.com

Artikel yang berhubungan:
Manfaat Asi Untuk Bayi dan Ibu
Tips Memperbanyak Asi
Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan
Tips Memilih Nama Bayi

Perlu Anda Ketahui:
Kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi Pneumokokus adalah bayi di bawah dua tahun, yang tidak atau hanya sebentar mendapat ASI, tinggal di hunian padat, terpapar polusi atau asap rokok, sering mendapat antibiotik (sehingga bakteri menjadi resisten), kurang gizi, dan tidak diimunisasi.
Profesor Soetjiningsih, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Imunisasi Tetap yang Terbaik untuk Cegah Penyakit

Meski ada kemungkinan anak tetap terkena penyakit walau sudah imunisasi bukan berarti anak tidak diimunisasi. Kemungkinannya sekitar 5-15 persen.

“Meski begitu, risikonya bisa ditekan dan jauh lebih ringan,” imbuh Dr. Soedjatmiko, Sp.A(K)., MSi.

Karena itu, bayi dan balita tetap harus diimunisasi lengkap. Sebab, bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap, tidak akan memiliki kekebalan spesifik yang optimal terhadap penyakit menular berbahaya.

Anak-anak tersebut mudah tertular penyakit tersebut dan menderita sakit berat. Tidak hanya itu saja, mereka juga bisa menularkan ke anak-anak lain yang bila menyebar secara luas akan terjadi wabah. Dan menyebabkan banyak kematian maupun kecacatan.

“Melalui imunisasi pula, anak akan terhindar dari penyakit infeksi berbahaya. Sehingga mereka memiliki kesempatan untuk bermain maupun belajar tanpa terganggu dengan masalah kesehatan,” ujar Prof. DR. Dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K).

Jadi, pencegahan penyakit melalui imunisasi menjadi cara perlindungan terhadap infeksi. Tindakan ini jauh lebih murah dan paling efektif dibandingkan mengobati seseorang bila telah terkena sakit dan kemudian dirawat di rumah sakit.

Diana Y. Sari

Artikel lainnya:
Kenali 7 Imunisasi Tambahan
Bagaimana Mengoptimalkan Kecerdasan Balita Pada Masa Golder Years?
Mendorong Perkembangan Otak Anak
Bayi Tidak Boleh Tidur dengan Perokok
Pneumonia, Penyebab Utama Kematian Balita
ASI Bantu Cetak Generasi Penerus Bangsa yang Cerdas

Bahaya Penyakit Pneumonia

Anak saya umur 3 tahun batuk-batuk, demam, dan agak sesak. Cuping hidungnya bergerak jika bernapas. Dokter anak menganjurkan agar anak saya dirawat karena menderita pneumonia.

Dokter melakukan berbagai pemeriksaan laboratorium dan radiologi. Untunglah anak saya dapat disembuhkan dan pulang dari rumah sakit setelah seminggu dirawat. Di rumah saya mempunyai mertua, umurnya di atas 65 tahun. Anak saya juga punya adik berumur setahun. Dokter menganjurkan agar anak saya yang kecil dan mertua saya menjalani imunisasi pneumokok. Imunisasi diharapkan dapat mencegah penularan penyakit pneumonia yang disebabkan oleh kuman yang disebarkan melalui udara.

Apakah pneumonia merupakan penyakit yang sering dijumpai di Indonesia? Kenapa imunisasi pneumonia belum populer di masyarakat. Memang dulu dokter anak kami pernah menganjurkan agar anak saya menjalani imunisasi pneumonia, tetapi belum kami laksanakan karena kami beranggapan vaksin tersebut bukanlah vaksin yang wajib untuk anak. Apakah di rumah tangga dapat terjadi penularan pneumonia, bagaimana mencegahnya selain dengan imunisasi? Terima kasih atas penjelasan dokter.

Pneumonia merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat, termasuk di Indonesia. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai kuman, tetapi salah satu kuman yang sering menimbulkan pneumonia adalah kuman Streptococcus pneumoniae. Kuman ini dapat menimbulkan infeksi pada telinga tengah (otitis media), sinus paranasal, dan cabang tracheobronkial.

Penularan kuman ini dapat terjadi melalui batuk, bersin, dan udara yang mengandung bakteri. Sebagian orang mengandung kuman ini di tenggoroknya, tetapi dia tidak sakit. Jika tenggoroknya diperiksa dapat ditemukan kuman ini. Keadaan ini yang disebut sebagai kolonisasi kuman, dapat terjadi pada 5 persen sampai 70 persen orang sehat. Kolonisasi kuman ini lebih sering dijumpai pada anak sehingga anak yang mengandung kuman ini dapat menularkan pada orang sekitarnya. Dalam rumah tangga, yang sering terjadi adalah anak menularkan kuman ini kepada kakek atau neneknya.

Untuk mencegah penularan, perlu diusahakan agar orang yang batuk menutup mulut dan hidungnya sehingga kuman tidak bertebaran ke sekelilingnya. Sering mencuci tangan dan jika perlu memakai masker. Selain itu, mencegah penularan penyakit ini kita perlu menjaga kekebalan tubuh dengan nutrisi yang baik, olahraga dan keadaan emosi yang terkendali. Lingkungan udara juga harus baik, usahakan agar ventilasi udara di rumah berjalan dengan baik.

Imunisasi Pneumokok
Imunisasi pneumokok dianjurkan kepada anak-anak, orang berusia lanjut, serta orang dewasa yang mempunyai penyakit kronik, seperti penyakit paru obstruktif menahun, diabetes melitus, gagal ginjal kronik, sirosis hati, dan kanker sistem darah. Juga bagi mereka yang pernah mengalami operasi limpa dianjurkan untuk menjalani imunisasi pneumokok. Pada anak, imunisasi ini perlu diberikan beberapa kali tergantung dari umur anak. Namun, pada orang dewasa cukup diberikan satu kali.

Dewasa ini di Indonesia terdapat dua macam vaksin pneumokok, yaitu vaksin polisakarida dan konjugat. Vaksin polisakarida dapat diberikan kepada anak yang berumur dua tahun, sedangkan konjugat dapat diberikan kepada anak yang usianya lebih muda. Manfaat vaksin ini adalah menurunkan risiko penularan kuman Streptococcus pneumoniae. Kuman ini selain menimbulkan penyakit yang relatif ringan, yaitu otitis media dan sinusitis, dapat juga menimbulkan penyakit yang berat, seperti pneumonia, meningitis (radang otak), dan bakteriemia (kuman ditemukan dalam darah).

Penyakit meningitis dan bakteriemia disebut sebagai penyakit pneumonia invasif. Meski pneumonia tidak tergolong penyakit invasif, angka kematiannya tinggi, terutama pada anak dan orang berusia lanjut. Sekitar 52 persen orang yang berusia lanjut yang dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menderita pneumonia. Karena itulah di negara yang mempunyai dana cukup, imunisasi pneumonia pada orang berusia lanjut sudah merupakan program yang didanai oleh pemerintah atau asuransi.

Di Malaysia, jemaah haji selain diwajibkan untuk menjalani imunisasi meningokok diwajibkan oleh Pemerintah Arab Saudi) juga amat dianjurkan untuk menjalani imunisasi influenza dan pneumokok. Kalangan kesehatan di Malaysia beranggapan kegiatan haji dapat sekaligus dimanfaatkan untuk menurunkan risiko penularan pneumonia pada sejumlah besar orang. Di negeri kita, jemaah haji dan umrah wajib menjalani imunisasi meningokok dan dianjurkan untuk imunisasi influenza dan pneumokok. Namun, imunisasi pneumokok belum populer di masyarakat sehingga banyak jemaah yang belum merasa perlu untuk diimunisasi.

Imunisasi meningokok perlu diulang setiap dua tahun, sementara influenza tiap tahun. Pneumokok untuk vaksin yang lama setiap lima tahun, sedangkan vaksin baru kemungkinan tidak perlu diulang. Cukup sekali seumur hidup bagi orang yang kekebalannya cukup.

Memang benar vaksin pneumokok masih mahal. Namun, kita harus mulai menyadari bahwa sebenarnya kita cukup banyak mengeluarkan uang untuk barang-barang seperti telepon seluler, tetapi masih amat hemat untuk memelihara kesehatan. Padahal, imunisasi, termasuk imunisasi pneumokok, merupakan investasi. Sebenarnya semua imunisasi diperlukan oleh anak. Namun, karena keterbatasan dana pemerintah, belum semua imunisasi dapat dibiayai pemerintah, sebagian imunisasi masih menjadi tanggung jawab orang tua.

Imunisasi pneumokok, rotavirus, dan imunisasi lainnya memang belum dibiayai oleh pemerintah. Sambil menunggu kemampuan pemerintah meningkat, sebaiknya orang tua membiayai imunisasi itu agar kesehatan anak mereka dapat terpelihara.

Wartakotalive.com


Artikel lainnya:

Next Prev home