Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Perkembangan dan Stimulasi Anak Usia 3 - 6 Bulan

Pada rentang usia 3-6 bulan kebanyakan bayi sudah mulai menunjukkan polah tingkah yang mengundang gemas yang melihatnya, karena pada rentang usia tersebut kondisi fisik sang buah hati sudah mendukung untuk melakukan beragam aktifitas, seperti:
• Berbalik dari telungkup ke telentang
• Mengangkat kepala
• Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
• Menggenggam pensil
• Meraih benda yang ada di dalam jangkauannya
• Memegang tangannya sendiri
• Berusaha memperluas pandangan
• Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
• Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
• Tersenyum ketika melihat mainan / gambar yang menarik saat bermain sendiri.

Perkembangan Aspek Motorik atau Gerak Kasar
Lanjutkan stimulasi berguling-guling dan menahan kepala tetap tegak.

Menyangga berat
Angkat badan bayi melalui bawah ketiaknya ke posisi berdiri. Perlahan-lahan turunkan badan bayi hingga kedua kaki menyentuh meja, tempat tidur atau pangkuan Anda. Coba agar bayi mau mengayunkan badannya dengan gerakan naik turun serta menyangga sebagian berat badannya dengan kedua kaki bayi.

Mengembangkan fungsi kontrol terhadap kepala
Latih bayi agar otot-otot lehernya kuat. Letakkan bayi pada posisi telentang. Pegang kedua pergelangan tangan bayi, tarik bayi perlahan-lahan ke arah Anda, hingga badan bayi terangkat ke posisi setengah duduk. Jika bayi belum dapat mengontrol kepalanya (kepala bayi tidak ikut terangkat), jangan lakukan latihan ini. Tunggu sampai otot-otot leher bayi lebih kuat.

Duduk
Bantu bayi agar bisa duduk sendiri. Mula-mula bayi didudukkan di kursi dengan sandaran agar tidak jatuh ke belakang. Ketika bayi dalam posisi duduk, beri mainan kecil ditangannya. Jika bayi belum bisa duduk tegak, pegang badan bayi. Jika bayi bisa duduk tegak, dudukkan bayi di lantai yang beralaskan selimut, tanpa sandaran atau penyangga.

Perkembangan Motorik atau Gerak Halus
Lanjutkan stimulasi melihat, meraih dan menendang mainan gantung, memperhatikan benda bergerak, melihat benda-benda kecil, serta meraba dan merasakan berbagai bentuk permukaan.

Memegang benda dengan kuat
Letakkan sebuah mainan kecil yang berbunyi atau berwarna cerah di tangan bayi. Setelah bayi menggenggam mainan tersebut, tarik pelan-pelan untuk melatih bayi memegang benda dengan kuat.

Memegang benda dengan kedua tangan
Letakkan sebuah benda atau mainan di tangan bayi dan perhatikan apakah ia memindahkan benda tersebut ke tangan lainnya. Usahakan agar tangan bayi, kiri dan kanan, masing-masing memegang benda pada waktu yang sama. Mula-mula bayi dibantu, letakkan mainan di satu tangan dan kemudian usahakan agar bayi mau mengambil mainan lainnya dengan tangan yang paling sering digunakan.

Makan sendiri
Beri kesempatan kepada bayi untuk makan sendiri, mula-mula berikan biskuitnya sehingga bayi bisa belajar makan biskuit.

Mengambil benda-benda kecil
Letakkan benda kecil seperti remah-remah makanan atau potongan-potongan biskuit di hadapan bayi. Ajari bayi mengambil benda-benda tersebut. Jika bayi telah mampu melakukan hal ini, jauhkan pil, obat dan benda kecil lainnya dari jangkauan bayi.

Perkembangan Aspek Bicara dan Bahasa
Lanjutkan stimulasi berbicara, meniru suara-suara, dan mengenali berbagai suara.

Mencari sumber suara
Ajari bayi agar memalingkan mukanya ke arah sumber suara. Mula-mula muka bayi dipegang dan dipalingkan perlahan-lahan ke arah sumber suara, atau bayi dibawa mendekati sumber suara.

Menirukan kata-kata
Ketika berbicara dengan bayi, ulangi beberapa kata berkali-kali dan usahakan agar bayi menirukannya. Yang paling mudah ditirukan oleh bayi adalah kata papa dan mama, walaupun ia belum mengerti artinya.

Perkembangan Aspek Sosialisasi dan Kemandirian
Lanjutkan stimulasi memberi rasa aman dan kasih sayang, mengajak bayi tersenyum, mengamati, mengayun, dan menina-bobokkan bayi.

Bermain “Ciluk-ba”
Pegang saputangan/kain atau koran untuk menutupi wajah Anda dari pandangan bayi. Singkirkan penutup tersebut dari hadapan bayi dan katakan “ciluk ba” ketika bayi dapat melihat wajah Anda kembali. Lakukan hal ini berulang kali. Yang penting, usahakan bayi tidak dapat melihat wajah Anda untuk beberapa saat dan tiba-tiba wajah Anda muncul kembali dengan gembira dan berseri-seri. Cara lain adalah mengintip bayi dari balik pintu atau tempat tidurnya.

Melihat dirinya di kaca
Pada umur ini, bayi senang melihat dirinya di cermin. Bawalah bayi melihat dirinya di cermin yang tidak mudah pecah.

Berusaha meraih mainan
Letakkan sebuah mainan sedikit diluar jangkauan bayi. Gerak-gerakkan mainan itu di depan bayi sambil bicara kepadanya agar ia berusaha untuk mendapatkan mainan itu. Jangan terlalu lama membiarkan bayi berusaha meraih mainan tersebut, agar ia tidak kecewa.

Oleh : dr. Salma Oktaria

Artikel lainnya:

Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak

Apa yang terjadi pada kita saat ini, lebih banyak ditentukan oleh perlakuan orang tua kita di masa lalu, dan perlakuan kita saat ini kepada anak-anak kita, akan mempengaruhi masa depan kehidupan mereka.

Perlakuan orang tua: Sering mendapat kritikan secara terus menerus, tidak dihargai, tidak dicintai dan tertolak dari orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga dan selalu merasa tertolak di tengah orang lain.

Perlakuan orang tua: Suka dicemoohnya, dianggap bodoh, dianggap tidak mampu, tidak terampil, malas oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung memiliki rasa percaya diri yang rendah, merasa tidak mampu, selalu salah, korban keadaan,tidak punya bakat, tidak mampu belajar. Baginya semua yang dilakukan merupakan kumpulan kegagalan, bahkan terkadang ia justru melakukan upaya untuk suatu kegagalan.

Perlakuan orang tua: Suka ditekan dan dicemooh saat ia mendahulukan kepentingan pribadinya oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung berkeyakinan bahwa memikirkan diri sendiri adalah jahat dan buruk, ia patuh dan berusaha menyenangkan orang lain, ia merasa bahwa orang lain lebih penting, lebih benar, lebih tahu. Ia cenderung mencari pasangan yang suka mengontrol atau otoriter.

Perlakuan orang tua: Suka ditekan untuk menjadi yang terbaik dan selalu menjadi nomor satu dengan mengorbankan kebahagiaan dan kesenangan oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menekan dirinya secara berlebihan demi karier, uang, nama baik, kecantikan dan keteraturan dengan mengorbankan kesehatan, kebahagiaan, kesenangan dan hubungan baik dengan orang disekitarnya.

Perlakuan orang tua: Terlalu diperlakukan manja oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menginginkan sesuatu dengan cepat tanpa peduli situasi dan kondisi di sekitarnya. Ia merasa berhak atas segala yang dia mau, merasa special, minta orang lain patuh dan tunduk kepadanya.

Perlakuan orang tua: Merasa kehilangan, atau merasa ditinggalkan, atau merasa dibuang oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung berusaha baik pada orang yang dikasihi walaupun dia telah meninggalkan dan menyakitinya berulang kali.

Perlakuan orang tua: Terlalu sering dibohongin atau dilecehkan oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung berasumsi bahwa orang lain tidak bisa dipercaya, selalu ingin menyakiti, menipu dan mengambil keuntungan darinya.

Perlakuan orang tua: Sikap over protektif dan otoriter oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung ragu-ragu, bingung dan panik saat membuat keputusan, dia selalu minta pertimbangan atau bahkan hanya mengikuti yang orang lain putuskan.

Perlakuan orang tua: Sikap over protektif oleh orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung ragu-ragu dan takut untuk keluar dari zona nyamannya, dia merasa segala situasi dan kondisi bisa menjadi masalah dan ancaman yang besar baginya.

Perlakuan orang tua: Suasana dingin dan miskin cinta dari orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung menganggap dirinya tidak penting, tidak layak dicintai dan tidak berharga, sehingga ia juga tidak peduli dengan orang lain, dingin, cuek dan berpetualang mencari cinta dan kehangatan.

Perlakuan orang tua: Penilaian buruk atau perlakuan buruk yang menyakitkan dari orang tua dan orang terdekat sewaktu kecil.
Dampak pada anak: Cenderung mengasingkan diri, tertutup dan tidak mau membangun hubungan dengan orang lain. Dia merasa tidak bisa diterima di lingkungan karena perasaan buruk, aneh, tidak selevel atau berbeda.

Terkadang perlakuan buruk yang telah kita terima dari orang tua dimasa lalu, tanpa sadar akan terulang saat kita memperlakukan anak kita. WASPADALAH..!!! Belajar dan berusahalah menjadi orang tua yang baik dan bijaksana buat anak-anak kita.

Lukas Y. Wirawan




Artikel yang Berhubungan:
Kebersamaan Antara Anak dan Orang Tua
Tolong Jangan Katakan Hal Ini Pada Anak Anda
Kiat Menanamkan Disiplin Pada Anak
Mendidik Anak Tanpa Kekerasan
Beberapa Kesalahan yang Kerap Kali Menghancurkan Kepribadian Anak
Awas! Memukul Anak Bisa Bikin Perilakunya Makin Buruk
Menjadikan Anak Taat Kepada Orang Tua Tanpa Menghukum
Memahami Dunia Emosi Anak

Bayi dan Anak Jadi Perokok Pasif

11,9 Juta Bayi Terpapar Rokok di Rumahnya Sendiri
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menuturkan 78 persen anak usia antara 8-15 tahun terpapar asap rokok di luar rumah. Kemudian sebanyak 11,9 juta balita terpapar asap rokok di rumah sendiri.

“Ya oleh orang tua, apakah bapaknya, ibunya, saudaranya, yang merokok di rumah,” kata Menteri Nafsiah.

Terpapar asap rokok sejak kecil, selain memperbesar peluang anak itu menjadi perokok juga, juga membuat risiko terkena penyakit-penyakit akibat merokok semakin besar. “Tidak mengherankan kita kesulitan mendapatkan atlet yang mumpuni fisiknya, yang paru-parunya bagus dan berkembang sempurnya,” kata Menteri Nafsiah.

11,4 Juta Anak Usia 0-4 Jadi Perokok Pasif Karena Orang Tuanya
Ada 11,4 juta anak usia 0-4 tahun yang menjadi perokok pasif akibat orang tuanya atau orang disekelilingnya.

Demikian disampaikan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dalam jumpa pers dengan wartawan di Jakarta, Jumat.

Sebatang rokok telah diketahui mengandung lebih dari 4.000 zat racun dimana 60 diantaranya bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

Menkes juga memaparkan biaya yang dikeluarkan untuk penanganan rokok tersebut jauh lebih besar daripada pemasukan melalui cukai rokok, yaitu Rp231,27 triliun dikeluarkan untuk pembelian rokok maupun biaya medis akibat sakit dibandingkan penerimaan cukai yang hanya Rp55 triliun.

“Pada tahun 2010, total pengeluaran untuk rawat inap dan jalan terkait dengan dampak rokok ini mencapai Rp2,11 triliun,” ujar Menkes.

Tiap Tahun Indonesia Habiskan 231 Triliun Rupiah untuk Rokok
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menyebutkan setiap tahun orang Indonesia menghabiskan biaya Rp231 triliun untuk dan karena rokok.

“Sejumlah Rp138 triliun untuk membeli rokok, kemudian ada lagi Rp2,11 triliun untuk biaya pengobatan sakit karena merokok itu,” kata Menteri Nafsiah di Balikpapan, Rabu.

Penyakit akibat merokok tersebut adalah sakit jantung, kanker paru-paru, kanker tenggorokan, kanker mulut, tekanan darah tinggi, hingga gagal ginjal.

Padahal, katanya, pendapatan negara dari cukai rokok hanya Rp. 55 triliun.

sehatnews.com


Artikel yang berhubungan:
Bayi Tidak Boleh Tidur dengan Perokok
Rokok Berdampak Pada Pendidikan Anak
Cara Efektif untuk Berhenti Merokok
Ayah Perokok Harus Hati-hati Kalau Gendong Anak
Rokok Sumber Penyebab Dari Berbagai Penyakit
Sayang Anak? Berhentilah Merokok!

Next Prev home