Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Beban Pelajaran Meningkat, Anak Bisa Sakit Jiwa

Psikiater Prof Dr dr LK Suryani SpKJ berpandangan, dewasa ini terjadi kecenderungan semakin muda usia penderita sakit kejiwaan karena anak-anak tidak siap menerima beban pelajaran di sekolah.

Suryani yang juga pendiri dan Direktur “Suryani Institute for Mental Health” itu di Denpasar, Kamis, mengatakan, berdasarkan hasil penelitiannya dan kunjungan ke tempat praktiknya, sudah ada anak SD yang mengalami gangguan jiwa.

Menurut dia, penyebab terbesarnya karena beban pelajaran sekolah, anak-anak dituntut cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Apalagi ditambah mereka harus belajar di sekolah hingga sore hari.

“Tetapi sayangnya guru tidak mau mendidik, maunya mengajar saja,” ujarnya.

Ia berharap para guru memahami perkembangan mental anak, jangan memaksa belajar, tetapi hendaknya membuat murid TK serta siswa SD dari kelas I sampai III terangsang mempunyai semangat belajar, mau belajar, dan berani berbicara.

“Sekarang terlalu sedikit waktu santai untuk anak-anak, bahkan TK sudah les. Idealnya sampai kelas III tidak ada PR. Bukankah tidak jarang yang mengerjakan PR pembantu dan orang tua agar anaknya tidak malu?” katanya.

Dengan gaya hidup seperti itu, ketika dewasa, mereka umumnya untuk bangun pagi saja harus dibangunkan dan malas ke kantor serta tidak bisa mengurus diri sendiri.

“Di dalam mendidik, seyogyanya guru jangan menganggap anak sudah tahu macam-macam sehingga tidak perlu dididik calistung. Harusnya anak-anak juga diajak menyanyi dan bercerita untuk mengekspresikan emosi,” katanya.

Lewat cerita, lanjut dia, juga untuk memasukkkan nilai baik dan buruk karena para orang tua tidak ada waktu bercerita. Hingga usia 10 tahun adalah masa untuk membuat anak mampu melihat situasi.

“Jika dapat memberikan pendidikan tanpa beban pada anak dan mereka senang, di sanalah akan ada harapan punya masa depan. Kalau orang tua sering ribut apalagi terjadi sejak dalam kandungan, hal itu akan menyulut gangguan jiwa pada anak-anak,” ujarnya.

Di sisi lain, ia melihat kecenderungan para orang tua menuntut agar anaknya paling hebat secara akademis, padahal pandai saja sebenarnya tidak cukup. Justru menjadikan anak mandiri dan kreatif jauh lebih penting. Ia tidak memungkiri, memang jika punya anak kreatif berat, anak akan banyak protes dan nakal.

“Seyogyanya biarkan anak berkembang, belajar apa yang diperlukan anak, dan jangan orang tua justru memaksakan kehendak. Adakan waktu ngobrol saat makan dan sebelum tidur,” kata Suryani.

sehatnews.com


Artikel lainnya:
Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak

IMUNISASI dan Jadwal Imunisasi Terbaru 2011-2012

Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia

Imunisasi adalah suatu proses untuk membuat sistem pertahanan tubuh kebal terhadap infasi mekroorganisme (bakteri dan virus). Yang dapat menyebabkan infeksi sebelum mikroorganisme tersebut memiliki kesempatan untuk menyerang tubuh kita. Dengan imunisasi tubuh kita akan terlindungi dari infeksi begitu pula orang lain. Karena tidak tertular dari kita.

Tujuan Imunisasi
Tujuan dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderitaan suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat di hindari dengan imunisasi yaitu:
1. Hepatitis
2. Campak
3. Polio
4. Difteri
5. Tetanus
6. Batuk Rejan
7. Gondongan
8. Cacar air
9. TBC

Macam-Macam Imunisasi
Imunisasi Aktif
Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seorang karena tubuh yang secara aktif membentuk zat antibodi, contohnya: imunisasi polio atau campak. Imunisasi aktif juga dapat di bagi 2 macam:
1. Imunisasi aktif alamiah adalah kekebalan tubuh yang secara ototmatis di peroleh sembuh dari suatu penyakit.
2. Imunisasi aktif buatan adalah kekebalan tubuh yang di dapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan perlindungan dari sutu penyakit.

Imunisasi Pasif
Adalah kekebalan tubuh yang di dapat seseorang yang zat kekebalan tubuhnya didapat dari luar. Contohnya Penyuntikan ATC (Anti TetanusSerum). Pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contah lain adalah: terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan. Misalnya antibodi terhadap campak. Imunisasi pasif ini dibagi yaitu:
1. Imunisai pasif alamiah adalah antibodi yang di dapat seorang karena di turunkan oleh ibu yang merupakan orang tua kandung langsung ketika berada dalam kandungan.
2. Imunisasi pasif buatan. adalah kekebalan tubuh yang di peroleh karena suntikan serumuntuk mencegah penyakit tertentu

jurnalbidandiah.blogspot.com


Baca ini juga:
Kenali 7 Imunisasi Tambahan

Banyak Ortu Akui Jarang Temani Anak Nonton TV

Hingga saat ini banyak orang tua mengakui jarang menemani anaknya menonton televisi sehingga dikhawatirkan tayangannya berdampak negatif bagi mereka.

Salah seorang pedagang makanan di Kebon Kacang, Jakarta, Selasa, Suiyah, mengaku sering tidak menemani putrinya yang berusia 12 tahun menonton televisi karena sibuk menjaga warung hingga malam hari.

“Saya hanya sempat menemani anak menonton televisi pada malam hari tetapi sebenarnya saya juga merasa cemas karena banyak presenter televisi di acara komedi dan musik yang sering mengatakan hal tidak sopan dan kata-kata kasar,” katanya.

Suiyah juga menyadari bahwa anak-anak bisa meniru adegan yang ada dalam tayangan televisi. Tetapi, ia selalu berusaha memantau tayangan apa saja yang ditonton oleh putrinya.

Hal serupa juga diakui oleh seorang pedagang di sebuah pusat perbelanjaan, Rahayu yang jarang menemani putra-putrinya menonton televisi.

Ibu dua anak ini mengatakan, kesibukannya berdagang membuatnya waktunya terbatas untuk menemani anak-anaknya menonton televisi.

“Biasanya anak-anak nonton film kartun, film laga dan berita. Karena saya baru pulang pukul 19.30 WIB, saya baru bisa menemani anak-anak pada malam hari sekaligus berkumpul bersama keluarga,” ujar perempuan asal Indramayu ini.

Sementara itu, berbeda dengan seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta, Noor Qodri, mengatakan, meskipun ia hanya sempat menemani anak-anaknya menonton televisi pagi dan malam hari serta pada akhir pekan, ia berusaha memberikan wawasan mengenai tayangan mana yang baik untuk anaknya.

“Mereka lebih menyukai acara anak-anak seperti kartun dan acara yang menyajikan ilmu pengetahuan. Tetapi mereka juga suka menonton sinetron remaja yang sebenarnya bukan untuk anak-anak,” kata Noor.

Noor mengemukakan, setiap tayangan televisi memiliki dampak positif maupun negatif. Tetapi itu semua bergantung pada isi pesan yang akan disampaikan dan bagaimana acara tersebut dikemas. Stasiun televisi seharusnya membuat dan mengemas tayangannya dengan serius.

Berkembang cepat
Senada dengan pendapat Noor, salah seorang pengunjung pusat perbelanjaan, Lilis, mengatakan, banyak tayangan televisi yang kurang mendidik dan adegan yang seharusnya disensor, seperti pada program sinetron.

“Pola pikir anak-anak menjadi berkembang lebih cepat dan mereka jadi cepat dewasa karena sering menonton sinetron,” kata Lilis.

Lilis berpendapat, pengaruh media massa sangat besar sehingga orang tua juga harus tetap mengawasi dan memperhatikan perkembangan anak-anak mereka, terutama ketika menonton televisi.

Komisioner Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Nina Mutmainnah Armando sebelumnya, mengatakan anak perlu pendampingan orang tua ketika menonton televisi untuk mencegah pengaruh negatif tayangan televisi terhadap anak-anak.

“Anak-anak sangat mudah meniru apa yang mereka tonton di televisi. Orang tua harus bersikap kritis terhadap tayangan televisi agar bisa menentukan tayangan yang tepat untuk anak mereka,” kata Nina.
sehatnews.com


Artikel lainnya:

Apa Itu Autisme?

Autisme atau biasa disebut ASD (Autistic Spectrum Disorder) merupakan gangguan perkembangan fungsi otak yang komplex dan sangat bervariasi (spektrum). Biasanya gangguan perkembangan ini meliputi cara berkomunikasi, berinteraksi sosial dan kemampuan berimajinasi.
Dari data para ahli diketahui penyandang ASD anak lelaki empat kali lebih banyak dibanding penyandang ASD anak perempuan.

Ciri Autisme
Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Diagnosa yang paling tepat adalah dengan cara seksama mengamati perilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Dikarenakan banyaknya perilaku autisme juga disebabkan oleh adanya kelainan-kelainan lain (bukan autis) sehingga tes klinis dapat pula dilakukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.

Karena karakteristik dari penyandang autisme ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme. Dokter ahli / praktisi profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan / training mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam mendiagnosa autisme. Kadang-kadang dokter ahli / praktisi profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.

Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut di atas dapat timbul secara bersamaan. 

Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autisme dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat.

Seperti apakah anak yang terkena Autisme?
Sejak lahir sampai dengan umur 24 - 30 bulan anak anak yang terkena autisme umumnya terlihat normal. Setelah itu orang tua mulai melihat perubahan seperti keterlambatan berbicara, bermain dan berteman (bersosialisasi). Autisme adalah kombinasi dari beberapa kelainan perkembangan otak. Kemampuan dan perilaku di bawah ini adalah beberapa kelainan yang disebabkan oleh autisme.

Komunikasi
Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata-kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.

Bersosialisasi (berteman)
Lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman. Tidak bereaksi terhadap isyarat-isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum.

Kelainan penginderaan
Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.

Bermain
Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura.

Perilaku
Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari-hari.

Jenis Autisme
Referensi baku yang dipakai untuk menjelaskan jenis autisme adalah standar Amerika DSM revisi keempat (Diagnostic and Statistical Manual) yang memuat kriteria yang harus dipenuhi dalam melakukan diagnosa autisme. Diagnosa ini hanya dapat dilakukan oleh tim dokter / praktisi ahli bersadarkan pengamatan seksama terhadap perilaku anak autisme dan disertai konsultasi dengan orang tua anak.

Pada kenyataannya, sangat sulit untuk membagi kategory / jenis autisme mengingat tidak ada / jarang ditemukan antara satu dan lain penyandang autisme yang mempunyai gejala yang sama. Setiap penyandang autisme mempunyai ke-'khas'-annya sendiri sendiri. Dengan kata lain ada 1001 jenis atau mungkin satu juta satu jenis autisme di dunia ini yang tidak dapat diperinci satu persatu. Istilah yang lazim dipakai saat ini oleh para ahli adalah 'kelainan spektrum autisme' atau ASD (Autism Spectrum Disorder).

Anak yang telah didiagnosa dan masuk dalam kategori PDD mempunyai persamaan dalam hal kekurang mampuan bersosialisasi dan berkomunikasi akan tetapi tingkat kelainan-nya (spektrum-nya) berbeda satu dengan lainnya.

Seperti dikatakan oleh Ibu Dra Dyah Puspita (psikolog) quote - karena begitu banyaknya jenis / ciri penyandang autisme, sehingga lebih berupa rangkaian dari kelabu muda sekali hingga kelabu tua sekali... (banyak nuansa-nya) . Penggunaan istilah autisme berat/parah dan autisme ringan dapat menyesatkan karena jika dikatakan berat/parah orang tua dapat merasa frustasi dan berhenti berusaha karena merasa tidak ada gunanya lagi. Sebaliknya jika dikatakan ringan/tidak parah maka orang tua merasa senang dan juga dapat berhenti berusaha karena merasa anaknya akan sembuh sendiri. Pada kenyataannya, baik ringan ataupun berat, tanpa penanganan terpadu dan intensif, penyandang autisme sulit mandiri - unquote.

Agar dapat membantu melihat beberapa kelompok besar spektrum autisme yang ada, dapat dilihat dari kategori utama dibawah ini:

Kelainan Autis
Ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. Sampai dengan umur 3 tahun mempunyai daya imajinasi yang tinggi dalam bermain dan mempunyai perilaku, minat dan aktifitas yang unik (aneh). Dikategorikan sebagai ketidak mampuan dalam bersosialisasi dan mempunyai minat dan aktifitas yang terbatas tanpa adanya keterlambatan dalam kemampuan berbicara. Kecerdasannya berada pada tingkat normal atau diatas normal.

PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specified)
Atau biasa disebut Autis yang tidak umum dimana diagnosis PDD-NOS dapat dilakukan jika anak tidak memenuhi kriteria diagnosis yang ada (DSM-IV) akan tetapi terdapat ketidakmampuan pada beberapa perilakunya.

Kelainan Rett
Ketidakmampuan yang semakin hari semakin parah (progresif). Sampai saat ini diketahui hanya menimpa anak perempuan. Pertumbuhan normal lalu diikuti dengan kehilangan keahlian yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik- khususnya kehilangan kemampuan menggunakan tangan yang kemudian berganti menjadi pergerakan tangan yang berulang ulang dimulai pada umur 1 hingga 4 tahun.

Kelainan Disintegrasi Masa Kanak-kanak
Pertumbuhan yang normal pada usia 1 sampai 2 tahun kemudian kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik.

Kutipan dari tulisan Dr. Hardiono D. Pusponegoro SpA(K):
"Klasifikasi autisme ditentukan berdasarkan kesepakatan para dokter dan dituangkan dalam Diagnostic and Statistical Manual IV (DSM-IV) atau International Classification of Diseases 9 dan 10 (ICD-9 dan ICD-10). Dalam klasifikasi tersebut, diagnosis autisme harus memenuhi syarat tertentu. Bila tidak memenuhi semua kriteria diagnosis, digolongkan dalam PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorders not otherwise specified). Akhir-akhir ini, banyak ditemukan kasus-kasus yang masih sangat kecil dengan gejala yang tidak khas. Khusus untuk kasus-kasus ini, kriteria DSM-IV atau ICD-9-10 sulit diterapkan. Beberapa peneliti mencoba membuat klasifikasi khusus untuk anak yang masih kecil dengan fokus pada tahapan perkembangan anak, disebut sebagai Diagnostic Classification: 0-3 (DC 0-3). Walaupun klasifikasi ini belum diterima secara menyeluruh, ada baiknya kita mempelajarinya. Dalam DC 0-3, ada beberapa klasifikasi untuk anak-anak yang menunjukkan gejala mirip sekali dengan autisme misalnya Regulatory Disorder dan Disorders of Relating and Communicating dengan MSDD (Multisystem Developmental Disorder) sebagai salah satu contoh. Sebagian anak ini akan berkembang menjadi autisme, namun banyak di antaranya yang sangat responsif terhadap terapi dan berkembang menjadi anak yang normal. "

puterakembara.org


Artikel yang berkaitan:
Mitos Mengenai Autisme
Diagnosa dan Penyebab Autisme

Next Prev home