Temukan bakat, potensi dan keunikan Anda dengan Unique Fingerprint Analysis.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat/talenta dan keunikan yang berbeda. Optimalkan setiap potensi yang ada, dengan stimulasi yang tepat.

Setiap pribadi pasti memiliki bakat dan karakter yang berbeda.

Dapat dilakukan untuk anak balita hingga usia dewasa, dalam kondisi apapun, tidak memerlukan tanya jawab dan tes tertulis.

Cara mendidik yang efektif terhadap seorang anak, belum tentu menjadi efektif pada anak lain.

Penting bagi orang tua untuk memahami karakternya sendiri, sebelum memahami karakter anaknya.

Optimalkan kelemahan anak melalui keunggulannya.

Analisa ini bukan Ilmu Ramal, tetapi analisa ini dikembangkan berdasarkan ilmu Dermatoglyphics.

Setiap orang memiliki 8 kecerdasan dan masing-masing orang memiliki urutan yang berbeda.

Semua kecerdasan sederajat, artinya tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting antara satu dengan yang lainnya.

Memilih Sekolah Untuk Anak

Memang untuk mengenalkan bahasa kedua sebaiknya anak-anak sudah menguasai bahasa ibunya dulu dengan baik supaya tidak terjadi kebingungan bahasa. Biasanya memang anak-anak yang belajar membaca dengan dua bahasa secara bersamaan mengalami kebingungan pada awalnya. Tetapi biasanya bisa dikejar jika mengajarkan membaca dengan satu bahasa dulu secara konsisten. Begitu dia bisa, kemampuan membaca bahasa keduanya akan segera menyusul.

Anak yang belum bisa berbicara bukan berarti dia tidak mengerti apa yang orang dewasa sampaikan, mungkin ia hanya belum bisa mengekspresikan kebutuhan, perasaan, atau pikirannya melalui bahasa. Jadi ia bisa saja mengikuti kegiatan kelas dengan baik walaupun belum bisa berespon melalui bahasa. Karena sekolah dapat membantu orang tua untuk menstimulasi kemampuan berbahasa anak, maka orang tua akan mendapatkan manfaatnya dengan menyekolahkan anak. Tentu saja dengan syarat orang tua memilih sekolah yang memperhatikan tahapan perkembangan anak.

Untuk mengetahui kualitas sekolah yang baik orang tua harus melihat apakah sekolah:

1. Memperhatikan kebutuhan psikologis mendasar anak secara umum.
Contohnya, kebutuhan anak untuk merasa mampu, misalnya:
Apakah sekolah tersebut memberikan kesempatan bagi anak untuk menampilkan kebisaan si anak.
Apakah sekolah memberi kesempatan kepada anak untuk mengikuti kompetisi meskipun ia tidak berprestasi.

2. Dapat memenuhi kebutuhan individual anak.
Sekolah yang seperti ini biasanya melakukan pembedaan cara pengajaran, misalnya:
Memberikan tugas yang lebih sulit untuk anak yang sudah lebih advanced.
Menerangkan dengan menggunakan alat bantu gambar untuk anak yang memiliki gaya belajar visual.

3. Sekolah yang dapat membantu pencapaian tujuan jangka panjang orang tua untuk anaknya.
Artinya sekolah harus memiliki nilai-nilai yang sama dengan orang tua, misalnya:
Jika orang tua menginginkan anak memiliki kemandirian apakah sekolah tersebut melakukan hal-hal yang bisa membuat anak mandiri atau selalu membantu anak dalam melakukan segala sesuatu sehingga tidak melatih kemandirian anak.
Apabila orang tua menganggap agama sangat penting bagi anak, maka sekolah tersebut harus mengajarkan nilai-nilai agama dengan benar.

4. Sekolah yang memiliki tujuan pendidikan yang sama dengan orangtua
Kembali lagi lihat visi dan misi sekolah, seperti:
Apakah sekolah tersebut bertujuan menciptakan anak-anak dengan nilai tes yang bagus.
Membentuk anak-anak yang memiliki kemampuan belajar (seperti kemampuan analisa, riset, penyelesaian masalah) sehingga dapat menjadi pembelajar mandiri.

Berikut yang perlu diperhatikan ketika melihat situasi sekolah:
  1. Pengaturan meja dan kursi. Yang baik adalah apabila ada ruang yang cukup untuk anak bergerak, ruang untuk berkumpul dan bisa terjadi interaksi dengan baik antara guru-murid
  2. Dinding. Perhatikan apakah lebih banyak poster-poster atau gambar-gambar yang ada di "pasaran" atau hasil karya siswa. Sekolah yang memperhatikan perbedaan individual biasanya tercermin dari hasil karya siswanya yang beragam. Sekolah yang melatih kemandirian akan membiarkan anak-anaknya melakukan tugasnya sendiri jadi hasil karyanya juga tidak terlalu "sempurna", tapi memang benar-benar dilakukan oleh anak-anak
  3. Siswa. Perhatikan wajah siswa, apakah merea bersemangat dan sibuk mengerjakan tugas atau melakukan kegiatan.
  4. Guru. Hubungan guru-anak seharusnya hangat dan tulus, tidak bersifat mengendalikan dan memerintah.
  5. Sekitar sekolah. Suasana sekolah yang menyenangkan dan membuat orang "betah" untuk menghabiskan waktu, memiliki perpustakaan sekolah yang cukup lengkap, staf dan guru yang ramah terhadap semua pengunjung dan siswa.

Ini semua bisa dilihat dari pada saat kunjungan ibu ke sekolah. Selain berbicara dengan kepala sekolah, sempatkan untuk berbicara dengan guru, murid, atau mungkin orang tua lain yang ada di sekolah.

Sekolah ideal adalah sekolah yang memperhatikan perkembangan anak dan perbedaan individual. Sehingga kebutuhan anak kita bisa terpenuhi. Rasio guru murid yang ideal untuk anak usia 4-5 tahun berkisar 1:7 sampai 1:12. Jadi yang paling ideal adalah 2 guru untuk 20 murid.

Untuk jam belajar sebenarnya yang perlu diperhatikan adalah sesi-sesi yang ada di dalam kelas dan durasi setiap sesi. Dalam satu sesi guru juga tidak bisa terlalu lama karena kemampuan konsentrasi anak juga masih terbatas. Untuk usia 4-5 tahun anak bisa berkonsentrasi sekitar 12-15 menit. Di dalam satu hari anak perlu mendapat waktu istirahat dan bermain diluar yang cukup, karena pada usia ini mereka membutuhkan kegiatan yang banyak bergerak.

Mengenai pemilihan sekolah, orang tua harus memperhatikan kenyamanan anak, karena anak yang akan bersekolah bukan orang tuanya. Biasanya anak yang nyaman dengan sekolahnya akan pulang ke rumah dengan hati senang dan gembira. Artinya ia menikmati sekolah dan memiliki pengalaman yang menyenangkan di sekolah.



Artikel yang berhubungan:

Mengajarkan Membaca Pada Si Kecil

Bapak-Ibu, usia balita kerap disebut golden years period atau usia emas. Periode ini adalah tahun-tahun pembentukan kecerdasan yang amat menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada periode ini juga sebaiknya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada balita untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya. Tugas orang tua sendiri adalah menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman serta menyediakan sarana dan prasarana yang tepat bagi tumbuh kembangnya. 

Pada periode itu, balita bukan cuma memerlukan asupan gizi yang baik untuk perkembangan fisiknya, tapi juga asupan informasi, emosi dan spiritual untuk tumbuh kembang dirinya secara utuh.

Menurut metode Glenn Doman, orang tua bisa memulai mengajarkan anaknya belajar membaca sejak bayi. Bahkan, sejak ia lahir karena Bapak-Ibu sudah berbicara padanya sejak ia lahir bahkan sejak ia masih dalam kandungan. Pembelajaran sejak dini akan melatih indera penglihatannya.

Ada beberapa hal yang harus Bapak-Ibu pahami tentang anak balita:
  1. Anak di bawah usia 5 tahun bisa dengan mudah menyerap banyak informasi.
  2. Anak di bawah usia 5 tahun bisa menangkap informasi dengan kecepatan luar biasa.
  3. Semakin banyak informasi yang diserap makin banyak pula yang diingatnya.
  4. Anak usia di bawah 5 tahun mempunyai energi yang sangat besar.
  5. Anak di bawah usia 5 tahun mempunyai keinginan belajar yang sangat besar.
  6. Anak di bawah usia 5 tahun dapat belajar membaca dan ingin belajar membaca.

Dari uraian di atas terurai fakta bahwa semakin dini mengajarkan buah hati Anda membaca akan semakin baik. Langkah-langkah pada setiap tahapan membaca tidak berubah atau berbeda karena faktor usia. Artinya, urutan langkah-langkah yang telah dipaparkan di bab sebelumnya tetap sama pada setiap usia. Hanya saja memang Anda harus ingat bahwa seorang bayi yang baru lahir tidak sama dengan anak usia 2 tahun. Bayi berusia 3 bulan tentu tidak sama dengan anak berusia 36 bulan. Terpenting pada bagian mana dari tahapan-tahapan membaca yang perlu ditekankan ketika Anda memulai program mengajarkan membaca pada si kecil.



Artikel yang berhubungan:

Mengevaluasi Dengan Permainan

Anak-anak sangat suka belajar tetapi mereka sangat tidak suka dites. Percayalah. Anak-anak juga sama seperti orang dewasa yang melihat tes penuh dengan tekanan.
  • Mengajar seorang anak sama dengan memberinya hadiah yang menyenangkan.
  • Melakukan tes terhadap anak sama dengan meminta pembayaran di muka.
  • Semakin sering orang tua mengetesnya semakin lamban dia belajar dan semakin sedikit yang dia pelajari dan semakin bosan dia belajar.
  • Semakin sedikit orang tua mengetesnya semakin cepat si kecil belajar dan semakin banyak yang ingin ia pelajari.
  • Pengetahuan adalah hadiah paling berharga yang bisa Anda berikan pada si kecil.
  • Berikan pengetahuan itu sebanyak mungkin seperti Bapak-Ibu memberinya makanan bergizi.
    Mengapa tidak boleh melakukan tes terhadap kegiatan belajar ini? Sebenarnya apa yang dimaksud dengan tes? Tes adalah suatu usaha untuk mencari tahu apa yang tidak diketahui anak kecil. Karena itu, jangan pernah tes si kecil dengan menyuruhnya membacakan kartu-kartu yang Anda perlihatkan. “Ini bacanya apa?” sembari misalnya menunjukkan 2 gabungan kata.

    Dengan mengetes anak, menandakan Anda tidak percaya kalau si kecil bisa membaca. Karena itu, dalam tahapan membaca tidak pernah disarankan untuk mengulang perkataan Bapak-Ibu ketika memperlihatkan kartu-kartu.

    Alih-alih mengetes, Bapak-Ibu bisa melakukan evaluasi terhadap anak yang bentuknya adalah sebuah permainan memecahkan masalah. Seperti contoh, ambillah dua kartu yang disukainya. Misalnya, Bapak-Ibu memilih kartu yang bertuliskan kata “apel” dan “pisang”. Tanyakan pada si kecil, “Yang mana pisang?” ini adalah kesempatan yang bagus untuk bayi jika ia diminta melihat atau menyentuh kartu itu. Jika si kecil melihat atau menyentuh pada kartu pisang, Anda pasti merasa senang. Jika si kecil melihat atau menunjuk pada kartu yang lain, katakan, “Ini apel dan ini pisang” sembari menunjukkan kartu-kartu itu.

    Artikel lainnya:
    Bagaimana Mengoptimalkan Kecerdasan Balita Pada Masa Golder Years?

    Pendidikan Bagi Anak Pra Sekolah

    Anak usia 2-5 tahun, mereka perlu mengembangkan kemampuan sosialisasinya, karena mereka akan mulai bermain bersama dengan teman sebayanya dan stimulasi yang harus diperhatikan adalah aspek motorik, bahasa, kognitif, sosial-emosi, dan kemandirian.

    Sebelum masuk SD sebaiknya anak hanya disiapkan dan pengenalan untuk baca dan tulis saja. Misalnya untuk bisa menulis maka anak perlu bisa memegang pensil dengan benar atau melatih kemampuan motorik halusnya. Begitu juga untuk membaca maka anak perlu mengenal huruf dan simbol serta mengerti bahwa kata-kata itu memiliki arti, stimulasi ini bisa dilakukan sejak dini.

    Kalaupun di pra sekolah (Kelompok Bermain & Taman Kanak-kanak) ada calistung (baca, tulis, hitung), maka hal itu sebaiknya bukan menjadi target utama pembelajaran. Pengenalan calistung di prasekolah dilakukan bukan dengan cara memaksa dan drilling, tetapi bisa mengenalkannya lewat lagu dan permainan. Melalui lagu dan permainan, kemampuan baca, tulis, dan berhitung anak bisa berkembang dengan baik dan tidak membuat anak stres. Namun kenyataannya tetap saja, ada TK yang memfokuskan ke calistung dengan alasan lebih diminati dan memang diminta orang tua.

    Kalau anak memang belum siap mengikuti SD di tahun ajaran baru, khususnya apabila usianya masih di bawah 6 – 7 th, sebaiknya tetap di TK dahulu. Khawatirnya kalau memang belum bisa mengikuti pelajaran di tingkat SD maka anak akan frustrasi dan merasa tidak mampu. Belum lagi label yang mungkin akan diberikan kepadanya karena belum bisa mengikuti pelajaran. Untuk menghindari kebosanan di TK orang tua bisa memberikan berbagai aktivitas tambahan yang sekaligus dapat menstimulasi anak dan membantu kesiapannya di tingkat SD.

    Untuk memberikan aktivitas tambahan orang tua perlu melihat bakat dan minat anak terlebih dahulu. Kalau anak memang tertarik sekali dengan kursus tersebut, misalnya menyanyi, bermain musik, atau melukis maka boleh dilakukan. Ada juga anak yang memiliki energi yang besar sehingga memerlukan banyak kegiatan sehingga perlu mengikuti klub olahraga, seperti renang, bola, atau basket.

    Kursus-kursus yang bersifat akademis seperti yang menekankan anak mahir baca, tulis, dan berhitung (calistung), sebaiknya belum perlu diberikan untuk anak usia pra sekolah, karena berdasar tahapan perkembangannya mereka belum memerlukan hal tersebut. Apalagi bila anak menjadi kelelahan dengan mengikuti berbagai kursus tentu, maka tujuan kursusnya tidak akan tercapai. Yang perlu diingat, anak usia pra sekolah butuh bermain bebas, karena dengan bermain bebas anak dapat bereksplorasi dan belajar banyak hal baru.

    Dengan melihat tahapan perkembangan anak maka orang tua bisa melihat apakah materi yang sesuai bagi anak, membaca, menulis, dan berhitung bukanlah keterampilan yang dapat begitu saja dikuasai anak. Terdapat keterampilan-keterampilan pendahuluan yang harus dimiliki anak untuk akhirnya bisa membaca, menulis, dan berhitung.

    Sebagai contoh, melihat gambar adalah bentuk membaca yang paling sederhana. Anak usia 3-5 tahun diharapkan sudah memiliki ketertarikan untuk “membaca” gambar, simbol, dan logo yang ada disekitarnya. Untuk itu salah satunya anak membutuhkan exposure yang tinggi pada buku bergambar. Pada usia 4-6 tahun anak baru mulai diharapkan mampu membaca gambar, simbol, dan logo. Misalnya melihat gambar Colonel Anderson ia membaca “Kentucky” atau melihat logo Carrefour ia sudah bisa mengenalinya. Membaca dengan pola diharapkan mulai dikuasai anak pada usia 5-7 tahun. Selain mengenali bentuk dan pola, anak juga harus bisa memegang buku dengan baik dan mampu membalikkan dari kiri ke kanan. Keterampilan ini sangat berhubungan erat dengan perkembangan keterampilan motorik anak.

    Untuk berhitung. Anak perlu memahami konsep berhitung, bahwa satu untuk satu benda. Jadi sebelum mengajarkan anak menghitung satu-dua-tiga, ajarkan anak untuk membagikan satu benda untuk satu orang atau satu benda ke dalam satu lubang (bisa memakai congklak). Seperti disebutkan diatas, mengenali simbol termasuk angka baru diharapkan setelah anak berusia 4-6 tahun.

    Kami selalu memakai kisaran usia antara sekian hingga sekian. Hal ini disebabkan perkembangan anak berbeda-beda, ada anak yang sudah menguasai pada usia 4 tahun atau baru ketika ia berusia 5 tahun. Jadi jangan khawatir apabila anak lain sudah menguasai keterampilan tertentu sementara anak Anda belum. Lihat kisaran usianya saja.

    Untuk les membaca, menulis, dan berhitung, kami tidak pernah merekomendasikan kepada anak di bawah usia 6 tahun. Karena pada saat anak berusia 6-7 tahun, anak baru mencapai kematangan sensorik dan motorik. Pada saat itulah anak benar-benar siap untuk menulis dan membaca. Pada akhirnya semua anak pasti bisa membaca dan menulis, hanya waktunya yang mungkin berbeda-beda. Saya khawatir apabila anak dipaksakan untuk membaca dan menulis pada saat ia belum siap, anak akan memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dan muncul penolakan pada anak. Saran ini tidak berlaku untuk anak-anak yang memang memiliki ketertarikan dalam membaca dan menulis yang sangat tinggi.

    Apabila anak sudah sangat tertarik orang tua bisa mulai mengajarkan atau memasukkan ke tempat les membaca, menulis, dan berhitung. Namun sebelum memberikan les tambahan sebaiknya perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain cara mengajarnya, apakah tempat les tersebut mempertimbangkan usia dan tahapan perkembangan anak? Jangan sampai anak menjadi tidak tertarik membaca, menulis, atau berbahasa Inggris karena metode pengajaran yang salah. Sebaiknya memberikan les tambahan membaca dan menulis kalau anak sudah berusia 6 tahun, ketika ia sudah benar-benar siap melakukan baca-tulis, kecuali jika anak benar-benar tertarik dengan membaca dan menulis.

    Saat ini terdapat pandangan baru mengenai pendidikan yang tepat untuk anak. Pendekatan cara belajar aktif, yang tidak menekankan pada tes saja, dan merangsang rasa ingin tahu anak menjadi lebih penting karena anak-anak membutuhkan sekolah yang mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya. Kita sebagai orang tua tidak bisa tahu tantangan apa yang akan mereka hadapi nanti maka mereka membutuhkan lingkungan dan sekolah yang dapat membentuk mereka menjadi pembelajar sejati yang akan terus belajar sepanjang hidupnya. Sehingga apapun tantangannya bisa mereka hadapi nanti.

    Saat ini banyak sekali sekolah yang tersedia untuk anak-anak. Setiap sekolah memiliki kurikulum, pendekatan, cara pengajaran, serta nilai-nilai yang berbeda.

    Rahma Paramita, M.Psi



    Artikel yang berhubungan:

    Kiat-kiat Mendongeng

    Siapa saja bisa mendongeng, tidak ada yang tidak bisa. Mulai dari presiden sampai pengemis. Bahkan, maaf, orang cacat pun terkadang lebih bisa mendongeng dari pada kita yang normal, tinggal bagaimana caranya masing-masing yang sesuai dengan kemampuannya. Tetapi untuk bisa mendongeng dengan baik dan menarik tentunya tidak mudah.

    Agar kita bisa mendongeng dengan baik dan menarik, kiat-kiatnya antara lain adalah :

    1. Berdoa
    Sepintar apa pun kita mendongeng, tetap saja kita tidak boleh mengabaikan hal yang satu ini, dengan berdoa terlebih dahulu yakinlah bahwa kita akan berhasil mendongeng dan menyampaikan pesan-pesan positif dengan baik.

    2. Mempersiapkan Cerita Dongeng
    Siapkan cerita yang akan kita sampaikan, bisa kita karang sendiri atau kita gunakan cerita karya orang lain. Dongeng/cerita disarankan antara lain :
    • Mudah kita kuasai
    • Dapat menghibur dan memikat perhatian anak-anak
    • Dapat mengembangkan imajinasi anak-anak
    • Edukatif/mendidik

    3. Memiliki Rasa Malu Terhadap Diri Sendiri & Anak-anak
    Idealnya dalam mendongeng, kita tentunya selalu menyampaikan nasehat-nasehat yang ada dalam cerita kepada anak-anak. Oleh karena itu, sebaiknya kita juga harus punya rasa malu kepada diri sendiri dan anak bila diri kita sendiri tidak seperti apa yang kita nasehatkan kepada anak-anak.

    4. Menyukai dan Menyayangi Anak-anak
    Pastikan bahwa kita menyukai dan menyayangi anak-anak, tanpa hal ini mustahil kita akan bisa mendongeng dengan baik. Sebab kalau kita sendiri kurang menyukai dan menyayangi anak, apa mungkin kita bisa sabar dan santun dalam menyampaikan cerita kepada anak-anak?

    5. Mendalami dan Menghayati Cerita/Dongeng
    Sebelum kita sampaikan ke anak-anak, kita harus terlebih dahulu dapat mendalami dan menghayati cerita. Dengan mendalami dan menghayati cerita, kita akan dapat lebih hidup dalam menyampaikan alur-alur cerita dan lebih ekspresif dalam bertutur kata.

    6. Gunakan Kata-kata Yang Mudah Dipahami Anak
    Rasanya kita tidak mungkin dalam mendongeng menggunakan kata-kata yang tidak mudah dipahami oleh anak. Misalnya saja kita menggunakan kata 'biografi', 'profesi', 'kompensasi', dan lain sebagainya. Lebih sangat tidak mungkin lagi kita mendongeng di depan anak-anak berkebangsaan lain dengan menggunakan bahasa Indonesia, demikian pula sebaliknya.

    7. Gunakan Karakter Suara Yang Sesuai Dengan Tokoh-tokoh Cerita
    Karakter suara pada setiap tokoh tentunya harus berbeda-beda dan sesuai dengan karakter tokoh masing-masing, sebab kalau tidak, kita tidak akan berhasil menyampaikan dongeng dengan baik. Contohnya, untuk memperagakan tokoh Nenek Sihir yang jahat tidak mungkin kita menggunakan karakter suara yang halus dan lemah lembut bak seorang peri yang baik hati.

    8. Gunakan Alat Peraga
    Anak-anak biasanya akan tertarik sekali kalau kita mendongeng menggunakan alat peraga/properti. Alat peraga bisa saja berupa sebuah boneka atau benda-benda lainnya. Tetapi kalau kita tidak punya alat peraga, kita tetap dapat membuat anak-anak tertarik dengan dongeng dengan cara membuat gerakan-gerakan ekspresif, enerjik, dan jenaka.

    9. Gunakan Ilustrasi Musik dan Efek-efek Suara
    Dongeng yang kita sampaikan akan menjadi lebih hidup bila diiringi dengan musik ilustrasi dan efek suara. Hal ini juga akan semakin mempermudah anak-anak berimajinasi dan terbawa emosinya.

    Rico


    Artikel lainnya:




    Tantrum

    Susi menangis, menjerit-jerit dan berguling-guling di lantai karena menuntut ibunya untuk membelikan boneka di sebuah hypermarket di Jakarta? Ibunya sudah berusaha membujuk Susi dan mengatakan bahwa sudah banyak boneka di rumahnya. Namun Susi malah semakin menjadi-jadi. Ibunya menjadi serba salah, malu dan tidak berdaya menghadapi anaknya.

    Di satu sisi, ibunya tidak ingin membelikan mainan tersebut karena masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Namun disisi lain, kalau tidak dibelikan maka ia kuatir Susi akan menjerit-jerit semakin lama dan keras, sehingga menarik perhatian semua orang dan orang bisa saja menyangka dirinya adalah orang tua yang kejam. Ibunya menjadi bingung....., lalu akhirnya ia terpaksa membeli mainan yang diinginkan Susi. Benarkah tindakan sang Ibu?

    Temper Tantrum
    Kejadian di atas merupakan suatu kejadian yang disebut sebagai Temper Tantrums atau suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol.Temper Tantrum (untuk selanjutnya disebut sebagai Tantrum) seringkali muncul pada anak usia 15 (lima belas) bulan sampai 6 (enam) tahun.

    Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai berikut:
    1. Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
    2. Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
    3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
    4. Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
    5. Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
    6. Sulit dialihkan perhatiannya.
    Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah beberapa contoh perilaku
    Tantrum, menurut tingkatan usia:

    1. Di bawah usia 3 tahun:
    • Menangis, menggigit, memukul
    • Menendang, menjerit, memekik-mekik, melengkungkan punggung
    • Melempar badan ke lantai
    • Memukul-mukulkan tangan
    • Menahan nafas
    • Membentur-benturkan kepala
    • Melempar-lempar barang

    2. Usia 3 - 4 tahun:
    • Perilaku-perilaku tersebut di atas
    • Menghentak-hentakan kaki
    • Berteriak-teriak Meninju
    • Membanting pintu
    • Mengkritik
    • Merengek

    3. Usia 5 tahun ke atas
    • Perilaku- perilaku tersebut pada 2 (dua) kategori usia di atas
    • Memaki
    • Menyumpah
    • Memukul kakak/adik atau temannya
    • Mengkritik diri sendiri
    • Memecahkan barang dengan sengaja
    • Mengancam

    Faktor Penyebab
    Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum.
    Diantaranya adalah sebagai berikut:
    1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu.
      Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara Tantrum untuk menekan orang tua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada contoh kasus di awal.

    2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri.
      Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orang tuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk Tantrum.

    3. Tidak terpenuhinya kebutuhan.
      Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah Tantrum.

      Contoh lain: anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang dimilikinya. Misalnya anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak 4 tahun ingin mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh orang tua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena tidak diperbolehkan,ia memakai cara Tantrum agar diperbolehkan.

    4. Pola asuh orang tua
      Cara orang tua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan Tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa Tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orang tuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orang tua dengan perilaku Tantrum. Orang tua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak Tantrum.Misalnya, orang tua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orang tua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orang tua dan menjadi Tantrum ketika orang tua benar-benar menghukum. Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain, yang satu memperbolehkan anak, yang lain melarang. Anak bisa jadi akan Tantrum agar mendapatkan keinginannya dan persetujuan dari kedua orang tua.

    5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.

    6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman (insecure).
    Tindakan
    Dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm (La Forge: 1996) banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa Tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Sebagai bagian dari proses perkembangan, episode Tantrum pasti berakhir. Beberapa hal positif yang bisa dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit.

    Namun demikian bukan berarti bahwa Tantrum sebaiknya harus dipuji dan disemangati (encourage). Jika orang tua membiarkan Tantrum berkuasa (dengan memperbolehkan anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia Tantrum, seperti ilustrasi di atas) atau bereaksi dengan hukuman-hukuman yang keras dan paksaan-paksaan, maka berarti orang tua sudah menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak kasar dan agresif (padahal sebenarnya tentu orang tua tidak setuju dan tidak menginginkan hal tersebut).

    Dengan bertindak keliru dalam menyikapi Tantrum, orang tua juga menjadi kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.

    Pertanyaan sebagian besar orang tua adalah bagaimana cara terbaik dalam menyikapi anak yang mengalami Tantrum. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kami mencoba untuk memberikan beberapa saran tentang tindakan-tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk mengatasi hal tersebut. Tindakan-tindakan ini terbagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu:

    1. Mencegah terjadinya Tantrum
    2. Menangani Anak yang sedang mengalami Tantrum
    3. Menangani anak pasca Tantrum

    Pencegahan
    Langkah pertama untuk mencegah terjadinya Tantrum adalah dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa muncul Tantrum pada si anak. Misalnya, kalau orang tua tahu bahwa anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak Tantrum, orang tua perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.

    Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakan anak. Dalam hal ini mendampingi anak pada saat ia mengerjakan tugas-tugas dari sekolah (bukan membuatkan tugas-tugasnya lho!!!) dan mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada anak karena beban sekolah tersebut. Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas sekolah, tapi juga pada permainan-permainan, sebaiknya anak pun didampingi orang tua, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orang tua dapat membantu dengan memberikan petunjuk.

    Langkah kedua dalam mencegah Tantrum adalah dengan melihat bagaimana cara orang tua mengasuh anaknya. Apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orang tua bertindak terlalu melindungi (over protective), dan terlalu suka melarang? Apakah kedua orang tua selalu seia-sekata dalam mengasuh anak? Apakah orang tua menunjukkan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan?

    Jika Anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti. Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan. Jika ada ketidaksepakatan, orang tua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. Orang tua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa orang tuanya selalu sepakat dan rukun.

    Ketika Tantrum Terjadi
    Jika Tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua adalah:
    1. Memastikan segalanya aman. Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum (di rumah maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.
    2. Orang tua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosinya sendiri agar tetap tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak.
    3. Tidak mengacuhkan Tantrum anak (ignore). Selama Tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan Tantrumnya, karena anak toh tidak akan menanggapi/mendengarkan.
    4. Usaha menghentikan Tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin dalam api, anak akan semakin lama Tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orang tua tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu atau paksaan.
    5. Jika perilaku Tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan tidak selesai-selesai, selama anak tidak memukul-mukul Anda, peluk anak dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa memeluk anak dengan cinta (karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan anak), minimal Anda duduk atau berdiri berada dekat dengannya. Selama melakukan hal inipun tidak perlu sambil menasihati atau complaint (dengan berkata: "kamu kok begitu sih nak, bikin mama-papa sedih"; "kamu kan sudah besar, jangan seperti anak kecil lagi dong"), kalau ingin mengatakan sesuatu, cukup misalnya dengan mengatakan "mama/papa sayang kamu", "mama ada di sini sampai kamu selesai". Yang penting di sini adalah memastikan bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa orang tuanya ada dan tidak menolak (abandon) dia.
    Ketika Tantrum Telah Berlalu
    Saat Tantrum anak sudah berhenti, seberapapun parahnya ledakan emosi yang telah terjadi tersebut, janganlah diikuti dengan hukuman, nasihat-nasihat, teguran, maupun sindiran. Juga jangan diberikan hadiah apapun, dan anak tetap tidak boleh mendapatkan apa yang diinginkan (jika Tantrum terjadi karena menginginkan sesuatu). Dengan tetap tidak memberikan apa yang diinginkan si anak, orang tua akan terlihat konsisten dan anak akan belajar bahwa ia tidak bisa memanipulasi orang tuanya.

    Berikanlah rasa cinta dan rasa aman Anda kepada anak. Ajak anak, membaca buku atau bermain sepeda bersama. Tunjukkan kepada anak, sekalipun ia telah berbuat salah, sebagai orang tua Anda tetap mengasihinya.

    Setelah Tantrum berakhir, orang tua perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi Tantrum. Apakah benar-benar anak yang berbuat salah atau orang tua yang salah merespon perbuatan/keinginan anak? Atau karena anak merasa lelah, frustrasi, lapar, atau sakit? Berpikir ulang ini perlu, agar orang tua bisa mencegah Tantrum berikutnya.

    Jika anak yang dianggap salah, orang tua perlu berpikir untuk mengajarkan kepada anak nilai-nilai atau cara-cara baru agar anak tidak mengulangi kesalahannya. Kalau memang ingin mengajar dan memberi nasihat, jangan dilakukan setelah Tantrum berakhir, tapi lakukanlah ketika keadaan sedang tenang dan nyaman bagi orang tua dan anak. Waktu yang tenang dan nyaman adalah ketika Tantrum belum dimulai, bahkan ketika tidak ada tanda-tanda akan terjadi Tantrum. Saat orang tua dan anak sedang gembira, tidak merasa frustrasi, lelah dan lapar merupakan saat yang ideal.

    Dari uraian di atas dapat terlihat bahwa kalau orang tua memiliki anak yang "sulit" dan mudah menjadi Tantrum, tentu tidak adil jika dikatakan sepenuhnya kesalahan orang tua. Namun harus diakui bahwa orang tualah yang punya peranan untuk membimbing anak dalam mengatur emosinya dan mempermudah kehidupan anak agar Tantrum tidak terus-menerus meletup. Beberapa saran di atas mungkin dapat berguna bagi anda terutama bagi para ibu/ayah muda yang belum memiliki pengalaman mengasuh anak.

    Martina Rini S. Tasmin, SPsi.



    Artikel yang berhubungan:
    Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak
    Tolong Jangan Katakan Hal Ini Pada Anak Anda
    Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak
    Beberapa Kesalahan yang Kerap Kali Menghancurkan Kepribadian Anak
    Awas! Memukul Anak Bisa Bikin Perilakunya Makin Buruk
    Menjadikan Anak Taat Kepada Orang Tua Tanpa Menghukum
    Memahami Dunia Emosi Anak
    Tips Menangani Anak Agresif

    Memahami Dunia Emosi Anak

    Banyak peristiwa yang akan menandai masa peralihan buah hati Anda, dari bayi menjadi balita. Agar tidak salah dalam membimbing pertumbuhan emosinya, ikuti beberapa panduan praktis berikut ini.

    1. BERJALAN SENDIRI
    Biasanya, beberapa bulan menjelang ulang tahunnya yang pertama, bayi Anda akan mulai belajar berjalan tanpa bantuan. Bila dia sudah bisa berjalan, dia akan meninggalkan fase bayi menjadi anak balita. Setelah bisa melangkahkan kakinya tanpa bantuan, dalam beberapa hari atau beberapa minggu kemudian, dia akan tiba-tiba merangkak jika berjalan terburu-buru, lalu berjalan pelan-pelan, merangkak, dan berjalan lagi dengan lebih cepat. Bagi Si Kecil, yang terpenting bisa mencapai tujuan, misalnya meraih mainan yang diinginkannya atau mendapat senyum bangga dari orang tuanya.

    Yang perlu dilakukan:
    Beri kesempatan padanya untuk belajar mengendalikan diri sendiri. Dapat dikatakan, masa balita dimulai ketika dia bisa mengendalikan tubuhnya dengan benar. Anda bisa perhatikan mata Si Kecil yang memancarkan arti, “Lihat, saya sudah bisa berdiri, Ma!” atau “Saya sudah bisa berjalan, lho!” Tiba-tiba anak Anda terus berjalan tanpa mau berhenti, kecuali Anda memintanya. Si Kecil betul-betul gembira dengan keberhasilannya berjalan, sehingga rasa takutnya hilang dan membuat dia berjalan lebih jauh lagi, hingga lupa di mana dia tadi berada. Awasi, agar Si Kecil tetap berada di bawah pengawasan Anda.

    2. PENOLAKAN
    Setelah berjalan merupakan hal yang rutin baginya, tiba-tiba buah hati Anda akan merasa memerlukan seseorang yang dia kenal untuk berada di dekatnya, agar tetap merasa aman. Sesaat dia akan berjalan di bawah penglihatan orang yang dia kenal, lalu dia akan menghilang sebentar, dan kembali lagi dengan membawa keberhasilan dari berjalan berputar-putar. Selama masa peralihan yang menyibukkan ini, Anda akan melihat beberapa perkembangan yang berarti pada Si Kecil, baik pada kehidupan sosialnya, maupun emosionalnya.

    Kerewelan atau penolakan balita pun akan muncul di fase ini. Ditandai dengan perlawanan yang berlangsung dari keinginan untuk mandiri, namun tetap merasa aman. Itulah sebabnya mengapa anak-anak balita, cenderung rewel, melawan, menangis, atau melakukan tindakan untuk menunjukkan ketidaksetujuannya kepada orang tua. Sementara orang tua kebingunan dan kekhawatiran akan perilaku anak-anaknya.

    Yang perlu dilakukan:
    Awasi saja dari jauh, ketika Si Kecil ingin bebas. Padahal, di saat berikutnya dia pun tak mau lepas dari Anda. Inti dari perlawanan ini, sebagian besar menjelaskan kerewelan dan penolakan, yang kerap berhubungan dengan bimbingan yang dilakukan orang tua kepada anak balita. Mungkin saja Si Kecil sedang mengajukan pertanyaan, “Memangnya badan ini milik siapa, sih?” Sayangnya, dia belum bisa banyak berkata-kata.

    3. KETERBATASAN BAHASA
    Keterbatasan bahasa, terutama pada anak-anak yang baru memasuki masa balita, sering menimbulkan rasa frustrasi. Pada saat dia tidak bisa mengutarakan kebutuhan dan keinginannya, dia akan memperlihatkan kejengkelannya. Ada empat hal yang merupakan faktor pendukung dari perselisihan antara orang tua dan anak-anak, yaitu pertentangan mengenai:
    1. Apa yang aman dan tidak aman.
    2. Apa yang diinginkan anak.
    3. Hal-hal negatif yang merupakan pendorong keinginan pribadi.
    4. Kejengkelan terhadap larangan yang diberikan orang tua.

    Yang harus dilakukan:
    Ketika Si Kecil tampak berusaha memaksakan keinginannya, dia juga akan berusaha membuat Anda senang. Jadi, Anda harus bisa memilah, kapan keinginannya pantas diikuti dan kapan tidak. Andalah yang harus memberi pengertian kepadanya.

    4. KEBANGGAAN DAN KEKUASAAN
    Hal ini merupakan masa-masa yang menyenangkan bagi Si Kecil. Munculnya rasa ingin tahu, menyelidiki, menemukan, dan yang terpenting, merupakan masa di mana dia menikmati kemampuan akan pertumbuhan pribadinya. Dia merasa dapat melakukan berbagai macam hal, baik yang membuat sang Mama tersenyum maupun cemberut. Dia bisa memperlihatkan apa yang diinginkannya dengan berceloteh, sebagai awal penguasaan bahasanya. Bila Anda memberikan respons, terjadilah komunikasi dua arah yang merupakan jalan menuju dunia nyata, dan satu langkah lagi bagi kemampuan berikutnya.

    Yang harus dilakukan:
    Temani Si Kecil bermain. Perhatikan apa yang dirasakannya dan katakan padanya, Anda mengerti dengan permainannya. Menjadi teman bermain berarti membiarkan dia yang memimpin permainan. Tunjukkan Anda mengikuti aturan bermainnya dan tunjukkan kekaguman Anda akan kreativitasnya. Beri respons terhadap apa yang diungkapkannya, dengan gerakan maupun kata-kata. Misalnya, “Oh, Sayang mau minum jus. Ini, diminum, ya!” Atau coba tarik perhatiannya dengan kata-kata, “Oh kamu mau dipeluk Mama, ya. Mama juga lho, mau peluk kamu!”

    5. BERTAMBAH UMUR
    Dengan bertambahnya umur, dia akan menggunakan ketrampilan berkomunikasinya dengan teman sebayanya dan dengan guru-gurunya. Di usia ini Si Kecil mulai mengungkapkan apa yang diinginkannya dan apa yang dirasakannya melalui permainan yang ada dalam khayalannya. Seperti bermain boneka, dia akan berbicara dengan bonekanya, seolah-olah memang betul-betul terjadi seperti apa yang dialaminya sehari-hari.

    Yang harus dilakukan:
    Temani dia, beri perhatian, serta respons. Tunjukkan Anda mengerti dan menikmati permainannya. Dengan sesekali memberi pelukan dan ciuman, berarti Anda mengabulkan permintaannya dan memberi semangat untuk berkomunikasi lebih lanjut, serta memberikan kesan Anda sangat mengerti dirinya.

    6. SIAP BERSOSIALISASI
    Banyak yang mengatakan, dari usia 18 bulan, penguasaan bahasa seorang anak berkembang secara drastis. Di usia 18 bulan hingga 3 tahun, anak-anak senang memberi nama pada segala sesuatu yang dilihatnya, serta membuat kalimat-kalimat pendek, bahkan kalimat yang lebih kompleks. Sebagian anak mengungkapkan segala sesuatu melalui tindakan, tetapi kebanyakan anak-anak menyukai berbicara. Demikian juga halnya dengan bercerita dan mendengarkan cerita. Si Kecil juga mulai siap menghadapi lingkungannya dengan lebih tenang dan bersosialisasi dengan teman sebayanya di play group.

    Yang harus dilakukan:
    Dukung usaha si kecil dengan cara mendengarkan dan merespons segala yang diucapkannya. Bersabar dengan segala macam pertanyaan yang diajukannya, karena rasa ingin tahunya yang besar. Penuhi kebutuhannya dengan memberi kata-kata baru melalui buku-buku cerita.



    Artikel yang berhubungan:
    Dampak Perlakuan Orang Tua Kepada Anak
    Tolong Jangan Katakan Hal Ini Pada Anak Anda
    Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak
    Beberapa Kesalahan yang Kerap Kali Menghancurkan Kepribadian Anak
    Awas! Memukul Anak Bisa Bikin Perilakunya Makin Buruk
    Menjadikan Anak Taat Kepada Orang Tua Tanpa Menghukum
    Tantrum
    Tips Menangani Anak Agresif

    Musik Bagi si Kecil

    Musik membuat hidup ini serasa indah. Musik juga dapat mengoptimalkan kecerdasan. Pada abad 19 seorang penulis di Inggris pernah berkata “Musik itu adalah nyanyian para malaikat”. Tidak bisa dipungkiri, musik memang memiliki kekuatan luar biasa yang juga berdampak besar bagi kejiwaan. Hal ini berlaku juga bagi bayi dan anak.

    Musik dan Matematika
    Banyak penelitian membuktikan, janin menunjukkan reaksi tertentu jika diperdengarkan musik. Ibu yang sedang hamil merasakan gerakan janin yang semakin cepat atau justru lebih santai. Sementara itu, banyak juga yang berpendapat musik klasik yang diperdengarkan ibu hamil, dan juga janinnya, dapat membuat kecerdasan pada anak lebih tinggi.

    Psikolog Fran Rauscher dan Gordon Shaw dari University of California-Irvine, Amerika Serikat pada tahun 1994 melakukan penelitian yang membuktikan bahwa erat kaitan antara kemahiran bermusik dengan penguasaan level matematika yang tinggi, dan keterampilan-keterampilan sains. Setelah delapan bulan, penelitian kedua pakar ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mendapatkan program pendidikan musik, meningkat inteligensi spasialnya (kecerdasan ruang) sebesar 46% dibandingkan dengan anak-anak yang tidak diekspos oleh musik.

    Musik dan Bermain
    Ahli saraf dari Harvard University, Mark Tramo, M.D. mengatakan, “Dalam otak kita, jutaan neuron dari sirkuit secara unik menjadi aktif ketika kita mendengar musik. Neuron-neuron ini menyebar ke berbagai daerah di otak, termasuk pusat auditori di belahan kiri dan belahan kanan”. Rupanya mulai dari sinilah kaitan antara musik dan kecerdasan terjadi. Tapi, ini bukan berarti anda harus memiliki grand piano di rumah. Anda juga tidak wajib mendominasi rumah dengan berlebihan. Yang penting, biasakanlah musik menghiasi ruang di sekitar anak-anak. Putarkan lagu di radio. Bernyanyilah bersama. Kalu perlu, ekspresikan bakat penyanyi terkenal bersama si kecil.

    Melalui kegiatan bermain, anak memperoleh manfaat dari musik. Dr. Dee Joy Coulter, seorang pendidik Neuroscience dan penulis buku Early Childhood Connections : The Journal of Music and Moment-Based Learning, mengklasifikasikan lagu-lagu, gerakan dan permainan anak sebagai latihan untuk otak yang brilian. Mengenalkan anak pada pola bicara, keterampilan-keterampilan sensory motor, dan strategi gerakan yang penting. Melalui permainan yang mengandung musik, tak hanya perkembangan bahasa dan kosa kata saja yang meningkat, tapi juga berita dan keterampilan beriramanya. Logika membuat anak nantinya mampu mengorganisasi ide dan mampu memecahkan masalah. Pendidikan prasekolah pun menggunakan musik sebagai bagian dari proses pendidikan, dikarenakan berbagai manfaat yang didapat dari musik.

    Manfaat Musik Bagi si Kecil diantaranya adalah:
    • Mengoptimalkan perkembangan otak.
    • Meningkatkan multiple intelligence.
    • Memfasilitasi emotional bonding (ikatan emosional) orang tua dan anak.
    • Membangun keterampilan sosial dan emosional anak.
    • Meningkatkan perhatian terhadap tugas-tugas dan kemampuan bicara.
    • Mengembangkan kontrol impulsif dan perkembangan motorik.
    • Menjembatani kreativitas dan kesenangan. 

    Apresiasi Musik Sesuai Usia Anak

    Usia 0-1 tahun
    Pada usia sembilan bulan, bayi biasanya mulai bergerak maju-mundur merespons alunan musik yang didengarnya, melambai-lambaikan tangan mengikuti irama. Di usia 1 tahun, anak yang intensif diperdengarkan lagu semakin terampil merespons rangkaian bunyi irama.

    Usia 2 tahun
    Biasanya anak dapat mengikuti lagu dengan senandung yang nadanya belum pas benar. Gerak tubuh lebih terarah dan kesukaannya bergoyang semakin meningkat.

    Usia 3 tahun
    Si kecil yang mulai suka menentang berbagai aturan mulai menyukai kegiatan eksperimental dalam apresiasi musik. Selain mengikuti musik dengan gerak tubuh, ia juga suka mengetuk-ngetuk, memukul-mukul, atau menggesekan benda mengikuti irama. Bila dibiasakan mendengarkan musik, anak bahkan bisa lebih kreatif dengan menciptakan lagu-lagu yang kata-katanya dibuat oleh mereka sendiri.

    Usia 4-5 tahun
    Sejalan dengan perkembangan emosi yang lebih matang, tempo dan suara yang dihasilkan dalam bernyanyi, atau mengetuk-ngetuk alat musik sudah lebih pas. Ketertarikan untuk menguasai sebuah alat musik semakin besar dan serius. Rentang perhatian yang semakin panjang, memungkinkannya memainkan sebuah lagu hingga tuntas.


    Baca ini juga:
    Menumbuhkan Minat Seni Anak
    Mind Mapping - Teknik Mencatat Kreatif
    Memahami Kelebihan dan Kekurangan Anak
    Melatih Motorik Anak Sambil Bermain

    Dasar Motivasi Seseorang Berdasarkan Cara Kerja Otak

    Dominan Brain Stem
    Jika nilai pengukuran distribusi pola sidik jari lebih besar nilainya pada bagian Brain Stem, kecenderungan perilaku motivasi seseorang akan lebih bersifat dominan pada fungsi psikomotorik Reflektif. Artinya, refleksi diri tindakan Anda terkait dengan cara kerja fungsi psikomotorik Reflektif yang dipengaruhi oleh sistem Brain Steam.

    Cara berpikir Anda sangat didominasi oleh sistem keyakinan (belief system) yang kokoh berdasarkan naluri yang sudah tertanam kuat oleh kebiasaan. Jika kebiasaan ini tertanam kokoh, hal itu akan menghasilkan spontanitas dalam bertindak secara Refleks.

    Dominan Limbik
    Jika nilai pengukuran distribusi pola sidik jari lebih besar nilainya pada bagian Limbik, kecenderungan perilaku motivasi seseorang akan lebih bersifat dominan pada fungsi Afektif meskipun sedikit banyak masih dipengaruhi fungsi psikomotorik Reflektif.

    Tindakan Anda sangat dipengaruhi dominasi warna emosi dan perasaan (feeling). Sumber inspirasi motivasi tindakan Anda adalah nilai kenyamanan. Ketika Anda telah merasakan nyaman dengan sesuatu, dorongan emosional Anda baru tergugah untuk bertindak. Dengan demikian, bisa saja orang menilai bahwa Anda adalah orang yang moody dalam mengerjakan sesuatu tindakan yang dipengaruhi oleh perasaan.

    Dominan Neokorteks
    Jika nilai pengukuran distribusi pola sidik jari lebih besar nilainya pada bagian Neokorteks, kecenderungan perilaku motivasi seseorang akan lebih bersifat dominan pada fungsi Kognitif. Interpretasi landasan motivasi Anda dalam bertindak terkait dengan integrasi fungsi psikomotorik Reflektif, Afektif dan Kognitif secara terintegrasi sempurna yang dipengaruhi sistem kerja otak Neokorteks.

    Cara berpikir sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek pertimbangan kritis menyangkut pemikiran yang mendorong kearah pemenuhan ego. Ketika Anda sudah mengerjakan sesuatu, targetnya bukan lagi kebutuhan dasar yang sifatnya psikomotorik Reflektif, Afektif semata, melainkan sudah menuju kebutuhan pada level yang lebih tinggi. Hal itu sudah menjadi kebutuhan aktualisasi diri yang didasari dorongan perasaan dan pemikiran yang terintegrasi sempurna dan terjadi secara rektif dan proaktif dalam jangka waktu yang bersamaan yang cenderung menuntut pemenuhan kepentingan pribadi. Oleh karena itu, sumber inspirasi motivasi cara berpikir Anda cenderung bersifat self oriented sehingga bisa saja orang menilai bahwa Anda adalah orang yang memiliki kepentingan dan target yang jelas dalam menjalankan sebuah tujuan.


    Artikel yang berhubungan:

    Sejarah & Perkembangan Ilmu Dermatoglyphics

    Fingerprint analysis (Dermatoglyphics) is a part of the biology, containing genetics and anatomy. Prints include loops and whorls on a finger, a palm and a foot that form and grow from a germinal layer starting from the 13th to 19th weeks in an embryo period. The fingerprint patterns are controlled by chromosomes, and geneticists have studied and proven that permutation of the prints is inherited. The number of ridges on a finger is decided by genes, which do not have dominant effect, rather than environmental influence.

    John Evangelist Purkinji – 1823
    In 1823, John Evangelist Purkinji, a professor of anatomy at the University of Breslau, published his thesis discussing 9 fingerprint patterns, but he too made no mention of the value of fingerprints for personal identification.

    Sir William Hershel – 1856
    The English first began using fingerprints in July of 1858, when Sir William Herschel, Chief Magistrate of the Hooghly district in Jungipoor, India, first used fingerprints on native contracts.

    Dr. Henry Faulds – 1880
    In 1880, Faulds forwarded an explanation of his classification system and a sample of the forms he had designed for recording inked impressions, to Sir Charles Darwin. Darwin, in advanced age and ill health, informed Dr. Faulds that he could be of no assistance to him, but promised to pass the materials on to his cousin, Francis Galton. Also in 1880, Dr. Faulds published an article in the Scientific Journal, "Nautre" (nature). He discussed fingerprints as a means of personal identification, and the use of printers ink as a method for obtaining such fingerprints. He is also credited with the first fingerprint identification of a greasy fingerprint left on an alcohol bottle.

    Gilbert Thompson – 1882
    In 1882, Gilbert Thompson of the U.S. Geological Survey in New Mexico, used his own fingerprints on a document to prevent forgery. This is the first known use of fingerprints in the United States.

    Sir Francis Galton – 1888
    A British anthropologist and a cousin of Charles Darwin, began his observations of fingerprints as a means of identification in the 1880's. In 1892, he published his book, "Fingerprints", establishing the individuality and permanence of fingerprints. The book included the first classification system for fingerprints.
    Galton's primary interest in fingerprints was as an aid in determining heredity and racial background. He was able to scientifically prove what Herschel and Faulds already suspected: that fingerprints do not change over the course of an individual's lifetime, and that no two fingerprints are exactly the same. According to his calculations, the odds of two individual fingerprints being the same were 1 in 64 billion.
    Galton identified the characteristics by which fingerprints can be identified. These same characteristics are basically still in use today, and are often referred to as Galton's Details.

    1901 Introduction of fingerprints for criminal identification in England and Wales, using Galton's observations and revised by Sir Edward Richard Henry. Thus began the Henry Classification System, used even today in all English speaking countries.

    1902 First systematic use of fingerprints in the U.S. by the New York Civil Service Commission for testing. Dr. Henry P. DeForrest pioneers U.S. fingerprinting.

    1903 The New York State Prison system began the first systematic use of fingerprints in U.S. for criminals.

    1905 saw the use of fingerprints for the U.S. Army. Two years later the U.S. Navy started, and was joined the next year by the Marine Corp. During the next 25 years more and more law enforcement agencies join in the use of fingerprints as a means of personal identification. Many of these agencies began sending copies of their fingerprint cards to the National Bureau of Criminal Identification, which was established by the International Association of Police Chiefs.

    1924 An act of congress established the Identification Division of the F.B.I.. The National Bureau and Leavenworth consolidated to form the nucleus of the F.B.I. fingerprint files.

    1926 Harold Cummins, M.D. Doctor Cummins is universally acknowledged as the Father of Dermatoglyphics. Harold studied all aspects of fingerprint analysis, from anthropology to genetics, from embryology to the study of malformed hands with from two to seven fingers.(13) He pulled together the diverse work of his predecessors, added original research and set the standards of the field still in force to the present.

    1946 The F.B.I. had processed 100 million fingerprint cards in manually maintained files; and by 1971, 200 million cards. With the introduction of AFIS technology, the files were split into computerized criminal files and manually maintained civil files.

    From 1970, a large number of professional papers related to the dermatoglyphics were issued, and have proven that dermatoglyphics cannot be replaced in both physiology and psychology with great observation. Dermatoglyphics which is remarkable and changeless is analyzed and proven with evidence in anthropology, genetics, and statistics

    From 1992 to 1994 The professional papers about dermatoglyphics focused on particular genetic medicine fields such as sudden infant death syndrome, endometriosis, Alzheimer’s disease, auditory processing disorders, nasal cavities and tracheas, immunity diseases, Tuberculosis and down syndrome.

    1999 The FBI had planned to stop using paper fingerprint cards inside their new Integrated AFIS (IAFIS) site at Clarksburg WV. IAFIS will initially have individual computerized fingerprint records for approximately 33 million criminals. Old paper fingerprint cards for the civil files are still manually maintained in a warehouse facility in Fairmont, WV. The FBI hopes to someday classify and file these cards so they can be of value for unknown casualty identification. James Jasinski, the FBI's program manager for IAFIS, said the new system should cut down the time to run the process fingerprint-based background checks to two hours in criminal cases. He said traditional fingerprint background checks can take from eight days to three months - too long for many officials who need background checks conducted quickly so they can make quick decisions on conducting investigations or setting bail.

    2004 IBMBS- International Behavioral & Medical Biometrics Society
    Nowadays the U.S., Japan or Taiwan apply dermatoglyphics to educational fields, expecting to improve teaching qualities and raising learning efficiency by knowing various learning styles.


    Baca lainnya:

    Gaya Belajar Seseorang

    Pembelajar Visual
    Sebagian besar orang menemukan bahwa diri mereka adalah seorang pembelajar visual. Diperkirakan 60% dari seluruh populasi dunia merupakan pembelajar visual. Pembelajar visual pada umumnya menggunakan bantuan-bantuan visual seperti grafik dan diagram untuk memudahkan mereka memahami dan mengingat informasi lebih baik dibandingkan jika mereka mendengarnya.

    Pembelajar Visual harus melihat materi yang disampaikan supaya bisa mengerti dengan baik. Pembelajar tipe ini umumnya bermasalah dengan arahan yang disampaikan dengan lisan, kesulitan dalam mengikuti pelajaran secara lisan dan terkadang salah menafsirkan kata-kata yang disampaikan dengan lisan. Individu yang merupakan pembelajar visual harus memproses informasi dengan mata mereka. Mereka belajar dengan membaca, mengamati, dan sebagai hasilnya mereka baik dalam melihat gambar.

    Pembelajar visual bisa melihat bentuk sebuah huruf dibandingkan dengan susunan huruf itu sendiri ataupun bunyinya. Pembelajar visual baik dalam menggunakan grafik dan peta, mereka harus membawa bacaan ketika sedang bepergian/berlibur. Mereka suka melakukan riset yang mendalam sebelum memasuki perubahan penting dalam kehidupan mereka.

    Pembelajar visual cenderung menunjukkan karakteristik seperti ini:
    • Menyukai majalah, buku dan materi-materi bacaan
    • Memproses dengan baik informasi-informasi yang tertulis seperti grafik, peta, diagram, tabel, dll.
    • Frustrasi apabila tidak bisa mencatat
    • Memiliki ingatan fotografis yang sangat baik
    • Bisa mengingat dengan tepat di mana informasi terdapat dalam suatu halaman
    • Cenderung belajar di tempat yang sepi
    • Mendapatkan manfaat dari catatan yang dibuatnya sendiri, bahkan dari informasi yang dicetak
    • Mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran/kuliah yang berdurasi panjang
    • Cenderung baik dalam pengejaan
    • Cenderung detail dalam segala hal
    • Rapi dan teratur
    • Seringkali meminta arahan verbal untuk diulang-ulang
    • Harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi instruktur/pengajar

    Tips untuk pembelajar visual
    Untuk memaksimalkan gaya belajar secara visual, gunakan tips-tips di bawah ini:
    • Meminta arahan secara tertulis
    • Gunakan diagram dan flow chart untuk mencatat
    • Catatan yang penting dihighlight/stabile
    • Visualisasikan ejaan kata-kata ataupun fakta yang harus diingat
    • Tulis kata-kata kunci
    • Mencatat apa yang ada di papan tulis
    • Duduk di barisan depan kelas
    • Menonton video/film
    • Gunakan kertas grafik untuk membuat diagram dan tabel untuk mencatat kata-kata kunci
    • Gunakan ilustrasi untuk mengingat materi-materi penting
    • Gunakan metafora visual untuk mengasosiasikan materi-materi relevan
    • Tulis penjelasan untuk poin-poin yang dirasakan sulit untuk dimengerti

    Pembelajar visual lebih menyukai ujian berupa essay, map dan diagram.

    Pembelajar Auditory
    Pembelajar auditori (pendengaran) merupakan orang yang lebih menyukai mendengarkan pelajaran, dibandingkan membacanya. Diperkirakan 30% dari seluruh populasi dunia merupakan pembelajar tipe auditori. Pembelajar auditori paling baik dalam mengingat informasi yang disampaikan secara lisan dibandingkan membacanya.

    Pembelajar auditory cenderung menunjukkan karakteristik seperti ini:
    [1] Suka berbicara dalam kelas
    [2] Belajar dengan baik melalui audio, kuliah lisan, presentasi dan instruksi verbal
    [3] Lebih menyukai laporan lisan daripada laporan tertulis
    [4] Menikmati debat dan diskusi
    [5] Mendapatkan manfaat dari membaca dengan suara keras
    [6] Lebih mudah mengikutiarahan secara verbal/lisan daripada arahan tertulis
    [7] Cenderung menghafal dengan baik
    [8] Menghafal nama orang lain dengan baik
    [9] Menyukai mendengarkan berita
    [10] Tidak bisa mengerti peta, diagram dan tabel dengan cepat
    [11] Menikmati pembicaraan dengan orang lain
    [12] Menikmati musik
    [13] Suka menyanyi
    [14] Pada umumnya cepat mempelajari bahasa asing
    [15] Mendapatkan manfaat dari belajar bersama
    [16] Pelan dalam membaca materi
    [17] Cenderung fasih dalam berbicara
    [18] Tidak bisa diam (tidak berbicara) dalam waktu yang lama

    Tips untuk pembelajar auditory
    Untuk memaksimalkan gaya belajar secara auditori, gunakan tips-tips di bawah ini:
    [1] Menggunakan audiotape (atau media rekaman lainnya) untuk belajar
    [2] Membaca dengan keras informasi yang sedang dibaca
    [3] Sering-sering bertanya
    [4] Menonton video
    [5] Menggunakan teknik asosiaso kata untuk mengingat fakta
    [6] Berpartisipasi dalam diskusi kelas
    [7] Menghindari gangguan-gangguan yang bersifat suara
    [8] Mendengarkan lagu ketika belajar
    [9] Menulis langkah-langkah dalam kalimat, kemudian dibaca dengan keras

    Pembelajar auditory lebih menyukai ujian dan kuliah bersifat lisan

    Pembelajar Kinestetik
    Diperkirakan 10% dari populasi dunia saja yang merupakan pembelajar kinestetik. Gaya belajar kinestetik berhubungan erat dengan kemampuan untuk menyerap informasi dengan pengalaman, menyentuh, melakukan, bergerak dan aktif dalam suatu kegiatan. Orang-orang dengan kategori pembelajar kinstetik lebih memilih situasi di mana mereka bisa ikut terlibat dalam kegiatan fisik.

    Pembelajar kinestetik cenderung menjadi orang yang menyentuh dan merasakan sesuatu. Mereka memproses informasi melalui indera perasa, seperti meraba bentuk dan teksturnya. Walaupun ada kemungkinan orang-orang seperti ini untuk mencatat, ketika mereka sudah terlibat dalam suatu kegiatan, mereka cenderung tidak mencatatnya lagi, karena sudah memiliki pengalamannya.

    Pembelajar kinestetik cenderung melakukan sentuhan terhadap sesamanya. Ketika mereka berbicara dengan sesamanya, mereka cenderung menyentuh temannya di pundak atau tangannya. Aktivitas fisik menjadi metode terbaik untuk pembelajr kinestetik seperti: pekerjaan laboratorium, role play, pembuatan model, dll. Pembelajar kinstetik perlu sering-sering melakukan istirahat ketika belajar untuk menghindari kebosanan. Komputer merupakan media yang sangat berguna untuk pembelajar kinstetik, khususnya untuk menambah informasi melalui indera perasa mereka.

    Pembelajar kinestetik cenderung menunjukkan karakteristik seperti ini:
    [1] Menikmati aksi, pengalaman dan petualangan
    [2] Mengingat dengan baik ketika menggunakan alat dan beraktivitas
    [3] Menikmati konsep demonstrasi
    [4] Menguasai keahlian melalui latihan dan meniru
    [5] Belajar dengan baik melalui kegiatan lapangan
    [6] Cenderung mengkoleksi barang
    [7] Tulisan tangannya biasanya kurang bagus
    [8] Lemah dalam pengejaan
    [9] Menggunakan tangan untuk berkomunikasi dan berbicara dengan cepat
    [10] Mendapatkan manfaat dari role play
    [11] Baik dalam olahraga
    [12] Menikmati backgound music yang dipasang ketika bekerja ataupun belajar
    [13] Mengambil waktu istirahat berkali-kali ketika belajar
    [14] Biasanya baik dalam memainkan alat musik
    [15] Biasanya baik dalam dansa dan bela diri
    [16] Menikmati seni, kerajinan dan eksperimen ilmiah
    [17] Gelisah dalam sebuah kuliah yang lama
    [18] Seringkali menyentuh sesama dalam bahasa tubuh persahabatan

    Tips untuk pembelajar kinestetik:
    Untuk memaksimalkan gaya belajar secara kinestetik, gunakan tips-tips di bawah ini:
    [1] Mempraktekkan teknik
    [2] Mendemonstrasikan prinsip
    [3] Membuat suatu tiruan/model
    [4] Terlibat dalam aktivitas fisik
    [5] Belajar dalam keadaan dan posisi yang nyaman
    [6] Lakukan aktivitas lapangan
    [7] Melakukan latihan untuk daya ingatan ketika sedang berjalan atau bergerak
    [8] Daripada menaruh buku di meja ketika sedang membacanya, peganglah buku tersebut di tangan
    [9] Ketika sedang menjelaskan, berdirilah
    [10] Duduklah di bagian depan kelas untuk menghindari gangguan ketika pelajaran berlangsung
    [11] Dengarkan rekaman audio pelajaran/kuliah ketika sedang berjalan atau bergerak, untuk hasil maksimal.

    Pembelajar kinestetik lebih menyukai ujian mengisi dan pilihan berganda.


    Ketahui gaya belajar Anda lewat analisa sidik jari.
        



    Artikel yang berhubungan:

    Menumbuhkan Minat Seni Anak

    Berkesenian adalah cara terbaik untuk mengembangkan kreativitas, karena seseorang dapat mengekspresikan emosinya secara nonverbal. Seni juga ampuh untuk mengembangkan aspek kognitif, sosial dan emosionalnya.

    Seni dalam pendidikan di Indonesia bagaikan anak tiri. Lihat saja, berapa besar porsi pendidikan seni bagi anak yang disediakan di sekolah setiap minggunya? Kemudian, bandingkanlah dengan mata pelajaran lain seperti matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan lain sebagainya. Bidang-bidang apa sajakah yang mendapat porsi dan penekanan yang lebih besar? Jawabannya, pasti bukan seni!

    Setidaknya hal itulah yang dilihat oleh Dinastuti, MSi, Psi, pengajar Psikologi Seni di Unika Atma Jaya. “Pendidikan seni yang bisa memajukan kreativitas, ekstra kurikuler yang bisa membuat anak berpikir berbeda, kritis, dan unik, sama sekali tidak ditekankan,” katanya menilai. Hal itu menurutnya bisa dilihat dari kurikulum sekolah yang sedari dulu penekanannya adalah pada mata pelajaran eksakta, bahasa dan lainnya yang dianggap lebih penting.

    Penekanan pada mata pelajaran tertentu di sekolah juga mempengaruhi kegiatan anak di luar sekolah. Les anak yang notabene lepas dengan kegiatan sekolah, sebagian besar pun berupa pelajaran tambahan yang sifatnya mendukung pelajaran di sekolah, seperti les matematika dan Bahasa Inggris. ”Itu semua bagus, tetapi tidak diimbangi dengan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi hal-hal yang bersifat seni,” katanya.

    Namun Dinastuti tidak memungkiri, ada juga orangtua yang sudah berpikiran untuk mengarahkan anaknya kursus di bidang seni, misalnya kursus melukis, menari, memainkan alat musik dan lain sebagainya. Tapi sayangnya, minat untuk menyalurkan anak untuk berkesenian itu kerap berbenturan dengan biaya, mengingat harga yang dibanderol tempat kursus biasanya relatif mahal. Belum lagi peralatannya yang umumnya harus disediakan sendiri. “Seberapa banyak sih yang punya uang atau bisa memberikan fasilitas itu pada anaknya?“ kata Dinastuti mempertanyakan. Padahal, seni memberikan manfaat yang tidak sedikit bagi anak, tak hanya dari bagi kreativitas juga sisi kognitif, emosi dan sosial.

    Makanan otak
    Pakar kreativitas dari pusat pengembangan kreativitas, Qurius, Kayee Man memaparkan, seni sangat bermanfaat untuk mengaktifkan otak kanan anak. Mengutip pendapat Edwards, Kayee menjelaskan bahwa otak kiri manusia tidak menyukai aktivitas yang tidak bisa diekspresikan dengan kata-kata, karena membutuhkan lebih banyak waktu untuk diproses. Atau dengan kata lain, otak kiri membenci aktivitas yang ada hubungannya dengan seni.

    Berbeda dengan otak kanan yang bekerja kebalikannya. Seperti diindikasikan oleh Hausner dan Scholsberg, Kayee mengutip, banyak ilmuwan yang setuju bahwa seni adalah cara terbaik untuk mengembangkan kreativitas karena melaluinya seseorang dapat mengekspresikan emosinya secara nonverbal. Kreativitas menurut Kayee adalah bagaimana menemukan ide baru yang efektif dan etis.

    Untuk menjadi kreatif seseorang harus berpikiran terbuka, mau berimajinasi dan mengambil risiko terhadap hal-hal baru. “Akan lebih mudah bagi seseorang untuk kreatif jika dia berada dalam lingkungan yang mendukungnya untuk menjadi kreatif yaitu lingkungan yang mendukungnya untuk berimajinasi, terbuka terhadap hal baru, dan ide-ide yang tidak biasa tanpa takut melakukan kesalahan,” urai Kayee.

    Dengan membuat karya seni, tambahnya, anak dapat mengembangkan imajinasi, mencoba berbagai cara baru, dan menentukan ide-ide apa yang harus digunakan dan tidak perlu digunakan. “Seni membuka berbagai kemungkinan untuk munculnya kreativitas,” tambahnya. Kemampuan untuk berpikir dan berimajinasi inilah yang kemudian akan menyebar ke area lain dalam otak/pikiran anak sehingga anak akan mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah, memahami bacaan, dan berpikir analitis.

    Selain itu dari segi kognitif, Kayee berpendapat aktivitas seni baik untuk mengembangkan aspek kognitif anak karena sifatnya yang multidisiplin. Kayee mencontohkan, melalui aktivitas seni membuat bentuk menggunakan tanah liat, anak dapat belajar bahwa beberapa objek dapat mengapung atau tenggelam di dalam air. Mereka dapat bereksperimen bagaimana bentuk dan berat suatu objek dapat mempengaruhi hal tersebut. Dengan demikian, “Seni dapat digunakan untuk mengeksplorasi disiplin ilmu lain, memperoleh suatu pengetahuan baru ataupun memperdalam suatu hal yang sudah diketahui,” terang peraih gelar master studi kreativitas dari International Center of Creative Studies di Buffalo State University , New York ini.

    Menurut Kayee, seni juga dapat menjadi media yang sangat baik untuk anak belajar mengasosiasikan sesuatu secara bebas dan tidak biasa. Misalnya, dalam aktivitas seni dengan tema “Metamorfosis”, anak tak hanya bisa belajar pengetahuan dasar tentang proses metamorfosis, tetapi juga ditantang untuk menciptakan karya seni yang ada kaitannya dengan proses tersebut. Anak bisa saja membuat pensil ‘berubah’ menjadi dompet yang tak hanya hasil dari sebuah karya seni tetapi juga mendorong mereka untuk memiliki pemahaman yang berbeda tentang konsep metamorfosis. “ Di sinilah seni mampu menyatukan berbagai disiplin ilmu menjadi sebuah media yang efektif untuk melatih anak membuat asosiasi yang tidak biasa, yang sebenarnya merupakan elemen kunci dari berpikir kreatif,” jelas Kayee lagi.

    Kemampuan observasi anak pun bisa dikembangkan melalui seni. Sebagai contoh, tambah Kayee, dalam sebuah aktivitas seni yang menggunakan daun, anak dapat diminta untuk mengekplorasi bentuk, bau, tekstur, dan struktur dari berbagai macam daun. Kemudian anak dapat diminta untuk mengelompokkan daun-daun tersebut berdasarkan kategori tertentu dan membuat sebuah kreasi seni yang berkaitan dengan hal tersebut. Hasilnya, anak mungkin dapat mengasosiasiasikan bau daun dan membentuknya menjadi bunga. Atau, mengasosiasikan bentuk daun untuk membuat karya seni berbentuk kucing.

    Makanan jiwa
    Dinastuti menambahkan, ketika seseorang berkesenian, berarti dia sedang mengekspresikan dirinya. Ia tak hanya mengekpresikan dirinya tetapi juga bagian-bagian dari dirinya, apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan. “Ketika mengekspresikan dirinya, anak harus tahu dulu apa sebenarnya yang dia rasakan, apa yang dia pikirkan. Anak pun jadi belajar untuk mengenal dirinya sendiri,” katanya. Anak yang bisa mengenal dirinya sendiri, menurut Dinastuti tahu siapa dirinya, tahu apa yang disukainya, dan apa yang tidak disukainya.

    Sependapat dengan Dinastuti, Kayee mengatakan, seni dapat menjadi suatu medium yang baik bagi anak-anak untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Bahkan untuk anak yang belum bisa menggambar dengan bagus pun bisa menceritakan apa yang coba disampaikannya melalui gambar dengan memancingnya melalui pertanyaan. Kayee mencontohkan anak 5 tahun yang menggambar gadis kecil dengan plester di bagian dagu karena ingin menceritakan bahwa dia baru saja jatuh. “Anak dapat menunjukkan hal penting yang terjadi pada dirinya melalui sebuah karya seni,” imbuh Kayee.

    Menurut Dinastuti, ketika anak belajar seni, sebenarnya ia tengah mengasah sisi sensitivitasnya. Anak jadi lebih peka terhadap pemikirannya sendiri, perasaannya sendiri. Hal itulah yang menurut Dinastuti dapat membantu anak untuk juga memahami perasaan dan pemikiran orang lain. “Orang-orang yang belajar seni biasanya lebih peka, lebih sensitif, lebih bisa merasakan perasaan dan ekspresi orang lain,” kata Dinastuti lagi.

    Dari sisi sosial, menurut Kayee, seni juga dapat menjadi medium yang sangat baik bagi anak untuk berkolaborasi dan bekerja sama dengan orang lain, mulai dari merencanakan suatu proyek, membagi tugas dan tanggung jawab dan menjadi bagian dari tim untuk menyelesaikan keseluruhan proyek dengan baik. Misalnya, sekelompok anak yang mendapat tugas untuk membuat drama singkat tentang dongeng Putri Salju. Anak belajar untuk merencanakan penampilan, berbagi tugas dan tanggung jawab serta menjalankan setiap perannya sebaik-baiknya.

    Selain itu, buat anak-anak, menciptakan suatu hasil karya seni yang orisinil dapat memproduksi kepuasan bagi jiwanya, yang tentunya sangat baik untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.



    1001 Cara Menumbuhkan
    Minat Anak terhadap Seni
    Ajak anak menonton pertunjukan, atau pameran hasil karya seni sambil mendiskusikan apa yang dilihat dan menanyakan padanya hal apa yang menurutnya menarik dan membuatnya tertarik. Anda pun dituntut untuk juga menjadi seorang penggemar seni, agar si kecil tertarik dengan seni. Salah satu cara untuk menunjukkannya pada anak adalah dengan menjadikan seni sebagai bahan obrolan atau topik pembicaraan sehari-hari. Anda bisa menceritakan lukisan yang digantung di rumah dan alasan mengapa Anda menyukainya, film yang Anda tonton, karya seni yang dibuat si kecil, alunan musik yang didengar dalam perjalanan di mobil dan lain sebagainya.

    Stimulasi si kecil dengan seni yang bagus dan bermutu tinggi, apapun itu. Cobalah untuk memajang lukisan bagus, patung-patung artistik atau memperdengarkan musik-musik indah. Selain dapat menjadi elemen dekoratif yang indah, karya-karya tersebut juga dapat menjadi rangsangan yang baik bagi si kecil. Sediakan sarana dan peralatan seni yang sederhana yang mudah didapat dan tanpa perlu menguras kantong.

    Untuk anak batita misalnya, Anda dapat menyediakan peralatan dasar yang seperti finger paint, lilin mainan dan krayon. Untuk anak pra sekolah, Anda bisa menambahkannya dengan lem, selotip, gunting dan kuas.

    Makin besar anak dan makin eksploratif dia, Anda mungkin dapat menambahkannya dengan berbagai peralatan lain. Biarkan si kecil berekspresi dengan bebas. Jangan batasi kebebasan anak dengan mendikte bagaimana seharusnya suatu objek dibentuk dan diberi warna. Jika si kecil membuat suatu hal yang tidak biasa menurut Anda, cobalah untuk merangsangnya mengungkapkan cerita di balik hasil karyanya. Daripada melarang anak mencorat-coret tembok, lebih baik lapisi dinding rumah Anda dengan kertas atau memberinya pojok khusus untuk berekspresi dengan seni tanpa harus dimarahi. Memarahi anak yang tengah berekspresi, menurut Dinastuti dapat membuat anak berhenti berekspresi, karena menganggap apa yang dilakukannya dinilai salah oleh orang lain. Buatlah karya seni bersama si kecil. “Anda tak harus menjadi seorang seniman untuk bisa menggambar ,” kata Kayee. Ambil saja pensil, gambarlah sesuatu dan berceritalah tentangnya. Si kecil pasti akan terpancing untuk juga melakukannya.

    Doronglah si kecil untuk berekspresi dengan media yang berbeda-beda. Jika selama ini media yang digunakan adalah media yang konvensional, ajaklah si kecil untuk mencoba menemukan cara baru dalam menggunakan suatu media. Dorong si kecil untuk kreatif. Hal ini dapat Anda lakukan salah satunya dengan membacakan sebuah awal cerita, kemudian mintalah si kecil untuk membuat gambar yang menceritakan bagaimana akhir dari cerita tersebut nantinya. Atau, dengan membuat sedikit coretan di kertas, mintalah si kecil mengembangkannya menjadi bentuk yang ia inginkan.

    Jangan takut kotor. Dengan bermain kotor si kecil bebas berekspresi tanpa harus dibatasi oleh larangan dan omelan dari orangtuanya yang tak ingin baju, tangan dan wajah si kecil kotor. Yang penting, si kecil membersihkan tubuh sesudahnya dan pastikan kotoran tersebut tidak masuk ke dalam mulutnya.

    Jangan hanya memasukkan si kecil ke tempat kursus tanpa mendukungnya dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk si kecil berekspresi juga di rumah. Misalnya, jika si kecil mengambil kursus piano, sediakanlah juga CD musik yang bagus untuk diperdengarkan atau coba dimainkan. Pajang dan dokumentasikanlah hasil karya seninya agar si kecil bertambah rasa pencaya dirinya dan makin terpacu untuk lebih ekspresif dan eksploratif lagi dengan seni.

    ibudanbalita.com



    Artikel lainnya:




    Next Prev home